Welcome to My World!

Welcome visitors! Please enjoy my site and I hope you can get many useful information. If you wish, you may contact me through Facebook, Twitter, or any other social media that I linked on the menu bar above. Thank you.

Die Poskarten

This is my another blog: Die Poskarten. This blog will show you all my postcards collection. If you want to swap a postcard, please don't hesitate to contact me from the menu bar above.

Bonjour à Tous !

"Bonjour à Tous !"is my Tumblr site. Please take a look on it and maybe you can find some funny contents that you will love. You can also follow me on Tumblr to get my updates on the site.

Please Do Not Copy

You are welcome to link to my site and use my resources in your classroom, but please respect my hardwork and do not copy my page or files and add them to your website. Thank you.

Russia Beyond the Headlines in Bahasa Indonesia

Russia Beyond the Headlines, your guide to Russia, a diverse and complex country cannot be understood in the context of stereotypes. Now available in Bahasa Indonesia!

19 Desember 2017

Lima Kebiasaan Baru Sepanjang 2017

Sepanjang tahun ini, gue mencoba memulai dan mengembangkan beberapa kebiasaan. Gue pikir, ketika kita mau mencapai sesuatu — katakanlah sesederhana punya badan yang sehat, kita tentu harus membangun kebiasaan hidup sehat. Artinya apa yang kita mau itu sebetulnya enggak bisa kita dapatkan kalau kita enggak melakukan usaha tertentu secara reguler (yang itu kemudian jadi sebuah kebiasaan). Jadi, gue pikir, ada banyak hal positif yang bisa gue kembangan jadi suatu kebiasaan, dan itu pasti akan bermanfaat buat gue entah saat ini atau di masa depan.

1. Berhenti berkomentar di media sosial

Siapa pun yang mengenal gue sejak lama tahu bahwa gue termasuk “pejuang” media sosial. Dalam arti, partisipasi gue dalam mengemukakan pendapat dan berdebat di media sosial lumayan tinggi. Mulai dari soal politik (terutama politik), sampai isu-isu sosial, agama, dan lain-lain, gue pasti enggak ragu-ragu untuk “bersuara”. Jelas, enggak ada yang salah. Gue pikir, apa yang gue ungkapkan pun tetap diperkuat dengan berbagai fakta. Namun intinya, gue sangat menikmati “keributan” di media sosial.

Itu berubah setidaknya sejak awal tahun ini. Gue merasa itu semua enggak ada gunanya. Gue pikir biar bagaimana pun setiap orang punya opininya masing-masing, dan apa sih sebetulnya yang gue harapkan dengan berusaha meyakinkan orang lain bahwa gue benar? Pengakuan bahwa gue lebih pintar, mungkin?

Padahal, segala keributan itu, pasti memengaruhi kepribadian kita. Segala hal yang kita temukan di media sosial saat ini, segala berita-berita aneh yang enggak jelas asalnya atau sembarang kutip narasumber, kalau kita komentari semua itu pada dasarnya cuma membuang-buang waktu dan tenaga kita. Untuk apa? Kenapa enggak kita manfaatkan waktu “berkoar-koar” itu untuk sesuatu yang lebih bermanfaat: fokus pada kerjaan masing-masing, contohnya.

Jadi, gue pikir, enggak ada manfaatnya lagi berkomentar di media sosial. Sejak awal tahun ini, gue menahan diri untuk enggak berkomentar, terutama soal politik, perang, dan apa pun itu. Ya, kadang gue memang mengomentari soal pemberitaan media, tapi itu karena, pertama, gue anggap itu parah banget sampai gue harus berkomentar, dan kedua, gue tahu betul apa yang gue komentari karena gue merasa paham dan punya ilmunya.

Gue, tentu, tetap jadi social media junkie. Enggak ada jam tanpa cek media sosial karena biar bagaimana pun ini berhubungan dengan pekerjaan gue. Namun yang jelas, gue berhenti “membuat keributan”. Kalau pun ada orang-orang yang tanya pendapat gue tentang suatu isu, gue tentu enggak pernah keberatan untuk berbagi pandangan, tapi itu semua hanya gue kemukakan secara personal pada yang bersangkutan.

Sementara itu, dinding dan linimasa media sosial gue sepanjang tahun ini lebih banyak gue isi dengan sesuatu yang personal tentang diri gue. Gue berbagi foto-foto gue dengan orang-orang yang gue temui, misalnya. Dan ada cerita di balik itu semua, yang mungkin, bisa menginspirasi orang lain. Jadi, daripada ikut “meributkan” hal-hal yang sebetulnya enggak ada gunanya, kenapa enggak berbagi hal-hal yang membahagiakan, hal-hal yang menunjukkan prestasi, atau kisah-kisah yang menginspirasi.

Gue, sejujurnya, lebih suka orang “melihat” gue sebagai orang yang sering foto sama cewek Rusia, misalnya, daripada sebagai orang yang selalu mengkritik keadaan. Serius. Karena kalau orang melihat gue sering berfoto sama cewek Rusia, artinya mereka memperhatikan sesuatu dari gue, mereka melihat dan mungkin penasaran apa sih sebetulnya yang gue kerjakan, atau kenapa sih gue bisa punya banyak teman dari kalangan ekspatriat, misalnya.

Belum lagi, segala hal yang gue bagikan, entah itu di Facebook, Twitter, atau Instagram, pasti gue sertakan dengan cerita di balik itu semua. Menurut gue, itu jauh lebih baik daripada menjadi orang yang dicitrakan sebagai seseorang yang (sok) kritis. Kita kan enggak pernah tahu apa pendapat orang banyak soal kita? Siapa yang tahu bahwa orang-orang di media sosial itu mungkin ada yang enggak suka sama kita? Gue pastinya enggak peduli soal itu, tapi bukankah lebih baik kalau kita bisa membagikan hal-hal yang lebih positif di media sosial?

2. Memanfaatkan media sosial untuk belajar

Ini masih lanjutan dari kebiasaan pertama. Karena gue berusaha membuang kebiasaan berkomentar di media sosial, gue berusaha membangun kebiasaan baru, yaitu memanfaatkan media sosial untuk belajar dan menambah wawasan.

Sampai sekarang, gue masih menganggap Facebook adalah media sosial terbaik yang kita punya saat ini. Dari Facebook ini, gue bisa mendapatkan banyak banget informasi tentang apa pun. Jadi, gue membiasakan diri untuk cari menyempatkan diri setiap harinya, khususnya di setiap waktu luang, untuk cari informasi apa pun di Facebook. Menurut gue, itu platform yang paling nyaman. Tiap orang mungkin beda-beda.

Sementara, untuk berita terkini, gue menggunakan Twitter. Sampai sekarang gue masih setia menggunakan Twitter, dan dari platform itu gue biasanya mendapatkan informasi paling update dan paling cepat tentang peristiwa apa pun.

Namun, intinya adalah, selama gue berkutat dengan laptop, gue selalu menyelingi pekerjaan gue dengan browsing di Facebook. Ada banyak page bagus yang bisa diikuti. Ada juga page yang berisi video-video motivasi yang inspiratif. Jadi, media sosial (yang canggih itu) bisa kita gunakan untuk menambah wawasan kita. Gue bahkan bisa tahu soal konsep kecepatan cahaya dan Teori Relativitas Einstein itu karena video-video dari media sosial.

Belum lagi, gue gabung dengan komunitas-komunitas tertentu di Facebook. Sebagian besar gue memang cuma jadi silent reader, tapi bahwa gue mendapatkan banyak informasi dari mereka, 100 persen iya. Karena itu, gue sendiri sangat merekomendasikan kebiasaan ini kepada siapa pun, supaya setiap hari ada sesuatu yang baru yang bisa kita pelajari. Supaya setiap hari, ada ilmu baru yang bisa kita dapat dan mungkin bisa kita bagi dan bermanfaat buat orang lain.

3. Berbagi informasi

Jangan pelit. Intinya itu. Jadi, setiap informasi apa pun yang gue dapat, yang gue pikir menarik dan relevan, pasti akan gue bagi ke banyak orang. Pada dasarnya, gue percaya dengan hukum timbal balik. Jadi, kalau gue berharap orang lain “bermurah hati” membagikan informasi ke gue, berarti gue dulu yang harus membangun kebiasaan untuk selalu berbagai informasi kepada orang lain.

Mungkin, kalian yang membaca ini termasuk orang-orang yang sering mendapat kiriman tautan-tautan berita atau informasi yang gue bagi di WhatsApp atau LINE. Dan memang, enggak semua orang yang dibagikan informasi itu memberi respons, dan itu sama sekali bukan masalah. Karena ya ... tentu mungkin ada yang merasa informasi itu kurang penting (sekalipun gue pikir itu berguna), tapi yang paling paham tentang kebutuhan informasi si orang itu ya ... orang itu sendiri.

Yang jelas, gue membiasakan diri untuk berbagi. Dan berbagi informasi dan wawasan adalah salah satu hal paling mudah yang bisa kita lakukan kepada orang lain. Menurut gue, itu pun suatu sifat yang baik, terlepas dari orang itu membutuhkan atau enggak. Biar bagaimana pun, gue membangun citra sebagai orang yang selalu berbagi informasi.

Yang dibagi bisa bermacam-macam, mulai dari artikel-artikel yang membahas isu tertentu, sampai peluang beasiswa atau pekerjaan. Gue pikir, setidaknya, orang-orang di dekat gue akan “tertular” dengan kebiasaan gue ini, entah mereka sadari atau enggak — ada beberapa orang yang gue perhatikan juga mulai melakukan kebiasaan yang sama.

4. Belajar bahasa Rusia

Sejak tahun lalu, gue udah berhenti les di Pusat Kebudayaan Rusia. Ya, selain karena kesibukan gue yang semakin padat, guru yang mengajar gue pun mengundurkan diri. Akhirnya, gue harus belajar sendiri (kalau betul-betul mau bisa).

Tapi, gue tetap mau bisa lancar bicara bahasa Rusia. Jadi, walau gue lumayan jarang buka buku pelajaran bahasa Rusia, gue membangun kebiasaan untuk berpikir dalam bahasa Rusia.

Masalahnya, belajar sendiri itu penuh tantangan, penuh godaan (malas), dan penuh berbagai alasan yang membuat kita mau menunda dan menunda. Sementara, walau gue bekerja di perusahaan Rusia, dengan orang Rusia, dan punya banyak teman Rusia (di Jakarta), sebagian besar komunikasi gue dengan mereka menggunakan bahasa Indonesia (karena mereka bisa — tambah lagi satu alasan untuk enggak mempraktikkan bahasa Rusia).

Kita semua, baik secara sadar maupun enggak, pasti suka bicara sendiri dalam pikiran atau hati kita. Yang gue lakukan, gue mencoba mengubah semua yang gue pikirkan itu ke dalam bahasa Rusia. Kalau misalnya gue lagi dalam perjalanan atau di mal, misalnya, gue melatih kosakata gue dengan menyebutkan benda-benda di sekeliling gue dalam bahasa Rusia (di dalam hati). Pastinya, enggak semua benda gue tahu apa bahasa Rusianya, dan di situlah gue bisa cek kamus (di aplikasi), dan sebagainya.

Intinya, gue mencoba untuk menggunakan bahasa Rusia dalam sehari-hari. Katakanlah, gue mau beli bakso. Maka di otak gue, gue akan mengubah kalimat keinginan gue itu ke dalam bahasa Rusia, dan dari situ biasanya akan berkembang, sepeti ... kapan penjualnya datang, atau harganya berapa, atau ada uang di dompet atau enggak. Betul-betul sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Karena kalau enggak begitu, dijamin pasti lupa. Apa yang sudah dipelajari selama hampir 2,5 tahun, pasti akan menguap begitu saja karena kita sendiri yang memang enggak punya kemauan untuk mengasah kemampuan kita.

5. Minum teh

Ya, serius, minum teh. Ini kan kebiasaan yang bagus (kayak orang Rusia)? Teh dikatakan dapat meningkatkan performa dan daya tahan tubuh kita. Belum lagi, minum teh setiap hari dapat membantu mengurangi risiko serangan jantung. Bahkan, minum teh hitam atau teh herbal bisa menjadi pereda gangguan pencernaan secara alami. Bagus 'kan?

Sebetulnya ini kebiasaan yang belum lama, mungkin kira-kira baru dua bulan terakhir, tapi gue sangat menikmati ini.

Biasanya, tiap pagi gue seperti merasa “dikejar” dengan berbagai kesibukan. Gue akhirnya mencoba untuk mengerem itu dengan minum teh. Gue panaskan airnya, gue celup tehnya, dan pastinya enggak langsung bisa diminum karena panas. Akhirnya, gue tunggu dulu sampai kira-kira bisa diminum. Sambil menunggu, gue biasanya keluar teras sama kucing gue, main sama mereka. Akhirnya, pagi gue jadi lebih rileks.

Oh ya, dan karena gue terbiasa sama gula atau rasa manis, gue sendiri enggak merasa teh tawar itu nikmat. Tapi kalau kebanyakan mengonsumsi gula juga enggak baik. Makanya, gue ganti dengan madu. Jadilah, teh madu tiap pagi, dan itu rasanya enak banget.

Jadi, ya ... setidaknya gue memulai suatu kebiasaan yang bermanfaat untuk kesehatan gue sendiri. Dan sebetulnya gue merasa ada makna filosofis di balik proses membuat teh tadi #anjay. Serius, soalnya kan dari yang awalnya gue selalu terburu-buru tiap pagi, sekarang gue harus “memaksa” diri gue untuk santai dulu, lebih rileks, dan menikmati teh.

Yang jelas, gue sendiri cukup bangga dengan beberapa kebiasaan baru yang berhasil gue lakukan sepanjang tahun ini. Semoga, di 2018, ada lebih banyak kebiasaan yang bisa gue lakukan secara konsisten. Salah satunya, gue berpikir mau coba membiasakan berinvestasi dengan rutin beli emas 5 gram tiap bulan #anjay (2). Ini juga kebiasaan bagus 'kan? Itu salah satunya. Dan pastinya, harus jadi orang yang lebih peduli sama kesehatan sih, itu penting banget.

17 Desember 2017

Kilas Balik 2017

Di sinilah kita, kembali di bulan terakhir dalam setahun. Kalau ditanya soal kesan selama 2017, gue rasa ini tahun terbaik dan penuh pembelajaran buat gue. Ada banyak pengalaman baru, teman dan koneksi baru, dan bahkan momen-momen yang membanggakan dan juga lumayan bikin “down”.

Setahun ini, gue pribadi merasakan proses pendewasaan yang jauh daripada tahun-tahun sebelumnya. Dan itu semua enggak lepas dari bagaimana gue menanggapi dan menghadapi berbagai masalah. Gue rasa, yang paling signifikan adalah bahwa gue belajar memaafkan, baik kepada orang lain maupun diri sendiri.

Memaafkan

Gue pikir, sebelumnya, gue tipe orang yang mudah memaafkan, tapi ternyata enggak juga, tergantung apa masalahnya. Cuma, tahun ini ada momen ketika gue harus berhadapan dengan orang yang enggak gue sangka hubungannya akan berakhir kurang baik dengan gue. Seiring waktu, gue sadar bahwa itu (salah satunya) karena keegoisan gue pribadi.

Dan, kadang, kita enggak bisa terima kalau diri kita salah karena menganggap kita yang paling tahu apa yang terbaik, kita merasa paling bisa, kita merasa paling lebih daripada orang lain. Sederhananya: sombong.

Terlepas dari apakah orang itu juga berkontribusi terhadap percekcokan yang terjadi, gue sendiri ternyata enggak bersikap lebih baik. Singkat cerita, hubungan gue dengan orang itu memburuk, dan gue kehilangan salah satu sahabat gue.

Buat gue, itu bukan hal yang mudah, apalagi gue bukan tipe orang yang dikelilingi banyak orang, yang temannya selalu ada di mana-mana. Gue menghargai hubungan pertemanan yang sangat personal. Gue bukan orang yang mencari banyak kenalan sana-sini, tapi lebih ke orang yang lebih baik punya sedikit teman, tapi mereka orang-orang yang betul-betul mengenal gue. Dan gue kehilangan satu orang ini.

Tapi, di sisi lain, gue pun “mendapatkan” kembali teman gue yang lain, yang tahun lalu pernah merenggang hubungannya dengan gue karena, ya ... lagi-lagi karena keegoisan gue. Di tahun ini, yang tadinya gue enggak tahu apakah gue bisa balik berteman sama dia, tapi ya ... gue membuang ego gue, gue minta maaf (karena sebelumnya gue pikir itu semua bukan salah gue) dan ternyata semudah itu dan sekarang kita berteman lagi.

Ke Rusia Bawa Nama Indonesia

Ini pastinya yang paling enggak terlupakan. Untuk ketiga kalinya, gue kembali ke Rusia, tapi kali ini gue bawa nama rombongan, bawa nama baik (pemuda) Indonesia, sesuatu yang belum pernah gue lakukan bahkan selama di kampus dulu. Gue rasa, enggak ada yang lebih istimewa tahun ini selain jadi bagian dari 25.000 peserta World Festival of Youth and Students ke-19 di Sochi, Rusia.

Walau begitu, yang paling membanggakan buat gue sebetulnya adalah karena di WFYS ini, gue bisa “membawa” sahabat kesayangan gue, sepupu gue, dan beberapa (mantan) anak-anak yang pernah gue latih di SMA mereka dulu.

Mereka semua tahu banyak soal “urusan” kehidupan gue dengan segala hal yang berhubungan sama Rusia, mereka semua tahu pengalaman gue dua kali ke Rusia, dan cerita-cerita gue selama di sana, dan tahun ini, gue bisa kasih unjuk ke mereka apa yang pernah gue rasakan, apa yang pernah gue lihat di negara itu.

Jadi, gue rasa ini suatu kebanggaan tersendiri karena gue bisa membawa mereka dan ikut berbagi kesenangan dan kesukaan gue terhadap Rusia, khususnya, kepada orang-orang yang selama ini dekat dengan gue.

WFYS ini juga memberikan gue pelajaran yang enggak terhitung. Gue lagi-lagi menemukan “diri” gue seperti di kampus dulu yang sibuknya luar biasa, tapi gue senang dengan apa yang gue lakukan itu. Begitu juga dengan WFYS. Gue merasa seperti kembali ke masa-masa kuliah dulu, berhubungan dengan banyak orang, mulai dari Kedutaan Besar (Rusia dan RI), Pusat Kebudayaan Rusia, hingga kementerian.

Segala persiapan menuju WFYS mulai dari Juni sampai Oktober lalu, sesibuk dan semenyita perhatian apa pun itu, ternyata gue jalankan dengan ringan, dalam arti, gue suka dengan apa yang gue lakukan. Sebetulnya, ini semacam “penyakit” lama. Gue suka berasumsi bahwa gue mampu mengurus semuanya dengan baik, dan justru kalau gue enggak “ikut campur”, semua bisa jadi bermasalah. Ya, ini salah satu sifat yang belum bisa gue kurangi sampai sekarang, tapi gue lumayan berusaha.

Dari Anggun Sampai Putin

Ya! Gue menyebut 2017 sebagai tahun terbaik gue karena sepanjang tahun ini gue bertemu dengan empat orang yang sangat gue kagumi, tapi enggak pernah menyangka akan bertemu di tahun ini, atau setidaknya “secepat” ini.

Tahun ini, gue bertemu Barack Obama, Anggun, Presiden Putin, dan Menlu Rusia Sergey Lavrov. Semua pasti tahu Obama. Buat gue, Obama adalah sosok yang inspiratif. Terlepas dari segala kebijakannya selama jadi presiden AS dulu (Amerika akan tetap jadi Amerika), gue mengagumi dia sebagai sosok pemimpin yang sederhana dan membumi. Gue belajar banyak soal kepemimpinan dari Obama, gue mengikuti karirnya sejak jadi rivalnya Hillary untuk jadi capres dari Partai Demokrat dulu, sampai akhir jabatannya 2016 lalu. Gue bahkan berpikir kalau (misalnya) nasib membawa gue jadi pejabat publik, gue mau seperti Obama.

Gue juga bertemu Anggun. Anggun sosok yang sangat menginspirasi gue sejak SMA dulu. Karena Anggun, gue mau banget bisa bahasa Prancis dan mau tahu banyak soal Prancis. Buat gue, Anggun bukan sekadar penyanyi atau artis yang sukses di kancah dunia internasional, tapi dia benar-benar seorang yang cinta sama Indonesia. Cinta sama Indonesia itu enggak bisa dinilai dari kewarganegaraannya. Gue percaya bahwa setiap orang berhak memiliki kehidupan yang lebih baik. Jika memang seseorang harus pindah kewarganegaraan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, apakah itu salah? Enggak. Oke, ini semua pasti subjektif, tapi intinya, gue salut banget sama dia.

Terus, gue bertemu Menlu Lavrov. Mungkin enggak banyak yang tahu soal Lavrov, kecuali dia banyak baca soal politik Rusia. Karena gue sedikit-banyak sudah “terjun” dan mendalami perpolitik Rusia, gue cukup banyak tahu soal politis mereka, dan menlu Rusia adalah salah satu sosok yang sangat gue kagumi. Sejak tahu Lavrov, gue berharap bisa bertemu dia suatu hari nanti. Tapi, siapa yang tahu kalau ternyata gue bisa bertemu dia tahun ini? Itu benar-benar enggak disangka sama sekali. Bukan cuma bertemu, tapi bisa bicara langsung sama beliau, dan itu perasaan yang sangat luar biasa.

Dan, seolah-olah 2017 belum selesai kasih banyak kejutan, gue pun berkesempatan bertemu langsung dengan Presiden Putin di Rusia bulan Oktober lalu! Ini bukan cuma bikin merinding, tapi sama sekali enggak menyangka bahwa gue bisa bertemu, dan bahkan bersalaman langsung sama dia.

Intinya, pertemuan dengan Putin dua bulan lalu, gue rasa, masuk dalam daftar lima hal terbaik yang gue alami selama tahun ini. Dan karena itu, gue luar biasa bersyukur atas segala kesempatan yang bisa gue dapatkan sepanjang tahun ini.

Mengajar Bahasa Indonesia dan Jadi Dosen Tamu

Ini dua hal yang juga enggak kalah berkesan yang gue alami tahun ini. Bulan Maret lalu, gue diminta untuk jadi dosen tamu di mata kuliah Etika Jurnalisme. Itu berarti banyak buat gue. Gue sayang banget sama kampus gue, sama jurusan gue, dan gue sendiri sangat peduli dengan masa depan jurnalisme Indonesia. Dan gue sangat bersyukur banget ketika dosen gue dulu mempercayakan gue untuk memberikan materi terkait etika di media online, sesuatu yang jadi perhatian gue selama beberapa tahun terakhir.

Selain itu, di pertengahan tahun, gue juga diminta untuk mengajar Bahasa Indonesia ke orang Rusia yang baru bekerja di Kantor Perwakilan Perdagangan Rusia. Buat gue, ini pun suatu hal yang baru dan sekaligus membuat gue merasa bahwa teman-teman Rusia gue di Jakarta, khususnya, sangat percaya pada kemampuan gue. Pelajaran itu sebetulnya enggak terlalu lama, sekitar tiga bulan. Yang bersangkutan akhirnya menyetop pelajaran karena jadwalnya yang terlalu sibuk.

Tapi, biar bagaimana pun, gue merasa itu salah satu pengalaman yang berharga. Apalagi, gue mengajar Bahasa Indonesia dengan buku rujukan berbahasa Rusia. Jadi, buku pelajaran yang kita gunakan berbahasa Rusia, dan buat gue ini pun jadi tantangan tersendiri karena selain mengajar, pada saat yang sama pun gue ikut belajar.

Mengatasi Hambatan dan Belajar Hal Baru

Kalau dipikir-pikir, satu-satunya hambatan yang hampir dirasakan semua orang adalah ... rasa malas. Ya, ini pun gue rasakan. Malas atau “mager” ini penyakit yang menghambat kita untuk maju. Sepanjang tahun ini gue berusaha untuk mengikis rasa malas gue untuk apa pun. Pastinya ada waktu ketika gue merasa super “mager” dan rasanya kayak mau tidur seharian. Itu yang harus dilawan.

Jangan malas. Kalau mau maju, mau sukses, jangan malas. Apa pun itu. Jangan malas untuk belajar dan terus belajar. Sepanjang tahun ini, gue membiasakan diri untuk membaca sebanyak mungkin informasi, khususnya dari internet. Kalau dipikir-pikir, kita sekarang hidup di zaman yang serba mudah. Kita bisa dengan mudah mengakses informasi dari mana pun. Jadi, sebetulnya, kita semua bisa memilih untuk jadi pintar, atau enggak. Dan jadi pintar itu sebetulnya sangat gampang, semua bisa kita akses dari handphone dan segala gadget yang kita punya.

Jadi, sesibuk apa pun gue, gue berusaha untuk terus cari informasi setiap hari. Info apa pun itu, mulai dari video grafis proses pembedahan sampai soal teori Einstein (dan sekarang gue paham dengan Teori Relativitas!), apa pun. Baca. Bahkan sekalipun kita enggak ada waktu untuk membaca atau mencari informasi yang bisa menambah wawasan kita, coba tonton video. Ada banyak video bagus di YouTube, seperti TED Talks misalnya.

Ini semua membuktikan bahwa menjadi berwawasan atau enggak, itu semua adalah pilihan. Di tengah segala kemudahan akses informasi saat ini, kita harus bisa membangun kebiasaan yang bermanfaat untuk perkembangan diri kita sendiri. Karena itu, gue pikir, sifat malas itu memang salah satu musuh utama manusia. Dan di tahun yang akan datang pun gue masih akan terus berjuang melawan segala kemalasan yang bisa merugikan diri gue sendiri, baik secara disadari maupun enggak.

Resolusi 2018

Sebetulnya gue bukan orang yang selalu membuat resolusi menjelang pergantian tahun. Satu resolusi yang pernah gue buat, yaitu saat menjelang 2015, gue mau berkomitmen untuk setiap bulan mengisi blog gue ini, dan itu gue lakukan — untungnya. Tapi setelah itu, enggak pernah ada satu resolusi tertentu.

Namun, setelah gue pikir-pikir, gue perlu membuat target-target jangka pendek, setidaknya hal-hal yang gue harap bisa gue realisasikan di tahun depan. Jadi, kalau akhir 2018 nanti gue tiba-tiba baca tulisan ini lagi, gue bisa evaluasi apakah target-target gue ini tercapai atau enggak.

Gue mau mulai dari hal-hal yang gue pikir cuku realistis untuk gue lakukan: belajar bahasa Rusia supaya lebih lancar. Itu yang pertama. Selama di Rusia bulan Oktober lalu, gue ternyata sedikit-sedikit bisa jadi “penerjemah”, dan itu rasanya: bangga. Ada suatu kejadian ketika gue terpaksa harus menelepon pihak maskapai lokal di sana, dan mereka sama sekali enggak bisa bahasa Inggris, dan terpaksa gue harus pakai bahasa Rusia, dan ternyata bisa! Jadi, sebetulnya, ini semua masalah gue mau latihan atau enggak. Masalahnya sama: jangan malas. Jadi, gue harap, sampai akhir tahun depan, kemampuan bahasa Rusia gue meningkat.

Gue pun berharap bisa belajar bahasa asing lain. Gue percaya gue sebetulnya punya kemampuan linguistik yang baik, dan mungkin punya potensi untuk jadi poliglot. Sayangnya, lagi-lagi: rasa malas. Gue harap sepanjang 2018 nanti gue bisa mulai konsisten untuk mulai belajar bahasa lain secara otodidak, minimal salah satu dari rumpun bahasa Romantik (Prancis, Spanyol, Italia, atau Portugis).

Selain itu, gue mau membiasakan diri untuk berinvestasi. Gue pikir ini juga suatu hal yang enggak kalah penting. Masalahnya, kalau enggak dimulai dari sekarang, kapan lagi? Investasi apa pun itu, mulai dari reksadana, saham, dan beli emas. Gue sadar bahwa ini semua penting banget untuk masa depan, dan karena itu gue mau mulai berinvestasi.

Pada dasarnya itu semua: belajar dan berinvestasi. Sebetulnya masih ada banyak yang gue pikir mau gue lakukan di tahun 2018, tapi gue pikir dua hal ini adalah hal yang pasti bisa gue lakukan dan sangat bisa gue ukur sukses atau enggaknya di akhir tahun depan.

Keputusan Akhir Tahun

Menjelang akhir 2017, gue mengambil suatu keputusan penting yang sebetulnya enggak pernah gue sangka akan gue lakukan tahun ini. Selain karena ini enggak bisa dibilang “main-main” juga, ini semua melibatkan komitmen dan kemampuan ekonomi selama beberapa tahun mendatang.

Gue cuma berharap bahwa keputusan ini tepat, apa yang gue pilih itu tepat, dan semuanya berjalan lancar hingga tahun-tahun berikutnya. Sejujurnya, ini antara bersemangat dan deg-degan. Bersemangat karena ini semua hasil kerja keras selama ini, tapi deg-degan karena belum pernah membuat keputusan sebesar ini sebelumnya.

Anyway, terima kasih untuk semua yang sudah mewarnai hidup gue sepanjang tahun ini. Terima kasih untuk segala tawa dan canda, segala pembelajaran, dan segala obrolan sambil makan-makan di akhir pekan atau sambil menunggu redanya kemacetan Jakarta.

Terima kasih untuk segala inspirasi, ide, dan segala nasihat yang berharga. Terima kasih untuk persahabatan dan kejutan-kejutan ulang tahun di bulan Juli.

Semoga tahun yang akan datang dapat membawa lebih banyak warna dan kebahagiaan untuk kita semua. Dan jangan lupa, buat target dan deadline. Karena tanpa deadline, impian hanya akan sekadar impian. Tapi, apa pun itu, semoga semuanya lancar. Akhir kata, gue siap menyambut 2018.

13 Desember 2015

Berpetualang dengan Bus di Krimea, Kenapa Tidak?

Bus dalam kota di Simferopol, Krimea.
Transportasi umum di Krimea terdiri dari bus, bus listrik (trolleybus), taksi, dan kereta api. Dari keempat jenis transportasi publik tersebut, bus adalah yang paling nyaman digunakan untuk bepergian ke berbagai tempat dan kota di seluruh Krimea. Namun, naik bus bisa menjadi hal yang memusingkan bagi turis Indonesia

Pada September lalu, saya berkesempatan mengunjungi Krimea selama dua minggu. Selama dua minggu di Krimea, saya mendapatkan begitu banyak pengalaman unik, terutama saat naik bus. Transportasi publik ini saya anggap sebagai pilihan yang paling baik untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya di dalam kota, atau bahkan dari satu kota ke kota lainnya.

Namun demikian, bagi turis WNI seperti saya, naik bus bisa menjadi masalah tersendiri. Misalnya, bagaimana cara membeli tiket di loket? Apa yang harus dikatakan? Bagaimana cara mengatakan ke sopir bus jika kita ingin turun? Bagaimana menanyakan apakah bus yang kita naiki melewati objek wisata yang hendak kita kunjungi?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana dan penting seperti itu bisa menjadi masalah ketika kita berwisata seorang diri dan tak menguasai bahasa Rusia. Kali ini, saya akan berbagi pengalaman agar jika suatu hari Anda pergi ke Krimea dan naik bus, Anda bisa dengan mudah dan percaya diri bergonta-ganti bus bak wisatawan Rusia.

Bus dalam Kota

Bus dalam kota di Krimea biasanya bewarna kuning atau putih. Sama seperti di Indonesia, bus-bus ini juga ditandai dengan nomor dan keterangan jalur mana saja yang dilewati. Namun, tentu saja, seluruh informasi mengenai jalur atau tempat yang dilewati ditulis dalam huruf Kiril.

Bus dalam kota di Simferopol biasanya bewarna kuning atau putih.
Bagaimana naik dan turun bus di Krimea? Pada dasarnya, warga Krimea terbiasa naik dan turun di halte bus. Memang, sesekali ada juga yang naik dan turun di luar halte, tapi hampir sebagian besar sopir bus akan dengan sendirinya berhenti di setiap halte, kecuali jika tidak terlihat ada calon penumpang di halte tersebut dan tidak ada penumpang di dalam bus yang minta berhenti.

Saat berada di dalam bus, Anda harus membayar ongkos sesuai dengan tarif bus. Tarif bus di Krimea sangat murah. Tarif bus dalam kota di Krimea bervariasi, antara 10 hingga 12 rubel (sekitar 2.000 hingga 2.500 rupiah) untuk sekali jalan. Di Simferopol, ibu kota Krimea, tarif bus dalam kota hanya 10 rubel saja. Sementara, tarif bus listrik hanya tujuh rubel (sekitar 1.400 rupiah) saja.

Langkah paling mudah untuk mengetahui berapa tarif bus tersebut adalah dengan melihat berapa uang yang dikeluarkan penumpang lainnya. Hal lainnya, biasanya di belakang kursi sopir terdapat tulisan “стоимость” (stoimost, ‘tarif’).

Anda bisa langsung berikan Anda ke sopir atau meletakkannya di tempat yang tersedia di samping sopir. Jika kondisi bus penuh dan Anda berada di bagian belakang, Anda bisa memberikan uang Anda ke penumpang di depan Anda sambil mengatakan, “Пожалуйста,” (pozhaluysta, ‘tolong’) dan tak lupa mengatakan, “Спасибо,” (spasibo, ‘terima kasih’). Penumpang yang Anda berikan uang tersebut Akan mengoper uang Anda ke penumpang di depannya, dan begitu seterusnya sampai uang itu sampai ke tangan sopir. Jika Anda berada di belakang dan tak membawa uang receh, tak perlu khawatir. Para penumpang juga akan “bekerja sama” mengoper uang kembalian Anda dari tangan sopir hingga ke tangan Anda.

Lalu, apa yang harus kita katakan untuk menghentikan laju bus dan berhenti di halte? Anda cukup mengatakan, “На остановке!” (na ostonovkie, ‘di [tempat] pemberhentian/halte’). Jika Anda berada di belakang dan tidak memungkinkan untuk maju ke pintu depan, tentu Anda perlu sedikit berteriak.

Zh/D Vokzal dan Selpo

Ada dua tempat yang setidaknya bisa menjadi acuan Anda selama di Krimea, yaitu “Ж/Д вокзал” (Zh/D vokzal, dibaca “zhede vakzal”) dan “Сельпо” (Selpo). Zh/D vokzal adalah terminal bus, sedangkan Selpo adalah semacam pasar swalayan besar yang (biasanya) terletak di pusat kota. Di Simferopol, ibu kota Krimea, hampir seluruh bus dalam kota melewati Selpo dan mengakhiri perjalanannya di Zh/D vokzal. Selain itu, hampir seluruh bus yang melewati dua tempat ini pasti akan menuliskan “Ж/Д вокзал” (atau biasanya ditulis “Ж/Д” saja) dan “Сельпо” di kaca busnya.

Thank you #Crimea, and especially #Simferopol, for these two weeks and all the memories. Till we meet again.

Foto kiriman Fauzan Al-Rasyid (@fauzanalrasyid) pada


Tempat lainnya yang juga bisa menjadi acuan adalah “Центральный рынок” (tsentralny rynok, ‘pasar sentral’). Namun, biasanya tak semua bus melewati pasar sentral. Hanya saja, pasar ini sangat besar dan bisa juga dijadikan salah satu acuan saat bepergian.

Dengan mengingat ketiga lokasi tersebut, Anda akan jadi lebih mudah bepergian. Selain itu, jika Anda bisa mendapatkan penginapan di dekat ketiga lokasi tersebut, itu pun akan semakin memudahkan Anda selama berada di Krimea. Jika Anda sedang dalam perjalanan kembali ke hotel dan kebetulan menginap di sekitar ketiga lokasi tersebut, Anda bisa dengan mudah bertanya kepada sopir atau penumpang bus, “Это на Ж/Д?” (eto na Zh/D? ‘[bus] ini ke Zh/D?’), “Это на Сельпо?” (eto na Selpo? ‘[bus] ini ke Selpo?’), atau “Это на центральный рынок?” (eto na tsentralny rynok? ‘[bus] ini ke pasar sentral?’).

Bus Antarkota

Tentunya, Anda tidak akan “berdiam diri” di satu kota saja, atau katakanlah, hanya di ibu kota saja. Anda mungkin mau pergi ke tempat lain, seperti Sudak, Yalta, Bakhchisaray, atau bahkan kota pahlawan Sevastopol. Untuk pergi ke kota-kota lain di Krimea, Anda bisa naik bus antarkota, bus listrik, atau kereta api. Namun, saya tetap merekomendasikan Anda untuk naik bus antarkota.

Bus-bus antarkota di Zh/D vokzal kota Simferopol.
Tarif bus antarkota bervariasi, tergantung dari jaraknya. Selama di Krimea, saya pergi (dari Simferopol) ke Sudak, Yalta, Bakhchisaray, Balaklava, dan Sevastopol. Harga tiket bus bervariasi antara 50 hingga 170 rubel (sekitar 10 ribu hingga 33 ribu rupiah).

Di Simferopol, hampir semua bus antarkota berangkat dan berhenti di Zh/D vokzal. Jadi, Anda bisa dengan mudah pergi ke Zh/D vokzal dan membeli tiket bus di loket di sana. Namun, agar lebih nyaman, Anda bisa terlbih dulu memastikan jadwal keberangkatan dan kedatangan bus di situs jadwal bus Yandex Raspisaniya.

Screenshoot hasil pencarian jadwal keberangkatan bus dari Simferopol ke Sevastopol untuk 14 Desember 2015 di situs Yandex Raspisaniya.
Di situs tersebut, Anda bisa melihat secara rinci jadwal seluruh keberangkatan bus antarkota, kereta api, dan bahkan pesawat. Berdasarkan pengalaman saya, jadwal di situs tersebut cukup akurat. Anda hanya perlu mengetikkan kota keberangkatan dari kolom “Откуда” (otkuda, ‘dari mana), kemudian kota tujuan di kolom “Куда” (kuda, ‘ke mana’), dan hari keberangkatan di kolom “Когда” (kogda, ‘kapan’). Setelah itu klik tombol Найти (nayti, cari) untuk menampilkan hasil pencarian.
Saat berada di loket, tantangan selanjutnya adalah membeli tiket dan menjelaskan hendak ke mana dan berapa tiket yang diminta. Untuk mengatakan hal ini, pertama Anda setidaknya harus hafal cara mangucapkan angka satu sampai lima dalam bahasa Rusia. Namun, jika Anda hanya seorang diri, cukup Anda menghafal cara menyebut “satu” bahasa Rusia.

Katakanlah, Anda mau pergi ke Sudak untuk satu orang. Di loket, Anda harus mengatakan, “Один билет до Судака / до Севастополя / до Ялты / до Бахчисарая, пожалуйста.” (odin bilyet do Sudaka / do Sevastopolya / do Yalty / do Bakhchisaraya, pozhaluysta, ‘tolong satu tiket ke Sudak / Sevastopol / Yalta / Bakhchisaray’). Atau, jika Anda berdua, katakanlah, “Два билета до до Судака / до Севастополя / до Ялты / до Бахчисарая, пожалуйста,” (dva bilyeta do Sudaka / do Sevastopolya / do Yalty / do Bakhchisaraya, pozhaluysta, ‘tolong dua tiket ke Sudak / Sevastopol / Yalta / Bakhchisaray’).

Kemudian, si kasir mungkin akan bertanya, apakah Anda butuh bagasi? Dalam bahasa Rusia, dia biasanya akan bertanya, “Багаж нужен?” (bagazh nuzhen? ‘butuh bagasi?’). Jika iya, Anda bisa bilang “да” (da, ‘iya’), dan jika tidak perlu, cukup katakan “нет” (nyet, ‘tidak’). Setelah itu, si kasir akan memberikan berapa harga tiket yang perlu dibayar. Di sinilah “kesulitan” sebenarnya. Ketika dia menyebutkan jumlah uang yang harus dibayar dalam bahasa Rusia, mungkin Anda merasa sulit mendengar berapa nominal yang ia sebutkan. Untuk mengatasinya, Anda bisa memberikan si kasir kertas untuk menulis atau sodorkan telepon genggam Anda agar ia mengetikkan jumlahnya di layar.

Menemukan Bus

Setelah berhasil mendapatkan tiket, menemukan bus adalah cerita lain. Saat pertama kali saya harus mencari bus, saya cukup kebingungan. Namun ternyata, segala informasi di bus sudah tertera di tiket. Dalam hal, jika Anda bisa membaca hufuf Kiril, maka itu akan sangat membantu Anda.

Tiket bus antarkota dari Simferopol ke Sudak seharga 163,50 rubel (sekitar 32.200 rupiah). Klik untuk memperbesar gambar.
Ada beberapa hal yang perlu Anda perhatikan di tiket Anda, yaitu rute, nama bus, tempat duduk, jam keberangkatan, dan jam tiba di tujuan. Pertama, mata Anda harus tertuju pada tulisan “автобус” (avtobus, ‘bus’) di tiket. Di situ, Anda akan melihat nama dan pelat nomor bus Anda. Setelah itu, Anda bisa mencari bus tersebut di sekitar terminal. Biasanya sang sopir akan memanggil-manggil calon penumpangnya dengan menyebutkan tujuan akhir bus tersebut. Hal ini memang hampir sama seperti di Indonesia. Begitu Anda menemukan bus Anda, lihatlah kembali tiket Anda untuk mencari tahu di mana Anda duduk. Perhatikan kembali tiket, dan lihatlah tulisan “место” (mesto, ‘tempat’). Pada dasarnya, dua hal tadi adalah yang paling penting. Namun, jika Anda ingin mengetahui informasi lainnya di tiket tersebut, ada tulisan “отправление” (otpravlenie) yang berarti jam berangkat, “прибытие” (pribytie) yang berarti waktu tiba di tujuan, “маршрут” (marshrut) atau rute, “от” (ot) berarti ‘dari’, dan “до” (do) berarti ‘ke’ atau ‘sampai’.

Itulah semua yang Anda butuhkan agar sukses bepergian dengan bus di Krimea. Selamat mencoba!

Penulis adalah web editor di Russia Beyond the Headlines Indonesia (RBTH Indonesia). Baca artikel lainnya mengenai hubungan Rusia dan Indonesia. >>>

   Add Friend

11 Desember 2015

Perjalanan 200 Artikel: Saksi Pendewasaan dan Perubahan Pola Pikir

Lapangan Revolusi, Moskow, Rusia, 2015.
Setiap tahun, biasanya kita membuat semacam resolusi atau daftar "mimpi" yang ingin kita capai di tahun yang akan datang. Desember tahun lalu, saya ingat salah satu resolusi yang benar-benar saya niatkan adalah menulis di blog sebanyak tiga kali dalam sebulan, atau minimal setiap bulan harus ada setidaknya satu tulisan yang saya publikasikan.

Entahlah, mungkin bagi sebagian orang resolusi saya ini agak "kurang keren", tapi semakin lama saya semakin sadar bahwa menulis memang passion terbesar saya. Selain itu, saya punya keyakinan bahwa untuk mengubah dunia, atau ya... minimal Indonesia, bisa dimulai dengan menulis. Karena itu, saya "memaksakan" diri saya agar terus menulis, dengan harapan, mungkin ada sedikit orang di luar sana yang bisa terinspirasi dengan ide atau gagasan yang saya tulis di blog ini.

Kini, 2015 hampir usai. Pertanyaannya, apakah target saya tercapai? Well, jangankan tiga tulisan dalam sebulan, menulis sebulan sekali pun belum tentu. Namun demikian, jika dirata-rata, memang selama 2015 ini, bisa dikatakan bahwa saya menulis lebih dari sekali dalam sebulan. Jumlah tulisan saya di blog ini selama 2015 adalah sebanyak 20 tulisan, tapi itu masih lebih sedikit dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang berjumlah 22 tulisan.

Namun begitu, saya tetap senang bahwa tulisan kali ini merupakan tulisan ke-200 saya di fauzanalrasyid.com. Blog ini saya buat di 2009, dan barulah enam tahun kemudian saya berhasil memublikasikan 200 tulisan di sini.

Bagi saya, blog ini menjadi semacam "portofolio digital" atas perkembangan pola pikir saya. Blog ini menjadi "saksi" bagaimana perubahan cara pandang saya dalam melihat atau membahas suatu isu. Pertama kali saya punya blog, yaitu di tahun 2006. Saat itu, blog saya terintegrasi dengan Friendster. Seiring dengan menurunnya popularitas Friendster (dan orang-orang "hijrah" ke Facebook), saya pun sempat beberapa kali pindah domain blog, sebelum akhirnya menetap di sini.

Apa Saja yang Ditulis?

Ada banyak topik dan tema, dan di beberapa tahun pertama tulisan saya (karena saat itu masih kuliah) lebih banyak mengenai "cerita" soal organisasi, konflik, kenangan-kenangan SMA, sedikit romansa, dan juga kumpulan tugas essai dan makalah ilmiah saya selama di kampus. Namun, setidaknya dalam tiga tahun terakhir, saya mulai fokus menulis ke hal-hal yang berhubungan dengan media, politik Indonesia, dan isu-isu terkini yang memang menarik perhatian saya.

Dan berikut ini adalah sepuluh artikel (yang saya anggap) terbaik selama 2009 hingga 2015 di fauzanalrasyid.com—pastinya bukan hal mudah untuk memilih 10 dari 200.

1. Indonesia oh Indonesia

Artikel ini adalah tugas essai yang harus saya kerjakan pada OKK (Orientasi Kehidupan Kampus) UI 2008. Essai yang berjudul "Indonesia Oh Indonesia" ini ternyata (dan tanpa saya duga) masuk ke dalam 50 karya terbaik OKK UI 2008.

Foto kiriman Fauzan Al-Rasyid (@fauzanalrasyid) pada


2. Ulasan Buku Kontroversial Irshad Manji

Nama Irshad Manji sempat jadi perbincangan hangat di 2012. Saat itu di Jakarta, diskusi yang menghadirkan sang penulis buku "Allah, Liberty, and Love" ini menuai kontroversi dan dibatalkan (atau tepatnya dibubarkan) oleh ormas Islam dengan tudingan bahwa di dalam buku tersebut, sang penulis menyebarkan gaya hidup gay dan lesbian. Benarkah begitu? Saya cari bukunya, baca dari awal sampai akhir, dan membuat ulasannya.

3. Untukmu Anak Indonesia

Negaramu membutuhkan kamu! Spesial untuk semua insan pemuda bangsa, saya ingin kita tak hilang harapan dengan negeri ini, sekalipun memang sulit rasanya untuk tetap menyalakan lilin di tengah "kegelapan" yang begitu pekat. Kita bahkan tak bisa melihat, mana sumbu dan mana apinya. Namun, satu hal yang pasti, negara ini butuh kita—kamu, dan saya.

4. Last Night! #EgyptianInterview Part 2

Di Indonesia, orang-orang memang suka latah, atau katakanlah, suka ikut arus tanpa benar-benar paham masalah, atau minimal mempelajari masalah itu sebelum teriak ini-itu. Demonstrasi besar-besaran di Mesir pada 2013 berujung pada penggulingan Presiden Morsi. Di Indonesia, ada banyak sekali orang yang mendukung Morsi dan menganggap dia dizalimi. Saya penasaran, dan saya tanya langsung apa pendapat warga Mesir terhadap Morsi. Benarkah Morsi seperti apa yang "diyakini" orang-orang Indonesia saat itu?

5. Perjalanan Menemukan Passion yang (Mendekati) Sempurna

Pada dasarnya, tidak ada yang sempurna. Namun, setidaknya, ada suatu titik di mana kita merasa, "God, this is perfect!" Ada suatu titik di mana kita akan merasa hidup kita (akhirnya) sangat sempurna karena apa yang kita lakukan atau kita kerjakan benar-benar dari hati kita. Namun, memang untuk mencapai titik ini tidak pernah mudah.

6. Ask.fm: Semua Bisa Jadi Selebritas

Selama 2014 lalu, Ask.fm menjadi media sosial yang sangat populerdi kalangan remaja-remaja Indonesia masa kini. Popularnya Ask.fm di Indonesia seakan semakin membuktikan bahwa orang Indonesia memang punya rasa ingin tahu yang begitu besar (atau kita sebut saja, kepo) dan secara bersamaan sangat senang ditanya.

7. Ahok dan Provokasi di Media Sosial

Mengapa negara kita begitu lama terbelenggu oleh penjajahan kolonial? Jawabannya mudah saja. Karena memang dari dulu, karakter maysarakat kita mudah diprovokasi. Karena itu, Belanda dulu menerapkan taktik politik "Devide et Impera" atau yang bisa disebut sebagai politik adu domba. Ternyata, dari dulu, kita memang "senang" dan mudah diadu domba. Kita mudah diprovokasi.

8. Penyerangan Charlie Hebdo, Haruskah Terjadi?

Salah peristiwa yang menggegerkan awal tahun 2015. Tanggal 7 Januari 2015, dunia kembali dikejutkan dengan aksi terorisme yang (lagi-lagi) melibatkan nama Islam. Kantor pusat majalah satir Charlie Hebdo di Paris, Prancis, diserang. Salah seorang editor, Stephane Charbonnier, ikut terbunuh dalam aksi bersenjata ini. Mengapa hal semacam ini harus terjadi? Mengapa (lagi-lagi) harus Islam yang jadi "korban"?

9. Ketika Terlalu Banyak Kebencian (dan Kebodohan) di Negeri Ini

udah terlalu banyak kebencian di negeri ini. Janganlah kita tambah dengan kebodohan pula. Mau jadi apa negeri kita (yang katanya kita cintai ini) nanti? Mari kita mulai cerdas dalam memilah-milih konten yang akan kita sebarkan di media sosial. Saya mungkin bisa paham ada semacam "dorongan" tersendiri untuk berperan aktif dalam menyebarkan isu-isu penting, tapi sekali lagi, sebaiknya kita luangkan sedikit waktu untuk memahami isu itu terlebih dahulu.

10. Perang Dunia II: Apakah Dunia Berutang pada Soviet?

Bagi kita di Indonesia, Perang Dunia II adalah suatu perang yang terjadi jauh di luar sana dan kurang berdampak signifikan bagi kita. Anggapan ini bisa jadi muncul karena kita merasa bahwa Indonesia saat itu sama sekali tidak angkat senjata dan ikut berperang. Namun, keberhasilan bangsa Indonesia untuk bisa memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, tak lepas dari Perang Dunia II yang terjadi "di luar" sana. Lalu, apa hubungannya dengan Komunis Soviet?

*  *  *

Pada akhirnya, saya ucapkan terima kasih kepada seluruh pembaca, orang-orang yang mendukung dan mengkritik tulisan saya selama enam tahun terakhir ini. Saya tidak menulis selama enam tahun ini, hingga akhirnya bisa memublikasikan tulisan yang ke-200 ini, tanpa adanya timbal balik dari orang-orang yang membaca blog ini.

Segala pemikiran saya tumbuh dan berkembang melalui blog ini. Mental saya pun "terlatih" salah satunya karena blog ini. "Bukan Fauzan namanya kalau enggak bikin sesuatu yang kontroversi," begitu kata beberapa orang. Ya, saya pikir, selama hal yang dianggap kontroversial itu melatih atau mengajak kita untuk beprikir lebih kritis, kenapa tidak?

Sekali lagi, terima kasih untuk semua yang telah membaca, mengomentari, mengkritisi, dan membagikan tulisan-tulisan saya selama ini. Saya sangat menghargai itu semua, dan semoga di 2016 mendatang, teman-teman semua tetap bisa mendapatkan wawasan atau ide baru melalui tulisan-tulisan yang saya publikasikan di sini. Terima kasih!
Video kiriman Fauzan Al-Rasyid (@fauzanalrasyid) pada

Salam,

Fauzan Al-Rasyid

   Add Friend

Tiga Hal Esensial yang Perlu Disiapkan Sebelum Berwisata ke Krimea

“Ж/Д вокзал” (Zh/D vokzal) di Simferopol, Krimea.
Tahun 2016 hanya tinggal sejauh hitungan minggu, dan jadwal libur panjang di tahun depan telah banyak dirilis dan disebarkan di media-media sosial. Apakah Rusia termasuk ke dalam salah satu destinasi wisata Anda di 2016 mendatang? Jika iya, 2016 mendatang adalah saat yang tepat untuk menguji nyali Anda, baik sebagai turis maupun sebagai petualang, di salah satu wilayah yang sempat menjadi topik hangat selama 2014 lalu: Krimea. Amankah? Tentu saja!

Pada musim gugur lalu, saya berkesempatan mengunjungi semenanjung yang sempat menjadi “titik panas” antara Rusia dan Ukraina pada 2014 lalu. Kini, Krimea telah menjadi bagian dari Rusia. Artinya, Anda hanya perlu visa Rusia untuk pergi ke Krimea. Jika pada 2016 mendatang Anda berencana pergi ke Rusia, sempatkanlah berkunjung ke semenanjung yang menyimpan begitu banyak keindahan alam dan budaya ini. Anda tak akan menyesal.

Saya berada di Krimea selama dua minggu. Bagi saya, itu adalah dua minggu paling berkesan, setidaknya hingga saat ini. Namun demikian, berkunjung seorang diri ke Krimea bagi WNI seperti saya, tentu bisa menimbulkan cukup banyak kebingungan, terutama soal bahasa. Jujur saja, saya belum mahir dalam berbahasa Rusia. Sementara, mayoritas orang-orang di sana hanya berbahasa Rusia, atau katakanlah, mereka lebih nyaman menggunakan bahasa Rusia. Lalu, bagaimana saya bisa “selamat” seorang diri di Krimea dengan segala keterbatasan bahasa, dan bahkan, akses komunikasi?
Foto kiriman Fauzan Al-Rasyid (@fauzanalrasyid) pada

Ada beberapa hal yang perlu Anda persiapkan sebelum berangkat ke Krimea agar perjalanan Anda selama berada di semenanjung tersebut lancar, seperti kemampuan standar berbahasa Rusia, peta atau navigasi, dan informasi transportasi umum. Berikut ini beberapa tips penting jika Anda berencana berwisata ke Krimea.

Bahasa

Bahasa mungkin bisa menjadi salah satu hal penghambat dalam perjalanan Anda ke Krimea. Sejujurnya, saya hampir tak bisa membayangkan bagaimana seorang yang sama sekali “buta” dengan bahasa Rusia bisa “selamat” di sana, walau tentu saja hal itu tetap mungkin dilakukan. Namun, saya bisa katakan bahwa hampir seluruh pramusaji restoran-restoran atau kafe-kafe di Krimea, kasir di pasar swalayan, bank, terminal, atau bahkan bandara, serta petugas informasi dan polisi di sana, tidak berbahasa Inggris. Sementara, hampir segala papan informasi, tiket, menu, harga, dan sebagainya, ditulis dalam huruf Kiril.

Secara pribadi, saya memang tidak menyarankan Anda pergi ke Krimea tanpa pengetahuan bahasa Rusia sama sekali, kecuali Anda bepergian dengan orang yang bisa berbahasa Rusia atau mungkin Anda punya teman di sana. Namun jika Anda berencana pergi seorang diri, saya menyarankan Anda, setidaknya, harus bisa membaca huruf Kiril.

Anda tak perlu mahir dulu dalam bahasa Rusia, baru kemudian pergi ke Krimea. Anda cukup mengetahui kata-kata umum yang mungkin bisa “menyelamatkan” hidup Anda di sana, seperti “сколько?” (skolko? ‘berapa?’), “это где?” (eto gde? ‘ini di mana?’), “это на…?” (eto na…? ‘ini ke…?), “я хочу….” (ya khochu…., ‘saya mau…’.), “это” (eto, ‘ini/itu’), “да” (da, ‘iya’), “нет” (nyet, ‘tidak’), dan “спасибо” (spasibo, ‘terima kasih’).
Foto kiriman Fauzan Al-Rasyid (@fauzanalrasyid) pada

Tentunya, ada banyak kata lainnya yang bisa Anda cari tahu dan catat dari situs-situs belajar bahasa Rusia, bahkan Anda pun bisa mencari tahu lebih lanjut mengenai bahasa Rusia di rubrik Belajar Bahasa Rusia di RBTH Indonesia.

Namun, selama dua minggu saya di Krimea, bukan berarti saya sama sekali tidak menemukan orang Rusia yang bisa bicara bahasa Inggris. Setiap kali saya pindah dari hostel yang satu ke hostel lainnya, saya selalu menemukan turis Rusia yang bisa berbahasa Inggris.

Alat Komunikasi dan Navigasi

Sebelum ke Krimea, saya berada di Moskow selama satu minggu. Di Moskow, saya membeli nomor lokal agar saya bisa berkomunikasi, atau khususnya mengakses internet melalui telepon genggam saya. Pengalaman saya di 2014, saat saya ke Sankt Peterburg, saya harus memastikan apakah nomor telepon yang saya beli di Moskow sata itu bisa digunakan di Piter (sebutan warga lokal bagi kota Sankt Peterburg). Ini dikarenakan, sistem komunikasi di Rusia tidak sama seperti di Indonesia. Di Indonesia, satu nomor dari salah satu penyedia jasa layanan telekomunikasi seluler dapat digunakan dari Sabang sampai Merauke, dengan segala fitur dan layanannya. Namun, hal itu tak sama dengan di Rusia. Karena itu, jika Anda ingin membeli nomor lokal, pastikan Anda bertanya apakah nomor tersebut bisa digunakan untuk berkomunikasi dan mengakses internet di daerah tujuan wisata Anda berikutnya.

Saya ingat, saat di Moskow, saya memang menanyakan apakah nomor yang hendak saya beli saat itu bisa digunakan di Krimea. Menurut sang penjual, nomor tersebut bisa digunakan, dan ia benar. Namun, sayangnya saya tidak bertanya lebih spesifik terkait akses internet. Ketika sampai di Krimea, nomor telepon Rusia saya ternyata tidak bisa dipakai untuk mengakses internet. Alhasil, selama dua minggu di Krimea, saya “jauh” dari koneksi internet. Saya hanya bisa bergantung pada koneksi Wi-Fi di hostel-hostel tempat saya menginap, yaitu pada pagi hari sebelum bepergian dan di malam hari saat istirahat.

Lalu, bagaimana saya bepergian dan “selamat” menjelajahi Krimea selama dua minggu tanpa koneksi internet, khususnya untuk mencari lokasi dan navigasi? Saya tentu saja butuh peta. Saat di Moskow saya sudah terlebih dulu mengunduh peta offline Krimea. Aplikasi ini adalah MAPS.ME. Setidaknya, kalau bukan karena aplikasi ini, mungkin perjalanan saya selama di Krimea tidak akan berjalan lancar. Selain bisa menandai berbagai lokasi di peta elektronik ini, MAPS.ME juga menyediakan fitur navigasi. Semua itu dilakukan tanpa koneksi internet, dan keakuratannya cukup tinggi. Aplikasi ini tersedia untuk Andorid, iOS, dan BlackBerry.

Transportasi Umum

Transportasi umum di Krimea terdiri dari bus, bus listrik (trolleybus), taksi, dan kereta api. Ketika saya pertama kali menginjakkan kaki di Krimea dan sama sekali buta arah, satu-satunya transportasi yang paling masuk akal untuk saya naiki agar sampai ke hostel adalah taksi. Namun, tentu saja, harganya sangat mahal.

Taksi di Krimea tidaklah seperti di Indonesia yang bewarna-warni, memiliki logo perusahaan, pelat nomor khusus, sopirnya memiliki tanda pengenal, dan di dalamnya ada argometer. Di Krimea, taksi bisa berupa mobil pribadi, dan Anda harus tawar-menawar terlebih dulu dengan si sopir ketika ingin pergi ke suatu tempat. Jika si calon penumpang tidak bisa berbahasa Rusia, tentunya akan lebih mudah bagi si sopir “memainkan” harga, dan sejujurnya, saya pun tidak bisa berbuat banyak untuk menawar harga. Jika Anda tak setuju dengan tarif yang ditawarkan si sopir maka ia tidak akan memohon-mohon dan menurunkan tarifnya agar kita jadi menggunakan jasa taksinya. Jadi, saya melihat sopir-sopir taksi di Krimea punya posisi tawar yang tinggi.

Alternatif transportasi umum yang paling baik, menurut saya, untuk bepergian di Krimea adalah bus. Tarif bus dalam kota di Krimea bervariasi, antara 10 hingga 12 rubel (sekitar 2.000 hingga 2.500 rupiah) untuk sekali jalan. Di Simferopol, ibu kota Krimea, tarif bus dalam kota hanya 10 rubel saja. Sementara, tarif bus listrik hanya tujuh rubel (sekitar 1.400 rupiah) saja.

Jika Anda mau pergi dari satu kota ke kota lainnya, bus antarkota juga dijadikan pilihan transportasi untuk menuju tujuan Anda. Jika Anda di Simferopol, Anda perlu pergi ke terminal bus atau yang disebut “Ж/Д вокзал” (Zh/D vokzal). Agar lebih nyaman, Anda bisa terlbih dulu memastikan jadwal keberangkatan dan kedatangan bus di situs jadwal bus Yandeks Raspisaniya. Setelah sampai di terminal, Anda tinggal pergi ke loket dan membeli tiket bus atau bus listrik. Bus antarkota di Krimea terbilang cukup baik. Namun yang paling penting, bus-bus di sana berangkat dan tiba tepat waktu.

Jadi, sudah siap berpetualang ke Krimea tahun depan?

Penulis adalah web editor di Russia Beyond the Headlines Indonesia (RBTH Indonesia). Baca artikel lainnya mengenai hubungan Rusia dan Indonesia. >>>

   Add Friend