Welcome to My World!

Welcome visitors! Please enjoy my site and I hope you can get many useful information. If you wish, you may contact me through Facebook, Twitter, or any other social media that I linked on the menu bar above. Thank you.

Die Poskarten

This is my another blog: Die Poskarten. This blog will show you all my postcards collection. If you want to swap a postcard, please don't hesitate to contact me from the menu bar above.

Bonjour à Tous !

"Bonjour à Tous !"is my Tumblr site. Please take a look on it and maybe you can find some funny contents that you will love. You can also follow me on Tumblr to get my updates on the site.

Please Do Not Copy

You are welcome to link to my site and use my resources in your classroom, but please respect my hardwork and do not copy my page or files and add them to your website. Thank you.

Russia Beyond the Headlines in Bahasa Indonesia

Russia Beyond the Headlines, your guide to Russia, a diverse and complex country cannot be understood in the context of stereotypes. Now available in Bahasa Indonesia!

01 Agustus 2009

Drama Harry Potter dalam Layar Lebar

Film keenam Harry Potter, Harry Potter and the Half-Blood Prince, tampaknya menjadi salah satu film yang paling dinanti oleh jutaan penggemar Harry Potter di tahun 2009 ini. Terlebih lagi film ini seharusnya dijadwalkan tayang pada tahun 2008 yang lalu, tetapi karena pada tahun tersebut muncul isu krisis ekonomi global, akhirnya penayangan film pun ditunda hingga tahun 2009. Film yang disutradarai oleh David Yates ini tayang serentak di seluruh dunia pada tanggal 15 Juli 2009. David Yates yang sebelumnya juga menyutradarai film kelima Harry Potter, Harry Potter and the Order of the Phoenix, harus bekerja ekstra karena jalan cerita di film yang diangkat dari novel keenam seri Harry Potter ini akan semakin kompleks. Selain itu banyak penggemar Harry Potter yang sering merasa kecewa setiap kali menonton beberapa film Harry Potter sebelumnya karena apa yang ditampilkan banyak yang tidak sesuai dengan novel atau di luar harapan penonton. Hal-hal semacam ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi David Yates selaku sutradara dalam mengemas isi film menjadi sedemikan rupa bagusnya hingga baik para penonton/penikmat film maupun penggemar Harry Potter merasa puas dengan film tersebut.

Namun, sepertinya tanggapan penonton di Indonesia, seperti teman-teman saya misalnya, kurang berkesan positif setelah menonton film yang telah ditunggu-tunggu ini, ya bisa dikatakan biasa saja bahkan (katanya) cenderung membosankan. Saya sendiri sebagai seorang penggemar dan pengamat Harry Potter (baik buku maupun filmnya) menjadi bertanya-tanya seperti apa cerita yang disajikan dalam film tersebut, tapi karena sejak film tersebut pertama kali dirilis sampai dengan akhir bulan Juli saya punya cukup banyak daftar kerjaan yang harus diselesaikan, akhirnya baru pada hari ini, 1 Agustus, saya menyempatkan diri untuk menonton dan di mana lagi kalau bukan di tempat andalan orang Bekasi, ya, Metropolitan Mall dan berhubung karena film ini sudah tayang kira-kira selama dua minggu, penontonnya pun tidak terlalu ramai seperti seminggu sebelumnya.

Ya, akhirnya setelah saya selesai menonton (dan akhirnya jadi nonton juga), saya baru paham dengan komentar-komentar penonton mengenai film ini. Pendapat saya pribadi, film ini biasa saja dan sepertinya dari enam film Harry Potter, film inilah yang paling biasa. Dari segi isi cerita, sangat terlihat bahwa dalam film ini David Yates banyak menambahkan dan mengubah beberapa hal, khususnya di bagian awal film. Ya, memang, dalam pembuatan film, seorang sutradara bebas dan berhak meng-improve materi film, tapi dalam hal ini, saya rasa film sebelumnya, Harry Potter and the Order of the Phoenix, yang ia sutradarai juga lebih baik daripada film keenam ini.

Lalu sebenarnya bagaimana dengan cerita yang ada dalam novel? Secara garis besar, dalam novel diceritakan bahwa Lord Voldemort dan para pengikutnya sudah mulai melancarkan berbagai aksi kejahatan mereka secara terang-terangan. Menteri Sihir Cornelius Fudge akhirnya harus melepas jabatannnya karena dianggap tidak serius dalam menangani kasus Voldemort. Cornelius Fudge kemudian digantikan oleh Rufus Scrimgeour. Bagian ini jelas tidak ada dalam film.

Kemudian dalam novel diceritakan pula bahwa Sekolah Sihir Hogwarts, tempat Harry menjalani tahun keenamnya pun tidak terlepas dari suasana mencekam hingga keamanan lebih ditingkatkan. Seperti biasa, tahun ini pun Hogwarts mendapatkan seorang guru baru, yaitu Horace Slughorn yang menggantikan Professor Severus Snape dalam mata pelajaran Ramuan. Professor Snape akhirnya mendapatkan jabatan yang diimpikannya selama ini, guru Pertahanan terhadap Ilmu Hitam. Kejutan lainnya datang dari Harry yang kali ini berprestasi dalam kelas Ramuan, bahkan dia berhasil mengalahkan Hermione berkat buku yang dipinjamkan Professor Slughorn padanya yang merupakan milik “Pangeran Berdarah-Campuran” atau Half-Blood Prince. Di dalam film tidak dijelaskan secara lebih detail mengenai Professor Snape yang mengajar Pertahanan terhadap Ilmu Hitam. Karakter Snape dalam film lebih ditonjolkan pada sosok yang berusaha melindungi Draco Malfoy seperti yang telah ia janjikan (bersumpah) kepada ibunya Draco, Narcissa Malfoy.

Hal berikutnya adalah bahwa di tahun ini Harry harus mempelajari suatu pelajaran khusus dari Professor Dumbledore. Pelajaran itu adalah melihat masa lalu Voldemort mulai dari sejarah kakeknya hingga ia menjadi seorang penyihir yang paling ditakuti dalam dunia sihir. Sementara itu, Professor Dumbledore dan Harry juga memiliki tugas penting, yaitu menghancurkan beberapa Horcrux milik Lord Voldemort yang masih tersisa. Namun, seseorang ada yang berkhianat dan akhirnya Harry harus kembali kehilangan orang yang ia sayangi dan ia hormati, yaitu Dumbledore.

Ya, jadi inilah sebenarnya inti dari novel keenam Harry Potter, yaitu melihat masa lalu Voldemort dan teka-teki Horcrux. Inilah bagian terpenting dari novel keenam karya J.K. Rowling. Namun, di dalam film kisah masa lalu Voldemort ini kurang begitu ditonjolkan. Memang ada beberapa adegan yang ditampilkan, seperti ketika Dumbledore menunjukkan kenangannya/memorinya pada Harry ketika pertama kali bertemu dengan Tom Riddle (Voldemort) di sebuah panti asuhan dan yang kedua adalah adegan ketika Tom Riddle bertanya tentang Horcrux kepada Professor Slughorn, sedangkan dalam di novel ada lebih banyak cerita mengenai masa lalu Voldemort. Sangat disayangkan ada banyak bagian yang tidak ditampilkan dalam film.

Satu hal yang saya cukup menonjol dalam film Harry Potter and the Half-Blood Prince adalah kisah romansa antartokoh (Harry, Ron, dan Hermione) yang sedang menginjak masa remaja. Ya, saya pun jadi tidak heran ketika banyak teman saya yang mengatakan bahwa film keenam ini seperti drama karena ternyata memang seperti itu. Kalau kita coba lihat ke novelnya, memang sejak tahun keempat (Harry Potter and the Goblet of Fire) J.K. Rowling sudah mulai membumbui ceritanya dengan kisah cinta remaja, ya tentunya karena para tokoh di dalamnya semakin tumbuh dewasa dari anak-anak menjadi remaja. Namun, apa yang ditampilkan dalam film, porsi kisah asmara antartokoh sepertinya menjadi agak berlebih, sehingga inti cerita dari film itu pun menjadi kurang menonjol. Padahal dari tagline film keenam Harry Potter ini, “Dark Secrets Revealed”, sudah menunjukkan bahwa terungkapnya rahasia kegelapan (Horcrux) itulah yang menjadi sesuatu yang ditonjolkan atau inti dari film tersebut, tapi setelah saya menonton filmnya, sepertinya hal itu justru kurang menonjol.

Kemudian setelah selesai menonton, saya rasa akhir cerita dalam film ini pun kurang pas. Banyak teman saya yang juga mengatakan bahwa akhir cerita dari film ini antiklimaks. Sebenarnya akhir cerita dalam novel memang cenderung antiklimaks karena cerita keenam ini sebagai jembatan/penyambung antara novel kelima dan yang ketujuh. Mengapa demikian? Karena sebelumnya di novel kelima diceritakan tentang adu siasat antara Voldemort yang mulai kembali menyusun tentara pengikutnya (Pelahap Maut) dengan Orde Phoenix yang merupakan penentang Voldemort, dan kemudian di buku keenam diceritakan tentang bagaimana menentukan sikap dalam menghadapi ancaman Voldemort, yaitu dengan cara mempelajari masa lalunya (sangat terlihat bahwa sejarah itu memang penting), sehingga di buku ketujuh apa yang telah diketahui dari kisah-kisah masa lalu Voldemort bisa menjadi kunci untuk menemukan kelemahan Voldemort demi mengalahkannya. Itulah sebabnya di buku keenam sosok Voldemort tidak muncul karena Rowling memfokuskan pembaca untuk mengetahui lebih dalam mengenai siapa sosok Voldemort sebenarnya.

Namun, dari ketujuh seri novel Harry Potter, menurut saya dua novel di antaranya memiliki akhir yang sangat bagus, yaitu pada saat perpisahan Harry dengan Sirius Black sesaat setelah Harry dan Hermione membebaskan Sirius dalam Harry Potter and the Prisoner of Azkaban, dan pada saat Dumbledore terbunuh dalam dalam Harry Potter and the Half-Blood Prince. Kedua kisah yang diceritakan dalam masing-masing judulnya ini sangat berkesan bagi saya, tapi yang paling saya suka adalah saat Dumbledore terbunuh karena ketika membacanya membuat mata saya berkaca-kaca. Rowling benar-benar menulisnya dengan sangat luar biasa (dan tentunya orang yang menterjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia juga sangat hebat), tapi ternyata salah satu yang juga saya nantikan dalam film ternyata sangat biasa saja, tidak sebagus dengan apa yang ada di novel.

Jadi, secara keseluruhan, menurut saya film Harry Potter and the Half-Blood Prince dapat dikatakan cukup, ya… sebenarnya kurang begitu memuaskan, tapi lumayan untuk sekedar ditonton dan saya tidak begitu merekomendasikan film ini sebagai salah satu film Harry Potter yang harus ditonton. Menurut saya film sebelumnya, Harry Potter and the Order of the Phoenix masih lebih bagus daripada film keenam ini. Harapan saya tentunya pada film terakhir Harry Potter, Harry Potter and the Deathly Hallows, film tersebut bisa benar-benar menjadi visualisasi dari kisah yang ada dalam novel.

   Add Friend

Selamat Datang!

Halo! Selamat datang di Route 23. Ya, akhirnya saya “pindah tempat” setelah banyak orang yang menyarankan kepada saya untuk menulis blog di Blogspot.com. Ini adalah blog ketiga yang saya buat. Blog pertama saya, “Le Prince”, ada di Friendster.com dan menyimpan cukup banyak kenangan, emosi, dan penuh dengan kontroversi, sehingga akhirnya saya memutuskan untuk membuat blog baru, “The Prince”, di Blog.com. Memang situs blog tersebut terdengar kurang familiar di antara para blogger Indonesia. Sebenarnya pada saat itu saya hanya sekedar browsing situs-situs blog di internet, tapi ketika saya menemukan situs Blog.com, saya lihat tampilannya cukup unik dan terasa semakin “beda” dengan domain “blog.com”. Akhirnya saya pun coba-coba membuat akun di Blog.com, tapi akhirnya setelah beberapa kali menulis artikel (dan satu artikel yang luar biasa kontroversial), mood menulis saya terasa hilang. Sebenarnya ada keinginan untuk menulis, tapi rasanya tidak bergairah (wow). Ya, sepertinya saya butuh inspirasi dan dorongan untuk menulis. Kemudian saya pun mulai mencoba menulis di note Facebook dan hasilnya saya kembali punya motivasi untuk menulis. Ya, saya rasa saya butuh “penyegaran” dalam menulis blog dan akhirya saya kembali mencoba mencari situs-situs blog. Ada dua situs lazim digunakan oleh para blogger Indonesia, yaitu Blogspot.com dan Wordpress.com, keduanya bagus, tapi akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan Blogspot.com sebagai blog baru saya. Ya, sekarang blog saya ini berjudul “Route 23” dengan tagline yang saya pilih: That mysterious route towards the unknown. Ya, jadi, selamat membaca!

31 Juli 2009

Sang Raja, Dirinya, dan Masa Kecilnya

Michael Jakson kini telah tiada. Namun, nama dan lagu-lagunya tetap hidup di hati seluruh penggemarnya. Selain banyak menyanyikan lagu-lagu bertema sosial, lagu-lagu Michael juga banyak bercerita tentang kehidupannya yang dia rasa tidak bahagia, termasuk pada saat masa kecilnya. Salah satu lagu Michael yang menjadi favorit saya adalah lagunya yang berjudul Childhood.
Have you seen my childhood?
I'm searching for the world that I come from
'Cause I've been looking around
In the lost and found of my heart
No one understands me
They view it as such strange eccentricities
'Cause I keep kidding around
Like a child, but pardon me

People say I'm not okay
'Cause I love such elementary things
It's been my fate to compensate,
for the childhood I’ve never known...

Have you seen my childhood?
I'm searching for that wonder in my youth
Like pirates in adventurous dreams,
of conquest and kings on the throne

Before you judge me, try hard to love me
Look within your heart then ask
Have you seen my childhood?

People say I'm strange that way
'Cause I love such elementary things,
It's been my fate to compensate,
for the childhood I’ve never known…

Have you seen my childhood?
I'm searching for that wonder in my youth
Like fantastical stories to share
The dreams I would dare, watch me fly

Before you judge me, try hard
to love me The painful youth I’ve had
Have you seen my childhood?

Menurut saya, makna dalam lagu ini sangat dalam. Lewat lagu ini Michael menceritakan kisah masa kecilnya yang “hilang”. Lewat lagu ini Michael juga bercerita tentang dirinya yang dianggap aneh karena menyukai anak-anak, dan dia pun mengungkapkan alasannya dalam lagu ini. Bagi saya, lagu ini sangatlah meyentuh. Saya bisa merasakan kesedihannya dalam lagu ini. Kesedihan dari seorang yang sangat peduli pada anak-anak, tetapi justru sempat diberitakan bahwa dia terlibat kasus pelecehan terhadap anak-anak. Menurut saya pribadi, saya tidak percaya dengan kasus yang sempat menimpa Michael tersebut dan membuatnya menjadi salah satu artis yang kontroversial di jagat hiburan dunia. Dia, Michael, tidak hanya seorang penyanyi atau entertainer terhebat yang pernah hidup, tapi lebih dari itu, Michael adalah seorang humanitarian yang sangat luar biasa, seorang yang sangat peka dan peduli dengan masa depan anak-anak di dunia ini. Ya, kini sang raja telah pergi dan tak akan kembali, tapi kisahnya akan tetap melegenda sepanjang masa dan kepeduliannya kepada anak-anak di dunia ini akan tetap dikenang oleh semua orang.

Penyihir dari Chipping Sodbury

Joanne Kathleen Rowling adalah penulis buku serial yang sangat popular dan fenomenal, yang bercerita tentang penyihir cilik bernama Harry Potter. Sukses yang dicapai bukunya yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1997, yaitu Harry Potter and the Philosopher’s Stone, melontarkan dirinya ke puncak ketenaran. Kesuksesan itu berlanjut dengan buku kedua yang diluncurkan pada tahun 1998, yakni Harry Potter and the Chamber of Secrets. Hingga saat ini serial Harry Potter telah diterjemahkan ke dalam 61 bahasa dan terjual sebanyak 250 juta eksemplar di 200 negara.

J.K. Rowling atau Jo lahir di Chipping Sodbury di dekat Bristol, Inggris, pada tanggal 31 Juli 1965. Ketika dia berusia sembilan tahun keluarga Rowling pindah ke Tutshill, desa kecil di dekat Cheptow, Wales Selatan yang memiliki sebuah kastil yang berdiri di atas karang terjal sebagai pemandangan utama desa tersebut. Rumah Rowling di Tutshill adalah sebuah pondok yang berdiri di sebelah gereja dan dulunya merupakan bangunan sekolah di desa. Saat itu rumahnya berada tepat di sebelah pemakaman dan menurutnya pemakaman tidaklah menyeramkan seperti yang banyak orang pikirkan dan tempat itu merupakan sumber nama-nama yang bagus.

Jo kuliah di Universitas Exeter selama empat tahun, termasuk setahun mengajar bahasa Inggris di Paris. Setelah lulus kuliah, Jo berangkat ke London untuk mengikuti kursus sekretaris dwibahasa (kursus bagi para sekretaris yang bisa bicara lebih dari satu bahasa), walaupun akhirnya Jo merasa jenis pekerjaan itu sangat tidak cocok baginya. Tapi satu hal yang dia pelajari dengan sungguh-sungguh adalah kemampuan mengetik. Sekarang Jo mengetik semua bukunya sendiri, jadi keahliannya itu amat berguna. Ketika kursus selesai, satu hal yang ia inginkan hanyalah mendapatkan pekerjaan yang dapat memberinya penghasilan agar ia bisa punya waktu menulis.

Di tahun 1990, saat Rowling sedang menunggu kereta yang akan membawanya dari kota Manchester kembali ke London, lahirlah seorang anak laki-laki dengan rambut hitam acak-acakan di benaknya. Saat itu Jo merasakan gejolak kegembiraan yang begitu menakjubkan dan dia tahu bahwa pasti asyik menulis kisah ini. Walaupun sudah mulai menulis sejak berusia enam tahun, baru kali itu Rowling mendapatkan ide cerita yang sangat nyata terbayang di kepalanya. Pada saat itu Jo tidak tahu bahwa kisahnya akan menjadi buku anak-anak karena yang dia tahu hanyalah bahwa dia memiliki tokoh anak laki-laki bernama Harry. Selama perjalanan itu Jo juga menciptakan tokoh Ron, Nick si Kepala Nyaris-Putus, Hagrid, dan Peeves si Hantu Jail. Namun sayangnya sementara ide besar itu berpusar-pusar di benaknya, dia tidak mempunyai pulpen yang berfungsi dengan baik. Hingga saat ini, ia sering menyesal mengapa ia tidak membawa pulpen lain atau memberanikan diri meminjam pulpen kepada seseorang. Akhirnya Jo memutuskan untuk terus memikirkannya selama perjalanan kembali ke London, dan seandainya ada hal-hal yang tidak bertahan sampai akhir perjalanan, mungkin berarti detail itu memang tidak layak diingat.

Pertama, Jo memusatkan perhatian pada Sekolah Sihir Hogwarts. Dia membayangkan tempat dengan tata tertib yang ketat tapi amat berbahaya. Setelah itu dia memikirkan tempat sekolah itu berada. Tempat itu harus terpencil dan segera Jo menetapkan Skotlandia sebagai tempat di mana Hogwarts berada. Setelah sampai di London, Jo kembali ke flat dan mulai menuliskan semuanya dalam buku catatan kecil. Dia menulis daftar mata pelajaran utama yang harus dipelajari di sekolah itu. Kemudian Jo menciptakan nama-nama untuk disesuaikan dengan masing-masing tokoh. Seperti misalnya Gilderoy Lockhart. Jo tahu bahwa namanya harus punya kesan kuat. Kemudian dia memeriksa Dictionary of Phrase and Fable yang merupakan sumber yang bagus untuk mencari nama-nama. Di dalam kamus itu Jo menemukan nama Gilderoy yang artinya polisi patroli jalan raya yang tampan berkebangsaan Skotlandia. Menurutnya itu sangat tepat sekali dengan yang ia mau. Berikutnya Jo menemukan nama Lockhart pada tugu peringatan Perang Dunia I. Gabungan kedua nama itu menyatakan semua hal yang ingin Jo gambarkan dalam tokoh tersebut.

Dalam sebuah wawancara, Rowling mengatakan bahwa sejak kecil dia selalu ingin menjadi pengarang. Sastra Inggris selalu menjadi pelajaran kesukaan Jo sewaktu masih di sekolah, itu sebabnya Jo memutuskan untuk mengambil Sastra Inggris di bangku kuliah. Rowling mengaku sudah mulai menulis buku sejak berumur enam tahun. Judul buku pertamanya adalah Rabbit, cerita mengenai seekor kelinci. Sejak saat itu Jo terus menulis.

Jika seseorang bertanya mengenai rahasia kebahagiaan J.K. Rowling, maka Jo akan menjawab bahwa langkah pertama adalah mencari tahu kegiatan apa yang paling Anda sukai di dunia ini dan langkah kedua adalah menemukan seseorang yang berkenan membayar Anda untuk melakukan hal itu. Jo mengaku merasa sangat beruntung karena dapat membiayai hidupnya dengan menulis.

Sewaktu kecil Rowling paling suka membaca buku-buku karya Jane Austen. Ada tiga buku yang menjadi favoritnya semasa kecil, This Little White Horse karya Elizabeth Goudge, Manxmouse HoHorsekarya Paul Gallico, dan Grimble karya Clement Freud. Menurut Jo, apa pun yang kita lihat, alami, baca, atau dengar bisa menjadi ide yang sangat menarik.

Ketika ditanya mengenai proses penciptaan cerita Harry Potter, Jo menjawab bahwa pertanyaan ini berkaitan dengan menemukan alasan mengapa Harry berada di sekolah sihir, atau mengapa orang tuanya meninggal. Jo mengaku bahwa sebenarnya dia hanya mereka-reka, tapi dia merasa seperti sedang melakukan sebuah riset. Pada akhir perjalanan di kereta menuju London, Jo tahu bahwa kisah Harry Potter akan terbagi atas tujuh buku berseri. Butuh waktu lima tahun untuk merencanakan serial ini, untuk mereka-reka jalan cerita masing-masing ketujuh buku tersebut. Jo tahu kapan atau peristiwa apa yang akan terjadi atau siapa yang akan muncul, dan menurut Jo rasanya seperti menyambut teman-teman lama. Professor Lupin yang muncul di buku ketiga adalah salah satu tokoh kesukaan Jo. Lupin manusia cacat, baik secara harfiah maupun kiasan. Menurut Jo penting bagi anak-anak untuk mengetahui bahwa orang dewasa pun punya masalah, dan bahwa mereka pun berjuang untuk mengatasinya. Perubahan wujud menjadi manusia serigala merupakan kiasan terhadap reaksi manusia dalam menghadapi rasa sakit dan ketidakmampuan.

J.K. Rowling tentunya selalu mempunyai latar belakang lengkap setiap tokoh yang ia ciptakan. Menurutnya bila ia menuliskan semua perincian tiap tokoh dalam setiap buku, maka tebal buku pun bisa membengkak menjadi setebal Encyclopedia Britannica. Namun, Jo tetap harus berhati-hati sebab dia tidak mau pembaca tahu sama banyaknya seperti dirinya. Misalnya tokoh Sirius Black. Jo punya seluruh kisah masa kecilnya. Pembaca tidak perlu tahu tapi jelas dia harus tahu. Jo berkata bahwa di harus tahu lebih banyak daripada pembaca sebab dialah yang menggerakkan tokoh dalam cerita.

Rowling mengaku bahwa memutuskan untuk menjadi seorang penulis penuh-waktu dan meninggalkan pekerjaannya bukanlah keputusan yang mudah. Pada saat itu dia tidak dapat memastikan apakah ini sekedar “kehebohan” sementara untuk selanjutnya hilang tanpa bekas. Selain itu Jo mempunyai seorang anak yang harus dia pikirkan. Tapi kemudian Jo berpikir mungkin dia bisa menulis penuh-waktu selama dua tahun, walaupun keputusan itu mengancam karir mengajarnya karena untuk menjadikannya pekerjaan tetap, terlebih dahulu Jo perlu mendapat pengalaman yang cukup.

Momen yang paling membanggakan dalam hidup Rowling adalah ketika dia menerima cek royalti pertamanya, walaupun Jo sama sekali tidak berharap royalti apa pun–tidak untuk buku pertamanya. Sebelumnya, Jo telah meraih penghargaan Smarties Book Prize dan setelah itu penjualan bukunya langsung meroket.

Jo pernah merasa kesulitan ketika menyelesaikan Harry Potter and the Chamber of Secrets. Dia khawatir buku itu tidak memenuhi harapan pembaca. Namun pada akhirnya Jo menyerahkan naskah itu tepat waktu tapi ia mengambilnya lagi selama enam mingggu dan mengoreksinya sampai ia benar-benar puas.

Ketika Harry Potter and the Chamber of Secrets dirilis, buku itu hampir seketika bertengger sebagai nomor satu di daftar bestseller, dan menurut Jo itu cukup mencengangkan. Jo merasa amat terkejut ketika mengetahui hal itu. Mengetahui bahwa semua itu terjadi begitu cepat, tapi yang penting menurut Jo adalah dia menulis buku yang pantas ia banggakan.

Rowling ingat ketika menerima surat penggemarnya yang pertama, dari Francesca Gray. Diawali dengan, “Dear Sir…” Jo sudah bertemu dengannya. Surat-surat mengalir semakin banyak, namun ketika buku Rowling mulai laris di Amerika, surat-surat datang dengan berlimpah ruah. Jo sadar bahwa dia akan segera menjadi sekretaris yang payah. Itu masalah yang amat bagus, tapi memang sudah saatnya menyewa seseorang untuk melakukan berbagai pekerjaan yang benar.

Harry Potter telah diterjemahkan ke dalam 61 bahasa. Rowling suatu hari pernah menerima buku Harry Potter yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang, dan menurutnya itu sangat indah. Tapi menurut Jo yang paling membuatnya terkesan adalah edisi bahasa Yunani.

Jo pernah menemukan beberapa penyimpangan kecil yang aneh dalam bukunya di beberapa versi. Dalam terjemahan bahasa Spanyol, katak Neville Longbottom, yang selalu dihilangkannya, diterjemahkan menjadi kura-kura. Tentu saja kehilangan kura-kura lebih sulit dari pada kehilangan seekor katak. Dalam edisi itu bahkan tidak disebutkan soal air, tempat kura-kura itu seharusnya tinggal. Tapi Jo tidak ingin terlalu mempersoalkannya. Dalam edisi bahasa Italia, Professor Dumbledore dialihbahsakan menjadi Professor Silencio. Ternyata si penerjemah menafsirkannya dari kata “dumb” pada nama Dumbledore. Sebenarnya “dumbledore” adalah kata Inggris Kuno yang berarti tawon besar. Jo memilih kata itu karena dia membayangkan penyihir yang ramah ini banyak bergerak, bergumam pada diri sendiri, ditambah Jo memang menyukai bunyi kata itu. Bagi Rowling nama “Silencio” justru seperti kebalikannya. Tapi bukunya sangat popular di Italia, jadi jelas hal itu tidak mengganggu para pembaca di sana.

Ketika ditanya mengenai apa yang akan Jo lakukan begitu ia menyelesaikan buku ketujuh, Jo menjawab bahwa menyelesaikan buku itu pasti akan menjadi hal yang paling hebat. Setelah begitu lama bergulat dengan para tokoh tersebut dalam kepalanya, dia akan merasa sedih meninggalkan mereka, tapi Jo tahu bahwa akhirnya dia akan meninggalkan mereka.

J.K. Rowling yakin bahwa dia akan terus menulis, setidaknya sampai ia kehilangan akal sehatnya. Jo merasa sangat beruntung. Berkat popularitas Harry, dia tidak perlu menulis demi uang, tak ada seorang pun yang memaksanya. Jo hanya perlu melakukannya untuk dirinya sendiri. Terkadang Rowling berpikir bahwa sudah cukup baginya sekedar menjadi penulis yang lumayan sukses, di mana yang menjadi fokus perhatian adalah bukunya dan bukan dirinya. Jo merasa bahwa dengan diterbitkannya buku-bukunya itu sudah asyik. Menurut Jo imbalan yang paling besar adalah antusiasme para pembaca.

Terkadang ada saatnya di mana Rowling merasa dengan senang hati akan mengembalikan sejumlah uang yang ia terima agar bisa ditukar dengan waktu dan kedamaian untuk menulis. Kedua hal itu merupakan kendala terbesar, terutama selama penulisan buku keempat. Jo menjadi terkenal dan sebenarnya dia merasa tidak terlalu nyaman dengannya. Akibat popularitas, berbagai kesulitan besar bisa terjadi, dan dibutuhkan kemauan keras untuk mencegahnya.

Jo berkata bahwa bila kau melihat orang-orang terkenal lainnya selalu saja ada masalah yang membuntuti mereka dan masalah-masalah itu tidak menyenangkan. Tapi aku tetap menyadari bahwa aku orang yang luar biasa beruntung karena bisa melakukan apa yang paling kucintai di dunia ini. J.K. Rowling mungkin belum menguasai mantra untuk membuat cerita dalam satu malam. Namun, karya-karyanya tetap dinantikan oleh jutaan penggemarnya di seluruh dunia.

   Add Friend

Ibu

Kasih ibu, kepada beta
Tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi
Tak harap kembali
Bagai sang surya menyinari dunia
Cerita di bawah ini saya dapat dari sebuah pesan elektronik (e-mail) dari salah satu milist yang saya ikuti. Ketika pertama kali membaca pesan ini, hati saya sungguh tersentuh dan membuat saya semakin sadar dan yakin bahwa betapa seorang ibu sangatlah berarti bagi saya. Karena ibulah yang telah melahirkan kita ke dunia ini. Karena Ibulah yang telah merawat kita dengan penuh cinta dan kasih sayang sampai kapan pun dan tanpa mengharapkan balasan apa pun. Terima kasih ibu!

Ibu
Suatu ketika ada seorang bayi yang siap untuk dilahirkan. Maka ia bertanya kepada Tuhan, "Ya Tuhan, Engkau akan mengirimku ke bumi, tapi aku takut. Aku masih sangat kecil dan tak berdaya. Siapakah nanti yang akan melindungiku di sana?"

Tuhan pun menjawab, "Tak apa, malaikatmu itu akan selalu menyenandungkan lagu untukmu dan dia akan membuatmu tersenyum setiap hari. Kamu akan merasakan cinta dan kasih sayang dan itu semua pasti akan membuatmu bahagia."

Kemudian si kecil bertanya lagi, "Bagaimana aku bisa mengerti ucapan mereka, jika aku tak mengerti bahasa yang mereka pakai?"

Tuhan pun menjawab, "Malaikatmu itu akan membisikkanmu kata-kata yang paling indah, dia akan selalu sabar ada di sampingmu dan dengan kasihnya dia akan mengajarkanmu berbicara dengan bahasa manusia."

Si kecil bertanya lagi, "Lalu bagaimana jika aku ingin berbicara pada-Mu ya Tuhan?"

Tuhan pun kembali menjawab, "Malaikatmu itu akan membimbingmu. Dia akan menengadahkan tangannya bersamamu dan mengajarkanmu untuk berdoa."

Lagi-lagi si kecil menyelidik, "Namun, aku mendengar di sana ada banyak sekali orang jahat, siapakah nanti yang akan melindungiku?"

Tuhan pun menjawab, "Tenang, malaikatmu akan terus melindungimu walaupun nyawa yang menjadi taruhannya. Dia akan sering melupakan kepentingannya sendiri untuk keselamatanmu."

Namun, si kecil ini malah sedih, "Ya Tuhan, tentu aku akan sedih jika tak melihat-Mu lagi."

Tuhan menjawab lagi, "Malaikatmu akan selalu mengajarkanmu keagungan-Ku dan dia akan mendidikmu bagaimana agar selalu patuh dan taat pada-Ku. Dia akan selalu membimbingmu untuk selalu mengingat-Ku. Walau begitu Aku akan selalu ada di sisimu."

Hening. Kedamaian tetap menerpa surga. Namun suara-suara panggilan dari bumi terdengar sayup-sayup. "Ya Tuhan aku akan pergi sekarang, tolong sebutkan nama malaikat yang akan melindungiku..."

Tuhan pun kembali menjawab, "Nama malaikatmu tak begitu penting. Kamu akan memanggilnya dengan sebutan IBU."

Note: Terima kasih Tuhan. Engkau telah mengizinkan aku terlahir ke dunia ini melalui rahim seorang wanita terbaik pilihan-Mu. Dari seorang ibu yang tidak hanya mau mengorbankankan waktunya, tapi juga jiwanya untuk bisa menjaga dan merawatku hingga dewasa. Meski hanya sesaat Engkau berikan kesempatan kepadaku untuk merengkuh dan menikmati kasih sayangnya, tetapi itu akan menjadi saat-saat terindah yang tak pernah terlupakan.

Free Cost for Mom
Ini adalah mengenai nilai kasih ibu dari seorang anak yang melihat ibunya sedang sibuk menyediakan makan malam di dapur. Kemudian dia mengulurkanmemberikan selembar kertas yang bertulis sesuatu. Si ibu segera membersihkan tangannya dan kemudian menerima kertas yang diberikan oleh si anak dan membacanya.

Ongkos upah membantu ibu:
1) Membantu pergi ke warung: Rp20.000,-
2) Menjaga adik: Rp20.000,-
3) Membuang sampah: Rp5.000,-
4) Membereskan Tempat tidur: Rp10.000,-
5) Menyiram bunga: Rp15.000,-
6) Menyapu halaman: Rp15.000,-
► Jumlah: Rp85.000,-

Selesai membaca, si ibu tersenyum memandang si anak yang raut mukanya berbinar-binar. Si ibu mengambil pena dan menulis sesuatu dibelakang kertas yang sama.

1) Ongkos mengandungmu selama 9 bulan - GRATIS
2) Ongkos berjaga malam karena menjagamu - GRATIS
3) Ongkos air mata yang menetes karenamu - GRATIS
4) Ongkos Khawatir karena selalu memikirkan keadaanmu - GRATIS
5) Ongkos menyediakan makan, minum, pakaian, dan keperluanmu - GRATIS
► Jumlah Keseluruhan Nilai Kasihku - GRATIS

Air mata si anak berlinang setelah membaca. Si anak menatap wajah ibu, memeluknya dan berkata, "Aku sayang ibu." Kemudian si anak mengambil pena dan menulis sesuatu didepan surat yang ditulisnya: "Telah Dibayar."

Pesan Orangtua kepada Kita
Ketika aku sudah tua, bukan lagi aku yang semula. Mengertilah, bersabarlah sedikit terhadap aku. Ketika pakaianku terciprat sup, ketika aku lupa bagaimana mengikat sepatu, ingatlah bagaimana dahulu aku mengajarimu.

Ketika aku berulang-ulang mengatakan tentang sesuatu yang telah bosan kau dengar, bersabarlah mendengarkan, jangan memutus pembicaraanku. Ketika kau kecil, aku selalu harus mengulang cerita yang telah beribu-ribu kali kuceritakan agar kau tidur.

Ketika aku memerlukanmu untuk memandikanku, jangan marah padaku. Ingatkah sewaktu kecil aku harus memakai segala cara untuk membujukmu mandi.

Ketika aku tak paham sedikitpun tentang teknologi dan hal-hal baru, jangan mengejekku. Pikirkan bagaimana dahulu aku begitu sabar menjawab setiap "mengapa" darimu.

Ketika aku tak dapat berjalan, ulurkan tanganmu yang masih kuat untuk memapahku. Seperti aku memapahmu saat kau belajar berjalan waktu masih kecil.

Ketika aku seketika melupakan pembicaraan kita, berilah aku waktu untuk mengingat. Sebenarnya bagiku, apa yang dibicarakan tidaklah penting, asalkan kau disamping mendengarkan, aku sudah sangat puas.

Ketika kau memandang aku yang mulai menua, janganlah berduka. Mengertilah aku, dukung aku, seperti aku menghadapimu ketika kamu mulai belajar menjalani kehidupan. Waktu itu aku memberi petunjuk bagaimana menjalani kehidupan ini, sekarang temani aku menjalankan sisa hidupku. Beri aku cintamu dan kesabaran, aku akan memberikan senyum penuh rasa syukur, dalam senyum ini terdapat cintaku yang tak terhingga untukmu.

29 Juli 2009

Indonesia Oh Indonesia

Artikel berikut ini adalah sebuah hasil pengeditan dari salah satu artikel yang pernah saya publikasikan di blog terdahulu saya (Le Prince) yang berjudul "Seratus Tahun Kebangkitan Nasional", yang kemudian artikel tersebut saya ubah sedikit (edit) sehingga menjadi sebuah essay untuk tugas yang harus saya kerjakan pada OKK (orientasi Kehidupan Kampus) UI 2008. Essay yang berjudul "Indonesia Oh Indonesia" ini ternyata (dan tanpa saya duga) masuk ke dalam 50 karya terbaik OKK UI 2008. Wah, sungguh suatu prestasi yang sangat luar biasa membanggakan bagi saya. Jadi, dari 50 karya tulis terbaik tersebut, terdiri dari tiga macam karya, yaitu cerpen, puisi, dan essay. Dari karya-karya essay tersebut, terpilihlah 16 karya terbaik, dan salah satunya adalah essay yang berjudul "Indonesia Oh Indonesia" ini. Alhamdulillah. Mengapa saya masukkan essay ini ke dalam blog? Saya sama sekali tidak bermaksud untuk pamer atau unjuk gigi, tapi hanya karena saya ingin berbagi ide dan pemikiran-pemikiran saya kepada publik, khususnya mengenai Indonesia ini. Saya hanya ingin berbagi cerita dan pendapat saya mengenai Indonesia, negeri tempat saya dilahirkan dan dibesarkan. Hanya itu. Selamat membaca.

Indonesia Oh Indonesia
Bertepatan pada hari Selasa tanggal 20 Mei 2008, bangsa Indonesia merayakan seratus tahun kebangkitan nasional. Ini merupakan suatu momen yang sangat bersejarah. Makna dari perayaan ini pun sangat besar. Seratus tahun sudah perjuangan pergerakan bangsa Indonesia dari penjajahan kolonial dan keterbelakangan. Seratus tahun sudah bangsa yang besar ini berusaha dan terus berusaha untuk menjadi bangsa Indonesia yang kokoh dan satu.

Namun, pada kenyataannya kita pun tidak dapat memungkiri bahwa tidak semua warga Indonesia benar-benar mengerti dan paham tentang makna kebangkitan bangsa, jangankan paham, bahkan tidak semua orang tahu apa itu kebangkitan nasional, bagaimana sejarahnya, bagaimana kita sebagai orang Indonesia menyikapi kebangkitan nasional. Orang Indonesia hanya semangat ketika meneriakkan kata-kata, “MERDEKA!”, atau “INDONESIA! INDONESIA! INDONESIA!”, hanya sebatas itu. Orang Indonesia tidak punya semangat perubahan. Perubahan menuju suatu keadaan yang lebih baik, semakin baik, hingga akhirnya terbaik. Ketika kita melihat ke belakang, sepuluh tahun silam, ketika Indonesia (mayoritas mahasiswa) meneriakkan dan mengobarkan semangat reformasi, berusaha untuk menuju suatu perubahan besar dengan harapan Indonesia menjadi negara yang lebih baik, tapi faktanya, Indonesia semakin terpuruk. Terpuruk dalam segala hal, terutama MORAL.

Sejak dulu saya sering mendengar bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang bermartabat dan bermoral. Orangnya sopan dan ramah. Sekarang pun saya jadi berpikir, oh itu mungkin cerita dulu, cerita pada era sebelum tahun 90-an. Karena menurut saya kata-kata itu kurang tepat bila diucapkan untuk mendeskripsikan secara singkat tentang Indonesia pada saat ini. Kenapa? Ya, saya rasa kita semua tahu dan sadar bahwa semakin lama moral bangsa Indonesia semakin hancur. Moral ketimuran yang dulu selalu diagungkan kini sudah hampir punah. Semangat nasionalisme yang dibawa oleh Bung Karno dan para pejuang lainnya, tampaknya kini mulai hilang, atau mungkinkah telah hilang? Oh Indonesia, tampaknya kini semangat nasionalisme itu memang sudah hilang. Mungkin masih ada, tapi hanya segelintir manusia dan itu tidak berarti banyak. Sering saya perhatikan dalam setiap pertandingan-pertandingan olahraga, seperti sepak bola dan bulutangkis, rakyat Indonesia bersatu untuk memberikan semangat kepada mereka yang sedang bertanding mewakili Indonesia. Ini bagus sekali. Saya pun sangat merasakan atmosfir kegembiraan dan penuh semangat untuk turut serta mendukung mereka yang bertanding. Namun, apakah rasa persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia hanya sebatas di dalam sebuah stadion sepak bola? Apakah rasa nasionalisme atau cinta pada tanah air bangsa Indonesia hanya sebesar meneriakkan kata-kata, “INDONESIA!”. Ya, memang pada dasarnya tidak ada yang salah dengan sikap seperti itu, tapi apakah hanya sebatas itu?

Saat ini saya melihat, orang Indonesia adalah orang-orang yang selalu dan selalu mengeluh, orang-orang yang selalu protes, orang-orang yang egois, orang-orang yang bertempramen buruk, orang-orang yang selalu membela diri, orang-orang yang selalu melimpahkan kesalahannya pada orang lain, orang-orang yang mengagung-agungkan bangsa barat di atas segalanya, orang-orang yang mengaku lebih religius dari yang lainnya, orang-orang yang tidak menghargai waktu, orang-orang yang senang merusak, dan dengan berbagai keterbelakangan lainnya. Ya, saya pun adalah seorang warga negara Indonesia. Saya dilahirkan di negara ini. Hampir delapan belas tahun saya hidup menghirup udara di negeri ini dan inilah kenyataannya. Oh Indonesia, tidakkah seharusnya kita malu? Ya, apa boleh buat, tampaknya Indonesia sudah tidak punya rasa malu. Seandainya masih ada rasa malu, mungkin Indonesia tidak akan seperti ini. Tidak akan ada orang-orang yang dengan bebas memakan harta orang lain, tidak akan ada orang-orang yang selalu demonstrasi, tidak akan ada yang egois yang motonya, “Siapa lu, siapa gw!”

Lalu bagaimana bisa kita menyikapi arti dari seratus tahun kebangkitan nasional ini kalau ternyata bangsa ini sebenarnya semakin terpuruk bukan semakin bangkit? Indonesia terlalu sibuk mengurusi kepentingan pribadi masing-masing sehingga lupa dengan segala hal, bahkan sampai-sampai kita kehilangan beberapa pulau kita yang kini jatuh ke tangan negara lain. Ironis sekali bukan? Saya rasa Indonesia harus bercermin. Ya, kita semua harus bercermin. Sudahkah kita berkontribusi untuk bangsa ini? Tempat kita dilahirkan…

“IndonesiaTanah Air beta. Pusaka abadi nan jaya.
Indonesia sejak dulu kala, tetap dipuja-puja bangsa.
Di sana tempat lahir beta. Dibuai, dibesarkan bunda.
Tempat berlindung di hari tua.
Tempat akhir menutup mata.”

Tentunya tidak semua masyarakat Indonesia tahu judul lagu di atas. Itulah lagu berjudul “Indonesia Pusaka”, ciptaan Ismail Marzuki. Akankah Indonesia tetap dipuja-puja bangsa? Entahlah. Makna lagu ini sangat dalam, tapi sayangnya tidak semua orang peduli dengan lagu-lagu nasional Indonesia. Ya, generasi muda Indonesia dari umur balita sampai remaja, juga orang-orang dewasa tentunya lebih mengenal lagu-lagu masa kini seperti “Kucing Garong”, “Si Jablay”, “Makhluk Tuhan yang Paling Seksi”, dan tentunya berbagai lagu-lagu barat dari segala aliran. Padahal lagu-lagu nasional kita, lirik lagunya tidak panjang, tapi tidak banyak orang yang hafal. Sayangya, tidak sedikit anak muda yang hafal lirik-lirik lagu barat aliran Rap, R n’ B, Hip Hop, yang jelas-jelas jauh lebih panjang dan rumit, juga pengucapannya sangat cepat. Sekarang mari kita tes kemampuan bernyanyi orang Indonesia. Salah satu lagu yang mudah adalah lagu “Bagimu Negeri”. Berapa banyak orang yang bisa menyanyikan lagu tersebut dengan benar? Mana yang lebih dulu antara, “kami mengabdi”, “kami berjanji”, dan “kami berbakti”? Apakah Anda termasuk orang yang hafal lagu ini? Bagaimana dengan lagu kebangsaan negara ini, lagu Indonesia Raya, berapa banyak orang yang hafal lagu ini? Apakah semua orang Indonesia bisa menyanyikan lagu ini dengan baik?

Papa saya pernah berkata, “Papa bangga menjadi orang Minang, tapi papa tidak bangga dengan sifat orang Minang.” Ya, karena papa orang Minang, mama orang Medan, maka saya adalah orang Indonesia, dan seperti papa juga, saya bangga menjadi orang Indonesia, tapi saya tidak bangga dengan sifat orang Indonesia. Kenapa saya harus tidak bangga menjadi orang Indonesia? Indonesia adalah bangsa yang besar, negara yang luar biasa, memiliki keanekaragaman budaya dan suku bangsa. Saya hanya tidak bangga dengan sikap dan moral bangsa ini. Sudah seharusnya, kita sebagai generasi muda harus lebih berpikiran luas, tidak hanya mengedepankan rasa etnosentrisme dan keegoisan, tidak lagi mendahulukan kepentingan-kepentingan pribadi di atas kepentingan bersama, tidak lagi menggunakan emosi sebagai akal pikiran, tapi menggunakan hati. Saya yakin untuk mengubah Indonesia tidak lah mudah, tapi bukan berarti tidak mungkin. Indonesia berubah mulai dari individu masing-masing. Dimulai dari kesadaran masing-masing dan rasa malu. Ya, kita semua seharusnya malu. Kita semua seharusnya belajar untuk malu.

Dalam sebuah iklan yang sempat tayang di stasiun-stasiun televisi, Deddy Mizwar berkata, “Bangkit itu aku, untuk Indonesiaku.” Ya, itu benar. Sekali lagi, Indonesia bangkit dimulai dari diri kita sendiri. Dimulai dari sekarang juga, saat ini. Saya pun akan berjuang di dunia ini. Saya akan bangkit. Bangkit dari segala keterbelakangan. Saya bangkit menjadi orang Indonesia yang sebenarnya, orang Indonesia yang bermoral, berpendidikan, berwawasan, berprestasi, orang Indonesia yang punya rasa malu dan takut, bukan orang Indonesia yang sekedar orang Indonesia atau yang berbulu domba. Karena saya cinta negeri ini. Dan saya akan bangkit, terus bangkit. Karena saya bangkit untuk Indonesiaku tericinta.

I Am Me

I am not an actor; however I would love to reveal my true feelings to the lovely person beside me.

I am not a shopping addict; however I find it irresistible to satisfy my desires.

I am not a sport fan; however I will not miss out to appreciate fabulous moments.

I am not a photographer; however I like capturing real moments in our lives.

I am not a kid; however I can’t resist the excitement with the people I am with.

I am not a dancer; however I don’t hold myself back when expressing my happiness.

I am not a singer; however I love to let my hair down and groove to the music.

I am not a Superman; however I smile at my own accomplishments.

I am not a chef; however I like to relish the delicacy with her.

I am not a superstar; however I enjoy my radiance reflected by her body.

I am not a model; however I derive inspiration from my movements.

I am not an acrobat; however I love to challenge the ultimate instead of shouting out loud.

I am me.

Totalitas Cinta

Berikut ini adalah sebuah artikel yang saya ambil dari suatu alamat website beberapa tahun lalu. Karena memang dulu niatnya sama sekali tidak terpikirkan untuk dipublikasikan dalam blog (hanya untuk dikonsumsi pribadi), saya tidak mencatat alamat website tersebut. Namun, saya rasa ini adalah suatu cerita yang sangat menarik untuk dibaca. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk berbagi cerita ini pada Anda semua. Selamat membaca!

Belajar Mencinta
Leo F. Buscaglia, seorang professor pendidikan di University of Southern California, Amerika Serikat, dalam sebuah ceramah dia mengatakan bahwa manusia tidak jatuh ‘ke dalam’ cinta, dan tidak juga keluar ‘dari cinta’, tapi manusia tumbuh dan besar dalam cinta. Cinta, di banyak waktu dan peristiwa, orang selalu berbeda mengartikannya. Tak ada yang salah, tapi tak ada juga yang benar sempurna penafsirannya. Karena cinta selalu berkembang, ia seperti udara yang mengisi ruang kosong. Cinta juga seperti air yang mengalir ke dataran yang lebih rendah. Tapi ada satu yang bisa kita sepakati bersama tentang cinta. Bahwa cinta, akan membawa sesuatu menjadi lebih baik, membawa kita untuk berbuat lebih sempurna. Mengajarkan pada kita betapa besar kekuatan yang dihasilkannya. Cinta membuat dunia yang penat dan bising ini terasa indah, paling tidak bisa kita nikmati dengan cinta. Cinta mengajarkan pada kita bagaimana caranya harus berlaku jujur dan berkorban, berjuang dan menerima, memberi dan mempertahankan.

Bandung Bondowoso tak tanggung-tanggung membangunkan seluruh jin dari tidurnya dan menegakkan seribu candi untuk Lorojonggrang seorang. Sangkuriang tak kalah dahsyatnya, diukirnya tanah menjadi sebuah telaga dengan perahu yang megah dalam semalam demi Dayang Sumbi terkasih yang ternyata ibunya sendiri. Tajmahal yang indah di India, di setiap jengkal marmer bangunannya terpahat nama kekasih buah hati sang raja juga terbangun karena cinta. Bisa jadi, semua kisah besar dunia, berawal dari cinta.

Cinta adalah kaki-kaki yang melangkah membangun samudera kebaikan. Cinta adalah tangan-tangan yang merajut hamparan permadani kasih sayang. Cinta adalah hati yang selalu berharap dan mewujudkan dunia dan kehidupan yang lebih baik. Dan Islam tidak saja mengagungkan cinta tapi memberikan contoh konkret dalam kehidupan. Lewat kehidupan manusia mulia, Rasulullah tercinta. Ada sebuah kisah tentang totalitas cinta yang dicontohkan Allah lewat kehidupan Rasul-Nya.

Pagi itu, meski langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap. Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah, “Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan Al-Quran. Barang siapa mencintai sunnahku, berati mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku.”

Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya. Ustman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. “Rasulullah akan meninggalkan kita semua,” desah hati semua sahabat kala itu.

Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar. Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa. Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?”

“Tak tahulah aku ayah, sepertinya ia baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut.

Lalu, Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak dikenang. “Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut,” kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. “Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?” tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah.

“Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata jibril. Tapi itu ternyata tak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.

“Engkau tidak senang mendengar kabar ini?” tanya Jibril lagi.

“Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?”

“Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.

“Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini,” lirih Rasulullah mengaduh.

Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril membuang muka.

“Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?” Tanya Rasulullah pada malaikat pengantar wahyu itu.

“Siapakah yang tega melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril.

Sesaat kemudian terdengar Rasulullah memekik, karena sakit yang tak tertahankan lagi. “Ya Allah, dahsyat niat maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku.” Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. “Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanukum, peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah di antaramu.” Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinga ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. “Ummatii, ummatii, ummatiii...” Dan, pupuslah kembang hidup manusia mulia itu. Kini, mampukah kita mencinta sepertinya?

Hei Kalian yang Berjas Abu-abu!

Hai Sekra! Apa kabar? Pertama gw ucapkan selamat atas keberhasilan program kerja kalian, Cakrawala. Walaupun di H-1 terjadi ledakan bom di Hotel Ritz Carlton dan J.W. Mariott, Cakrawala tetap berjalan dengan sebagaimana mestinya di Hotel Nikko. Selamat ya!

Hmm… kali ini gw mau sedikit cerita aja. Kayaknya di blog gw yang ini, gw belom pernah nulis-nulis tentang kalian, hehe... Ya, Sekra, ngga terasa kalian sudah berada di penghujung masa kepengurusan kalian dan ngga terasa kayaknya udah setahun gw dan kalian saling kenal. Dulu pas kalian masih jadi cacapsis (sampe sekarang gw masih ketawa kalo denger istilah “cacapsis”, haha), sampe resmi jadi capsis, dan sekarang, kalian udah selesai menyelenggarakan suatu acara yang sangat luar biasa. Gw juga masih inget pada saat-saat pertemuan pertama kita dulu, mukanya masih pada tegang, padahal muka gw ngga ada muka galak ya, haha. Ya, mulai dari sesi cerita-cerita, atau lebih tepatnya sesi bergosip, sampe ngeliat si Rifqi bikin yel-yel yang bener-bener bikin gw geleng-geleng ngeliatnya, haha. Tapi satu hal yang cukup gw sayangkan adalah, gw ngga bisa ngeliat orasi cakapo dan cawakapo. Gw waktu itu lagi ada kegiatan OBM (Orientasi Belajar Mahasiswa) di kampus, jadi ngga bisa ditinggal. Waktu itu pun gw inget, sempat ada kabar bahwa akan ada “pengulangan” kejadian ngga intelek (istilah gw) pada saat orasi, tentunya berhubungn dengan cakapo dan cawakapo. Selama hari itu juga, dari pagi sampe siang, bahkan satu hari sebelum orasi, gw udah contact anak-anak MPK Olympus untuk jagain kalian karena gw ngga mau dan gw khawatir kalo sampe ada satu aja anak capsis yang “dicomot” sama kelompok the you know who. Tapi gw sangat bersyukur karena pas sekitar jam 2 siang gw sampe di sekolah, semuanya aman, dan saat itu juga gw udah dengar kabar bahwa Rifqi dan Rafie yang menang.

Ya, selagi gw mengetik ini semua, gw pun berpikir, kayaknya gw sangat peduli dengan kalian semua. Kenapa ya? Dan kenapa harus begitu? Padahal gw bukan siapa-siapa, ya… let’s say, gw cuma anak Amazon biasa, anak kelas XII biasa yang kebetulan sih dulu pernah ikut capsis, tapi gw sama sekali ngga pernah merasakan jadi seorang P.O., atau tergabung dalam organisasi apa pun di sekolah, dan gw lebih menyebut diri gw sebagai seorang independent. Padahal ada P.O. Rastra yang akan kalian gantikan, dan juga ada mantan P.O. Zazka, tapi kenapa gw sampe mau segitu pedulinya dengan kalian? Haha, gw sendiri ternyata juga bingung. Kenapa ya? Ya, gw hanya ingin berbagi pengalaman. Karena ada banyak hal yang sempat “terputus” di P.O. Rastra, jadi karena gw udah berada di tahun terakhir di SMA, gw merasa harus meluruskan beberapa hal, yaitu dengan cara ketemu kalian semua. Ya, ada banyak hal yang gw kasi tau ke kalian sewaktu kalian jadi cacapsis yang tidak diketahui P.O. Rastra, dan gw kira sangat penting bagi kalian untuk tau berbagai kebenaran yang memang sebenarnya terjadi.

Ya, sekali, dua kali ketemu, mungkin gw ngerasa biasa aja, tapi lama-lama gw merasa bahwa kalian adalah orang-orang yang menyenangkan. Jadi, selamat, kalian adalah orang-orang yang sangat loveable. Semakin sering gw ketemu kalian, timbul sebuah harapan dari gw bahwa kalian bisa menjadi P.O. yang lebih baik. Dan gw tetap berharap seperti itu. Kenapa? Padahal toh gw juga udah lulus saat kalian menjabat. Gw udah bukan lagi anggota OSIS SMA Negeri 81. Ya, karena gw melihat sesuatu yang berbeda dari kalian semua. Gw melihat bahwa kalian bisa membawa perubahan baru dalam organisasi kesiswaan di sekolah. Haha, tapi tetep aja ya, masih mikirin aja deh gw.

Tapi kalian juga harus tau, bahwa apa yang gw lakukan ke kalian waktu itu juga sebenarnya ngga 100% bagus untuk kalian. Kenapa? Karena secara ngga langsung, gw membuat pandangan kalian seperti pandangan gw, gw membuat pemikiran kalian seperti pemikiran gw, dan itu membuat gw merasa seperti Mabul (kalo kalian inget). Waktu itu posisi kalian berada di tengah, di antara gw dan tentunya P.O. Rastra sendiri, yang jelas-jelas waktu itu hubungan gw dengan mereka lagi kurang bersahabat. Ada dua pemikiran yang kayaknya masuk ke kalian. Ya, kalian yang masih baru dalam dunia organisasi sekolah, tentunya ada rasa bingung, mana yang harus didengar. Gw tau, bahkan kalo kalian mau ketemu gw, pasti main sembunyi-sembunyi dari P.O. Rastra, hehe. Ya, tapi gw sadar, bahwa apa yang gw lakuin waktu itu ngga semuanya bagus untuk kalian. Dan bahkan sekarang, setelah gw bener-bener ikut organisasi di kampus, gw sadar bahwa ada beberapa hal yang waktu itu gw anggap benar dan gw jelaskan ke kalian, tapi ternyata ngga begitu. Ya, waktu itu gw bukan orang organisasi, dan seharusnya ngga lebih sok tau dari mereka yang berorganisasi. Tapi, ya, itu pun sekarang jadi pembelajaran buat gw. Makanya gw ngga pernah mau ikut campur dalam hal apa pun tentang organisasi kalian (kecuali kalian yang minta), bahkan ketika Happy pernah minta saran untuk nama angkatan bawah, gw ngga begitu menanggapi dengan serius, karena gw mau semua hal yang berhubungan dengan kerja kalian, bener-bener berasal dari kalian, bukan dari pikiran orang lain. Gw ngga mau kalian seperti beberapa P.O. yang pernah “dikendalikan” atau ya… sorry to say, Mabul, dan juga salah seorang dari P.O. Dhyasta.

Dan see, kalian bisa dan gw selalu salut dengan proker-proker kalian. Gw sangat sering cerita tentang kalian ke teman-teman Amazon gw. Gw pun beberapa kali datang ke acara kalian, seperti BBB yang menurut gw sangat inovatif dan yang terakhir di Enternition selaku juri. Dan ngga cuma itu, setiap kalian ada acara atau akan ada acara apa, paling ngga gw pasti nanya ke salah satu dari kalian, entah lewat SMS atau media apa pun (biasanya kalo ngga ke Manda, ya ke Happy), itu karena gw mau memastikan bahwa gw ngga salah berharap dengan kalian. Kenyataannya? Buat gw, kalian semua memang membanggakan walaupun gw bukan siapa-siapa kalian.

Ya, semua udah hampir selesai, dan sekarang tiba saatnya kalianlah yang membimbing adik-adik kalian. Mudah-mudahan kalian bisa menjadi inspirasi bagi adik-adik capsis kalian untuk bisa lebih baik dari kalian. Dan jangan buat mereka berpikiran sama seperti kalian, tapi cukup buat mereka paham dengan pemikiran kalian, sehingga hingga pada saatnya tiba nanti, mereka bisa menentukan arah mereka sendiri. Biarkan mereka berpikir dan berkreasi sesuai dengan diri mereka.

Selamat ya Sekra, kalian semua hebat! Gw bangga dan akan selalu begitu. Gw akan selalu jadi orang pertama yang mendukung kalian. Bukan karena gw dekat dengan kalian, tapi karena gw percaya pada kalian semua. Oh ya, makasih karena udah menggunakan “Nulla dies sine linea” sebagai slogan cabinet kalian, gw sangat tersanjung ketika tau bahwa kalian menggunakan kata-kata itu. Thank you!

Satu hal lagi, gw udah melihat kalian untuk pertama kalinya mengenakan jas abu-abu itu pada tanggal 17 Agustus 2008, dan waktu itu gw menyaksikan prosesi pelantikan kalian dari lantai 3 sambil merekam dengan kamera ponsel gw. Betapa waktu itu gw sangat senang dan bangga ketika kalian akhirnya udah berjas abu-abu. Padahal waktu itu sebenernya gw harus ikut upacara 17 Agustus di UI, tapi demi ngeliat kalian dilantik, gw bolos dan ke sekolah. Karena gw udah melewatkan orasi, gw ngga mau melewatkan acara pelantikan. Dan see, gw akan selalu ada untuk memberi semangat dan berada di tengah-tengah kalian. Nah, begitupun untuk 17 Agustus yang akan datang, Insya Allah gw pun akan hadir di tanggal yang sama di tahun ini untuk menyambut kalian dan adik-adik kalian. Selamat menempuh akhir masa jabatan dan akhir masa-masa SMA kalian, semoga kalian sukses, dan doa gw, semoga kalian bisa diterima di PTN-PTN yang kalian inginkan. Amin.

Hei kalian yang berjas abu-abu! Tetap semangat dan banggalah karena kalian adalah Pengurus OSIS Netradhiira Pattvisekra.

Mengenang Dunia Friendster

PROLOG
Sebelum “wabah” Facebook menyebar ke hampir seluruh pelosok dunia terutama di Indonesia, ada satu situs jejaring sosial yang lebih dulu “mewabah” di Indonesia, yaitu situs Friendster. Ya, situs ini sempat sangat popular di zamannya, ya lebih kurang sejak tahun 2005-an sampai dengan sekitar pertengahan 2008. Pengguna situs pertemanan ini rata-rata adalah para remaja usia 13 – 20-an tahun. Namun, di bulan Agustus 2008, menurut pengamatan saya, banyak orang yang sudah mulai beralih ke situs Facebook hingga sampai saat ini Facebook benar-benar menjadi salah satu situs terpopular di dunia, khususnya di Indonesia, sementara Friendster kini mulai ditinggalkan.

Saya sendiri dulu sempat menjadi salah satu pengguna setia situs Friendster hingga akhirnya kini saya pun telah beralih ke Facebook dan meninggalkan akun Friendster saya. Alasannya selain karena… ya saya rasa kita semua tahu sekarang ini “isinya” orang-orang yang di Friendster adalah tipe-tipe orang yang seperti apa, tapi juga karena situs Facebook menawarkan fitur-fitur yang lebih inovatif dibandingkan dengan situs-situs jejaring sosial lainnya, seperti Friendster misalnya.

Mengenang Dunia Friendster
Nah, setelah lama tidak membuka akun Friendster, tadi siang saya iseng membuka profil saya untuk sekedar melihat-lihat comments apa saja yang masuk selama saya meninggalkan Friendster tersebut. Ternyata tidak ada comments baru yang masuk, tapi kemudian saya iseng melihat isi comments terdahulu saya yang ternyata mencapai 2.011 halaman (satu halaman ada 10 comments, artinya ada 20.110 comments yang masuk selama saya ber-Friendster). Karena kebetulan di rumah lagi ngga ada kerjaan (dibilang ngga ada sih sebenarnya ngga juga, cuma lagi ngga mood), akhirnya iseng-iseng saya meng-explore seluruh comments yang ada sejak pertama kali saya ber-Friendster.

Ternyata dengan melihat semua comments yang ada membuat saya kembali teringat dengan kejadian-kejadian di masa lalu, khususnya masa-masa SMA. Mulai dari berbagai curhatan, gossip-gosip, berbagai macam konflik, adu argumentasi, cerita-cerita konyol, publikasi diri (haha), dan masih banyak lagi. Nah, dari semua comments yang masuk ada beberapa orang cukup sering berada di comments box saya, dan mereka itu adalah orang-orang yang telah banyak memberi warna dalam kehidupan saya selama ini. Di bawah ini adalah sekilas tentang mereka (nama-namanya ditulis secara ascending).

► Amalia Septyani
Atau sebut saja Amel, dia adalah adek kelas gw di SMA, tapi gw lebih suka menyebutnya sebagai salah satu sahabat gw. Ya, Amel juga temen curhatan gw, atau juga sebaliknya. Amel juga temen tempat gw mengeluarkan jayusan-jayusan gw yang garing sih sebenernya (haha), tapi kayaknya dia tetap tertawa (ya kan Mel? hehe). Ya, baik gw maupun Amel saling menjadi konsultan di bidang asmara dan percintaan, jadi udah pasti curhatan gw ke Amel atau sebaliknya ngga akan jauh-jauh dari masalah kisah asmara, haha.

► Amanda Fajrina Fitri
Ya, Manda ini adalah temen gw, sepupu, saudara gw, ya, apa pun itu, tapi dia adalah tempat gw curhat dan menggila. Kayaknya hal-hal bagus sampe yang paling aib tentang gw dia pasti tau, mau ngomong hal-hal yang aneh-aneh dan “aneh-aneh” bisa gw ceritain ke dia. Gw sangat bersyukur punya sepupu yang bener-bener seumuran, sementara sepupu gw yang lain masih sangat kecil, jadi kalo mau curhat apa aja pasti nyambung, dan ya… dia adalah seorang yang sangat baik dan peduli (dan ternyata comments dari lo cukup banyak, kayaknya banyakan lo yang curhat deh daripada gw!).

► Aruga Perbawa
Inilah salah satu orang yang paling muka tembok yang pernah gw kenal. Aruga atau Uga panggilannya adalah sahabat gw sejak SD (dan sampai sekarang) yang dari dulu bercita-cita menjadi seorang komikus. Ya, baik Uga maupun gw dulu ketika SD saling berlomba membuat komik, haha, ya walaupun gw tau bahwa gambar dia jauh lebih bagus daripada gw (dan sangat bagus untuk anak semuran dia waktu itu), gw tetap membuat komik (walaupun akhirnya gw jadi males bikin juga karena punya dia lebih bagus dari punya gw, haha). Ya, itulah Uga, salah seorang yang sangat ajaib menurut gw. Dari seorang Uga, gw mendapat banyak inspirasi dalam hidup gw.

► Ayuriza Fitrianah
Ya, ada banyak “Ayu” yang gw kenal, dan salah satunya adalah Ayuriza. Ayuriza adalah adalah adek kelas gw, seumuran adek gw, jadi bener-bener adek lah ya. Ya, Ayu, atau kadang gw manggil dia dengan sebutan “Adek” juga temen baik gw. Pokoknya kalo gw lagi ngga ada kerjaan dan insomnia di malam hari (dan gw punya pulsa), gw biasanya ber-SMS-an dengan dia (atau kadang nelpon sampe kuping bener-bener panas atau ngga handphone sampe lowbatt), karena dia pasti belum tidur, dan kalo gw tanya, “Yu, kok belom tidur?” pasti dia jawab, “Hah? Tidur? Ini mah masih siang Kak!” (padahal udah hampir jam setengah 12 malem), tapi emang efeknya kalo udah malem biasanya obrolan makin ngga jelas, hehe.

► Bramanto Wicaksono S.
Ini dia sahabat gw di SMA dan masih sampai sekarang. Bung Bramanto sebagai teman tempat gw belajar matematika, ekonomi, dan segala pelajaran kalo gw lagi kesulitan sewaktu SMA. Bram juga tempat gw ngobrol berbagai macam hal, khususnya masalah social, politik, dan MotoGP tentunya. Bram adalah orang yang sangat baik, peduli, dan juga sangat menyukai lagu-lagu grup band asal Inggris. Ya, gw sangat bersyukur bisa kenal dengan Bram, sangat bersyukur pas kelas XII dulu Bram jadi chairmate gw, alhamdulillah jadi ketularan pinter juga, hehe. Thanks Bram!

► Fina Ardyani Alamanda
Fina adalah teman seperjuangan sewaktu gw menjadi Capsis (Calon Pengurus OSIS) di SMA. Ya, walaupun pada akhirnya gw ngga bergabung dalam kepengurusan OSIS, tapi Fina tetap menjadi temen ngobrol gw dalam berbagai hal, terutama dalam masalah keorganisasian di sekolah. Ya, Fina juga tempat gw bertukar pikiran dan pendapat, terutama saat gw memutuskan untuk memilih “jalan” gw setelah pemilihan calon ketua pengurus OSIS, dan saat-saat “panas” gw dengan sekelompok orang perihal masalah blog gw yang sangat kontroversial waktu itu, hehe (pastinya lo tau apa yang gw maksud, Fin, hehe).

► Harun Suadi Isnaini
Nah, satu lagi manusia “ajaib” yang juga teman gw. Namanya Harun, seorang anak cowok yang gw sendiri, sebenernya, agak susah harus mendeskripsikannya seperti apa, tapi yang jelas kalo inget Harun, gw pasti inget blognya. Kenapa? Soalnya berbagai posting-an di blognya, gw rasa cukup unik. Ada suatu ciri atau karakter yang kuat dalam setiap posting-an di blognya Harun, terutama masalah bahasa yang dia gunakan dalam menulis. Ada yang lucu, aneh, mengkritik, cerita, macem-macem sih, tapi dari semua posting-an itu pasti akan terlihat jelas satu karakter Harun, dan gw rasa itu salah satu yang pasti gw inget dari Harun. Dan oh ya, pastinya, Harun identik dengan laptop dan kamera, hehe.

► Imel Ikhsania
Ya! Ini dia, orang yang selalu gw panggil dengan nama “Jeng Imel”, dia adalah orang yang sangat memotivasi gw supaya bisa diterima di UI, dan gw sangat berterima kasih karenanya. Dia adalah orang yang mengharuskan gw bisa masuk UI, dan alhamdulillah, sekarang gw di UI (thanks Mel!). Tapi, haha, Imel juga teman menggila gw selama di SMA, teman bergosip, teman seprofesi dalam bidang musik, dan satu-satunya senior yang bisa gw “zalami” ya cuma dia, haha (kapan lagi coba?). Ya, tapi karena si Imel ini gw pun bisa banyak kenal dengan anak-anak angkatan Atlantis juga. Oh ya, baik gw maupun Imel sangat gemar ngecengin satu sama lain. Awas lo Mel! haha.

► Intan Syaw’dini Paramasari
Entah gimana dan sejak kapan gw mulai deket sama Intan, gw lupa, tapi yang pasti dia resminya adalah adek kelas gw pas di SMP, tapi karena dia ikut kelas akselerasi, jadilah kita sama-sama lulus bareng, jadi seangkatan lah ya. Gw sama Intan emang ngga satu sekolah pas SMA. Gw di 81 dan dia di 61. Tapi biar ngga satu sekolah, baik gw maupun Intan tetap saling cerita tentang berbagai hal. Dia orang yang sangat baik, sangat perhatian banget ke semua orang, dan juga ke gw. Sekarang Intan di FKM UI, ya walaupun sekarang sama-sama satu kampus, tapi gw udah sangat jarang berkomunikasi sama dia, kayaknya dua-duanya sama-sama sibuk, hehe. But she’s still one of my best friend ever.

► M. Arditama Febrianza
Yang satu ini, Arditama atau akrab disapa Aldi a.k.a. Meong adalah teman seperjuangan gw juga. Ya, kayaknya baik gw maupun Aldi sama-sama menganggap bahwa kami berdua adalah rival, hehe, ah, tapi gw ngga mengaggap lo sebagai rival kok Di, masa lo tetep mengaggap gw sebagai rival lo? Hehe. Ya, “my beloved rival” kata Aldi. Gw dan Aldi dulu adalah dua calon ketua pengurus OSIS sewaktu SMA. Dua orang dengan kepribadian yang berbeda, visi misi yang jauh berbeda, dan tujuan yang berbeda pula, tapi itulah pemilihan ketua OSIS “terpanas” sepanjang sejarah SMA 81 (ya kan Di?). Hehe, ya sampai kelas XII, biar katanya “rival”, tapi gw dan Aldi tetap berteman dengan sangat baik, bahkan sekelas (siapa ya yang minta pindah kelas?). Ya, seengganya Aldi juga tempat gw ngobrol masalah politik keorganisasian siswa di sekolah, dan gw juga belajar banyak dari Aldi. Satu hal yang juga ngga akan gw lupa, orang ini sangat berbakat menjadi koreografer dan juga dalam hal mendekorasi, haha.

► Nindya Arini Bangun
Pertama kali gw kenal Nindy itu di Friendster, sekitar bulan September atau Oktober tahun 2007, gw lupa, (dia setahun di bawah gw) tapi yang jelas dari semua orang yang bener-bener gw kenalan lewat Friendster, cuma sama Nindy yang gw bener-bener jadi temen, dan bahkan lebih dari itu, dia sekarang juga sahabat gw. Ya, berawal dari latar belakang yang sama, seorang violinist, dan ternyata dia juga udah cukup “akrab” dengan SMA 81, hingga akhirnya tiap ngobrol sama dia selalu asik. Gw dan Nindy punya beberapa kesamaan, salah satunya berbintang Leo, haha, ya, kayaknya kita berdua percaya kalo ngobrol sama orang yang sebintang pasti nyambung. Dan kalo ngomong masalah biola, gw dan Nindy juga sama-sama banci tampil! Hei Nindy, kita belom pernah berduet (kayaknya ngga jadi-jadi deh)! Hoho.

► Nur Afifa Amalia
Awalnya karena gw deket sama sahabatnya, Shanti, akhirnya gw jadi kenal sama dia. Ya, Viva, yang juga anak IPS, adalah temen baik gw juga. Dia juga sebenernya adek kelas gw, tapi gw lebih senang menyebutnya sebagai teman gw. Dia orang yang baik, menyenangkan, dan juga sangat pintar, terbukti dengan diterimanya dia di jurusan Manajemen UI lewat jalur SIMAK-UI dan juga HI UGM jalur UM-UGM, sangat luar biasa, ya... dua jurusan itu adalah jurusan yang tidak mudah untuk didapatkan oleh semua orang (walaupun akhirnya dia milih Manajemen UI, good choice!). Menurut gw, dia orangnya easy going dan asik diajak ngobrol, tapi agak susah kalo di-SMS, entah kenapa sering banget SMS gw pending kalo ngirim SMS ke dia, ckckck. (oh ya, nama depan lo pake "Nur" kan ya?)

► Sita Novitasari
Nah, yang satu ini, hmm... Sita atau si cewek dodol (kata dia loh!) adalah salah seorang yang pernah “mengisi” hari-hari gw dulu sewaktu SMA, ya, kata “mengisi” dengan tanda petik tentu bisa kalian tafsirkan sendiri maknanya, hehe. Ya, walaupun ngga lama dan sekarang keadaan udah berbeda, dalam artian, ngga seperti dulu lagi, baik gw dan Sita tetap berhubungan dengan sangat baik, setidaknya gw cuma bisa curhat hal-hal yang bikin gw sedih bahkan sampe meneteskan air mata, cuma ke dia. Ya, bukan berarti dia hanya menjadi tempat gw berbagi kesedihan, ngga, cuma karena gw ngga bisa cerita hal-hal yang bikin gw sedih ke semua orang, dan setidaknya sampai saat ini, gw selalu merasa nyaman dan gw ngga pernah ngerasa malu atau apa pun ketika gw harus menceritakan kesedihan gw ke dia. Sita adalah seorang yang sangat baik, tapi kadang suka konyol juga. Dodol adalah kata-kata favoritnya, haha.

► Widya Prapti Pratiwi
Jeng Wiwidhe adalah the best partner ever! Dialah sahabat gw yang paling bisa bikin gw ketawa ngakak, kalo kata Citra, ketawa kayak setan (astaghfirullah), sahabat tempat gw bergosip ria dan curhat pastinya, sahabat tempat gw berlatih dan menambah kosakata bahasa Indonesia gw, haha. Luar biasa! Dia juga orang yang sangat pintar, terutama dalam hal Fisika! Sungguh menakjubkan. Di saat anak-anak IPA banyak yang “mengutuk” Fisika, tapi Wiwidhe adalah seorang wanita perkasa (kata Pak Suryo) yang mampu menaklukkan Fisika! Ya, itulah dia, karena orang seperti Wiwidhe sangat sedikit di dunia ini. Berbagai persekutuan telah gw dirikan bersama Wiwidhe, yaitu Persekutuan Racun Dunia (bahkan sebelum The Changcuters ada), dan yang tidak terlupakan: SFC (S***O Fans Club) sebagai bentuk apresiasi kami berdua terhadap sang pengajar yang luar biasa “jenius”! Haha, Widh, anggota SFC ngga nambah-nambah nih!

EPILOG
Ya, itulah mereka yang rata-rata paling banyak nulis comment di Friendster gw waktu itu. Mereka adalah orang-orang yang udah mewarnai dunia gw di Friendster dulu sampai saat ini. Tentunya masih ada banyak orang lagi, tapi ngga mungkin gw tulis satu per satu (dan gw deskripsikan satu per satu juga). Kini Facebook telah menjadi sebuah fenomena dunia yang sangat luar biasa, mengalahkan berbagai macam situs jejaring sosial lainnya. Dan ya, kini Friendster telah “out of date”, kita semua pergi meninggalkan Friendster dan sekarang telah menjadi generasi Facebook. Sekarang Friendster penuh dengan orang-orang yang… duh, (kalo kata orang) ngga banget deh. Ya, akhirnya we are the Facebook generation.

Indonesiaku Tak Mau Kalah

Baru saja pada tanggal 8 Juli 2009 masyarakat Indonesia menyelenggarakan sebuah pesta demokrasi akbar. Sebuah pesta rakyat yang diselenggarakan setiap lima tahun sekali. Pesta rakyat ini dikenal dengan nama Pemilihan Umum Capres dan Cawapres. Di tahun 2009 ini, tiga pasang capres dan cawapres bersaing memperebutkan hati dan suara rakyat demi mencapai kursi RI 1 dan RI 2. seperti yang kita ketahui bersama, ketiga pasang capres dan cawapres tersebut adalah Megawati Soekarnoputri dan Prabowo Subianto (Mega-Pro), Susilo Bambang Yudhoyono dan Boediono (SBY-Boediono), dan Jusuf Kalla dan Wiranto (JK-Win).

Dari ketiga pasang capres dan cawapres tersebut, pasangan SBY-Boediono berhasil memenangkan lebih dari 50% suara rakyat berdasarkan hasil quick count berbagai lembaga survei (baik lembaga survei independent maupun lembaga survei stasiun televisi). Selain itu juga, sebelumnya berdasarkan hasil exit poll, pasangan dengan nomor urut 2 ini juga memperoleh suara lebih dari 50%. Sementara itu, jika kita melihat ke belakang ketika dalam acara-acara debat capres dan cawapres yang disiarkan oleh beberapa stasiun televisi swasta di tanah air, hasil survei polling SMS juga menunjukkan bahwa masyarakat masih memilih pasangan SBY-Boediono dibandingkan kedua pasangan lainnya. Ini artinya baik dari hasil polling SMS, exit poll maupun quick count, tidak jauh berbeda, dan tentunya hasil dari KPU pun tidak akan jauh berbeda dari perhitungan quick count. Mengapa? Karena tentunya seluruh lembaga survei yang mengadakan quick count menggunakan metode-metode yang harus bisa dipertanggungjawabkan, apalagi hasil quick count ini disiarkan di berbagai siaran televisi di seluruh tanah air. Hasil quick count ini tentu sangat berhubungan dengan reputasi si lembaga survei, jadi rasanya sangat tidak masuk akal kalau si lembaga-lembaga survei ini melakukan quick count yang tidak tepat.

Nah, berdasarkan hasil quick count beberapa lembaga survei, pasangan SBY-Boediono menang mutlak. Lalu, bagaimana pendapat kedua pasangan lainnya? Ternyata tidak ada yang benar-benar berjiwa besar. Tidak ada yang benar-benar mengakui kekelahan. Yang ada justru malah mencari-cari alasan dan kesalahan pihak lain. Salahkan si A, si B, si C. Salahkan pemerintah, KPU, tim sukses, dsb. Loh, kenapa begitu? Bagaimana bisa menjadi pemimpin kalau untuk menerima kekalahan saja tidak bisa? Saya jadi teringat dengan pemilihan capres dan cawapres di Amerika Serikat antara Obama melawan McCain. Kedua calon ini jelas sangat berbeda. Benar-benar berbeda. Perbedaan paling mencolok adalah dari warna kulit. Perbedaan lainnya adalah masalah pandangan-pandangan politik, ekonomi, dsb. Dalam berbagai kesempatan kampanye atau pun debat, tidak jarang kedua rival ini saling menyindir dan bahkan terkesan menjatuhkan lawan. Namun, apa yang terjadi pada saat pemilihan berlangsung? Hasil quick count di malam hari memperlihatkan bahwa Obama unggul mutlak dari lawannya McCain. Apa yang terjadi? Kedua kubu saling berpidato di depan massanya masing-masing. Di suatu tempat, Obama dan Biden disambut meriah oleh ribuan rakyat AS yang berkumpul untuk merayakan kemenangannya. Obama berpidato dan mengucapkan terima kasih pada rakyat AS dan juga mengatakan bahwa AS telah membuat perubahan dan malam itu sejarah baru AS dimulai, tetapi tidak lupa juga untuk mengucapkan terima kasih kepada lawannya McCain. Sementara itu di suatu tempat di kubu Republik, McCain berpidato di hadapan pendukungnya dan mengatakan bahwa hari itu, rakyat AS telah memilih. Inilah pilihan rakyat AS dan kita harus menghormati itu. McCain juga mengatakan bahwa dia telah menelepon Obama dan mengucapkan selamat kepadanya, dan tidak lupa McCain berpesan pada seluruh pendukungnya bahwa mereka semua harus mendukung sang presiden terpilih karena dia adalah pilihan AS. Dan perlu diingat bahwa pada malam itu belum ada hasil resmi bahwa Obama yang menjadi pemenang, tapi hasil quick count dari lembaga survei di AS menunjukkan bahwa Obama menang mutlak. Artinya quick count tersebut sudah bisa mencerminkan hasil resmi dari pemilihan tersebut. Sama halnya di Indonesia, mengapa mesti “gerah” dengan hasil quick count? Mengapa mesti tidak terima dengan hasil tersebut?

Wah, sebenarnya sungguh indahnya demokrasi di AS. Sungguh indahnya pesta rakyat tersebut. Yang menang tidak terlalu berbangga diri, yang kalah tidak berkecil hati, justru sangat berbesar hati. Mungkin bagi yang menang sudah wajar untuk bersenang hati, tapi tidak mudah bagi yang kalah untuk tetap berjiwa besar, seperti apa yang dilakukan McCain dengan menghimbau seluruh pendukungnya untuk tetap mendukung pemerintahan Obama karena itulah pilahan rakyat. Hal inilah yang tidak ada di Indonesia. Banyak yang ingin jadi pemimpin. Hanya ingin, tapi tidak siap. Ingin menang, tapi tidak siap kalah. Kenapa sih harus mencari-cari kesalahan orang lain. Kenapa sih harus menjadi oposisi, seolah-olah sudah ada jaminan bahwa pemerintah yang akan datang akan melakukan hal-hal yang menyulitkan rakyat dan merugikan negara? Jika memang (katanya) mencintai negeri ini, pro pada rakyat, kenapa kita tidak bersama-sama membangun negeri ini? Bukankah itu lebih indah? Sudah seharusnya, siapa pun yang menang, semua pihak harus mendukung yang menang. Dan yang kalah bukan berarti benar-benar kalah. Saya rasa tidak semua orang di negeri ini bisa memiliki kesempatan untuk menjadi capres dan cawapres. Mereka bertiga sebenarnya sudah menjadi orang-orang hebat. Namun, tentunya kita hanya memiliki satu orang presiden dan satu orang wakilnya. Tidak bisa ketiganya menang. Dan memang dalam sebuah kompetisi pasti ada yang menang dan ada yang kalah. Yang kalah sepatutnya menerima kekalahan dengan ikhlas. Tapi ketika yang kalah tidak mau menerima kekalahan, justru orang itu tidak pantas menjadi pemimpin, orang itu akan benar-benar terlihat kalah. Karena hanya pemimpin sejatilah yang mau menerima kekalahan dengan jiwa besar dan menerima kemenangan dengan penuh tanggung jawab.

Dalam menulis artikel ini, sungguh saya tidak ada maksud untuk membela atau menonjolkan salah satu pasangan yang menjadi pemenang, terlebih lagi saya tidak ada maksud untuk menjelekkan pasangan lainnya. Hanya saja, saya sangat prihatin dengan sikap yang ditunjukkan oleh pasangan lainnya. Jadi, kenapa kita tidak bersikap legowo atau berlapang dada? Mari kita semua bersikap sportif. Mari kita bangun mental champion bukan sekedar mental winner. Sesungguhnya Indonesia ini bisa menjadi negara yang lebih baik lagi, dan saya percaya akan hal itu.

Indonesia telah memilih. Inilah pilihan rakyat. Tidak ada yang perlu merasa untung dan rugi karena ini bukanlah bisnis. Tidak ada yang perlu merasa terlalu senang atau kecewa karena bagaimanapun juga kita semua yang turut serta membangun negeri ini. Bhineka Tunggal Ika. Berbeda-beda tapi tetap satu jua. Itulah Indonesiaku yang seharusnya.