29 Juli 2009

Indonesia Oh Indonesia

Artikel berikut ini adalah sebuah hasil pengeditan dari salah satu artikel yang pernah saya publikasikan di blog terdahulu saya (Le Prince) yang berjudul "Seratus Tahun Kebangkitan Nasional", yang kemudian artikel tersebut saya ubah sedikit (edit) sehingga menjadi sebuah essay untuk tugas yang harus saya kerjakan pada OKK (orientasi Kehidupan Kampus) UI 2008. Essay yang berjudul "Indonesia Oh Indonesia" ini ternyata (dan tanpa saya duga) masuk ke dalam 50 karya terbaik OKK UI 2008. Wah, sungguh suatu prestasi yang sangat luar biasa membanggakan bagi saya. Jadi, dari 50 karya tulis terbaik tersebut, terdiri dari tiga macam karya, yaitu cerpen, puisi, dan essay. Dari karya-karya essay tersebut, terpilihlah 16 karya terbaik, dan salah satunya adalah essay yang berjudul "Indonesia Oh Indonesia" ini. Alhamdulillah. Mengapa saya masukkan essay ini ke dalam blog? Saya sama sekali tidak bermaksud untuk pamer atau unjuk gigi, tapi hanya karena saya ingin berbagi ide dan pemikiran-pemikiran saya kepada publik, khususnya mengenai Indonesia ini. Saya hanya ingin berbagi cerita dan pendapat saya mengenai Indonesia, negeri tempat saya dilahirkan dan dibesarkan. Hanya itu. Selamat membaca.

Indonesia Oh Indonesia
Bertepatan pada hari Selasa tanggal 20 Mei 2008, bangsa Indonesia merayakan seratus tahun kebangkitan nasional. Ini merupakan suatu momen yang sangat bersejarah. Makna dari perayaan ini pun sangat besar. Seratus tahun sudah perjuangan pergerakan bangsa Indonesia dari penjajahan kolonial dan keterbelakangan. Seratus tahun sudah bangsa yang besar ini berusaha dan terus berusaha untuk menjadi bangsa Indonesia yang kokoh dan satu.

Namun, pada kenyataannya kita pun tidak dapat memungkiri bahwa tidak semua warga Indonesia benar-benar mengerti dan paham tentang makna kebangkitan bangsa, jangankan paham, bahkan tidak semua orang tahu apa itu kebangkitan nasional, bagaimana sejarahnya, bagaimana kita sebagai orang Indonesia menyikapi kebangkitan nasional. Orang Indonesia hanya semangat ketika meneriakkan kata-kata, “MERDEKA!”, atau “INDONESIA! INDONESIA! INDONESIA!”, hanya sebatas itu. Orang Indonesia tidak punya semangat perubahan. Perubahan menuju suatu keadaan yang lebih baik, semakin baik, hingga akhirnya terbaik. Ketika kita melihat ke belakang, sepuluh tahun silam, ketika Indonesia (mayoritas mahasiswa) meneriakkan dan mengobarkan semangat reformasi, berusaha untuk menuju suatu perubahan besar dengan harapan Indonesia menjadi negara yang lebih baik, tapi faktanya, Indonesia semakin terpuruk. Terpuruk dalam segala hal, terutama MORAL.

Sejak dulu saya sering mendengar bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang bermartabat dan bermoral. Orangnya sopan dan ramah. Sekarang pun saya jadi berpikir, oh itu mungkin cerita dulu, cerita pada era sebelum tahun 90-an. Karena menurut saya kata-kata itu kurang tepat bila diucapkan untuk mendeskripsikan secara singkat tentang Indonesia pada saat ini. Kenapa? Ya, saya rasa kita semua tahu dan sadar bahwa semakin lama moral bangsa Indonesia semakin hancur. Moral ketimuran yang dulu selalu diagungkan kini sudah hampir punah. Semangat nasionalisme yang dibawa oleh Bung Karno dan para pejuang lainnya, tampaknya kini mulai hilang, atau mungkinkah telah hilang? Oh Indonesia, tampaknya kini semangat nasionalisme itu memang sudah hilang. Mungkin masih ada, tapi hanya segelintir manusia dan itu tidak berarti banyak. Sering saya perhatikan dalam setiap pertandingan-pertandingan olahraga, seperti sepak bola dan bulutangkis, rakyat Indonesia bersatu untuk memberikan semangat kepada mereka yang sedang bertanding mewakili Indonesia. Ini bagus sekali. Saya pun sangat merasakan atmosfir kegembiraan dan penuh semangat untuk turut serta mendukung mereka yang bertanding. Namun, apakah rasa persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia hanya sebatas di dalam sebuah stadion sepak bola? Apakah rasa nasionalisme atau cinta pada tanah air bangsa Indonesia hanya sebesar meneriakkan kata-kata, “INDONESIA!”. Ya, memang pada dasarnya tidak ada yang salah dengan sikap seperti itu, tapi apakah hanya sebatas itu?

Saat ini saya melihat, orang Indonesia adalah orang-orang yang selalu dan selalu mengeluh, orang-orang yang selalu protes, orang-orang yang egois, orang-orang yang bertempramen buruk, orang-orang yang selalu membela diri, orang-orang yang selalu melimpahkan kesalahannya pada orang lain, orang-orang yang mengagung-agungkan bangsa barat di atas segalanya, orang-orang yang mengaku lebih religius dari yang lainnya, orang-orang yang tidak menghargai waktu, orang-orang yang senang merusak, dan dengan berbagai keterbelakangan lainnya. Ya, saya pun adalah seorang warga negara Indonesia. Saya dilahirkan di negara ini. Hampir delapan belas tahun saya hidup menghirup udara di negeri ini dan inilah kenyataannya. Oh Indonesia, tidakkah seharusnya kita malu? Ya, apa boleh buat, tampaknya Indonesia sudah tidak punya rasa malu. Seandainya masih ada rasa malu, mungkin Indonesia tidak akan seperti ini. Tidak akan ada orang-orang yang dengan bebas memakan harta orang lain, tidak akan ada orang-orang yang selalu demonstrasi, tidak akan ada yang egois yang motonya, “Siapa lu, siapa gw!”

Lalu bagaimana bisa kita menyikapi arti dari seratus tahun kebangkitan nasional ini kalau ternyata bangsa ini sebenarnya semakin terpuruk bukan semakin bangkit? Indonesia terlalu sibuk mengurusi kepentingan pribadi masing-masing sehingga lupa dengan segala hal, bahkan sampai-sampai kita kehilangan beberapa pulau kita yang kini jatuh ke tangan negara lain. Ironis sekali bukan? Saya rasa Indonesia harus bercermin. Ya, kita semua harus bercermin. Sudahkah kita berkontribusi untuk bangsa ini? Tempat kita dilahirkan…

“IndonesiaTanah Air beta. Pusaka abadi nan jaya.
Indonesia sejak dulu kala, tetap dipuja-puja bangsa.
Di sana tempat lahir beta. Dibuai, dibesarkan bunda.
Tempat berlindung di hari tua.
Tempat akhir menutup mata.”

Tentunya tidak semua masyarakat Indonesia tahu judul lagu di atas. Itulah lagu berjudul “Indonesia Pusaka”, ciptaan Ismail Marzuki. Akankah Indonesia tetap dipuja-puja bangsa? Entahlah. Makna lagu ini sangat dalam, tapi sayangnya tidak semua orang peduli dengan lagu-lagu nasional Indonesia. Ya, generasi muda Indonesia dari umur balita sampai remaja, juga orang-orang dewasa tentunya lebih mengenal lagu-lagu masa kini seperti “Kucing Garong”, “Si Jablay”, “Makhluk Tuhan yang Paling Seksi”, dan tentunya berbagai lagu-lagu barat dari segala aliran. Padahal lagu-lagu nasional kita, lirik lagunya tidak panjang, tapi tidak banyak orang yang hafal. Sayangya, tidak sedikit anak muda yang hafal lirik-lirik lagu barat aliran Rap, R n’ B, Hip Hop, yang jelas-jelas jauh lebih panjang dan rumit, juga pengucapannya sangat cepat. Sekarang mari kita tes kemampuan bernyanyi orang Indonesia. Salah satu lagu yang mudah adalah lagu “Bagimu Negeri”. Berapa banyak orang yang bisa menyanyikan lagu tersebut dengan benar? Mana yang lebih dulu antara, “kami mengabdi”, “kami berjanji”, dan “kami berbakti”? Apakah Anda termasuk orang yang hafal lagu ini? Bagaimana dengan lagu kebangsaan negara ini, lagu Indonesia Raya, berapa banyak orang yang hafal lagu ini? Apakah semua orang Indonesia bisa menyanyikan lagu ini dengan baik?

Papa saya pernah berkata, “Papa bangga menjadi orang Minang, tapi papa tidak bangga dengan sifat orang Minang.” Ya, karena papa orang Minang, mama orang Medan, maka saya adalah orang Indonesia, dan seperti papa juga, saya bangga menjadi orang Indonesia, tapi saya tidak bangga dengan sifat orang Indonesia. Kenapa saya harus tidak bangga menjadi orang Indonesia? Indonesia adalah bangsa yang besar, negara yang luar biasa, memiliki keanekaragaman budaya dan suku bangsa. Saya hanya tidak bangga dengan sikap dan moral bangsa ini. Sudah seharusnya, kita sebagai generasi muda harus lebih berpikiran luas, tidak hanya mengedepankan rasa etnosentrisme dan keegoisan, tidak lagi mendahulukan kepentingan-kepentingan pribadi di atas kepentingan bersama, tidak lagi menggunakan emosi sebagai akal pikiran, tapi menggunakan hati. Saya yakin untuk mengubah Indonesia tidak lah mudah, tapi bukan berarti tidak mungkin. Indonesia berubah mulai dari individu masing-masing. Dimulai dari kesadaran masing-masing dan rasa malu. Ya, kita semua seharusnya malu. Kita semua seharusnya belajar untuk malu.

Dalam sebuah iklan yang sempat tayang di stasiun-stasiun televisi, Deddy Mizwar berkata, “Bangkit itu aku, untuk Indonesiaku.” Ya, itu benar. Sekali lagi, Indonesia bangkit dimulai dari diri kita sendiri. Dimulai dari sekarang juga, saat ini. Saya pun akan berjuang di dunia ini. Saya akan bangkit. Bangkit dari segala keterbelakangan. Saya bangkit menjadi orang Indonesia yang sebenarnya, orang Indonesia yang bermoral, berpendidikan, berwawasan, berprestasi, orang Indonesia yang punya rasa malu dan takut, bukan orang Indonesia yang sekedar orang Indonesia atau yang berbulu domba. Karena saya cinta negeri ini. Dan saya akan bangkit, terus bangkit. Karena saya bangkit untuk Indonesiaku tericinta.

0 komentar :

Posting Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.