31 Juli 2009

Penyihir dari Chipping Sodbury

Joanne Kathleen Rowling adalah penulis buku serial yang sangat popular dan fenomenal, yang bercerita tentang penyihir cilik bernama Harry Potter. Sukses yang dicapai bukunya yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1997, yaitu Harry Potter and the Philosopher’s Stone, melontarkan dirinya ke puncak ketenaran. Kesuksesan itu berlanjut dengan buku kedua yang diluncurkan pada tahun 1998, yakni Harry Potter and the Chamber of Secrets. Hingga saat ini serial Harry Potter telah diterjemahkan ke dalam 61 bahasa dan terjual sebanyak 250 juta eksemplar di 200 negara.

J.K. Rowling atau Jo lahir di Chipping Sodbury di dekat Bristol, Inggris, pada tanggal 31 Juli 1965. Ketika dia berusia sembilan tahun keluarga Rowling pindah ke Tutshill, desa kecil di dekat Cheptow, Wales Selatan yang memiliki sebuah kastil yang berdiri di atas karang terjal sebagai pemandangan utama desa tersebut. Rumah Rowling di Tutshill adalah sebuah pondok yang berdiri di sebelah gereja dan dulunya merupakan bangunan sekolah di desa. Saat itu rumahnya berada tepat di sebelah pemakaman dan menurutnya pemakaman tidaklah menyeramkan seperti yang banyak orang pikirkan dan tempat itu merupakan sumber nama-nama yang bagus.

Jo kuliah di Universitas Exeter selama empat tahun, termasuk setahun mengajar bahasa Inggris di Paris. Setelah lulus kuliah, Jo berangkat ke London untuk mengikuti kursus sekretaris dwibahasa (kursus bagi para sekretaris yang bisa bicara lebih dari satu bahasa), walaupun akhirnya Jo merasa jenis pekerjaan itu sangat tidak cocok baginya. Tapi satu hal yang dia pelajari dengan sungguh-sungguh adalah kemampuan mengetik. Sekarang Jo mengetik semua bukunya sendiri, jadi keahliannya itu amat berguna. Ketika kursus selesai, satu hal yang ia inginkan hanyalah mendapatkan pekerjaan yang dapat memberinya penghasilan agar ia bisa punya waktu menulis.

Di tahun 1990, saat Rowling sedang menunggu kereta yang akan membawanya dari kota Manchester kembali ke London, lahirlah seorang anak laki-laki dengan rambut hitam acak-acakan di benaknya. Saat itu Jo merasakan gejolak kegembiraan yang begitu menakjubkan dan dia tahu bahwa pasti asyik menulis kisah ini. Walaupun sudah mulai menulis sejak berusia enam tahun, baru kali itu Rowling mendapatkan ide cerita yang sangat nyata terbayang di kepalanya. Pada saat itu Jo tidak tahu bahwa kisahnya akan menjadi buku anak-anak karena yang dia tahu hanyalah bahwa dia memiliki tokoh anak laki-laki bernama Harry. Selama perjalanan itu Jo juga menciptakan tokoh Ron, Nick si Kepala Nyaris-Putus, Hagrid, dan Peeves si Hantu Jail. Namun sayangnya sementara ide besar itu berpusar-pusar di benaknya, dia tidak mempunyai pulpen yang berfungsi dengan baik. Hingga saat ini, ia sering menyesal mengapa ia tidak membawa pulpen lain atau memberanikan diri meminjam pulpen kepada seseorang. Akhirnya Jo memutuskan untuk terus memikirkannya selama perjalanan kembali ke London, dan seandainya ada hal-hal yang tidak bertahan sampai akhir perjalanan, mungkin berarti detail itu memang tidak layak diingat.

Pertama, Jo memusatkan perhatian pada Sekolah Sihir Hogwarts. Dia membayangkan tempat dengan tata tertib yang ketat tapi amat berbahaya. Setelah itu dia memikirkan tempat sekolah itu berada. Tempat itu harus terpencil dan segera Jo menetapkan Skotlandia sebagai tempat di mana Hogwarts berada. Setelah sampai di London, Jo kembali ke flat dan mulai menuliskan semuanya dalam buku catatan kecil. Dia menulis daftar mata pelajaran utama yang harus dipelajari di sekolah itu. Kemudian Jo menciptakan nama-nama untuk disesuaikan dengan masing-masing tokoh. Seperti misalnya Gilderoy Lockhart. Jo tahu bahwa namanya harus punya kesan kuat. Kemudian dia memeriksa Dictionary of Phrase and Fable yang merupakan sumber yang bagus untuk mencari nama-nama. Di dalam kamus itu Jo menemukan nama Gilderoy yang artinya polisi patroli jalan raya yang tampan berkebangsaan Skotlandia. Menurutnya itu sangat tepat sekali dengan yang ia mau. Berikutnya Jo menemukan nama Lockhart pada tugu peringatan Perang Dunia I. Gabungan kedua nama itu menyatakan semua hal yang ingin Jo gambarkan dalam tokoh tersebut.

Dalam sebuah wawancara, Rowling mengatakan bahwa sejak kecil dia selalu ingin menjadi pengarang. Sastra Inggris selalu menjadi pelajaran kesukaan Jo sewaktu masih di sekolah, itu sebabnya Jo memutuskan untuk mengambil Sastra Inggris di bangku kuliah. Rowling mengaku sudah mulai menulis buku sejak berumur enam tahun. Judul buku pertamanya adalah Rabbit, cerita mengenai seekor kelinci. Sejak saat itu Jo terus menulis.

Jika seseorang bertanya mengenai rahasia kebahagiaan J.K. Rowling, maka Jo akan menjawab bahwa langkah pertama adalah mencari tahu kegiatan apa yang paling Anda sukai di dunia ini dan langkah kedua adalah menemukan seseorang yang berkenan membayar Anda untuk melakukan hal itu. Jo mengaku merasa sangat beruntung karena dapat membiayai hidupnya dengan menulis.

Sewaktu kecil Rowling paling suka membaca buku-buku karya Jane Austen. Ada tiga buku yang menjadi favoritnya semasa kecil, This Little White Horse karya Elizabeth Goudge, Manxmouse HoHorsekarya Paul Gallico, dan Grimble karya Clement Freud. Menurut Jo, apa pun yang kita lihat, alami, baca, atau dengar bisa menjadi ide yang sangat menarik.

Ketika ditanya mengenai proses penciptaan cerita Harry Potter, Jo menjawab bahwa pertanyaan ini berkaitan dengan menemukan alasan mengapa Harry berada di sekolah sihir, atau mengapa orang tuanya meninggal. Jo mengaku bahwa sebenarnya dia hanya mereka-reka, tapi dia merasa seperti sedang melakukan sebuah riset. Pada akhir perjalanan di kereta menuju London, Jo tahu bahwa kisah Harry Potter akan terbagi atas tujuh buku berseri. Butuh waktu lima tahun untuk merencanakan serial ini, untuk mereka-reka jalan cerita masing-masing ketujuh buku tersebut. Jo tahu kapan atau peristiwa apa yang akan terjadi atau siapa yang akan muncul, dan menurut Jo rasanya seperti menyambut teman-teman lama. Professor Lupin yang muncul di buku ketiga adalah salah satu tokoh kesukaan Jo. Lupin manusia cacat, baik secara harfiah maupun kiasan. Menurut Jo penting bagi anak-anak untuk mengetahui bahwa orang dewasa pun punya masalah, dan bahwa mereka pun berjuang untuk mengatasinya. Perubahan wujud menjadi manusia serigala merupakan kiasan terhadap reaksi manusia dalam menghadapi rasa sakit dan ketidakmampuan.

J.K. Rowling tentunya selalu mempunyai latar belakang lengkap setiap tokoh yang ia ciptakan. Menurutnya bila ia menuliskan semua perincian tiap tokoh dalam setiap buku, maka tebal buku pun bisa membengkak menjadi setebal Encyclopedia Britannica. Namun, Jo tetap harus berhati-hati sebab dia tidak mau pembaca tahu sama banyaknya seperti dirinya. Misalnya tokoh Sirius Black. Jo punya seluruh kisah masa kecilnya. Pembaca tidak perlu tahu tapi jelas dia harus tahu. Jo berkata bahwa di harus tahu lebih banyak daripada pembaca sebab dialah yang menggerakkan tokoh dalam cerita.

Rowling mengaku bahwa memutuskan untuk menjadi seorang penulis penuh-waktu dan meninggalkan pekerjaannya bukanlah keputusan yang mudah. Pada saat itu dia tidak dapat memastikan apakah ini sekedar “kehebohan” sementara untuk selanjutnya hilang tanpa bekas. Selain itu Jo mempunyai seorang anak yang harus dia pikirkan. Tapi kemudian Jo berpikir mungkin dia bisa menulis penuh-waktu selama dua tahun, walaupun keputusan itu mengancam karir mengajarnya karena untuk menjadikannya pekerjaan tetap, terlebih dahulu Jo perlu mendapat pengalaman yang cukup.

Momen yang paling membanggakan dalam hidup Rowling adalah ketika dia menerima cek royalti pertamanya, walaupun Jo sama sekali tidak berharap royalti apa pun–tidak untuk buku pertamanya. Sebelumnya, Jo telah meraih penghargaan Smarties Book Prize dan setelah itu penjualan bukunya langsung meroket.

Jo pernah merasa kesulitan ketika menyelesaikan Harry Potter and the Chamber of Secrets. Dia khawatir buku itu tidak memenuhi harapan pembaca. Namun pada akhirnya Jo menyerahkan naskah itu tepat waktu tapi ia mengambilnya lagi selama enam mingggu dan mengoreksinya sampai ia benar-benar puas.

Ketika Harry Potter and the Chamber of Secrets dirilis, buku itu hampir seketika bertengger sebagai nomor satu di daftar bestseller, dan menurut Jo itu cukup mencengangkan. Jo merasa amat terkejut ketika mengetahui hal itu. Mengetahui bahwa semua itu terjadi begitu cepat, tapi yang penting menurut Jo adalah dia menulis buku yang pantas ia banggakan.

Rowling ingat ketika menerima surat penggemarnya yang pertama, dari Francesca Gray. Diawali dengan, “Dear Sir…” Jo sudah bertemu dengannya. Surat-surat mengalir semakin banyak, namun ketika buku Rowling mulai laris di Amerika, surat-surat datang dengan berlimpah ruah. Jo sadar bahwa dia akan segera menjadi sekretaris yang payah. Itu masalah yang amat bagus, tapi memang sudah saatnya menyewa seseorang untuk melakukan berbagai pekerjaan yang benar.

Harry Potter telah diterjemahkan ke dalam 61 bahasa. Rowling suatu hari pernah menerima buku Harry Potter yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang, dan menurutnya itu sangat indah. Tapi menurut Jo yang paling membuatnya terkesan adalah edisi bahasa Yunani.

Jo pernah menemukan beberapa penyimpangan kecil yang aneh dalam bukunya di beberapa versi. Dalam terjemahan bahasa Spanyol, katak Neville Longbottom, yang selalu dihilangkannya, diterjemahkan menjadi kura-kura. Tentu saja kehilangan kura-kura lebih sulit dari pada kehilangan seekor katak. Dalam edisi itu bahkan tidak disebutkan soal air, tempat kura-kura itu seharusnya tinggal. Tapi Jo tidak ingin terlalu mempersoalkannya. Dalam edisi bahasa Italia, Professor Dumbledore dialihbahsakan menjadi Professor Silencio. Ternyata si penerjemah menafsirkannya dari kata “dumb” pada nama Dumbledore. Sebenarnya “dumbledore” adalah kata Inggris Kuno yang berarti tawon besar. Jo memilih kata itu karena dia membayangkan penyihir yang ramah ini banyak bergerak, bergumam pada diri sendiri, ditambah Jo memang menyukai bunyi kata itu. Bagi Rowling nama “Silencio” justru seperti kebalikannya. Tapi bukunya sangat popular di Italia, jadi jelas hal itu tidak mengganggu para pembaca di sana.

Ketika ditanya mengenai apa yang akan Jo lakukan begitu ia menyelesaikan buku ketujuh, Jo menjawab bahwa menyelesaikan buku itu pasti akan menjadi hal yang paling hebat. Setelah begitu lama bergulat dengan para tokoh tersebut dalam kepalanya, dia akan merasa sedih meninggalkan mereka, tapi Jo tahu bahwa akhirnya dia akan meninggalkan mereka.

J.K. Rowling yakin bahwa dia akan terus menulis, setidaknya sampai ia kehilangan akal sehatnya. Jo merasa sangat beruntung. Berkat popularitas Harry, dia tidak perlu menulis demi uang, tak ada seorang pun yang memaksanya. Jo hanya perlu melakukannya untuk dirinya sendiri. Terkadang Rowling berpikir bahwa sudah cukup baginya sekedar menjadi penulis yang lumayan sukses, di mana yang menjadi fokus perhatian adalah bukunya dan bukan dirinya. Jo merasa bahwa dengan diterbitkannya buku-bukunya itu sudah asyik. Menurut Jo imbalan yang paling besar adalah antusiasme para pembaca.

Terkadang ada saatnya di mana Rowling merasa dengan senang hati akan mengembalikan sejumlah uang yang ia terima agar bisa ditukar dengan waktu dan kedamaian untuk menulis. Kedua hal itu merupakan kendala terbesar, terutama selama penulisan buku keempat. Jo menjadi terkenal dan sebenarnya dia merasa tidak terlalu nyaman dengannya. Akibat popularitas, berbagai kesulitan besar bisa terjadi, dan dibutuhkan kemauan keras untuk mencegahnya.

Jo berkata bahwa bila kau melihat orang-orang terkenal lainnya selalu saja ada masalah yang membuntuti mereka dan masalah-masalah itu tidak menyenangkan. Tapi aku tetap menyadari bahwa aku orang yang luar biasa beruntung karena bisa melakukan apa yang paling kucintai di dunia ini. J.K. Rowling mungkin belum menguasai mantra untuk membuat cerita dalam satu malam. Namun, karya-karyanya tetap dinantikan oleh jutaan penggemarnya di seluruh dunia.

   Add Friend

1 komentar :

Tulisan yang bagus... Btw buku Manxmouse, sudah terbit di Indonesia lho...

Bagus banget tuh bukunya.

Posting Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.