01 Agustus 2009

Drama Harry Potter dalam Layar Lebar

Film keenam Harry Potter, Harry Potter and the Half-Blood Prince, tampaknya menjadi salah satu film yang paling dinanti oleh jutaan penggemar Harry Potter di tahun 2009 ini. Terlebih lagi film ini seharusnya dijadwalkan tayang pada tahun 2008 yang lalu, tetapi karena pada tahun tersebut muncul isu krisis ekonomi global, akhirnya penayangan film pun ditunda hingga tahun 2009. Film yang disutradarai oleh David Yates ini tayang serentak di seluruh dunia pada tanggal 15 Juli 2009. David Yates yang sebelumnya juga menyutradarai film kelima Harry Potter, Harry Potter and the Order of the Phoenix, harus bekerja ekstra karena jalan cerita di film yang diangkat dari novel keenam seri Harry Potter ini akan semakin kompleks. Selain itu banyak penggemar Harry Potter yang sering merasa kecewa setiap kali menonton beberapa film Harry Potter sebelumnya karena apa yang ditampilkan banyak yang tidak sesuai dengan novel atau di luar harapan penonton. Hal-hal semacam ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi David Yates selaku sutradara dalam mengemas isi film menjadi sedemikan rupa bagusnya hingga baik para penonton/penikmat film maupun penggemar Harry Potter merasa puas dengan film tersebut.

Namun, sepertinya tanggapan penonton di Indonesia, seperti teman-teman saya misalnya, kurang berkesan positif setelah menonton film yang telah ditunggu-tunggu ini, ya bisa dikatakan biasa saja bahkan (katanya) cenderung membosankan. Saya sendiri sebagai seorang penggemar dan pengamat Harry Potter (baik buku maupun filmnya) menjadi bertanya-tanya seperti apa cerita yang disajikan dalam film tersebut, tapi karena sejak film tersebut pertama kali dirilis sampai dengan akhir bulan Juli saya punya cukup banyak daftar kerjaan yang harus diselesaikan, akhirnya baru pada hari ini, 1 Agustus, saya menyempatkan diri untuk menonton dan di mana lagi kalau bukan di tempat andalan orang Bekasi, ya, Metropolitan Mall dan berhubung karena film ini sudah tayang kira-kira selama dua minggu, penontonnya pun tidak terlalu ramai seperti seminggu sebelumnya.

Ya, akhirnya setelah saya selesai menonton (dan akhirnya jadi nonton juga), saya baru paham dengan komentar-komentar penonton mengenai film ini. Pendapat saya pribadi, film ini biasa saja dan sepertinya dari enam film Harry Potter, film inilah yang paling biasa. Dari segi isi cerita, sangat terlihat bahwa dalam film ini David Yates banyak menambahkan dan mengubah beberapa hal, khususnya di bagian awal film. Ya, memang, dalam pembuatan film, seorang sutradara bebas dan berhak meng-improve materi film, tapi dalam hal ini, saya rasa film sebelumnya, Harry Potter and the Order of the Phoenix, yang ia sutradarai juga lebih baik daripada film keenam ini.

Lalu sebenarnya bagaimana dengan cerita yang ada dalam novel? Secara garis besar, dalam novel diceritakan bahwa Lord Voldemort dan para pengikutnya sudah mulai melancarkan berbagai aksi kejahatan mereka secara terang-terangan. Menteri Sihir Cornelius Fudge akhirnya harus melepas jabatannnya karena dianggap tidak serius dalam menangani kasus Voldemort. Cornelius Fudge kemudian digantikan oleh Rufus Scrimgeour. Bagian ini jelas tidak ada dalam film.

Kemudian dalam novel diceritakan pula bahwa Sekolah Sihir Hogwarts, tempat Harry menjalani tahun keenamnya pun tidak terlepas dari suasana mencekam hingga keamanan lebih ditingkatkan. Seperti biasa, tahun ini pun Hogwarts mendapatkan seorang guru baru, yaitu Horace Slughorn yang menggantikan Professor Severus Snape dalam mata pelajaran Ramuan. Professor Snape akhirnya mendapatkan jabatan yang diimpikannya selama ini, guru Pertahanan terhadap Ilmu Hitam. Kejutan lainnya datang dari Harry yang kali ini berprestasi dalam kelas Ramuan, bahkan dia berhasil mengalahkan Hermione berkat buku yang dipinjamkan Professor Slughorn padanya yang merupakan milik “Pangeran Berdarah-Campuran” atau Half-Blood Prince. Di dalam film tidak dijelaskan secara lebih detail mengenai Professor Snape yang mengajar Pertahanan terhadap Ilmu Hitam. Karakter Snape dalam film lebih ditonjolkan pada sosok yang berusaha melindungi Draco Malfoy seperti yang telah ia janjikan (bersumpah) kepada ibunya Draco, Narcissa Malfoy.

Hal berikutnya adalah bahwa di tahun ini Harry harus mempelajari suatu pelajaran khusus dari Professor Dumbledore. Pelajaran itu adalah melihat masa lalu Voldemort mulai dari sejarah kakeknya hingga ia menjadi seorang penyihir yang paling ditakuti dalam dunia sihir. Sementara itu, Professor Dumbledore dan Harry juga memiliki tugas penting, yaitu menghancurkan beberapa Horcrux milik Lord Voldemort yang masih tersisa. Namun, seseorang ada yang berkhianat dan akhirnya Harry harus kembali kehilangan orang yang ia sayangi dan ia hormati, yaitu Dumbledore.

Ya, jadi inilah sebenarnya inti dari novel keenam Harry Potter, yaitu melihat masa lalu Voldemort dan teka-teki Horcrux. Inilah bagian terpenting dari novel keenam karya J.K. Rowling. Namun, di dalam film kisah masa lalu Voldemort ini kurang begitu ditonjolkan. Memang ada beberapa adegan yang ditampilkan, seperti ketika Dumbledore menunjukkan kenangannya/memorinya pada Harry ketika pertama kali bertemu dengan Tom Riddle (Voldemort) di sebuah panti asuhan dan yang kedua adalah adegan ketika Tom Riddle bertanya tentang Horcrux kepada Professor Slughorn, sedangkan dalam di novel ada lebih banyak cerita mengenai masa lalu Voldemort. Sangat disayangkan ada banyak bagian yang tidak ditampilkan dalam film.

Satu hal yang saya cukup menonjol dalam film Harry Potter and the Half-Blood Prince adalah kisah romansa antartokoh (Harry, Ron, dan Hermione) yang sedang menginjak masa remaja. Ya, saya pun jadi tidak heran ketika banyak teman saya yang mengatakan bahwa film keenam ini seperti drama karena ternyata memang seperti itu. Kalau kita coba lihat ke novelnya, memang sejak tahun keempat (Harry Potter and the Goblet of Fire) J.K. Rowling sudah mulai membumbui ceritanya dengan kisah cinta remaja, ya tentunya karena para tokoh di dalamnya semakin tumbuh dewasa dari anak-anak menjadi remaja. Namun, apa yang ditampilkan dalam film, porsi kisah asmara antartokoh sepertinya menjadi agak berlebih, sehingga inti cerita dari film itu pun menjadi kurang menonjol. Padahal dari tagline film keenam Harry Potter ini, “Dark Secrets Revealed”, sudah menunjukkan bahwa terungkapnya rahasia kegelapan (Horcrux) itulah yang menjadi sesuatu yang ditonjolkan atau inti dari film tersebut, tapi setelah saya menonton filmnya, sepertinya hal itu justru kurang menonjol.

Kemudian setelah selesai menonton, saya rasa akhir cerita dalam film ini pun kurang pas. Banyak teman saya yang juga mengatakan bahwa akhir cerita dari film ini antiklimaks. Sebenarnya akhir cerita dalam novel memang cenderung antiklimaks karena cerita keenam ini sebagai jembatan/penyambung antara novel kelima dan yang ketujuh. Mengapa demikian? Karena sebelumnya di novel kelima diceritakan tentang adu siasat antara Voldemort yang mulai kembali menyusun tentara pengikutnya (Pelahap Maut) dengan Orde Phoenix yang merupakan penentang Voldemort, dan kemudian di buku keenam diceritakan tentang bagaimana menentukan sikap dalam menghadapi ancaman Voldemort, yaitu dengan cara mempelajari masa lalunya (sangat terlihat bahwa sejarah itu memang penting), sehingga di buku ketujuh apa yang telah diketahui dari kisah-kisah masa lalu Voldemort bisa menjadi kunci untuk menemukan kelemahan Voldemort demi mengalahkannya. Itulah sebabnya di buku keenam sosok Voldemort tidak muncul karena Rowling memfokuskan pembaca untuk mengetahui lebih dalam mengenai siapa sosok Voldemort sebenarnya.

Namun, dari ketujuh seri novel Harry Potter, menurut saya dua novel di antaranya memiliki akhir yang sangat bagus, yaitu pada saat perpisahan Harry dengan Sirius Black sesaat setelah Harry dan Hermione membebaskan Sirius dalam Harry Potter and the Prisoner of Azkaban, dan pada saat Dumbledore terbunuh dalam dalam Harry Potter and the Half-Blood Prince. Kedua kisah yang diceritakan dalam masing-masing judulnya ini sangat berkesan bagi saya, tapi yang paling saya suka adalah saat Dumbledore terbunuh karena ketika membacanya membuat mata saya berkaca-kaca. Rowling benar-benar menulisnya dengan sangat luar biasa (dan tentunya orang yang menterjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia juga sangat hebat), tapi ternyata salah satu yang juga saya nantikan dalam film ternyata sangat biasa saja, tidak sebagus dengan apa yang ada di novel.

Jadi, secara keseluruhan, menurut saya film Harry Potter and the Half-Blood Prince dapat dikatakan cukup, ya… sebenarnya kurang begitu memuaskan, tapi lumayan untuk sekedar ditonton dan saya tidak begitu merekomendasikan film ini sebagai salah satu film Harry Potter yang harus ditonton. Menurut saya film sebelumnya, Harry Potter and the Order of the Phoenix masih lebih bagus daripada film keenam ini. Harapan saya tentunya pada film terakhir Harry Potter, Harry Potter and the Deathly Hallows, film tersebut bisa benar-benar menjadi visualisasi dari kisah yang ada dalam novel.

   Add Friend

0 komentar :

Posting Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.