26 Juni 2010

Mengenal “Public Enemy”

Ya, public enemy atau bisa juga disebut sebagai musuh publik, musuh masyarakat, atau musuh kelompok. Ini adalah suatu istilah yang tentunya cukup sering kita dengar. Ya, mungkin ada sebagian dari kita yang sempat bertemu atau bahkan berinteraksi dengan si public enemy ini, atau mungkin bisa jadi sebagian dari kita pernah menjadi public enemy, atau jangan-jangan saat ini sedang berperan sebagai public enemy? Haha, ya, memang, siapa pun berpotensi untuk berperan sebagai public enemy. Namun, sebelum kita bahas lebih dalam mengenai sosok public enemy ini, sebaiknya kita harus lebih dulu paham, apa sih yang disebut sebagai public enemy?

Nah, ya, jadi seperti namanya, public enemy, suatu julukan yang agak ngga enak didengar tentunya, khususnya karena ada kata “enemy” di dalamnya, yang berarti musuh. Oke, saya punya keyakinan bahwa ngga ada seorang pun di dunia ini yang sebenarnya mau jadi musuh bagi teman-temannya, ya kan? Nah, public enemy ini sering kita jumpai dalam interaksi kita dengan teman-teman kita. Jadi, dalam hal ini public enemy bisa jadi orang-orang yang sudah kita kenal dekat walaupun bukan tidak mungkin orang yang menjadi public enemy tersebut orang yang belum kita kenal. Oke, lalu sebenarnya orang seperti apa yang dikategorikan sebagai public enemy? Nah, sebenarnya ada banyak ciri, tapi pada intinya, public enemy adalah orang-orang yang bisa secara sengaja atau pun tidak sengaja melakukan hal-hal yang tidak disukai oleh suatu kelompok tertentu. Ingat, kata kuncinya adalah: kelompok tertentu. Artinya, seorang public enemy hanya menjadi “musuh” dalam satu atau beberapa kelompok tertentu, tidak di seluruh lingkungan masyarakatnya.

Oke, supaya lebih mudah, mari kita lihat beberapa tipe atau contoh public enemy yang lazim kita temui di kehidupan sehari-hari kita. Di sini saya hanya mencantumkan tiga tipe saja yang cukup umum ditemui. Sebenarnya ada banyak, tapi cukup tiga saja. Oh ya, sebelum terlampau jauh, it’s just for fun, so don’t take it too serius.


Tipe 1: Siswa/mahasiswa yang (terlalu) aktif bertanya

Tentunya menjadi siswa/mahasiswa yang aktif bertanya di kelas sangatlah baik. Tidak ada peraturan yang melarang siswa/mahasiswa bertanya. Namun, siswa/mahasiswa yang sangat atau bahkan hiperaktif bertanya benar-benar bisa menjadi public enemy di kelas, khususnya menanyakan berbagai hal kepada kelompok presentasi yang maju di depan kelas terlalu sering dan terlalu sulit, dalam arti sebenarnya dia tahu jawabannya, hanya saja dia ingin tahu sejauh mana kelompok tersebut menguasai materi.
Ciri-ciri:
  1. Jika dia selalu duduk di baris depan, biasanya dia selalu antusias mendengarkan setiap detil perkataan kelompok yang presentasi, dan selalu jadi yang pertama untuk mengajukan pertanyaan.
  2. Jika dia selalu duduk di baris belakang, biasanya dia berpura-pura tidak mendengarkan, dan selalu bertanya setelah 2 – 3 orang bertanya, karena dianggap pertanyaan yang akan diajukan adalah pertanyaan pamungkas.
  3. Pertanyaan yang diajukan cukup panjang dan rumit. Biasanya diawali dengan pernyataan introduksi, latar belakang masalah, pertanyaan, dan pernyataan penegasan.
  4. Pertanyaan yang diajukan biasanya diselipkan bahasa-bahasa yang tidak lazim, atau istilah-istilah bahasa Indonesia atau bahasa asing yang tidak semua orang tahu.
  5. Tidak pernah puas dengan jawaban yang diberikan, dan ini membuat si penanya kembali dan kembali bertanya.
  6. Selalu bertanya di setiap ada kesempatan (dan tidak pernah bosan bertanya).

Tipe 2: Penagih uang (baca: bendahara)
Ya, beralih ke tipe berikutnya. Ini adalah tipe siswa/mahasiswa yang sebenarnya keberadaannya sangat penting, tapi kehadirannya dalam saat-saat tertentu sering kali tidak diharapkan. Ya, dialah sang bendahara. Tipe ini menjadi public enemy karena salah satu kegemarannya menguras kocek teman-temannya. Tenang, bendahara tidak merampok (malak) Anda untuk masuk kantong pribadinya, tidak. Justru, sebenarnya bendahara sangat berperan penting dalam jalannya suatu program/kegiatan/acara/kepanitiaan, karena kalau tidak ada uang, tentu tidak berjalan kegiatan tersebut. Dalam hal ini, prinsip “there is a will; there is a way” tidak berlaku bagi bendahara, karena yang benar adalah: “there is money; 100% there is a way
Ciri-ciri:
  1. Biasanya wanita.
  2. Tipe wajahnya ada dua kemungkinan. Yang pertama senang tersenyum, tapi senyum yang penuh makna, yang artinya: “Hei kawan, saya datang. Tentu kalian tahu apa yang harus kalian lakukan kalau saya mendekat bukan?” Ya, segera keluarkan kocek Anda. Yang kedua tidak pernah senyum (galak), mungkin ini yang agak mengesalkan, karena udah ditagih duit, muka juga ngga ada bagus-bagusnya, haha.
  3. Orang-orang selalu berharap tidak bertemu dengannya di berbagai kesempatan.
  4. Sangat senang dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan denda.
  5. Kata “duit”, “kas”, atau “denda” adalah kata yang tingkat frekuensi pengucapannya paling sering diulang dalam sehari.
  6. Orang-orang akan berusaha mengalihkan perhatian dan pembicaraan ke topik lain jika memang sial bertemu tipe bendahara ini di tengah jalan atau di suatu tempat.

Tipe 3: Siswa/mahasiswa keep-trying-to-be-so-funny
Oke, tipe ketiga adalah siswa/mahasiswa yang keep-trying-to-be-so-funny , tapi sayangnya not funny. Nah, ini biasanya dikenal dengan sebutan “garing” atau beberapa menyebutkannya dengan lebih kreatif: crunchy. Ya, tentu tidak ada yang salah dengan usaha untuk menjadi lucu dengan harapan orang tertawa terbahak-bahak. Tapi, kalau terlalu sering ngga lucu, akibatnya (biasanya) yang terjadi si orang yang berusaha melucu akan terus dan terus melucu sampai lama-lama terkesan “caper” atau “cari perhatian”, dan itu jadi ngeselin. Akhirnya, dia pun berubah menjadi sosok public enemy di antara orang-orang di sekelilingnya. Bahkan tidak jarang tipe ini justru yang “dicengin”, tapi dia ngga sadar kalau sebenarnya dia “dicengin”, haha.
Ciri-ciri:
  1. Selalu berusaha melibatkan diri dalam setiap percakapan (walaupun sebenarnya dia tidak paham mengenai apa yang sedang dibicarakan).
  2. Secara tiba-tiba menyelak pembicaraan dan biasanya menyelipkan humor-humor jayus, bikin “pelesetan” dari salah satu kata, dan itu semua hanya bisa membuat orang yang mendengarnya nyengir dan mengangkat alis.
  3. Sering menggoda (baca: ngisengin) teman-temannya dengan hal-hal yang (lagi-lagi) hanya bisa membuat orang yang bersangkutan nyengir dan mengangkat alis.
  4. Orang-orang sangat sering merasa emosional bila berhadapan dengan dia (saking ngga lucunya).
  5. Hampir selalu ceria kapan pun dan di mana pun. Mungkin ini salah satu sisi positifnya.
  6. Sebagian besar kelakuannya dirasa (dan dinilai) aneh oleh orang-orang yang sering mendengarkan lelucon garingnya.
Ya, jadi, itulah ketiga contoh public enemy yang mungkin sering kita jumpai. Ingat, siapa pun berpotensi untuk menjadi public enemy. Bahkan saya sendiri, haha, untungnya masih sebagai Kepala Biro Danus, bukan bendahara umum (sori tep! Haha). Ya apa pun, memang terkadang menjadi public enemy bukanlah suatu hal yang mudah untuk disadari, tapi yakinlah bahwa hidup kita tidak akan bewarna tanpa mereka! Haha, and I’m serious.  

Nb. Catatan ini terinspirasi dari Wulan Apriliani yang berbagi cerita mengenai public enemy dan juga kisah nyata pengamatan saya terhadap beberapa orang teman.

1 komentar :

Posting Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.