Welcome to My World!

Welcome visitors! Please enjoy my site and I hope you can get many useful information. If you wish, you may contact me through Facebook, Twitter, or any other social media that I linked on the menu bar above. Thank you.

Die Poskarten

This is my another blog: Die Poskarten. This blog will show you all my postcards collection. If you want to swap a postcard, please don't hesitate to contact me from the menu bar above.

Bonjour à Tous !

"Bonjour à Tous !"is my Tumblr site. Please take a look on it and maybe you can find some funny contents that you will love. You can also follow me on Tumblr to get my updates on the site.

Please Do Not Copy

You are welcome to link to my site and use my resources in your classroom, but please respect my hardwork and do not copy my page or files and add them to your website. Thank you.

Russia Beyond the Headlines in Bahasa Indonesia

Russia Beyond the Headlines, your guide to Russia, a diverse and complex country cannot be understood in the context of stereotypes. Now available in Bahasa Indonesia!

16 Oktober 2010

Jelang UTS Kita Bersama

Halo teman-teman panitia GRAFITY 2010, menjelang UTS kita bersama mulai Senin besok, saya mewakili Biro Dana Usaha BEM FISIP UI 2010 mengucapkan selamat menempuh UTS! Dan khususnya untuk panitia dari angkatan 2010 yang akan mengahadapi UTS perdana di kampus ini, semoga dapat menjalani seluruh ujian dengan baik dan pastinya mendapat hasil yang baik juga (amin). Untuk panitia dari angkatan 2009 yang saya yakin nggak pernah berhenti memikirkan GRAFITY siang dan malam mulai soal roadshow, acara, dana, dsb., tetap semangat ya! GRAFITY tidak menjadi alasan bagi siapa pun (termasuk bagi saya) untuk tidak berusaha maksimal di saat UTS. Semuanya harus tetap seimbang. Di sini, di GRAFITY, kita semua belajar untuk profesional. Profesional baik pada saat mengurus acara maupun di keseharian hidup kita sebagai mahasiswa FISIP UI yang tentunya juga harus mengejar prestasi. Semua harus seimbang teman-teman.

Oh ya, sampai menjelang UTS ini, informasi dari tim HPD, sebanyak 24 sekolah sudah di-roadshow. Bukan jumlah yang sedikit loh teman-teman. Saya ucapkan terima kasih untuk semua panitia yang udah ikut membantu tim HPD roadshow. Terima kasih atas kerja keras, komitmen, dan segala pengorbanan yang udah teman-teman berikan kepada GRAFITY sampai saat ini. Tugas kita belum selesai teman-teman, masih ada banyak sekolah yang menunggu untuk di-roadshow. Untuk itu, bagi teman-teman panitia yang belum pernah ikut roadshow, kita masih menunggu dan tetap membuka lebar kesempatan untuk ikut roadshow. Bagi saya pribadi, yang menyenangkan dan yang jadi kesan dari ikut GRAFITY adalah (salah satunya) ikut roadshow. Jadi, yang belum pernah ikut roadshow, setelah UTS nanti ikut roadshow ya! Jangan pernah takut untuk belajar teman-teman. Jadikan ini sebagai pengalaman beharga bagi kalian. Harapan saya tentunya tahun depan, kalianlah yang akan melanjutkan GRAFITY ini. Tetap semangat ya! Sungguh pengalaman yang sangat menyenangkan bisa mengenal dan bekerja dengan orang-orang hebat seperti kalian, Panitia GRAFITY 2010.

Oke, saatnya belajar, dan "Saatnya Beraksi, Bukan Hanya Bermimpi!"

Fauzan Al-Rasyid
Kepala Biro Dana Usaha
BEM FISIP UI 2010

15 Oktober 2010

Karena Ada Telepon, Ada “Halo!”

Pagi ini saya baru saja menyadari suatu hal yang saya yakin semua orang pergunakan dalam kehidupan sehari-hari, tapi tidak pernah benar-benar memperhatikannya. Ya, pernahkah Anda berpikir kata apa yang pertama kali Anda ucapkan ketika mengangkat telepon? Secara spontan Anda pasti akan mengatakan “Halo!” Kata halo secara universal telah diterima sebagai suatu sapaan lazim di seluruh belahan dunia untuk memulai percakapan di telepon. Walaupun ada berbagai variasi kata seperti “hello”, “haloo”, “hallo”, “alo” “hallå”, “hola”, “allô”, dan sebagainya, esensinya adalah: halo. Lalu, apakah kata halo memang sudah ada sebelum telepon ada atau memang baru ada ketika adanya telepon?

Ternyata, penggunaan kata “halo” sebagai suatu sapaan telepon dipersembahkan untuk Thomas Edison. Di pertengahan abad ke-19, ada sebuah kata yang secara luas dipergunakan untuk mengekspresikan suatu kejutan, yaitu “hullo”. Kata ini pertama kali digunakan oleh Charles Dickens di tahun 1850 dan kemudian di buku Tom Brown’s School Days oleh Thomas Hughes yang dibaca oleh Edison. Hal ini menjadi menarik ketika Edison pertama kali menemukan prinsip perekam suara (18 Juli 1887), kata pertama yang diteriakkan oleh Edison ke alat perekam saat itu adalah “Halloo!” Sementara itu, Alexander Graham Bell pada saat itu memakai kata “Ahoy!” (seperti yang digunakan di kapal) untuk mengawali sapaan di telepon. Ya, itulah kata halo pertama yang diucapkan. Karena ada alat perekam Edison, ada halo. Karena telepon hasil penemuan Bell berkembang begitu luar biasa, kata halo pun tersebar dan digunakan secara universal. Telepon telah menjadi bagian yang sangat penting terhadap perkembangan teknologi komunikasi manusia.

PSTN and Telephone
Public Switched Telephone Network (PSTN) atau jaringan telepon publik telah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari selama lebih dari seratus tahun. Dasar dari peralatan PSTN ini adalah Customer Premise Equipment (CPE) yang menghubungkan ke jaringan yang tersedia. Jaringan ini terdiri dari lima komponen dasar, yaitu telepon, akses jaringan, central office (CO), trunk, dan CPE. Perkembangan PSTN saat ini telah mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Kabel yang digunakan dalam jaringan PSTN ini pun berubah seiring berjalannya waktu mulai dari yang berbahan tembaga, coaxial, hingga kini yang paling canggih adalah fiber-optics. Fiber-optics ini merupakan bahan yang paling unggul karena data yang masuk dan dialirkan hingga sampai pada sirkuit pusatnya dapat jauh lebih banyak dibanding jenis kabel lainnya. Kecepatan transmisi datanya pun lebih cepat jika dibandingkan jenis kabel-kabel sebelumnya.

Jaringan ini telah menunjang kehidupan manusia selama lebih dari satu abad. Orang-orang memanfaatkan PSTN ini untuk menghubungkan koneksi telepon dan internet. PSTN sangat populer di masyarakat antara lain karena biayanya yang relatif terjangkau. Jadi, telepon di rumah-rumah yang biasa digunakan adalah PSTN. Namun, berbeda halnya dengan telepon-telepon di kantor dengan penomoran untuk tiap divisi kerja yang berbeda-beda, telepon ini menggunakan CPE.

Telepon, sebagaimana kita sudah terbiasa menggunakannnya, dalam pengoperasiannya di beberapa bagian hampir sama dengan cara pengoperasian lampu, sedangkan transmitter dalam telepon bekerja layaknya sebuah microphone. Pada telepon terdapat sebuah istilah yang disebut local loop atau subscriber loop, yaitu sebuah alat yang digunakan untuk menghubungkan pelayanan telepon rumah atau komersial ke central office (CO) perusahaan telepon. Secara umum, telepon merupakan alat komunikasi yang berfungsi menyampaikan pesan suara dari lokasi berbeda melalui sinyal-sinyal listrik (analog). Sinyal yang dikirimkan ke CO akan membawa informasi melalui dua metode, yaitu dual tone multifrequency (DTMF) dan putaran panggilan (rotary dialing). DTMF atau Touch-Tone™ memiliki dua frekuensi yang berbeda untuk setiap nomor yang ditekan di papan nomor (dialpad). Frekuensi ini kemudian dikumpulkan di central office (CO) dan digunakan untuk medefinisikan ulang bagian-bagian yang ditekan. Sementara itu, format yang kedua atau format putaran panggilan dalam perjalanannya dapat menutup dan membuka sirkuit ke central office (CO), dan rasio untuk terhubung dan tidak terhubungnya dari format ini adalah 60:40.

Komponen berikutnya yang tidak kalah penting adalah network access atau akses jaringan. Akses jarigan ini merupakan bagian dari komponen PSTN. Akses jaringan merupakan bagian dari jaringan komunikasi yang menghubungkan pelanggan telepon dengan penyedia jasa pelayanan atau service provider-nya langsung. Telkomsel, Indosat, Excelcomindo, dan sebagainya merupakan contoh dari akses jaringan yang ada di Indonesia.  Secara teknis, akses jaringan merupakan kumpulan dari berbagai “partisipan”, antara lain RBOCs (Regional Bell Operating Companies), operator pertukaran lokal madiri, IXCs (Interexchange Carriers), operator-operator selular, dan CLECs (Competitive Local Exchange Carriers).

Trunks and Lines

Fungsi utama CO adalah untuk menyediakan sambungan dari pengguna terakhir, perumahan atau bisnis, ke jaringan yang diaktifkan. Pengetahuan mengenai berbagai jenis sirkuit yang tersedia dan fungsinya akan membantu para konsumen dalam penyediaan layanan untuk penggunaan personal atau aplikasi bisnis. Jenis-jenis trunks and lines ini terbagi menjadi lima, yaitu loop start, ground start, direct inward dial (DID) trunks, E&M trunks, dan centrex.  Saluran loop start adalah dasar dari keseluruhan pelayanan tingkat perumahan maupun bisnis yang ada sekarang ini. Sirkuitnya dapat digunakan setiap saat—24 jam sehari, tujuh hari dalam seminggu, dan sepanjang tahun—dan menggunakan arus DC untuk pencarian sinyalnya serta kondisi on- dan off-hook.

Saluran ground start digunakan pertukaran cabang otomatis antara koneksi swasta ke kantor pusat (PABX atau PBX) ke CO. Penghubung ditempatkan di satu sisi dari jalur dua kabel agar dapat diketahui bahwa CO sedang digunakan. Hal ini dimaksudkan agar sisi lain tidak digunakan. Berbeda dengan loop start, pertukaran yang berlangsung pada ground start ini tidak bersifat langsung, tetapi tertunda. Tujuan dari ground start adalah untuk menjaga agar tidak terjadi “tabrakan” antara penelepon outbound pada PABX dan penelepon inbound untuk pebisnis.

Direct Inward Dial (DID) trunks digunakan dengan PABX (Private Automatic Branch Exchange) atau beberapa sistem hybrid yang lebih canggih yang ada di pasar saat ini. Sebagai suatu sistem yang mendukung PABX, DID memungkinkan para pengguna untuk dihubungi dari luar secara otomatis, tanpa harus melalui operator. Sistem sirkuit ini biasanya digunakan oleh perusahaan yang berskala besar.

Selanjutnya adalah E&M trunks.  E&M merupakan singkatan dari ear and mouth. E&M trunks ini pada awalnya dirancang untuk menghubungkan banyak PABX yang terpisah di suatu area yang sangat luas. Biaya E&M didasarkan pada jarak atau panjang kabel (dalam satuan mil) antara lokasi dan karenanya bisa menjadi sangat mahal jika sirkuit terbentang dengan rentang jarak yang besar (misalnya, dari negara ke negara). Jadi, semakin jauh tujuannya akan semakin mahal pula biaya yang dikeluarkan.

Centrex lebih kepada sebuah perpanjangan CO daripada sebuah trunk yang sebenarnya. Fitur-fiturnya bertindak serupa dengan PABX, kecuali fitur yang berada di dalam saklar CO bukan di perangkat keras yang  terletak di tempat pelanggan. Jenis rangkaian ini awalnya dirancang untuk perusahaan yang telah tersebar di seluruh area metropolitan yang membutuhkan suatu alat untuk memudahkan dalam membuat panggilan umum. Penelepon centrex menekan empat atau lima digit nomor untuk memanggil rencana penggilan mereka. Sirkuit ini juga biasanya digunakan untuk berbagai layanan sosial masyarakat seperti kepolisian, dinas pemadam kebakaran, dan sebagainya karena ia berbeda dengan sirkuit yang lain, (hanya menggunakan empat hingga lima digit angka).

Customer Premise Equipment (CPE)

CPE (Customer Premise Equipment) pada dasarnya merupakan peralatan komunikasi yang dipakai oleh pelanggan. CPE berkembang menjadi industri komunikasi yang ramai setelah adanya Carterfone Act pada 1968 yang menyerang sistem monopoli Bell agar memperbolehkan adanya kompetisi untuk para perusahaan penyedia telepon. Akibatnya terjadilah kompetisi dalam industri telekomunikasi dunia dan berbagai inovasi baru pun diciptakan. Berbagai inovasi seperti Private Automatic Branch Exchange (PABX), digital key systems and hybrids, dan voice processing dihasilkan. Sejak lahirnya telepon, teknologi komunikasi terus berkembang dengan pesat. Entah apa jadinya dunia ini tanpa adanya telepon? Manusia butuh berkomunikasi dengan cepat. Manusia butuh menyampaikan gagasan-gagasannya tidak hanya ke suatu komunitas kecil, tapi ke komunitas dunia. Terima kasih kepada para inventor dan innovator yang telah membuat dunia ini begitu luar biasa. Karena ada telepon, kita mengenal kata “halo” di seluruh dunia, dan lebih dari itu, kita telah terhubung ke seluruh belahan dunia.

Referensi: Jones, S., Kovac, R., & Groom F. M. 2009. Introduction to Communication Technologies: A Guide for Non-Engineers. Boca Raton, FL: CRC Press.

10 Oktober 2010

The Real Intelligence vs. The Artificial Intelligence

Pernahkah Anda membayangkan hidup berdampingan dengan robot layaknya di film Star Wars, Robocop, Terminator, Cyborg, atau Transformers? Ternyata tanpa kita sadari, hidup kita saat ini selalu berdampingan dengan robot. Kini robot tidak hanya mucul dalam film-film, tetapi juga ternyata kita gunakan dalam rutinitas sehari-hari yang berhubungan dengan penggunaan alat-alat berbasis komputer.  Anak-anak di era sekarang ini tumbuh dengan budaya komputer. Anak-anak sudah dikenalkan dengan komputer sejak usia sangat dini. Berbagai mainan anak-anak pun kini tidak lepas dari terknologi komputer. Berbagai mainan interaktif terus diciptakan dan dikembangkan. Mungkin Anda pernah mengenal suatu bentuk mainan anak-anak yang cukup terkenal di era 90-an bernama tamagotchi. Ya, tamagotchi adalah suatu bentuk mainan anak-anak asal Jepang yang membuat anak-anak dapat memiliki dan memelihara hewan digital. Artinya, jika para orang tua tidak mengizinkan anak-anaknya memelihara hewan peliharaan di rumah, dengan memberikan tamagotchi, anak-anak tetap dapat memelihara hewan yang mereka inginkan, seperti anjing, kucing, ikan, burung, dan sebagainya, tanpa harus khawatir mengurus makanan dan minumannya, kesehatannya, bahkan kotorannya secara “nyata”. Semuanya terprogram secara digital. Hewan dalam tamagotchi tersebut tetap harus diberi makan, minum, diperhatikan kesehatannya, bahkan diberi “kasih sayang” oleh pemiliknya. Jika tidak diperlakukan dengan baik layaknya hewan sungguhan maka hewan tamagotchi pun akan sakit atau bahkan marah.

Tamagotchi adalah satu dari sekian banyak jenis permainan interaktif lainnya. Anak-anak bebas berpikir bahwa mainan-mainan tersebut seperti “hidup”, tapi bagi orang dewasa mainan tersebut hanyalah sekedar benda atau mesin. Namun, seiring berjalannya waktu dan usia, anak-anak akan sadar bahwa komputer hanyalah sebuah mesin dan tidak memiliki kehidupannya seperti manusia. Seorang psikolog Jean Piaget megatakan bahwa anak-anak mengembangkan teori mereka mengenai bagaimana dunia bekerja, termasuk teori mengenai apa yang dianggap “hidup”, melalui interaksi dengan berbagai obyek di sekitar mereka. Ketika anak-anak berada di usia antara tiga hingga delapan tahun, mereka membuat banyak pertanyaan dalam pikiran mereka, seperti apa itu gerakan? Apa itu angka? Apa itu kehidupan? Dalam pertanyaan terakhir mengenai kehidupan, mereka akan berpikir keras. Di mata anak-anak, komputer yang bersifat reaktif dan interaktif adalah obyek yang berada di perbatasan kehidupan. Dalam hal ini komputer adalah evocative objects bagi anak-anak. Ini mendorong mereka untuk menemukan alasan yang membuat suatu benda hidup dan apa istimewanya dengan menjadi seorang manusia.

Saat ini kita hidup di tengah perkembangan Artificial Intelligence (AI). Artificial intelligence atau “kecerdasan buatan” merupakan suatu sistem berbasis komputer yang dapat berperilaku “cerdas” sesuai standar manusia (http://library.thinkquest.org).  Selama lebih dari tiga dekade, dari awal 1950-an hingga pertengahan 1980-an, seorang ahli matematika berkebangsaan Inggris, Alan Turing, membuat suatu model yang menjadi garis pembatas antara mesin dan manusia. Model ini dikenal sebagai tes Turing. Dalam tes Turing (sering juga disebut Imitation Game), seseorang (Turing  menyarankan mengambil sampel orang rata-rata, bukan seorang ahli) menanyakan pertanyaan melalui komputer, sementara identitas penjawab—manusia atau mesin—akan dirahasiakan. Jika orang tersebut mengira bahwa ia sedang berbicara dengan orang lain (bukan komputer) maka mesin atau program tersebut berhasil melewati tes Turing dan dapat dikatakan memiliki kecerdasan. Namun, pada awal tahun 1980, tes Turing dikritik oleh seorang filsuf John Searle. Dia membantah bahwa program komputer tidak akan pernah mencapai pemahaman yang sebenarnya karena program komputer hanya dapat melakukan hal-hal yang sudah diatur oleh manusia.

Beberapa ahli percaya bahwa program komputer dapat menggantikan peran ahli terapi bagi manusia. Contohnya adalah lewat program artificial intelligence Julia, ELIZA, dan DEPRESSION 2.0 yang telah diatur sedemikian rupa untuk dapat berkomunikasi dengan manusia lewat komputer. Julia, sebagai contoh, mampu menanggapi berbagai pertanyaan yang diajukan oleh manusia. Selain Julia, ada pula Mobots dan Agents. Sementara itu, ELIZA dan DEPRESSION 2.0 bertindak sebagai psikoterapis. Manusia dapat menceritakan segala permasalahan hidupnya kepada  ELIZA dan DEPRESSION 2.0 sehingga seolah-olah mereka sedang berbicara dengan ahli terapi sungguhan. Program-program komputer ini sangat menarik dan diyakini memiliki keunggulan dalam hal biaya (murah), kenyamanan dan stabil. Namun demikian, para pengguna ELIZA atau DEPRESSION 2.0 tidak menganggap program tersebut sebagai manusia atau individu. Pada umumnya para pengguna hanya menganggap program tersebut sebagai diari. Peran ahli terapi sungguhan tetap tidak akan bisa tergantikan. Tentunya bicara pada manusia berbeda dengan bicara pada program komputer atau robot.

Seorang profesor dari Departemen Teknik Elektro dan Ilmu Komputer di MIT, Joseph Weizenbaum, berpendapat bahwa hanya karena suatu program komputer dapat berbicara kepada manusia soal drama Shakespeare, tidak berarti bahwa program tersebut mengerti drama tersebut.  Artinya, komputer hanya dapat memberikan tanggapan terhadap masalah yang dibagi oleh manusia, tapi ia tidak dapat mengerti arti masalah tersebut dan bagaimana rasanya menghadapi masalah tersebut. Hal ini dikarenakan mesin pada dasarnya tidak memiliki perasaan. Semua hal yang diketahui oleh komputer sudah diprogram sebelumnya saat ia dibuat. Hal inilah yang membedakan manusia dengan komputer atau robot. Manusia memiliki perasaan ketika berhadapan dengan orang lain yang sedang berbagi permasalahan hidupnya.

Kemudian dalam perkembangan artificial intelligence ini, para ilmuwan mencoba menciptakan bentuk kreasi lain berupa sesuatu yang juga “hidup”. Para ilmuwan kemudian menciptakan suatu kehidupan buatan atau artificial life (biasa disingkat A-Life). A-life merupakan suatu program dengan sistem di dalamnya yang saling berinteraksi dan terlihat sangat hidup. Kemampuan A-Life ini tidak hanya sekedar dalam hal berkomunikasi, tetapi juga dapat berevolusi dan berekspresi seperti manusia. Jika Anda pernah mendengar atau bahkan bermain game The Sims atau Zoo Tycoon maka kedua game tersebut adalah dua contoh program A-Life. Sebagai contoh, dalam The Sims kita akan merasakan suatu sensasi “mengendalikan” manusia. Manusia-manusia dalam The Sims hidup sebagaimana dalam kehidupan nyata. Mereka berinteraksi dengan manusia lainnya, mereka makan, minum, menonoton televisi, mandi, bahkan menikah. Teknologi A-Life ini sangat menyerupai kehidupan manusia yang sesungguhnya.

Teknologi benar-benar berkembang dengan sangat pesat. Tidak lama lagi adegan-adegan di berbagai film yang menampilkan berbagai robot dengan teknologi canggih dan hidup di tengah-tengah manusia akan benar-benar menjadi kenyataan. Namun, robot tetaplah mesin dan tidak akan bisa menggantikan kedudukan manusia. Robot, seperti tujuan perkembangan teknologi lainnya, diciptakan sebagai perpanjangan tangan manusia. Robot diciptakan untuk membantu kehidupan manusia. Kecerdasan yang ada pada robot hanyalah kecerdasan buatan dan tidak dapat menandingi kecerdasan sesungguhnya yang dimiliki oleh manusia. Secanggih apa pun robot yang diciptakan, sepandai apa pun perilaku yang dilakukan oleh robot, semua itu pada dasarnya kembali pada ide dan kecerdasan manusia yang membuat mesin tersebut sangat cerdas.

Referensi: Turkle, Sherry. 1995. Life on the Screen: Identity in the Age of the Internet, New York: Touchstone.

03 Oktober 2010

Sedikit Cerita

Ada banyak perubahan yang terjadi pada diri saya. Beberapa saya rasa cukup ekstrem, beberapa lainnya selalu membuat kesan dalam ingatan saya. Saya tidak pernah membayangkan saya akan menjadi saya yang sekarang, tapi saya tahu satu hal, saya tidak boleh berhenti bermimpi, bahkan sekalipun saya ingin bertemu seorang Britney Spears atau Beyoncé, well, who knows?  Dan satu hal penting lainnya, saya rasa kita semua punya potensi untuk menjadi lebih dari sekedar "biasa-biasa saja". Oleh karena itu, kenapa harus menjadi "yang biasa-biasa saja" jika kita semua punya kemampuan untuk menjadi luar

Jadilah berbeda. Bukan berarti kita membedakan (memisahkan) dari sesuatu yang lazim dilakukan oleh banyak orang, tapi kita membuat suatu keragaman, kita membuat suatu keunikan yang membedakan antara diri kita dengan yang lain. Orang-orang harus tahu siapa diri kamu. Bukan karena kamu mau "sok tampil", tapi karena memang orang-orang perlu tahu siapa kamu sebenarnya. The world must know who you are.

Because We (100%) Cannot Not Communicate

We cannot not communicate. Ya, suatu ungkapan yang tentu tidak asing baik bagi para mahasiswa maupun sarjanawan ilmu komunikasi. Ungkapan tersebut merupakan aksioma pertama dari lima aksioma dasar komunikasi oleh Paul Watzlawick, Janet Beavin, dan Don Jackson. Suatu pernyataan yang sangat jelas bahwa siapa pun kita, kita tidak mungkin tidak berkomunikasi. Hal inilah yang kemudian menjadi motivasi dasar manusia untuk terus mengembangkan teknologi komunikasi. Manusia berusaha menciptakan berbagai teknologi baru demi menyampaikan atau mengomunikasikan berbagai pesan atau informasi kepada teman, rekan, mitra, saudara, kerabat, kekasih, orang tua, kelompok, masyarakat, dan banyak lagi lainnya. Semua itu dilakukan karena komunikasi merupakan suatu kebutuhan yang baik secara sadar maupun tidak sadar harus terpenuhi. Berbagai permasalahan kemudian muncul ketika komunikasi terbentur masalah ruang dan waktu, tetapi manusia tetap harus berkomunikasi. Ketika berbagai masalah tersebut muncul, saat itu pula mucul kebutuhan terhadap teknologi untuk mempermudah jalannya komunikasi. Saat itulah manusia menciptakan dan terus mengembangkan teknologi untuk mengekstensi kemampuannya menyampaikan informasi.

Saat ini kita hidup di era revolusi komunikasi. Kita semua saat hidup di era film 3-D, era 3G, 3.5G bahkan 4G, era berbagai media sosial, khususnya Facebook™ dan Twitter™, era genarasi PC termutakhir yang dapat menampilkan berbagai tampilan multimedia, era internet, dan masih banyak hal lainnya. Teknologi komunikasi berkembang dengan sangat pesat dan itu semua berpengaruh pada karakteristik dan sistem komunikasi itu sendiri dari masa ke masa. Definisi sistem komunikasi memiliki arti yang sangat luas. Jika kita menelepon seseorang maka sistem komunikasi mencakup si penerima telepon, jalur telepon, dan juga berbagai komponen telepon lainnya. Jadi, suatu sistem komunikasi tidak terbatas pada deskripsi sistem pertukaran informasinya saja, tapi juga mencakup alat-alat komunikasi yang digunakan, aplikasinya, dan efek yang timbul dari hasil produksi, manipulasi, dan pertukaran informasi yang potensial.

Kemudian, berbicara mengenai komunikasi berarti berbicara soal perturkaran informasi, baik sengaja maupun tidak sengaja. Informasi itu sendiri didefinisikan sebagai sekumpulan simbol-simbol yang ketika dikombinasikan dapat menyampaikan atau mengomunikasikan pesan atau makna. Informasi dapat disampaikan oleh siapa pun atau apa pun. Informasi kemudian disampaikan ke suatu medium, seperti telepon, satelit, atau semacamya. Setelah diterima, informasi yang disampaikan akan diterjemahkan lagi ke dalam bentuk atau versi aslinya. Dalam suatu industry komunikasi, definisi informasi dapat semakin diperluas. Informasi tidak hanya berupa program televisi, percakapan telepon, dan penyimpanan film dalam keping DVD. Informasi dapat pula berupa gambar-gambar yang dimanipulasi oleh komputer yang memperlihatkan detil tubuh manusia, dapat juga dalam bentuk perpustakaan digital yang disimpan dalam suatu optical disk yang dapat diakses di rumah dengan komputer.

Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang dinamis dan sangat cepat bukan berarti tidak berpengaruh pada sistem sosial masyarakat. Perkembangan teknologi justru sangat berpengaruh pada struktur sosial dalam masyarakat dan juga menumbuhkan saling ketergantungan antara teknologi, informasi, dan masyarakat. Beberapa teknologi baru justru menimbulkan serangkaian pertanyaan kritis mengenai etika penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari. Revolusi komunikasi juga telah melahirkan kelas sosial global. Di masa lalu, yang menjadi perbedaan khas antara kelompok sosial yang satu dengan lainnya pada umumnya dipengaruhi oleh faktor-faktor ekonomi, politik, dan pendidikan. Namun, saat ini perbedaan tersebut menjadi semakin nyata khususnya jika seseorang tidak memilki informasi atau keahlian dalam menggunakan komputer.

Perkembangan teknologi dari masa ke masa merupakan revisi atau perbaikan dari teknologi sebelumnya. Ada dua hal yang menarik dari dunia komunikasi, yaitu teknologi analog dan digital. Mirabito dan Morgenstern dalam New Communication Technology: Applications, Policy, and Impact menjelaskan mengenai alat transducer. Transducer adalah suatu alat yang mengubah satu bentuk energi ke bentuk energi lainnya. Ketika Anda berbicara melalui microphone, microphone mengubah suara Anda menjadi energi elektrik, atau dalam istilah yang lebih populer, sinyal elektrik. Kemudian, speaker yang juga merupakan sebuah transducer dapat mengubah kembali sinyal tersebut menjadi suara Anda. Transducer mengubah informasi alami menjadi sinyal yang dapat disimpan dan diproses. Transducer bekerja sebagai penghubung antara sistem komunikasi kita dan dunia yang alami.

Kemudian, seperti yang telah disinggung di atas, transducer bekerja dengan mengubah sinyal-sinyal. Suatu gelombang sebagai representasi dari suara Anda, memiliki karakterisitik yang berbeda, yaitu amplitudo dan frekuensi. Amplitudo merupakan tinggi rendahnya gelombang, sepertinya misalnya kekuatan sinyal atau volume suara Anda. Frekuensi, nada suara, dapat diartikan sebagai sejumlah gelombang yang tertangkap dalam satu detik. Satuan dari frekuensi adalah hertz (Hz), yang diambil dari nama Heinrich Hertz. Selain frekuensi dan amplitudo, ada pula yang dinamakan modulasi, noise, dan bandwidth. Modulasi diasosiasikan dengan sistem komunikasi yang kita kenal, seperti AM dan FM pada stasiun radio. Bandwidth merupakan medium yang dibutuhkan oleh transmisi untuk mengalirkan informasi secara tepat, sedangkan noise adalah segala jenis gangguan baik dari dalam maupun luar komponen alat yang mempengaruhi kualitas penyampaian informasi. Konsep lainnya adalah spektrum elektromagnetik yang merupakan keseluruhan sinyal frekuensi elektromagnet dari gelombang radio, sinar X, sampai gelombang kosmik.

Teknologi Digital
Salah satu bentuk revolusi komunikasi adalah teknologi digital. Teknologi digital memiliki dua macam sistem konversi, yaitu analog-to-digital conversion (ADC) dan digital-to-analog converters (DAC). Sistem ADC mengubah sinyal-sinyal analog menjadi sinyal digital. DAC mengubah kembali sinyal-sinyal analog yang telah didigitalisasi kembali ke sinyal analog. Konversi sinyal analog dari perlatan analog ke digital akan memberikan manfaat terhadap proses penyampaian pesan karena sinyal digital memiliki banyak kelebihan yang tidak dimiliki oleh sinyal analog. Salah satu manfaat sinyal digital adalah karena sistem digital dapat diproses melalui komputer. Artinya, sekali sinyal analog didigitalisasi maka sinyal tersebut dapat dimanipulasi melalui kode-kode digital. Keuntungan lainnya adalah multiplexing, yaitu pengalihan sinyal berlipat ganda yang dapat dilakukan dalam sebuah jalur komunikasi tunggal.

Namun, selain soal keunggulan, teknologi digital tetap memiliki beberapa kekurangan, antara lain bahwa proses digitalisasi dapat menghasilkan kesalahan kuantisasi jika level yang digunakan untuk merepresentasikan sinyal analog tidak mencukupi. Selain itu, saat ini, bagaimanapun juga kita hidup di dunia yang analog. Dominasi analog menjadi kerugian bagi teknologi digital karena banyak jenis informasi, seperti telepon, televisi, dan radio yang masih memerlukan ADC dan ACD. Kekurangan atau kerugian lainnya adalah mengenai investasi publik. Oleh karena itu, sebenarnya perubahan atau konversi alat-alat digital pada umumnya telah mengalami evolusi daripada revolusi.

Namun, terlepas dari masalah kelebihan dan kekurangan teknologi digital, manusia terus bergerak ke arah digital. Dunia seolah-olah direncanakan untuk didigitalisasi. Setiap orang memiliki pendapatnya masing-masing dalam melihat teknologi digital. Beragam pandagangan positif atau negatif muncul, tapi teknologi digital telah membawa umat manusia ke dalam peradaban super canggih. Semua itu pada akhirnya kembali kepada suatu kebutuhan yang tidak terelakkan, komunikasi. Ya, karena kita semua 100% yakin bahwa apa pun alasannya dan seberapa keras kita berusaha, kita tidak mungkin tidak berkomunikasi.

Referensi: Mirabito, M.A.M., & Morgenstern, B.L. 2004. New Communication Technology: Applications, Policy, and Impact, Fifth Edition, UK: Focal Press.

02 Oktober 2010

Punya Pin BlackBerry™?

Ada beberapa kejadian menarik yang penulis alami di beberapa minggu belakangan ini. Pertama, di suatu pertemuan pembentukan kepanitiaan, saya berkenalan dengan beberapa orang baru yang akan menjadi rekan kerja saya nanti selama kepanitiaan tersebut berlangsung. Salah seorang dari mereka kemudian menanyakan secara langsung pin BlackBerry™ saya. Yang cukup mengejutkan bagi saya adalah karena saat itu adalah pertama kalinya kami bertemu, baik dia maupun saya saling tidak mengenal secara personal, tapi dengan yakinnya dia langsung menanyakan soal pin, padahal saya tidak memilik BlackBerry™.

Kedua, seminggu yang lalu, saya dan beberapa teman seorganisasi di kampus menghadiri undangan pernikahan mantan ketua umum Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Idonesia tahun 2008 Pandu Utama Manggala di Bogor. Yang menarik dari acara tersebut adalah karena sebagian besar tamu diundang melalui event invitation di Facebook, bukan dengan kartu undangan sebagaimana lazimnya undangan pernikahan.

Ketiga, masih berhubungan dengan pernikahan Pandu Utama Manggala, undangan pernikahan yang cukup ramai di perbincangkan di media-media sosial oleh mahasiswa-mahasiswi FISIP UI tersebut ter-update dengan sangat cepat. Saya dan teman-teman BEM FISIP UI berangkat dari kampus menuju Bogor pada pukul 10.00, tapi pada pukul 09.00 saya sudah melihat foto resepsi pernikahan yang di-upload oleh beberapa orang teman di Twitter™ via Twitpic™ sekitar 15 menit sebelumnya.

Ketiga hal ini menunjukkan adanya perubahan teknologi komunikasi yang luar biasa saat ini. Dulu, orang-orang ketika berkenalan mungkin hanya menanyakan alamat rumah untuk keperluan atau kemungkinan mengirim surat atau bahkan berkunjung. Kemudian ketika adanya telepon, orang-orang menanyakan nomor telepon, kemudian kita mengenal pager, telepon genggam, telepon selular, e-mail, Yahoo! Messenger™, MSN Messenger™, akun Facebook™, Twiter™, hingga BlackBerry Messenger™. Orang-orang kini terhubung satu sama lain dengan teknologi komunikasi yang semakin canggih. Orang-orang menanyakan pin BlackBerry™ bahkan kepada orang-orang yang baru mereka temui dan mereka tidak tahu orang tersebut secara personal. Semua itu karena kebutuhan berkomunikasi. Kemudian, arus informasi di media-media sosial yang semakin luas memberikan manusia kuasa dan kontrol untuk menyebarkan informasi tanpa batas. Dulu orang-orang menghabiskan banyak dana untuk suatu undangan pernikahan, tapi kini dengan memanfaatkan media sosial seperti Facebook™ untuk mengundang banyak orang ke suatu acara, seseorang dapat menghemat dana ke pengeluaran yang minimum. Kini orang-orang dapat berbagi berbagai pengalamannya kapan saja, di mana saja, dan kepada siapa saja secara real time. Kita dapat mengetahui sesuatu terjadi di belahan bumi lain hanya dengan hitungan detik. Ya, itulah teknologi komunikasi saat ini.

Teknologi telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perdaban manusia. Teknologi telah mempermudah hidup manusia. Arnold Pacey dalam tulisannya di The Culture of Technology mengatakan bahwa teknologi itu netral; teknologi itu independen. Artinya, teknologi mampu berdiri sendiri dan dapat menyesuaikan dengan budaya yang berkembang baik dalam diri individu maupun suatu masyarakat. Namun, itu semua tetap tidak berarti bahwa kehadiran suatu teknologi tertentu dapat langsung diterima begitu saja dalam kehidupan masyarakat. Pacey dalam bukunya memberikan contoh mengenai hadirnya kendaraan salju pertama di Amerika Utara yang mengawali suatu era baru dalam dunia olahraga salju. Kendaraan yang dinamakan snowmobile ini dikendarai seperti sepeda motor. Pada perkembangannya, kendaraan yang pada mulanya digunakan untuk sarana angkut di saat musim salju berubah menjadi kendaraan yang diperlombakan dalam suatu cabang olahraga di kompetisi-kompertisi olahraga dunia. Snowmobile berkembang dengan pesat dari yang awalnya hanya digunakan oleh orang-orang Amerika Utara hingga ke daratan Eropa. Ini membuktikan bahwa teknologi dapat diadaptasi oleh siapa pun dengan kebutuhan-kebutuhan yang mendukung untuk dipenuhi dengan hadirnya teknologi tersebut.

Teknologi berkembang. Ya, betul. Namun, dalam praktiknya, berbagai perbedaan pasti ditemukan dalam penemuan dan perkembangan teknologi. Selalu ada pendapat postif dan negatif mengenai suatu teknologi, tapi penulis melihat dari perspektif teknologi sebagai kebutuhan manusia yang mendukung kebutuhan utamanya. Intinya, teknologi bertujuan untuk mempermudah hidup manusia. Namun, pada praktiknya tidak seluruh teknologi diadopsi oleh setiap individu atau masyarakat karena tergantung dari kebutuhannya masing-masing.

Berbicara mengenai teknologi, tentu tidak terlepas dari makna atau definisi teknologi itu sendiri. Pacey menjelaskan teknologi dalam suatu diagram definisi dan praktik teknologi, yaitu terdapat tiga aspek utama yang membentuknya: aspek budaya, aspek organisasional, dan aspek teknis. Yang menarik dari ketiga aspek tersebut adalah bahwa aspek-aspek tersebut memiliki pendukungnya masing-masing. Orang-orang yang berpikir organis atau politis akan berpendapat bahwa aspek organisasional yang paling penting karena hal itu menyangkut kepentingan umum, kepentingan publik, dan hal-hal yang admistratif. Sementara itu ada juga yang mengidentifikasikan dan mengaitkan teknologi dengan aspek teknis. Mereka berpendapat bahwa teknologi muncul karena adanya pemikiran manusia mengenai mesin, teknik, dan ketrampilan lainnya. Ketika teknologi dipandang hanya dari sisi teknis saja maka nilai-nilai budaya dan faktor organisasi dianggap sebagai bagian eksternal saja. Aspek lainnya, yaitu aspek budaya yang fokus pada keyakinan bahwa teknologi ada dan diciptakan bukan untuk menghilangkan suatu budaya melainkan untuk mengembakan budaya tersebut.

Teknologi hadir sebagai perpanjangan tangan manusia. Seorang tokoh, Thomas Lewis, mengemukakan suatu konsep yang disebut halfway technology, yaitu teknologi yang hadir sebagai suatu pemecahan atau solusi terhadap permasalahan, tapi belum sepenuhnya dikuasai oleh manusia sehingga sangat dibutuhkan riset lebih lanjut. Thomas Lewis berpendapat bahwa teknologi harus dipandang dari dari sisinya yang paling positif. Oleh karena itu, diperlukan suatu riset mendalam untuk menemukan jawaban atau sisi terbaik dari teknologi tersebut. Lewis Thomas pernah memimpin suatu riset medis mengenai penggunaan antibiotik dan imunisasi dalam melawan virus. Teknik yang digunakan sangat efektif dan biayanyan relatif terjangkau oleh berbagai lapisan masyarakat. Teknologi antibiotik dan imunisasi inilah yang dapat dikatakan sebagai teknologi tinggi. Di sisi lain, proses transpalantasi dan pengobatan kanker sangat mahal dan masih menggunakan teknologi sederhana. Inilah yang disebut sebagai halfway technology. Transplantasi adalah suatu solusi yang dapat ditawarkan dalam dunia medis, tapi pada praktiknya masih diperlukan banyak riset agar terhindar dari kemungkinan efek negatif dari dilakukannya suatu proses transplantasi. Namun, manusia terus mengembangkan teknologi. Teknologi dari masa lalu hingga kini terus berkembang seiring dengan perkembangan peradaban manusia yang semakin menuju era peradaban digital. Kita hidup berdampingan dengan teknologi. Kita berkomunikasi dengan teknologi. Teknologi secara nyata telah mengekstensikan kemampuan manusia sedemikian rupa sekaligus mengubah gaya serta pola sikap dan perilaku manusia hingga seperti saat ini, dan sama halnya seperti manusia, teknologi terus hidup dan berkembang, tentunya hingga akhir dari peradaban manusia itu sendiri. Pada akhirnya, jika suatu saat seseorang yang bahkan belum kita kenal secara personal menghampiri dan menanyakan pin BlackBerry™ dengan yakin, tentu kita tidak perlu lagi merasa heran.

Referensi: Pacey, Arnold. 2000. The Culture of Technology. Cambridge, MA: The MIT Press