03 Oktober 2010

Because We (100%) Cannot Not Communicate

We cannot not communicate. Ya, suatu ungkapan yang tentu tidak asing baik bagi para mahasiswa maupun sarjanawan ilmu komunikasi. Ungkapan tersebut merupakan aksioma pertama dari lima aksioma dasar komunikasi oleh Paul Watzlawick, Janet Beavin, dan Don Jackson. Suatu pernyataan yang sangat jelas bahwa siapa pun kita, kita tidak mungkin tidak berkomunikasi. Hal inilah yang kemudian menjadi motivasi dasar manusia untuk terus mengembangkan teknologi komunikasi. Manusia berusaha menciptakan berbagai teknologi baru demi menyampaikan atau mengomunikasikan berbagai pesan atau informasi kepada teman, rekan, mitra, saudara, kerabat, kekasih, orang tua, kelompok, masyarakat, dan banyak lagi lainnya. Semua itu dilakukan karena komunikasi merupakan suatu kebutuhan yang baik secara sadar maupun tidak sadar harus terpenuhi. Berbagai permasalahan kemudian muncul ketika komunikasi terbentur masalah ruang dan waktu, tetapi manusia tetap harus berkomunikasi. Ketika berbagai masalah tersebut muncul, saat itu pula mucul kebutuhan terhadap teknologi untuk mempermudah jalannya komunikasi. Saat itulah manusia menciptakan dan terus mengembangkan teknologi untuk mengekstensi kemampuannya menyampaikan informasi.

Saat ini kita hidup di era revolusi komunikasi. Kita semua saat hidup di era film 3-D, era 3G, 3.5G bahkan 4G, era berbagai media sosial, khususnya Facebook™ dan Twitter™, era genarasi PC termutakhir yang dapat menampilkan berbagai tampilan multimedia, era internet, dan masih banyak hal lainnya. Teknologi komunikasi berkembang dengan sangat pesat dan itu semua berpengaruh pada karakteristik dan sistem komunikasi itu sendiri dari masa ke masa. Definisi sistem komunikasi memiliki arti yang sangat luas. Jika kita menelepon seseorang maka sistem komunikasi mencakup si penerima telepon, jalur telepon, dan juga berbagai komponen telepon lainnya. Jadi, suatu sistem komunikasi tidak terbatas pada deskripsi sistem pertukaran informasinya saja, tapi juga mencakup alat-alat komunikasi yang digunakan, aplikasinya, dan efek yang timbul dari hasil produksi, manipulasi, dan pertukaran informasi yang potensial.

Kemudian, berbicara mengenai komunikasi berarti berbicara soal perturkaran informasi, baik sengaja maupun tidak sengaja. Informasi itu sendiri didefinisikan sebagai sekumpulan simbol-simbol yang ketika dikombinasikan dapat menyampaikan atau mengomunikasikan pesan atau makna. Informasi dapat disampaikan oleh siapa pun atau apa pun. Informasi kemudian disampaikan ke suatu medium, seperti telepon, satelit, atau semacamya. Setelah diterima, informasi yang disampaikan akan diterjemahkan lagi ke dalam bentuk atau versi aslinya. Dalam suatu industry komunikasi, definisi informasi dapat semakin diperluas. Informasi tidak hanya berupa program televisi, percakapan telepon, dan penyimpanan film dalam keping DVD. Informasi dapat pula berupa gambar-gambar yang dimanipulasi oleh komputer yang memperlihatkan detil tubuh manusia, dapat juga dalam bentuk perpustakaan digital yang disimpan dalam suatu optical disk yang dapat diakses di rumah dengan komputer.

Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang dinamis dan sangat cepat bukan berarti tidak berpengaruh pada sistem sosial masyarakat. Perkembangan teknologi justru sangat berpengaruh pada struktur sosial dalam masyarakat dan juga menumbuhkan saling ketergantungan antara teknologi, informasi, dan masyarakat. Beberapa teknologi baru justru menimbulkan serangkaian pertanyaan kritis mengenai etika penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari. Revolusi komunikasi juga telah melahirkan kelas sosial global. Di masa lalu, yang menjadi perbedaan khas antara kelompok sosial yang satu dengan lainnya pada umumnya dipengaruhi oleh faktor-faktor ekonomi, politik, dan pendidikan. Namun, saat ini perbedaan tersebut menjadi semakin nyata khususnya jika seseorang tidak memilki informasi atau keahlian dalam menggunakan komputer.

Perkembangan teknologi dari masa ke masa merupakan revisi atau perbaikan dari teknologi sebelumnya. Ada dua hal yang menarik dari dunia komunikasi, yaitu teknologi analog dan digital. Mirabito dan Morgenstern dalam New Communication Technology: Applications, Policy, and Impact menjelaskan mengenai alat transducer. Transducer adalah suatu alat yang mengubah satu bentuk energi ke bentuk energi lainnya. Ketika Anda berbicara melalui microphone, microphone mengubah suara Anda menjadi energi elektrik, atau dalam istilah yang lebih populer, sinyal elektrik. Kemudian, speaker yang juga merupakan sebuah transducer dapat mengubah kembali sinyal tersebut menjadi suara Anda. Transducer mengubah informasi alami menjadi sinyal yang dapat disimpan dan diproses. Transducer bekerja sebagai penghubung antara sistem komunikasi kita dan dunia yang alami.

Kemudian, seperti yang telah disinggung di atas, transducer bekerja dengan mengubah sinyal-sinyal. Suatu gelombang sebagai representasi dari suara Anda, memiliki karakterisitik yang berbeda, yaitu amplitudo dan frekuensi. Amplitudo merupakan tinggi rendahnya gelombang, sepertinya misalnya kekuatan sinyal atau volume suara Anda. Frekuensi, nada suara, dapat diartikan sebagai sejumlah gelombang yang tertangkap dalam satu detik. Satuan dari frekuensi adalah hertz (Hz), yang diambil dari nama Heinrich Hertz. Selain frekuensi dan amplitudo, ada pula yang dinamakan modulasi, noise, dan bandwidth. Modulasi diasosiasikan dengan sistem komunikasi yang kita kenal, seperti AM dan FM pada stasiun radio. Bandwidth merupakan medium yang dibutuhkan oleh transmisi untuk mengalirkan informasi secara tepat, sedangkan noise adalah segala jenis gangguan baik dari dalam maupun luar komponen alat yang mempengaruhi kualitas penyampaian informasi. Konsep lainnya adalah spektrum elektromagnetik yang merupakan keseluruhan sinyal frekuensi elektromagnet dari gelombang radio, sinar X, sampai gelombang kosmik.

Teknologi Digital
Salah satu bentuk revolusi komunikasi adalah teknologi digital. Teknologi digital memiliki dua macam sistem konversi, yaitu analog-to-digital conversion (ADC) dan digital-to-analog converters (DAC). Sistem ADC mengubah sinyal-sinyal analog menjadi sinyal digital. DAC mengubah kembali sinyal-sinyal analog yang telah didigitalisasi kembali ke sinyal analog. Konversi sinyal analog dari perlatan analog ke digital akan memberikan manfaat terhadap proses penyampaian pesan karena sinyal digital memiliki banyak kelebihan yang tidak dimiliki oleh sinyal analog. Salah satu manfaat sinyal digital adalah karena sistem digital dapat diproses melalui komputer. Artinya, sekali sinyal analog didigitalisasi maka sinyal tersebut dapat dimanipulasi melalui kode-kode digital. Keuntungan lainnya adalah multiplexing, yaitu pengalihan sinyal berlipat ganda yang dapat dilakukan dalam sebuah jalur komunikasi tunggal.

Namun, selain soal keunggulan, teknologi digital tetap memiliki beberapa kekurangan, antara lain bahwa proses digitalisasi dapat menghasilkan kesalahan kuantisasi jika level yang digunakan untuk merepresentasikan sinyal analog tidak mencukupi. Selain itu, saat ini, bagaimanapun juga kita hidup di dunia yang analog. Dominasi analog menjadi kerugian bagi teknologi digital karena banyak jenis informasi, seperti telepon, televisi, dan radio yang masih memerlukan ADC dan ACD. Kekurangan atau kerugian lainnya adalah mengenai investasi publik. Oleh karena itu, sebenarnya perubahan atau konversi alat-alat digital pada umumnya telah mengalami evolusi daripada revolusi.

Namun, terlepas dari masalah kelebihan dan kekurangan teknologi digital, manusia terus bergerak ke arah digital. Dunia seolah-olah direncanakan untuk didigitalisasi. Setiap orang memiliki pendapatnya masing-masing dalam melihat teknologi digital. Beragam pandagangan positif atau negatif muncul, tapi teknologi digital telah membawa umat manusia ke dalam peradaban super canggih. Semua itu pada akhirnya kembali kepada suatu kebutuhan yang tidak terelakkan, komunikasi. Ya, karena kita semua 100% yakin bahwa apa pun alasannya dan seberapa keras kita berusaha, kita tidak mungkin tidak berkomunikasi.

Referensi: Mirabito, M.A.M., & Morgenstern, B.L. 2004. New Communication Technology: Applications, Policy, and Impact, Fifth Edition, UK: Focal Press.

0 komentar :

Posting Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.