02 Oktober 2010

Punya Pin BlackBerry™?

Ada beberapa kejadian menarik yang penulis alami di beberapa minggu belakangan ini. Pertama, di suatu pertemuan pembentukan kepanitiaan, saya berkenalan dengan beberapa orang baru yang akan menjadi rekan kerja saya nanti selama kepanitiaan tersebut berlangsung. Salah seorang dari mereka kemudian menanyakan secara langsung pin BlackBerry™ saya. Yang cukup mengejutkan bagi saya adalah karena saat itu adalah pertama kalinya kami bertemu, baik dia maupun saya saling tidak mengenal secara personal, tapi dengan yakinnya dia langsung menanyakan soal pin, padahal saya tidak memilik BlackBerry™.

Kedua, seminggu yang lalu, saya dan beberapa teman seorganisasi di kampus menghadiri undangan pernikahan mantan ketua umum Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Idonesia tahun 2008 Pandu Utama Manggala di Bogor. Yang menarik dari acara tersebut adalah karena sebagian besar tamu diundang melalui event invitation di Facebook, bukan dengan kartu undangan sebagaimana lazimnya undangan pernikahan.

Ketiga, masih berhubungan dengan pernikahan Pandu Utama Manggala, undangan pernikahan yang cukup ramai di perbincangkan di media-media sosial oleh mahasiswa-mahasiswi FISIP UI tersebut ter-update dengan sangat cepat. Saya dan teman-teman BEM FISIP UI berangkat dari kampus menuju Bogor pada pukul 10.00, tapi pada pukul 09.00 saya sudah melihat foto resepsi pernikahan yang di-upload oleh beberapa orang teman di Twitter™ via Twitpic™ sekitar 15 menit sebelumnya.

Ketiga hal ini menunjukkan adanya perubahan teknologi komunikasi yang luar biasa saat ini. Dulu, orang-orang ketika berkenalan mungkin hanya menanyakan alamat rumah untuk keperluan atau kemungkinan mengirim surat atau bahkan berkunjung. Kemudian ketika adanya telepon, orang-orang menanyakan nomor telepon, kemudian kita mengenal pager, telepon genggam, telepon selular, e-mail, Yahoo! Messenger™, MSN Messenger™, akun Facebook™, Twiter™, hingga BlackBerry Messenger™. Orang-orang kini terhubung satu sama lain dengan teknologi komunikasi yang semakin canggih. Orang-orang menanyakan pin BlackBerry™ bahkan kepada orang-orang yang baru mereka temui dan mereka tidak tahu orang tersebut secara personal. Semua itu karena kebutuhan berkomunikasi. Kemudian, arus informasi di media-media sosial yang semakin luas memberikan manusia kuasa dan kontrol untuk menyebarkan informasi tanpa batas. Dulu orang-orang menghabiskan banyak dana untuk suatu undangan pernikahan, tapi kini dengan memanfaatkan media sosial seperti Facebook™ untuk mengundang banyak orang ke suatu acara, seseorang dapat menghemat dana ke pengeluaran yang minimum. Kini orang-orang dapat berbagi berbagai pengalamannya kapan saja, di mana saja, dan kepada siapa saja secara real time. Kita dapat mengetahui sesuatu terjadi di belahan bumi lain hanya dengan hitungan detik. Ya, itulah teknologi komunikasi saat ini.

Teknologi telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perdaban manusia. Teknologi telah mempermudah hidup manusia. Arnold Pacey dalam tulisannya di The Culture of Technology mengatakan bahwa teknologi itu netral; teknologi itu independen. Artinya, teknologi mampu berdiri sendiri dan dapat menyesuaikan dengan budaya yang berkembang baik dalam diri individu maupun suatu masyarakat. Namun, itu semua tetap tidak berarti bahwa kehadiran suatu teknologi tertentu dapat langsung diterima begitu saja dalam kehidupan masyarakat. Pacey dalam bukunya memberikan contoh mengenai hadirnya kendaraan salju pertama di Amerika Utara yang mengawali suatu era baru dalam dunia olahraga salju. Kendaraan yang dinamakan snowmobile ini dikendarai seperti sepeda motor. Pada perkembangannya, kendaraan yang pada mulanya digunakan untuk sarana angkut di saat musim salju berubah menjadi kendaraan yang diperlombakan dalam suatu cabang olahraga di kompetisi-kompertisi olahraga dunia. Snowmobile berkembang dengan pesat dari yang awalnya hanya digunakan oleh orang-orang Amerika Utara hingga ke daratan Eropa. Ini membuktikan bahwa teknologi dapat diadaptasi oleh siapa pun dengan kebutuhan-kebutuhan yang mendukung untuk dipenuhi dengan hadirnya teknologi tersebut.

Teknologi berkembang. Ya, betul. Namun, dalam praktiknya, berbagai perbedaan pasti ditemukan dalam penemuan dan perkembangan teknologi. Selalu ada pendapat postif dan negatif mengenai suatu teknologi, tapi penulis melihat dari perspektif teknologi sebagai kebutuhan manusia yang mendukung kebutuhan utamanya. Intinya, teknologi bertujuan untuk mempermudah hidup manusia. Namun, pada praktiknya tidak seluruh teknologi diadopsi oleh setiap individu atau masyarakat karena tergantung dari kebutuhannya masing-masing.

Berbicara mengenai teknologi, tentu tidak terlepas dari makna atau definisi teknologi itu sendiri. Pacey menjelaskan teknologi dalam suatu diagram definisi dan praktik teknologi, yaitu terdapat tiga aspek utama yang membentuknya: aspek budaya, aspek organisasional, dan aspek teknis. Yang menarik dari ketiga aspek tersebut adalah bahwa aspek-aspek tersebut memiliki pendukungnya masing-masing. Orang-orang yang berpikir organis atau politis akan berpendapat bahwa aspek organisasional yang paling penting karena hal itu menyangkut kepentingan umum, kepentingan publik, dan hal-hal yang admistratif. Sementara itu ada juga yang mengidentifikasikan dan mengaitkan teknologi dengan aspek teknis. Mereka berpendapat bahwa teknologi muncul karena adanya pemikiran manusia mengenai mesin, teknik, dan ketrampilan lainnya. Ketika teknologi dipandang hanya dari sisi teknis saja maka nilai-nilai budaya dan faktor organisasi dianggap sebagai bagian eksternal saja. Aspek lainnya, yaitu aspek budaya yang fokus pada keyakinan bahwa teknologi ada dan diciptakan bukan untuk menghilangkan suatu budaya melainkan untuk mengembakan budaya tersebut.

Teknologi hadir sebagai perpanjangan tangan manusia. Seorang tokoh, Thomas Lewis, mengemukakan suatu konsep yang disebut halfway technology, yaitu teknologi yang hadir sebagai suatu pemecahan atau solusi terhadap permasalahan, tapi belum sepenuhnya dikuasai oleh manusia sehingga sangat dibutuhkan riset lebih lanjut. Thomas Lewis berpendapat bahwa teknologi harus dipandang dari dari sisinya yang paling positif. Oleh karena itu, diperlukan suatu riset mendalam untuk menemukan jawaban atau sisi terbaik dari teknologi tersebut. Lewis Thomas pernah memimpin suatu riset medis mengenai penggunaan antibiotik dan imunisasi dalam melawan virus. Teknik yang digunakan sangat efektif dan biayanyan relatif terjangkau oleh berbagai lapisan masyarakat. Teknologi antibiotik dan imunisasi inilah yang dapat dikatakan sebagai teknologi tinggi. Di sisi lain, proses transpalantasi dan pengobatan kanker sangat mahal dan masih menggunakan teknologi sederhana. Inilah yang disebut sebagai halfway technology. Transplantasi adalah suatu solusi yang dapat ditawarkan dalam dunia medis, tapi pada praktiknya masih diperlukan banyak riset agar terhindar dari kemungkinan efek negatif dari dilakukannya suatu proses transplantasi. Namun, manusia terus mengembangkan teknologi. Teknologi dari masa lalu hingga kini terus berkembang seiring dengan perkembangan peradaban manusia yang semakin menuju era peradaban digital. Kita hidup berdampingan dengan teknologi. Kita berkomunikasi dengan teknologi. Teknologi secara nyata telah mengekstensikan kemampuan manusia sedemikian rupa sekaligus mengubah gaya serta pola sikap dan perilaku manusia hingga seperti saat ini, dan sama halnya seperti manusia, teknologi terus hidup dan berkembang, tentunya hingga akhir dari peradaban manusia itu sendiri. Pada akhirnya, jika suatu saat seseorang yang bahkan belum kita kenal secara personal menghampiri dan menanyakan pin BlackBerry™ dengan yakin, tentu kita tidak perlu lagi merasa heran.

Referensi: Pacey, Arnold. 2000. The Culture of Technology. Cambridge, MA: The MIT Press

0 komentar :

Posting Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.