Welcome to My World!

Welcome visitors! Please enjoy my site and I hope you can get many useful information. If you wish, you may contact me through Facebook, Twitter, or any other social media that I linked on the menu bar above. Thank you.

Die Poskarten

This is my another blog: Die Poskarten. This blog will show you all my postcards collection. If you want to swap a postcard, please don't hesitate to contact me from the menu bar above.

Bonjour à Tous !

"Bonjour à Tous !"is my Tumblr site. Please take a look on it and maybe you can find some funny contents that you will love. You can also follow me on Tumblr to get my updates on the site.

Please Do Not Copy

You are welcome to link to my site and use my resources in your classroom, but please respect my hardwork and do not copy my page or files and add them to your website. Thank you.

Russia Beyond the Headlines in Bahasa Indonesia

Russia Beyond the Headlines, your guide to Russia, a diverse and complex country cannot be understood in the context of stereotypes. Now available in Bahasa Indonesia!

29 Desember 2010

Generasi Dunia Maya, Generasi Jejaring Sosial

Selamat datang di era globalisasi, era dunia maya yang tanpa batas; era Facebook dan berbagai situs jejaring sosial lainnya. Hampir seluruh manusia di dunia saat ini terhubung satu sama lain dengan suatu teknologi yang disebut situs jejaring sosial, khususnya Facebook. Ya, siapa yang tidak mengenal Facebook? Mulai dari anak-anak hingga orang tua pun menggunakan Facebook. Facebook telah menjadi suatu fenomena sosial di tengah masyarakat dunia saat ini. Melalui Facebook seseorang dapat bertemu kembali dengan kawan-kawan lamanya atau bahkan membuat pertemanan baru. Situs hasil karya Mark Zuckerberg ini praktis menyita perhatian dunia. Dunia seakan tersihir dengan hadirnya Facebook. Padahal, Facebook bukanlah situs jejaring sosial yang pertama kali muncul di dunia. Sebelumnya kita juga mengenal Friendster, MySpace, Multiply, dan sebagainya. Namun, ternyata orang-orang di seluruh lebih menyukai Facebook. Bahkan Indonesia termasuk salah satu negara pengguna Facebook terbanyak di dunia.

Lalu sebenarnya ada apa dengan Facebook hingga diminati oleh begitu banyak orang di dunia? Jika kita perhatikan, Facebook membuat individu dapat mengekspresikan diri dengan bebas sesuka mereka. Tak hanya mengekspresikan diri sendiri, namun mereka juga membuat “laporan” tentang diri sendiri melalui status update. Mungkin memberikan “laporan” pribadi di dunia maya bukan suatu hal yang penting, tapi ternyata manusia kadang memiliki sifat untuk “merasa diketahui” oleh banyak orang. Facebook tentunya juga berguna untuk mencari teman-teman lama. Seseorang yang sudah memiliki akun jejaring sosial yang kuat dan luas, misalnya saat SMA, ketika ia pindah ke daerah lain, biasanya akan mencari kembali kawan-kawan lamanya.

Fungsi lainnya dari Facebook adalah untuk menjembatani social capital. Maksudnya, Facebook berguna sebagai penghubung pihak eksternal dan sebagai penyebar informasi ke dunia luar. Contohnya, apabila seseorang ingin mengetahui acara atau kegiatan apa saja yang diselenggarakan dalam waktu dekat, seseorang bisa melihat berbagai jadwal acara atau semacam calendar event di Facebook. Melalui akun Facebook, seseorang pun dapat menyebarkan berbagai informasi, dan orang-orang yang mengunjungi situs tersebut bisa menyebarkannya pada orang-orang lain. Selain itu, fungsi lainnya adalah sebagai media untuk menjaga hubungan kita dengan seseorang. Suatu saat, seseorang akan berpisah dengan teman-teman yang pernah ditemuinya. Facebook bisa menjaga pertemanan tersebut walaupun hanya dengan interaksi virtual di ‘dinding’ Facebook.

Lantas, sebelum bergerak lebih jauh dengan Facebook, apakah sebenarnya yang dimaksud dengan situs jejaring sosial? Dalam jurnal penelitian oleh Danah M. Boyd dan Nicole B. Ellison yang berjudul “Social Network Sites: Definition, History, and Scholarship” dijelaskan bahwa situs jejaring sosial adalah suatu layanan yang memungkinkan seorang individu untuk dapat membangun representasi diri mereka sendiri kepada khalayak umum. Dibentuknya situs jejaring sosial ini karena adanya keinginan untuk menyatukan atau bisa berkomunikasi dengan orang-orang di dunia.  Pada mulanya di tahun 1997, sixdegrees.com  muncul sebagai situs jejaring sosial yang pertama di dunias. Situs ini memiliki kemampuan untuk membuat profil pengguna, menambah teman, dan mengirimkan pesan. Tiga tahun kemudian di tahun 1999 dan  tahun 2000, muncul situs sosial, Live Journal, Lunarstorm, dan Cyword yang memiliki fungsi untuk memperluas informasi secara searah. Lalu pada tahun 2001 muncul Ryze.com yang berguna untuk memperbesar jejaring bisnis.

Situs jejaring sosial pada dasarnya memberikan kebebasan pada setiap pengguna untuk terkoneksi atau berhubungan dengan siapa pun dan di mana pun di berbagai belahan dunia yang juga memiliki situs jejaring sosial, baik orang asing maupun orang yang sudah dikenal sebelumnya. Oleh karena itu situs jejaring sosial juga mampu memperkuat hubungan atau relasi seseorang yang sudah dijalin di kehidupan nyata, melalui dunia maya. Contohnya, ketika kita menjadi teman seseorang di Facebook atau menjadi pengikut (follower) seseorang di Twitter maka kita pun dapat mengetahu perkembangan kehidupan kesehariannya melalui berbagai update status-nya. Kemudian kita pun dapat berinteraksi dengan orang tersbeut melalui fasilitas menuliskan komentar di “dinding” Facebook atau me-mention username orang tersebut di Twitter.

Selain digunakan untuk mempererat relasi dengan orang-orang yang memang kita kenal atau bahkan tidak kita kenal, berbagai situs jejaring sosial, sepeti Facebook dan Twitter juga kerap kali digunakan oleh para selebritas untuk berinteraksi langsung dengan para penggemar mereka. Salah satu selebritas paling terkenal di Twitter antara lain Oprah Winfrey dan Ashton Kutcher yang memiliki jumlah follower terbanyak hingga jutaan. Di Indonesia sendiri, penyanyi Sherina Munaf merupakan salah satu contoh artis dengan follower terbanyak. Dengan adanya Twitter, penggemar merasa lebih dekat ikatannya dengan selebriti yang ia idolakan karena merasa mengetahui kegiatan mereka sehari-hari. Namun, Twitter juga bisa turut menentukan dan menjatuhkan citra seseorang. Salah satu contohnya adalah kasus yang menimpa Luna Maya pada meng-update statusnya yang berhubungan dengan para wartawan infotainment.

Dalam sebuah situs jejaring sosial, pengguna diminta untuk mengisi profil singkat mengenai data diri mereka. Profil ini bisa disesuaikan dengan keinginan pengguna, informasi apa saja yang ingin dia bagikan, dan mana yang tidak. Melalui profil tersebut, seringkali seseorang mendapatkan teman baru, atas dasar ketertarikan yang sama (misalnya memiliki selera musik atau film yang serupa) atau berada dalam jaringan yang sama (misalnya berada dalam jaringan SMA atau universitas yang sama). Dapat dilihat dari contoh-contoh tersebut bahwa situs jejaring sosial memiliki fungsi sosial yang kuat.
           
Namun, sering kali fungsi dasar situs jejaring sosial disalahgunakan karena memungkinkan pengguna untuk mengakses informasi terhadap siapa pun sehingga tidak jarang menimbulkan efek negatif, seperti penipuan. Banyak orang yang membuat akun palsu atau bahkan mengambil identitas orang lain untuk alasan-alasan negatif. Seorang pengguna harus bijak dalam memilah-milih informasi yang hendak disebarkan dalam jejaring sosial serta menyadari konsekuensi dan risiko yang ia hadapi setiap kali ia memutuskan untuk membagi informasi mengenai dirinya.

Kemudian, sedikit mengingat ke belakang, mungkin banyak dari kita yang masih ingat dengan aplikasi mIRC di komputer? Ya, mIRC merupakan salah satu contoh instant messenger berbasis teks. Contoh instant messenger lainnya yang juga kita kenal antara lain seperti Yahoo! Messenger, Google Talk, MSN Messenger, Windows Live Messeger, dan sebagainya. Yahoo! Messenger adalah contoh instant messenger yang cukup populer di dunia. Teknologi ini pada dasarnya memiliki fungsi yang hampir sama dengan situs jejaring sosial, yakni untuk mencari teman baru, menghubungi teman lama, atau pun untuk menjaga social capital. Saat itu, orang-orang bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk chatting, baik dengan orang baru maupun dengan teman lama. Walaupun saat itu lebih terbatas, tapi penggunaan instant messenger cukup digemari di masanya saat itu.

Sementara itu, penelitian yang dilakukan oleh Eszter Hargittai dalam jurnal yang berjudul “Whose Space? Differences Among Users and Non-Users of Social Network Sites” berusaha menjelaskan perbedaan sistematis antara orang-orang yang menggunakan situs jejaring sosial dengan orang yang bukan pengguna situs tersebut. Hasil penelitian berdasarkan data yang didapatkan dari survei yang dilakukan kepada berbagai kelompok dengan fokus beberapa situs jejaring sosial tertentu, seperti Facebook, MySpace, Xanga, dan juga Friendster.  Penelitian ini menghasilkan beberapa temuan unik berkaitan dengan karakter pengguna situs jejaring sosial.

Salah satu temuannya menyatakan bahwa orang-orang yang tidak menggunakan layanan situs jejaring sosial bukan berarti tidak mengenal atau tidak familiar dengan situs tersebut. Mereka yang tidak menggunakan situs jejaring sosial merasa tidak ada hubungan yang sistematis antara latar belakang pengguna situs jejaring sosial dengan pengalamannya dalam penggunaan. Namun, terdapat temuan yang menyatakan bahwa latar belakang yang berbeda dapat mempengaruhi seseorang dalam jenis situs jejaring sosial yang mereka gunakan. Hal ini mungkin didasarkan pada lingkungan mereka, dan orang-orang yang berinteraksi dengan menggunakan situs jejaring sosial tersebut. Misalnya, mahasiswa keturunan Hispanik cenderung memilih untuk menggunakan MySpace, sedangkan mahasiswa Asia dan Amerika lebih jarang yang memilih untuk menggunakan MySpace dan lebih mungkin untuk menggunakan Xanga atau Friendster.

Namun, terlepas dari berbagai fenomena yang muncul akibat lahirnya situs jejaring sosial dan secanggih apa pun situs tersebut hingga mampu mengakomodasi kebutuhan manusia untuk tetap berinteraksi tanpa adanya hambatan jarak, ruang, dan waktu, situs jejaring sosial biar bagaimanapun tetap memiliki kelemahan, yaitu tidak memungkinkan orang untuk berkomunikasi secara face-to-face dengan orang yang dituju. Pada akhirnya, berkembangnya teknologi bukan berarti merubah cara berkomunikasi manusia secara drastis dan membuat manusia tak membutuhkan berkomunikasi langsung. Manusia masih membutuhkan komunikasi langsung (secara tatap muka) karena ada beberapa hal yang tak bisa digantikan dan dilakukan oleh teknologi komunikasi, seperti gestur tubuh dan bahasa-bahasa nonverbal lainnya. Manusia tentunya harus tetap mengantisipasi berbagai dampak negatif dari perkembangan teknologi komunikasi. Manusia sebagai makhluk yang lebih cerdas dan sebagai agen yang mengembangkan teknologi seharusnya dapat mengambil keuntungan dari setiap teknologi yang pada dasarnya diciptakan untuk mempermudah hidup manusia.

Referensi: Boyd, d. m., & Ellison, N. B. (2007). Social Network Sites: Definition, history, and scholarship. Journal of Computer-Mediated Communication, 13(1), article 11. http://jcmc.indiana.edu/vol13/issue1/boyd.ellison.html

Hargittai, E. (2007). Whose Space? Differences among Users and Non-Users of Social Network Sites. Journal of Computer-Mediated Communication, 13(1), article 14. http://jcmc.indiana.edu/vol13/issue1/hargittai.html

28 Desember 2010

Siap Terjun di Dunia Media, Siap Tahu Aturannya

Berbicara mengenai komunikasi berarti berbicara mengenai media. Media kini sudah menjadi bagian dari hidup manusia yang sudah tidak dapat terpisahkan. Sejak kecil, seorang anak sudah dikenalkan dengan media sebagai bentuk sosialisasi. Setiap hari dan setiap saat kitas selalu berhubungan dengan media. Salah satu bentuk media yang paling dekat dengan hidup masyarakat adalah media massa. Media massa, sesuai namanya, dapat diartikan sebagai media penghubung atau media komunikasi antara pemerintah dengan masyarakat. Masyarakat memperoleh segala macam pengetahuan mengenai berita dan informasi yang terjadi setiap hari melalui berbagai jenis media, baik cetak maupun elektronik, yang dibuat oleh para jurnalis.

Pada tahun 1999 lalu, pascakelahiran UU No. 40 Tahun 1999 tentang pers, pers Indonesia dapat dikatakan menerima kado yang sangat diinginkan, yaitu kebebasan. Kado ini tentunya sangat istimewa karena selama 30 tahun lebih kepemimpinan Orde Baru segala bentuk  kebebasan berpendapat dan berpolitik, terutama untuk pers, merupakan sesuatu yang sangat sulit di negeri ini. Terkekangnya dunia pers Indonesia saat itu seperti yang dinyatakan oleh Veven Wardhana (Koran Tempo, 28 Januari 2002) setidaknya bermuara pada dua permasalahan pokok. Pertama, karena struktur politik yang sangat otoriter terhadap distribusi informasi. Kedua, terlalu besarnya pengaruh pemilik modal besar dalam industri pers (barrier to entry) sehingga struktur oligopoli secara tidak langsung terbentu, sehingga selama itu pula pers belum mampu berkontribusi banyak dalam proses demokratisasi.

Wacana mengenai bagaimana pers Indonesia berkembang pesat pasca-1999 tentu tidak jauh dari realitas lapangan mengenai ledakan kuantitas perusahaan pers. Hal ini tak merupakan dampak nyata dari kebebasan berpolitik yang diberikan oleh pemerintah.

Namun, ternyata tidak semua kisah kebebasan pers yang sejalan dengan meningkatnya kuantitas perusahaan pers ini berdampak positif. Karena selama itu pula berbagai penyimpangan pun terjadi. Penyimpangan tersebut secara tidak langsung tertuju pada fenomena kebebasan pers yang sering kali dikatakan kebablasan. Fenomena kebablasan pers saat ini setidaknya dapat dipandang dari beberapa kasus seperti pornografi dan pemberitaan yang provokatif yang dihadirkan media. Kasus pornografi yang sempat marak, seperti terbitnya Majalah Playboy 2006 lalu, penerbitan yang juga banyak menuai pro-kotra di dalam masyarakat. Walaupun majalah Playboy akhirnya terbit jauh lebih soft daripada versi aslinya di Amerika, teapi tetap saja, citra Playboy sebagai media porno tidak dapat ditutupi, dan hal itulah yang menjadi masalah. Selain itu, pemberitaan provokatif begitu mudahnya muncul seperti: Bush Babi Buta, Amerika Setan! atau berbagai gaya bahasa sarkastis lainnya yang sering kali digunakan. Padahal sangat jelas bahwa pers tidak boleh menyiarkan informasi atau gambar yang dinilai dapat menyinggung rasa kesopanan individu atau kelompok tertentu.

Kebebasan pers adalah suatu hal yang diinginkan oleh semua pihak. Namun, bagaimanapun juga kebebasan tersebut tetap harus berjalan pada kebebasan yang bertanggungjawab. Walaupun tidak bertanggungjawab kepada negara, pers memiliki tanggungjawab yang lebih besar kepada publik. Namun, kemudian yang juga menjadi masalah adalah ketika pers melanggar aturan-aturan baik dalam perundang-undangan maupun dalam kode etik, sering kali masalah-masalah tersebut tidak menggunakan mekanisme pelaporan sebagai mana mestinya, yaitu ke Dewan Pers terlebih dulu. Sering kali kasus-kasus pers langsung dibawa ke pengadilan, dan tidak sedikit pula kasus-kasus pers yang terjadi diselesaikan dengan tidak mengacu pada UU Pers. Hal ini tentu menjadi bertentangan dengan tujuan dari dibuatnya regulasi pers itu sendiri, yaitu mengatur segala hal yang berhubungan dengan pers Indonesia. Menurut Dewan Pers, berbagai gugatan hukum terhadap sejumlah media massa yang semakin terlihat menjadi sarana intimidasi terhadap pers, wartawan dan karya jurnalistik di Indonesia.

Berdasarkan data yang didapat dari detik.com, sejumlah kasus pers yang diputus di pengadilan tingkat pertama mengindikasikan tidak proporsional. Misalnya, vonis US$ 1000 yang dijatuhkan kepada Koran Tempo, Trust (Rp 1 miliar) serta dua wartawan Rakyat Merdeka yang divonis enam bulan penjara. Selain itu, Dewan Pers merasa prihatin dengan proses pengadilan Majalah Tempo atas gugatan Tomy Winata terhadap laporan yang berjudul 'Ada Tomy di Tenabang'. Tuntutan hukuman dua tahun kepada tiga wartawan majalah itu menyinggung rasa keadilan. Hal itu mengingat Tempo sebagai perusahaan telah divonis bersalah oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus) dan harus membayar Rp500 juta untuk laporan tersebut. Dengan demikian, Tempo berpotensi mendapat hukuman ganda, denda dan penjara apabila hakim mengabulkan tuntutan jaksa. Hal yang baru terjadi tidak lama ini adalah kasus Erwin Arnada, Pimpinan Redaksi Majalah Playboy Indonesia, yang dijatuhi hukuman pidana penjara dua tahun oleh Mahkamah Agung. Namun, dalam pelaksanaan peradilan, Erwin dijatuhi pasal dalam KUHP, bukannya mengacu pada UU Pers. Padahal, Erwin Arnada adalah Pimpinan Redaksi Majalah Playboy Indonesia, dan Majalah Playboy merupakan suatu bentuk karya jurnalistik.

Berbagai kasus di atas adalah sebagian kecil dari kasus media yang terkait dengan ranah hukum dan etika. Oleh karena itu perlu adanya regulasi yang mengatur media. Sistem regulasi media dibedakan menjadi dua, kebijakan media dan hukum media. Dalam menyelesaikan kasus-kasus tersebut dibuatlah sebuah kebijakan yang berisi tentang kebijakan media. Kebijakan media berisi pandangan pemerintah dan masyarakat dalam rangka mengatur media agar media bisa memberikan yang terbaik untuk masyarakatnya. Namun, kebijakan media seringkali disahkan menjadi hukum agar dapat mengikat perusahaan dan masyarakat secara legal. Sementara, hukum merupakan aturan yang dibuat oleh legislatif, dilaksanakan oleh eksekutif, dan diawasi oleh yudikatif. Hukum media, sementara itu, akan lebih mengarah pada keputusan individu yang diambil apabila regulasi umum tidak dapat menjawab permasalahan. Pada dasarnya hukum dan kode etik sama-sama berisi sejumlah aturan, hanya saja pelanggaran terhadap kode etik tidak menimbulkan sanksi hukum dan lebih ke sanksi sosial, seperti pengecualian atau pencabutan hak.

Dewasa ini, banyak perusahaan media cenderung memilih untuk mengontrol badannya sendiri di samping tunduk pada aturan hukum. Hal ini yang dikenal dengan self-regulation. Self-regulation merupakan aturan yang dibuat oleh komunitas media dan berlaku bagi komunitas tersebut. Di dalam self-regulation inilah terdapat code of ethics atau code of professional conduct. Contoh self-regulation misalnya adalah aturan mengenai siaran televisi, radio, dan telekomunikasi massa yang dibuat oleh Federal Communication Commission (FCC) di Amerika.

Di era modern saat ini, mudah sekali pemilik modal memonopoli kepemilikan media. Di Amerika Serikat misalnya, stasiun televisi sempat dioligopoli oleh CBS, NBC, dan ABC pada tahun 1950-an. Monopoli dan oligopoli media ini dapat menyebabkan keseragaman isi media dan menurunkan kualitas isi media tersebut. Padahal, untuk memajukan masyarakat, perlu adanya variasi isi dan perbedaan opini atau sudut pandang agar dapat membuka pikiran publik. Oleh karena itu, dibuatlah regulasi yang mengatur tentang kepemilikan modal dan kepemilikan media. Di Amerika, The Communications Act of 1934 mengatur mengenai keterbatasan kapasitas frekuensi dan monopoli perusahaan telekomunikasi AT&T. The 1996 Telecommunications Act kemudian memicu kelahiran televisi kabel dan meregulasi kepemilikan perusahaan dan pornografi di internet.

Isu etika media dalam industri musik, film, dan televisi menjadi perdebatan karena industri tersebut dituduh memberi dampak negatif, tetapi pihak industri menyatakan khalayak penonton adalah pihak yang seharusnya bertanggungjawab menyaring isi media yang mereka konsumsi. Dalam public relations, etika diperlukan dalam menghadapi kebutuhan perusahaan dan publik. Dalam periklanan, pemasar perlu memperhitungkan nilai moral, tidak menipu, atau menampilkan konten kekerasan. Begitu pula halnya dalam internet, hak kekayaan intelektual sampai saat ini masih menjadi perdebatan karena kemudahan mengunduh karya seseorang.

Keberadaan hukum dan etika dalam dunia komunikasi memang sangat diperlukan walaupun dalam praktiknya masih jauh dari harapan. Kedua aspek ini merupakan alat-alat yang dapat melindungi konsumen dari eksploitasi media. Keduanya juga dapat menuntun media untuk selalu berada di jalur yang benar dan terus bertanggungjawab secara moral pada masyarakat. Hukum dan etika ini juga semakin penting posisinya, terutama setelah munculnya internet. Dengan adanya hukum dan etika, para pengguna internet akan bisa lebih waspada dan menghindari untuk menjelek-jelekkan orang lain, tidak meng-hack dan merusak situs orang lain, serta tidak mengganggu privasi orang lain.

Jadi, ketika kita terjun ke dunia media atau bahkan menjadi khalayak aktif yang mengonsumsi media, sudah seharusnya kita mengetahui mengenai hukum dan etika dalam media. Mengetahui hal-hal tersebut akan menuntun kita pada penggunaan media yang tepat guna dan tidak merugikan pihak mana pun. Kita pun sebagai pengguna media dapat berperan aktif dalam ikut memilah-milih mana media yang baik dan mana media yang tidak baik untuk dikonsumsi. Pada akhirnya, kita yang memilih, kita yang menentukan. Namun, sebelum memilih dan menentukan, pastikan diri kita terbekali dengan pengetahuan seputar hukum dan etika media.

Referensi: Straubhaar, Joseph & LaRose, Robert. 2004. Media Now: Communications Media in the Information Age. Belmont, CA: Wadsworth.

Isu-isu dalam Perkembangan Teknologi Komunikasi

Di masa-masa pesatnya perkembangan teknologi komunikasi saat ini, dapat kita lihat dan juga rasakan bahwa isu-isu yang menerpa atau isu-isu yang berkaitan dengan perkembangan teknologi juga semakin berkembang. Ada banyak hal terkait isu-isu politik, ekonomi, sosial, dan budaya yang berkaitan erat dengan perkembangan teknologi. Jika kita sedikit melihat ke belakang pada saat awal penemuan media cetak yang membuat masyarakat dapat membaca dan mendapat pengetahuan dengan bebas. Pada awalnya, media cetak hanya boleh digunakan untuk kepentingan politik dan para petinggi agama saja. Mereka yang dapat mengakses buku-buku pun hanya orang-orang tertentu. Hingga akhirnya muncul First Amendment di Amerika merupakan perwujudan dari freedom of speech bagi media atau pers. First Amendment muncul karena pers merasa perlu adanya kebebasan baik bagi individu maupun media dalam sistem politik dan masyarakat Amerika untuk membangun masyarakat yang lebih terbuka tanpa adanya intervensi atau kepentingan dari pihak mana pun.

Bicara soal politik dan komunikasi memang merupakan dua hal yang erat berkaitan. Tanpa suatu strategi komunikasi, politik tidak akan berjalan. Demikian pula dengan komunikasi; komunikasi pun lahir karena adanya taktik dalam perebutan kekuasaan secara politis. Politik memang identik dengan perebutan dan pertahanan kekuasaan. Oleh karena itu, seringkali komunikasi dilakukan untuk mencapai kekuasaan tersebut. Contoh paling sederhana misalnya dalam teknik komunikasi yang paling mendasar, yaitu retorika, atau public speaking. Teknik berbicara ajaran Aristoteles ini digunakan dalam bidang politik untuk merebut simpati masyarakat atau sebagai metode agar masyarakat terpengaruh dan menyetujui apa yang dikatakan oleh para politisi. Pada perkembangannya sering kali komunikasi dijadikan alat sebagai propaganda politik, apalagi dengan berkembangnya media-media baru komunikasi saat ini.

Di Indonesia, sementara itu, pada masa-masa berkuasanya Orde Baru sempat terjadi kebebasan pers, tapi kemudian dalam perkembangannya pers dibelenggu lagi, bahkan tidak sedikit yang dibredel jika dianggap “membahayakan” pemerintah. Hal ini berkaitan dengan isu-isu politik dan media. Departemen Penerangan didirikan sebagai departemen yang menentukan mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh media. Namun, kini pada masa reformasi, kebebasan pers dijamin melalui UU Pers tahun 1999. Dampak dari dikeluarkannya undang-undang tersebut adalah banyak bermunculannya media cetak dan penyiaran baru dan tidak ada lagi pembredelan media oleh pemerintah.

Selain isu-isu politik, isu-isu ekonomi juga muncul seiring dengan berkembangnya teknologi komunikasi. Dalam bidang ekonomi, media dianggap sebagai bisnis yang sangat menjanjikan. Apalagi masyarakat mulai menyadari akan pentingnya memperoleh informasi.

Isu ekonomi yang terkait dengan perkembangan teknologi komunikasi yang tidak kalah penting lainnya adalaha bahwa perkembangan teknologi telah mengubah cara masyarakat bertransaksi. Hal ini terlihat dengan semakin maraknya e-commerce yang berkaitan dengan adanya layanan e-banking, e-mall, dan fasilitas yang menunjang perekonomian lainnya. Toko-toko “maya” atau online shop pun berkembang dengan sangat pesat dan seiring dengan berbagai kasus penipuan terkait dengan hal tersebut. Selain itu berkembangnya teknologi komunikasi juga berdampak pada pelanggaran hak cipta atau hak kekayaan intelektual yang menjadi hak seseorang atau kelompok yang memiliki suatu karya seperti lagu, tulisan, atau film, sehingga penggunaan karya mereka tanpa izin membuat mereka rugi secara finansial. Apalagi pembajakan karya semakin dipermudah dengan teknologi yang semakin canggih. Kasus pembajakan ini merupakan suatu kasus yang sampai sekarang belum ada pemecahan pastinya. Pembajakan dalam perkembangan teknologi saat ini dapat berupa file sharing, sehingga konten-konten dengan hak cipta dapat diunduh oleh jutaan orang dari berbagai belahan dunia dengan mudahnya. Tentu saja hal ini sangat merugikan perekonomian, terutama pihak yang terkait langsung dengan konten dan hak cipta.

Dalam bidang sosial dan budaya, media telah dianggap sebagai teman sehari-hari masyarakat. Bahkan, lebih dari itu, konsumsi terhadap media sudah dianggap menjadi suatu kebutuhan yang harus dipenuhi. Mungkin kita akan bertanya-tanya, apa jadinya hidup kita sekarang ini, di dunia yang serba canggih bila kita tidak memiliki akses internet, tidak ada telepon selular, tidak ada komputer atau laptop, tidak ada televisi atau radio, dan bahkan tidak ada koran. Tentu ketiadaan barang-barang tersebut akan membuat hidup kita jauh dari keadaan manusia era modern saat ini. Manusia butuh mengonsumsi media. Ini berarti ada perubahan dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat.

Salah satu isu terkait sosial dan budaya adalah isu seks dan pornografi. Kemudahan akses internet dan isi media yang sering kali tidak mendidik dan tidak ada sensor mempengaruhi perilaku masyarakat. Apalagi jika menyangkut anak-anak sebagai korban pelecehan seksual. Meskipun sudah diatur dalam berbagai peraturan, tapi kerap kali media-media porno masih muncul di tengah masyarakat, dan hal masalah yang muncul kemudian adalah karena media tersebut mudah diakses masyarakat. Selain itu, media yang berisi kekerasan juga berpotensi ditiru oleh anak-anak secara tidak langsung atau tanpa disadari. Masyarakat atau khususnya anak-anak sering kali disuguhi berbagai adegan kekerasan dalam media yang memberikan pengaruh di alam bawah sadar mereka, sehingga suatu saat nanti mereka berpotensi untuk melakukan kekerasan.

Teknologi komunikasi telah banyak mengubah pola perilaku dan komunikasi individu. Satu hal yang lazim kita lakukan saat ini adalah tentang “percakapan maya”. Dulu seseorang harus bertatap muka langsung untuk berkomunikasi dengan orang lain, tapi sekarang cukup menekan tombol telepon, atau menyambungkan komputer dengan internet, seseorang dapat langsung mengobrol satu sama lain, bahkan melihat wajahnya. Dulu seseorang harus menulis surat untuk menyampaikan pesan kepada orang yang berada jauh darinya dan untuk menyampaikan pesan tersebut memakan waktu dua sampai tiga hari atau bahkan lebih. Namun, sekarang cukup dengan mengetik di keyboard ataupun handphone untuk mengirim SMS atau e-mail.

Media-media komunikasi yang ada saat ini memang sangat memudahkan interaksi kita dengan orang lain, tapi di sisi lain juga mengurangi kualitas hubungan seseorang. Hal ini disebabkan perbedaan pesan yang disampaikan ketika seseorang bertatap muka dengan melalui tulisan atau suara. Ada pesan-pesan nonverbal, seperti raut wajah atau bahasa tubuh lainnya yang sebenarnya sangat penting dalam komunikasi. Hal inilah yang tidak dapat disampaikan oleh media-media tersebut, bahkan teknologi video call yang memungkinkan pengguna untuk saling bertatap muka melalui layar, tetap tidak dapat mampu menyampaikan pesan nonverbal tersebut secara maksimal.

Akibatnya, teknologi secara tidak langsung turut berperan dalam mempengaruhi nilai-nilai budaya. Berawal dari penggunaan teknologi komunikasi, yang lama kelamaan menjadi kebiasaan, dan kebiasaan yang semakin berkembang menjadi sebuah budaya. Oleh karena itu, terdapat beberapa pergeseran nilai-nilai budaya akibat perkembangan teknologi. Akses terhadap media komunikasi membawa informasi-informasi yang membuka gerbang untuk pertukaran nilai budaya. Maraknya film-film Hollywood masuk ke Indonesia. Film-film produksi Disney pun tidak sedikit menghiasi layar kaca rumah kita. Begitu pula dengan media cetak. Berbagai majalah-majalah yang menampilkan fashion dan budaya-budaya luar lainnya pun marak dan sangat diminati oleh remaja Indonesia saat ini. Para remaja pun terkonstruksi pikirannya bahwa baju-baju seperti yang ada di majalah itulah baju yang seharusnya dipakai saat ini. Hal ini pun tentu berimbas pada budaya Indonesia, baik disadari maupun tidak.

Perkembangan teknologi dan media sesungguhnya memberikan berbagai kontribusi positif bagi perkembangan aspek-aspek lainnya. Akan tetapi, semakin berkembangnya suatu teknologi pasti akan mengubah pola hidup dan aspek-aspek kehidupan manusia. Perubahan terhadap pola hidup dan aspek-aspek kehidupan manusia ini pun tentunya tidak jauh dari hal-hal yang berhubungan dengan masalah politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Lantas, apakah itu berarti kita tidak perlu mengadopsi teknologi? Bukankah dengan mengadopsi suatu teknologi dapat berpotensi terhadap munculnya permasalahan-permasalahan baru. Memang benar, tapi bukan berarti kita tidak mengadopsinya sama sekali. Teknologi diciptakan untuk mempermudah hidup manusia. Dalam rangka mempermudah kehidupan manusia tersebut, tentunya akan muncul berbagai masalah baru, dan itu adalah suatu hal yang wajar. Semua itu kembali lagi pada pribadi kita masing-masing, bagaimana kita ingin menyikapinya? Apakah  kita mau mengadopsi teknologi atau menjadi orang-orang yang antiteknologi? Saya memilih untuk tetap mengadopsi teknologi dan berhadapan dengan segala konsekuensi yang mungkin akan terjadi.

Referensi: Straubhaar, Joseph & LaRose, Robert. 2004. Media Now: Communications Media in the Information Age. Belmont, CA: Wadsworth.

Teknologi Penunjang Public Relations dan Advertising

Kata public relations (PR) dan advertising adalah dua kata yang tentunya tidak asing lagi bagi kita. Apalagi dalam dunia komunikasi, kedua hal tersebut menjadi satu bidang studi tertentu yang banyak diminati oleh banyak mahasiswa. Di dunia kerja pun, industri PR dan periklanan pun sama larisnya dan saling melengkapi. Namun, di balik itu, ternyata ada sesuatu antara PR dan advertising. Ya, ada apa antara PR dan advertising? Baik PR maupun advertising atau periklanan adalah dua industri yang sebenarnya serupa, tapi tak sama. Kedua industri tersebut sama-sama mempromosikan, menjual, atau memasarkan sesuatu. Hanya saja apa yang mereka jual berbeda. Pada industri periklanan, pemasar akan menjual barang dan jasa (prdoduk), sedangkan di  industri PR, praktisinya akan menjual image atau citra dari organisasi tempat dia bernaung.

Oleh karena baik PR maupun periklanan sama-sama ingin menjual sesuatu maka diperlukan suatu strategi komunikasi dan perangkat teknologi yang tepat untuk menjangkau khalayaknya. Kini, dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih, kedua industri ini pun saling menyesuaikan diri dan memanfaatkannya dengan sangat baik untuk berkomunikasi dengan kahalayaknya. Memang, pada mulanya, para praktisi PR dan periklanan hanya menggunakan peralatan yang sangat sederhana dalam menjalankan aktivitas pekerjaannya. Namun, seiring berkembangnya teknologi, maka teknologi yang digunakan oleh PR dan periklanan pun terus berkembang. Perkembangan itu tampak dengan munculnya teknologi dan media baru yang lebih efektif dan efisien. Salah satu teknologi yang menunjang perkembangan PR maupun advertising adalah Web 2.0 yang merupakan suatu bentuk teknologi baru yang menitikberatkan pada aspek interaktifitas yang ditandai dengan adanya pertisipasi yang aktif dai setiap individu. Berikut ini adalah bahasan mengenai perkembangan teknologi dalam bidang komunikasi pada ranah PR.

Video News Release (VNR)

VNR adalah sebuah video yang diproduksi oleh perusahaan PR, agensi periklanan, agensi pemasaran, perusahaan-perusahaan swasta, dan departemen pemerintah yang bertujuan untuk menyampaikan informasi, membentuk opini publik, mempromosikan atau mempublikasikan produk barang dan jasa komersil (goods and services) atau untuk mempromosikan seorang tokoh atau figur. VNR ini merupakan sebuah teknologi yang memberikan layanan penyiaran berbagai macam informasi, termasuk berita di dalamnya, di mana semua informasi ini telah siap siar dan tanpa dikenakan biaya. Berita yang disiarkan di sini pada umumnya merupakan berita yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat, misalnya kesehatan, travel, pendidikan, olah raga, dan lain-lain. Berita ini ditampilkan dalam bentuk video yang berdurasi antara 90–120 detik.

Webcast

Webcast pertama kali diperkenalkan ke publik oleh Brian Raila pada tahun 1989. Webcast merupakan suatu bentuk produksi penyiaran dengan basis web yang digunakan untuk streaming. Jenis produksi penyiaran yang dilakukan biasanya berbentuk video, audio, teks, dan gambar. Secara sederhana, webcast adalah teknologi siaran berbasiskan internet dengan pesan berupa audio atau video. Penggunaan webcast biasanya lebih banyak dimanfaatkan untuk streaming video. Keunggulan webcast adalah karakteristik “buffered”, yang artinya video atau bentuk siaran lainnya dapat disimpan, kemudian dapat diakses lagi sesuai keinginan kita. Webcast juga biasanya digunakan oleh praktisi PR dalam acara-acara konferensi pers, seperti dalam rangka memperkenalkan perusahaannya ke masyarakat luas.

Edited B-Roll Package
Edited B-Roll Package hampir seperti VNR, namun perbedaanya terletak pada kemampuan yang dimilikinya dalam menayangkan video dengan durasi tiga sampai lima menit yang belum diedit dan disertai pula dengan skrip. Kelebihan dari Edited B-Roll Package ini adalah tidak membutuhkan biaya lebih untuk proses pengeditan. Selain itu, Edited B-Roll Package memakai tampilan yang berguna dalam membantu proses pengeditan video.

Satelite Media Tour (SMT)
SMT merupakan suatu bentuk teknologi yang memiliki kemampuan untuk menyiarkan suatu program acara secara langsung hingga ke 15 sampai 25 televisi sekaligus, dalam rentang waktu lebih kurang tiga sampai empat jam di mana pun kita berada. SMT biasanya digunakan oleh perusahaan-perusahaan besar untuk “menampilkan” seorang ahli dengan maksud untuk mendapatkan respons yang spesifik dari pesan yang disampaikan. Ahli-ahli yang ditampilkan pada umunya merupakan praktisi PR handal di perusahaan tersebut. Dengan adanya teknologi SMT, para praktisi PR hanya perlu melakukan taping di salah satu studio siaran yang kemudian di-relay ke stasiun lainnya. Pada perkembangannya, SMT terus berkembang sampai ke bentuk yang paling baru dengan memanfaatkan penggunaan internet dalam melakukan penyiaran. Teknologi baru ini dikenal dengan E-SMT.

Interactive News Release
Interactive News Release ini merupakan suatu teknologi yang mengunakan layanan e-mail atau website dalam menyiarkan berita atau informasinya kepada masyarakat luas. Dalam interactive news release, masyarakat dapat berhubungan langsung dengan narasumber sehingga menimbulkan komunikasi dua arah dengan cara masuk ke link-link yang diberikan. Link-link yan g diberikan ini juga dilengkapi dengan foto dan brosur juga sejumlah situs yang terkait dengan informasi atau berita tersebut.

Eletronic Press Kits (E-Kits)
E-Kits adalah bentuk elektronik dari press kits tradisional dan diproduksi dengan bentuk CD. Dalam bidang bisnis, E-Kits pada umumnya ditujukan sebagai media kit atau press release elektronik atau online. Biasanya digunakan untuk mepromosikan figur dan produk komersial via media massa.  Pesan-pesan dalam E-Kits pun selalu dapat di-update tanpa perlu mencetak ulang press release-nya. Hal ini lah yang dinilai sebagai keuntungan dengan menggunakan E-Kits bagi praktisi PR.

Blog atau Weblog
Blog merupakan salah satu bentuk media online yang memungkinkan pemiliknya menuliskan catatan pengalaman pribadi, opini, baik berupa tulisan maupun gambar yang bisa terus diperbaharui dan diakses melalui internet. Kini blog sudah menjadi media yang umum diantara pengguna internet, termasuk praktisi PR. Blog sangat berguna untuk membantu para prakatisi PR mengetahui peristiwa atau isu-isu terhangat yang terjadi di lingkungan organisasinya. Blog dapat berfungsi sebagai sumber informasi, media publisitas dan promosi. Keunggulan blog adalah karena sifatnya yang interaktif. Publiknya dapat berkomentar terhadap suatu isu atau berita. 

Online Media Database
Online Media Database merupakan suatu teknologi yang berisikan beragam informasi dari banyak reporter di seluruh Amerika Serikat dan seluruh dunia. Database ini berisikan informasi yang memuat alamat, riwayat hidup, dan hal-hal lainnya yang digunakan oleh para praktisi PR dalam meningkatkan usahanya dalam menjalin hubungan dengan masyarakat luas.  Selain itu, database ini juga dapat berfungsi untuk mengirim fax, e-mail atau pun riset individu.

Online Tracking and Monitoring Systems
Teknologi ini digunakan oleh para praktisi PR dalam memantau keberadaan dan perkembangan media dan kompetitornya, serta masyarakat luas. Dengan teknologi ini maka bisa didapat perkembangan media, posisi kompetitor, juga kebutuhan klien maupun karyawan mereka. Teknologi ini pun semakin mempermudah pekerjaan dibidang PR karena  pelacakan seperti ini lebih efisien jika dibandingkan palacakan secara konvensional (riset).

Lalu, bagaimana dengan dunia periklanan? Di dunia periklanan pun dalam perkembangannya ditunjang oleh perkembangan teknologi yang ada. Dalam industri periklanan, aplikasi teknologi yang digunakan juga terus berkembang demi mepromosikan dan memasarkan produk atau pun brand. Teknologi yang digunakan dalam industri periklanan antara lain adalah: Cyberspace, Viral Marketing atau teknik pemasaran untuk mempromosikan suatu produk secara terus-menerus dengan tujuan agar khalayak menjadi sangat familiar dengan produk itu sehingga terjadi peningkatan kesadaran (awareness) dari khalayak terhadap produk tersebut. Selain itu ada pula Database Marketing yang merupakan kumpulan database individu yang digunakan oleh perusahaan-perusahaan untuk tetap bisa memberikan update terbaru dari produk atau layanan perusahaan mereka kepada pelanggan.

Selain ketiga teknologi tersebut, masih ada beberapa teknologi canggih lainnya yang merupakan penemuan terbaru dalam perkembangan teknologi untuk menunjang industri periklanan lebih lanjut. Beberapa teknologi tersebut, antara lain Location-based Marketing atau pesan singkat yang terdapat dalam ponsel yang digunakan untuk beriklan, Digital Imaging Technology atau iklan suatu produk yang ditampilkan dalam bentuk gambar yang bergerak dalam LCD TV dan sebagainya, Tri-Face, dan Digital Video Recorders (DVRs) atau teknologi yang digunakan untuk mengiklankan sesuatu tanpa menjeda program yang sedang ditayangkan.

Pada akhirnya, dengan menerapkan penyampaian informasi menggunakan teknologi-teknologi baru tersebut maka bidang PR dan periklanan pun akan semakin berkembang pesat. Tentunya hal ini akan berdampak pada banyak hal, seperti kepuasan konsumen, naiknya citra perusahaan, pemasaran yang lebih interaktif, dan masih banyak hal positif lainnya yang bisa didapat dengan diterapkannya berbagai teknologi mutakhir dalam bidang PR dan periklanan. Jadi, ada apa antara PR dan periklanan? Ya, ada teknologi yang menunjang keduanya untuk lebih dekat kepada khalayak dan konsumen.

Referensi: Straubhaar, Joseph & LaRose, Robert. 2004. Media Now: Communications Media in the Information Age. Belmont, CA: Wadsworth.

Kisah Media Siar: Radio, Televisi, dan Kawan-kawannya

Ketika akan memulai tulisan yang bertema media audio visual ini, saya langsung teringat dengan salah satu kegiatan favorit saya sewaktu kecil dulu, yaitu menonton Doraemon dan Power Rangers di televisi setiap hari Minggu pagi. Saya masih ingat dengan jelas betapa saya dulu sangat kagum dengan alat-alat canggih yang dikeluarkan Doraemon dari kantong ajaibnya, dan juga aksi heroik Power Rangers menaklukkan musuh-musuhnya. Semua itu teringat jelas dalam memori saya, termasuk lagu-lagu pembuka dan penutup film Doraemon dan Power Rangers. Saya pun kemudian berpikir bahwa semua memori ini terekam dengan baik karena adanya media televisi yang mendukung penyampaian pesan dalam bentuk audio dan visual. Seandainya film Doraemon atau Power Rangers hanya disajikan dalam bentuk visual tanpa ada audionya maka saya yakin film-film tersebut tidak akan menarik untuk ditonton. Begitu juga sebaliknya, jika film-film tersebut hanya disajikan dalam bentuk audio tanpa gambar-gambar yang mendukung maka baik Doraemon maupun Power Rangers tidak akan diminati oleh anak-anak.

Televisi merupakan salah satu bentuk media penyiaran. Media penyiaran terbagi atas dua jenis, yaitu audio dan visual. Media penyiaran merupakan media yang jauh lebih rumit dibandingkan dengan media cetak. Hal tersebut ditunjukkan pada isi yang dipasarkan harus lebih menarik dan cara untuk memublikasikannya pun membutuh satelit. Selain itu pun jangkauannya jauh lebih luas. Jika setiap kota atau wilayah memiliki surat kabar masing-masing, berbeda dengan media penyiaran. Media penyiaran memiliki satu pusat decoder yang nantinya semua program penyiran disiarkan satu negara.

Kembali ke soal televisi. Jadi, beruntunglah kita adalah generasi yang mengenal televisi. Televisi berhasil menyihir hampir seluruh umat manusia tertarik dengan si “kotak bergambar” ini. Namun, perjalanan televisi dan media audio visual lainnya pun tidak singkat. Media audio visual, seperti televisi berkembang dari berbagai macam penemuan-penemuan yang bermula dari media audio saja. Pada mulanya pun, sebelum menjadi produk global seperti saat ini, televisi dianggap sebagai barang mewah oleh sebagian besar orang. Namun, televisi kini dianggap sebagai salah satu kebutuhan utama karena adanya kebutuhan akan informasi dan hiburan pada diri manusia. Kini televisi menjadi salah satu media sarana yang paling murah dan mudah diakses untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Televisi reguler yang umumnya kita miliki adalah sebuah sistem dengan sinyal yang memiliki frekuensi dan amplitudo beragam untuk merepresentasikan elemen gambar dan suara. Standar teknis pada televisi hingga kini masih berada dibawah pengaturan National Television Systems Committee (NTSC). 

Televisi pada saat itu berhasil menggeser berbagai kedudukn media massa di masyarakat karena kemampuannya menampilkan efek audio dan visual. Di Amerika terdapat empat stasiun televisi yang siaran secara nasional yaitu Fox, CBS, NBC, dan ABC yang semuanya bersiaran secara jaringan di setiap daerah.  Kini, televisi hampir selalu dapat ditemukan di setiap rumah. Orang-orang jatuh cinta kepada televisi. Padahal jauh sebelum munculnya media televisi, media audio lebih dulu ditemukan. Salah satu teknologi audio yang kita kenal adalah musik.

Musik sudah dikenal lama oleh manusia sebagai simbol upacara atau bahkan hanya sekedar untuk hiburan semata. Teknologi rekaman akustik pertama dikembangkan oleh Thomas Edison tahun 1877. Dia menciptakan prototipe “phonograph” yang dapat memutar musik. Beberapa tahun selanjutnya pada 1882, Emile Berliner menciptakan gramophone yang memainkan piringan datar. Dengan adanya phonograph masyarakat lebih mengenal jenis musik-musik baru. Dalam perkembangannya, radio pun muncul dan memberi dampak yang besar dalam perkembangan industri musik karena dapat menjangkau massa yang sangat luas sehingga semakin banyak bermunculan pencipta lagu dan artis-artisnya.

Radio memiliki peran yang sangat kuat dalam menyebarkan music dan infromasi. Perkembangan radio sendiri dimulai dengan perkembangan industri musik di dunia. Namun, kebutuhan masyarakat yang semakin tinggi terhadap informasi membuat berkembangnya berbagai saluran radio dengan konten berita dan news event. Namun demikian, pada dasarnya radio tetaplah menjadi media yang sangat erat dengan musik.

Pada perkembangannya saat ini, masyarakat dunia yang dinamis, sering kali menghabiskan waktunya di luar rumah. Hal ini kemudian menjadi celah bagi industri radio untuk memanfaatkan kebutuhan masyarakat akan berita dan peristiwa terkini. Saluran radio pun semakin beragam dan hampir sama seperti media lainnya memiliki target khalayak yang spesifik. Saat ini kompetisi semakin kuat setelah munculnya format lagu digital seperti format MP3, adanya download lagu secara gratis via internet, dan munculnya iPod. Kini, radio pun telah menjadi media yang mampu melakukan komunikasi dua arah. Melalui radio seseorang dapat ikut bepartisipasi dalam menyampaikan berbagai peristiwa yang terjadi, juga dapat ikut menentukan musik atau lagu apa saja yang dia inginkan untuk diputar oleh stasiun radio tersebut.

Baik televisi maupun radio kini terus berkembang. Saat ini seiring dengan perkembangan internet dan teknologi yang juga turut menyediakan elemen audio dan video, terciptalah televisi dan radio online. Selain itu, salah satu teknologi penting dalam televisi adalah Televisi Remote Control yang memungkinkan penggunanya dalam mencari atau memindahkan channel. Saat ini,televisi sudah mulai semakin beragam dan canggih misalnya saja adanya TV Interaktif yang memudahkan penggunanya berinteraksi secara langsung dengan konten televisi, tapi sayangnya penggunannya masih terbatas di beberapa negara. HDTV adalah High-Definition Television yang merupakan inovasi terbaru televisi dan sub dari TV digital.

Teknologi komunikasi akan terus berkembang seiring berjalannya waktu dan tentunya selama dunia ini masih ada. Dalam kaitannya dengan media massa berjenis audio visual seperti televisi dan radio, media-media ini pun terus dikembangkan secara komprehensif guna “melayani” kebutuhan manusia terhadap informasi dan hiburan. Lalu bagaimanakah nasib media lama, seperti koran, majalah, dan sebaginya? Media-media lama atau konvensional seperti koran dan majalah tetap memiliki pasarnya sendiri. Hal ini dikarenakan setiap media memiliki keunikan akan karakteristiknya dan masing-masing selalu memiliki khalayaknya sendiri-sendiri. Misalnya, dengan adanya televisi, radio tentu tidak ditinggalkan walaupun secara fair harus dikatakan bahwa audio visual jelas jauh lebih menarik daripada audio saja. Ini karena para tunanetra atau orang yang berkendara di mobil lebih nyaman menerima informasi melalui radio. Selain itu, kecepatan penyebaran berita media radio pun masih jauh lebih cepat dibandingkan dengan media televisi, sehingga banyak orang yang masih menggunakan radio karena media ini memiliki unsur kecepatan dalam membawa berita. Bahkan secanggih apa pun media online, kita akan tetap mengunggulkan majalah atau surat kabar untuk menerima informasi di tempat yang sinyal internetnya lemah. Walaupun saat ini isu lingkungan sedang meruak, tapi rasa kenyamanan dalam membaca kertas koran atau majalah tetap tidak bisa tergantikan oleh layar komputer. Artinya, setiap media mempunya keunggulan dan kelemahannya masing-masing. Jadi, tidak ada media yang akan mengalahkan media yang lain atau media yang lebih tua hanya karena banyak kelemahannya dibandingkan dengan media baru. Namun, perlu disadari bahwa media baru pun tidak sepenuhnya dapat menggantikan media lama yang lebih dulu “mengambil” hati manusia serta menciptakan kultur media di tengah peradaban manusia.

Referensi: Straubhaar, Joseph & LaRose, Robert. 2004. Media Now: Communications Media in the Information Age. Belmont, CA: Wadsworth.

Media Cetak dari Masa ke Masa

Media cetak adalah salah satu bentuk media yang paling dekat dengan kita. Mulai dari koran, majalah, buku, dan sebagainya adalah bentuk media cetak yang hampir selalu kita temui setiap hari. Saya ingat, ketika dulu saya masih berada di bangku SD, saya sangat menyukai hari Kamis karena di hari itu saya selalu membeli majalah Bobo. Majalah itu adalah majalah anak-anak favorit saya, dan saat itu saya merasa sangat senang tiap kali bisa mendapatkan Bobo di hari Kamis. Sementara itu, ibu saya menyukai tabloid Nova, dan ayah saya hampir setiap hari membeli koran Kompas atau Media Indonesia. Hingga hari ini pun hidup saya tidak terlepas dari media cetak. Berbagai macam manusia di belahan dunia mana pun masih sangat mengandalkan media cetak untuk mendapatkan informasi dan juga hiburan. Namun, perlu waktu yang sangat panjang bagi media cetak untuk pada akhirnya bisa menjadi besar di masa sekarang ini.

Media cetak pertama yang muncul adalah buku. Isi dari buku ini berupa cerita dan pengalaman yang didokumentasikan dalam bentuk teks. Di Eropa, pada awalnya digunakan semacam kain yang diimpor dari Cina yang digunakan sebagai sarana untuk menulis. Kemudian seiring berjalannya waktu teknik yang digunakan adalah jenis movable metal yaitu menggunakan cetak logam yang dapat digerakkan yang dikembangkan oleh Johannes Gutenberg pada sekitar tahun 1455. Sejak, penemuan ini dunia media cetak mulai mengalami kemajuan pesat. Buku pertama yang dicetak secara masif oleh Gutenberg’s Press adalah The Gutenberg Bible. Dengan penemuan alat cetak ini, berbagai tulisan dapat didistribusikan secara luas dengan biaya yang lebih efisien. Secara singkat, penemuan ini meningkatkan kecepatan produksi barang cetakan, termasuk buku, koran dan majalah.

Penemuan mesin cetak oleh Gutenberg pun turut menyebabkan munculnya perpustakaan modern yang dimulai di Oxford tahun 1602. Di Amerika, pengembangan media cetak dimulai dengan menyalin buku-buku religi. Lalu berkembang dengan mencetak koran, majalah dan almanak. Benjamin Franklin dapat mencetak almanak yang berisi pesan-pesan moral, tips-tips bertani dan informasi lainnya yang bervariasi. Ia juga mendirikan perpustakaan publik untuk mempopulerkan budaya membaca.

Kemudian majalah muncul di Inggris pada abad XVII dengan memuat artikel dan cerita fiksi dan nonfiksi, seperti Gentleman’s Magazine pada tahun 1731 yang mengupas kesusastraan, politik, biografi, dan kritik sosial. Pada akhir abad XVIII dan awal abad XIX, majalah mulai berani memublikasikan berbagai laporan investigatif yang agak “menyentil”. Hal ini kemudian dikenal sebagai muckraking; jurnalis yang berani mengupas isu-isu sosial, politik, dan ekonomi tanpa memandang status dan kepentingan kalangan atas. Setelah tahun 1920-an, majalah modern mulai berkembang dengan isu-isu yang lebih ringan dan populer di tengah masyarakat.

Majalah pertama Amerika tahun 1741 adalah American Magazine dan General Magazine and Historical Chronicle. Pada masa itu masih terbatas karena pembaca dan penulis masih sedikit dan tingginya biaya penerbitan dan pendistribusiannya. Awalnya, banyak majalah yang mengangkat isu utama politik, lalu berkembang ke isu ekonomi dan lain-lain seperti majalah untuk wanita agar menarik pembaca yang lebih banyak. Selama era perang, majalah mulai memiliki dampak yang lebih luas dalam kehidupan masyarakat karena majalah mampu mendramatisasi suasana dan keadaan selama perang berlangsung.

Setelah buku dan majalah, kita mengenal koran. Sejarah mengenai koran adalah sejarah mengenai perkembangan ide-ide tentang bagaimana peran jurnalisme seharusnya. Pada mulanya, sebelum ada koran (newspaper), ada yang disebut dengan newsletter. Newsletter merupakan bentuk lembaran-lembaran informasi atau berita yang tidak teratur dan biasanya berisi isu-isu ekonomi, iklan komersial, atau perdagangan. Lembaran-lembaran berita yang juga disebut corantos ini kemudian digantikan dengan lembaran berita harian yang disebut diurnos. Tidak seperti corantos, diurnos lebih fokus terhadap peristiwa-peristiwa dalam negeri atau domestik.

Undang-undang kebebasan pers kemudian secara resmi dibuat di Amerika Serikat dalam Constitutional Convention tahun 1787. Keinginan untuk melindungi kebebasan berbicara pada pers tertuang pada amademen pertama dari konstitusi tersebut. Namun, kebebas pers tetap tidak berarti bahwa kebebasan utuh. Bagaimanapun etap ada pembatasan terhadap ucapan-ucapan seditious atau perkataan yang menghina pemerintah.

Perkembangan koran di Amerika Serikat tumbuh dengan cukup pesat. Mulai dari munculnya koran penduduk asli Amerika pertama, pers warga Afrika-Amerika, hingga ada yang disebut sebagai The Penny Press, yaitu koran yang dijual hanya seharga satu sen. Setelah itu kemudian dunia pers masuk ke era The New Journalism yang fokus terhadap jurnalisme investigatif. Di era ini muncul dua tokoh yang berpengaruh terhadap dunia jurnalisme, yaitu Joseph Pulitzer dan  William Randolph Hearst. Pulitzer menekankan bahwa jurnalisme harus memiliki tanggung jawab sosial terhadap publik atas apa yang diberitakan, sedangkan Hearst membawa konsep jurnalisme lain yang disebut yellow journalism atau jurnalisme yang menekankan atau berorientasi pada berita-berita sensasional yang dapat meningkatkan jumlah pendapatan. Dua tokoh ini kemudian menginspirasi banyak orang lainnya hingga jurnalsime terus berkembang ke tahap responsible journalism hingga masa professional journalism yang mulai menarapkan kode-kode etik jurnalisme yang mengatur landasan kerja seorang jurnalis dan bagaimana seharusnya seorang jurnalis bekerja.

Koran mulai berkembang sebagai media massa antara tahun 1890–1920. Perkembangannya sangat pesat melampaui industri periklanan dan distribusi yang akan mendukungnya. Akhirnya pada tahun 1927 muncul radio yang menjadi kompetitior, dan diikuti oleh televisi pada tahun 1950-an. Mulai tahun 1990-an, koran yang dulu diedarkan secara manual juga mulai diedarkan melalui situs internet. Situs internet ini pun akhirnya mengancam eksistensi koran karena dalam sebuah situs terdapat berbagai informasi yang ada di koran. Fenomena lain yang terjadi adalah adanya koran nasional di Amerika Serikat, seperti Wall Street Journal, New York Times, dan USA Today yang mampu menjangkau khalayak dalam jumlah besar dengan harga yang terjangkau. Koran nasional ini biasa mengakat tema tentang berita nasional, berita internasional, bisnis, gaya hidup, dan beberapa soal hiburan. Di Amerika sendiri saat ini hampir 60% orang dewasa masih membaca koran, tetapi remaja masih sangat jarang membaca koran. Kepemilikan koran ini juga akhirnya terkonsentrasi pada perusahaan-perusahaan besar dengan tujuan efisiensi biaya. Akhirnya ini dapat mengurangi keberagaman isi berita dan mengikis berita lokal. Walaupun begitu prinsip akurasi, independensi, dan perlakuan kepada narasumber dengan sebaik-baiknya tetap menjadi prinsip utama dalam penulisan berita di koran.

Lalu, bagaimana dengan masa depan media cetak di masa-masa yang akan datang? Di tengah persaingan dan derasnya arus informasi serta diiringi dengan perkembangan teknologi yang semakin mutakhir, banyak yang mengatakan bahwa pada akhirnya media cetak, khususnya koran akan hilang (musnah). Banyak isu yang mengatakan bahwa pada akhirnya orang-orang akan beralih ke koran-koran online, buku-buku elektronik (e-books), dan sebagainya. Namun, menurut saya pribadi, hal tersebut tentu harus di lihat dari konteks tempat dibicarakannya isu tersebut. Dalam konteks Indonesia, saya rasa isu bahwa akan tergantikannya koran-koran dengan media online, masih jauh dari realitas atau bahkan belum sampai pada taraf isu yang mengancam. Mengapa demikian? Karena mayoritas penduduk Indonesia belum memiliki akses yang mudah terhadap internet. Bahkan, masyarakat yang memiliki perangkat komputer pribadi di rumahnya pun terbilang masih sangat sedikit. Oleh karena itu, isu tersebut belum menjadi isu yang “mengancam” keberadaan koran di Indonesia. Namun, jika kita lihat dalam konteks negara-negara Eropa atau Amerika Serikat, potensi hilangnya koran seiring perkembangan teknologi komunikasi, memang harus menjadi isu yang diperhatikan secara serius. Karena pada faktanya ada banyak perusahaan koran yang sudah berusia ratusan tahun yang akhirnya harus “gulung tikar” karena tidak mampu menyaingi produk media cetak online.

Sekali lagi, munculnya media online pada dasarnya memudahkan, tapi di satu sisi tetap ada unsur negatifnya. Namun, semuanya kembali pada manusia, sebagai agen yang mampu memutuskan harus atau tidak perlunya digunakan sebuah produk teknologi, seperti teknologi media cetak yang terus berkembang misalnya. Perkembangan media cetak dari masa ke masa telah melalui begitu banyak perubahan. Satu perubahan akibat ditemukannya suatu teknologi baru mampu mengubah kestabilan media lain yang sudah jauh lebih tua berdiri. Namun, sekali lagi, teknologi diciptakan untuk mempermudah hidup manusia. Perkembangan media cetak hingga hari ini pun terus berkembang demi memudahkan manusia untuk mendapatkan informasi di tengah derasnya arus informasi global saat ini.

Referensi: Straubhaar, Joseph & LaRose, Robert. 2004. Media Now: Communications Media in the Information Age. Belmont, CA: Wadsworth.

Biro Dana Usaha BEM FISIP UI Tempatku Bernaung

"Di biro ini, Danus BEM FISIP UI, tidak akan ada yang meninggalkan dan ditinggalkan. Karena kita adalah satu keluarga, satu Danus BEM FISIP UI. Kita mulai ini bersama dan akan kita akhiri bersama; dengan kesuksesan yang manis tentunya." —Fauzan Al-Rasyid

Biro Dana Usaha BEM FISIP UI 2010 adalah suatu biro yang menjalankan fungsi supporting system, khususnya dalam hal keuangan di BEM FISIP UI. Pada kepengurusan BEM FISIP UI 2010 kali ini, Biro Dana Usaha dikepalai oleh Fauzan Al-Rasyid (Ilmu Komunikasi) dan Frisca Amelia (Ilmu Komunikasi) sebagai wakil kepala biro. Biro Dana Usaha merupakan satu-satunya biro yang ada di BEM FISIP UI 2010. Biro Dana Usaha bertugas menjalankan fungsi internal, berupa fungsi keuangan (khususnya memberikan profit untuk BEM FISIP UI), dan fungsi eksternal yang berupa menjalin relasi dengan berbagai pihak perusahaan yang potensial untuk dijadikan mitra kerja sama (berhubungan dengan sponsorship dan partnership) dengan BEM FISIP UI.

Selama sebelas bulan masa kerja yang telah dijalani, Biro Dana Usaha telah berhasil menjalankan program kerja yang telah direncanakan dengan sebaik mungkin. Dengan visi “PROFIT” (Proaktif dan Benefit) yang hingga akhir kepengurusan masih tetap menjadi pedoman atau dasar dalam bekerja mengabdi kepada masyarakat, terutama warga FISIP UI. Begitu juga dengan misi Biro Dana Usaha untuk mengembalikan “fungsi” dana usaha sebagai sebuah biro telah berjalan baik. Hal ini ditandai dengan staf-staf Biro Dana Usaha yang menjadi koordinator dana usaha kepanitiaan program kerja dari bidang atau departemen lain serta terbitnya “Buku Panduan Keuangan dan Database Sponsorship, Media Partner BEM FISIP UI 2010” serta kegiatan Pelatiahan Sponsorship Terintegrasi sebagai salah satu bentuk kontribusi nyata Biro Dana Usaha terhadap BEM FISIP UI sekaligus dalam menjalankan fungsi dan perannya sebagai biro yang proaktif.

Di tahun ini, Biro Dana Usaha BEM FISIP UI hanya memiliki satu program kerja unggulan, yaitu GRAFITY (Get Ready for FISIP UI Try Out). GRAFITY merupakan acara tahunan Biro Dana Usaha yang pada tahun ini adalah GRAFITY keempat yang diadakan. Program-program kerja Biro Dana Usaha BEM FISIP UI lainnya antara lain adalah program merchandise BEM FISIP UI dan merchandise FISIP UI. Program merchandise BEM FISIP UI hanya ditujukan untuk seluruh pengurus BEM FISIP UI. Merchandise ini berupa kartu nama dan kaos resmi BEM FISIP UI 2010. Sementara merchandise FISIP UI ditujukan untuk seluruh mahasiswa FISIP UI. Namun, target utama penjualan merchandise FISIP UI adalah para mahasiswa baru.

Selain GRAFITY dan program merchandise, Biro Dana Usaha juga memberikan berbagai pelatihan baik untuk pengurus BEM FISIP UI 2010 maupun para panitia GRAFITY. Hal ini merupakan kegiatan baru yang dilakukan di Biro Dana Usaha BEM FISIP UI. Selain itu, Biro Dana Usaha juga mengadakan acara pertemuan dengan Biro Dana Usaha BEM UI 2010. Hal ini dilakukan untuk berbagai ilmu dan pengalaman seputar dana usaha dan keuangan antarbiro. Kegiatan ini sangat penting untuk dilakukan karena selain berbagai pengalaman antarbiro, kegiatan ini juga memberikan pencerdasan bagi seluruh staf Biro Dana Usaha BEM FISIP UI 2010.

Dari seluruh kegiatan yang terencana pada saat rapat kerja BEM FISIP UI 2010, Biro Dana Usaha BEM FISIP UI 2010 memiliki cukup banyak program kerja inter-BEM FISIP UI. Program kerja inter-BEM FISIP UI adalah program-program kerja yang menekankan pada fungsi Biro Dana Usaha BEM FISIP UI sebagai supporting system. Namun, pada pelaksanaannya ada cukup banyak program kerja yang tidak terlaksana.

Kami, khususnya saya selaku Kepala Biro Dana Usaha BEM FISIP UI 2010, sadar bahwa mengerjakan berbagai hal yang berkaitan dengan supervisi kegiatan BEM FISIP UI bukanlah hal yang mudah. Dengan jumlah anggota Biro Dana Usaha sebanyak sebelas orang, kegiatan mensupervisi tentunya menjadi hal yang cukup sulit bagi kami. Namun, hal ini bukan berarti kami tidak pernah mencoba untuk mengerjakan kegiatan supervisi ini. Kami telah berusaha menerapkannya, dan memang hasilnya kami cukup kewalahan dan tidak sanggup untuk meneruskan hal-hal yang berkaitan dengan supervisi di internal BEM FISIP UI.

Biro Dana Usaha BEM FISIP UI 2010 telah menjadi lebih dari dari sekedar biro atau bagian dari sebuah lembaga eksekutif kemahasiswaan. Biro ini telah menjadi suatu keluarga, di mana di dalamnya terdapat anggota-anggota keluarga dengan berbagai latar belakang jurusan dan pribadi yang berbeda. Ada tawa, canda, gurauan, dan tangis di biro ini. Namun, ada satu mimpi yang kami semua yakini di biro ini, bahwa tidak ada satu hal yang mustahil untuk dilakukan, dan kami telah membuktikannya. Satu tahun kepengurusan telah usai. Rasanya baru kemarin kami bertemu. Rasanya baru kemarin kami bercanda satu sama lain. Rasanya baru kemarin masalah-masalah rumit menerjang kami. Ya, rasanya baru kemarin. Kini, semua telah usai, tapi bukan berarti berakhir total. Biro Dana Usaha BEM FISIP UI 2010 akan tetap sebagi Biro Dana Usaha BEM FISIP UI 2010. Rasa kekeluargaan dan persahabatan ini tidak akan usai sampai sini. Berbagai program kerja yang semoga bermanfaat bagi BEM FISIP UI, FISIP UI, dan juga masyarakat lainnya telah kami kerjakan. Kami tidak berbicara soal hasil, tapi ini soal proses.

Namun, saya percaya dan juga optimis bahwa tahun ini Biro Dana Usaha BEM FISIP UI telah memberikan banyak inovasi baru, baik di dalam biro, inter-BEM FISIP UI, maupun di luar BEM FISIP UI. Saya percaya pada perubahan. Saya percaya bahwa setiap tahunnya harus ada peningkatan kualitas dalam suatu organisasi, dalam hal ini adalah Biro Dana Usaha BEM FISIP UI, dan tahun ini kami telah melakukan yang terbaik yang bisa kami lakukan untuk BEM FISIP UI dan FISIP UI. Terima kasih atas segala perhatian, dukungan, serta kerja sama yang sangat baik dengan Biro Dana Usaha BEM FISIP UI 2010.

Terakhir, terima kasih untuk SUPER TEAM Biro Dana Usaha BEM FISIP UI 2010. Wulan, Amar, Rama, Vale, Nadya, Ryska, Mega, Ossie, dan Swaswa. Sangat bangga bisa bekerja dengan kalian, teman-teman.

   Add Friend

It’s Internet, It’s Wow Wow Wow

Di era modern saat ini, internet tampaknya telah menjadi menu kita sehari-hari. Ya, bahkan saya pun meng-upload tulisan ini ke waena.org sebagai tugas mata kuliah Perkembangan Teknologi Komunikasi (PTK) dan dua situs blog saya di Blogspot dan Tumblr dengan menggunakan internet, dan termasuk referensi yang saya gunakan untuk membuat tulisan ini pun saya unduh dari dunia maya. Ya, internet sangat memudahkan kita. Kita sering kali mendengar, ketika kita ingin mengetahui hal-hal yang ingin kita ketahui, maka satu hal yang terlintas di otak kita adalah “bertanya” pada internet (baca: Google). Internet telah menyatukan manusia dari bujur paling barat dunia hingga bujur paling timur dunia dan bahkan dari lintang kutub selatan hingga utara. Semua terkoneksi dengan internet. Kita dapat dengan mudah mengetahui keadaan di berbagai belahan dunia hanya dengan menghubungkan komputer, laptop, atau bahkan telepon genggam ke internet.

Internet secara sadar telah menjadi salah satu alat komunikasi paling penting di dunia. Seperti yang ditunjukkan oleh penelitian Pew Internet dan American Life Project, 70 juta warga Amerika sudah menganggap internet sebagai sebuah cara hidup yang normal dan orang yang tidak “go online” dianggap sebagai kaum minoritas yang tertinggal. Facebook, Twitter, Multiply, YouTube, Plurk, Tumblr, Google, Yahoo, dan Hotmail, adalah sedikit dari ratusan ribu situs yang ada di dunia maya. Ya, inilah dunia internet, dunia maya yang menjadi bagian dari aktifitas dunia nyata; dunia “www” yang “wow wow wow”.

Bicara soal internet, tentu tidak terlepas dari kata “www” yang tentunya tidak asing lagi bagi kita. World Wide Web (WWW) dan internet adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan, tapi keduanya tidak berarti sama. Grant dan Foust (2008) mendefinisikan internet sebagai koneksi mendunia dari jaringan-jaringan komputer yang memungkinkan pengguna dapat mengakses informasi dari lokasi manapun di dalam jaringan. Sementara WWW diartikan sebagai seperangkat teknologi yang menempatkan sebuah penghubung grafikal pada internet, yang memungkinkan pengguna untuk berinteraksi  dengan komputer mereka melalui sebuah mouse, ikon-ikon, dan elemen lainya.

Berbicara mengenai www dan internet maka tentunya tidak lepas dari sejarah teknologi ini. Sejarahnya dimulai dengan penemuan bahasa komputer HTML (Hypertext Markup Language). Bahasa ini memungkinkan teks untuk digabungkan dengan grafik, video, dan jenis data lainnya, sehingga pengguna bisa dengan mudah menggunakan internet karena mereka hanya tinggal memainkan mouse dan mengklik di grafik yang sudah memiliki link.

Awal mula terciptanya internet adalah pada tahun 1950-an, Departemen Pertahanan Amerika Serikat mencari jalan untuk menyebarkan sistem komunikasi yang memungkinkan peneliti dan pemerintah bisa berinteraksi satu sama lain mengenai dampak serangan nuklir. Kemudian mereka membentuk ARPA (Advanced Research Project Agency) yang mencoba membuat kombinasi Local Area Network (LAN) dan Wide Area Network (WAN) yang menghubungkan komputer di dalam area georafis yang luas, yang dikenal dengan nama ‘internetwork’; disingkat menjadi internet.

Tahun 1969, ARPA berhasil menghubungkan empat komputer di California dan Utah yang kemudian disebut sebagai ARPANET. Inovasi utama dalam usaha menghidupkan ARPANET adalah penggunaan TCP/IP (Transmision Control Protocol/Internet Protocol), sebuah metode transmisi data yang membuat informasi dipecah dalam bentuk paket-paket yang diarahkan untuk mencapai alamat yang dituju. Pada perkembangannya, pada International Computer Communication Conference (ICCC) Oktober 1972, ARPANET diperkenalkan untuk pertama kalinya. Pada acara inilah kemudian yang menjadi awal terciptanya jaringan internet secara luas, bukan hanya untuk kepentingan militer.

Setiap komputer yang dihubungkan dengan internet mempunyai alamat IP (IP address). Alamat IP adalah bahasa dalam jaringan internet yang sifatnya unik dan eksklusif. Alamat IP dibagi menjadi dua bagian yaitu network  ID dan host ID. Network ID yaitu berupa nama kota yang menandakan tempat kita tinggal, tetapi tidak secara spesifik. Sedangkan host ID menyempurnakan alamat tersebut dengan memberi nama jalan, sehingga lebih spesifik. Semuanya itu dibentuk ke dalam kode-kode tertentu.

Internet Protocol (IP) dibagi ke dalam tiga kelas, yaitu kelas A untuk organisasi besar, kelas B untuk organisasi menengah, sedangkan kelas C untuk organisasi kecil atau individu. Selain dengan menggunakan anga, penamaan domain juga melibatkan huruf yang disebut dengan Domain Name System (DNS) yang bisa mengidentifikasi jenis situs, yang disebut dengan Top Level Domain (TLD). TLD biasanya terdapat di sebelah kanan DNS. Contoh top level domain names yang biasa kita kenal adalah .com, .edu, .biz, dan sebagainya.

Internet telah menjadi bagian yang sangat penting dan tidak terpisahkan dalam kehidupan manusia. Kemunculan internet telah mempengaruhi berbagai aspek kehidupan manusia, terutama pada aspek sosial dan ekonomi.  Dari sisi ekonomi dapat kita cermati dari munculnya situs Google. Google sebagai situs pencari informasi (search engine) memberikan layanan kepada pengguna untuk memperoleh informasi dengan cepat dan mudah, mulai dari artikel, website, buku, gambar, video, blog, dan sebagainya. Mudahnya untuk memperoleh informasi dari Google membuat sebagian besar masyarakat selalu membuka situs ini ketika ingin mencari berbagai informasi. Pemakai internet yang jumlahnya semakin meningkat membuat para pengusaha ingin menyebarkan  iklan produknya dalam media online, sehingga mulailah bermunculan berbagai iklan dalam media online.

Salah satu perkembangan teknologi komunikasi terkait internet dapat dilihat dari inovasi e-mail. E-mail atau surat elektronik merupakan fasilitas pengirim pesan lewat internet. E-mail ini disediakan secara gratis oleh banyak website seperti Yahoo,Google, Hotmail, dan sebagainya. E-mail menggunakan sistem nama domain yang digabungkan dengan nama pengguna. E-mail memungkinkan penggunanya untuk mengirim pesan selain berisi teks pesan juga bisa disisipkan file lain seperti dokumen atau gambar.

Sebagai teknologi komunikasi baru, internet masih banyak dijadikan bahan penelitian dan terus dikembangkan karena sebenarnya masih banyak kemampuan internet yang jauh lebih canggih dan jauh lebih rumit dari yang kita ketahui sekarang. Berbagai macam sisi positif internet ternyata tidak lepas dari sisi negatifnya yang juga banyak merugikan. Program internet yang merugikan pengguna itu disebut dengan istilah malware, seperti, virus seperti worm, trojan horse, dan sebagainya yang sangat merugikan pengguna karena dapat merusak sistem kerja komputer dan mengancam keamanan data. Selai itu, ada pula yang disebut spyware, yaitu software yang bekerja secara sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan pengguna. Berikutnya ada spam atau yang biasa sering kita sebut pesan sampah, biasanya masuk di kotak masuk e-mail berupa link-link yang menyesatkan pengguna untuk membeli produk-produk yang diiklankan.

Dari berbagai penjelasan di atas, dapat disimpulan bahwa Internet merupakan bentuk “jendela dunia” baru karena berbagai hal di dunia dapat kita temukan di dalamnya. Namun, ternyata penggunaan internet tidak selalu memberikan dampak positif bagi penggunanya. Dampak negatif pun kerap kali muncul ketika memakai internet, tapi itu semua kembali kepada diri kita masing-masing dalam menyikapi bagaimana seharusnya memanfaatkan internet. Internet memberikan banyak kemudahan bagi hidup manusia di era modern ini. Jadi, gunakanlah internet dengan sebaik-baiknya demi pengembangan diri tanpa harus merugikan orang lain. Teknologi internet telah menyatukan manusia di berbagai belahan dunia. Inilah internet, teknologi yang “wow wow wow”.

Referensi:
Grant, Agust E. & Meadows, Jennifer H. (eds). 2008. Communication Technology Update and Fundamental. Eleventh Edition. Boston: Focal Press

Jones, S., Kovac, R., & Groom F. M. 2009. Introduction to Communication Technologies: A Guide for Non-Engineers. Boca Raton, FL: CRC Press.

Meet Wireless: No Cables, No Worries

Penemuan berbagai teknologi komunikasi, seperti telepon telah membawa manusia ke suatu peradaban yang luar biasa. Segala aspek kehidupan manusia menjadi lebih mudah karena perkembangan teknologi komunikasi yang selalu membawa dampak positif bagi kemajuan peradaban manusia. Sebelum ada telepon, perantara komunikasi manusia dilakukan dengan cara mengirim surat, dan sebagainya. Setelah ada telepon, komunikasi menjadi jauh lebih mudah dan cepat. Namun, pada saat ditemukannya telepon, siapa yang mengira bahwa suatu saat nanti telepon tersebut dapat dibawa kemana pun kita pergi, dan bahkan dapat dimasukkan ke dalam saku baju atau celana. Ya, selamat datang teknologi nirkabel. Teknologi yang memungkinkan kita untuk tidak perlu repot-repot lagi membawa berbagai perangkat alat komunikasi dengan berbagai kabel-kabelnya serta mencari sumber listrik untuk mengaktifkannya. Teknologi nirkabel atau wireless memungkinkan kita untuk berkomunkasi tanpa perantara kabel.

Teknologi nirkabel dengan cepat menjadi alat pengiriman informasi utama di seluruh dunia. Penetrasi layanan selular di Eropa mencapai 75% dari populasi dan terus bergerak ke arah total pasar penetrasi. Tiga generasi teknologi nirkabel telah berevolusi selama 20 tahun terakhir. Teknologi Advanced Mobile Phone Service (AMPS) diciptakan dan diuji pada awal 1980-an. Uji coba pertama dilakukan di daerah metropolitan, Chicago, Amerika Serikat. AMPS dikaitkan dengan layanan selular karena menggunakan antena. Sistem ini unggul karena hemat energi dan dapat menjangkau daerah yang lebih luas tanpa memerlukan kabel. Namun sayangnya, pengembangan teknologi ini tidak mempertimbangkan pertumbuhan pasar yang dinamis. Akibatnya, banyak pengguna yang kesulitan memanfaatkan AMPS (seperti mendapat sinyal sibuk terus menerus) ketika berada di daerah perkotaan. Teknologi ini kemudian dikembangkan menjadi teknologi akses ganda (Multiple Access Technologies).

Pada mulanya, Multiple Access Technologies dikenal dengan nama FDMA (Frequency Division Multiple Access). Pada sistem ini seorang pengguna akan memakai satu frekuensi tertentu. Sistem ini mudah digunakan, tapi sayangnya tidak efisien dalam menggunakan frekuensi dan bandwidth. Sistem ini digunakan pada jaringan AMPS dan dinilai tidak efektif. Pada perkembangannya, FDMA berkembang menjadi TDMA (Time Division Multiple Access). Metode ini digunakan pada jaringan GSM (Global System for Mobile Communication). TDMA dikembangkan di Amerika sementara GSM di Eropa. Jika dalam FDMA spektrum gelombang dibagi ke dalam kanal-kanal frekuensi, dalam TDMA setiap kanal tersebut kembali dibagi kedalam slot waktu tertentu sekitar 10 m/s. Inilah yang kemudian menjadi standar aplikasi TDMA bagi GSM di seluruh dunia. Namun, perusahaan-perusahaan komunikasi di Amerika Serikat enggan menerima GSM sebagai teknologi yang memadai karena sindrom “tidak diciptakan di sini” (Not Invented Here [NIH] syndrome) walaupun pada kenyataannya, GSM adalah teknologi yang terdepan.

Metode yang paling rumit dan terdepan dari akses berganda yang kini beredar disebut Code Division Multiple Access atau CDMA, yang dikembangkan oleh Qualcomm. Pada mulanya CDMA didesain untuk digunakan oleh pihak militer untuk komunikasi yang aman selama perang. CDMA memiliki kemampuan untuk memberikan 10 sampai 20 kali kapasitas FDMA bandwitch yang sama. CDMA juga memiliki kelebihan kapasitas TDMA lima sampai tujuh kali lebih besar. Jaringan yang menggunakan teknologi CDMA tidak mencari frekuensi lain untuk dapat masuk sebagai sinyal yang akan memasuki sektor lain karena CDMA bergantung pada sinyal kode yang disiarkan di frekuensi yang sama.

Kemudian, cukup mirip dengan cara kerja telepon rumah, telepon nirkabel juga memiliki stasiun yang disebut Mobile Switching Center (MSC). Cara kerjanya sama dengan central office pada telepon kabel hanya saja menggunakan sistem nirkabel. Jaringan TDMA dan GSM memiliki kelemahan pada jangkauan sinyalnya yang sempit. Artinya jika kita melakukan perjalanan jauh, perangkat telepon genggam kita akan selalu mencari sinyal dari Mobile Base Station (MBS) yang terdekat. Prinsip kerja ini tidak digunakan pada CDMA. CDMA tidak mengalami masalah lemahnya sinyal jika masuk ke daerah yang jauh dari MBS karena ia akan mencari kode sinyal pada frekuensi yang digunakannya. Cara penyaluran sinya seperti ini disebut soft handoff, sementara sistem pada GSM dan TDMA disebut hard handoff.

Setelah itu, perkembangan teknologi nirkabel sampai pada tahap teknologi 4G. tentunya kita tidak lagi asing mendengar istilah ini. 4G (Fourth Generation Wireless) adalah generasi tercanggih dari jaringan nirkabel yang akan menggantikan teknologi 3G di tahun-tahun mendatang. Dengan adanya teknologi 4G ini video streaming berkualitas tinggi dan end-to-end internet protocol menjadi jauh lebih baik. Teknologi 4G meliputi Software Defined Radio Receivers atau yang dikenal dengan SDR, OFDM (Orthogonal Frequency Division Multiple Access) dan MIMO atau Multiple-Input Multiple-Output. Selain 4G, terdapat pula TD SCDMA yaitu standar teknolgi 3G untuk physical layer yang dikembangkan oleh sebuah akademi di Cina. Ada banyak kelebihan yang akan ditawarkan oleh teknologi 4G, tapi tantangan bagi 4G adalah harga, akses universal, dan kecepatan.

Setelah teknologi 4G dikenal pula EDGE (Enhanced Data Rate for GSM Environment) yang merupakan perkembangan dari sistem GSM dengan peningkatan kecepatan operasi hingga 384 Kbps. Teknologi ini memungkinkan pengiriman data digital dengan cepat. Selain itu, dikenal juga General Packet Radio Service(GPRS) yang menyediakan koneksi internet terus-menerus pada perangkat telepon selular. Sistem ini bisa digunakan pada perangkat dengan basis teknologi 2,5G atau 3G. Akses GPRS menghabiskan biaya yang relatif murah sehingga sangat pas untuk mengakses internet dan menerima e-mail dalam telepon selular. GPRS berbasis pada komunikasi GSM dan mendukung teknologi Short Messaging Services (SMS).  GPRS ini dikembangkan berdasarkan teknologi GSM.

Kemudian dikenal pula istilah HSPDA (High-Speed Downlink Packet Access) yaitu sebuah protokol yang sengaja dikembangkan untuk transmisi data telepon selular. HSPDA merupakan pengembangan dari WCDMA dan jaringan 3G.HSPDA menyediakan layanan download dengan kecepatan 14.4 Mbps dan upload dengan kecepatan 2 Mbps serta memungkinkan pengguna melakukan aktivitas dengan kecepatan 400–700 Kbps.

Satu teknologi yang tidak asing lagi untuk kita adalah antena. Antena adalah bagian turunan dari lingkup selular. Antena adalah sebuah elemen sirkuit yang bisa mengubah sinyal dalam jalur transmisi menjadi gelombang radio untuk mengumpulkan energi elektromagnetik. Antena adalah alat yang pasif, yang berarti bahwa antena tidak bertanggung jawab atas amplifikasi sinyal, tapi hanya terbatas pada menerima dan mentransmisikan energi elektromagnetik. Karakteristik antena pada dasarnya sama, terlepas dari digunakannya antena untuk menerima atau pun mengirim energi elektromagnetik. Pada perkembangannya, teknologi antena ini pun berkembang. Kita mengenal apa yang disebut sebagai smart antenna. Pada smart antenna ini, sebuah antena dapat beradaptasi dengan frekuensi radio yang ada. Kelebihan ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas bandwidth dengan cara menggunakan lagi frekuensi yang telah digunakan. Berbeda dengan pendahulunya, smart antenna membedakan pengguna melalui pemisahan ruang.  Teknik ini disebut sebagai Space Division Multiple Access (SDMA), yang berarti kanal yang sama dapat diisi oleh beberapa pengguna asalkan angle-nya berbeda. Smart antennas sangat efektif terutama dalam hal biaya karena rendahnya konsumsi kekuatan dalam amplifier dan mempunyai reliabilitas tinggi.

Teknologi nirkabel terakhir yang dibahas adalah Microwave Signals. Microwave Signals atau sinyal gelombang mikro kini digunakan saat berkomunikasi menggunakan satelit. Rentang sinyal gelombang mikro berkisar 1 hingga 40 Ghz. Teknologi ini pun sempat dikembangkan untuk layanan telepon meskipun sekarang penggunaannya telah digantikan oleh serat optik. Sekarang gelombang mikro hanya digunakan untuk  Wireless Local Loop (WLL) yang menggantikan penggunaan kabel tembaga pada jaringan PSTN bersinyal radio. Penggunaan sinyal ini pada masa sekarang adalah untuk mentransmisikan sinyal AM dan FM. Komponen dari sistem gelombang mikro adalah modem digital, unit RF, dan antena. Modem digital memodulasi sinyal informasi menjadi unit RF yang kemudian meneruskan sinyal tersebut ke antena.

Teknologi komunikasi jelas memudahkan hidup manusia. Dengan hadirnya teknologi nirkabel pun membuat “batas” antarmanusia semakin kabur. Selalu ada sisi postif dan negatif dari terciptanya suatu produk teknologi. Namun, pada dasarnya teknologi hadir untuk mempermudah hidup manusia. Teknologi hadir karena muncul masalah jarak, ruang, dan waktu dalam hidup manusia yang tidak dapat dipisahkan. Dengan adanya teknologi tanpa kabel atau nirkabel, memungkinkan manusia untuk tetap berhubungan satu sama lain, kapan pun dan di mana pun tanpa harus khawatir terbentur soal jarak, ruang, atau pun waktu. Jadi, no cables, no worries.

Referensi: Jones, S., Kovac, R., & Groom F. M. 2009. Introduction to Communication Technologies: A Guide for Non-Engineers. Boca Raton, FL: CRC Press.