29 Desember 2010

Generasi Dunia Maya, Generasi Jejaring Sosial

Selamat datang di era globalisasi, era dunia maya yang tanpa batas; era Facebook dan berbagai situs jejaring sosial lainnya. Hampir seluruh manusia di dunia saat ini terhubung satu sama lain dengan suatu teknologi yang disebut situs jejaring sosial, khususnya Facebook. Ya, siapa yang tidak mengenal Facebook? Mulai dari anak-anak hingga orang tua pun menggunakan Facebook. Facebook telah menjadi suatu fenomena sosial di tengah masyarakat dunia saat ini. Melalui Facebook seseorang dapat bertemu kembali dengan kawan-kawan lamanya atau bahkan membuat pertemanan baru. Situs hasil karya Mark Zuckerberg ini praktis menyita perhatian dunia. Dunia seakan tersihir dengan hadirnya Facebook. Padahal, Facebook bukanlah situs jejaring sosial yang pertama kali muncul di dunia. Sebelumnya kita juga mengenal Friendster, MySpace, Multiply, dan sebagainya. Namun, ternyata orang-orang di seluruh lebih menyukai Facebook. Bahkan Indonesia termasuk salah satu negara pengguna Facebook terbanyak di dunia.

Lalu sebenarnya ada apa dengan Facebook hingga diminati oleh begitu banyak orang di dunia? Jika kita perhatikan, Facebook membuat individu dapat mengekspresikan diri dengan bebas sesuka mereka. Tak hanya mengekspresikan diri sendiri, namun mereka juga membuat “laporan” tentang diri sendiri melalui status update. Mungkin memberikan “laporan” pribadi di dunia maya bukan suatu hal yang penting, tapi ternyata manusia kadang memiliki sifat untuk “merasa diketahui” oleh banyak orang. Facebook tentunya juga berguna untuk mencari teman-teman lama. Seseorang yang sudah memiliki akun jejaring sosial yang kuat dan luas, misalnya saat SMA, ketika ia pindah ke daerah lain, biasanya akan mencari kembali kawan-kawan lamanya.

Fungsi lainnya dari Facebook adalah untuk menjembatani social capital. Maksudnya, Facebook berguna sebagai penghubung pihak eksternal dan sebagai penyebar informasi ke dunia luar. Contohnya, apabila seseorang ingin mengetahui acara atau kegiatan apa saja yang diselenggarakan dalam waktu dekat, seseorang bisa melihat berbagai jadwal acara atau semacam calendar event di Facebook. Melalui akun Facebook, seseorang pun dapat menyebarkan berbagai informasi, dan orang-orang yang mengunjungi situs tersebut bisa menyebarkannya pada orang-orang lain. Selain itu, fungsi lainnya adalah sebagai media untuk menjaga hubungan kita dengan seseorang. Suatu saat, seseorang akan berpisah dengan teman-teman yang pernah ditemuinya. Facebook bisa menjaga pertemanan tersebut walaupun hanya dengan interaksi virtual di ‘dinding’ Facebook.

Lantas, sebelum bergerak lebih jauh dengan Facebook, apakah sebenarnya yang dimaksud dengan situs jejaring sosial? Dalam jurnal penelitian oleh Danah M. Boyd dan Nicole B. Ellison yang berjudul “Social Network Sites: Definition, History, and Scholarship” dijelaskan bahwa situs jejaring sosial adalah suatu layanan yang memungkinkan seorang individu untuk dapat membangun representasi diri mereka sendiri kepada khalayak umum. Dibentuknya situs jejaring sosial ini karena adanya keinginan untuk menyatukan atau bisa berkomunikasi dengan orang-orang di dunia.  Pada mulanya di tahun 1997, sixdegrees.com  muncul sebagai situs jejaring sosial yang pertama di dunias. Situs ini memiliki kemampuan untuk membuat profil pengguna, menambah teman, dan mengirimkan pesan. Tiga tahun kemudian di tahun 1999 dan  tahun 2000, muncul situs sosial, Live Journal, Lunarstorm, dan Cyword yang memiliki fungsi untuk memperluas informasi secara searah. Lalu pada tahun 2001 muncul Ryze.com yang berguna untuk memperbesar jejaring bisnis.

Situs jejaring sosial pada dasarnya memberikan kebebasan pada setiap pengguna untuk terkoneksi atau berhubungan dengan siapa pun dan di mana pun di berbagai belahan dunia yang juga memiliki situs jejaring sosial, baik orang asing maupun orang yang sudah dikenal sebelumnya. Oleh karena itu situs jejaring sosial juga mampu memperkuat hubungan atau relasi seseorang yang sudah dijalin di kehidupan nyata, melalui dunia maya. Contohnya, ketika kita menjadi teman seseorang di Facebook atau menjadi pengikut (follower) seseorang di Twitter maka kita pun dapat mengetahu perkembangan kehidupan kesehariannya melalui berbagai update status-nya. Kemudian kita pun dapat berinteraksi dengan orang tersbeut melalui fasilitas menuliskan komentar di “dinding” Facebook atau me-mention username orang tersebut di Twitter.

Selain digunakan untuk mempererat relasi dengan orang-orang yang memang kita kenal atau bahkan tidak kita kenal, berbagai situs jejaring sosial, sepeti Facebook dan Twitter juga kerap kali digunakan oleh para selebritas untuk berinteraksi langsung dengan para penggemar mereka. Salah satu selebritas paling terkenal di Twitter antara lain Oprah Winfrey dan Ashton Kutcher yang memiliki jumlah follower terbanyak hingga jutaan. Di Indonesia sendiri, penyanyi Sherina Munaf merupakan salah satu contoh artis dengan follower terbanyak. Dengan adanya Twitter, penggemar merasa lebih dekat ikatannya dengan selebriti yang ia idolakan karena merasa mengetahui kegiatan mereka sehari-hari. Namun, Twitter juga bisa turut menentukan dan menjatuhkan citra seseorang. Salah satu contohnya adalah kasus yang menimpa Luna Maya pada meng-update statusnya yang berhubungan dengan para wartawan infotainment.

Dalam sebuah situs jejaring sosial, pengguna diminta untuk mengisi profil singkat mengenai data diri mereka. Profil ini bisa disesuaikan dengan keinginan pengguna, informasi apa saja yang ingin dia bagikan, dan mana yang tidak. Melalui profil tersebut, seringkali seseorang mendapatkan teman baru, atas dasar ketertarikan yang sama (misalnya memiliki selera musik atau film yang serupa) atau berada dalam jaringan yang sama (misalnya berada dalam jaringan SMA atau universitas yang sama). Dapat dilihat dari contoh-contoh tersebut bahwa situs jejaring sosial memiliki fungsi sosial yang kuat.
           
Namun, sering kali fungsi dasar situs jejaring sosial disalahgunakan karena memungkinkan pengguna untuk mengakses informasi terhadap siapa pun sehingga tidak jarang menimbulkan efek negatif, seperti penipuan. Banyak orang yang membuat akun palsu atau bahkan mengambil identitas orang lain untuk alasan-alasan negatif. Seorang pengguna harus bijak dalam memilah-milih informasi yang hendak disebarkan dalam jejaring sosial serta menyadari konsekuensi dan risiko yang ia hadapi setiap kali ia memutuskan untuk membagi informasi mengenai dirinya.

Kemudian, sedikit mengingat ke belakang, mungkin banyak dari kita yang masih ingat dengan aplikasi mIRC di komputer? Ya, mIRC merupakan salah satu contoh instant messenger berbasis teks. Contoh instant messenger lainnya yang juga kita kenal antara lain seperti Yahoo! Messenger, Google Talk, MSN Messenger, Windows Live Messeger, dan sebagainya. Yahoo! Messenger adalah contoh instant messenger yang cukup populer di dunia. Teknologi ini pada dasarnya memiliki fungsi yang hampir sama dengan situs jejaring sosial, yakni untuk mencari teman baru, menghubungi teman lama, atau pun untuk menjaga social capital. Saat itu, orang-orang bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk chatting, baik dengan orang baru maupun dengan teman lama. Walaupun saat itu lebih terbatas, tapi penggunaan instant messenger cukup digemari di masanya saat itu.

Sementara itu, penelitian yang dilakukan oleh Eszter Hargittai dalam jurnal yang berjudul “Whose Space? Differences Among Users and Non-Users of Social Network Sites” berusaha menjelaskan perbedaan sistematis antara orang-orang yang menggunakan situs jejaring sosial dengan orang yang bukan pengguna situs tersebut. Hasil penelitian berdasarkan data yang didapatkan dari survei yang dilakukan kepada berbagai kelompok dengan fokus beberapa situs jejaring sosial tertentu, seperti Facebook, MySpace, Xanga, dan juga Friendster.  Penelitian ini menghasilkan beberapa temuan unik berkaitan dengan karakter pengguna situs jejaring sosial.

Salah satu temuannya menyatakan bahwa orang-orang yang tidak menggunakan layanan situs jejaring sosial bukan berarti tidak mengenal atau tidak familiar dengan situs tersebut. Mereka yang tidak menggunakan situs jejaring sosial merasa tidak ada hubungan yang sistematis antara latar belakang pengguna situs jejaring sosial dengan pengalamannya dalam penggunaan. Namun, terdapat temuan yang menyatakan bahwa latar belakang yang berbeda dapat mempengaruhi seseorang dalam jenis situs jejaring sosial yang mereka gunakan. Hal ini mungkin didasarkan pada lingkungan mereka, dan orang-orang yang berinteraksi dengan menggunakan situs jejaring sosial tersebut. Misalnya, mahasiswa keturunan Hispanik cenderung memilih untuk menggunakan MySpace, sedangkan mahasiswa Asia dan Amerika lebih jarang yang memilih untuk menggunakan MySpace dan lebih mungkin untuk menggunakan Xanga atau Friendster.

Namun, terlepas dari berbagai fenomena yang muncul akibat lahirnya situs jejaring sosial dan secanggih apa pun situs tersebut hingga mampu mengakomodasi kebutuhan manusia untuk tetap berinteraksi tanpa adanya hambatan jarak, ruang, dan waktu, situs jejaring sosial biar bagaimanapun tetap memiliki kelemahan, yaitu tidak memungkinkan orang untuk berkomunikasi secara face-to-face dengan orang yang dituju. Pada akhirnya, berkembangnya teknologi bukan berarti merubah cara berkomunikasi manusia secara drastis dan membuat manusia tak membutuhkan berkomunikasi langsung. Manusia masih membutuhkan komunikasi langsung (secara tatap muka) karena ada beberapa hal yang tak bisa digantikan dan dilakukan oleh teknologi komunikasi, seperti gestur tubuh dan bahasa-bahasa nonverbal lainnya. Manusia tentunya harus tetap mengantisipasi berbagai dampak negatif dari perkembangan teknologi komunikasi. Manusia sebagai makhluk yang lebih cerdas dan sebagai agen yang mengembangkan teknologi seharusnya dapat mengambil keuntungan dari setiap teknologi yang pada dasarnya diciptakan untuk mempermudah hidup manusia.

Referensi: Boyd, d. m., & Ellison, N. B. (2007). Social Network Sites: Definition, history, and scholarship. Journal of Computer-Mediated Communication, 13(1), article 11. http://jcmc.indiana.edu/vol13/issue1/boyd.ellison.html

Hargittai, E. (2007). Whose Space? Differences among Users and Non-Users of Social Network Sites. Journal of Computer-Mediated Communication, 13(1), article 14. http://jcmc.indiana.edu/vol13/issue1/hargittai.html

1 komentar :

Saya tertarik tentang artikel Anda pada sistem ini.
Saya juga memiliki artikel yang sama tentang sistem yang dapat Anda kunjungi di http://ps-reksis.gunadarma.ac.id

Posting Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.