28 Desember 2010

Isu-isu dalam Perkembangan Teknologi Komunikasi

Di masa-masa pesatnya perkembangan teknologi komunikasi saat ini, dapat kita lihat dan juga rasakan bahwa isu-isu yang menerpa atau isu-isu yang berkaitan dengan perkembangan teknologi juga semakin berkembang. Ada banyak hal terkait isu-isu politik, ekonomi, sosial, dan budaya yang berkaitan erat dengan perkembangan teknologi. Jika kita sedikit melihat ke belakang pada saat awal penemuan media cetak yang membuat masyarakat dapat membaca dan mendapat pengetahuan dengan bebas. Pada awalnya, media cetak hanya boleh digunakan untuk kepentingan politik dan para petinggi agama saja. Mereka yang dapat mengakses buku-buku pun hanya orang-orang tertentu. Hingga akhirnya muncul First Amendment di Amerika merupakan perwujudan dari freedom of speech bagi media atau pers. First Amendment muncul karena pers merasa perlu adanya kebebasan baik bagi individu maupun media dalam sistem politik dan masyarakat Amerika untuk membangun masyarakat yang lebih terbuka tanpa adanya intervensi atau kepentingan dari pihak mana pun.

Bicara soal politik dan komunikasi memang merupakan dua hal yang erat berkaitan. Tanpa suatu strategi komunikasi, politik tidak akan berjalan. Demikian pula dengan komunikasi; komunikasi pun lahir karena adanya taktik dalam perebutan kekuasaan secara politis. Politik memang identik dengan perebutan dan pertahanan kekuasaan. Oleh karena itu, seringkali komunikasi dilakukan untuk mencapai kekuasaan tersebut. Contoh paling sederhana misalnya dalam teknik komunikasi yang paling mendasar, yaitu retorika, atau public speaking. Teknik berbicara ajaran Aristoteles ini digunakan dalam bidang politik untuk merebut simpati masyarakat atau sebagai metode agar masyarakat terpengaruh dan menyetujui apa yang dikatakan oleh para politisi. Pada perkembangannya sering kali komunikasi dijadikan alat sebagai propaganda politik, apalagi dengan berkembangnya media-media baru komunikasi saat ini.

Di Indonesia, sementara itu, pada masa-masa berkuasanya Orde Baru sempat terjadi kebebasan pers, tapi kemudian dalam perkembangannya pers dibelenggu lagi, bahkan tidak sedikit yang dibredel jika dianggap “membahayakan” pemerintah. Hal ini berkaitan dengan isu-isu politik dan media. Departemen Penerangan didirikan sebagai departemen yang menentukan mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh media. Namun, kini pada masa reformasi, kebebasan pers dijamin melalui UU Pers tahun 1999. Dampak dari dikeluarkannya undang-undang tersebut adalah banyak bermunculannya media cetak dan penyiaran baru dan tidak ada lagi pembredelan media oleh pemerintah.

Selain isu-isu politik, isu-isu ekonomi juga muncul seiring dengan berkembangnya teknologi komunikasi. Dalam bidang ekonomi, media dianggap sebagai bisnis yang sangat menjanjikan. Apalagi masyarakat mulai menyadari akan pentingnya memperoleh informasi.

Isu ekonomi yang terkait dengan perkembangan teknologi komunikasi yang tidak kalah penting lainnya adalaha bahwa perkembangan teknologi telah mengubah cara masyarakat bertransaksi. Hal ini terlihat dengan semakin maraknya e-commerce yang berkaitan dengan adanya layanan e-banking, e-mall, dan fasilitas yang menunjang perekonomian lainnya. Toko-toko “maya” atau online shop pun berkembang dengan sangat pesat dan seiring dengan berbagai kasus penipuan terkait dengan hal tersebut. Selain itu berkembangnya teknologi komunikasi juga berdampak pada pelanggaran hak cipta atau hak kekayaan intelektual yang menjadi hak seseorang atau kelompok yang memiliki suatu karya seperti lagu, tulisan, atau film, sehingga penggunaan karya mereka tanpa izin membuat mereka rugi secara finansial. Apalagi pembajakan karya semakin dipermudah dengan teknologi yang semakin canggih. Kasus pembajakan ini merupakan suatu kasus yang sampai sekarang belum ada pemecahan pastinya. Pembajakan dalam perkembangan teknologi saat ini dapat berupa file sharing, sehingga konten-konten dengan hak cipta dapat diunduh oleh jutaan orang dari berbagai belahan dunia dengan mudahnya. Tentu saja hal ini sangat merugikan perekonomian, terutama pihak yang terkait langsung dengan konten dan hak cipta.

Dalam bidang sosial dan budaya, media telah dianggap sebagai teman sehari-hari masyarakat. Bahkan, lebih dari itu, konsumsi terhadap media sudah dianggap menjadi suatu kebutuhan yang harus dipenuhi. Mungkin kita akan bertanya-tanya, apa jadinya hidup kita sekarang ini, di dunia yang serba canggih bila kita tidak memiliki akses internet, tidak ada telepon selular, tidak ada komputer atau laptop, tidak ada televisi atau radio, dan bahkan tidak ada koran. Tentu ketiadaan barang-barang tersebut akan membuat hidup kita jauh dari keadaan manusia era modern saat ini. Manusia butuh mengonsumsi media. Ini berarti ada perubahan dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat.

Salah satu isu terkait sosial dan budaya adalah isu seks dan pornografi. Kemudahan akses internet dan isi media yang sering kali tidak mendidik dan tidak ada sensor mempengaruhi perilaku masyarakat. Apalagi jika menyangkut anak-anak sebagai korban pelecehan seksual. Meskipun sudah diatur dalam berbagai peraturan, tapi kerap kali media-media porno masih muncul di tengah masyarakat, dan hal masalah yang muncul kemudian adalah karena media tersebut mudah diakses masyarakat. Selain itu, media yang berisi kekerasan juga berpotensi ditiru oleh anak-anak secara tidak langsung atau tanpa disadari. Masyarakat atau khususnya anak-anak sering kali disuguhi berbagai adegan kekerasan dalam media yang memberikan pengaruh di alam bawah sadar mereka, sehingga suatu saat nanti mereka berpotensi untuk melakukan kekerasan.

Teknologi komunikasi telah banyak mengubah pola perilaku dan komunikasi individu. Satu hal yang lazim kita lakukan saat ini adalah tentang “percakapan maya”. Dulu seseorang harus bertatap muka langsung untuk berkomunikasi dengan orang lain, tapi sekarang cukup menekan tombol telepon, atau menyambungkan komputer dengan internet, seseorang dapat langsung mengobrol satu sama lain, bahkan melihat wajahnya. Dulu seseorang harus menulis surat untuk menyampaikan pesan kepada orang yang berada jauh darinya dan untuk menyampaikan pesan tersebut memakan waktu dua sampai tiga hari atau bahkan lebih. Namun, sekarang cukup dengan mengetik di keyboard ataupun handphone untuk mengirim SMS atau e-mail.

Media-media komunikasi yang ada saat ini memang sangat memudahkan interaksi kita dengan orang lain, tapi di sisi lain juga mengurangi kualitas hubungan seseorang. Hal ini disebabkan perbedaan pesan yang disampaikan ketika seseorang bertatap muka dengan melalui tulisan atau suara. Ada pesan-pesan nonverbal, seperti raut wajah atau bahasa tubuh lainnya yang sebenarnya sangat penting dalam komunikasi. Hal inilah yang tidak dapat disampaikan oleh media-media tersebut, bahkan teknologi video call yang memungkinkan pengguna untuk saling bertatap muka melalui layar, tetap tidak dapat mampu menyampaikan pesan nonverbal tersebut secara maksimal.

Akibatnya, teknologi secara tidak langsung turut berperan dalam mempengaruhi nilai-nilai budaya. Berawal dari penggunaan teknologi komunikasi, yang lama kelamaan menjadi kebiasaan, dan kebiasaan yang semakin berkembang menjadi sebuah budaya. Oleh karena itu, terdapat beberapa pergeseran nilai-nilai budaya akibat perkembangan teknologi. Akses terhadap media komunikasi membawa informasi-informasi yang membuka gerbang untuk pertukaran nilai budaya. Maraknya film-film Hollywood masuk ke Indonesia. Film-film produksi Disney pun tidak sedikit menghiasi layar kaca rumah kita. Begitu pula dengan media cetak. Berbagai majalah-majalah yang menampilkan fashion dan budaya-budaya luar lainnya pun marak dan sangat diminati oleh remaja Indonesia saat ini. Para remaja pun terkonstruksi pikirannya bahwa baju-baju seperti yang ada di majalah itulah baju yang seharusnya dipakai saat ini. Hal ini pun tentu berimbas pada budaya Indonesia, baik disadari maupun tidak.

Perkembangan teknologi dan media sesungguhnya memberikan berbagai kontribusi positif bagi perkembangan aspek-aspek lainnya. Akan tetapi, semakin berkembangnya suatu teknologi pasti akan mengubah pola hidup dan aspek-aspek kehidupan manusia. Perubahan terhadap pola hidup dan aspek-aspek kehidupan manusia ini pun tentunya tidak jauh dari hal-hal yang berhubungan dengan masalah politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Lantas, apakah itu berarti kita tidak perlu mengadopsi teknologi? Bukankah dengan mengadopsi suatu teknologi dapat berpotensi terhadap munculnya permasalahan-permasalahan baru. Memang benar, tapi bukan berarti kita tidak mengadopsinya sama sekali. Teknologi diciptakan untuk mempermudah hidup manusia. Dalam rangka mempermudah kehidupan manusia tersebut, tentunya akan muncul berbagai masalah baru, dan itu adalah suatu hal yang wajar. Semua itu kembali lagi pada pribadi kita masing-masing, bagaimana kita ingin menyikapinya? Apakah  kita mau mengadopsi teknologi atau menjadi orang-orang yang antiteknologi? Saya memilih untuk tetap mengadopsi teknologi dan berhadapan dengan segala konsekuensi yang mungkin akan terjadi.

Referensi: Straubhaar, Joseph & LaRose, Robert. 2004. Media Now: Communications Media in the Information Age. Belmont, CA: Wadsworth.

2 komentar :

Terima kasih ya gan atas artikelnya, thanks for sharing :)

Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai Dunia Informasi, menurut saya bidang studi Sistem Informasi merupakan bidang studi yang sangat menarik
juga banyak hal yang bisa dipelajari di dunia Informasi.
Saya juga mempunyai tulisan yang sejenis
mengenai bidang Sistem Informasi yang bisa anda kunjungi di Lembaga Sistem Informasi

Posting Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.