28 Desember 2010

Kisah Media Siar: Radio, Televisi, dan Kawan-kawannya

Ketika akan memulai tulisan yang bertema media audio visual ini, saya langsung teringat dengan salah satu kegiatan favorit saya sewaktu kecil dulu, yaitu menonton Doraemon dan Power Rangers di televisi setiap hari Minggu pagi. Saya masih ingat dengan jelas betapa saya dulu sangat kagum dengan alat-alat canggih yang dikeluarkan Doraemon dari kantong ajaibnya, dan juga aksi heroik Power Rangers menaklukkan musuh-musuhnya. Semua itu teringat jelas dalam memori saya, termasuk lagu-lagu pembuka dan penutup film Doraemon dan Power Rangers. Saya pun kemudian berpikir bahwa semua memori ini terekam dengan baik karena adanya media televisi yang mendukung penyampaian pesan dalam bentuk audio dan visual. Seandainya film Doraemon atau Power Rangers hanya disajikan dalam bentuk visual tanpa ada audionya maka saya yakin film-film tersebut tidak akan menarik untuk ditonton. Begitu juga sebaliknya, jika film-film tersebut hanya disajikan dalam bentuk audio tanpa gambar-gambar yang mendukung maka baik Doraemon maupun Power Rangers tidak akan diminati oleh anak-anak.

Televisi merupakan salah satu bentuk media penyiaran. Media penyiaran terbagi atas dua jenis, yaitu audio dan visual. Media penyiaran merupakan media yang jauh lebih rumit dibandingkan dengan media cetak. Hal tersebut ditunjukkan pada isi yang dipasarkan harus lebih menarik dan cara untuk memublikasikannya pun membutuh satelit. Selain itu pun jangkauannya jauh lebih luas. Jika setiap kota atau wilayah memiliki surat kabar masing-masing, berbeda dengan media penyiaran. Media penyiaran memiliki satu pusat decoder yang nantinya semua program penyiran disiarkan satu negara.

Kembali ke soal televisi. Jadi, beruntunglah kita adalah generasi yang mengenal televisi. Televisi berhasil menyihir hampir seluruh umat manusia tertarik dengan si “kotak bergambar” ini. Namun, perjalanan televisi dan media audio visual lainnya pun tidak singkat. Media audio visual, seperti televisi berkembang dari berbagai macam penemuan-penemuan yang bermula dari media audio saja. Pada mulanya pun, sebelum menjadi produk global seperti saat ini, televisi dianggap sebagai barang mewah oleh sebagian besar orang. Namun, televisi kini dianggap sebagai salah satu kebutuhan utama karena adanya kebutuhan akan informasi dan hiburan pada diri manusia. Kini televisi menjadi salah satu media sarana yang paling murah dan mudah diakses untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Televisi reguler yang umumnya kita miliki adalah sebuah sistem dengan sinyal yang memiliki frekuensi dan amplitudo beragam untuk merepresentasikan elemen gambar dan suara. Standar teknis pada televisi hingga kini masih berada dibawah pengaturan National Television Systems Committee (NTSC). 

Televisi pada saat itu berhasil menggeser berbagai kedudukn media massa di masyarakat karena kemampuannya menampilkan efek audio dan visual. Di Amerika terdapat empat stasiun televisi yang siaran secara nasional yaitu Fox, CBS, NBC, dan ABC yang semuanya bersiaran secara jaringan di setiap daerah.  Kini, televisi hampir selalu dapat ditemukan di setiap rumah. Orang-orang jatuh cinta kepada televisi. Padahal jauh sebelum munculnya media televisi, media audio lebih dulu ditemukan. Salah satu teknologi audio yang kita kenal adalah musik.

Musik sudah dikenal lama oleh manusia sebagai simbol upacara atau bahkan hanya sekedar untuk hiburan semata. Teknologi rekaman akustik pertama dikembangkan oleh Thomas Edison tahun 1877. Dia menciptakan prototipe “phonograph” yang dapat memutar musik. Beberapa tahun selanjutnya pada 1882, Emile Berliner menciptakan gramophone yang memainkan piringan datar. Dengan adanya phonograph masyarakat lebih mengenal jenis musik-musik baru. Dalam perkembangannya, radio pun muncul dan memberi dampak yang besar dalam perkembangan industri musik karena dapat menjangkau massa yang sangat luas sehingga semakin banyak bermunculan pencipta lagu dan artis-artisnya.

Radio memiliki peran yang sangat kuat dalam menyebarkan music dan infromasi. Perkembangan radio sendiri dimulai dengan perkembangan industri musik di dunia. Namun, kebutuhan masyarakat yang semakin tinggi terhadap informasi membuat berkembangnya berbagai saluran radio dengan konten berita dan news event. Namun demikian, pada dasarnya radio tetaplah menjadi media yang sangat erat dengan musik.

Pada perkembangannya saat ini, masyarakat dunia yang dinamis, sering kali menghabiskan waktunya di luar rumah. Hal ini kemudian menjadi celah bagi industri radio untuk memanfaatkan kebutuhan masyarakat akan berita dan peristiwa terkini. Saluran radio pun semakin beragam dan hampir sama seperti media lainnya memiliki target khalayak yang spesifik. Saat ini kompetisi semakin kuat setelah munculnya format lagu digital seperti format MP3, adanya download lagu secara gratis via internet, dan munculnya iPod. Kini, radio pun telah menjadi media yang mampu melakukan komunikasi dua arah. Melalui radio seseorang dapat ikut bepartisipasi dalam menyampaikan berbagai peristiwa yang terjadi, juga dapat ikut menentukan musik atau lagu apa saja yang dia inginkan untuk diputar oleh stasiun radio tersebut.

Baik televisi maupun radio kini terus berkembang. Saat ini seiring dengan perkembangan internet dan teknologi yang juga turut menyediakan elemen audio dan video, terciptalah televisi dan radio online. Selain itu, salah satu teknologi penting dalam televisi adalah Televisi Remote Control yang memungkinkan penggunanya dalam mencari atau memindahkan channel. Saat ini,televisi sudah mulai semakin beragam dan canggih misalnya saja adanya TV Interaktif yang memudahkan penggunanya berinteraksi secara langsung dengan konten televisi, tapi sayangnya penggunannya masih terbatas di beberapa negara. HDTV adalah High-Definition Television yang merupakan inovasi terbaru televisi dan sub dari TV digital.

Teknologi komunikasi akan terus berkembang seiring berjalannya waktu dan tentunya selama dunia ini masih ada. Dalam kaitannya dengan media massa berjenis audio visual seperti televisi dan radio, media-media ini pun terus dikembangkan secara komprehensif guna “melayani” kebutuhan manusia terhadap informasi dan hiburan. Lalu bagaimanakah nasib media lama, seperti koran, majalah, dan sebaginya? Media-media lama atau konvensional seperti koran dan majalah tetap memiliki pasarnya sendiri. Hal ini dikarenakan setiap media memiliki keunikan akan karakteristiknya dan masing-masing selalu memiliki khalayaknya sendiri-sendiri. Misalnya, dengan adanya televisi, radio tentu tidak ditinggalkan walaupun secara fair harus dikatakan bahwa audio visual jelas jauh lebih menarik daripada audio saja. Ini karena para tunanetra atau orang yang berkendara di mobil lebih nyaman menerima informasi melalui radio. Selain itu, kecepatan penyebaran berita media radio pun masih jauh lebih cepat dibandingkan dengan media televisi, sehingga banyak orang yang masih menggunakan radio karena media ini memiliki unsur kecepatan dalam membawa berita. Bahkan secanggih apa pun media online, kita akan tetap mengunggulkan majalah atau surat kabar untuk menerima informasi di tempat yang sinyal internetnya lemah. Walaupun saat ini isu lingkungan sedang meruak, tapi rasa kenyamanan dalam membaca kertas koran atau majalah tetap tidak bisa tergantikan oleh layar komputer. Artinya, setiap media mempunya keunggulan dan kelemahannya masing-masing. Jadi, tidak ada media yang akan mengalahkan media yang lain atau media yang lebih tua hanya karena banyak kelemahannya dibandingkan dengan media baru. Namun, perlu disadari bahwa media baru pun tidak sepenuhnya dapat menggantikan media lama yang lebih dulu “mengambil” hati manusia serta menciptakan kultur media di tengah peradaban manusia.

Referensi: Straubhaar, Joseph & LaRose, Robert. 2004. Media Now: Communications Media in the Information Age. Belmont, CA: Wadsworth.

0 komentar :

Posting Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.