28 Desember 2010

Media Cetak dari Masa ke Masa

Media cetak adalah salah satu bentuk media yang paling dekat dengan kita. Mulai dari koran, majalah, buku, dan sebagainya adalah bentuk media cetak yang hampir selalu kita temui setiap hari. Saya ingat, ketika dulu saya masih berada di bangku SD, saya sangat menyukai hari Kamis karena di hari itu saya selalu membeli majalah Bobo. Majalah itu adalah majalah anak-anak favorit saya, dan saat itu saya merasa sangat senang tiap kali bisa mendapatkan Bobo di hari Kamis. Sementara itu, ibu saya menyukai tabloid Nova, dan ayah saya hampir setiap hari membeli koran Kompas atau Media Indonesia. Hingga hari ini pun hidup saya tidak terlepas dari media cetak. Berbagai macam manusia di belahan dunia mana pun masih sangat mengandalkan media cetak untuk mendapatkan informasi dan juga hiburan. Namun, perlu waktu yang sangat panjang bagi media cetak untuk pada akhirnya bisa menjadi besar di masa sekarang ini.

Media cetak pertama yang muncul adalah buku. Isi dari buku ini berupa cerita dan pengalaman yang didokumentasikan dalam bentuk teks. Di Eropa, pada awalnya digunakan semacam kain yang diimpor dari Cina yang digunakan sebagai sarana untuk menulis. Kemudian seiring berjalannya waktu teknik yang digunakan adalah jenis movable metal yaitu menggunakan cetak logam yang dapat digerakkan yang dikembangkan oleh Johannes Gutenberg pada sekitar tahun 1455. Sejak, penemuan ini dunia media cetak mulai mengalami kemajuan pesat. Buku pertama yang dicetak secara masif oleh Gutenberg’s Press adalah The Gutenberg Bible. Dengan penemuan alat cetak ini, berbagai tulisan dapat didistribusikan secara luas dengan biaya yang lebih efisien. Secara singkat, penemuan ini meningkatkan kecepatan produksi barang cetakan, termasuk buku, koran dan majalah.

Penemuan mesin cetak oleh Gutenberg pun turut menyebabkan munculnya perpustakaan modern yang dimulai di Oxford tahun 1602. Di Amerika, pengembangan media cetak dimulai dengan menyalin buku-buku religi. Lalu berkembang dengan mencetak koran, majalah dan almanak. Benjamin Franklin dapat mencetak almanak yang berisi pesan-pesan moral, tips-tips bertani dan informasi lainnya yang bervariasi. Ia juga mendirikan perpustakaan publik untuk mempopulerkan budaya membaca.

Kemudian majalah muncul di Inggris pada abad XVII dengan memuat artikel dan cerita fiksi dan nonfiksi, seperti Gentleman’s Magazine pada tahun 1731 yang mengupas kesusastraan, politik, biografi, dan kritik sosial. Pada akhir abad XVIII dan awal abad XIX, majalah mulai berani memublikasikan berbagai laporan investigatif yang agak “menyentil”. Hal ini kemudian dikenal sebagai muckraking; jurnalis yang berani mengupas isu-isu sosial, politik, dan ekonomi tanpa memandang status dan kepentingan kalangan atas. Setelah tahun 1920-an, majalah modern mulai berkembang dengan isu-isu yang lebih ringan dan populer di tengah masyarakat.

Majalah pertama Amerika tahun 1741 adalah American Magazine dan General Magazine and Historical Chronicle. Pada masa itu masih terbatas karena pembaca dan penulis masih sedikit dan tingginya biaya penerbitan dan pendistribusiannya. Awalnya, banyak majalah yang mengangkat isu utama politik, lalu berkembang ke isu ekonomi dan lain-lain seperti majalah untuk wanita agar menarik pembaca yang lebih banyak. Selama era perang, majalah mulai memiliki dampak yang lebih luas dalam kehidupan masyarakat karena majalah mampu mendramatisasi suasana dan keadaan selama perang berlangsung.

Setelah buku dan majalah, kita mengenal koran. Sejarah mengenai koran adalah sejarah mengenai perkembangan ide-ide tentang bagaimana peran jurnalisme seharusnya. Pada mulanya, sebelum ada koran (newspaper), ada yang disebut dengan newsletter. Newsletter merupakan bentuk lembaran-lembaran informasi atau berita yang tidak teratur dan biasanya berisi isu-isu ekonomi, iklan komersial, atau perdagangan. Lembaran-lembaran berita yang juga disebut corantos ini kemudian digantikan dengan lembaran berita harian yang disebut diurnos. Tidak seperti corantos, diurnos lebih fokus terhadap peristiwa-peristiwa dalam negeri atau domestik.

Undang-undang kebebasan pers kemudian secara resmi dibuat di Amerika Serikat dalam Constitutional Convention tahun 1787. Keinginan untuk melindungi kebebasan berbicara pada pers tertuang pada amademen pertama dari konstitusi tersebut. Namun, kebebas pers tetap tidak berarti bahwa kebebasan utuh. Bagaimanapun etap ada pembatasan terhadap ucapan-ucapan seditious atau perkataan yang menghina pemerintah.

Perkembangan koran di Amerika Serikat tumbuh dengan cukup pesat. Mulai dari munculnya koran penduduk asli Amerika pertama, pers warga Afrika-Amerika, hingga ada yang disebut sebagai The Penny Press, yaitu koran yang dijual hanya seharga satu sen. Setelah itu kemudian dunia pers masuk ke era The New Journalism yang fokus terhadap jurnalisme investigatif. Di era ini muncul dua tokoh yang berpengaruh terhadap dunia jurnalisme, yaitu Joseph Pulitzer dan  William Randolph Hearst. Pulitzer menekankan bahwa jurnalisme harus memiliki tanggung jawab sosial terhadap publik atas apa yang diberitakan, sedangkan Hearst membawa konsep jurnalisme lain yang disebut yellow journalism atau jurnalisme yang menekankan atau berorientasi pada berita-berita sensasional yang dapat meningkatkan jumlah pendapatan. Dua tokoh ini kemudian menginspirasi banyak orang lainnya hingga jurnalsime terus berkembang ke tahap responsible journalism hingga masa professional journalism yang mulai menarapkan kode-kode etik jurnalisme yang mengatur landasan kerja seorang jurnalis dan bagaimana seharusnya seorang jurnalis bekerja.

Koran mulai berkembang sebagai media massa antara tahun 1890–1920. Perkembangannya sangat pesat melampaui industri periklanan dan distribusi yang akan mendukungnya. Akhirnya pada tahun 1927 muncul radio yang menjadi kompetitior, dan diikuti oleh televisi pada tahun 1950-an. Mulai tahun 1990-an, koran yang dulu diedarkan secara manual juga mulai diedarkan melalui situs internet. Situs internet ini pun akhirnya mengancam eksistensi koran karena dalam sebuah situs terdapat berbagai informasi yang ada di koran. Fenomena lain yang terjadi adalah adanya koran nasional di Amerika Serikat, seperti Wall Street Journal, New York Times, dan USA Today yang mampu menjangkau khalayak dalam jumlah besar dengan harga yang terjangkau. Koran nasional ini biasa mengakat tema tentang berita nasional, berita internasional, bisnis, gaya hidup, dan beberapa soal hiburan. Di Amerika sendiri saat ini hampir 60% orang dewasa masih membaca koran, tetapi remaja masih sangat jarang membaca koran. Kepemilikan koran ini juga akhirnya terkonsentrasi pada perusahaan-perusahaan besar dengan tujuan efisiensi biaya. Akhirnya ini dapat mengurangi keberagaman isi berita dan mengikis berita lokal. Walaupun begitu prinsip akurasi, independensi, dan perlakuan kepada narasumber dengan sebaik-baiknya tetap menjadi prinsip utama dalam penulisan berita di koran.

Lalu, bagaimana dengan masa depan media cetak di masa-masa yang akan datang? Di tengah persaingan dan derasnya arus informasi serta diiringi dengan perkembangan teknologi yang semakin mutakhir, banyak yang mengatakan bahwa pada akhirnya media cetak, khususnya koran akan hilang (musnah). Banyak isu yang mengatakan bahwa pada akhirnya orang-orang akan beralih ke koran-koran online, buku-buku elektronik (e-books), dan sebagainya. Namun, menurut saya pribadi, hal tersebut tentu harus di lihat dari konteks tempat dibicarakannya isu tersebut. Dalam konteks Indonesia, saya rasa isu bahwa akan tergantikannya koran-koran dengan media online, masih jauh dari realitas atau bahkan belum sampai pada taraf isu yang mengancam. Mengapa demikian? Karena mayoritas penduduk Indonesia belum memiliki akses yang mudah terhadap internet. Bahkan, masyarakat yang memiliki perangkat komputer pribadi di rumahnya pun terbilang masih sangat sedikit. Oleh karena itu, isu tersebut belum menjadi isu yang “mengancam” keberadaan koran di Indonesia. Namun, jika kita lihat dalam konteks negara-negara Eropa atau Amerika Serikat, potensi hilangnya koran seiring perkembangan teknologi komunikasi, memang harus menjadi isu yang diperhatikan secara serius. Karena pada faktanya ada banyak perusahaan koran yang sudah berusia ratusan tahun yang akhirnya harus “gulung tikar” karena tidak mampu menyaingi produk media cetak online.

Sekali lagi, munculnya media online pada dasarnya memudahkan, tapi di satu sisi tetap ada unsur negatifnya. Namun, semuanya kembali pada manusia, sebagai agen yang mampu memutuskan harus atau tidak perlunya digunakan sebuah produk teknologi, seperti teknologi media cetak yang terus berkembang misalnya. Perkembangan media cetak dari masa ke masa telah melalui begitu banyak perubahan. Satu perubahan akibat ditemukannya suatu teknologi baru mampu mengubah kestabilan media lain yang sudah jauh lebih tua berdiri. Namun, sekali lagi, teknologi diciptakan untuk mempermudah hidup manusia. Perkembangan media cetak hingga hari ini pun terus berkembang demi memudahkan manusia untuk mendapatkan informasi di tengah derasnya arus informasi global saat ini.

Referensi: Straubhaar, Joseph & LaRose, Robert. 2004. Media Now: Communications Media in the Information Age. Belmont, CA: Wadsworth.

2 komentar :

maaf sebelumnya, sy sdg mencari literatur ttg media dan sedikit2 mencari pencerahan ttg media cetak juga. kebetulan sy tdk sengaja membuka link yang menampilkan post anda ini. terima kasih sebelumnya, karena telah mempublish tulisan yang bertemakan media dan agaknya membuka ide/pencerahan utk penelitian sy. :)

Oh ya, sama-sama. Mungkin bisa membaca buku yang saya jadikan sebagai bagan referensi juga: Media Now: Communications Media in the Information Age.

Posting Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.