Welcome to My World!

Welcome visitors! Please enjoy my site and I hope you can get many useful information. If you wish, you may contact me through Facebook, Twitter, or any other social media that I linked on the menu bar above. Thank you.

Die Poskarten

This is my another blog: Die Poskarten. This blog will show you all my postcards collection. If you want to swap a postcard, please don't hesitate to contact me from the menu bar above.

Bonjour à Tous !

"Bonjour à Tous !"is my Tumblr site. Please take a look on it and maybe you can find some funny contents that you will love. You can also follow me on Tumblr to get my updates on the site.

Please Do Not Copy

You are welcome to link to my site and use my resources in your classroom, but please respect my hardwork and do not copy my page or files and add them to your website. Thank you.

Russia Beyond the Headlines in Bahasa Indonesia

Russia Beyond the Headlines, your guide to Russia, a diverse and complex country cannot be understood in the context of stereotypes. Now available in Bahasa Indonesia!

28 Desember 2011

Menulislah untuk Mengubah Dunia

"We are told to remember the idea, not the man, because a man can fail. He can be caught, he can be killed and forgotten, but 400 years later, an idea can still change the world. I've witnessed first hand the power of ideas, I've seen people kill in the name of them, and die defending them... but you cannot kiss an idea, cannot touch it, or hold it... ideas do not bleed, they do not feel pain, they do not love..."—Evey Hammond, from "V for Vendetta" (2005)
Pernahkah kita berpikir bahwa terkadang ide-ide kecil atau pemikiran-pemikiran yang mungkin sering kali kita anggap sepele atau sederhana bisa membuat sebuah perubahan besar? Mungkin sering terlintas dalam pikiran kita mengenai hal-hal yang luar biasa, tapi kadang kita anggap tidak penting, atau bahkan konyol? Saya pernah berpikir begitu, tapi percayalah pemikiran seperti itu tidak benar. Ide atau pemikiran adalah sebuah anugerah luar biasa yang Tuhan berikan kepada manusia. Setiap manusia memiliki ide atau pemikiran yang berbeda-beda atas sesuatu hal, dan percayalah apa pun ide yang terpikirkan, sebuah pemikiran merupakan buah intelejensia manusia, dan itu sangat beharga—tidak ternilai.

Beberapa hari lalu, saya baru saja menonton film "V for Vendetta". Well, saya tidak akan berbicara mengenai isi film ini, tapi ada sedikit kutipan yang sangat menarik dari film ini. Kutipan tersebut telah saya tulis di awal tulisan ini. Satu hal yang penting (menurut saya) adalah bahwa dalam kutipan tersebut dikatakan: "We are told to remember the idea, not the man, because a man can fail. He can be caught, he can be killed and forgotten, but 400 years later, an idea can still change the world." Ini merupakan suatu indikasi bahwa kita haruslah menghargai sebuah pemikiran, bukan orang yang mengeluarkan pemikiran tersebut. Seseorang bisa saja berasal dari berbagai macam latar belakang yang berbeda, tapi sebuah pemikiran tidak mengenal latar belakang seseorang. Sebuah pemikiran memperlihatkan suatu ide atau gagasan atas sesuatu yang ditujukan demi sebuah perubahan atau perbaikan. Dan yang terpenting, ide atau pemikiran tidak bisa mati, sedangkan si pencetus ide akan mati. Namun, sebuah ide masih bisa mengubah dunia, bahkan di ratusan tahun mendatang.

Apakah benar demikian? Apakah benar sebuah ide masih bisa mengubah dunia bahkan hingga ratusan tahun mendatang? Ya, sangat bisa. Oleh karena itu, diperlukan satu hal sederhana untuk membuat ide tersebut abadi: menulis. Ya, sederhana, kita hanya perlu menulis ide tersebut. Hal ini menjadi masuk akal ketika saya pun teringat mengenai bagaimana perjuangan kemerdekaan bangsa ini di masa-masa penjajahan kolonial Belanda. Segala macam ide untuk mempersatukan bangsa dimulai dari sebuah ide yang dituliskan dan dipublikasikan. Para pemuda pribumi baik yang di dalam negeri maupun yang saat itu sedang belajar di Belanda saling menulis gagasan-gagasan mereka mengenai konsep persatuan bangsa untuk mendapatkan kemerdekaan. Mungkin Ada ingat bahwa para founding fathers negeri ini pun kerap kali dijebloskan ke penjara bahkan hingga diasingkan hanya karena menerbitkan tulisannya yang berisi gagasan-gagasan yang dianggap mengancam oleh Belanda pada saat itu. Inilah kekuatan ide yang dituliskan. Siapa yang sangka bahwa dari ide-ide kecil segelintir orang mengenai persatuan demi kemerdekaan bangsa pada akhirnya dapat berdampak pada terwujudnya persatuan itu sendiri?

Contoh lainnya, mungkin Anda juga pernah mendengar berbagai teori-teori sosial, ekonomi, politik, dan berbagai ideologi-ideologi yang hingga kini berkembang di dunia. Dari manakah asalnya teori-teori sosial itu? Dari manakah asalnya ideologi liberalisme, kapitalisme, marxisme, komunisme, dan sebagainya itu? Semua pemikiran itu berasal dari pemikiran seorang manusia yang kemudian dituangkan ke dalam tulisan dan dipublikasikan. Dan pemikiran-pemikiran populer masa kini yang banyak sekali diadopsi di berbagai negara-negara (bahkan di tingkatan individu) tidaklah diterima secara mentah pada masanya. Tidak sedikit orang-orang yang mencemooh konsep-konsep yang dicetuskan oleh para pencetus teori dan ideologi ini. Namun, apa yang membuat ide ini bertahan bahkan akhirnya dipakai oleh banyak umat manusia di dunia ini? Tidak lain dan tidak bukan karena ide ini ditulis dan dipublikasikan. Orang-orang pun membaca, dan percayalah, jika Anda berpikir bahwa pemikiran Anda itu "gila" atau "bodoh" maka Anda bukanlah satu-satunya di dunia ini yang berpikir "gila" atau "bodoh" layaknya apa yang Anda pikirkan tersebut. Akan ada orang-orang yang memiliki pemikiran yang sama dengan Anda, dan orang-orang yang sepemikiran dengan Anda ini tidak akan membiarkan kesamaan pemikiran ini lenyap begitu saja. Dengan demikian, merekalah yang akhirnya menyebarkan "pengaruh" atas ide atau pemikiran Anda tersebut. Pada akhirnya sebuah ide ini tersosialisasi dengan baik di masyarakat dengan bukan tidak mungkin bahwa pemikiran ini benar-benar diadopsi, dan ini berarti Anda mengubah dunia.

Jadi, saya kira, mengubah dunia tidak harus dengan hal-hal ekstrem yang mungkin sering kali dianggap sebagai jalan pintas dan super cepat untuk membuat sebuah perubahan. Perubahan itu memang terjadi ketika ada aksi ekstrem yang dilakukan, tapi perubahan tersebut tidak berpondasi. Dalam arti, tidak ada dasar yang benar-benar kuat dalam membuat perubahan tersebut—hanya ada semangat yang berlandaskan emosi, tapi tidak diiringi dengan pemikiran yang kuat. Lain halnya jika kita menuliskan ide kita dan membaginya pada orang-orang. Perubahan itu pun akan terjadi, tapi memang bisa cepat atau lambat. Hanya saja yang membedakan adalah dasar atau alasan yang menjadi pegangan mereka yang mendukung perubahan lebih baik atau lebih memiliki pondasi. Dan hal yang lebih mengejutkan lagi adalah dalam situasi orang-orang yang ingin menuntut perubahan akibat "tertular" dari apa yang Anda tulis, mereka bisa jauh lebih bersemangat dan melakukan jauh lebih besar dari apa yang mungkin pernah Anda pikirkan. Jadi, perubahan butuh proses. Perubahan bukan sekedar soal hasil atau output.

Menulis mengubah dunia. Dunia di sini tidak harus berarti dunia secara harfiah. Dunia bisa berarti hidup Anda, dunia Anda, lingkungan tempat Anda bekerja atau berinteraksi setiap harinya, dan banyak hal lainnya. Apakah Anda percaya? Sejujurnya, saya pernah tidak percaya, tapi suatu hal mengubah itu semua dan saya menjadi percaya bahwa dengan menuliskan ide atau gagasan Anda mengenai sesuatu maka pemikiran tersebut akan mendapat respon. Ada yang suka, tapi bisa juga lebih banyak yang tidak suka. Namun, perlu diingat, bahwa Anda bukanlah satu-satunya orang di dunia ini yang berpikir bahwa suatu hal salah atau hal itu tidak seharusnya dijalankan demikian. Artinya, perlu ada perubahan atau perbaikan. Dan Anda tidak perlu melakukan hal-hal ekstrem hanya untuk menunjukkan bahwa Anda tidak setuju. Tulislah dan beri tahu dunia bahwa Anda tidak setuju. Sebarkan pemikiran Anda kepada orang-orang. Beri tahu mereka bahwa Anda punya gagasan yang lebih baik. Tentunya Anda pun harus siap bahwa tidak semua orang pula akan setuju. Beberapa mungkin menjadi tidak suka atau bahkan benci dengan Anda, tapi apa masalahnya? Seisi dunia tidak akan membenci Anda hanya karena Anda menulis dan berbagi sesuatu mengenai pemikiran Anda. Hanya segelintir orang tertentu saja dan anggaplah itu sebagai tantangan bagi Anda untuk meyakinkan mereka bahwa pemikiran Anda memang tepat untuk diaplikasikan.

Apakah ini hal yang rumit? Tidak, ini jelas sangat sederhana. Anda hanya perlu menulis. Iya, menulis. Tidak harus dengan secarik kertas dan sebatang pena. Anda bisa menuliskan ide Anda di blog misalnya atau bisa di berbagai media lain. Dan pastikan orang lain membaca tulisan Anda itu. Siapa tahu mereka pun setuju dengan apa yang Anda usulkan. Dan siapa tahu, mereka yang menjadi penggerak atau motor perubahan; bukan Anda, Anda adalah otaknya.

Jadi, apakah Anda punya ide jenius tentang sesuatu? Jangan pernah anggap sepele ide Anda. Tulis dan cobalah! Karena saya sudah membuktikannya sendiri. Namun, sekali lagi, mungkin Anda akan "dikutuk" oleh beberapa orang yang tidak menyukai gagasan Anda, tapi siapa peduli? Jika gagasan itu jenius dan gagasan itu mampu mengubah hal yang Anda anggap salah maka Anda telah melakukan hal yang benar. Mereka yang tidak suka hanyalah "korban" dari perubahan atau perbaikan sistem yang mereka anggap sudah nyaman berada di dalamnya. Jadi, cukup masuk akal jika mereka yang berada di dalam sistem menjadi tidak menyukai Anda, terkadang mereka akan terbawa situasi dan suasana. Namun, yakinlah bahwa Anda tidak pernah sendiri. Anda bukanlah satu-satunya orang yang memikirkan apa yang Anda pikirkan, hanya saja Anda berani untuk menulis dan membagi ide Anda kepada publik, dan itulah yang membuat Anda beda dari pemikir-pemikir lain (yang mungkin hanya sekedar berpikir). Menulislah karena menulis adalah langkah awal membuat perubahan. Jangan menyepelekan kekuatan sebuah tulisan. Selamat mencoba!

27 Desember 2011

Media dan Kelompok Waria

Dalam kehidupan masyarakat Indonesia, pada umumnya kaum waria belum diterima sebagaimana orang-orang berorientasi seksual normal (heteroseksual). Pada umumnya masyarakat menganut paham bahwa hanya ada dua jenis kelamin saja yang diakui, yaitu pria dan wanita. Seorang pria harus bersikap sebagaimana halnya sikap seorang lelaki (maskulin), sedangkan wanita harus bersikap sebagaimana halnya sikap seorang wanita (feminin). Hal ini berarti tidak ada pengakuan masyarakat terhadap pria yang bersikap dan bertingkah-laku seperti wanita  yang biasa disebut waria atau banci.

Walaupun secara psikologis kaum waria tidak digolongkan sebagai orang-orang ’berpenyakit’, masyarakat Indonesia masih menganggapnya sebagai momok dan patut dijauhi. Baik masyarakat yang tinggal di kota besar maupun masyarakat di daerah terpencil kerap mengucilkan kaum ini. Anggapan bahwa waria adalah kaum yang kerap kali melakukan tindak kriminalitas menjadi salah satu alasan mengapa masyarakat merasa perlu menjauhi kaum tersebut. Persepsi semacam ini bisa terjadi karena ada peran media massa dalam pencitraan kaum waria.

Dalam sebuah penelitian yang menganalisis muatan berita yang mengangkat kasus dari kaum waria di harian Kompas dan Jawa Pos terbitan 2001 – 2004, ditemukan bahwa dalam konsep kriminalitas, waria digambarkan sebagai kelompok yang sering melakukan tindak kejahatan, seperti mencuri uang saat melayani, merampas ponsel, membunuh kekasihnya karena cemburu dan kriminalitas lainnya. Makna dan pencitraan yang muncul dalam teks cenderung negatif. Dikatakan cenderung negatif karena sekalipun dalam pemilihan kata atau frase tidak terdapat kata berkonotasi negatif, tapi secara tidak langsung pemberitaan kriminalitas yang dilakukan media memberi citra negatif pada gender waria. 

Dalam tema kriminalitas, Jawa Pos dan Kompas memang lebih berperan sebagai pihak yang menceritakan fakta. Meskipun demikian, fakta yang ditampilkan dalam pemberitaan telah mengonstruksi identitas waria sebagai individu atau kelompok yang sering melakukan tindak kriminalitas—sekalipun dalam hal ini media bersikap netral.

Ada beberapa kasus yang menggambarkan stereotiping terhadap kaum waria di Indonesia. Salah satunya adalah adanya tokoh waria yang diperankan oleh Tessy Srimulat. Srimulat yang pernah bertahan hampir selama delapan tahun di  Indosiar, hampir tidak pernah absen menampilkan Tessy yang identik dengan tokoh waria berdandanan tebal dan berperilaku ceroboh sehingga mengundang tawa dari penonton. Tokoh banci Tessy ini disukai penonton sehingga akhirnya muncullah berbagai tokoh banci lain, seperti  Aming, Tora Sudiro, dan Sogi Indradhuaja dalam acara Extravaganza di TransTV. Ketiganya berpenampilan serupa dengan Tessy: berdandanan tebal ala perempuan, bersuara tinggi, dan kerap melakukan kecerobohan yang disengaja untuk mengundang tawa.

Penampilan tokoh banci kemudian mendapat larangan dari KPI. Alasan pelarangan oleh KPI ini berdasarkan Pedoman Perilaku Penyiaran - Standar Program Siaran (P3-SPS) yang menyatakan bahwa lembaga penyiaran dilarang memuat program yang melecehkan kelompok masyarakat yang selama ini diperlakukan negatif dan kelompok masyarakat yang kerap dianggap memiliki penyimpangan orientasi sesksual, seperti waria/banci, laki-laki yang keperempuanan, perempuan yang kelaki-lakian, dan sebagainya.

Pencitraan negatif terhadap kaum waria semakin diperkuat dengan munculnya reality show Be A Man. Di dalam acara tersebut digambarkan ada beberapa waria yang dilatih sampai benar-benar menjadi laki-laki sejati; berpenampilan dan berperilaku maskulin. Hal ini menunjukkan bahwa dalam masyarakat Indonesia sosok laki-laki semacam inilah yang bisa diterima, sedangkan yang lain tidak.

Selain itu, pencitraan negatif terhadap waria juga berasal dari industri musik dalam negeri. Pada tahun 2005, grup musik Project Pop merilis lagu berjudul ”Jangan Ganggu Banci”. Dari judul lagu ini, jelas memberi citra bahwa waria adalah kaum yang berbahaya sehingga masyarakat diharapkan jangan mengganggu (berurusan) dengan kaum waria. Media lainnya yang juga turut berkontribusi dalam memberikan citra negatif pada kaum waria adalah komik. Komik Benny & Mice yang muncul seminggu sekali di harian Kompas diterbitkan dalam sebuah buku ”100 Tokoh yang Mewarnai Jakarta”. Buku yang menggambarkan berbagai tipe orang Jakarta itu pun menghadirkan karikatur kaum waria di Jakarta. Di buku tersebut digambarkan ada dua tipe waria, yaitu waria/banci lampu merah dan banci Taman Lawang. Pengkotak-kotakan dalam kaum waria ini pun jelas semakin menyudutkan dan memberikan image buruk pada kaum waria. Tidak ketinggalan, di dunia maya pun citra waria tidak lebih baik di dunia yang sebenarnya. Apa yang terjadi di dunia maya memang merupakan cerminan dari realitas yang terjadi di dunia ini. Di situs microblog, seperti Twitter, hadir akun @KamusBANCI2012 yang berisi segala hal mengenai bahasa-bahasa banci. Hal yang lebih mengejutkan adalah bahwa akun tersebut memiliki 24.426 followers. Ini membuktikan bahwa masyarakat Indonesia melihat kaum waria sebagai bahan lelucon yang wajar.

Dampak dari segala pencitraan negatif terhadap waria oleh berbagai media tentunya semakin merendahkan kaum waria di mata masyarakat. Masyarakat pun menganggap waria sebagai bahan lelucon atau sesuatu yang menghibur. Selain itu, muncul pula fobia atau rasa takut yang disebut homophobia dan transphobia di tengah masyarakat. Sementara itu, dari kalangan waria sendiri pun muncul protes terhadap apa yang telah dicitrakan media kepada mereka selama ini, tapi suara-suara kaum waria itu pun tidak begitu menjadi perhatian publik karena publik telah terstigma dengan apa yang digambarkan media mengenai kaum waria selama ini.

Bahasa (per)Gaul(an)

Bahasa Indonesia yang digunakan di kalangan anak remaja (yang lebih dikenal dengan istilah ABG atau Anak Baru Gede) Indonesia saat ini sangat berbeda dengan bahasa Indonesia yang dengan prinsip bahasa Indonesia yang baik dan benar. Salah satu syarat bahasa yang baik dan benar adalah pemakaian bahasa yang yang mengikuti kaidah yang dibakukan.[1] Selain itu bahasa yang baik dan benar dianggap baku atau pemanfaatan ragam yang tepat dan serasi menurut golongan penutur dan jenis pemakaian bahasa.[2] Bahasa ABG cenderung memilih ragam santai sehingga tidak terlalu baku (kaku). Ketidakbakuan tersebut tercermin dalam kosakata, struktur kalimat dan intonasi.
Ragam bahasa remaja memiliki ciri khusus, singkat, lincah dan kreatif. Kata-kata yang digunakan cenderung pendek, sementara kata yang agak panjang akan diperpendek melalui proses morfologi atau menggantinya dengan kata yang lebih pendek. Selain itu, kalimat-kalimat yang digunakan kebanyakan berstruktur kalimat tunggal.
Seiring dengan perkembangan zaman, bahasa Indonesia pun banyak mengalami penambahan begitu banyak kosakata. “Bahasa” baru ini datang dari percampuran antara bahasa daerah dan bahasa sehari-hari.  Banyak orang yang merasa prihatin dan menganggap kosakata baru tesebut merusak bahasa bakunya. Namun, hal tersebut semakin sulit dielakkan mengingat teknologi informasi yang sudah sangat terbuka sekarang ini dan tentu saja arus informasi tersebut akan saling mempengaruhi.
Namun, terlepas merusak bahasa baku atau tidak, istilah dan kosakata baru (yang sering dikatakan sebagai bahasa gaul) semakin memperkaya khazanah bahasa Indonesia. Para pengguna bahasa Indonesia harus mampu membedakan antara yang baku dan yang bukan. Seluruh masyarakat, termasuk remaja, tahu bahwa bahasa Indonesia telah memiliki format yang baik dan benar. Namun, tak bisa dipungkiri akibat perubahan zaman, muncullah istilah-istilah baru. Sering kali istilah-istilah baru ini tiba-tiba tercipta tanpa tahu siapa yang mencetuskan dan mempopulerkannya pertama kali.
Bahasa gaul sudah muncul sejak awal 70-an. Awalnya bahasa ini digunakan agar orang di luar komunitas tertentu tidak mengerti, jadi mereka tidak perlu sembunyi-sembunyi jika membicarakan hal yang negatif. Lama kelamaan kebiasaan itu mulai ditiru oleh anak-anak remaja usia belasan tahun, bahkan menjadi semakin bervariasi kosakatanya, misalnya kata “saya” yang dalam dialek Jakarta atau Betawi menjadi “gue” berubah menjadi “ogut” atau “gout”. Atau perubahan yang cukup ekstrem, misalnya, sebutan untuk orangtua, seperti ibu atau bapak berubah menjadi “nyokap” dan “bokap”. 
Berikut ini beberapa istilah gaul anak remaja masa kini yang populer di akhir dekade 1990-an hingga di awal abad ke-21, antara lain:
1.        Bonyok
Kata ini merupakan singkatan dari Bokap-Nyokap (orang tua). Memang tidak diketahui secara pasti siapa yang mempopulerkan kata ini, tapi kata ini mulai sering digunakan diperiode awal 2000-an, ketika bahasa SMS mulai populer di kalangan remaja. Bokap (Ayah) dan Nyokap (Ibu) sendiri merupakan istilah yang telah populer sejak tahun 80-an dan masih digunakan hingga hari ini.
2.        Culun
Culun dapat berarti “lugu-lugu bodoh”.
3.        Cupu
Sebutan ini lazim ditujukan untuk seseorang yang berpenampilan kuno. Dengan kata lain, dianggap tidak  mencerminkan kekinian, misalnya berkacamata tebal dan modelnya tidak trendi, kutu buku, kurang bergaul di kalangan anak muda. Cupu sendiri merupakan kependekan dari kalimat “culun punya”.
4.        Alay
Singkatan dari Anak Layangan, yaitu diidentifikasi sebagai orang-orang kampung yang bergaya norak. Alay sering diidentikkan dengan hal-hal yang bersifat norak dan narsis.
5.        Jayus
Diartikan sebagai suatu usaha untuk melucu, tetapi dianggap tidak lucu, sering juga disebut “garing“. Menurut sumber dari dunia maya, kata “jayus” ini berasal dari sekelompok remaja SMA yang bergaul di daerah Kemang. Konon, ada seseorang bernama Herman Setiabudhi, dia dipanggil teman-temannya Jayus karena bapaknya bernama Jayus Kelana, seorang pelukis di kawasan Blok M. Si Herman ini tiap melawak tidak pernah lucu. Teman-temannya sering mengomentari tiap lawakan yang tidak lucu dengan celetukan Jayus. Ucapan inilah yang kemudian diikuti teman-teman setongkrongannya di Kemang, dan tempat-tempat nongkrong anak remaja di sana.
6.        Lebay
Merupakan hiperbola dan penyingkatan kata “berlebihan”. Kata ini populer di tahun 2006-an. Tokoh yang mempopulerkan adalah Ruben Onsu dan Olga di berbagai kesempatan di acara-acara di televisi yang mereka bawakan. Biasanya digunakan untuk “mencela” orang yang berpenampilan norak.
7.        Garing
Kata ini merupakan kata dari bahasa Sunda yang berarti “tidak lucu”. Awalnya kata-kata ini hanya digunakan di Jawa Barat saja. Namun, karena banyaknya mahasiswa luar pulau yang kuliah di Jawa Barat (Bandung) lalu kembali ke kota kelahiran mereka, kata ini kemudian dipakai mereka dalam beberapa kesempatan. Karena seringnya digunakan dalam pembicaraan, akhirnya kata ini pun menjadi populer di beberapa kota besar di luar Jawa Barat.
8.        Meneketehe
Kata ini berasal dari kata “Mana Kutahu” dan diplesetkan oleh Tora Sudiro sekitar awal tahun 2000-an di acara Extravaganza, TransTV. Istilah itu cukup populer dan saat ini masih cukup sering digunakan orang.
9.        Ember
Kata ini merupakan plesetan dari kata “Memang Benar”. Pertama kali dipopulerkan oleh Titi DJ yang secara tidak sengaja menyebut kata ini saat menjawab pertanyaan orang. Sejak itu, kata ini sering digunakan di berbagai kesempatan.
10.    Ajib
Artinya enak, asik, atau clubbing. Kata ini mulai populer di tahun 90-an ketika musik trance dan narkoba jenis shabu-shabu baru mulai populer. Kata ini biasanya digunakan oleh para penikmat kedua hal itu. Istilah ini diambil dari suara hentakan tempo musik trance yang kalo didengar dengar teliti memang terdengar seperti itu.
11.    Jablay
Kata ini dipopulerkan oleh Titi Kamal saat menyanyikan lagu berjudul sama dalam film Mendadak Dangdut (2006). Merupakan singkatan “Jarang Dibelai” yang mengandung arti lebih jauh sebagai ungkapan hati seorang wanita yang jarang mendapatkan belaian pasangannya. Namun, kini makna kata ini menjadi semakin negatif.
12.    Secara
Kata ini menjadi populer di tahun 2006-an di kalangan siswa-siswi SMU yang menggunakan kata ini sebagai kata ganti “Karena/Soalnya”. Sesekali pula digunakan sebagai sisipan tanpa makna (hanya sebagai penekanan pada kalimat yang mereka katakan). Contoh pemakaiannya:
a.         Gue enggak bisa ke ikut nonton nih hari ini, secara nyokap gue lagi sakit.
b.         Ya… gimana dong? Secara kan kita udah janji…
13.    Jutek
Berasal dari kata yang sering digunakan oleh para PSK di awal tahun 2000-an untuk menggambarkan pria yang sombong dan jarang tersenyum. Kata ini akhirnya menjadi kata umum yang digunakan untuk melukiskan orang yang menyebalkan, judes, galak, emosian, dan sombong.
14.    Cumi
Merupakan singkatan yang mengandung banyak arti (tergantung CUMI yang dipakai adalah singkatan dari apa). Awalnya, kata ini dipopulerkan oleh sebuah produk kartu telpon seluler di tahun 2008-an, yang akhirnya berkembang menjadi bahasa gaul anak-anak remaja untuk menjelaskan kondisinya saat ini, seperti CUma MIkir, CUma MIscal, CUma MIrip, CUma MInjam, CUkup MIris, dan sebagainya.
15.    Jaim
Konon kata jaim ini di populerkan oleh seorang bapak yang menasehati anak perempuannya jika bergaul dengan teman laki-lagi jangan mengumbar kata maupun tingkah laku alias harus bisa “Jaim”. Sang anak bertanya apa itu Jaim, dan dijawab Jaim alias jaga image. Sang anak pun meniru dan mempopulerkan kata jaim itu di sekolahnya.

Terkait dengan asal-muasal bahasa gaul, ada sebuah penafsiran bahwa dalam dunia muda berlaku simbol-simbol yang sederhana (simple), mudah diucapkan, akrab ditelinga, dan spontan. Jika ada sebuah kata yang dianggap baru dan tepat untuk menggambarkan suatu keadaan maka dengan cepat akan segera diadopsi. Bisa jadi ucapan-ucapan tersebut puda mulanya hanya berawal dari celetukan spontan saja, tetapi karena dianggap memenuhi unsur-unsur tersebut di atas maka kata tersebut segera menyebar akan menjadi populer, apalagi jika media meng-expose dan semakin mempopulerkan kata baru tersebut. Namun, bahasa gaul ini tidak selamanya dipakai dan dikenal sebagaimana bahasa Indonesia baku yang memang menjadi standar resmi dalam berbahasa Indonesia. Bahasa gaul ini akan mengalami masa pasang-surut, tiap generasi memiliki selera sendiri.


[1] Badudu, J. (1989). Inilah Bahasa Indonesia yang Benar. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
[2] Moeliono, A. M. (1991). Santun Bahasa. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

26 Desember 2011

Mengapa Kantor Komunikasi?

"Jika kita melihat sebuah kekeliruan, jangan diam. Ubahlah dengan tanganmu. Jika kita mendengar sebuah kekeliruan, jangan diam. Serukan dengan suaramu. Jika kita merasakan sebuah kekeliruan, jangan diam. Ingkarilah dengan hatimu."—Muhammad Alvin Dwiana Qobulsyah, Departemen Kajian dan Aksi Strategis BEM FISIP UI 2009
Berangkat dari kutipan di atas—yang masih terngiang-ngiang di kepala saya hingga saat ini—itulah yang kemudian menjadi dasar alasan mengapa saya masih melanjutkan dan berada di lembaga eksekutif mahasiswa tingkat fakultas ini bahkan di tahun ketiga saya di kampus. Jelas, ada sebuah kekeliruan. Teman-teman saya dua tahun silam dari Departemen Kajian dan Aksi Strategis BEM FISIP UI 2009, khususnya Alvin, mengatakan, “Jika kita melihat sebuah kekeliruan, jangan diam.” Ya, saya melihat sebuah kekeliruan di lembaga ini, khususnya dalam hal sistem komunikasinya. Mungkin bukan suatu hal yang besar dan memang tidak perlu dibesar-besarkan, tapi rasanya saya menjadi salah ketika saya mengetahui sebuah kekeliruan dan saya diam.

Dalam suatu organisasi, masalah komunikasi kerap kali muncul menjadi suatu masalah yang rumit dan terkadang “berbahaya” baik bagi suatu organisasi maupun suatu kepanitiaan program kerja. Hal ini bisa terjadi ketika masalah-masalah komunikasi tidak ditangani dengan baik atau bahkan hanya dianggap ringan. Memang, pada dasarnya masalah-masalah komunikasi bukanlah masalah-masalah yang memerlukan perhatian besar. Masalah-masalah komunikasi tidaklah seriskan masalah-masalah keuangan yang jika dalam pelaksanaannya terdapat kesalahan dapat berakibat fatal bagi suatu organisasi atau kepanitiaan. Namun, pada kenyataanya masalah-masalah komunikasi yang ringan ini sering kali memiliki dampak yang besar atau bahkan berdampak fatal jika tidak diatasi dengan serius.

BEM FISIP UI sebagai sebuah lembaga mahasiswa tingkat fakultas yang salah satu tugasnya adalah mewadahi berbagai aspirasi mahasiswa FISIP UI terkait berbagai aspek, tentu memerlukan suatu media atau wadah komunikasi untuk memberikan feedback atas berbagai tanggapan atas aspirasi mahasiswa, opini, memberikan kejelasan atas kesimpangsiuran informasi, ataupun memberikan penyikapannya sebagai suatu lembaga atas suatu isu. Selama ini, BEM FISIP UI memiliki suatu biro yang berhubungan dan berkoordinasi langsung dengan ketua BEM FISIP UI. Biro tersebut adalah Biro Hubungan Masyarakat (Humas). Biro Humas pada dasarnya bertugas menjalankan berbagai fungsi dan peran kehumasan suatu lembaga, dalam hal ini BEM FISIP UI, serta tugas-tugas yang mencakup segala fungsi komunikasi antara lembaga dengan lembaga, lembaga dengan dekanat atau para pemangku kepentingan, lembaga dengan masyarakat, dan lembaga dengan mahasiswa. Lantas, bagaimana dengan fungsi “humas” itu sendiri? Apakah benar-benar berjalan? Pada kenyataannya, selama ini Biro Humas lebih terkesan sebagai suatu bagian dalam BEM FISIP UI yang bertugas hanya untuk menjalankan fungsi publikasi, seperti menempel poster-poster di papan-papan komunikasi dan meng-update informasi BEM FISIP UI di akun-akun situs jejaring sosial, seperti Facebook dan Twitter. Ini berarti hanya terjadi komunikasi satu arah. Memang, di situs-situs jejaring sosial, sang administrator atau pemegang akun situs jejaring sosial dapat berinteraksi dengan publik atau dalam hal ini para mahasiswa FISIP UI pada khususnya. Namun, apakah kinerja publikasi dan interaksi dengan publik secara maya itu sendiri sudah maksimal?

Lantas, dengan demikian, timbul suatu pertanyaan dalam diri saya, apakah kemudian dengan peran Biro Humas yang seperti itu telah membuat penyampaian pesan atau proses komunikasi suatu organisasi menjadi baik? Bagaimana dengan citra BEM FISIP UI di mata mahasiswa FISIP UI, apakah sudah baik? Bagaimana dengan citra BEM FISIP UI di mata dekanat atau para pemangku kepentingan, apakah sudah baik? BEM FISIP UI memang bekerja, mengabdi, dan melayani mahasiswa FISIP UI, tapi itu tentu tidak berarti bahwa BEM FISIP UI harus mengenyampingkan kepentingan-kepentingan lain di luar kepentingan mahasiswa. Pihak-pihak luar yang ikut berhubungan dengan BEM FISIP UI pun harus tetap diperhatikan walaupun memang dalam batas dan porsi tertentu. Semua ini terangkum dalam suatu masalah yang dapat saya katakan sebagai masalah komunikasi. Semua hal ini butuh diselesaikan dari suatu perspektif atau pendekatan komunikasi serta strategi komunikasi tertentu dalam menyelesaikannya.

Sebagai seseorang yang telah terjun di BEM FISIP UI selama dua periode kepengurusan dan sekaligus sebagai seorang mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi di FISIP UI, tentu hal ini pun tidak luput dari pengamatan saya. Saya kemudian menyadari bahwa meletakkan Biro Humas sebagai dasar atau pondasi atas berbagai strategi komunikasi lembaga adalah hal yang keliru, atau dapat saya katakan tidak bijaksana. Hal ini dikarenakan segala fungsi humas adalah bagian dari komunikasi. Sementara itu, masalah komunikasi tidak hanya terbatas pada masalah-masalah humas saja. Jadi, menjadi suatu hal yang keliru jika Biro Humas dijadikan satu-satunya corong komunikasi lembaga baik ke dalam maupun ke luar lembaga. Oleh karena itulah saya mengajukan bentuk baru dalam sistem kehumasan BEM FISIP UI, yang saya sebut sebagai Kantor Komunikasi.

Kantor Komunikasi (bukan Kantor Komunikasi dan Informasi—KKI) BEM FISIP UI kemudian lahir sebagai suatu bidang baru yang ada di kepengurusan BEM FISIP UI tahun 2011. Bidang ini merupakan bidang yang secara garis besar bertugas untuk menjalin hubungan kepada berbagai pihak, baik di dalam maupun luar fakultas, serta membuat pencitraan dan kerangka opini publik yang positif. Dengan menjalin hubungan baik dengan semua elemen yang berkaitan dengan BEM FISIP UI, Kantor Komunikasi diharapkan akan menciptakan BEM FISIP UI yang membumi dan inklusif. Seluruh program kerja Kantor Komunikasi harus sejalan dengan penjagaan citra BEM FISIP UI yang positif dan profesional agar terwujud visi yang diusung, yaitu partisipatif dan kontributif.

Citra yang baik dimulai dari komunikasi yang baik pula. Oleh karena itu, Kantor Komunikasi merupakan garda terdepan BEM FISIP UI dalam menjalin komunikasi yang baik dengan seluruh stakeholders atau para pemangku kepentingan melalui tindakan dan ucapan yang sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku, serta kekonsistensian dalam melakukan hal-hal tersebut. Selain itu, memberikan informasi secara lengkap dan berkesinambungan mengenai BEM FISIP UI dan memberikan feedback atau timbal balik kepada sasaran agar kedua belah pihak saling mendapatkan kebermanfaatan atau keberlanjutan hubungan, merupakan misi yang dibawa oleh Kantor Komunikasi dalam menjalankan fungsinya sebgai bidang yang berperan dalam pembuatan media dan mengarahkan opini publik yang positif terhadap BEM FISIP UI.

Di bawah Kantor Komunikasi BEM FISIP UI terdapat sebuah biro, yaitu Biro Hubungan Masyarakat (Humas). Kantor Komunikasi dan Biro Humas senantiasa menjalankan tugasnya dalam berfungsi sebagai komunikator, badan konsultasi, dan pendukung berbagai bidang, departemen, biro dan elemen lainnya di tubuh BEM FISIP UI. Adapun tugas tersebut tertuang dalam bentuk program kerja yang terencana dan juga respon proaktif atas kebutuhan yang  diperlukan dan belum tercakup oleh program kerja. Tentu saja pada akhirnya seluruh usaha dilakukan demi mencapai visi dan misi BEM FISIP UI dan lebih lagi sebagai bentuk pengabdian pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia.

22 Desember 2011

Tiga Tahun di BEM FISIP UI, Rasanya?

Bertepatan dengan berakhirnya acara FISIP Awards pada tanggal 21 Desember kemarin maka berakhir sudahlah seluruh program-program kerja BEM FISIP UI pada kepengurusan tahun 2011 ini. Rasanya? Sangat senang dan juga terharu. Namun, di sini saya tidak akan bicara banyak soal "perasaan" senang dan terharu ini. Saya akan sedikit bercerita mengenai perasaan saya selama tiga tahun ini berkecimpung di dunia per-BEM-an di FISIP UI.

Pertama, saya akan bilang: thank God, finally it's over! Saya tidak pernah menyesal menjadi bagian dari keluarga BEM FISIP UI, tapi sungguh sangat melegakan karena pada akhirnya ini semua telah usai. Saya masih ingat, di akhir tahun 2008, tepatnya setelah salah satu program kerja BEM FISIP UI pada masa itu—GRAFITY 2008—berakhir, saya sangat yakin bahwa saya harus menjadi bagian dari organisasi (yang kini lebih sering saya sebut sebagai "second family") ini. Tidak hanya itu, saya ingat bahwa saya punya misi tertentu dengan bergabung di BEM FISIP UI, yaitu saya ingin menjadi Project Officer acara GRAFITY di tahun berikutnya; dan saya berhasil. Di akhir 2009, saya sedikit memperhitungkan apakah saya akan melanjutkan di BEM FISIP UI 2010 atau let's say mencoba hal baru di luar BEM. Ternyata tidak, saya pun ikut open tender untuk Biro Dana Usaha dan saya diangkat menjadi Kepala Biro Dana Usaha di BEM FISIP UI 2010. Artinya, itulah tahun kedua saya di BEM FISIP UI.

Kemudian, di akhir 2010, saya kira saya sudah mendapatkan banyak hal—pengalaman, kesuksesan (profit besar) dan tim terbaik yang saya punya di biro yang saya pimpin—dan itu membuat saya berpikir untuk "pensiun" dari duni BEM dan mulai lebih fokus dengan masalah akademis saya. Ambisi untuk lulus 3,5 tahun mulai terlintas dalam pikiran saya. Namun, ajakan Galih Ramadian (Ketua BEM FISIP UI terpilih periode 2011) pada malam Gelas Teko 3 (Gelar Apresiasi Teater Kolam) untuk bergabung di timnya pada kepengurusan 2011di bagian Humas membuat saya cukup berpikir keras. Ada semacam dorongan dari dalam diri saya untuk mengambil peluang ini, tapi di satu sisi ada pula perasaan-perasaan yang membuat saya ragu. Singkat cerita, saya pun akhirnya menerima ajakan beliau, dan... welcome in the third year!

Seorang sahabat, Yusuf Hakim Gumilang, yang juga merupakan Ketua BEM FISIP UI 2010 berkata pada saya bahwa di tahun ketiga di BEM, yaitu tahun di mana seorang pengurus berada dalam tataran Pengurus Inti, akan menjadi "tahun neraka" jika orang tersebut tidak benar-benar merasa nyaman atau bahkan terpaksa berada di dalamnya. Dan, saya bisa katakan bahwa di tahun ketiga saya ini, saya merasa berada di "depan pintu neraka", untungnya belum sampai di "nerakanya". Ada berbagai pergolakan dan ya... kegalauan yang saya alami di tahun ini. Mulai dari masalah akademis, masalah organisasi, hingga masalah pribadi yang akhirnya berimbas pada masalah-masalah lain. Ini parah; jelas sangat parah (bagi saya). Saya merasa kehilangan arah, saya merasa kehilangan kepercayaan diri, saya merasa gagal, saya merasa mengecewakan banyak orang, terutama mereka yang telah percaya pada saya. Berbagai tugas kuliah saya mulai tidak ter-manage dan rapat-rapat pengurus sering kali tidak saya hadari. Saya merasa begitu tertekan. Tekanan kuliah dan BEM sungguh membuat saya benar-benar tidak tahu harus apa. Saya selalu merasa tidak punya cukup waktu. Saya selalu merasa waktu 24 jam sangat kurang untuk menyelesaikan segalanya. Saya pun mulai bertanya-tanya dalam hati apakah keputusan saya pada saat itu tepat. Saya mulai meragukan diri saya sendiri. Sebelumnya, saya tidak pernah menyesali segala hal atau segala keputusan yang saya buat. Namun, pada saat itu, saya benar-benar merasa bingung.

Time heals. Dan itu terjadi. Sekitar empat bulan awal, saya merasa segalanya buruk. Saya merasa tidak bisa menentukan prioritas. Saya merasa semuanya penting untuk dikerjakan dan semuanya berantakan. Namun, perlahan semuanya kembali normal. Bukan karena saya, tapi berkat dukungan orang-orang di sekitar saya. Perlahan saya mulai menikmati kegiatan yang telah saya pilih ini. Memang tidak mudah, tapi saya mencoba selalu berpikir bahwa: tidak mudah bukan berarti tidak bisa. Akhirnya, hingga kini semuanya membaik (bagi saya). Saya sangat sadar, beberapa orang mungkin berpikir bahwa saya bukanlah seperti saya yang dulu pada masa 2009 dan 2010. Saya tidak akan menyangkal karena itu benar. Saya memang tidak merasa maksimal di tahun ini dan saya sangat menyesalkan hal itu. Namun, entahlah, ini pemikiran saya saja, tapi sepertinya kita memang tidak bisa benar-benar mengedepankan dua hal yang benar-benar menjadi passion kita tanpa harus mengorbankan salah satunya. Dalam hal ini, antara kuliah dan BEM. Mungkin kedua hal ini masih bisa berjalan berdampingan di dua tahun sebelumnya, tapi di tahun ini saya memang harus mengorbankan salah satunya. Bukan berarti tidak bertanggung jawab dengan pilihan yang telah saya pilih, tapi dua hal yang menjadi ambisi saya ini justru seperti berbalik "menyerang" saya. Ini membuat saya harus berfokus pada satu pilihan. Saya pun memilih lebih fokus pada kuliah karena memang jauh di lubuk hati saya, saya ingin lulus kulah dalam tempo 3,5 tahun.

Anggaplah ini sebagai "pengakuan dosa" saya kepada seluruh pengurus BEM FISIP UI 2011. Maaf, jika harapan kalian pada saya mungkin tidak begitu banyak yang bisa saya penuhi. Bukan karena saya tidak komitmen—saya selalu berusaha komitmen, hanya saja... tahun ini sangat sulit bagi saya. Ini membuat saya harus memilih. Namun, saya selalu berusaha untuk selalu mengerjakan secara inisiatif hal-hal yang menjadi tugas pokok saya pada kepengurusan tahun ini. Saya sadar, saya sangat tidak maksimal pada tahun ini, saya sadar bahwa banyak hal-hal yang mungkin tidak berjalan dengan baik sebagaimana mestinya. Saya sadar semua itu dan saya minta maaf kepada teman-teman pengurus semuanya.

Namun, saya sayang kalian. Saya sangat mencintai BEM ini. Inilah keluarga terhangat di luar rumah saya yang saya temui di kampus. Inilah keluarga yang saya punya pada saat saya merasa tidak memiliki siapa-siapa di jurusan saya dulu. Inilah keluarga yang mengajarkan pada saya bahwa apa pun mimpi yang kita punya, selama kita yakin bahwa kita bisa maka itu akan terwujud, tidak peduli apa pun hambatan dan rintangannya maka mimpi itu pasti terwujud. Inilah keluarga yang mengajarkan pada saya betapa arti "proses" jauh lebih penting daripada sekedar output. Inilah keluarga tempat saya menemukan orang-orang hebat, orang-orang yang membuat saya berpikir bahwa Indonesia masih punya harapan cerah jika orang-orang seperti kalianlah yang nantinya memimpin negeri ini. Inilah keluarga yang tidak akan pernah saya lupakan.

Terima kasih atas tiga tahun pengalaman yang luar biasa. Oke, sekarang saya mulai mengeluarkan air mata. Sedih. Sedih karena semua ini sudah berakhir, sedih karena sayangnya saya tidak berkontribusi maksimal di tahun ini, sedih karena... kenangan-kenangan itu begitu indah. Terima kasih Tata (Shinta Aprilia), orang yang sudah mengenalkan saya pada dunia ini. Terima kasih Thomas (Stevie Thomas Ramos), orang yang sudah memberi saya kesempatan menjadi bagian resmi dari keluarga ini untuk pertama kalinya. Terima kasih Ucup (Yusuf Hakim Gumilang), orang yang sudah saya anggap sebagai saudara saya sendiri, terima kasih atas kesempatannya di tahun ke-2. Dan... terima kasih Galih (Galih Ramadian), atas kepercayaannya dan kesabarannya menghadapi saya di tahun ini. Saya tahu, saya bukan yang terbaik dan saya tidak pernah berharap dianggap menjadi yang terbaik, tapi satu hal: terima kasih telah mengajak saya bergabung. Saya tidak pernah menyesal. Segalanya memang tidak mudah, tapi bukan berarti tidak bisa.

Akhirnya, saya sudah berada dalam detik-detik yang sangat emosional. Ada banyak perasaan yang bergejolak selama menuliskan posting-an ini. Apa lagi yang bisa saya bilang? Saya selalu bangga menjadi bagian dari keluarga ini, BEM FISIP UI, dan... semoga BEM FISIP UI cukup bisa mengenang bahwa, seorang anak "pemberontak" bernama Fauzan Al-Rasyid pernah menjadi bagian dari keluarga ini selama tiga tahun lamanya, dan dia sangat mencintai keluarganya ini, BEM FISIP UI, apa pun alasannya.
"Maaf, terima kasih, dan tetap berkontribusi."—Yusuf Hakim Gumilang, 2010

08 Desember 2011

It's in Indonesia

Hongkong? No, it is Indonesia (Jakarta, Thamrin).

Spain? No, it is Indonesia (Jakarta, Lapangan Banteng).

Shanghai, China? No, it is Indonesia (Jakarta, Mangga Dua).


Sydney, Australia? No, it is Indonesia (Makassar, Bandara Sultan Hasanuddin).

New Zealand? No, it is Indonesia (Komodo Island).

Monaco? No, it is Indonesia (Bunaken).

Somewhere in Africa? No, it is Indonesia (Kidul Mountain).

Gaza? No, it is Indonesia (Medan).

Singapore? No, it is Indonesia (Surabaya).

US highway? No, it is Indonesia (Suramadu Bridge).

Halong Bay, Vietnam? No, it is Indonesia (Raja Ampat).

Mali, Africa? No, it is Indonesia (Papua).


South America? No, it is Indonesia (Bromo Mountain).

Caribbean? No, it is Indonesia (Lombok).


Arab? No, it is Indonesia (Aceh).

Maldives? No, it is Indonesia (Bunaken).

Thailand? No, it is Indonesia (Prambanan Temple).

Japan? No, it is Indonesia (Medan Cosplayer).

Repost from Arra'di Nur Rizal's Facebook note. Yes, this is my country, Indonesia. Indonesia is more then just "a Bali", but it is larger and even much more beautiful then a single Bali. Bali is a part of Indonesia, and indeed, it's beautiful. But, the truth is: Indonesia is beautiful!

   Add Friend

18 November 2011

GRAFITY: Sesuatu Tentang Mimpi

Maskot GRAFITY 2010
Sebelum memulai isi tulisan, ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan. Pertama, tulisan ini saya dedikasikan untuk seluruh panitia GRAFITY (Get Ready for FISIP UI Try Out) 2011 dan juga panitia-panitia GRAFITY pada masa-masa mendatang yang sedang bekerja keras menyiapkan acara besar ini. Kedua, tulisan ini saya buat dengan harapan dapat memotivasi teman-teman panitia GRAFITY. Ketiga, kepada Andhika Mauludi atau yang akrab disapa Andhibul selaku Project Officer (PO) GRAFITY 2011, semoga tetap kuat dan lekas sembuh dari sakitnya. Percayalah, anak-anak GRAFITY di kampus sangat membutuhkan Pak PO, tapi lebih dari itu, tentu mereka (dan saya juga) berdoa agar Pak PO kembali sehat. :-)

Oke, GRAFITY.  Saya ingin sedikit bercerita tentang si GRAFITY ini. Rasanya saya memang punya ikatan emosional dengan acara yang satu ini. GRAFITY ini, seperti kepanjangannya, adalah sebuah acara try out atau simulasi tes masuk perguruan tinggi negeri, seperti SNMPTN dan/atau SIMAK UI. Saya mengenal acara ini sejak saya masih menyandang status sebagai mahasiswa baru FISIP UI tahun 2008. Sekarang tahun 2011, itu artinya tiga tahun silam. Sebetulnya, setelah saya ingat-ingat, pada saat saya masih duduk di kelas XII SMA, saya ingat bahwa pernah ada beberapa mahasiswa UI yang datang ke kelas saya dan berbicara soal try out. Baru ketika saya lihat pendaftaran atau open recruitment panitia GRAFITY di kampus, saya sadar bahwa GRAFITY dulu pernah roadshow  ke sekolah saya. Hanya saja, saya bukan tipe anak SMA yang suka ikut try out dari luar, sekalipun yang menyelenggrakan dari UI.

Oke, kembali ke cerita. Saat itu, saya (pada awalnya) hanya ya… bisa dikatakan sekedar iseng-iseng ikut open recruitment panitia GRAFITY 2008. Dan, ya… siapa sangka, saya pun diterima. Saya diterima di Divisi Humas, Publikasi, dan Dokumentasi (HPD). Memang, pada saat itu hanya itulah pilihan saya. Entah kenapa, sejak masih di bangku SMA, saya tertarik dengan hal-hal yang berhubungan dengan humas dan publikasi—walaupun toh di bangku kuliah ini pun saya tidak mengambil program studi Humas. Ya, saya hanya suka dengan masalah per-HPD-an, dan mulai saat itu “karir” saya di dunia GRAFITY pun dimulai.

Keluarga GRAFITY pertama saya, GRAFITY 2008
Setelah saya resmi menjadi seorang staf HPD GRAFITY 2008, saya tentu berusaha bekerja maksimal di kepanitiaan ini. Ah ya, lagipula kebetulan saya sedang berada dalam suasana yang kurang menyenangkan dengan ospek jurusan saya, jadi ya… saya pikir lebih baik saya mengembangkan diri di sini (GRAFITY) sajalah. Apalagi, saya lihat (pada saat itu) acara ini adalah program kerja BEM FISIP UI. Saya jadi berpikir, mana tahu dengan ikut kepanitiaan ini bisa membuka jalan saya untuk dapat bergabung di BEM FISIP UI tahun depan. Selain itu, saya bisa kenal banyak teman dan senior, tidak terbatas pada jurusan saya saja. Menurut saya itu adalah suatu hal yang sangat baik yang bisa saya dapatkan dengan ikut kepanitiaan ini. Hasilnya? Ya, sangat sesuai dengan ekspektasi saya. Saya belajar banyak di GRAFITY. Saya belajar mengatur waktu antara waktu kuliah, roadshow, rapat, dan sebagainya. Saya belajar bernegosiasi dengan pihak sekolah. Ya… saya juga jadi tahu sisi baik dan “busuknya” suatu sekolah. Ada yang murni tulus, tapi ada juga yang seperti musang. Ah, agak kasar ya? Tapi memang begitu adanya. Tidak hanya itu, saya belajar mengenal jalan di Jakarta! Hahaha, ya, karena saya termasuk orang yang  buta jalan, tapi dengan ikut GRAFITY, saya sekarang jadi banyak tahu jalan, termasuk jalan-jalan tikus. Selain itu, saya kenal dengan banyak pengurus BEM FISIP UI. Bagi saya, pada waktu itu ketika masih sebagai mahasiswa baru, kenal dengan pengurus BEM merupakan suatu hal yang membanggakan. Bagaimana tidak? Di saat teman-teman (sejurusan) saya sibuk ospek, saya sudah rapat di ruang BEM FISIP UI dengan panitia inti GRAFITY, saya sudah keliling SMA dengan jaket kebanggaan UI yang “menyilaukan” mata anak-anak SMA, saya mengendarai mobilnya ketua BEM masa itu untuk roadshow, saya kenal dengan banyak mahasiswa angkatan 2007 di luar jurusan saya, dan ya… banyak hal lainnya.

GRAFITY meninggalkan kesan mendalam bagi saya. Hal ini membuat saya yakin untuk kemudian bergabung di kepengurusan BEM FISIP UI 2009, di Biro Dana Usaha. Ya, di biro inilah GRAFITY “dilahirkan”. Dan di biro inilah saya kemudian dipercaya menjadi Project Officer GRAFITY 2009. Sejujurnya, setelah GRAFITY 2008 selesai, saya memang punya angan-angan untuk menjadi PO GRAFITY selanjutnya, dan ternyata, hal itu terwujud.

Panitia GRAFITY 2009 di SMAN 70 Jakarta
Selama menjadi PO, saya kembali mendapat banyak pembelajaran. Sejujurnya, saya merasa sebagai orang yang paling kompeten untuk menjadi seorang PO GRAFITY. Mengapa saya berpikir demikian? Karena di tahun 2008, saya tahu semua seluk-beluk masalah GRAFITY, dan saya tahu langkah apa saja yang harus dilakukan agar di tahun berikutnya GRAFITY lebih tertata dengan baik. Saya tahu apa yang terjadi dengan HPD, sistem tiket, masalah acara, masalah keuangan, dan banyak hal lainnya, dan bisa saya pastikan bahwa sayalah yang paling tahu masalah-masalah itu. Mungkin ada benarnya, tapi ternyata, sekedar paham masalah dan punya solusi tidak membuat seorang PO berhasil memimpin. Inilah yang saya pelajari. Menjadi PO bukanlah sekedar soal kematangan konsep yang sistematis, tapi lebih dari itu, menjadi PO adalah soal keberanian, kepedulian, dan tanggap. Berani soal apa? Berani dalam mengambil keputusan. Banyak masalah terjadi dan seorang PO harus bisa “ketok palu” sebelum masalah semakin besar. Oleh karena itu dibutuhkan sebuah keberanian dalam mengambil keputusan serta mempertanggungjawabkannya. Soal kepedulian; kepedulian yang bagaimana? PO tidak berjalan sendiri. PO memiliki tim yang harus dia ayomi. Oleh karena itu, PO tidak hanya memberikan perintah dan memantau timnya bekerja, tapi lebih dari itu, PO harus menunjukkan bahwa ia memang benar-benar peduli pada acara tersebut, dan khususnya kepada timnya itu sendiri. Dan soal tanggap, ya, seorang PO harus tanggap. Tanggap dalam melihat kemungkinan-kemungkinan atau peluang-peluang yang akan menghambat atau bahkan yang akan mendukung acara. Ketiga hal ini saya dapatkan selama menjadi PO GRAFITY 2009. Bukan hal mudah. Bahkan, sangat tidak mudah. Terkadang ada konflik, tapi lagi-lagi dari konflik itu saya belajar. Saya rasa, memang tahun 2009 itu adalah tahun yang penuh perjuangan, dan khususnya pada tahun itu, GRAFITY memang benar-benar "mengalihkan duniaku".

Kemudian di tahun 2010, saya memutuskan untuk melanjutkan karir saya di BEM FISIP UI. GRAFITY 2009 tidak saya katakan sukses. Memang tidak ada kerugian, tapi saya merasa gagal. Dan saya merasa tidak bisa diam. Saya merasa harus “menebus” kegagalan itu di tahun berikutnya. Tentunya, saya tidak akan jadi PO lagi. Saya akan mentransfer pengetahuan saya selama dua tahun di GRAFITY kepada mereka yang akan melanjutkan GRAFITY di 2010. Hal itu hanya mungkin saya lakukan jika saya menjadi orang yang “punya” GRAFITY. Dalam hal ini, artinya saya harus menjadi Kepala Biro Dana Usaha (Danus) BEM FISIP UI. Ya, dan… voilà! Saya pun menjadi Kepala Biro Danus BEM FISIP UI 2010. Ditemani oleh rekan seperjuangan saya di Biro Danus BEM FISIP UI 2009, Frisca Amelia, yang kemudian menjadi mitra kerja (wakil) saya di tahun 2010, serta didukung oleh rekan-rekan staf Biro Danus BEM FISIP UI 2010 yang luar biasa, saya kembali berangan-angan bahwa tahun 2010 harus menjadi GRAFITY tersukses selama sejarahnya. Sebetulnya, tidak begitu ada untungnya buat saya, karena toh bukan saya PO-nya. Kalau sukses pun, yang bangga dan yang merasakan indahnya “kemenangan” itu adalah si PO, bukan saya. Saya sebagai steering committee hanya bisa berbagai ilmu dan sedikit membantu baik dalam segi konsep maupun teknis, tetapi tetap saja yang mengerjakan adalah staf-staf Danus saya.  Namun, ini bukan soal siapa PO-nya, siapa yang akan sukses nanti, atau GRAFITY-nya siapa yang lebih baik. Lebih dari itu, ini adalah masalah impian (dreams) GRAFITY. Bagi saya, GRAFITY bukan sekedar program kerja atau sekedar acara try out. GRAFITY adalah dreams. Banyak hal luar biasa sulit datang selama perjalanan GRAFITY, tapi selalu ada harapan untuk GRAFITY yang lebih baik. Dan GRAFITY selalu percaya itu. Panitia GRAFITY percaya bahwa… bahkan di titik yang paling putus asa sekalipun, akan selalu ada keajaiban. Mungkin tulisan ini terkesan semakin mengkhayal, tapi memang begitu culture yang ada di GRAFITY.

Paint your dream as you want with GRAFITY 2009
Kultur dreams ini terlukis dalam berbagai tagline GRAFITY di setiap tahunnya. Di tahun 2008 dengan “Let’s chase your way to catch your dream!”, di 2009 dengan “Paint your dreams as you want!”, di 2010 dengan “Saatnya beraksi, bukan hanya bermimpi!”, dan di 2011 ini “Are you ready to shine?” Ya, ini semacam “the power of dreams”. Bukan soal tagline Honda, bukan. Inilah GRAFITY, we believe in dreams. Dan kenapa ada bintang di setiap logo GRAFITY? Karena itulah mimpi kita. Mimpi setinggi bintang. Anak-anak yang bermimpi ingin masuk PTN, atau khususnya UI, dan sama halnya dengan para panitia yang ingin GRAFITY ini sukses dan berkesan bagi para pesertanya. Jadi, ini semua soal dreams. Masuk PTN atau UI adalah dreams-nya anak-anak SMA. Bahkan, termasuk target roadshow yang dibuat oleh divisi HPD; itu juga dreams. Dan setiap tahunnya, GRAFITY bermimpi untuk menjadi GRAFITY yang lebih besar dari tahun sebelumnya. Itulah dreams.

Selama ini di GRAFITY saya telah belajar banyak. Perjalan yang dimulai dari staf divisi HPD GRAFITY 2008, menjadi PO GRAFITY 2009, dan akhirnya dipercaya menjadi Kepala Biro Danus BEM FISIP UI 2010 adalah soal dreams saya kepada GRAFITY.  GRAFITY berbeda dengan acara-acara try out lain pada umumnya. Oke, secara konsep memang tidak jauh beda. Namun, saya selalu mengatakan pada teman-teman panitia GRAFITY selama tiga tahun terakhir ini bahwa ada niat baik dari GRAFITY untuk membantu teman-teman SMA. Kita memang membuat acara yang profitable; itu jelas. Namun, kita tidak hanya memikirkan profit melainkan juga kualitas GRAFITY dalam menjaga kredibilitasnya sebagai penyelenggrara try out. Dan selalu ada konsep dreams, baik secara sadar maupun  tidak, yang kita tularkan di dalam kepanitiaan ini dan juga kepada anak-anak SMA di setiap roadshow GRAFITY. Dan itu membuat kita berbeda. Ya, saya katakan bahwa GRAFITY berbeda dari yang lain.

Panitia GRAFITY 2010 setelah roadshow di SMAN 60 Jakarta
Selain itu, GRAFITY, bagi saya adalah keluarga. Kepanitiaan ini bahkan sama besarnya dengan jumlah anggota pengurus BEM FISIP UI, mungkin akan semakin lebih banyak. Menjadi panitia GRAFITY berarti telah menjadi bagian dari keluarga Biro Dana Usaha BEM FISIP UI, dan itu artinya telah menjadi bagian dari keluarga besar BEM FISIP UI. Ya, kepanitiaan ini adalah sebuah keluarga besar. Adalah sebuah pengalaman yang tidak akan terlupakan bekerja bersama orang-orang hebat di kepanitiaan GRAFITY. Dan percayalah bahwa kalian akan menjadi orang-orang hebat setelah dari kepanitiaan ini. Kalian akan belajar banyak dari kepanitiaan ini. Kalian akan punya banyak kenangan yang tidak akan bisa kalian lupakan dari kepanitiaan super ini. Inilah GRAFITY, dan kalian tahu bahwa kalian berada di sebuah kepanitiaan yang tepat untuk mengembangkan diri kalian.

Tahun ini, GRAFITY akan “melebarkan sayapnya” ke tanah Pariangan (Bandung). GRAFITY tahun ini akan menjadi GRAFITY yang terbesar sejak GRAFITY pertama. Diadakan pada tanggal 27 November serentak di lima sekolah di Jabobek, dan tanggal 4 Desember di Bandung. Kepada seluruh panitia, jaga semangat kalian. Ingat, kalian membawa “mimpi” GRAFITY dan “mimpi” anak-anak SMA. Jadi, tetap SEMANGAT! Dan pastikan bahwa tahun ini adalah GRAFITY terhebat sepanjang sejarahnya, dan adalah kalian yang berada di balik kesuksesan GRAFITY tahun ini.

Oh ya, walau saya sudah bukan lagi mahasiswa dan tidak akan ikut roadshow mana pun, tapi saya punya mimpi, suatu hari nanti GRAFITY ini akan jadi acara yang sangat besar. Tidak hanya diadakan di tujuh sekolah, bahkan bisa lebih dari itu. GRAFITY ini bisa lebih besar daripada Bedah Kampus UI, bisa jadi acara yang selalu ditunggu-tunggu oleh anak-anak SMA. Ya, itu mimpi saya, dan saya percaya suatu hari nanti mimpi itu pasti terwujud. Who knows, siapa tahu nanti anak-anak saya yang akan mengikuti GRAFITY ini? Hahaha, bisa saja kan?

Well, saya rasa cukup sekian, dan ingatlah ketika harapan itu semakin tipis, percayalah bahwa keajaiban itu ada. Jangan pernah berhenti berharap dan bermimpi. Karena GRAFITY selalu percaya pada kekuatan mimpi, kita mengajak ribuan orang bermimpi, maka kita pun tidak boleh berhenti bermimpi dan percaya bahwa kita bisa. Selamat berjuang!


Panitia GRAFITY 2010 di SMAN 1 Bogor, 28 November 2010

   Add Friend

01 Oktober 2011

Saya Tidak Diam


Musuh kebebasan pers ada di luar dan di dalam diri wartawan serta medianya. Membiarkan diri tak sanggup membicarakan kebenaran karena pertimbangan kedekatan dan hubungan baik, sama berbahayanya dengan membiarkan adanya regulasi yang membatasi kemerdekaan.
Masmimar Mangiang, dalam “Kehormatan Jurnalisme

Saya memberi perhatian lebih pada kalimat: membiarkan diri tak sanggup membicarakan kebenaran karena pertimbangan kedekatan dan hubungan baik, sama berbahayanya dengan membiarkan adanya regulasi yang membatasi kemerdekaan. Ini menyangkut pandangan yang sayayang mungkin bagi sebagian orang katakan"tuduhkan" kepada teman-teman sejurusan saya sendiri. Namun, jika tidak ada yang pernah memulai bicara, saya pikir semua ini akhirnya hanya terpendam di benak mereka yang sebetulnya mungkin juga merasa hal yang sama seperti yang sama seperti yang saya rasakan. Jika hanya atas dasar "kedekatan" atau ada hubungan baik yang terbina lantas kita tidak mau bersuara, sekalipun kita tahu bahwa ada kekeliruan yang terjadi, itu berartiseperti yang saya kutip dari dosen saya, Bang Mimarsama berbahayanya dengan membiarkan regulasi yang membatasi kemerdekaan. Dalam hal ini, saya tidak diam.

Terima kasih Bang Mimar. Tulisan Bang Mimar sangat menginspirasi saya dan secara kebetulan "kata-kata pamungkas" di paragraf terakhir tulisan Abang sangat cocok menggambarkan apa yang saat ini saya sebut sebagai perjuangan mengukapkan kebenaran. Mungkin bagi sebagian orang kata-kata "perjuangan mengukapkan kebenaran" terkesan terlalu lebay, tapi bukankah seharusnya kita berjuang demi kebenaran?

   Add Friend

Komentar-komentar Lucu

Saya rasa nama saya akhir-akhir ini sedang jadi pembicaraan super hangat di jurusan saya. Ini serius, bukan ke-Ge-Er-an. Bagaimana tidak, seorang Fauzan Al-Rasyid lagi-lagi "bikin onar". Ah, ya ampun, Fauzan, kok enggak kapok-kapok ya? Ah, biarlah, toh sebenarnya niat saya baik, tapi mungkin beberapa orang tidak mampu melihat sisi niat baik tersebut. Mereka justru (seperti isi salah satu komentar yang masuk) "memasang tameng" untuk kelompoknya. Tentu ini perlu dicermati bahwa apakah artinya mereka menunjukkan mereka solid atau justru solid dalam membela diri, bukan kebenaran?

Ah, ya... teman-teman bisa membaca sendiri. Intinya, banyak sekali yang memberi komentar di sana (di blog) berkomentar hal-hal yang err... tidak berhubungan dengan substansi yang saya kritik. Ada yang membahas soal "keluarga", ada juga yang bahkan mebawa-bawa Tumblr saya dan pacar saya (kan udah ngaco itu?). Bahkan ada yang bilang bahwa dia lebih suka isi Tumblr saya dan pacar saya daripada isi Blogspot saya karena membahas hal-hal seperti ini. Oke, saya hargai itu, tapi itu sangat out of context. Ada juga yang menulis soal saya yang dulu ke kampus pernah menyematkan pin Garuda di baju saya, dan macam-macam lah... Jadi, apa ya...? Lebih mengomentari diri saya, tapi bukan isinya. Saya enggak marah loh ya... Ya... enggak masalah sih kalau mau komentar tentang diri saya, tapi itu jadi kelihatan anak-anak Komunikasi (yang berkomentar aneh-aneh ini) enggak berpikir atau menyorot pada substansi masalah.

Yang lucunya juga, ada yang menuntut soal "cover both side". Saya enggak tahu ya, ini saya yang bodoh atau bagaimana, tapi ini kan kritik, ya namanya kritik, bukan news. Ya mbok dibedakan toh. Selain itu, ada pula yang membawa-bawa soal jabatan saya di BEM FISIP UI saat ini. Ah, saya kira ini semua semakin mengada-ada. Entah ya, saya kira teman-teman di sana tidak mampu melihat niat saya. Saya sama sekali tidak ingin merusak citra HMIK. Toh, HMIK yang berisi anak-anak Komunikasi lebih tahu soal bagaimana membuat pencitraan yang lebih baik. Dan saya (sebagai anak Komunikasi yang masih waras) sama sekali tidak berniat "menjatuhkan" HMIK, atau apa pun yang mungkin mereka pikirkan tentang saya.

Ah, ya... saya pikir, apakah teman-teman yang berkomentar itu tidak berpikir, bahwa merekalah yang menjatuhkan citra HMIK? Kok bisa? Ya dengan komentar yang aneh-aneh dan cara mereka menjawab dengan hal-hal tidak masuk akal dan tidak sedikit ditambah dengan emosi, saya kira itu membuat publik melihat bahwa anak-anak Komunikasi tidak mampu menerima kritikan. Ya... saya kira begitu. Mungkin saya salah, tapi mungkin teman-teman bisa membaca dan menilainya sendiri.

29 September 2011

Sikap BEM FISIP UI Terhadap Aksi 28 September 2011


Sikap BEM FISIP UI Terhadap Aksi 28 September 2011

Permasalahan tata kekola UI yang belum menggunakan asas good governance menjadi permasalahan utama di kampus ini. Berawal dari pemberian gelar DHC kepada Raja Saudi yang belum terkonfirmasi kejelasannya, sentralisasi keuangan, transparansi pembangunan perpustakaan baru, masalah klasik BOP-B, dan sebagainya. Melihat permasalahan yang luas ini, pada awalnya mahasiswa ingin berfokus dan proaktif pada isu kemahasiswaan, yakni transparansi sistem pembayaran, transparansi jalur masuk, dan tingkatkan pelayanan kemahasiswaan. Beberapa cara sudah dilakukan dari kajian filosofis sampai dengan kuesioner evaluasi.

Salah satu masalah penting sekarang yang menjadi penentu masa depan pendidikan di UI ialah pembentukan statuta UI. Rektor sudah membentuk tim transisi, sedangkan rektor belum mempunyai legitimasi hukum yang pasti. Hal ini yang menyebabkan mahasiswa harus ikut mengawalnya karena tidak lagi menginginkan adanya privatisasi di UI. Distrust dari mahasiswa kepada Rektor pun semakin tinggi karena hal ini.

Pada perkembangan dari isu ini, informasi terbaru yang bermunculan mengenai rektor, menyebabkan BEM UI mengadakan CEM (Chief Executive Meeting) dalam rangka membahas hal-hal tersebut. Dalam pertemuan itu Andreas Senjaya (MWA Unsur Mahasiswa) dan Maman Abdurrakhman (Ketua BEM UI) menjadi pihak yang menyampaikan informasi. Pada pertemuan tersebut, BEM UI merasa harus menambah fokusnya dan pada sisi lain mengubah sikapnya.

Dinamika ini membuat BEM UI mengubah sikapnya dengan menginginkan percepatan pergantian Rektor UI. Tuntutan dari BEM UI ini rencananya akan disampaikan pada aksi hari Rabu, 28 September 2011 di Salemba, di mana pada saat itu diadakan Rapat Paripurna MWA UI untuk meminta pertanggung jawaban Rektor UI. Sikap BEM UI ini pun telah disosialisasikan di FORMA UI pada hari Minggu, 25 September 2011 di Pusgiwa UI. Setelah terjadi dinamika di FORMA, sikap dari BEM FISIP UI ialah menyatakan perlu ada beberapa langkah yang harus dilakukan sebelum menuju opsi percepatan pemilihan Rektor. Oleh karena itu, BEM FISIP UI menyatakan untuk tidak ikut aksi pada hari Rabu, 28 September 2011.

BEM FISIP UI melihat masa transisi sebelum RUU PT disahkan nanti sangat penting. Semua ini harus dilakukan dengan mengedepankan demokrasi substansial yang partisipatif dan transparan di UI dengan tidak menyerahkan tim transisi hanya dibentuk oleh sebagian golongan seperti Rektor atau MWA saja.  Hal ini disebabkan karena BEM FISIP UI menginginkan statuta UI nanti bebas dari segala bentuk komersialisasi pendidikan.

Oleh karena itu, BEM FISIP UI akan melakukan kajian mendalam terhadap situasi yang tengah terjadi, dan melakukan konsolidasi dengan organ intra dan ekstra untuk mendapatkan solusi terbaik.

Dipublikasikan oleh:








Contact Person:
Galih Ramadian: +62 818 910 752
Fauzan Al-Rasyid: +62 858 8551 2023

Facebook : facebook.com/bemfisipui. mahasiswa
Twitter : @BEMFISIPUI

26 September 2011

HMIK di Mata Saya

Everyone has the right to freedom of opinion and expression; this right includes freedom to hold opinions without interference and to seek, receive and impart information and ideas through any media and regardless of frontiers.
Article 19, The Universal Declaration of Human Rights.
Sebelum membaca tulisan ini, saya perlu menyampaikan beberapa maklumat. Pertama, kutipan di atas hanya untuk mengingatkan kita bahwa kebebasan berpendapat dijamin dalam The Universal Declaration of Human Rights. Kedua, saya tidak mencari keributan, seriously. Saya hanya mengungkapkan apa yang saya rasakan. Ketiga, tulisan kali ini adalah tulisan kedua saya tentang "sesuatu" di jurusan saya. Tulisan pertama yang di-post sekitar dua tahun lalu mengenai acara Malam Balas Jasa cukup mendapatkan "kesan" yang luar biasa dari teman-teman, bahkan para senior di jurusan saya. Ya, mudah-mudahan tulisan yang ini pun juga memberi kesan tersendiri, khususnya untuk teman-teman sejurusan saya di kampus. Keempat, tulisan saya kali ini mungkin akan sedikit (atau bisa juga cukup) "menyentil" sebagian orang atau kelompok tertentu. Jadi, sebagai orang Indonesia yang biasa bermaaf-maafan, saya minta maaf jika tulisan ini memang "menyentil". Namun, kadang kita memang perlu sedikit "disentil", selama memang ada suatu niat baik di baliknya. Dalam hal ini, Insya Allah, niat saya baik; (berusaha) menyadarkan dan memberikan pandangan lain terhadap kelompok ini.


Siapakah kelompok yang saya maksud? Kelompok ini sangat dekat dengan kehidupan saya di kampus walaupun saya sama sekali tidak pernah berusaha mendekatkan diri pada kelompok ini. Oke, jadi, sebut saja kelompok ini namanya HMIK, dan memang itulah nama sebenarnya. HMIK, Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi, adalah salah satu organisasi mahasiswa tingkat jurusan yang sah di kampus saya, FISIP UI. Para pengurusnya adalah para mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi tentunya, tapi... (ada tapi-nya) dengan status HMIK aktif. Maksudnya? Berarti ada yang status nonaktif? Tidak, hanya ada dua status, yaitu status aktif dan biasa. Mahasiswa Ilmu Komunikasi berstatus aktif adalah mahasiswa yang "berhasil" atau survive menjalani seluruh rangkaian penerimaan mahasiswa baru (maba) dari awal hingga akhir, sedangkan mahasiswa Ilmu Komunikasi berstatus biasa adalah mahasiswa yang tidak mengikuti atau berhenti di tengah jalan pada saat rangkaian penerimaan maba.

Di sini, saya berstatus sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi biasa. Artinya, saya (dulu) tidak menyelesaikan rangkaian penerimaan maba Ilmu Komunikasi hingga selesai, tidak sampai sebulan (dari lebih kurang enam bulan rangkaian kegiatan). Kegiatan tahunan jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UI ini terbagai atas acara Prasarasehan (Prasar) dan acara puncak, Sarasehan. Oke, singkat cerita, di jurusan saya ini ada semacam pengelompokan status, yaitu status "Sar" (mahasiswa aktif) dan "Non-Sar" (mahasiswa biasa). Lantas, apa bedanya antara mereka yang berstatus "Sar" dan "Non-Sar" ini? Pada dasarnya, mereka yang berstatus "Sar" berhak menjadi pengurus aktif HMIK, sedangkan mereka yang "Non-Sar", tidak berhak. Sejujurnya, hanya itu saja. Namun, ada semacam tradisi-tradisi lama atau hukum tidak tertulis yang menyatakan bahwa mereka yang "Non-Sar" bisa mendapatkanyang teman-teman "Sar" katakanbanyak kerugiannya.

Nah, dalam post saya ini, saya ingin bercerita soal salah satu kerugian menjadi mahasiswa Ilmu Komunikasi "Non-Sar" dan sedikit hal yang saya anggap sebagai ketidakkonsistensian HMIK dalam memperlakukan mahasiswa "Sar" dan "Non-Sar". Akibatnya, saya jadi merasa bahwa tradisi-tradisi yang dilakukan oleh rekan-rekan di HMIK sudah terlampau kuno dan... itu tadi, tidak konsisten.

Bermula dari Milis

Oke, jadi begini ceritanya. Jadi, salah satu keuntungan menjadi mahasiswa aktif Ilmu Komunikasi atau "anak Sar" adalah si mahasiswa tersebut dapat join di mailing list atau milis HMIK UI. Lantas, apa hebatnya? Jadi, anggota di milis tersebut adalah hampir berisi seluruh mahasiswa aktif Komunikasi UI (dan alumninya) dari berbagai generasi. Di milis itu, para mahasiswa dan alumni saling berbagi informasi mengenai beasiswa, lowongan kerja, lowongan magang, dan sebagainya. Tentunya ini hal yang baik, saya kira semua pun setuju. Sementara itu, bagi mereka yang "Non-Sar" tidak boleh bergabung ke dalam milis. Ini dianggap sebagai konsekuensi dari "perbuatan" mereka yang keluar, mengundurkan diri, atau quit dari Prasarnya. Saya, sebagai seorang yang "Non-Sar" tentu sadar betul dengan konsekuensi ini, dan saya pun tidak pernah berharap untuk masuk ke dalam milis tersebut.

Namun, saya perlu akui bahwa terkadang rasa "iseng" saya lebih besar daripada rasa atau kesadaran untuk menahan diri saya terhadap hal-hal yangtentunya saya ketahuiseharusnya tidak saya lakukan. Dalam hal ini, kadang saya hanya ingin mengetes seberapa besar "pertahanan" milis dan "pengetahuan" rekan-rekan HMIK terhadap para mahasiswa yang "Non-Sar", karena jangan-jangan mereka tidak tahu siapa saja teman-temannya yang "Sar" dan "Non-Sar". Jadi, sempat beberapa kali saya mengirimkan request atau permintaan untuk gabung di milis HMIK, tapi gagal. Hal ini sempat saya coba kira-kira tiga kali dalam rentang waktu hampir setahun di tiap request-nya. Nah, di tahun yang Insya Allah tahun terakhir saya ini di kampus ini, saya kembali "iseng" lagi dengan mengirimkan request untuk gabung di milis HMIK, dan alangkah terkejutnya saya, permintaan saya untuk bergabung pun diterima.

Saya pun berpikir, apakah ini berarti sang administrator sedang lengah atau HMIK mulai "berubah"? Saya sempat menjadi anggota milis selama hampir enam bulan, sebelum akhirnya saya harus keluar dari milis tersebut. Di milis itu pun saya jadi tahu banyak hal soal HMIK, soal Prasar dan Sar, lowongan magang dan kerjaan, dan banyak hal lainnya. Memang sangat menarik. Namun, tanpa berburuk sangka bahwa sang administrator sedang lengah hingga menerima permintaan saya atau memanfaatkan keadaan, saya memang tidak pernah "berbicara" di milis tersebut karena memang saya pikir tidak ada yang perlu saya sampaikan di milis tersebut.

Hingga akhirnya tiba saat di mana saya "berbicara" di milis HMIK. Apa yang saya sebarkan di milis tidak lain hanyalah tulisan mengenai sikap BEM FISIP UI terhadap gerakan #saveUI. Apa yang saya sebarkan ini tentunya tidak lepas dari pekerjaan saya (selain sebagai mahasiswa) sebagai pengurus BEM FISIP UI, dan saya di tahun ini dipercaya sebagai Kepala Kantor Komunikasi BEM FISIP UI. Mungkin jika teman-teman sempat mengetahui soal polemik yang sempat terjadi di UI, BEM FISIP UI menaruh perhatian yang cukup besar terkait penyikapan isu ini. Dan sangat penting bagi kami, BEM FISIP UI, untuk memberitahu publik terkait sikap atau standpoint kami terhadap isu ini. Tentunya, ini adalah bagian dari pekerjaan saya. Saya sadar betul bahwa HMIK sebagai salah satu himpunan mahasiswa jurusan di FISIP UI adalah salah satu pemangku kepentingan atau stakeholder yang perlu mengetahui akan hal ini. Oleh karena alasan itulah saya kemudian menulis (bisa saya katakan) press release BEM FISIP UI terkait isu #saveUI di milis HMIK. Sehari, dua hari tidak ada masalah. Namun, di hari ketiga, salah seorang teman saya, seorang "Sar", mengirimkan saya pesan singkat yang kira-kira mempertanyakan bagaimana bisa saya berada di milis HMIK?

Aha! Ternyata dugaan saya benar, sang administrator memang sedang "khilaf" saat itu, bukan HMIK yang mulai "berubah". Oke, jadi teman saya itu bertanya, dan tentu saya berusaha menjawab dan memuaskan rasa ingin tahunya. Dan tentu, sebelum percakapan kami di SMS itu berakhir, dia mengingatkan akan "status" saya. Ah ya, tentu saya ingat, dan tidak pernah lupa soal itu. Singkat cerita, hari itu berakhir dan saya merasa seperti akan ada sesuatu yang kurang menyenangkan terjadi di beberapa hari ke depan. Dan benar saja, teman saya, yang juga seorang "Sar" dan pengurus HMIK, menghubungi saya dan langsung memberikan dua opsi terkait tulisan yang "berani" saya kirim via milis HMIK. Bukan soal isi tulisan yang saya tulis, tapi tentang saya yang (ibaratnya) kok bisa ada di milis HMIK?

Oke, jadi teman saya itu pun memberikan opsi: (1) dikeluarkan dari milis HMIK; atau (2) mengeluarkan diri dari milis HMIK. Saya tentu sama sekali tidak keberatan untuk dikeluarkan dari HMIK, karena toh memang niat awal saya hanya sekedar "iseng" belaka. Jadi, salah siapa jika saya yang "Non-Sar" ini bisa berhasil masuk ke milis yang seharusnya "suci" dari orang-orang seperti saya ini. Akhirnya, saya pun mengatakan bahwa ya... silahkan keluarkan saya dari milis, karena memang kebetulan pada saat itu saya sedang berada di kereta. Teman saya itu pun kemudian menambahkan, bahwa tidak bisa diterima di milis HMIK merupakan konsekuensi atas pilihan yang telah saya putuskan di masa lalu. Ah ya... saya betul-betul paham dengan segala konsekuensi, dan percayalah, saya telah menerima dan menjalani segala bentuk konsekuensi lebih dari apa yang mungkin teman-teman sejurusan saya pernah bayangkan.

Sungguh Aneh

Akibat kejadian ini, saya jadi semakin berpikir, bahwa ada sesuatu yang tidak benar di himpunan jurusan ini. Saya melihatnya, rasa-rasanya sih, rekan-rekan di HMIK tidak konsisten dalam "memperlakukan" mereka yang "Non-Sar" Menurut saya, ini sangat aneh. Aneh bagaimana? Iya, jadi saya selalu ingat dengan kejadian satu ini, dan ini bukan kejadian sekali yang pertama kali yang saya alami (dan teman-teman "Non-Sar" juga). Rasanya tidak berlebihan jika saya mengatakan bahwa mahasiswa Komunikasi hampir sudah tidak peduli dengan regenerasi kepengurusan HMIK. Ah, masa iya? Iya, hal ini selalu terlihat dari teman-teman panitia pemilihan HMIK yang selalu "panik" mulai dari mencari calon ketua, calon lawan si pencalon, bahkan mencari (dan mempersuasif) anak-anak Komunikasi untuk memilih si calon yang sudah mau mencalonkan diri itu. Mengapa bisa demikian? Saya kira, ini harusnya dapat menjadi pelajaran bersama. Padahal, bukankah tujuan awal teman-teman yang lulus "Sar" itu agar bisa menjadi pengurus aktif HMIK, terlebih lagi, mereka dapat mencalonkan diri sebagai ketua HMIK. Itu suatu manfaat yang besar. Namun, setelah tiba saatnya suatu angkatan bertanggung jawab atas kelanjutan tongkat estafet kepengurusan, sedikit sekali yang siap untuk menjadi ketua HMIK, bahkan teman-teman yang lain saling memohon kepada teman-teman "Sar" seangkatan lainnya untuk mau mencalonkan diri jadi ketua HMIK. Loh, kok bisa? Berarti program Saresehan jurusan Komunikasi tidak mampu mencetak kader.

Lantas, buat apa ada sarasehan jika untuk melanjutkan estafet HMIK saja susah, bahkan terkesan "ditumbali". Kemanakah semangat sense of belonging dan solidaritas yang selama Prasarasehan dan Sarasehan dulu selalu dikobarkan? "Menumbalkan" seseorang untuk menjadi ketua tentu jauh dari solidaritas.

Hal lainnya adalah teman-teman yang telah lulus "Sar" pun ternyata tidak begitu memiliki kesadaran untuk "membantu" kawannya yang kerap kali dikatakan "kena tumbal" menjadi calon ketua HMIK (walaupun ada juga yang dengan kesadaran dan kemauan pribadi mencalonkan diri) dengan memilih atau mencontreng si calon di TPS. Akibatnya, tidak jarang pula panitia pemilihan pun "memohon-mohon" pada setiap anak-anak Komunikasi yang secara sadar kumpul-kumpul di kantin atau di tempat nongkrong lainnya tanpa memedulikan proses pemilihan yang sedang berlangsung. Banyak yang bilang, anak Komunikasi itu tidak peduli dan semakin apatis terhadap hal-hal yang, let's say, berbau politis. Padahal, bukankah mereka sudah "lulus Sar" dan itu berarti mereka punya tanggung jawab untuk melanjutkan kepengurusan HMIK, bukannya menjadi tidak peduli. Nyatanya, program Saresehan jurusan Komunikasi tidak membuat anak Komunikasi lebih peduli dengan HMIK-nya (apalagi FISIP-nya).

Lantas, mengapa masih ada Sarasehan jika tiap tahun kondisi yang terjadi adalah yang seperti ini? Masih relevankah program-program Prasar yang selama ini dipertahankan jika output-nya tidak lebih baik daripada tidak ada Sarasehan sama sekali?

Ini perlu dipertanyakan. Ya, sangat perlu dipertanyakan. Jika kegiatan Prasarasehan dan Sarasehan tidak dapat benar-benar meningkatkan kepedulian maba Komunikasi terhadap jurusannya sendiri (bahkan dengan masa depan HMIK itu sendiri), dan terlebih lagi tidak dapat memupuk jiwa kepemimpinan di pribadi mereka, apakah kegiatan ini masih tepat dilakukan? Jangan-jangan, kegiatan ini memang hanya menjadi ajang kesenangan para senior melampiaskan apa yang telah dialaminya di masa lalu.

Rayu-rayu Ikut Contreng

Hal berikutnya yang juga menurut saya agak lucu adalah, di setiap pemilihan ketua HMIK, saya dan teman-teman "Non-Sar" sering kali "dirayu" atau dipersuasif untuk ikut memilih di TPS. Ini dikarenakan (menurut mereka) saya termasuk HMIK juga, hanya saja statusnya anggota biasa. Jadi, selama dua tahun terakhir ini pun saya, ya... tentu dengan perasaan ingin membantu, saya ikut memilih. Apalagi di tahun ini, karena yang maju menjadi ketua dan wakil ketua hanya satu pasangan, dan si calon ketua pun tak lain adalah rekan kerja sebiro di BEM FISIP UI 2010, tentu saya sangat mendukungnya. Dalam hal ini, panitia pemilihan tentu sangat khawatir jika suara pemilih tidak mencapai batas minimum perolehan suara, sehingga saya merasa bahwa dalam keadaan yang krusial seperti ini, sangat penting meningkatkan awareness baik mereka yang "Sar" maupun yang "Non-Sar".

Entah, mungkin saya terlalu berprasangka, tapi itu yang ada di pikiran saya. Namun, pertanyaan pun terlintas di pikiran saya, jika saya dan teman-teman "Non-Sar" sebegitu diharapkannya untuk diharapkan turut serta dalam pemilihan ketua HMIK, apakah kemudian HMIK pernah mendengarkan suara yang "Non-Sar" setiap kali kepengurusan yang baru terbentuk?

Tidak. Ya, jawabannya tidak. Saya tidak iri hanya karena saya tidak masuk ke milis HMIK loh ya... hanya saja ini menunjukkan ketidakkonsistensian HMIK. HMIK, dengan milisnya, jelas membatasi dan menyaring arus informasi agar hanya dapat diterima oleh mereka yang berstatus sama, yaitu "Sar". Namun, ketika proses pemilihanyang pada saat itulah terlihat sisi lain mahasiswa Komunikasi yang kurang peduli dengan regenerasi HMIK-nyarekan-rekan HMIK justru berusaha "merangkul" mereka yang "Non-Sar" untuk turut serta memilih. Jadi, siapa yang tidak konsisten dalam hal ini? Apakah mereka yang "Non-Sar" hanya dibutuhkan pada saat pemilihan ketua HMIK saja? Selain di luar kegiatan pemilihan, suara mereka yang "Non-Sar" sangat tidak berarti. Demikiankah? Jika demikian, tentu bisa saja di pemilihan-pemilihan ketua HMIK berikutnya mereka yang "Non-Sar" sepakat untuk tidak memberikan suaranya karena suara mereka hanya "bernilai" saat pemilihan. Jadi, saya kira ini perlu dirumuskan kembali, apakah HMIK memang dibentuk untuk mewadahi kepentingan seluruh mahasiswa Ilmu Komunikasi atau jangan-jangan hanya "seluruh mahasiswa Ilmu Komunikasi aktif" saja?

Namun, terlepas dari semua tulisan saya di atas, saya sama sekali tidak menyudutkan satu orang tertentu, dan itu perlu diperhatikan. Ada beberapa hal pokok yang saya kira merangkum keseluruhan tulisan ini. Pertama, saya mengkritik sistem yang dibangun dan diterapkan selama ini di HMIK, khususnya dalam pelaksanaan Prasarasehan dan Sarasehan jurusan kepada para maba. Saya merasa sistem tersebut sudah tidak lagi relevan diterapkan di zaman kita saat ini. Kedua, saya mengkritik HMIK yang saya rasa sangat berpihak pada mereka yang berstatus "Sar". Jadi, HMIK ini mewadahi kepentingan anak "Sar" saja? Ketiga, saya mengkritik HMIK yang kurang mendengarkan suara-suara di luar mereka yang "Sar". Jadi, lagi-lagi, HMIK ini mewadahi kepentingan anak "Sar" saja? Keempat, saya kira, jika kita sama-sama dewasa, tentu tidak perlu merasa "gerah" dengan tulisan-tulisan semacam ini. Sebagaimana yang tertulis di Article 29, The Universal Declaration of Human Rights:
In the exercise of his rights and freedoms, everyone shall be subject only to such limitations as are determined by law solely for the purpose of securing due recognition and respect for the rights and freedoms of others and of meeting the just requirements of morality, public order and the general welfare in a democratic society.
Saya rasa, kebebasan berpendapat yang saya gunakan berdasarkan apa yang tertulis di Article 19 tidak melanggar batasan-batasan kebebasan sebagaimana yang tercantum di Article 29 di atas. Terakhir, percayalah, saya peduli dengan HMIK ini, karena kalau tidak, saya tentu tidak akan menaruh perhatian yang sedemikian besarnya hingga menulis seperti ini. Saya memang bukan seorang "Sar" seperti yang mungkin lebih teman-teman HMIK banggakan, tapi saya kira teman-teman salah jika soal status menghalangi kepedulian. Ya, semoga, jika ada teman-teman HMIK yang membaca tulisan saya ini bisa mengambil manfaatnya. Oh ya, demi Tuhan, tidak ada niat saya sedikit pun untuk menjatuhkan citra HMIK, tidak ada manfaatnya juga buat saya. Saya percaya, teman-teman HMIK adalah orang-orang cerdas, berlogika, dan masih memiliki hati nurani.

Terakhir, untuk teman-teman mahasiswa baru Ilmu Komunikasi, satu kutipan menarik dari seorang teman. Kutipan ini selalu menjadi dasar saya untuk bergerak, tidak diam, dan tidak takut mempertahankan apa yang saya sebut (dan saya yakin) sebagai suatu kebenaran.
"Jika kita melihat sebuah kekeliruan, jangan diam. Ubahlah dengan tanganmu. Jika kita mendengar sebuah kekeliruan, jangan diam. Serukan dengan suaramu. Jika kita merasakan sebuah kekeliruan, jangan diam. Ingkarilah dengan hatimu."
Muhammad Alvin Dwiana Qobulsyah (2009)
Sekian dan semoga bermanfaat serta menjadi bahan introspeksi bersama. Tentunya demi HMIK yang lebih baik dan memang benar-benar merangkul secara nyata.

Salam,

Fauzan Al-Rasyid
Broadcast Journalism, Batch 2008
Department of Communication
Faculty of Social and Political Science
Universitas Indonesia

   Add Friend