Welcome to My World!

Welcome visitors! Please enjoy my site and I hope you can get many useful information. If you wish, you may contact me through Facebook, Twitter, or any other social media that I linked on the menu bar above. Thank you.

Die Poskarten

This is my another blog: Die Poskarten. This blog will show you all my postcards collection. If you want to swap a postcard, please don't hesitate to contact me from the menu bar above.

Bonjour à Tous !

"Bonjour à Tous !"is my Tumblr site. Please take a look on it and maybe you can find some funny contents that you will love. You can also follow me on Tumblr to get my updates on the site.

Please Do Not Copy

You are welcome to link to my site and use my resources in your classroom, but please respect my hardwork and do not copy my page or files and add them to your website. Thank you.

Russia Beyond the Headlines in Bahasa Indonesia

Russia Beyond the Headlines, your guide to Russia, a diverse and complex country cannot be understood in the context of stereotypes. Now available in Bahasa Indonesia!

20 April 2011

Infotainment dan Celebrity Journalism

Infotainment adalah istilah kata yang berasal dari “information” dan “entertainment”. Infotainment merupakan sebuah program televisi dengan campuran fitur berita dan hiburan, seperti wawancara, komentar, dan tinjauan. Hal ini mengacu pada acara televisi, film, website, dan software yang memadukan informasi dan hiburan bersama-sama. Sebagai contoh, Food Network dan Animal Planet memberikan informasi kepada penonton, tetapi juga sekaligus menyenangkan untuk menontonnya. Siaran berita tertentu juga dapat dianggap infotainment karena mereka berusaha untuk menjadi seperti menghibur daripada sekedar memberikan informasi.

Situs seperti Yahoo.com dan CNET.com juga memiliki konten yang bersifat informasi dan menghibur. Judul software seperti Grolier Encyclopedia dan Britannica Encyclopedia pada dasarnya bersifat untuk untuk menginformasikan, tetapi juga diarahkan untuk menghibur, sehingga mereka dapat dianggap infotainment. Sementara itu ada garis kabur antara informasi dasar dan infotainment, jika media informasi membuat upaya yang disengaja untuk menghibur, kita dapat menyebutnya sebagai infotainment. Infotainment sering kali juga disebut docutainment.

Sementara itu, celebrity journalism atau jurnalisme selebritas muncul karena di era ini selebritas semakin menjadi perhatian bagi jurnalisme. Jurnalisme selebritas adalah konsep jurnalisme yang berkaitan dengan membahas atau memberitakan kehidupan pribadi orang kaya dan terkenal (selebritas). Jurnalisme selebritas adalah bentuk tertua dari sensationalism. Perluasan konsep selebritas dan fokus pada tokoh-tokoh publik, seperti artis pop, film, televisi, dan olahraga dalam beberapa tahun terakhir telah meningkat cukup tinggi.

Menurut media analis S. Robert Lichter, Direktur Pusat Media dan Urusan Publik, seseorang dikatakan sebagai seorang jurnalis selebritas ketika dia menjadi terkenal karena orang mengenal siapa dia, bukannya apa yang dia laporan. Seorang jurnalis selebritis adalah seseorang yang menulis baik di koran maupun majalah—terutama majalah gosip. Berita-berita dalam jurnalisme selebritas ditulis dengan gaya bahasa yang ringan dan informal serta sering kali berkaitan pendapat penulis mengenai kehidupan pribadi selebritas tertentu, khususnya selebritas-selebritas dari industry hiburan, seperti  bintang film, bintang teater, dan aktor televisi, serta para politisi, bintang olahraga, dan orang-orang kaya atau tokoh masyarakat. Beberapa jurnalis selebritas juga menyiarkan segmen selebritas di siaran radio dan televisi.

Referensi:
http://www.ajr.org/Article.asp?id=247
http://www.customessaymeister.com/customessays/Journalism/10027.htm
http://www.mediadictionary.com/definition/celebrity-journalism.html
http://www.staffs.ac.uk/courses_and_study/courses/celebrity-journalism-tcm4227143.jsp
http://www.techterms.com/definition/infotainment
http://www.thefreedictionary.com/infotainment

09 April 2011

Pendekatan Humanistik pada Lagu "Childhood"

Psikologi humanistik merupakan salah satu aliran dalam psikologi yang muncul pada tahun 1950-an muncul sebagai reaksi atas aliran psikoanalisis dan behaviorisme, dengan akar pemikiran dari para ahli psikologi, seperti: Abraham Maslow, Carl Rogers dan Clark Moustakas. Para ahli ini mendirikan sebuah asosiasi profesional yang berupaya mengkaji secara khusus tentang berbagai keunikan manusia, seperti tentang: self (diri), aktualisasi diri, kesehatan, harapan, cinta, kreativitas, hakikat, individualitas dan sejenisnya.
 
Dari pemikiran Abraham Maslow (1950) yang memfokuskan pada kebutuhan psikologis tentang potensi-potensi yang dimiliki manusia. Hasil pemikirannya telah membantu guna memahami tentang motivasi dan aktualisasi diri seseorang yang merupakan salah satu tujuan dalam psikologi humanistik. Morris (1954) meyakini bahwa manusia dapat memikirkan tentang proses berpikirnya sendiri dan kemudian mempertanyakan dan mengoreksinya. Dia menyebutkan pula bahwa setiap manusia dapat memikirkan tentang perasaan-persaannya dan juga memiliki kesadaran akan dirinya. Dengan kesadaran dirinya, manusia dapat berusaha menjadi lebih baik.

Dalam analisis pendekatan humanistik ini saya mengambil contoh dari lagu Childhood yang dinyanyikan oleh Michael Jackson.

Have you seen my childhood? 
I’m searching for the world that I come from
'Cause I’ve been looking around 
In the lost and found of my heart... 
No one understands me 
They view it as such strange eccentricities... 
'Cause I keep kidding around 
Like a child, but pardon me... 

People say I’m not okay
'Cause I love such elementary things...
It's been my fate to compensate,
for the childhood I’ve never known...

Have you seen my childhood?
I’m searching for that wonder in my youth
Like pirates and adventurous dreams,
Of conquest and kings on the throne...

Before you judge me, try hard to love me,
Look within your heart then ask,
Have you seen my childhood?
People say I’m strange that way
'Cause I love such elementary things,
It’s been my fate to compensate,
For the childhood I’ve never known...

Have you seen my childhood?
I’m searching for that wonder in my youth
Like fantastical stories to share
The dreams I would dare, watch me fly...

Before you judge me, try hard to love me.
The painful youth I’ve had
Have you seen my Childhood?

 Dalam konteks psikologi humanistik, dijelaskan bahwa setiap manusia hidup berdasarkan pengalaman-pengalaman pribadinya yang unik dan tidak ada manusia yang memiliki pengalaman yang sama dengan manusia lainnya. Manusia juga terus berupaya untuk mencari makna, baik makna kehidupannya maupun makna kehadirannya di dalam suatu lingkungan serta kontribusi apa yang bisa diberikan kepada lingkungannya. Kemudian, menurut Carl Rogers, kecenderungan batiniah manusia ialah menuju kesehatan dan keutuhan diri. Dalam kondisi yang normal ia berperilaku rasional dan konstruktif, serta memilih jalan menuju pegembangan dan aktualisasi diri. Aktualisasi diri (self actualizing) berarti mewujudnkan diri sesuai dengan potensi yang dimiliki.

Terkait dengan penjelasan tersebut, Michael Jackson juga menuangkan kisah pengalaman masa kecilnya yang dia rasa tidak menyenangkan ke dalam sebuah lirik lagu. Dalam lirik lagu tersebut Michael menceritakan bahwa banyak orang yang menganggap dirinya aneh, dan bahkan rumor yang dulu sempat berkembang adalah bahwa Michael dianggap aneh karena menyukai anak-anak, dan bahkan lebih buruk dari itu, dia dianggap sebagai seorang pedophilia karena beberapa kasus yang melibatkan Michael dengan anak-anak. Dalam lagunya ini pun Michael bercerita, “No one understands me. They view it as such strange eccentricities...”. Lewat lagu ini Michael menceritakan kisah masa kecilnya yang “hilang”. Lewat lagu ini pula Michael mengungkapkan alasan mengapa dia begitu menyukai anak-anak, seperti dalam penggalan lirik, “It’s been my fate to compensate, for the childhood I’ve never known.” Michael menjelaskan bahwa bentuk kasih sayangnya kepada anak-anak adalah sebagai bentuk “ganti rugi” terhadap masa kecil yang tidak pernah ia kenal. dalam lagu ini.

Dikarenakan obsesi sang ayah, Joe Jackson, yang ingin anak-anaknya menjadi bintang, Michael dan saudara-saudaranya kehilangan masa kecil. Ternyata menjadi seorang megabintang berlimpah harta tak membawa kebahagiaan sejati bagi Michael Jackson. Justru sebaliknya harta kekayaan yang diperolehnya tak memberikan kepuasan, popularitas mengekangnya, dan ujung-ujungnya malah menjadi tragedi. Bersama dengan 'The Jackson Five', Michael dan empat kakak laki-lakinya, diorbitkan oleh ayah mereka sendiri, Joe Jackson. Pemusik yang juga operator alat-alat berat itu terobsesi menjadikan anak-anaknya menjadi bintang. Untuk itu Joe menerapkan disiplin keras kepada anak-anaknya. Main kasar dengan tangan tak asing lagi bagi Jackson bersaudara, khususnya Michael. Segala macam kenangan pahit dalam hidupnya diungkapkan Michael dalam lagu Childhood ini.

Melalui lagu ini Michael berusaha untuk mengembangkan dirinya dan mewujudkan diri sesuai dengan potensi yang dia miliki, yaitu menyanyi. Potensi ini dia gunakan untuk menyampaikan pesan kepada semua orang yang mendengarkan lagu-lagunya, dan salah satunya lagu Childhood ini, agar orang-orang mengerti mengenai latar belakang dan sejarah masa kecilnya, agar orang-orang paham bahwa dia tidak seperti atau seburuk yang orang-orang pikirkan sehubungan dengan rumor-rumor mengenai dirinya, karena semua itu ada penjelesannya, dan Michael menjelaskannya lewat lagu ini. Di sini Michael Jackson berusaha mengaktualisasikan dirinya lewat lagu. Di akhir bait lagu, Michael menutupnya dengan pesan, “Before you judge me, try hard to love me. The painful youth I’ve had. Have you seen my Childhood?” 

Jurnalisme 2.0

Kegiatan jurnalisme di era modern atau era tekonologi (digital) saat ini berkembang suatu bentuk jurnalisme baru yang ditunjang dengan media internet. Bentuk jurnalisme ini dikenal dengan jurnalisme 2.0. Jurnalisme 2.0 ini hadir salah satunya karena peranan jurnalis di masyarakat bahwa para jurnalis harus siap melakukan aktivitas jurnalisme melalui berbagai saluran. Tidak selalu di edisi cetak, tapi juga lewat berbagai media online.

Dalam jurnalisme 2.0, masyarakat ikut terlibat dalam pencarian dan bahkan penyajian berita yang merupakan kegiatan yang dilakukan oleh para pencari berita lepas, seperti masyarakat biasa (bukan wartawan yang terjun ke dunia jurnalisme yang bertugas mencari dan memberikan informasi kepada instansi penyiaran berita atau memasukkannya ke dalam situs internet agar dapat diakses oleh para pengunjung situs tersebut). Pihak yang melakukan kegiatan ini dikenal dengan sebutan backpack journalism atau citizen journalism. Jurnalisme publik atau citizen journalism ini mengandung pengertian sebagai bentuk reportase dari masyarakat yang memainkan peran aktif dalam proses pengumpulan, pelaporan, serta analisis berita dan informasi.

Teknologi jurnalisme 2.0 ini juga dikatakan sebagai suatu jurnalisme yang real time karena ketika suatu peristiwa terjadi maka dengan dukungan teknologi ini, peristiwa tersebut dapat langsung diliput dan ditayangkan dari tempat kejadian pada waktu yang sesungguhnya saat peristiwa tersebut berlangsung sehingga masyarakat dapat memperoleh informasi tentang kejadian tersebut saat itu juga.

Referensi:
http://blog.tempointeraktif.com/blog/jurnalis-dan-pers-20/
http://ifajarwidi.blogdetik.com/2010/04/27/youtube-direct-20-era-kebangkitan-jurnalisme-publik/
http://scraptbook.wordpress.com/2009/06/15/ketika-twitter-mengalahkan-cnn/
http://www.waena.org/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=4454

The Coordinated Management of Meaning Theory

I. Coordinated Management of Meaning
            Teori Coordinated Management of Meaning (CMM), atau bila kita terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah Teori Manajemen Makna Terkoodinasi, dikembang-kan oleh W. Barnett Pearce dan Vernon Cronen (1980). Menurut Pearce dan Cronen, orang-orang berkomunikasi berdasarkan aturan. Aturan tersebut tidak hanya membantu kita dalam berkomunikasi, tetapi juga dalam menginterpretasikan apa yang dikomunika-sikan orang lain pada kita. Karena itu mereka berdua mencetuskan teori CMM (Coordinated Management of Meaning) yang dengan teori ini dapat membantu menjelaskan bagaimana individu saling menciptakan makna dalam sebuah percakapan.

Secara umum teori CMM mengacu pada bagaimana individu menetapkan aturan untuk mrenciptakan dan menginterpretasikan makna dan bagaimana aturan tersebut ter-jalin dalam sebuah percakapan, di mana makna secara konstan selalu dikoordinasikan. Dalam sebuah website (http://www.cw.utwente.nl/), disebutkan bahwa teori CMM menjelaskan ketika seseorang melakukan komunikasi interpersonal maka dua orang individu yang terlibat di dalamnya akan membangun realitas sosialnya masing-masing dengan cara memperoleh suatu pertalian tertentu (coherence), tindakan yang terkoordinasi (coordinating action), serta pengalaman rahasia (experiencing mystery).

II. Panggung Dunia
            Untuk mendeskripsikan pengalaman-pengalaman hidup, Perce dan Cronen (1980) menggunakan metafora “teater tanpa sutradara”. Khususnya Pearce (1989) mendeskripsikan metafora ini dengan lebih mendetail:

Bayangkan sebuah teater yang sangat khusus. Tidak ada penonton: semuanya “berada di atas panggung” dan menjadi partisipan. Ada banyak barang di atas panggung, tetapi tidak tertata dengan rapi: di sebagian panggung terdapat tumpukan kostum dan perabotan; di bagian lain digambarkan sebuah kastil dari abad pertengahan… Para aktor berlalu lalang di atas panggung melewati peralatan-peralatan di atas panggung, serta berpapasan dengan calon-calon sutradara, dan aktor-aktor lain yang mungkin akan menjadi pemeran pembantu dalam sebuah produksi drama.

Para teoretikus percaya bahwa dalam dunia teatrikal ini, tidak ada seorang  sutradara utama, melainkan beberapa orang yang menunjuk dirinya sendiri sebagai sutradara, yang berhasil untuk menjaga agar tidak terjadi kekacauan. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa proses ini seringkali menjadi kacau. Perce dan Cronen mengindi-kasikan bahwa para aktor yang dapat membaca naskah aktor lainnya akan mencapai koherensi percakapan. Mereka yang tidak mampu harus mengkoordinasikan makna mereka.

III. Asumsi-asumsi CMM
            CMM berfokus pada diri dan hubungannya pada orang lain, serta mengkaji bagaimana seorang individu memberikan makna pada sebuah pesan. Jika kita kembali melihat metafora mengenai teater, pertimbangkan bahwa semua aktor harus dapat berimprovisasi menggunakan pengalaman akting pribadinya, serta merujuk pada naskah yang mereka bawa dalam drama tersebut. Mengacu pada hal-hal tersebut CMM memiliki beberapa asumsi, yaitu:

  1. Manusia hidup dalam komunikasi
Pearce (1989) berpendapat bahwa, “Komunikasi adalah, dan akan selalu, menjadi lebih penting bagi manusia dari yang seharusnya.” Maksudnya adalah, kita hidup dalam komunikasi. Dengan mengatakan demikian, Pearce menolak model-model komunikasi tradisional sepert model komunikasi linear. Sementara itu, para teoretikus mengajukan suatu orientasi yang sama sekali bertolak belakang. Mereka berpendapat bahwa situasi sosial diciptakan melalui interaksi. Oleh karena individu-individu menciptakan realitas percakapan mereka, setiap interaksi memiliki potensi untuk menjadi unik. Selanjutnya, Perce  dan Cronen menyatakan bahwa komunikasi harus ditata ulang dan disesuaikan kembali terhadap konteks demi memahami perilaku manusia.

  1. Manusia saling menciptakan realitas sosial
Kepercayaan bahwa orang-orang saling menciptakan realitas sosial mereka dalam percakapan disebut juga konstruksionisme sosial (social constructionism). Terkadang, tampaknya individu-individu berkomunikasi untuk mengekspresikan emosi mereka dan untuk merujuk pada dunia disekeliling mereka. Akan tetapi, dari mana datangnya ‘individu’, ‘emosi’, dan ’peristiwa/ objek’? Semua ini dikonstruksikan dalam proses komunikasi.
Realitas sosial (social reality) mengacu pada pandangan seseorang mengenai bagaimana makna dan tindakan sesuai dengan interaksi interpersonalnya. Ketika dua orang terlibat dalam pembicaraan, masing-masing telah memiliki banyak sekali pengalaman bercakap-cakap dimasa lalu dari realitas sosial sebelumnya. Percakapan yang kini terjadi, akan memunculkan realitas baru karena dua orang datang dengan sudut pandang yang berbeda. Melalui cara inilah dua orang menciptakan realitas sosial yang baru.

  1. Transaksi informasi tergantung pada makna pribadi dan makna interpersonal
Pada dasarnya, transaksi informasi tergantung pada makna pribadi dan interpersonal, sebagaimana dikemukakan oleh Donald Cushman dan Gordon Whiting (1972). Makna pribadi (personal meaning) didefenisikan sebagai makna yang dicapai ketika seseorang berinteraksi dengan orang lain sambil membawa pengalamannya yang unik kedalam interaksi. Makna pribadi mem-bantu orang-orang dalam penemuan; maksudnya, hal ini tidak hanya membuat kita mampu menemukan informasi tentang diri kita sendiri, melainkan juga membantu kita dalam penemuan kita mengenai orang lain.
Ketika dua orang sepakat mengenai interpretasi satu sama lain, mereka dikatakan telah mencapai makna interpersonal (interpersonal meaning). Untuk mencapai ini mungkin akan membutuhkan waktu, karena hubungan bersifat kompleks dan dihadapkan pada berbagai isu komunikasi, tergantung dari per-masalahan mana yang sedang dibahas. Makna pribadi dan interpersonal didapat-kan dalam percakapan dan seringkali tanpa dipikirkan sebelumnya.

IV. Hierarki dari Makna yang Terorganisasi
            Hierarki dari makna yang terorganisasi merupakan salah satu ciri inti dari CMM, oleh karena itu hal ini akan dibahas dengan mendalam. Pada kasus ketika orang-orang bertemu, mereka harus berusaha menangani tidak hanya pesan-pesan yang dikirim pada mereka, melainkan juga pesan-pesan yang mereka kirimkan pada orang lain.

            Para teoretikus CMM mengemukakan enam level makna, yaitu isi (content), tindak tutur (speech act), episode (episodes), hubungan (relationship), naskah kehidupaan (life script), dan pola budaya (cultural pattern). Level-level yang lebih tinggi membantu kita memahami level-level yang lebih rendah. Maksudnya, tiap tipe berakar dari tipe yang lain. Selain itu, Perce dan Cronen memilih untuk menggunakan hierarkinya sebagai sebuah model dan bukannya sebuah sistem pengurutan yang pasti. Mereka percaya bahwa tidak ada pengurutan yang pasti karena orang-orang memiliki interpretasi makna yang berada dalam level yang berbeda.

Content
Merupakan langkah awal di mana data mentah dikonversikan menjadi makna.

Speech act
Yaitu tindakan-tindakan yang kita lakukan dengan cara berbicara, termasuk memuji, menghina, berjanji, mengancam, menyatakan, dan bertanya. Bisa dikatakan bahwa tindak tutur juga meliputi intonasi berbicara, sehingga kita bisa mengetahui maksud dari si pembicara tersebut.

Episodes
Episode adalah rutinitas komunikasi yang memiliki awal, pertengahan dan akhir yang jelas. Bisa dikatakan, episode mendeskripsikan konteks dimana seseorang bertindak.

Relationship
Suatu hubungan di mana dua orang menyadari potensi dan keterbatasan mereka sebagai mitra dalam sebuah hubungan. Level hubungan menyatakan bahwa batasan-batasan hubungan dalam parameter tersebut diciptakan untuk tindakan dan perilaku. Contoh: bagaimana pasangan harus berbicara kepada satu sama lain, atau topik apa yang di anggap tabu dalam hubungan mereka.
Para teoretikus menggunakan istilah keterlibatan (enmeshment) untuk meng-gambarkan batasan di mana orang meng-identifikasi dirinya sebagai bagian dari suatu sistem hubungan.

Life script
Merupakan kelompok-kelompok episode masa lalu dan masa kini. Cobalah bayangkan naskah kehidupan sebagai autobiografi yang berkomunikasi dengan diri kita sendiri. Kita ada sebagaimana adanya kita sekarang karena naskah kehidupan yang pernah kita jalani.

Cultural pattern
Manusia mengidentifikasi diri mereka dengan kelompok tertentu dalam ke-budayaan tertentu. Lebih jauh lagi, tiap dari kita berperilaku sesuai dengan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat kita. Nilai-nilai tersebut berkaitan dengan jenis kelamin, ras, kelas, dan identitas religius. Pola budaya atau arketipe, dapat dideskripsikan sebagai “gambaran yang sangat luas dari susunan dunia dan hubungan (seseorang) dengan susunan tersebut” (Cronen & Pearce, 1981). Maksudnya, hubungan seseorang dengan kebudayaan yang lebih besar menjadi relevan ketika menginterpretasikan makna.

V. Koordinasi Makna: Mengartikan Urutan
            Koordinasi adalah usaha untuk mengartikan pesan-pesan yang berurutan. Koordinasi ada ketika dua orang berusaha untuk mengartikan pesan-pesan yang berurutan dalam percakapan mereka. Menurut Perce, cara terbaik memahami koordinasi adalah dengan mengamati orang-orang yang berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari.

Ada tiga hasil yang mungkin muncul,ketika dua orang sedang berbincang-bincang: mereka mencapai koordinasi, mereka tidak mencapai koordinasi, atau mereka mencapai koordinasi dalam tingkat tertentu (Philipsen, 1995). Gerry Philipsen meng-ingatkan bahwa realitas sosial tidak sepenuhnya dikoordinasikan dengan sempurna, sehingga hasil yang paling mungkin dicapai adalah koordinasi yang dicapai sebagian.

VI. Pengaruh terhadap Proses Koordinasi
Koordinasi dipengaruhi oleh beberapa hal, termasuk moralitas (morality) dan ketersediaan sumber daya (resources). Pertama-tama, koordinasi mengharuskan individu untuk menganggap tingkatan moral yang lebih tinggi sebagai suatu hal yang penting (Pearce, 1989). Tingkatan moral pada dasarnya merupakan suatu kesempatan bagi individu untuk mengemukakan sudut pandang etis dalam sebuah percakapan. Para teoretikus CMM berpendapat bahwa etika merupakan bagian yang intrinsik dalam setiap alur percakapan.

Perce berkeyakinan bahwa orang memainkan berbagai macam peranan secara terus-menerus, seperti saudara perempuan, ibu, kekasih, siswa, karyawan, teman, dan warga negara. Ia percaya bahwa tiap dari kategori peran ini membawa berbagai macam hak dan kewajiban yang berbeda antar satu orang dengan orang yang lain.

Selain moralitas, koordinasi juga dapat dipengaruhi oleh sumber daya (resources) yang ada pada seseorang. Ketika para teoretikus membahas mengenai sumberdaya, mereka merujuk pada “cerita, gambar, symbol, dan institusi yang digunakan orang untuk memaknai dunia mereka” (Pearce, 1989)”. Sumber daya juga termasuk persepsi, kenangan, dan konsep yang membantu orang mencapai koherensi dalam realitas sosial mereka.

VII. Aturan dan Pola Berulang yang Tidak Diinginkan
Salah satu cara yang digunakan individu untuk menelola dan mengoordinasikan makna adalah melalui penggunaan aturan. Penggunaaan aturan dalam percakapan lebih dari sekedar kemampuan untuk menggunakan aturan. Hal ini juga membutuhkan “kemampuan fleksibel yang tidak dapat disederhanakan menjadi sebuah teknik belaka” (Cronen, 1995).

Pearce dan Cronen (1980) membagi dua tipe aturan. Aturan pertama adalah aturan  konstitutif (constitutive rules) yang merujuk pada bagaimana perilaku harus diinterpretasikan  dalam suatu konteks. Dengan kata lain, aturan konstitutif memberitahukan kepada kita apa makna dari suatu perilaku tertentu. Yang kedua adalah aturan regulatif (regulative rules) yang di dalam aturan ini mengacu pada urutan tindakan yang dilakukan oleh seseorang dan menyampaikan apa yang akan terjadi selanjutnya dalam sebuah percakapan.

Menurut Cronen, Pearce, dan Linda Snavely (1979),  pola berulang yang tidak diingkan (unwanted repetitive patterns–URPs) adalah sebuah episode konflik berurutan dan terjadi berulang kali yang seringkali tidak diinginkan terjadi oleh individu yang terlibat dalam konflik. Pola ini terjadi karena dua orang yang memiliki dua sistem aturan berbeda yang mengikuti suatu struktur yang mengharuskan mereka untuk menjalankan perilaku tertentu tanpa mempedulikan konsekuensi apa yang akan muncul.

Lalu, mengapa dua orang selalu terlibat dalam pola tersebut? Alasan yang pertama, mereka mungkin tidak melihat adanya pilihan lain. Alasan yang lain, kedua orang tersebut merasa nyaman dengan konflik yang terus berulang di antara mereka. Mereka sudah mengenal diri satu sama yang lain dan mengetahui gaya komunikasi masing-masing dalam konflik.

VIII. Charmed Loop dan Strange Loop
Hierarki makna yang ditampilkan sebelumnya, menunjukkan beberapa level yang rendah dapat merefleksikan ulang dan memengaruhi makna dari level-level yang lebih tinggi. Proses berrefleksi ini disebut sebagai rangkaian (loop). Hal ini men-dukung pendapat Pearce dan Cronen yang menyatakan bahwa komunikasi adalah proses yang berkesinambungan dan dinamis.

Ketika rangkaian tersebut berjalan dengan konsisten melalui tingkatan-tingkatan yang ada dalam hierarki disebut sebagai charmed loop (rangkaian seimbang) di mana charmed loop tersebut terjadi ketika satu bagian dari hierarki mendukung level yang lain. Sementara strange loop (rangkaian yang tidak seimbang) biasanya muncul karena adanya komunikasi intrapersonal yang terjadi saat individu-individu sedang sibuk dengan dialog internal mereka mengenai sikap mereka yang merusak diri sendiri. Rangkaian ini akan terus berulang dan disebut sebagai vicious cycle (lingkaran setan).

IX. Kritik dan Penutup
Teori CMM adalah satu dari sedikit teori yang secara gamblang menempatkan komunikasi sebagai batu penjuru dalam fondasinya. Dari beberapa kriteria untuk meng-evaluasi sebuah teori, empat diantaranya relevan untuk didiskusikan, yaitu ruang lingkup (scope), parsimoni (parsimony), kegunaan (utility), dan heurisme (heurism).

  1. Ruang lingkup
Tidak jelas apakah CMM dapat dianggap memiliki ruang lingkup yang terlalu luas. Beberapa peneliti komunikasi (Brenders, 1987) menyatakan bahwa teori ini terlalu abstrak dan didalamnyaterdapat definisi-definisi yang tidak tepat. Sementara M. Scott Poole (1983), di dalam bahasannya mengenai CMM menya-takan bahwa teori ini menjadi masalah karena sangat sulit untuk “melukis dengan goresan-goresan kuas yang terlalu lebar dan pada saat bersamaan berusaha memberikan perhatian sebagaimana mestinya pada area-area yang sulit.”

  1. Parsimoni
Ruang lingkup teori ini mungkin luas, dan hal ini dapat menunjukkan bahwa teori ini tidak memiliki sifat parsimoni. J. Kevin Barge dan W. Barnett Pearce (2004) menggarisbawahi kesulitan yang mungkin muncul dalam hal kesederhanaan dengan menyatakan bahwa CMM “lebih baik dipahami sebagai sebuah cara pandang terhadap dunia serta konsep dan model yang terbuka.”

  1. Kegunaan
Penerapan teori ini terhadap individu-individu dan percakapan mereka sangatlah jelas. CMM adalah satu dari sedikit teori komunikasi yang diakui baik oleh para teoretikus dan para peneliti CMM sebagai “teori praktis” (Barge, 2004).

  1. Heurisme
CMM merupakan teori sangat heuristik, melampaui beberapa area bahasan yang berbeda (Dilloon & Gallaness, 2002; Pearce & Pearce, 2001).

Berkat adanya CMM, kita dapat memahami secara lebih mendalam mengenai bagaimana individu-individu saling menciptakan makna dalam sebuah percakapan. Bahkan, teori ini telah membantu kita untuk memahami pentingnya aturan dalam sebuah situasi sosial. Para kritikus mungkin akan terus mencari kelamahan teori ini, tetapi hanya sedikit yang menyangkal bahwa CMM menempatkan komunikasi sebagai pusat dari pengalaman manusia.

Daftar Pustaka

Referensi media cetak:
West, Richard & Turner, Lynn H. 2007. Introducing Communication Theory: Analysis and Application, 3rd Edition. New York: McGraw-Hill.
West, Richard & Turner, Lynn H. 2008. Pengantar Teori Komunikasi: Analisis dan Aplikasi, Edisi 3, Buku 1, terj. Maria Natalia Damayanti Maer. Jakarta: Salemba Humanika.

Referensi media online:
http://bdg.centrin.net.id/~pawitmy/Modul%20kuliah%20teori%20IIP/modul%204,%20teori%20kom%20persuasi%20dan%20interpersonal%20kontekstual.pdf
http://en.wikipedia.org/wiki/Coordinated_Management_of_Meaning
http://oak.cats.ohiou.edu/~nw583098/cmm.htm
http://www.afirstlook.com/main.cfm/theory_resources/view_by_type
http://www.cw.utwente.nl/theorieenoverzicht/Theory%20clusters/Language%20Theory%20and%20Linguistics/Coordinated_Management_Meaning.doc/
http://www.pearceassociates.com/essays/cmm_pearce.pdf

Perlunya Etika bagi Kehidupan Kita

Dalam kehidupan bermasyarakat kita semua hidup berdasarkan nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat tersebut. Dalam lingkungan masyarakat pula kita sering mendengar istilah kata ‘etis’ dan ‘tidak etis’. Baik istilah kata ‘etis’ maupun ‘tidak etis’ keduanya digunakan oleh manusia untuk menggambarkan dan menilai suatu bentuk perilaku yang dianggap ‘baik atau buruk’ dan ‘pantas atau tidak pantas’. Penilaian manusia terhadap suatu tingkah laku berupa ‘etis’ atau ‘tidak etis’ ini berdasarkan atau bersumber pada hati nurani manusia itu sendiri dan ditambah dengan adanya nilai-nilai lain yang berkembang di lingkungan tersebut, seperti nilai-nilai adat.

Kata etika berasal dari kata dalam bahasa Yunani, yaitu ethos yang berarti watak kesusilaan atau adat kebiasaan (custom). Etika sering kali berkaitan erat dengan moral yang merupakan istilah dari bahasa Latin, mos dan dalam bentuk jamaknya mores, yang berarti adat kebiasaan atau cara hidup seseorang dengan melakukasn perbuatan baik, perbuatan yang sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku di masyarakat, dan menghindarkan diri dari tindakan-tindakan buruk. Etika didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan moral dan prinsip-prinsip moral yang bertanggung jawab menentukan tindakan seseorang dengan mematuhi nilai-nilai moral.

Nilai-nilai etika tidak hanya penting bagi kehidupan kita saja, melainkan juga untuk semua umat manusia di dunia. Kita tahu bahwa manusia adalah makhluk sosial yang berarti manusia tidak bisa tidak berinteraksi dengan manusia lain. Segala kegiatan dan pekerjaan manusia selalu berhubungan dengan manusia lain dan juga berdampak pada manusia lain pula. Dalam menjalin hubungan antarmanusia tentu dibutuhkan suatu pandangan terhadap nilai baik atau buruknya suatu perilaku, seperti hal apa yang baik untuk dilakukan dan hal apa yang sebaiknya tidak dilakukan atau bahkan dilarang untuk dilakukan. Hal ini ditujukan agar manusia lebih menggunakan hati nuraninya dalam melihat berbagai hal di lingkungannya berkaitan dengan yang baik atau buruk. Etika dalam hal ini berfungsi untuk lebih “memanusiakan manusia”. Mengapa demikian? Karena salah satu ciri dan anugerah yang dimiliki manusia adalah adanya hati atau perasaan dan juga akal pikiran. Etika mengajak manusia untuk lebih menggunakan kedua anugerah tersebut, khususnya hati, agar manusia mempunyai tingkah laku yang baik, dan hal ini sangatlah penting dalam menjalin hubungan antarmanusia karena tentunya sesorang tidak akan mau atau enggan bergaul dengan seseorang yang tidak beretika dan bermoral. Mengapa manusia perlu beretika? Pada dasarnya adalah karena setiap manusia ingin dihargai satu sama lain. Manusia secara naluriah ingin menciptakan citra yang baik tentang dirinya kepada manusia lain. Untuk alasan itulah manusia beretika. Tentu bisa kita bayangkan apa jadinya dunia ini jika seluruh manusia tidak memiliki etika. Mungkin kita semua akan kembali menjadi masyarakat barbarian.

Sebuah contoh sederhana mengenai etika adalah ketika seseorang bermaksud untuk menelepon temannya, tetapi orang tersebut menelepon di jam 11 malam. Sekalipun orang yang ditelepon tersebut adalah sahabat dekatnya, atau dia tahu bahwa sahabatnya tersebut biasanya baru tidur di atas jam 12 malam, atau bahkan sahabatnya itu hanya tinggal sendiri di rumahnya, tetap saja bahwa keputusan orang tersebut untuk menelepon pada jam 11 malam dianggap tidak etis. Hal ini dianggap tidak etis karena nilai yang berkembang di masyarakat kita adalah bahwa di atas jam 9 atau jam 10 malam sudah menjadi “jam pribadi” bagi seseorang, dalam arti tidak bisa diganggu lagi untuk masalah atau urusan apa pun, kecuali hal tersebut memang bersifat mendesak (urgent), sehingga bila ada seseorang yang menelepon di atas jam 10 malam akan dianggap tidak etis, apalagi jika hanya untuk membahas hal-hal yang sebenarnya bisa ditunggu hingga keesokan harinya.

Dari contoh sederhana tersebut dapat kita lihat bahwa betapa pentingnya etika dalam kehidupan sehari-hari kita. Etika sangat penting dalam membina hubungan atau relasi kita dengan orang lain. Secara tidak sadar orang yang beretika akan memiliki hubungan yang lebih baik dengan orang lain daripada yang kurang atau bahkan tidak memperhatikan etika. Orang yang beretika pun akan lebih dipandang dan dihargai oleh orang lain walaupun dia tidak pernah meminta atau berharap untuk hal tersebut. Hal penting lainnya adalah bahwa etika sangat berperan dalam pembentukan citra diri seseorang, terlepas dari apakah orang tersebut ikhlas atau tidak, tapi ketika dia tahu mana yang etis dan yang tidak etis, setidaknya orang-orang akan melihat orang tersebut sebagai seseorang yang beretika dan berperilaku baik, dan salah satu manfaatnya adalah untuk dirinya sendiri.

Lalu bagaimana dengan orang-orang yang tidak memperhatikan etika? Etika tidaklah seperti hukum yang memiliki sejumlah peraturan dan perundangan yang bisa memaksa manusia untuk patuh terhadap hukum yang berlaku. Dalam hukum bila ada seorang yang melanggar hukum tentu, baik secara sengaja maupun tidak sengaja akan mendapatkan sanksi sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan (diproses secara hukum). Sementara itu etika bukanlah suatu hal tertulis dan bukan suatu hal yang memiliki konsekuensi-konsekuensi seperti sanksi hukum bagi yang melanggar aturan-aturan yang berlaku. Karena ukuran dari etika adalah ‘baik dan buruk’ atau ‘pantas atau tidak pantas’, orang-orang yang melanggar nilai-nilai etika tidak akan mendapatkan sanksi layaknya sanksi hukum. Mereka yang melanggar etika akan mendapatkan sanksi yang berupa sanksi sosial. Sanksi sosial ini bisa berupa cibiran dari orang-orang sampai dengan pengucilan atau bahkan pengasingan untuk kasus pelanggaran etika yang sangat berat.

Beberapa orang mungkin tidak begitu menganggap etika sebagai suatu hal serius karena melihat dari konsekuensinya yang hanya berupa sanksi sosial. Seseorang tidak akan didenda ratusan juta rupiah atau bahkan masuk penjara hanya karena tidak memberikan tempat duduk untuk seorang orang tua, terutama ibu-ibu, di dalam sebuah kereta. Orang tersebut mungkin hanya akan menjadi sedikit perhatian bagi penumpang lainnya, menjadi sedikit pembicaraan bahwa orang tersebut tidak seharusnya berdiam diri dan membiarkan orang tua tersebut berdiri sementara dia yang masih muda, dalam arti masih lebih kuat secara fisik, duduk di tempat duduk tersebut. Karena itulah orang-orang terkadang tidak begitu menghiraukan masalah etika. Kebanyakan orang lebih sibuk dengan kepentingan dirinya sendiri tanpa lagi melihat baik atau buruk dan pantas atau tidak pantas. Hal ini tentu kembali kepada hati tiap manusia karena etika berhubungan dengan rasa, dan rasa ini dirasakan di dalam hati manusia. Hati manusialah yang bisa menilai etis atau tidak etisnya tingkah laku yang dia perbuat. Jika seseorang masih memiliki rasa etika dalam dirinya tentu orang tersebut memiliki hubungan dan citra yang baik di dalam masyarakat, tapi sebaliknya jika seseorang tidak mempedulikan etika tentunya orang tersebut akan dipandang “berbeda” dari lingkungan dan masyarakat karena dianggap tidak dapat melihat dan merasakan mana hal yang baik atau buruk dan pantas atau tidak pantas.

Periodisasi Kode Etik pada Media Cetak dan Media Siar

Dalam melaksanakan fungsi, hak, kewajiban dan peranannya, pers harus menghormati hak asasi setiap orang, oleh karena itu pers selalu dituntut untuk profesional dan terbuka kepada masyarakat. Untuk menjamin kemerdekaan pers dan memenuhi hak publik untuk memperoleh informasi yang benar, wartawan Indonesia memerlukan landasan moral dan etika profesi sebagai pedoman berperilaku dalam menjaga kepercayaan publik dan menegakkan profesionalisme kerja. Atas dasar itu, wartawan Indonesia menetapkan dan menaati Kode Etik Jurnalistik. Selain jurnalis media cetak, jurnalis media siar (pertelevisian) pun mempunya suatu pedoman etik yang dibuat oleh Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI). Kode etik tersebut disebut sebagai Kode Etik Jurnalis Televisi. Baik Kode Etik Jurnalistik maupun Kode Etik Jurnalis Televisi, keduanya dimaksudkan untuk menetapkan landasan atau dasar berperilaku bagi para jurnalis dalam menjalankan tugasnya secara profesional.

            Periodisasi kode etik berlangsung mulai dari news gathering (sebelum menulis atau apa yang akan ditulis), editing (saat menulis dan mengolah berita), sampai pada tahap presenting (penyajian berita). Proses dari news gathering sampai dengan presenting semata-mata dilakukan untuk ‘seeking the truth’ guna ‘telling the truth’.

            Di mulai dari proses news gathering, dalam Kode Etiki Jurnalistik tercantum di Pasal 1 sampai dengan Pasal 4 dan Pasal 6 sampai Pasal 7 yang berisi:

Pasal 1

Wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk.

Penafsiran dalam pasal ini ialah bahwa independen berarti memberitakan peristiwa atau fakta sesuai dengan suara hati nurani tanpa campur tangan, paksaan, dan intervensi dari pihak lain termasuk pemilik perusahaan pers. Akurat berarti dipercaya benar sesuai keadaan objektif ketika peristiwa terjadi. Berimbang berarti semua pihak mendapat kesempatan setara, tidak berat sebelah. Tidak beritikad buruk berarti tidak ada niat secara sengaja dan semata-mata untuk menimbulkan kerugian pihak lain.

Pasal 2

Wartawan Indonesia menempuh cara-cara yang profesional dalam melaksanakan tugas jurnalistik.

Penafsiran atas cara-cara yang profesional adalah menunjukkan identitas diri kepada narasumber; menghormati hak privasi; tidak menyuap; menghasilkan berita yang faktual dan jelas sumbernya; rekayasa pengambilan dan pemuatan atau penyiaran gambar, foto, suara dilengkapi dengan keterangan tentang sumber dan ditampilkan secara berimbang; menghormati pengalaman traumatik narasumber dalam penyajian gambar, foto, suara; tidak melakukan plagiat, termasuk menyatakan hasil liputan wartawan lain sebagai karya sendiri; penggunaan cara-cara tertentu dapat dipertimbangkan untuk peliputan berita investigasi bagi kepentingan publik.

Pasal 3

Wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah.

Penafsiran dalam pasal ini adalah bahwa menguji informasi berarti melakukan check and recheck tentang kebenaran informasi itu. Berimbang adalah memberikan ruang atau waktu pemberitaan kepada masing-masing pihak secara proporsional. Opini yang menghakimi adalah pendapat pribadi wartawan. Asas praduga tak bersalah adalah prinsip tidak menghakimi seseorang.

Pasal 4

Wartawan Indonesia tidak membuat berita bohong, fitnah, sadis, dan cabul.

Penafsirannya adalah, bohong berarti sesuatu yang sudah diketahui sebelumnya oleh wartawan sebagai hal yang tidak sesuai dengan fakta yang terjadi. Fitnah berarti tuduhan tanpa dasar yang dilakukan secara sengaja dengan niat buruk. Sadis berarti kejam dan tidak mengenal belas kasihan. Cabul berarti penggambaran tingkah laku secara erotis dengan foto, gambar, suara, grafis atau tulisan yang semata-mata untuk membangkitkan nafsu birahi. Dalam penyiaran gambar dan suara dari arsip, wartawan mencantumkan waktu pengambilan gambar dan suara.

Pasal 6

Wartawan Indonesia tidak menyalah-gunakan profesi dan tidak menerima suap.

Maksudnya, menyalah-gunakan profesi adalah segala tindakan yang mengambil keuntungan pribadi atas informasi yang diperoleh saat bertugas sebelum informasi tersebut menjadi pengetahuan umum. Suap adalah segala pemberian dalam bentuk uang, benda atau fasilitas dari pihak lain yang mempengaruhi independensi.

Pasal 7

Wartawan Indonesia memiliki hak tolak untuk melindungi narasumber yang tidak bersedia diketahui identitas maupun keberadaannya, menghargai ketentuan embargo, informasi latar belakang, dan “off the record” sesuai dengan kesepakatan.

Penafsirannya, hak tolak adalak hak untuk tidak mengungkapkan identitas dan keberadaan narasumber demi keamanan narasumber dan keluarganya. Embargo adalah penundaan pemuatan atau penyiaran berita sesuai dengan permintaan narasumber. Informasi latar belakang adalah segala informasi atau data dari narasumber yang disiarkan atau diberitakan tanpa menyebutkan narasumbernya. “Off the record” adalah segala informasi atau data dari narasumber yang tidak boleh disiarkan atau diberitakan.

Ketujuh pasal di atas dalam Kode Etik Jurnalistik diterapkan pada saat proses news gatehering atau pengumpulan berita. Mulai dari keharusan seorang jurnalis untuk memiliki itikad baik dalam pencarian berita, melaksanakan tugas dengan cara-cara profesional, sampai dengan kewajiban wartawan untuk menghargai narasumber yang tidak bersedia untuk diketahui identitasnya. Semua hal tersebut dilakukan pada saat upaya pengumpulan berita. Lalu begitu juga dengan jurnalis televisi. Dalam Kode Etik Jurnalis Televisi, kode etik yang mengacu pada proses news gathering tercantum dalam Pasal 2 sampai dengan Pasal 8 dan Pasal 11 sampai Pasal 13 yang berisi:

Pasal 2
Jurnalis Televisi Indonesia adalah pribadi mandiri dan bebas dari benturan kepentingan, baik yang nyata maupun terselubung.

Artinya bahwa jurnalis televisi tidak boleh memihak suatu pihak tertentu (harus impasial) dan objektif dalam menyiarkan berita. Tidak boleh ada suatu maksud terselubung dalam menyiarkan berita.

Pasal 4
Jurnalis Televisi Indonesia tidak menerima suap dan menyalahgunakan profesinya.

Sama seperti di dalam Kode Etik Jurnalistik, jurnalis televisi juga tidak boleh menerima suap dalam bentuk apa pun dan untuk maksud apa pun, karena jika sampai hal itu terjadi maka jurnalis tersebut telah melanggar etika profesi dan termasuk juga dalam hal penyalahgunaan profesi.

Pasal 11
Jurnalis Televisi Indonesia menghargai harkat dan martabat serta hak pribadi sumber berita.

Artinya adalah bahwa jurnalis televisi tidak boleh mengganggu privasi seseorang apalagi jika hal tersebut bisa merendahkan harkat dan martabat seseorang. Seorang jurnalis harus menghormati dan menghargai hak pribadi seseorang.

Pasal 12
Jurnalis Televisi Indonesia melindungi sumber berita yang tidak bersedia diungkap jati dirinya.

Hal ini juga sama seperti dalam Kode Etik Jurnalistik, bahwa setiap jurnalis wajib menggunakan hak tolak bila dimintai identitas narasumber oleh pihak tertentu, terlebih lagi jika narasumber sudah terlebih dulu meminta agar identitasnya tidak diberitahukan maka jurnalis wajib melindungi identitas narasumber yang bersangkutan.

Pasal 13
Jurnalis Televisi Indonesia memperhatikan kredibilitas dan kompetensi sumber berita.
Dalam mencari berita, seorang jurnalis televisi juga harus memperhatikan kredibilitas dan kompetensi sumber berita. Apakah kredibel atau tidak, dan kompeten atau tidakkah sumber berita yang didapat.

            Kemudian selanjutnya setelah news gathering atau pengumpulan berita dan apa yang akan ditulis, langkah berikutnya adalah proses editing atau menulis dan mengolah berita. Dalam Kode Etik Jurnalistik, panduan menulis dan mengolah berita terdapat pada Pasal 8, yaitu:

Pasal 8
Wartawan Indonesia tidak menulis atau menyiarkan berita berdasarkan prasangka atau diskriminasi terhadap seseorang atas dasar perbedaan suku, ras, warna kulit, agama, jenis kelamin, dan bahasa, serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa atau cacat jasmani.

Penafsiran adalah prasangka adalah anggapan yang kurang baik mengenai sesuatu sebelum mengetahui secara jelas, dan diskriminasi adalah pembedaan perlakuan.

            Dalam Kode Etik Jurnalis Televisi memang tidak disebutkan secara terperinci mengenai kode etik dalam mengolah atau menyunting berita, karena pada dasarnya berita yang akan disiarkan pun sebelumnya harus melewati proses editing, sehingga kode etik dalam hal editing dalam media siar sama dengan media cetak. Selanjutnya adalah proses presenting atau penyajian/penyiaran. Dalam Kode Etik Jurnalistik, pengaturan masalah penyajian berita terdapat di Pasal 5 dan Pasal 10 sampai Pasal 11, yaitu:

Pasal 5

Wartawan Indonesia tidak menyebutkan dan menyiarkan identitas korban kejahatan susila dan tidak menyebutkan identitas anak yang menjadi pelaku kejahatan.

Maksudnya bahwa identitas adalah semua data dan informasi yang menyangkut diri seseorang yang memudahkan orang lain untuk melacak, dan anak mengacu seorang yang berusia kurang dari 16 tahun dan belum menikah.

Pasal 10

Wartawan Indonesia segera mencabut, meralat, dan memperbaiki berita yang keliru dan tidak akurat disertai dengan permintaan maaf kepada pembaca, pendengar, dan atau pemirsa.

Penafsiran “segera” berarti tindakan dalam waktu secepat mungkin, baik karena ada maupun tidak ada teguran dari pihak luar. Permintaan maaf disampaikan apabila kesalahan terkait dengan substansi pokok.

 

Pasal 11

Wartawan Indonesia melayani hak jawab dan hak koreksi secara proporsional.

Penafsiran hak jawab adalah hak seseorang atau sekelompok orang untuk memberikan tanggapan atau sanggahan terhadap pemberitaan berupa fakta yang merugikan nama baiknya, sedangkan hak koreksi adalah hak setiap orang untuk membetulkan kekeliruan informasi yang diberitakan oleh pers, baik tentang dirinya maupun tentang orang lain. Proporsional berarti setara dengan bagian berita yang perlu diperbaiki.

            Sementara itu, masalah presenting dalam jurnalis televisi dibahas dalam Kode Etik Jurnalis Televisi di Pasal 3 dan Bab III tentang Cara Pemberitaan (Pasal 5 sampai Pasal 10), yaitu:

Pasal 3
Jurnalis Televisi Indonesia menyajikan berita secara akurat, jujur dan berimbang, dengan mempertimbangkan hati nurani.

Di sini dijelaskan bahwa berita yang disiarkan haru akurat, jujur, berimbang, dan mempertimbangkan hati nurani. Artinya jurnalis televisi harus memperhitungkan masalah patut atau tidaknya suatu berita disiarkan. Walaupun mungkin berita tersebut ditunggu-tunggu oleh banyak penonton atau sesuai dengan selera/banyak permintaan dan juga bisa menaikkan rating, tapi bila bukan suatu hal yang pantas dan penting untuk diberitakan maka seorang jurnalis dengan mempertimbangkan hati nurani dan etika tidak perlu menyiarkan berita tersebut karena tidak berhubungan dengan public interest.

BAB III
CARA PEMBERITAAN

Pasal 5
Dalam menayangkan sumber dan bahan berita secara akurat, jujur dan berimbang, Jurnalis Televisi Indonesia:
a.      Selalu mengevaluasi informasi semata-mata berdasarkan kelayakan berita, menolak sensasi, berita menyesatkan, memutar balikkan fakta, fitnah, cabul, dan sadis.
b.      Tidak menayangkan materi gambar maupun suara yang menyesatkan pemirsa.
c.       Tidak merekayasa peristiwa, gambar maupun suara untuk dijadikan berita.
d.      Menghindari berita yang memungkinkan benturan yang berkaitan dengan masalah SARA.
e.       Menyatakan secara jelas berita-berita yang bersifat fakta, analisis, komentar, dan opini
f.        Tidak mencampur-adukkan antara berita dengan advertorial.
g.      Mencabut atau meralat pada kesempatan pertama setiap pemberitaan yang tidak akurat dan memberikan kesempatan hak jawab secara proorsional bagi pihak yang dirugikan.
h.      Menyajikan berita dengan menggunakan bahasa dan gambar yang santun dan patut, serta tidak melecehkan nilai-nilai kemanusiaan.
i.        Menghormati embargo dan off the record.

Dalam Pasal 5 ini telah dijelaskan secara terperinci mengenai apa saja yang harus dilakukan oleh jurnalis televise ketika akan menyiarkan berita. Mulai dari mengevaluasi informasi, tidak menayangkan gambar dan suara yang menyesatkan pemirsa, sampai dengan hal yang juga dibahas dalam Kode Etik Jurnalistik, yaitu menghormati embargo dan off the record.

Pasal 6
Jurnalis Televisi Indonesia menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah.

Sama seperti pada penafsiran Pasal 3 Kode Etik Jurnalistik mengenai menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah yang berarti prinsip tidak menghakimi seseorang secara sepihak.

Pasal 7
Jurnalis Televisi Indonesia dalam memberitakan kejahatan susila dan kejahatan anak dibawah umur, wajib menyamarkan identitas wajah dan suara tersangka maupun korban.

Sama seperti dalam Pasal 5 Kode Etik Jurnalistik, bahwa penafsiran mengenai “anak” di sini adalah seseorang yang berusia kurang dari 16 tahun dan belum menikah. Penyamaran identitas tersebut berhubungan dengan masalah etika dan harga diri seorang anak yang menjadi korban kejahatan susila. Oleh karena itu menyamarkan identitas korban sangat penting dan harus, tapi tetap tidak mengurangi esensi berita yang disajikan.

Pasal 8
Jurnalis Televisi Indonesia menempuh cara yang tidak tercela untuk memperoleh bahan berita.

Artinya bahwa jurnalis televisi harus melihat dan mengutamakan kepentingan publik dalam memperoleh bahan berita, bukan hanya karena alasan tuntutan profesi kemudian bisa menempuh berbagai cara untuk mendapatkan berita.

Pasal 9
Jurnalis Televisi Indonesia hanya menyiarkan bahan berita dari stasiun lain dengan izin.

Ini sangat penting karena setiap berita yang disiarkan oles suatu stasiun televisi tertentu berarti menjadi hak siar stasiun tersebut. Jika sebuah stasiun televisi ingin menyiarkan berita yang sama persis atau ingin juga menayangkan berita yang sama dari stasiun televisi lainnya maka stasiun televisi ini wajib untuk meminta izin penyiaran kepada stasiun televisi yang bersangkutan.

Pasal 10
Jurnalis Televisi Indonesia menunjukkan identitas kepada sumber berita pada saat menjalankan tugasnya.

Dengan menunjukkan identitas kepada narasumber, hal ini menunjukkan bahwa jurnalis tersebut adalah seorang jurnalis yang profesional dan akuntabel. Menunjukkan identitas diri adalah salah satu etika yang penting untuk dilakukan oleh semua jurnalis.

Setelah semua penjelasan mengenai periodisasi Kode Etik Jurnalistik dan Kode Etik Jurnalis Televisi, masalah penilaian akhir atas pelanggaran kode etik jurnalistik dilakukan Dewan Pers dan sanksi atas pelanggaran kode etik jurnalistik dilakukan oleh organisasi wartawan dan atau perusahaan pers. Sementara untuk Kode Etik Jurnalis Televisi, kode etik tersebut secara moral mengikat setiap Jurnalis Televisi Indonesia yang tergabung dalam Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) sesuai dengan Pasal 14 Bab V mengenai Kekuatan Kode Etik.