09 April 2011

Pendekatan Humanistik pada Lagu "Childhood"

Psikologi humanistik merupakan salah satu aliran dalam psikologi yang muncul pada tahun 1950-an muncul sebagai reaksi atas aliran psikoanalisis dan behaviorisme, dengan akar pemikiran dari para ahli psikologi, seperti: Abraham Maslow, Carl Rogers dan Clark Moustakas. Para ahli ini mendirikan sebuah asosiasi profesional yang berupaya mengkaji secara khusus tentang berbagai keunikan manusia, seperti tentang: self (diri), aktualisasi diri, kesehatan, harapan, cinta, kreativitas, hakikat, individualitas dan sejenisnya.
 
Dari pemikiran Abraham Maslow (1950) yang memfokuskan pada kebutuhan psikologis tentang potensi-potensi yang dimiliki manusia. Hasil pemikirannya telah membantu guna memahami tentang motivasi dan aktualisasi diri seseorang yang merupakan salah satu tujuan dalam psikologi humanistik. Morris (1954) meyakini bahwa manusia dapat memikirkan tentang proses berpikirnya sendiri dan kemudian mempertanyakan dan mengoreksinya. Dia menyebutkan pula bahwa setiap manusia dapat memikirkan tentang perasaan-persaannya dan juga memiliki kesadaran akan dirinya. Dengan kesadaran dirinya, manusia dapat berusaha menjadi lebih baik.

Dalam analisis pendekatan humanistik ini saya mengambil contoh dari lagu Childhood yang dinyanyikan oleh Michael Jackson.

Have you seen my childhood? 
I’m searching for the world that I come from
'Cause I’ve been looking around 
In the lost and found of my heart... 
No one understands me 
They view it as such strange eccentricities... 
'Cause I keep kidding around 
Like a child, but pardon me... 

People say I’m not okay
'Cause I love such elementary things...
It's been my fate to compensate,
for the childhood I’ve never known...

Have you seen my childhood?
I’m searching for that wonder in my youth
Like pirates and adventurous dreams,
Of conquest and kings on the throne...

Before you judge me, try hard to love me,
Look within your heart then ask,
Have you seen my childhood?
People say I’m strange that way
'Cause I love such elementary things,
It’s been my fate to compensate,
For the childhood I’ve never known...

Have you seen my childhood?
I’m searching for that wonder in my youth
Like fantastical stories to share
The dreams I would dare, watch me fly...

Before you judge me, try hard to love me.
The painful youth I’ve had
Have you seen my Childhood?

 Dalam konteks psikologi humanistik, dijelaskan bahwa setiap manusia hidup berdasarkan pengalaman-pengalaman pribadinya yang unik dan tidak ada manusia yang memiliki pengalaman yang sama dengan manusia lainnya. Manusia juga terus berupaya untuk mencari makna, baik makna kehidupannya maupun makna kehadirannya di dalam suatu lingkungan serta kontribusi apa yang bisa diberikan kepada lingkungannya. Kemudian, menurut Carl Rogers, kecenderungan batiniah manusia ialah menuju kesehatan dan keutuhan diri. Dalam kondisi yang normal ia berperilaku rasional dan konstruktif, serta memilih jalan menuju pegembangan dan aktualisasi diri. Aktualisasi diri (self actualizing) berarti mewujudnkan diri sesuai dengan potensi yang dimiliki.

Terkait dengan penjelasan tersebut, Michael Jackson juga menuangkan kisah pengalaman masa kecilnya yang dia rasa tidak menyenangkan ke dalam sebuah lirik lagu. Dalam lirik lagu tersebut Michael menceritakan bahwa banyak orang yang menganggap dirinya aneh, dan bahkan rumor yang dulu sempat berkembang adalah bahwa Michael dianggap aneh karena menyukai anak-anak, dan bahkan lebih buruk dari itu, dia dianggap sebagai seorang pedophilia karena beberapa kasus yang melibatkan Michael dengan anak-anak. Dalam lagunya ini pun Michael bercerita, “No one understands me. They view it as such strange eccentricities...”. Lewat lagu ini Michael menceritakan kisah masa kecilnya yang “hilang”. Lewat lagu ini pula Michael mengungkapkan alasan mengapa dia begitu menyukai anak-anak, seperti dalam penggalan lirik, “It’s been my fate to compensate, for the childhood I’ve never known.” Michael menjelaskan bahwa bentuk kasih sayangnya kepada anak-anak adalah sebagai bentuk “ganti rugi” terhadap masa kecil yang tidak pernah ia kenal. dalam lagu ini.

Dikarenakan obsesi sang ayah, Joe Jackson, yang ingin anak-anaknya menjadi bintang, Michael dan saudara-saudaranya kehilangan masa kecil. Ternyata menjadi seorang megabintang berlimpah harta tak membawa kebahagiaan sejati bagi Michael Jackson. Justru sebaliknya harta kekayaan yang diperolehnya tak memberikan kepuasan, popularitas mengekangnya, dan ujung-ujungnya malah menjadi tragedi. Bersama dengan 'The Jackson Five', Michael dan empat kakak laki-lakinya, diorbitkan oleh ayah mereka sendiri, Joe Jackson. Pemusik yang juga operator alat-alat berat itu terobsesi menjadikan anak-anaknya menjadi bintang. Untuk itu Joe menerapkan disiplin keras kepada anak-anaknya. Main kasar dengan tangan tak asing lagi bagi Jackson bersaudara, khususnya Michael. Segala macam kenangan pahit dalam hidupnya diungkapkan Michael dalam lagu Childhood ini.

Melalui lagu ini Michael berusaha untuk mengembangkan dirinya dan mewujudkan diri sesuai dengan potensi yang dia miliki, yaitu menyanyi. Potensi ini dia gunakan untuk menyampaikan pesan kepada semua orang yang mendengarkan lagu-lagunya, dan salah satunya lagu Childhood ini, agar orang-orang mengerti mengenai latar belakang dan sejarah masa kecilnya, agar orang-orang paham bahwa dia tidak seperti atau seburuk yang orang-orang pikirkan sehubungan dengan rumor-rumor mengenai dirinya, karena semua itu ada penjelesannya, dan Michael menjelaskannya lewat lagu ini. Di sini Michael Jackson berusaha mengaktualisasikan dirinya lewat lagu. Di akhir bait lagu, Michael menutupnya dengan pesan, “Before you judge me, try hard to love me. The painful youth I’ve had. Have you seen my Childhood?” 

1 komentar :

Hai Friend, apa khabar?
Saya buat postingan baru nich.
Kalau sempat silahkan mampir di blog saya, yaa…
http://sosiomotivation.blogspot.com
Kita bisa berbagi tentang motivasi.
Selamat menikmati, semoga bermanfaat.
Thanks.

Posting Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.