09 April 2011

The Coordinated Management of Meaning Theory

I. Coordinated Management of Meaning
            Teori Coordinated Management of Meaning (CMM), atau bila kita terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah Teori Manajemen Makna Terkoodinasi, dikembang-kan oleh W. Barnett Pearce dan Vernon Cronen (1980). Menurut Pearce dan Cronen, orang-orang berkomunikasi berdasarkan aturan. Aturan tersebut tidak hanya membantu kita dalam berkomunikasi, tetapi juga dalam menginterpretasikan apa yang dikomunika-sikan orang lain pada kita. Karena itu mereka berdua mencetuskan teori CMM (Coordinated Management of Meaning) yang dengan teori ini dapat membantu menjelaskan bagaimana individu saling menciptakan makna dalam sebuah percakapan.

Secara umum teori CMM mengacu pada bagaimana individu menetapkan aturan untuk mrenciptakan dan menginterpretasikan makna dan bagaimana aturan tersebut ter-jalin dalam sebuah percakapan, di mana makna secara konstan selalu dikoordinasikan. Dalam sebuah website (http://www.cw.utwente.nl/), disebutkan bahwa teori CMM menjelaskan ketika seseorang melakukan komunikasi interpersonal maka dua orang individu yang terlibat di dalamnya akan membangun realitas sosialnya masing-masing dengan cara memperoleh suatu pertalian tertentu (coherence), tindakan yang terkoordinasi (coordinating action), serta pengalaman rahasia (experiencing mystery).

II. Panggung Dunia
            Untuk mendeskripsikan pengalaman-pengalaman hidup, Perce dan Cronen (1980) menggunakan metafora “teater tanpa sutradara”. Khususnya Pearce (1989) mendeskripsikan metafora ini dengan lebih mendetail:

Bayangkan sebuah teater yang sangat khusus. Tidak ada penonton: semuanya “berada di atas panggung” dan menjadi partisipan. Ada banyak barang di atas panggung, tetapi tidak tertata dengan rapi: di sebagian panggung terdapat tumpukan kostum dan perabotan; di bagian lain digambarkan sebuah kastil dari abad pertengahan… Para aktor berlalu lalang di atas panggung melewati peralatan-peralatan di atas panggung, serta berpapasan dengan calon-calon sutradara, dan aktor-aktor lain yang mungkin akan menjadi pemeran pembantu dalam sebuah produksi drama.

Para teoretikus percaya bahwa dalam dunia teatrikal ini, tidak ada seorang  sutradara utama, melainkan beberapa orang yang menunjuk dirinya sendiri sebagai sutradara, yang berhasil untuk menjaga agar tidak terjadi kekacauan. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa proses ini seringkali menjadi kacau. Perce dan Cronen mengindi-kasikan bahwa para aktor yang dapat membaca naskah aktor lainnya akan mencapai koherensi percakapan. Mereka yang tidak mampu harus mengkoordinasikan makna mereka.

III. Asumsi-asumsi CMM
            CMM berfokus pada diri dan hubungannya pada orang lain, serta mengkaji bagaimana seorang individu memberikan makna pada sebuah pesan. Jika kita kembali melihat metafora mengenai teater, pertimbangkan bahwa semua aktor harus dapat berimprovisasi menggunakan pengalaman akting pribadinya, serta merujuk pada naskah yang mereka bawa dalam drama tersebut. Mengacu pada hal-hal tersebut CMM memiliki beberapa asumsi, yaitu:

  1. Manusia hidup dalam komunikasi
Pearce (1989) berpendapat bahwa, “Komunikasi adalah, dan akan selalu, menjadi lebih penting bagi manusia dari yang seharusnya.” Maksudnya adalah, kita hidup dalam komunikasi. Dengan mengatakan demikian, Pearce menolak model-model komunikasi tradisional sepert model komunikasi linear. Sementara itu, para teoretikus mengajukan suatu orientasi yang sama sekali bertolak belakang. Mereka berpendapat bahwa situasi sosial diciptakan melalui interaksi. Oleh karena individu-individu menciptakan realitas percakapan mereka, setiap interaksi memiliki potensi untuk menjadi unik. Selanjutnya, Perce  dan Cronen menyatakan bahwa komunikasi harus ditata ulang dan disesuaikan kembali terhadap konteks demi memahami perilaku manusia.

  1. Manusia saling menciptakan realitas sosial
Kepercayaan bahwa orang-orang saling menciptakan realitas sosial mereka dalam percakapan disebut juga konstruksionisme sosial (social constructionism). Terkadang, tampaknya individu-individu berkomunikasi untuk mengekspresikan emosi mereka dan untuk merujuk pada dunia disekeliling mereka. Akan tetapi, dari mana datangnya ‘individu’, ‘emosi’, dan ’peristiwa/ objek’? Semua ini dikonstruksikan dalam proses komunikasi.
Realitas sosial (social reality) mengacu pada pandangan seseorang mengenai bagaimana makna dan tindakan sesuai dengan interaksi interpersonalnya. Ketika dua orang terlibat dalam pembicaraan, masing-masing telah memiliki banyak sekali pengalaman bercakap-cakap dimasa lalu dari realitas sosial sebelumnya. Percakapan yang kini terjadi, akan memunculkan realitas baru karena dua orang datang dengan sudut pandang yang berbeda. Melalui cara inilah dua orang menciptakan realitas sosial yang baru.

  1. Transaksi informasi tergantung pada makna pribadi dan makna interpersonal
Pada dasarnya, transaksi informasi tergantung pada makna pribadi dan interpersonal, sebagaimana dikemukakan oleh Donald Cushman dan Gordon Whiting (1972). Makna pribadi (personal meaning) didefenisikan sebagai makna yang dicapai ketika seseorang berinteraksi dengan orang lain sambil membawa pengalamannya yang unik kedalam interaksi. Makna pribadi mem-bantu orang-orang dalam penemuan; maksudnya, hal ini tidak hanya membuat kita mampu menemukan informasi tentang diri kita sendiri, melainkan juga membantu kita dalam penemuan kita mengenai orang lain.
Ketika dua orang sepakat mengenai interpretasi satu sama lain, mereka dikatakan telah mencapai makna interpersonal (interpersonal meaning). Untuk mencapai ini mungkin akan membutuhkan waktu, karena hubungan bersifat kompleks dan dihadapkan pada berbagai isu komunikasi, tergantung dari per-masalahan mana yang sedang dibahas. Makna pribadi dan interpersonal didapat-kan dalam percakapan dan seringkali tanpa dipikirkan sebelumnya.

IV. Hierarki dari Makna yang Terorganisasi
            Hierarki dari makna yang terorganisasi merupakan salah satu ciri inti dari CMM, oleh karena itu hal ini akan dibahas dengan mendalam. Pada kasus ketika orang-orang bertemu, mereka harus berusaha menangani tidak hanya pesan-pesan yang dikirim pada mereka, melainkan juga pesan-pesan yang mereka kirimkan pada orang lain.

            Para teoretikus CMM mengemukakan enam level makna, yaitu isi (content), tindak tutur (speech act), episode (episodes), hubungan (relationship), naskah kehidupaan (life script), dan pola budaya (cultural pattern). Level-level yang lebih tinggi membantu kita memahami level-level yang lebih rendah. Maksudnya, tiap tipe berakar dari tipe yang lain. Selain itu, Perce dan Cronen memilih untuk menggunakan hierarkinya sebagai sebuah model dan bukannya sebuah sistem pengurutan yang pasti. Mereka percaya bahwa tidak ada pengurutan yang pasti karena orang-orang memiliki interpretasi makna yang berada dalam level yang berbeda.

Content
Merupakan langkah awal di mana data mentah dikonversikan menjadi makna.

Speech act
Yaitu tindakan-tindakan yang kita lakukan dengan cara berbicara, termasuk memuji, menghina, berjanji, mengancam, menyatakan, dan bertanya. Bisa dikatakan bahwa tindak tutur juga meliputi intonasi berbicara, sehingga kita bisa mengetahui maksud dari si pembicara tersebut.

Episodes
Episode adalah rutinitas komunikasi yang memiliki awal, pertengahan dan akhir yang jelas. Bisa dikatakan, episode mendeskripsikan konteks dimana seseorang bertindak.

Relationship
Suatu hubungan di mana dua orang menyadari potensi dan keterbatasan mereka sebagai mitra dalam sebuah hubungan. Level hubungan menyatakan bahwa batasan-batasan hubungan dalam parameter tersebut diciptakan untuk tindakan dan perilaku. Contoh: bagaimana pasangan harus berbicara kepada satu sama lain, atau topik apa yang di anggap tabu dalam hubungan mereka.
Para teoretikus menggunakan istilah keterlibatan (enmeshment) untuk meng-gambarkan batasan di mana orang meng-identifikasi dirinya sebagai bagian dari suatu sistem hubungan.

Life script
Merupakan kelompok-kelompok episode masa lalu dan masa kini. Cobalah bayangkan naskah kehidupan sebagai autobiografi yang berkomunikasi dengan diri kita sendiri. Kita ada sebagaimana adanya kita sekarang karena naskah kehidupan yang pernah kita jalani.

Cultural pattern
Manusia mengidentifikasi diri mereka dengan kelompok tertentu dalam ke-budayaan tertentu. Lebih jauh lagi, tiap dari kita berperilaku sesuai dengan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat kita. Nilai-nilai tersebut berkaitan dengan jenis kelamin, ras, kelas, dan identitas religius. Pola budaya atau arketipe, dapat dideskripsikan sebagai “gambaran yang sangat luas dari susunan dunia dan hubungan (seseorang) dengan susunan tersebut” (Cronen & Pearce, 1981). Maksudnya, hubungan seseorang dengan kebudayaan yang lebih besar menjadi relevan ketika menginterpretasikan makna.

V. Koordinasi Makna: Mengartikan Urutan
            Koordinasi adalah usaha untuk mengartikan pesan-pesan yang berurutan. Koordinasi ada ketika dua orang berusaha untuk mengartikan pesan-pesan yang berurutan dalam percakapan mereka. Menurut Perce, cara terbaik memahami koordinasi adalah dengan mengamati orang-orang yang berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari.

Ada tiga hasil yang mungkin muncul,ketika dua orang sedang berbincang-bincang: mereka mencapai koordinasi, mereka tidak mencapai koordinasi, atau mereka mencapai koordinasi dalam tingkat tertentu (Philipsen, 1995). Gerry Philipsen meng-ingatkan bahwa realitas sosial tidak sepenuhnya dikoordinasikan dengan sempurna, sehingga hasil yang paling mungkin dicapai adalah koordinasi yang dicapai sebagian.

VI. Pengaruh terhadap Proses Koordinasi
Koordinasi dipengaruhi oleh beberapa hal, termasuk moralitas (morality) dan ketersediaan sumber daya (resources). Pertama-tama, koordinasi mengharuskan individu untuk menganggap tingkatan moral yang lebih tinggi sebagai suatu hal yang penting (Pearce, 1989). Tingkatan moral pada dasarnya merupakan suatu kesempatan bagi individu untuk mengemukakan sudut pandang etis dalam sebuah percakapan. Para teoretikus CMM berpendapat bahwa etika merupakan bagian yang intrinsik dalam setiap alur percakapan.

Perce berkeyakinan bahwa orang memainkan berbagai macam peranan secara terus-menerus, seperti saudara perempuan, ibu, kekasih, siswa, karyawan, teman, dan warga negara. Ia percaya bahwa tiap dari kategori peran ini membawa berbagai macam hak dan kewajiban yang berbeda antar satu orang dengan orang yang lain.

Selain moralitas, koordinasi juga dapat dipengaruhi oleh sumber daya (resources) yang ada pada seseorang. Ketika para teoretikus membahas mengenai sumberdaya, mereka merujuk pada “cerita, gambar, symbol, dan institusi yang digunakan orang untuk memaknai dunia mereka” (Pearce, 1989)”. Sumber daya juga termasuk persepsi, kenangan, dan konsep yang membantu orang mencapai koherensi dalam realitas sosial mereka.

VII. Aturan dan Pola Berulang yang Tidak Diinginkan
Salah satu cara yang digunakan individu untuk menelola dan mengoordinasikan makna adalah melalui penggunaan aturan. Penggunaaan aturan dalam percakapan lebih dari sekedar kemampuan untuk menggunakan aturan. Hal ini juga membutuhkan “kemampuan fleksibel yang tidak dapat disederhanakan menjadi sebuah teknik belaka” (Cronen, 1995).

Pearce dan Cronen (1980) membagi dua tipe aturan. Aturan pertama adalah aturan  konstitutif (constitutive rules) yang merujuk pada bagaimana perilaku harus diinterpretasikan  dalam suatu konteks. Dengan kata lain, aturan konstitutif memberitahukan kepada kita apa makna dari suatu perilaku tertentu. Yang kedua adalah aturan regulatif (regulative rules) yang di dalam aturan ini mengacu pada urutan tindakan yang dilakukan oleh seseorang dan menyampaikan apa yang akan terjadi selanjutnya dalam sebuah percakapan.

Menurut Cronen, Pearce, dan Linda Snavely (1979),  pola berulang yang tidak diingkan (unwanted repetitive patterns–URPs) adalah sebuah episode konflik berurutan dan terjadi berulang kali yang seringkali tidak diinginkan terjadi oleh individu yang terlibat dalam konflik. Pola ini terjadi karena dua orang yang memiliki dua sistem aturan berbeda yang mengikuti suatu struktur yang mengharuskan mereka untuk menjalankan perilaku tertentu tanpa mempedulikan konsekuensi apa yang akan muncul.

Lalu, mengapa dua orang selalu terlibat dalam pola tersebut? Alasan yang pertama, mereka mungkin tidak melihat adanya pilihan lain. Alasan yang lain, kedua orang tersebut merasa nyaman dengan konflik yang terus berulang di antara mereka. Mereka sudah mengenal diri satu sama yang lain dan mengetahui gaya komunikasi masing-masing dalam konflik.

VIII. Charmed Loop dan Strange Loop
Hierarki makna yang ditampilkan sebelumnya, menunjukkan beberapa level yang rendah dapat merefleksikan ulang dan memengaruhi makna dari level-level yang lebih tinggi. Proses berrefleksi ini disebut sebagai rangkaian (loop). Hal ini men-dukung pendapat Pearce dan Cronen yang menyatakan bahwa komunikasi adalah proses yang berkesinambungan dan dinamis.

Ketika rangkaian tersebut berjalan dengan konsisten melalui tingkatan-tingkatan yang ada dalam hierarki disebut sebagai charmed loop (rangkaian seimbang) di mana charmed loop tersebut terjadi ketika satu bagian dari hierarki mendukung level yang lain. Sementara strange loop (rangkaian yang tidak seimbang) biasanya muncul karena adanya komunikasi intrapersonal yang terjadi saat individu-individu sedang sibuk dengan dialog internal mereka mengenai sikap mereka yang merusak diri sendiri. Rangkaian ini akan terus berulang dan disebut sebagai vicious cycle (lingkaran setan).

IX. Kritik dan Penutup
Teori CMM adalah satu dari sedikit teori yang secara gamblang menempatkan komunikasi sebagai batu penjuru dalam fondasinya. Dari beberapa kriteria untuk meng-evaluasi sebuah teori, empat diantaranya relevan untuk didiskusikan, yaitu ruang lingkup (scope), parsimoni (parsimony), kegunaan (utility), dan heurisme (heurism).

  1. Ruang lingkup
Tidak jelas apakah CMM dapat dianggap memiliki ruang lingkup yang terlalu luas. Beberapa peneliti komunikasi (Brenders, 1987) menyatakan bahwa teori ini terlalu abstrak dan didalamnyaterdapat definisi-definisi yang tidak tepat. Sementara M. Scott Poole (1983), di dalam bahasannya mengenai CMM menya-takan bahwa teori ini menjadi masalah karena sangat sulit untuk “melukis dengan goresan-goresan kuas yang terlalu lebar dan pada saat bersamaan berusaha memberikan perhatian sebagaimana mestinya pada area-area yang sulit.”

  1. Parsimoni
Ruang lingkup teori ini mungkin luas, dan hal ini dapat menunjukkan bahwa teori ini tidak memiliki sifat parsimoni. J. Kevin Barge dan W. Barnett Pearce (2004) menggarisbawahi kesulitan yang mungkin muncul dalam hal kesederhanaan dengan menyatakan bahwa CMM “lebih baik dipahami sebagai sebuah cara pandang terhadap dunia serta konsep dan model yang terbuka.”

  1. Kegunaan
Penerapan teori ini terhadap individu-individu dan percakapan mereka sangatlah jelas. CMM adalah satu dari sedikit teori komunikasi yang diakui baik oleh para teoretikus dan para peneliti CMM sebagai “teori praktis” (Barge, 2004).

  1. Heurisme
CMM merupakan teori sangat heuristik, melampaui beberapa area bahasan yang berbeda (Dilloon & Gallaness, 2002; Pearce & Pearce, 2001).

Berkat adanya CMM, kita dapat memahami secara lebih mendalam mengenai bagaimana individu-individu saling menciptakan makna dalam sebuah percakapan. Bahkan, teori ini telah membantu kita untuk memahami pentingnya aturan dalam sebuah situasi sosial. Para kritikus mungkin akan terus mencari kelamahan teori ini, tetapi hanya sedikit yang menyangkal bahwa CMM menempatkan komunikasi sebagai pusat dari pengalaman manusia.

Daftar Pustaka

Referensi media cetak:
West, Richard & Turner, Lynn H. 2007. Introducing Communication Theory: Analysis and Application, 3rd Edition. New York: McGraw-Hill.
West, Richard & Turner, Lynn H. 2008. Pengantar Teori Komunikasi: Analisis dan Aplikasi, Edisi 3, Buku 1, terj. Maria Natalia Damayanti Maer. Jakarta: Salemba Humanika.

Referensi media online:
http://bdg.centrin.net.id/~pawitmy/Modul%20kuliah%20teori%20IIP/modul%204,%20teori%20kom%20persuasi%20dan%20interpersonal%20kontekstual.pdf
http://en.wikipedia.org/wiki/Coordinated_Management_of_Meaning
http://oak.cats.ohiou.edu/~nw583098/cmm.htm
http://www.afirstlook.com/main.cfm/theory_resources/view_by_type
http://www.cw.utwente.nl/theorieenoverzicht/Theory%20clusters/Language%20Theory%20and%20Linguistics/Coordinated_Management_Meaning.doc/
http://www.pearceassociates.com/essays/cmm_pearce.pdf

6 komentar :

Maafkan orang diatas saya. Terima kasih ilmunya :)

Makasih banyak, sangat bermanfaat untuk tugas yang lagi saya buat.. hehe

Makasih banyak, sangat bermanfaat untuk tugas yang lagi saya buat.. hehe

Posting Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.