09 April 2011

Fenomena Jurnalisme Twitter (Bab I)

Fenomena Jurnalisme Twitter: 
Antara Etika, Kecepatan, Akurasi, dan Sensasional

1.1. Latar Belakang
Berbicara mengenai komunikasi berarti berbicara mengenai media. Media kini sudah menjadi bagian dari hidup manusia yang sudah tidak dapat terpisahkan. Salah satu bentuk media yang paling dekat dengan hidup masyarakat adalah media massa. Media massa, sesuai namanya, dapat diartikan sebagai media penghubung atau media komunikasi antara pemerintah dengan masyarakat. Masyarakat memperoleh segala macam pengetahuan mengenai berita dan informasi yang terjadi setiap hari melalui berbagai jenis media, baik cetak maupun elektronik, yang dibuat oleh para jurnalis.
Saat ini, kegiatan jurnalisme di era modern atau era tekonologi digital bergerak dan berkembang ke suatu bentuk jurnalisme baru yang ditunjang dengan media baru, yaitu internet. Bentuk jurnalisme ini dikenal dengan jurnalisme 2.0. Salah satu alasan Jurnalisme 2.0 hadir adalah karena para jurnalis harus siap melakukan aktivitas jurnalisme melalui berbagai saluran.
Pada mulanya perkembangan media online sempat membuat berbagai media cetak khawatir. Media-media cetak sempat mengkhawatirkan bahwa media online akan “menghabisi” media cetak karena melihat kecenderungan konsumsi media online masyarakat sekarang ini. Namun, ternyata yang terjadi adalah kebalikan dari kekhawatiran tersebut. Media cetak kini saling berlomba membuat situs atau website medianya. Hampir seluruh media cetak kini memiliki website atau versi online dari versi media cetaknya. Salah satu dampak positif dari dibuatnya versi online suatu media cetak tentu terbukanya lapangan kerja baru bagi masyarakat akibat adanya pembagian kerja dan deskripsi kerja (job description) yang berbeda antara kedua versi media tersebut.
Dampak positif lainnya adalah distribusi pesan atau berita yang semakin cepat. Suatu peristiwa atau kejadian bisa saja dilaporkan atau di-update langsung saat peristiwa tersebut terjadi karena semakin canggihnya teknologi saat ini. 
Selain itu, perkembangan jurnalisme online tidak hanya berhenti sampai situ. Kini media-media cetak pun tidak kalah bersaing dalam membuat serta meng-update secara cepat dan berkala akun-akun resmi jejaring sosialnya, seperti Facebook dan Twitter. Berita yang di-update melalui situs-situs jejaring sosial, seperti Facebook dan Twitter, terbukti mampu “menyerap” perhatian publik dalam waktu singkat. Bahkan tidak jarang pula, media-media, baik cetak maupun online, mendapatkan berita dari berbagai pembicaraan publik atau akibat reaksi publik yang terjadi di dunia maya.
Dalam perkembangan situs jejaring sosial, situs microblogging seperti Twitter adalah suatu situs yang kini sedang diminati oleh berbagai media. Berbeda dengan Facebook yang didesain untuk menjaring pertemanan, Twitter didesain untuk menyebarkan dan meng-update pesan-pesan singkat. Berbagai media cetak terkemuka di Indonesia, seperti Kompas, Media Indonesia, dan Tempo, saling berlomba membuat akun resmi Twitter medianya untuk memastikan pada khalayak bahwa medianya tetap yang tercepat dalam mengabarkan berita.
Namun, seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin maju, potensi munculnya bad journalism (jurnalisme “nakal”) pun semakin besar. Walaupun situs microblogging, seperti Twitter memberi banyak dampak positif bagi perkembangan jurnalisme, khususnya di Indonesia, berbagai dampak negatif pun tetap tidak dapat terhindakan. Bentuk jurnalisme baru pun kini mulai hadir. Suatu fenomena baru dalam dunia jurnalisme kini hadir dengan bentuk “Jurnalisme Twitter”. Jurnalisme ini pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan jurnalisme online, hanya saja para jurnalis yang dikenal dengan Jurnalisme Twitter adalah para jurnalis yang sering kali memanfaatkan Twitter sebagai sumber berita. Lantas, bagaimana dengan keakurasian data atau berita tersebut? Walaupun berita ter-update dengan sangat cepat, keakurasian berita tetap harus menjadi yang paling penting karena menyangkut kredibilitas jurnalisme dan tentunya perusahaan media tersebut.
Bentuk negatif lainnya dari fenomena Jurnalisme Twitter ini juga hadirnya berbagai judul-judul berita yang menggantung, tidak jelas, dan sensasional. Hal-hal seperti ini pun tidak jarang terjadi pada media-media cetak yang sudah mempunyai nama besar di Indonesia. Tentunya fenomena ini menjadi semakin menarik untuk dikaji karena prinsip-prinsip dan etika-etika jurnalisme yang dahulu dipegang teguh oleh para jurnalis semakin lama semakin “luntur” akibat perkembangan teknologi yang di satu sisi memang memudahkan pendapatan sumber informasi, tapi di satu sisi juga dapat mengaburkan pemberitaan informasi.
Oleh karena itu, berdasarkan uraian hal-hal tersebut, penulis membuat sebuah pengamatan kepada masalah ini, yaitu mengenai munculnya fenomena Jurnalisme Twitter dan kaitannya terhadap etika, kecepatan, akurasi, dan sensasionalitas berita, dengan harapan dapat menambah pengetahuan mengenai kecenderungan para jurnalis dalam memanfaatkan teknologi jejaring sosial saat ini serta mengenai fenomena Jurnalisme Twitter itu sendiri. Oleh karena itu, penulis memberi judul makalah ini “Fenomena Jurnalisme Twitter: Antara Etika, Kecepatan, Akurasi, dan Sensasional”.

1.2. Rumusan Masalah
Bagaimana dampak yang timbul akibat hadirnya Jurnalisme Twitter terhadap etika, kecepatan, akurasi, dan sensasionalitas atas pemberitaan suatu peristiwa?

1.3. Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah dengan judul “Fenomena Jurnalisme Twitter: Antara Etika, Kecepatan, Akurasi, dan Sensasional” ini adalah untuk mengulas mengenai kecenderungan para jurnalis dalam memanfaatkan teknologi jejaring sosial saat ini terkait dengan fenomena Jurnalisme Twitter yang berhubungan etika, kecepatan, akurasi, dan sensasionalitas berita, serta untuk memenuhi Ujian Tengah Semester (UAS) mata kuliah Kapita Selekta Jurnalisme Semester Genap tahun 2011, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia.

 1.4. Metodologi
            Dalam penulisan makalah ini, penulis menggunakan metode studi kepustakaan. Dengan demikian data yang diperoleh berasal dari berbagai sumber bacaan, baik dari referensi media cetak maupun media online, yang merupakan bahan acuan utama dalam penulisan.

0 komentar :

Posting Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.