09 April 2011

Fenomena Jurnalisme Twitter (Bab II)

Fenomena Jurnalisme Twitter: 
Antara Etika, Kecepatan, Akurasi, dan Sensasional

II.1. Teori Pers Libertarian
            Dalam masyarakat-masyarakat yang berdasarkan pada prinsip-prinsip libertarian, status pers menjadi masalah penyesuaian dengan lembaga-lembaga politik dan cara hidup demokratis. Di bawah konsep libertarian, fungsi media komunikasi massa adalah untuk sumber informasi dan hiburan bagi masyarakat. Pada dasarnya, tujuan dari sebuah media adalah untuk menolong menemukan kebenaran, membantu penyelesaian masalah-masalah sosial dan politik dengan mengetengahkan semua bentuk bukti dan opini sebagai dasar pembentukan keputusan.[1] Karakteristik yang esensial dari proses ini adalah kebebasannya dari kontrol dan dominasi pemerintah.

            Para pembuat teori libertarian berasumsi bahwa dari sekian banyak suara-suara pers, beberapa informasi yang mencapai publik bisa salah dan beberapa opini bisa tidak sehat. Namun, negara tidak punya hak untuk membatasi hal-hal yang dianggapnya salah dan tidak baik. Alternatif prosedur yang diajukan dan dianut para teoritis libertarian adalah dengan membiarkan publik keseluruhan bergantung pada informasi dan opini yang mungkin saja sebagian benar, sebagian salah, dan sebagian lagi mengandung keduanya. Pada akhirnya, publik dapat dipercaya untuk mencerna seluruh opini itu, mengesampingkan pendapat yang tidak sesuai dengan kepentingan publik, serta menerima pendapat yang sesuai dengan keinginan individu dan keinginan masyarakat tempat individu itu berada. Ini adalah proses yang dikenal dengan nama “proses pelurusan sendiri” (self righting process).

            Penganut libertarian juga berasumsi bahwa dalam masyarakat demokratis akan ada berbagai macam suara yang tersedia bagi masyarakat. Penganut libertarian menentang monopoli pemerintah dalam jalur-jalur komunikasi. Mereka berdebat bahwa setiap orang, warga negara itu sendiri atau pun orang asing, harus mempunyai kesempatan yang tidak dibatasi untuk memiliki dan mengoperasikan suatu unit komunikasi massa. Namun, tetap ada beberapa jenis batasan terhadap kebebasan pers yang diterima secara universal sebagai hal yang konsisten dengan prinsip-prinsip libertarian. Pembatasan itu antara lain berupa larangan menyebarkan berita fitnah dan penyebaran bahan-bahan yang cabul dan tidak senonoh.

II.2. Mediamorfosis
Teori Mediamorfosis mengatakan bahwa ada tiga mediamorfosis dalam komunikasi manusia: bahasa tutur, bahasa tulis, dan bahasa digital. Dalam prinsipnya, ada enam poin yang digarisbawahi dalam konsep ini, yaitu: coevolution dan coexistence, propagation, survival, opportunity dan need, serta delayed adoption.[2] Pada dasarnya semua bentuk media komunikasi hadir dan berevolusi secara bersamaan dengan pengembangan dan sistem adaptasi yang kompleks. Berbagai media baru tidak hadir begitu saja melainkan secara bertahap. Mediamorfosis bukanlah sekedar teori sebagai cara berpikir yang terpadu tentang evolusi teknologi media komunikasi. Mediamorfosis mendorong kita untuk memahami semua bentuk sebagai bagian dari sebuah sistem yang saling terkait dan mencatat berbagai kesamaan dan hubungan yang ada antara bentuk-bentuk yang muncul di masa lalu, masa kini, dan yang sedang dalam proses kemunculannya.

Sebagai contoh, kecepatan penyebaran media online menyebabkan perubahan yang signifikan dalam industri surat kabar dan majalah. Kedua medium ini menyatakan sekarat karena tidak memiliki kemampuan bersaing dengan kecepatan penyampaian berita oleh media online. Namun, pada kenyataannya masing-masing terbukti semakin ulet dan dapat beradaptasi daripada yang diperkirakan. Hal ini juga menggambarkan akibat wajar yang penting dalam prinsip metamorfosis: bentuk-bentuk media komunikasi yang ada harus berubah dalam menanggapi kemunculan medium baru–satu-satunya pilihan lain adalah mati. Prinsip metamorfosis dan beberapa prinsip kunci mediamorfosis lainnya berasal dari tiga konsep–koevolusi, konvergensi, dan kompleksitas.

II.3. Twitter
Twitter adalah sebuah situs yang dimiliki dan dioperasikan oleh Twitter Inc. Situs ini menawarkan jaringan sosial berupa microblogging yang memungkinkan penggunanya untuk mengirim dan membaca pesan yang disebut tweets.[3] Tweets adalah teks tulisan hingga 140 karakter yang ditampilkan pada halaman profil pengguna. Tweets bisa dilihat dari luar, tapi pengirim dapat membatasi pengiriman pesan ke daftar teman-teman mereka saja. Pengguna dapat melihat tweets penggguna lain yang dikenal dengan sebutan pengikut (follower).


[1] Siebert, F. S., Peterson, T., & Schramm, W. (1986). Four Theories of the Press. Chicago: University of Illinois Press.
[2] Rogers, F. (2003). Mediamorfosis: Memahami Media Baru. Yogyakarta: Bentang Budaya.
[3] http://teknologi.kompasiana.com/internet/2011/03/18/fakta-fakta-unik-di-balik-twitter/

0 komentar :

Posting Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.