09 April 2011

Fenomena Jurnalisme Twitter (Bab III)

Fenomena Jurnalisme Twitter: 
Antara Etika, Kecepatan, Akurasi, dan Sensasional

III.1. Jurnalisme Twitter
Sebagai sebuah situs jejaring sosial atau situs microblogging yang terus tumbuh, Twitter telah bertransformasi menjadi suatu ruang di mana antara ruang privasi dan publik semakin padat. Orang-orang dapat menulis apa pun yang dia inginkan. Tulisan-tulisan tersebut dapat berupa pendapat atau opini mengenai sesuatu, atau bahkan masalah pribadi. Segala tulisan yang dipublikasikan di Twitter, atau yang dikenal dengan tweet, dapat dilihat oleh banyak orang, khususnya orang-orang yang menjadi pengikut atau follower-nya. Hal ini kemudian membuat Twitter bukan lagi sebagai media privasi, tapi telah berubah menjadi media terbuka, seperti situs atau blog.

Keterbukaan informasi di sistem publikasi pesan Twitter kini secara luas digunakan oleh para jurnalis untuk mendapatkan banyak informasi, khususnya dari tokoh masyarakat, selebritas, dan berbagai grup atau komunitas lainnya. Dengan menjadi pengikut atau follower suatu akun Twitter tokoh masyarakat, para jurnalis dapat menyadari dengan lebih cepat perkembangan tokoh tersebut, baik karakter maupun kehidupan pribadinya. Sebagai hasilnya, para jurnalis pun dapat dengan mudah mengutip kata-kata para tokoh masyarakat tersebut yang muncul di halaman Twitter mereka.

Aliansi Jurnalisme Independen (AJI) Indonesia mengakui kekuatan social media seperti Facebook dan Twitter. Ketua AJI Nezar Patria mengatakan, dua jejaring sosial itu kini menjadi tren baru dalam menyampaikan pandangan dan informasi secara cepat.[1] Keunggulan media baru ini terletak pada kecepatannya dalam hal memberitakan. Sebagai contoh, saat terjadi leadakan di Hotel J.W. Marriot, media Twitter-lah yang lebih dahulu memberitakan. Kekuatan itu juga tampak dalam bentuk dukungan seperti “1 juta dukungan Facebooker untuk Bibit dan Chandra” dan “Koin untuk Prita”.

Permasalahan kemudian muncul ketika metode yang digunakan ini sebenarnya tidak dibenarkan dalam dunia jurnalistik. Metode pengutipan dari akun Twitter seseorang tetap menjadi suatu kesalahan jika tidak dilakukan verifikasi kepada orang tersebut. Salah satu prinsip dasar jurnalisme adalah melakukan verifikasi. Jika seorang tetap mengutip tweet yag dipublikasikan figur tersebut tanpa memverifikasinya kembali, bukan suatu hal yang mustahil bahwa akun tersebut merupakan akun palsu (bukan akun figur yang asli). Artinya, kredibilitas jurnalis tersebut pun menjadi sangat rendah.

Direktur Eksekutif Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP) Ignatius Haryanto mengatakan bahwa sebagai sebuah media komunikasi, Twitter memiliki banayak keterbatasan. Menurutnya tidak banyak yang bisa disampaikan hanya dengan 140 karakter huruf. Twitter juga tidak bisa dijadikan bagian dari percakapan antara narasumber dengan wartawan karena sifat Twitter yang terbuka untuk publik secara luas. Ini berarti percakapan narasumber dengan wartawan harus merupakan suatu kejelasan bahwa narasumber A sedang bicara dengan dengan wartawan X.[2] Saluran yang memungkinkan untuk adanya percakapan berdua semacam ini baru bisa dianggap wawancara. Selain itu, berbagai perkataan yang muncul dari situs jejaring sosial seseorang tidak bisa menjadi representasi resmi (atau hal yang ingin dipublikasikan) oleh seseorang. Perkataan-perkataan di situ bisa sesuai dengan pernyataan resmi seseorang, tapi bisa juga tidak. Jadi, menurut Haryanto, ini tidak bisa jadi bagian dari proses jurnalistik karena sifatnya terbatas pada ungkapan personal.

Jika seorang jurnalis ingin mengutip suatu kutipan yang di-tweet oleh seorang pejabat publik maka jurnalis tersebut harus benar-benar memastikan apakah akun Twitter milik pejabat publik yang dikutipnya benar-benar asli. Bahkan kalau pun pengelola akun Twitter tersbeut adalah juru bicara atau humas dari seseorang maka pengutipan tersebut tidak bisa jadi representasi resmi figur tersebut.

III.2. Kecepatan dan Keakuratan Berita
            Selasa, 18 Mei 2010, Indonesia sempat dikejutkan dengan berita meninggalnya pencipta lagu Bengawan Solo, Gesang. Berita ini bermula dari tweet akun salah satu stasiun televisi yang kemudian dengan cepat menyebar di timeline Twitter. Berita meninggalnya Gesang tentu saja sangat mengagetkan khalayak luas. Dampak pemberitaan itu pun benar-benar sangat luas. Pihak keluarga pun harus mengeluarkan pernyataan bahwa Gesang belum wafat, tapi masih menjalani perawatan intensif di ruang ICU RS PKU Muhammadiyah, Solo, Jawa Tengah karena menderita gangguan lemah jantung dan saluran kemih.

Dari sana pun akhirnya mulai muncul berbagai komentar publik mengenai Jurnalisme Twitter. Komentar-komentar tersebut tentu saja bukanlah untuk memuji kepiawaian para jurnalis stasiun televisi berita tersebut melainkan menyindir dengan sangat keras. Pemberitaan yang tidak akurat yang diturunkan stasiun televisi berita itu sangat menyesatkan publik dan berdampak sangat luas. Hal ini harusnya bisa dihindari karena seharusnya seorang jurnalis tidak akan memberikan informasi kepada masyarakat menganai sesuatu yang belum pasti dan tidak sesuai fakta di lapangan.

Kasus serupa juga pernah terjadi dan juga melibatkan stasiun televisi yang sama. Pada tahun 2009, masyarakat Indonesia pun sempat dikejutkan dengan siaran yang menyatakan bahwa Noordin M. Top, gembong teroris di Indonesia, telah tewas di tembak Detasemen Khusus Anti Teror 88 Mabes Polri. Noordin tewas dalam penyergapan yang dilakukan Densus 88 di sebuah rumah di Dusun Beji, Desa Kedu, Temanggung, Jawa Tengah, pada Agustus 2009 silam. Dalam kasus ini bahkan sang jurnalis dengan detil menjelaskan matinya sang gembong teroris. Namun, pada akhirnya diketahui bahwa mayat tersebut adalah Ibrohim alias Boim. Sering kali jurnalis berpegang hanya pada prinsip “kecepatan”, tanpa tidak memedulikan prinsip “akurasi”. Padahal, kecepatan tanpa akurasi sama sekali tidak bernilai. Hal ini dapat dilihat sebagai dampak persaingan media yang sangat ketat dalam mendapatkan perhatian publik. Namun, tidak memperhatikan keakurasian berita sama dengan membohongi publik.

III.3. Etika dan Sensasionalitas Berita
            Senin, 7 Maret 2011, akun resmi Twitter Kompas.com (@kompasdotcom) mengeluarkan satu tweet yang cukup sensasional. Tweet tersebut yang merupakan judul dari artikel yang dipublikasikan di situs Kompas.com berjudul, “Maradona Hilang Tergulung Ombak di Bali”.[3] Nama “Maradona” tentu dikenal masyarakat sebagai Maradona sang legenda sepakbola Argentina, Diego Maradona. Namun, ternyata di berita tersebut diceritakan mengenai delapan remaja asal Buleleng, Bali yang tergulung ombak saat melukat atau membersihkan diri usai Nyepi di pantai Pangyangan. Tiga dari delapan remaja itu, Komang Maradona, Putu Juli Ardika, dan Agung Gede Krisyudiarta belum ditemukan. Jadi, “Maradona” yang dimaksud adalah salah seorang remaja Bali. Sementara itu, penjelasan mengenai “Maradona” mana yang dimaksud baru disebutkan di paragraf terakhir artikel tersebut.

Kunci agar suatu profesi dapat diterima di masyarakat adalah kredibilitas profesi tersebut. Untuk mendapatkan itu, profesi haruslah mendapat kepercayaan masyarakat. Tentunya masyarakat tidak akan dengan mudah memberikan kepercayaan terhadap suatu profesi begitu saja. Oleh karena itu, diperlukan etika profesi bagi setiap profesi untuk meyakinkan masyarakat bahwa mereka tetap aman jika berhubungan dengan profesi tersebut. Saat menjadi seorang jurnalis di Indonesia maka otomatis jurnalis tersebut berada di bawah kode etik jurnalistik sebagai self-regulation para jurnalis. Etika ini mengatur sikap, tingkah laku, dan cara kerja jurnalis di tiap proses pencarian berita. Kode etik ini mengatur jurnalis saat jurnalis mencari, mengumpulkan, memverifikasi, dan memublikasikan berita.

Sebagai contoh, seperti yang dikutip dari mediaindependen.com, Menteri Kominfo Tifatul Sembiring suatu kali pernah dikirim pesan tweet dari seorang wartawan akibat terlihat sedang sibuk memainkan telepon selularnya. Tweet yang berisi: “@tifsembiring kok nunduk terus, Pak.. Asyik twitteran ya?” segara membuat Tifatul mendongak dan mencari siapa wartawan yang mengirim pesan itu kepadanya. Apa yang dilakukan wartawan tersebut, biar bagaimanapun, tidaklah beretika atau tidak menunjukkan sikap sebagai wartawan yang mengetahui etika.

Saat ini ada banyak teknologi baru hadir yang mendukung pekerjaan jurnalisme. Dalam pembahasan ini tentunya Twitter menjadi contoh nyata dari perkembangan media teknologi saat ini. Seperti yang telah dibahas di atas, Twitter telah memudahkan para jurnalis dalam mencari dan mengumpulkan berita. Jurnalis bisa mencari berita dengan mudah bahkan dalam hal mengutip perkataan narasumber melaui tweet-nya. Namun, sepatutnya para jurnalis tetap memperhatikan kode etik jurnalistik yang menjadi dasar atau pedoman profesi. Selai itu, etika yang dibawa jurnalis harus diiringi dengan aturan yang mengatur penerapan teknologi-teknologi media baru ini. Oleh karena, itu berbagai undang-undang, seperti Undang-undang ITE, Undang-undang Hak Privasi, dan Undang-undang Hak Cipta perlu dilaksanakan dengan serius sejalan dengan penerapan kode etik jurnalisme.


[1] http://nasional.vivanews.com/news/read/169531-jurnalime-di-tengah-kekuatan-facebook-twitter
[2] http://mediaindependen.com/blog/2010/09/17/jurnalisme-twitter-bikin-wartawan-nggak-pinter.html
[3] http://regional.kompas.com/read/2011/03/07/14494341/Maradona.Hilang.Tergulung.Ombak.di.Bali

0 komentar :

Posting Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.