09 April 2011

Perlunya Etika bagi Kehidupan Kita

Dalam kehidupan bermasyarakat kita semua hidup berdasarkan nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat tersebut. Dalam lingkungan masyarakat pula kita sering mendengar istilah kata ‘etis’ dan ‘tidak etis’. Baik istilah kata ‘etis’ maupun ‘tidak etis’ keduanya digunakan oleh manusia untuk menggambarkan dan menilai suatu bentuk perilaku yang dianggap ‘baik atau buruk’ dan ‘pantas atau tidak pantas’. Penilaian manusia terhadap suatu tingkah laku berupa ‘etis’ atau ‘tidak etis’ ini berdasarkan atau bersumber pada hati nurani manusia itu sendiri dan ditambah dengan adanya nilai-nilai lain yang berkembang di lingkungan tersebut, seperti nilai-nilai adat.

Kata etika berasal dari kata dalam bahasa Yunani, yaitu ethos yang berarti watak kesusilaan atau adat kebiasaan (custom). Etika sering kali berkaitan erat dengan moral yang merupakan istilah dari bahasa Latin, mos dan dalam bentuk jamaknya mores, yang berarti adat kebiasaan atau cara hidup seseorang dengan melakukasn perbuatan baik, perbuatan yang sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku di masyarakat, dan menghindarkan diri dari tindakan-tindakan buruk. Etika didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan moral dan prinsip-prinsip moral yang bertanggung jawab menentukan tindakan seseorang dengan mematuhi nilai-nilai moral.

Nilai-nilai etika tidak hanya penting bagi kehidupan kita saja, melainkan juga untuk semua umat manusia di dunia. Kita tahu bahwa manusia adalah makhluk sosial yang berarti manusia tidak bisa tidak berinteraksi dengan manusia lain. Segala kegiatan dan pekerjaan manusia selalu berhubungan dengan manusia lain dan juga berdampak pada manusia lain pula. Dalam menjalin hubungan antarmanusia tentu dibutuhkan suatu pandangan terhadap nilai baik atau buruknya suatu perilaku, seperti hal apa yang baik untuk dilakukan dan hal apa yang sebaiknya tidak dilakukan atau bahkan dilarang untuk dilakukan. Hal ini ditujukan agar manusia lebih menggunakan hati nuraninya dalam melihat berbagai hal di lingkungannya berkaitan dengan yang baik atau buruk. Etika dalam hal ini berfungsi untuk lebih “memanusiakan manusia”. Mengapa demikian? Karena salah satu ciri dan anugerah yang dimiliki manusia adalah adanya hati atau perasaan dan juga akal pikiran. Etika mengajak manusia untuk lebih menggunakan kedua anugerah tersebut, khususnya hati, agar manusia mempunyai tingkah laku yang baik, dan hal ini sangatlah penting dalam menjalin hubungan antarmanusia karena tentunya sesorang tidak akan mau atau enggan bergaul dengan seseorang yang tidak beretika dan bermoral. Mengapa manusia perlu beretika? Pada dasarnya adalah karena setiap manusia ingin dihargai satu sama lain. Manusia secara naluriah ingin menciptakan citra yang baik tentang dirinya kepada manusia lain. Untuk alasan itulah manusia beretika. Tentu bisa kita bayangkan apa jadinya dunia ini jika seluruh manusia tidak memiliki etika. Mungkin kita semua akan kembali menjadi masyarakat barbarian.

Sebuah contoh sederhana mengenai etika adalah ketika seseorang bermaksud untuk menelepon temannya, tetapi orang tersebut menelepon di jam 11 malam. Sekalipun orang yang ditelepon tersebut adalah sahabat dekatnya, atau dia tahu bahwa sahabatnya tersebut biasanya baru tidur di atas jam 12 malam, atau bahkan sahabatnya itu hanya tinggal sendiri di rumahnya, tetap saja bahwa keputusan orang tersebut untuk menelepon pada jam 11 malam dianggap tidak etis. Hal ini dianggap tidak etis karena nilai yang berkembang di masyarakat kita adalah bahwa di atas jam 9 atau jam 10 malam sudah menjadi “jam pribadi” bagi seseorang, dalam arti tidak bisa diganggu lagi untuk masalah atau urusan apa pun, kecuali hal tersebut memang bersifat mendesak (urgent), sehingga bila ada seseorang yang menelepon di atas jam 10 malam akan dianggap tidak etis, apalagi jika hanya untuk membahas hal-hal yang sebenarnya bisa ditunggu hingga keesokan harinya.

Dari contoh sederhana tersebut dapat kita lihat bahwa betapa pentingnya etika dalam kehidupan sehari-hari kita. Etika sangat penting dalam membina hubungan atau relasi kita dengan orang lain. Secara tidak sadar orang yang beretika akan memiliki hubungan yang lebih baik dengan orang lain daripada yang kurang atau bahkan tidak memperhatikan etika. Orang yang beretika pun akan lebih dipandang dan dihargai oleh orang lain walaupun dia tidak pernah meminta atau berharap untuk hal tersebut. Hal penting lainnya adalah bahwa etika sangat berperan dalam pembentukan citra diri seseorang, terlepas dari apakah orang tersebut ikhlas atau tidak, tapi ketika dia tahu mana yang etis dan yang tidak etis, setidaknya orang-orang akan melihat orang tersebut sebagai seseorang yang beretika dan berperilaku baik, dan salah satu manfaatnya adalah untuk dirinya sendiri.

Lalu bagaimana dengan orang-orang yang tidak memperhatikan etika? Etika tidaklah seperti hukum yang memiliki sejumlah peraturan dan perundangan yang bisa memaksa manusia untuk patuh terhadap hukum yang berlaku. Dalam hukum bila ada seorang yang melanggar hukum tentu, baik secara sengaja maupun tidak sengaja akan mendapatkan sanksi sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan (diproses secara hukum). Sementara itu etika bukanlah suatu hal tertulis dan bukan suatu hal yang memiliki konsekuensi-konsekuensi seperti sanksi hukum bagi yang melanggar aturan-aturan yang berlaku. Karena ukuran dari etika adalah ‘baik dan buruk’ atau ‘pantas atau tidak pantas’, orang-orang yang melanggar nilai-nilai etika tidak akan mendapatkan sanksi layaknya sanksi hukum. Mereka yang melanggar etika akan mendapatkan sanksi yang berupa sanksi sosial. Sanksi sosial ini bisa berupa cibiran dari orang-orang sampai dengan pengucilan atau bahkan pengasingan untuk kasus pelanggaran etika yang sangat berat.

Beberapa orang mungkin tidak begitu menganggap etika sebagai suatu hal serius karena melihat dari konsekuensinya yang hanya berupa sanksi sosial. Seseorang tidak akan didenda ratusan juta rupiah atau bahkan masuk penjara hanya karena tidak memberikan tempat duduk untuk seorang orang tua, terutama ibu-ibu, di dalam sebuah kereta. Orang tersebut mungkin hanya akan menjadi sedikit perhatian bagi penumpang lainnya, menjadi sedikit pembicaraan bahwa orang tersebut tidak seharusnya berdiam diri dan membiarkan orang tua tersebut berdiri sementara dia yang masih muda, dalam arti masih lebih kuat secara fisik, duduk di tempat duduk tersebut. Karena itulah orang-orang terkadang tidak begitu menghiraukan masalah etika. Kebanyakan orang lebih sibuk dengan kepentingan dirinya sendiri tanpa lagi melihat baik atau buruk dan pantas atau tidak pantas. Hal ini tentu kembali kepada hati tiap manusia karena etika berhubungan dengan rasa, dan rasa ini dirasakan di dalam hati manusia. Hati manusialah yang bisa menilai etis atau tidak etisnya tingkah laku yang dia perbuat. Jika seseorang masih memiliki rasa etika dalam dirinya tentu orang tersebut memiliki hubungan dan citra yang baik di dalam masyarakat, tapi sebaliknya jika seseorang tidak mempedulikan etika tentunya orang tersebut akan dipandang “berbeda” dari lingkungan dan masyarakat karena dianggap tidak dapat melihat dan merasakan mana hal yang baik atau buruk dan pantas atau tidak pantas.

1 komentar :

Poskan Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.