30 Mei 2011

Konsep Jurnalisme Damai

Jurnalisme damai adalah sebuah konsep baru di bidang akademik, khususnya jurnalisme dan sektor media. Penting untuk ditekankan bahwa jurnalisme damai adalah jenis baru pelaporan, pemilihan berita dan pembingkaian berita untuk profesi jurnalisme.

Ada beragam definisi mengenai jurnalisme damai. Aceh News Watch misalnya, mendefinisikan jurnalisme damai sebagai praktek jurnalistik yang bersandar pada pertanyaan-pertanyaan kritis tentang manfaat aksi-aksi kekerasan dalam sebuah konflik dan tentang hikmah konflik itu sendiri bagi masyarakat. Namun, menurut Jake Lynch dari Associate Professor and Director of the Centre for Peace and Conflict Studies, University of Sydney, jurnalisme damai atau peace journalism adalah situasi ketika para editor dan reporter membuat pilihan—mengenai apa yang akan dilaporkan dan bagaimana melaporkannya—yang menciptakan kesempatan bagi masyarakat luas untuk mempertimbangkan dan menilai tanggapan non-kekerasan terhadap konflik.[1]

Jurnalisme damai melihat perang atau pertikaian bersenjata sebagai sebuah masalah, sebagai ironi kemanusiaan yang tidak seharusnya terjadi. Sesuai dengan istilah yang dipakai, jurnalisme damai adalah jenis jurnalisme yang lebih mengarah pada penyampaian informasi yang berdampak pada perdamaian.[2]

Jurnalisme damai bukanlah hal baru. Pendekatan kerja jurnalisme ini digagas oleh Profesor Johan Galtung, ahli studi pembangunan, pada tahun 1970-an. Galtung merasa “miris” melihat pemberitaan pers yang mendasarkan kerja jurnalistiknya secara hitam putih atau kalah-menang. Pola kerja jurnalistik seperti ini dia sebut sebagai jurnalisme perang.

            Jurnalisme perang (war journalism) lebih tertarik pada konflik, kekerasan, korban yang tewas, dan kerusakan material. Akibatnya, secara tidak sadar, jurnalisme perang menggiring publik untuk memihak pada salah satu pihak yang bertikai.

            Profesor Galtung kemudian menetapkan dua belas titik perhatian yang dapat menggiring jurnalis ke dalam kesalahan saat terlibat dalam peliputan konflik kekerasan, yaitu:
  1. Dekontekstualisasi kekerasan, yaitu berfokus pada hal-hal yang irasional atau tidak masuk akal tanpa melihat alasan-alasan bagi konflik-konflik yang tidak terpecahkan dan polarisasi.
  2. Dualisme, yaitu mengurangi jumlah pihak-pihak yang berkonflik jadi dua walaupun sering kali banyak pihak yang terlibat. Berita-berita yang hanya berfokus pada perkembangan internal sering mengabaikan peran pihak yang di luar atau kekuatan eksternal, seperti pemerintah asing dan perusahaan transnasional.
  3. Manicheanism, yaitu menggambarkan satu pihak sebagai yang “baik” dan menuding kelompok atau pihak yang lain sebagai “jahat”.
  4. Armageddon, yaitu menampilkan kekerasan sebagai sesuatu yang tak terhindarkan, dengan menghilangkan alternatif-alternatif.
  5. Berfokus pada tindakan-tindakan kekerasan individual dan menghindari sebab-sebab struktural, seperti kemiskinan, kelalaian oleh pemerintah, serta tindakan represi oleh militer atau polisi.
  6. Kebingungan (confusion), yaitu berfokus hanya pada arena konflik (misalnya, medan tempur atau lokasi insiden kekerasan), tapi tidak pada kekuatan-kekuatan atau faktor-faktor yang mempengaruhi kekerasan.
  7. Mengabaikan dan menghilangkan fakta (the bereaved) serta tidak pernah menjelaskan sebab munculnya tindakan balas dendam dan lingkaran kekerasan.
  8. Kegagalan mengeksplorasi faktor penyebab eskalasi kekerasan dan dampak peliputan media itu sendiri.
  9. Kegagalan menggali tujuan-tujuan pihak yang campur tangan dari luar, khususnya kekuatan-kekuatan besar.
  10. Kegagalan mengeksplorasi usulan-usulan perdamaian dan menawarkan idea tau gagasan perdamaian sebagai solusi.
  11. Kebingungan situasi gencatan senjata dan negosiasi dengan perdamaian sesungguhnya.
  12. Menghapus aspek rekonsiliasi, yaitu bahwa konflik-konflik cenderung untuk muncul kembali jika tidak ada perhatian lebih pada upaya penyembuhan luka sosial. Ketika berita mengenai usaha penyelesaian konflik tidak muncul, fatalisme pun semakin kuat, bahkan dapat menyebabkan lebih banyak kekerasan.


Dari uraian di atas, jelas bahwa liputan oleh media mengenai konflik dan perang tidak selalu berdampak positif. Liputan media kerap kali “mengompori” perang atau konflik sehingga prospek ke arah perdamaian justru semakin kecil. Lebih buruk lagi, ada media yang menjadi bagian dari konflik atau berpihak pada kubu-kubu yang berkonflik. Berikut ini ada tabel perbedaan antara jurnalisme damai dan jurnalisme perang.

Perbedaan Jurnalisme Damai dan Jurnalisme Perang
Jurnalisme Damai
Jurnalisme Perang
Mengeksplorasi terbentuknya konflik. Ada banyak pihak, banyak tujuan, banyak isu.
Fokus pada arena konflik. Ada dua pihak yang bertikai. Ada satu tujuan (menang).
Orientasi win-win (sama-sama untung) secara umum.
Orientasi zero-sum (jika yang satu untung, yang lain rugi) secara umum.
Ruang terbuka, waktu terbuka. Penyebab dan jalan keluar bisa dari mana saja, juga dalam sejarah atau budaya.
Ruang tertutup, waktu tertutup. Penyebab dan jalan keluar ada di arena konflik. Siapa yang pertama melempar batu.
Membuat konflik itu transparan.
Membuat perang itu sesuatu yang rahasia.
Memberi suara pada semua pihak. Empati, pengertian.
Jurnalisme “kita-mereka”. Propaganda, suara, bagi pihak kita.
Melihat konflik atau perang sebagai masalah (problem). Fokus pada kreativitas menyelesaikan konflik.
Melihat “mereka” sebagai masalah (problem). Fokus pada siapa yang unggul dalam perang.
Humanisasi terhadap semua pihak.
Dehumanisasi terhadap pihak “mereka.”
Proaktif, pencegahan sebelum terjadinya kekerasan atau perang.
Reaktif, menunggu terjadinya kekerasan sebelum memberitakan.
Fokus pada dampak-dampak kekerasan yang tidak terlihat (trauma dan kejayaan, kerusakan pada struktur atau budaya).
Fokus hanya pada dampak kekerasan yang bisa terlihat (terbunuh, luka-luka, dan kerusakan material).
Orientasi Kebenaran: mengekspose ketidakbenaran di semua pihak atau mengungkap semua upaya menutupi kesalahan (cover up)
Orientasi Propaganda: mengekspos ketidakbenaran “mereka” atau membantu menutupi kesalahan di pihak “kita” atau kebohongan
Orientasi Pada Rakyat: fokus pada penderitaan keseluruhan; pada kaum perempuan, orang tua, anak-anak; menyalurkan suara mereka yang tak mampu bersuara.
Orientasi Pada Elite: Fokus pada penderitaan pihak “kita”; mengejawantahkan elite pria, menjadi penyambung mulut mereka.
Mengecam pelaku kejahatan di semua pihak.

Mengecam pelaku kejahatan di pihak mereka.
Fokus pada rakyat pencipta perdamaian.
Fokus pada elite pencipta perdamaian
Orientasi Pada Solusi:

  • Perdamaian = tanpa kekerasan + kreativitas.
  • Mengangkat inisiatif-inisiatif perdamaian, juga untuk mencegah lebih banyak perang.
  • Fokus pada struktur, budaya, dan masyarakat yang damai.
  • Hasilnya berupa resolusi, rekonstruksi, rekonsiliasi.
Orientasi Pada Kemenangan:

  • Perdamaian = kemenangan + gencatan senjata.
  • Menutupi inisiatif perdamaian, sebelum kemenangan dicapai.
  • Fokus pada perjanjian, lembaga, dan masyarakat yang terkendali.
  • Pergi ke perang yang lain, dan kembali jika bara perang lama menyala kembali.

            Galtung yang kemudian diikuti Annabel McGoldrick dan Jake Lynch mendorong pers mengubah teori klasik jurnalisme perang menjadi jurnalisme damai (peace journalism).[3] Pers harus mengambil peran memprovokasi pihak-pihak bertikai menemukan jalan keluar. Pers harus melakukan pendekatan menang-menang dan memperbanyak alternatif penyelesaian konflik.

            Annabel McGoldrick dan Jake Lynch menyebutkan bahwa jurnalisme damai menggunakan wawasan analisis konflik dan transformasi untuk memperbarui konsep keseimbangan (balance), keadilan (fairness), dan akurasi dalam pelaporan. Jurnalisme damai juga menyediakan rute peta baru untuk menelusuri hubungan antara wartawan, sumber mereka, cerita-cerita yang mereka sajikan dan konsekuensi dari jurnalisme mereka—etika intervensi jurnalistik. Selain itu, jurnalisme damai juga membangun kesadaran nonkekerasan dan kreativitas ke pekerjaan praktis dari mengedit dan pelaporan sehari-hari.

            Media yang lebih mengedepankan masyarakat korban konflik daripada mengangkat perang antara pihak yang bertikai (yang berpotensi memperkeruh konflik) inilah yang disebut sebagai praktik jurnalisme damai. Jurnalisme damai adalah praktik jurnalistik yang bersandar pada pertanyaan-pertanyaan kritis mengenai manfaat aksi-aksi kekerasan dalam sebuah konflik  dan hikmah dari konflik itu sendiri.[4]

            Jurnalisme damai lebih mementingkan empati kepada korban-korban konflik daripada liputan berkelanjutan mengenai jalannya konflik itu sendiri. Jurnalisme damai memberi porsi yang sama kepada semua versi yang muncul dalam wacana konflik. Jurnalisme damai juga berusaha mengungkapkan ketidakbenaran di kedua belah pihak, bahkan kalau perlu menyebutkan nama pelaku kejahatan (evil-doers) dari kedua belah pihak.[5]

            Jurnalisme damai dalam upaya menyampaikan fokus beritanya lebih pada efek kekerasan yang tidak tampak (invisible effect of violence), seperti kerusakan sosial, kerusakan budaya moral, hancurnya masa depan, kerusakan produk fisik dan kekeraasan, seperti potongan mayat, rumah ibadah yang hangus, wanita dan anak-anak terlantar, sekaligus juga trauma psikologis yang muncul dari pihak yang menjadi korban.

Jurnalisme damai pada prinsipnya melaporkan suatu kejadian dengan bingkai (frame) yang lebih luas, lebih berimbang dan lebih akurat, yang didasarkan pada informasi tentang konflik dan perubahan-perubahan yang terjadi. Selain itu, jurnalisme damai diharapkan menjadi salah satu referensi bagaimana seorang wartawan dituntut untuk mampu mentransformasikan fakta dan realitas konflik sebagai realitas media yang sesungguhnya. Pendekatan jurnalisme damai memberikan jalan baru bagi pihak-pihak yang bertikai untuk menyelesaikan konflik secara kreatif dan tidak memakai jalan kekerasan. Prinsip ini disederhanakan dengan rumus, perdamaian sama dengan nonkekerasan ditambah kreatifitas.



[1] Lynch, Jake. (2008). What Is Peace Journalism? http://www.internationalpeaceandconflict.org/forum/topics/ article-from-jake-lynch-what diakses pada tanggal 29 Mei 2011, pukul 12.13.
[2] Katahati Institute. (2009). Merangkai Kata Damai. Banda Aceh: Katahati Institute.
[3] Ibid.
[4] Ibid.
[5] Ibid.

2 komentar :

ilmunya cacad gak bisa di copas di save page pun gak bisa...

sayang sekali tidak bisa di copy tulisannya

Posting Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.