Welcome to My World!

Welcome visitors! Please enjoy my site and I hope you can get many useful information. If you wish, you may contact me through Facebook, Twitter, or any other social media that I linked on the menu bar above. Thank you.

Die Poskarten

This is my another blog: Die Poskarten. This blog will show you all my postcards collection. If you want to swap a postcard, please don't hesitate to contact me from the menu bar above.

Bonjour à Tous !

"Bonjour à Tous !"is my Tumblr site. Please take a look on it and maybe you can find some funny contents that you will love. You can also follow me on Tumblr to get my updates on the site.

Please Do Not Copy

You are welcome to link to my site and use my resources in your classroom, but please respect my hardwork and do not copy my page or files and add them to your website. Thank you.

Russia Beyond the Headlines in Bahasa Indonesia

Russia Beyond the Headlines, your guide to Russia, a diverse and complex country cannot be understood in the context of stereotypes. Now available in Bahasa Indonesia!

30 Juni 2011

Selamat Datang! Ayo Berani Masuk UI!

Selamat datang kawan, selamat datang pahlawan muda! Selamat datang di kampus rakyat, kampus perjuangan, kampus kebanggan negeri ini, UNIVERSITAS INDONESIA. Tentunya untuk bisa menembus persaingan yang sedemikian ketatnya tersebut tidak diraih dengan hanya keberuntungan saja, melainkan kerja keras, semangat, serta perjuangan yang luar biasa untuk bisa menjadi salah satu bagian dari kampus kebanggaan ini! Kini, kalian adalah bagian dari keluarga besar civitas academica Universitas Indonesia. SELAMAT untuk kalian semua karena kalian LUAR BIASA!

Untuk seluruh mahasiswa baru UI yang baru diterima lewat jalur SNMPTN tertulis 2011, mohon dibuka www.ayomasukui.com untuk menyesuaikan besaran biaya kuliahnya dengan kemampuannya masing-masing. Selamat buat kalian yang telah berhasil diterima di UI! Selamat datang di kampus perjuangan, mari mengabdi untuk negeri!
Hidup MAHASISWA! Hidup RAKYAT INDONESIA!



Salam,

Fauzan Al-Rasyid

Head of Communication Office BEM FISIP UI 2011
Mobile +62 858 8551 2023 Twitter: @fauzanalrasyid
E-mail: fauzan.al@ui.ac.id, fauzan.alrasyid@gmail.com
Tumblr: http://fauzanalrasyid.tumblr.com

19 Juni 2011

Perkembangan Opini Publik dalam Masyarakat

Kata opini publik terdiri atas dua unsur, yaitu kata opini dan publik. Secara sederhana, opini adalah pendapat, gagasan, atau ide yang dikemukan manusia atas suatu kejadian atau peristiwa yang dia lihat atau ketahui, sedangkan pengertian publik secara umum adalah sekelompok individu dalam jumlah besar, sedangkan dari beberapa pakar dapat diperoleh beberapa pengertian sebagai berikut: pertama, publik adalah sejumlah orang yang bersatu dalam satu ikatan dan mempunyai pendirian sama terhadap suatu permasalahan sosial (Emery Bogardus). Kedua, publik adalah sekelompok orang yang (1) dihadapkan pada suatu permasalahan, (2) berbagi pendapat mengenai cara pemecahan persoalan tersebut, (3) terlibat dalam diskusi mengenai persoalan itu (Herbert Blumer).

Kemudian ketika kata opini dan publik disatukan membentuk istilah opini publik, pada dasarnya bermakna sebagai opini yang berkembang karena pengaruh pemberitaan dari media massa. Menurut Machiavelli yang pertama kali menggunakan istilah opini publik atau disebut juga sebagai pendapat umum, dalam buku Discourses, dia menyatakan bahwa orang yang bijaksana tidak akan mengabaikan pendapat umum mengenai soal-soal tertentu, seperti pendistribusian jabatan dan kenaikan pangkat. Namun, seperti kebanyakan penulis, ia kemudian menganggap bahwa istilah tersebut sudah cukup dikenal dan dimengerti sehingga tidak perlu didefinisikan.

Kemudian pendapat selanjutnya mengenai pendapat umum atau opini publik diutarakan oleh James Madison. James Madison menulis bahwa pendapat umum atau opini publik adalah kedaulatan yang nyata (real sovereign) dalam setiap negara merdeka, bukan karena pimpinannya dapat mengetahui atau mengikuti setiap mayoritas, tetapi karena pendapat massa menetapkan batasan yang tak dapat dilampaui para pembuat kebijakan (policymakers) yang bertanggung jawab. Madison juga segera melihat bahwa partai politik yang longgar dan bersifat terpusat dapat menghimpun – “mengagregasikan” – berbagai pendapat dan karenanya memberikan sarana utama untuk menjaga agar para pemimpin tetap dalam batas yang dapat diterima publik.

Namun, studi modern tentang pendapat umum kemungkinan telah dimulai sejak diterbitkannya Public Opinion and Popular Government karya A. Lawrence Loweel tahun 1919 dan Public Opinion karya Walter Lippman pada tahun 1922. Para penulis tahun 1920-an dan 1930-an, dengan mengandalkan konsep-konsep dan bahan-bahan yang baru diorganisasi yang dikemukakan oleh para psikolog dan sosiolog, telah mengembangkan cukup banyak teori dan hipotesis. Kuliah pendapat umum diberikan di berbagai universitas di Amerika oleh para ilmuwan politik, sosiolog, psikolog social, dan para wartawan.

Kemudian pendapat pakar lainnya, Leonard W. Doob dalam buku Public Opinion and Propaganda menyebutkan bahwa pendapat umum mengacu pada sikap rakyat tentang suatu isu jika mereka adalah anggota dari kelompok sosial yang sama.  David Truman menyatakan, pendapat umum terdiri atas pendapat sekelompok individu yang bersama-sama membentuk masyarakat yang sedang mereka diskusikan. Hal itu tidak mencakup semua pendapat individu, tetapi hanya yang berhubungan dengan isu atau keadaan yanga menentukan mereka sebagai suatu masyarakat. Dengan demikian, berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat ditarik suatu pemahaman umum bahwa opini publik adalah kompleks preferensi yang dinyatakan sejumlah orang tertentu mengenai isu yang menyangkut kepentingan umum (Bernard Hennessy, 1981).

Kini perkembangan opini publik yang cukup relevan jika dikaitkan dengan problematika di Indonesia saat ini adalah mengenai kasus “Cicak vs. Buaya” yang sempat menarik perhatian masyarakat luas. Perseteruan antara Kapolri, dengan Bibit Samad Rianto dan Chandra M. Hamzah yang diberitakan di berbagai media massa akhirnya membentuk opini publik di tengah masyarakat. Berbagai rentetan peristiwa antara “Cicak vs. Buaya” yang cukup kompleks kemudian diberitakan secara luas dan menyeluruh oleh media massa (cetak dan elektronik). Rentetan peristiwa itu kemudian diikuti oleh opini-opini yang dibangun berdasarkan fakta-fakta yang berasal dari opini narasumber. Ketika kemudian opini-opini tersebut diberitakan oleh media massa dan pengaruhnya juga sampai ke pembaca, penonton atau pendengarnya maka inilah yang disebut dengan public opinion (opini publik).

Opini publik ini menjadi opini yang berkembang karena pengaruh pemberitaan dari media massa, meskipun ada juga opini publik yang bisa dibangun bukan dari media massa, tapi media massa mempunyai kekuatan untuk memperkuat dan mempercepat tersebarnya sebuah opini. Dalam hal ini opini publik bisa disebabkan oleh dua hal, direncanakan (planned opinion) dan tidak direncanakan (unplanned opinion). Opini publik yang direncanakan dikemukakan karena memang ada sebuah rencana tertentu yang disebarkan media massa agar menjadi opini publik. Ia mempunyai organisasi, kinerja dan target yang jelas. Misalnya, opini yang sengaja dibuat oleh elite politik tertentu bahwa Pancasila adalah sumber dari segala sumber hukum. Ide ini dikemukakan di media massa secara gencar dengan perencanaan matang. Sementara itu, opini publik yang tidak direncanakan muncul dengan sendirinya tanpa rekayasa. Media hanya sekadar memuat sebuah peristiwa yang terjadi, kemudian diperbincangkan di tengah masyarakat. Dalam posisi ini, media massa hanya mengagendakan sebuah peristiwa dan memberitakannya. Peristiwa atau kasus yang dibahas di media kemudian menjadi pembicaraan publik karena publik menganggap isu itu penting untuk diperbincangkan. Karena menjadi pembicaraan di masyarakat, media massa kemudian memberi penekanan tertentu atas sebuah isu dan akhirnya ia pun menjadi opini publik.

Melihat apa yang terjadi dengan kasus “Cicak vs. Buaya” sehingga menghasilkan dukungan yang besar dari publik kepada KPK, dapat kita lihat bahwa efek dari opini publik yang merupakan pengaruh dari media massa sangat luar biasa. Namun, sesungguhnya proses terjadinya opini publik bukanlah suatu proses yang singkat. Kemunculan opini publik di tengah masyarakat melalui berbagai proses yang tidak mudah. Ferdinand Tonnies (Nurudin, 2001: 56 – 57) dalam bukunya Die Offentlichen Meinung pernah mengungkapkan bahwa opini publik terbentuk melalui tiga tahapan; pertama, die luftartigen position. Pada tahap ini, opini publik masih semerawut seperti angin ribut. Masing-masing pihak mengemukakan pendapatnya berdasarkan pengetahuan, kepentingan, pengalaman dan faktor lain untuk mendukung opini yang diciptakannya.

Kedua, die fleissigen position. Pada tahap ini, opini publik sudah menunjukkan ke arah pembicaraan lebih jelas dan bisa dianggap bahwa pendapat-pendapat tersebut mulai mengumpul ke arah tertentu secara jelas. Artinya, sudah mengarah, mana opini mayoritas yang akan mendominasi dan mana opini minoritas yang akan tenggelam. Ketiga, die festigen position. Pada tahap ketiga ini, opini publik telah menunjukkan bahwa pembicaraan dan diskusi telah mantap dan suatu pendapat telah terbentuk dan siap untuk dinyatakan. Dengan kata lain, siap untuk diyakini kebenarannya setelah melalui perdebatan dan perbedaan pendapat yang tajam sebelumnya.

Kemudian, setelah suatu opini publik tercipta di tengah masyarakat tentu menghasilkan efek tertentu bagi masyarakat tersebut. Di era reformasi saat ini atau dapat dikatakan sebagai era serba “kebebasan”, setiap orang menuntut segala macam kebebasan yang bisa didapat. Pers sebagai salah satu pilar demokrasi pun terkadang tanpa disadari berlaku menuntut segala kebebasan, dalam hal ini adalah kebebasan mendapatkan informasi dan menyebarkan informasi. Setelah mendapatkan berita, pers kemudian meletakkan segala macam informasi yang didapat di dalam media. Media kemudian disebarkan dan dikonsumsi oleh publik. Akhirnya segala hal yang ada di media mengatur segala bentuk pandangan dan pemikiran publik mengenai suatu persistiwa atau kasus tertentu. Media pun secara tidak disadari memberitakan hal-hal seperti apa yang memang diinginkan oleh publik.

Sebagai perumpamaan, dalam dunia pemasaran (marketing), Seth Godin dalam bukunya yang berjudul All Marketers Are Liars mengatakan bahwa fungsi marketers adalah menceritakan apa yang sebenarnya ingin didengar oleh konsumen, dan bukan sebaliknya, yaitu mempersuasi konsumennya seperti yang selama ini dibayangkan. Begitu pula dengan pembentukan opini publik. Pembentukan opini publik melalui media di dalam banyak hal juga tidak jauh berbeda. Media memang mendidik masyarakat, tetapi lebih banyak diarahkan ke arah yang dikehendaki oleh masyarakat itu sendiri.

Kebebasan Pers Sebagai Wujud Pelaksanaan HAM

            Jika kita berbicara tentang kebebasan pers maka berarti secara implisit kita juga berbicara tentang hak asasi manusia (HAM).  Alasannya karena kebebasan pers berawal dari kebebasan komunikasi antarmanusia (human communication). Komunikasi menuntut kebebasan karenan manusia tidak dapat hidup tanpa komunikasi (one cannot not communicate). Paling sedikit, kebutuhan komunikasi  sama dengan kebutuhan manusia untuk makan, minum, dan berlindung dari udara dingin, panas, dan hujan.  Oleh karena itu, berkomunikasi adalah HAM, sama halnya seperti menjalani hidup (to live) bagi manusia adalah HAM. Hak untuk berkomunikasi sama dengan hak untuk hidup. Kebebasan mencari dan mendapatkan informasi merupakan HAM pula sebab informasi adalah bagian integral dari komunikasi antarmanusia.

            Keberadaan pers dalam komunikasi antarmanusia (tahun 1445) merupakan fenomena kemajuan teknologi komunikasi dan informasi. Dengan menggunakan pers jangkauan komunikasi (penyampaian pesan) menjadi luas, jauh, mencapai banyak orang (penerima pesan) dan pesan menjadi lebih diterima masyarakat karena dilakukan secara tertulis (tercetak) sehingga lebih jelas. Keberadaan pers pun meningkatkan kemampuan manusia untuk berkomunikasi.

            Ketika pers hadir dalam kehidupan manusia hak asasi komunikasi pun melebar kepada saluran komunikasi massa. Kebebasan komunikasi itu pun mengikuti tahap-tahap kemajuan teknologi komunikasi dan informasi. Pada akhirnya saat ini kebebasan komunikasi sebagai hak asasi manusia telah memasuki dunia maya informasi yang disebut cybercommunication. Akibatnya pun sangat dramatis. Rambu-rambu lama seketika menjadi benda kuno (archaid) dan hampir tidak berguna lagi (futile) menurut sebuah seminar yang diselenggarakan oleh Asian Institute of Development Communication (AIDCOM) di Kuala Lumpur bulan November  1997 yang dipandu oleh A. Muis penulis buku “Indonesia di Era Dunia Maya: Teknologi Informasi dalam Dunia Tanpa Batas”.

            Namun, kebebasan berkomunikasi tidak berlaku mutlak. Hal ini dikarenakan semua orang memiliki hak untuk bebas berkomunikasi demi kelanjutan hidupnya.  Dengan demikian, kebebasan berkomunikasi dibatasi oleh kebebasan komunikasi pula. Karena pers  adalah bagian yang tak terpisahkan dari komunikasi antara manusia maka kebebasan pers pun harus tunduk pada rambu-rambu hukum dan etika, tetapi pembatasan yuridis itu tidak boleh bersifat pencekalan terhadap kebebasan pemberitaan (pre-public penalty), seperti sensor, pembredelan, SIT, SIUPP, dan sejenisnya karena hal itu berarti melanggar HAM.

Sistem Pers

            Sistem pers adalah subsistem dari sistem komunikasi. Sistem ini mempunyai karakteristik tersendiri dibandingkan dengan sistem lainnya, misalnya sistem informasi manajemen dan sistem dalam komunikasi organisasi. Unsur yang paling penting dalam sistem pers adalah media massa, baik cetak maupun elektronik. Media massa menjalankan fungsi untuk mempengaruhi sikap dan perilaku masyarakat, termasuk dalam hal membentuk opini publik. Melalui media, masyarakat dapat menyetujui dan menolak kebijakan pemerintah. Lewat media pula berbagai inovasi atau pembaruan bisa dilaksanakan oleh masyarakat.

Marshall Mc Luhan menyebutkan bahwa media sebagai the extension of man (media adalah ekstensi manusia). Dengan kata lain, media adalah perpanjangan dan perluasan dari kemampuan jasmani dan rohani manusia (F. Rafhmadi, 1990). Berbagai keinginan, aspirasi, pendapat, sikap perasaan manusia bisa disebarluaskan melalu pers. Sosialiasai kebijakan tentang  kenaikan atau penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) atau kenaikan gaji Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang perlu diketahui secara cepat oleh masyarakat, tidak perlu dilakukan dengan komunikasi tatap muka. Pemerintah cukup melakukan press release ke media atau mengundang wartawan untuk jumpa pers. Dalam waktu singkat injformasi itu akan tersebar luas ke tengah masyarakat.

Mengutip pendapat Wilbur Schramm (1973), tidak bisa dipungkiri bagi masyarakat, pers bisa dianggap sebagai pengamat, forum, dan guru (watcher, forum, and teacher). Artinya, setiap hari pers memberikan laporan, ulasan mengenai kejadian, menyediakan tempat (forum) bagi masyarakat dari segala generasi. Dengan kata lain, pers mengamati kejadian dan melaporkannya kepada masyarakat, menjadi tempat “diskusi” (mengeluarkan ide atau gagasan dan menanggapinya) serta kemampuan mendidik masyarakat ke arah kemajuan (pers memberikan ilmu pengetahuan serta mengarahkan masyarakat pada pembaruan).

Kemudian, pers juga memiliki dua sisi kedudukan. Pertama, pers sebagai medium komunikasi yang tertua dibandingkan dengan medium yang lain. Kedua, pers sebagai lembaga kemasyarakatan atau institusi sosial merupakan bagian integral dari masyarakat dan bukan merupakan unsur asing atau terpisah (F. Rachmadi, 1990).

Langkah Kecil Membentuk Masyarakat yang Jujur

Kata jujur merupakan sebuah kata yang telah dikenal oleh hampir semua orang. Bagi yang telah mengenal kata jujur mungkin sudah tahu apa itu arti atau makna dari kata jujur tersebut. Namun demikian, ternyata masih banyak orang-orang yang mengetahui dan paham dengan arti atau makna kejujuran, tapi tidak berbuat jujur. Kejujuran adalah suatu sikap yang berpikir jujur, berkata jujur dan bersikap dengan jujur. Jujur sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti lurus hati, tidak berbohong, tidak curang, tulus dan ikhlas. Sikap jujur merupakan sikap yang dapat dikatakan langka di Indonesia. Sebagai bukti, dibentuknya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)—institusi resmi yang bertugas menjaga tingkat kejujuran dalam hidup bernegara di Indonesia dalam hal korupsi—memperlihatkan bahwa kejujuran belum hidup di sebagian besar masyarakat Indonesia. Hal ini terlihat dari semakin banyaknya terungkap kasus-kasus ketidakjujuran dalam hal korupsi baik dalam skala besar maupun kecil. 
Kata jujur adalah kata yang digunakan untuk menyatakan sikap seseorang. Bila seseorang berhadapan dengan suatu atau fenomena maka orang itu akan memperoleh  gambaran tentang  sesuatu  atau fenomena tersebut, dan jika orang  itu  menceritakan informasi tentang  gambaran  tersebut kepada orang lain tanpa ada perubahan (sesuai dengan realitasnya) maka sikap yang seperti itulah yang disebut dengan jujur.
Sesuatu atau fenomena yang dihadapi tentu saja merupakan apa yang ada pada diri sendiri atau di luar diri sendri. Misalnya keadaan atau kondisi tubuh, pekerjaan yang telah, sedang, atau yang akan dilakukan. Sesuatu yang diamati juga dapat mengenai benda, sifat dari benda tersebut, atau bentuk dan modelnya. Fenomena yang teramati bisa berupa suatu peristiwa, tata hubungan sesuatu dengan lainnya. Secara sederhana dapat dikatakan apa saja yang ada dan apa saja yang terjadi.
Perlu juga diingat bahwa ada pula orang-orang yang memberi-kan berita atau informasi sebelum terjadinya suatu peristiwa atau fenomena. Misalnya seseorang mengatakan dia akan hadir dalam suatu pertemuan  di sebuah tempat bulan depan. Jika memang dia hadir pada waktu dan tempat yang telah di sampaikannya itu maka seseorang itu bersikap jujur. Dengan kata lain, jujur juga berkaitan dengan janji. Dalam hal ini   jujur berarti mencocokan atau menyesuaikan perkataan (informasi) yang disampaikan dengan realitanya (fenomena). Selain itu, Kejujuran juga berhubungan dengan  pengakuan. Jadi, dari uraian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa apa yang disebut dengan jujur adalah sebuah sikap yang selalu berupaya menyesuaikan atau mencocokan antara informasi dengan fenomena.
Hingga saat ini peran kejujuran masih sangat diperlukan. Pembangunan bangsa dapat berjalan dengan baik jika dilandasi dengan kejujuran. Sekarang ini sebenarnya begitu banyak orang yang mempertanyakan kejujuran dari para pemimpin bangsa, baik di tingkat eksekutif, legislatif, maupun yudikatif. Hal ini terjadi akibat begitu maraknya korupsi yang terjadi di berbagai lembaga negara, dan bahkan tidak menutup kemungkinan terjadi pada pribadi kita masing-masing.

Ketidakjujuran yang terjadi dengan adanya korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) itu pun harus dibayar mahal oleh masyarakat. Ada begitu banyak anggota masyarakat yang terjerat lilitan kemiskinan dalam hidup mereka. Gizi yang tidak baik telah menyebabkan anak-anak bangsa ini semakin tidak sehat. Jika hal seperti ini terus terjadi tentu akan berkibat sangat buruk bagi kelangsungan generasi masa depan bangsa ini.

Jika kejujuran semakin lemah dan ketidakjujuran atau kebohongan yang terus berkembang maka bangsa akan memiliki suatu generasi penerus bangsa yang lemah dalam berbagai segi kehidupan. Mengapa? Karena terjadi kebohongan demi kebohongan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pada akhirnya bangsa ini akan menciptakan kecurigaan demi kecurigaan terhadap bangsa ini sendiri.

Lantas, bagaimana caranya untuk meningkatkan sikap jujur dalam setiap pribadi masyarakat? Tentunya ini bukan suatu hal yang mudah. Namun, hal-hal kecil dapat dilakukan demi menciptakan efek yang besar. Sebagai contoh, mungkin kita masih ingat dengan salah satu program KPK yang bernama Kantin Kejujuran. Kantin kejujuran merupakan upaya untuk mendidik sikap siswa agar berperilaku jujur. Kantin kejujuran adalah kantin yang menjual makanan kecil dan minuman, tapi tidak memiliki penjual dan tidak dijaga. Makanan atau minuman dipajang dalam etalase dan di atas etalase tersedia kotak uang yang berfungsi sebagai penampung pembayaran dari siswa yang membeli makanan atau minuman. Bila ada kembalian, siswa mengambil dan menghitung sendiri uang kembalian dari dalam kotak tersebut. Di kantin ini, kesadaran siswa sangat dituntut untuk berbelanja dengan membayar dan mengambil uang kembalian jika memang berlebih, tanpa harus diawasi oleh guru atau pegawai kantin. Kantin Kejujuran merupakan salah satu bentuk kegiatan dalam pendidikan antikorupsi. Ini merupakan langkah sederhana untuk menumbuhkan rasa jujur di setiap anak-anak bangsa agar tidak terjerat “virus” korupsi. Sebagaimana yang telah kita ketahui, korupsi yang telah mewabah dan tumbuh telah mengakibatkan kesengsaraan rakyat yang berkepanjangan, bahkan rnenghambat kemajuan bangsa dan negara.

Tanpa kejujuran, praktik korupsi, kolusi, nepotisme, dan segala bentuk manipulasi lainnya akan tetap tumbuh di negeri ini. Untuk itu, Kantin Kejujuran yang merupakan pendidikan antikorupsi perlu diterapkan sebagai upaya prefentif bagi generasi muda. Namun, pelaksanaan Kantin Kejujuran ini pun akan sukses dengan dukungan bersama dari warga sekolah. Anak-anak inilah yang kemudian akan menjadi generasi penerus bangsa yang diharapkan terbiasa dengan kejujuran. Dengan demikian, masyarakat yang jujur pun akan tercapai. Menurut Tim Fasilitator Soft Skills Ditjen Dikti Dr. Ir. G. Suprayitno, M.M., masyarakat jujur adalah yang anggotanya berani menyampaikan sesuatu sesuai dengan kenyataan. Kejujuran memungkinkan seseorang untuk melakukan evaluasi diri dengan baik karena berani mengakui kekuarangannya dan siap untuk memperbaikinya.

Referensi
http://news.okezone.com/read/2009/12/10/340/283563/budayakan-antikorupsi-dengan-kantin-kejujuran
http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/12/23/133157/Pendidikan-yang-Benar-Bentuk-Masyarakat-Cerdas
http://www.diknas-padang.org/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=23&artid=240
http://www.mmugm.ac.id/index.php/sustainabiltyindex/929-kantin-kejujuran-untuk-pembangunan-moral-profesional-manajemen-dan-entrepreneurship-bangsa-indonesia-yang-berkelanjutan

Etika, Etiket, dan Moral

  • Istilah “etika” berasal dari bahasa Yunani ethos, yang dalam bentuk jamak (ta etha) artinya adalah: adat kebiasaan. Inilah yang menjadi latar belakang bagi terbentuknya istilah “etika”.
  • Istilah “moral” berasal dari bahasa Latin mos (jamak: mores) yang berarti juga kebiasaan atau adat.
  • “Moralitas” (dari kata sifat Latin moralis) mempunyai arti yang pada dasarnya sama dengan “moral”, hanya ada nada lebih abstrak.
  • Baik hukum maupun moral mengatur tingkah laku manusia, tapi hukum membatasi diri pada tingkah laku lahiriah saja, sedangkan moral menyangkut juga sikap batin seseorang.
  • “Etika” berarti moral dan “etiket” berarti sopan santun. Keduanya sama-sama menyangkut perilaku manusia.
  • “Etiket” menyangkut cara suatu perbuatan harus dilakukan manusia. Di antara beberapa cara yang mungkin, etiket menunjukkan cara yang tepat, artinya cara yang diharapkan serta ditentukan dalam suatu kalangan tertentu.
  • “Etiket” hanya berlaku dalam pergaulan. Bila tidak ada orang lain hadir atau tidak ada saksi mata maka etiket tidak berlaku.
  • “Etiket bersifat relatif. Artinya, sesuatu yang dianggap tidak sopan dalam satu kebudayaan bisa saja dianggap sopan dalam kebudayaan lain.
  • Etika adalah ilmu yang membahas mengenai moralitas atau tentang manusia sejauh berkaitan dengan moralitas. Atau bisa juga dikatakan bahwa etika merupakan ilmu yang menyelidiki tingkah laku moral.
  • Etika termasuk filsafat dan bahkan dikenal sebagai salah satu cabang filsafat yang paling tua.
  • Etika adalah refleksi ilmiah tentang tingkah laku manusia dari sudut norma-norma atau dari sudut baik dan buruk.
  • Segi normatif merupakan sudut pandang yang khas bagi etika, dibandingkan dengan ilmu-ilmu lain yang juga membahas tingkah laku manusia.
  • Etika deskriptif melukiskan tingkah laku moral dalam arti luas, misalnya adat kebiasaan, anggapan-anggapan tentang baik dan buruk, tindakan-tindakan yang diperbolehkan atau tidak diperbolehkan.
  • Etika deskriptif mempelajari moralitas yang terdapat pada individu-individu tertentu, dalam kebudayaan-kebudayaan atau subkultur-subkultur yang tertentu, dalam suatu periode sejarah, dan sebagainya.
  • Salah satu perbedaan pokok antara filsafat dan ilmu-ilmu lain adalah bahwa ilmu-ilmu lain itu—termasuk juga limu-ilmu sosial—bersifat empiris, artinya, membatasi diri pada pengalaman indrawi, sedangkan filsafat melampaui tahap empiris.
  • Etika normatif merupakan bagian terpenting dari etika dan bidang di mana berlangsung diskusi-diskusi yang paling menarik tentang masalah-masalah moral. Di sini ahli bersangkutan tidak bertindak sebagai penonton netral, seperti halnya dalam etika deskriptif, tapi ia melibatkan diri dengan mengemukakan penilaian tentang perilaku manusia.
  • Etika normatif bertujuan merumuskan prinsip-prinsip etis yang dapat dipertanggung-jawabkan dengan cara rasional dan dapat digunakan dalam praktik.
  • Etika normatif dapat dibagi lebih lanjut dalam etika umum dan etika khusus.
  • Etika umum memandang tema-tema umum, seperti: Apa itu norma etis? Jika ada banyak norma etis, bagaimana hubungannya satu sama lain? Mengapa norma moral mengikat kita? Apa itu nilai dan apakah kekhususan nilai moral?  Bagaimana hubungan antara tanggung jawab manusia dan kebebasannya? Tema-teman seperti itulah yang menjadi obyek penelitian etika umum.
  • Etika khusus berusaha menerapkan prinsip-prinsip etis yang umum atas wilayah perilaku manusia yang khusus.
  • Metaetika merupakan cara lain untuk mempraktikkan etika srebagai ilmu. Awalan meta- (dari bahasa Yunani) mempunyai arti “melebihi”, “melampaui”. Istilah ini diciptakan untuk menunjukkan bahwa yang dibahas di sini bukanlah moralitas secara langsung, melainkan ucapan-ucapan kita di bidang moralitas.
  • Dalam studi tentang moralitas dapat dibedakan pendekatan non-filosofis dan pendekatan filosofis. Pendekatan non-filosofis adalah etika deskriptif, sedangkan pendekatan filosofis bisa juga sebagai etika normatif dan bisa juga sebagai metaetika atau etika analitis.
  • Filsafat tidak mempunyai obyek dengan batas-batas jelas; filsafat tidak mempunyai obyek yang mudah dapat dipatoki.
  • Filsafat dipandang secara berbeda-beda oleh para filsuf, khususnya mengenai: Apakah filsafat merupakan suatu ilmu?
  • Untuk menjawab pertanyaan: “Apakah filsafat merupakan suatu ilmu?” perlu dijawab dulu pertanyaan lain: “Apakah itu ilmu pengetahuan?”
  • Ilmu pengetahuan sekurang-kurangnya memiliki tiga ciri: (1) rasional, (2) metodis, (3) sistematis.
  • Filsafat bersifat meta-empiris, artinya: melebihi fakta.
  • Pada akhirnya filsafat dapat disimpulkan sebagai ilmu pengetahuan karena mempunya ciri-ciri ilmiah, tetapi filsafat bukan merupakan  ilmu pengetahuan empiris.
  • Sejarah filsafat meliputi empat periode, yaitu: (1) zaman Yunani dan Romawi Kuno, (2) abad pertengahan, (3) zaman modern, (4) filsuf abad ke-20.
  • Cabang-cabang filsafat antara lain: (1) logika, (2) metafisika, (3) epistemologi, (4) filsafat ketuhanan, (5) filsafat manusia, (6) filsafat alam, (7) etika.

09 Juni 2011

Waarom was ik niet geboren als een Javaanse?

Sebelum membaca tulisan ini, gue ada beberapa maklumat yang semoga dapat dimaklumi. Pertama, tulisan gue kali ini bener-bener curhat. Jadi, mohon maaf kalau mungkin agak-agak enggak "berbau" akademis atau mungkin terkesan subyektif. Kedua, maaf banget, tanpa bermaksud menyinggung suku manapun, ini hanya curhatan isi hati gue, kalau emang kurang berkenan membaca hal-hal yang berbau atau sedikit menyinggung kesukuan, enggak perlu dilanjutkan karena memang lebih baik begitu. Ketiga, tulisan ini, khususnya dari judulnya terinspirasi oleh tulisannya Ki Hajar Dewantara yang berjudul "Als ik eens Nederlander was" (Seandainya Aku Seorang Belanda) yang dimuat dalam surat kabar De Expres tahun 1913.

Oke, masuk ke topik. Waarom was ik niet geboren als een Javaanse? Atau dalam bahasa Indonesia adalah, mengapa saya tidak terlahir sebagai orang Jawa? Lantas, memang ada yang salah terlahir sebagai bukan orang Jawa? Seperti orang Sumatera, Kalimantan, Bali, Madura, Maluku, Manado, Makasar, atau bahkan Papua? Ada yang salah? No, absolutely no! Enggak ada yang salah, setidaknya sampai gue bertemu seseorang yang sangat gue sayang... Ya, dia menyadarkan gue satu hal bahwa dalam suatu hubungan kerap kali timbul masalah-masalah, dan masalah ini bukanlah masalah seberapa atau sebesar apa rasa sayang kita kepada pasangan kita, tapi identitas kesukuan apa yang melekat pada diri kita?

Awalnya, semua berjalan baik (dan alhamdulillah sampai sekarang pun tetap baik), tapi sering kali gue mengalami apa yang disebut sebagai culture shock atau geger budaya. Ini merupakan suatu istilah yang digunakan untuk menggambarkan kegelisahan dan perasaan (terkejut, kekeliruan, dan sebagainya) yang dirasakan apabila seseorang tinggal atau bertemu dengan kebudayaan yang berlainan sama sekali dengan budayanya, seperti ketika berada di negara asing misalnya, atau juga dalam menjalin suatu hubungan. Perasaan ini timbul akibat kesukaran atau let's say "ke-tidak-terbiasa-an" dalam asimilasi kebudayaan baru yang menyebabkan seseorang sulit mengenali apa yang wajar dan tidak wajar. Sering kali perasaan ini digabung dengan kebencian moral atau estatik yang kuat mengenai beberapa aspek dari budaya yang berlainan atau budaya baru tersebut.

That's what I'm feeling. Jadi, gue adalah seorang yang berdarah Sumatera. Papa (alm.) seorang Minang dan Mama seorang Tapanuli (Sumatera Utara) atau bisa dikatakan Batak, tapi bukan Batak Karo. Anyway, ada yang salahkah menjadi seorang Sumatera? Jujur, gue sendiri enggak pernah merasa seorang Sumatera, gue lebih senang disebut sebagai seorang Indonesia. Ya... sekalipun gue enggak yang ngerasa "oke" banget menjadi orang Indonesia, tapi setidaknya gue cukup bangga menyebut diri gue sebagai anak Indonesia, bukan anak Padang atau anak Medan, atau bahkan "Putra Sumatera". Not at all! Tapi masalahnya adalah... it's not that simple. Terlihat sederhana, tapi ternyata enggak.

Ternyata ada banyak orang yang merasa (dan masih menganggap) bahwa menjalin hubungan dengan orang yang sesuku jauh lebih baik. Bahkan beberapa temen gue yang (wanita) gue tanya mengenai menjalin hubungan dengan memperhatikan identitas kesukuan, mereka mengatakan "iya" bahwa mereka lebih memilih seseorang dari suku yang sama (dalam hal ini adalah suku Jawa) dan dianjurkan oleh keluarganya untuk mencari yang dari suku Jawa. Wait a minute, hello... gue tinggal di Pulau Jawa, gue lahir di Pulau Jawa, orangtua gue pun mencari nafkah di Pulau Jawa, gue dan keluarga berinteraksi dengan orang-orang Jawa, dan masih salahkah gue yang tidak berdarah Jawa? Salahkah gue yang tidak berdarah Jawa ini mencintai seorang gadis yang berdarah Jawa? Dan salahkah ia jika ia pun mencintai seorang pria yang bukan berdarah Jawa?

Semua hal ini sangat, sangat, dan sangat membingungkan buat gue. Ini hanya enggak masuk akal. Oke, gue tahu bahwa ini enggak terjadi di suku Jawa aja. Bahkan orang-orang dari suku lain pun masih banyak yang lebih setuju untuk mempertahankan identitas kesukuannya (tidak bercampur) dengan suku lain. But we are Indonesian aren't we? Berbangsa satu, bangsa Indonesia. Itu sumpahnya kan? Kenapa harus ada "anjuran-anjuran" seperti itu? Kenapa masih ada paradigma yang memandang suatu suku lebih baik dari suku lainnya, atau suatu suku jauh lebih beradab dari suku lainnya? Gue merasa sangat aneh, gue merasa sangat (sebut saja) "tidak beruntung" dilahirkan sebagai orang yang bukan orang Jawa. Karena ternyata, jika gue seorang Jawa maka segalanya akan lebih mudah... Jauh lebih mudah... Gue tidak akan merasakan "pengkotak-kotakan" antara Jawa dan non-Jawa, gue tidak akan merasakan bahwa sikap gue yang (jelas) ke-Sumatera-an ini kurang baik di mata sebagian orang dari suku tertentu. Ini sangat menyedihkan. Ya, sangat menyedihkan dan gue sedih.

Bhineka Tunggal Ika. Sekedar semboyan kan? Kita semua memang jelas berbeda, tapi kita lebih suka jika kita semua sama. Kita semua jauh lebih suka jika kita di dekat orang-orang yang memiliki identitas yang sama dengan kita. Lantas, mengapa Tuhan menciptakan kita berbeda-beda kalau ternyata kita semua lebih suka yang sama? Tentu jawabannya adalah agar kita saling mengenal. Ya, Tuhan ingin kita saling mengenal.Gue percaya, Tuhan membuat kita terdiri atas berbagai suku di muka bumi ini agar kita saling mengenal dan memahami. Dan tidak ada yang lebih baik dari yang lain. Semua sama... ya, semua sama di hadapan-Nya. Namun, ketika gue menghadapi ini, tetap gue mempertanyakan: lantas, kenapa gue enggak lahir jadi orang Jawa? Kenapa? Atau enggak, kenapa Indonesia ini enggak terdiri dari satu suku aja sekalian, biar enggak ada yang merasa "lebih" dibandingkan yang lain.

Jujur, gue enggak pernah memikirkan hal-hal kayak gini sebelumnya, tapi semakin gue dewasa, semakin gue mengenal orang... dan ketika gue menjatuhkan hati gue pada seseorang... hal ini kemudian muncul... masalah ini muncul. Ketika gue bukan seorang Jawa dan dia seorang Jawa. Ketika gue bukan seorang Jawa dan dia diharapkan bersama dengan orang Jawa. Ketika gue bukan seorang Jawa dan gue merasa sangat tidak "bermoral" dalam beberapa hal. Ketika gue bukan seorang Jawa dan gue merasa tidak sopan dan tidak santun karena tidak mengerti suatu budaya. Ketika gue bukan seorang Jawa dan selamanya gue enggak akan jadi orang Jawa. Gue tetaplah Fauzan Al-Rasyid, putra dari pasangan Dhanny R. Cyssco dan Latifah Hanum yang keduanya berasal dari Pulau Sumatera. Haruskah gue sesali? Tentu tidak. Gue bangga dengan orangtua gue, gue bangga dengan latar belakang mereka baik identitas kesukuan maupun keluarga dari orangtua gue. Dan gue rasa enggak ada yang salah. Bahkan ketika gue mencintai seorang yang bukan dari suku gue, dan dia pun mencintai gue... adakah yang salah dengan cinta? Cintakah yang lantas harus disalahkan? Bukankah cinta itu merupakan anugerah yang diberikan oleh Tuhan? Dan bukankah Tuhan tak pernah membeda-bedakan cinta-Nya pada seluruh makhluk ciptaan-Nya?

Dunia sudah semakin tua, ya... kita semua tahu itu. Gue pun merasa, ini bukan lagi masanya untuk membeda-bedakan manusia. Dia Jawa, Sumatera, Bugis, Bali, Madura, Kalimantan, Papua, dan sebagainya, enggak ada yang salah dengan itu. Entah si Bali mencintai si Papua atau si Bugis mencintai si Batak atau seperti gue, Fauzan, mencintai seorang Fike Kireina. Bukankah cinta memang menyatukan segalanya? Dan bukankah perbedaan itu ada bukan untuk menjadi jurang pemisah melainkan untuk menunjukkan bahwa betapa beragamnya kita sebagai umat manusia? Gue (jelas) memang harus banyak belajar mengenai budaya, terutama budaya yang dibawa oleh pacar (terutama keluarganya) gue. Gue akan berusaha menjadi seorang yang seperti diharapkan oleh keluarganya. Gue enggak akan bisa menjadi "Jawa tulen" karena dalam darah gue enggak mengalir gen itu, tapi setidaknya gue bisa belajar memahami. Ketika kita paham, dari mana pun asal kita atau latar belakang kita, gue yakin kita bisa "masuk" menjadi bagian suatu komunitas tertentu yang berisi norma dan adat tertentu. Dan demi dia. Iya, demi dia yang sangat gue sayang. Gue sayang banget sama dia... dan cuma sama dialah gue mau menjalani hidup gue ini kelak.

Namun, itu semua butuh proses. Ya, semua butuh proses karena tidak ada yang benar-benar instan. Gue hanya berharap selama gue menjalani proses ini, semua akan baik-baik aja; semua akan berjalan dengan sebagaimana mestinya; semua akan tetap berjalan baik walau gue bukanlah seorang Jawa. Ah ya, agak menyedihkan menjadi bukan orang Jawa di Pulau Jawa ini. Mungkin kalau gue tinggal di Pulau Sumatera akan lain soal. Tapi di sinilah rumah gue... di sini ada impian-impian gue... dan di sinilah gue bertemu dia... dia yang sangat gue sayang... Jadi, haruskah gue masih menyesal dengan mempertanyakan: waarom was ik niet geboren als een Javaanse?

Enggak, gue tetap bangga dengan identitas gue. Toh, gue sejujurnya lebih suka dipanggil sebagai anak Indonesia daripada anak orang Sumatera. Karena kita memang orang Indonesia kan? Kenapa kita harus menunjukkan dari mana asal kita daripada menunjukkan kebanggaan dengan entitas "Indonesia" itu sendiri? Ah, Indonesia... masyarakatmu ternyata memang lebih memuja identitas dirinya daripada identitas dirimu. Ya, masyarakat kita memang unik, sangat unik... Ya... tapi semua ini tentu memberi pelajaran yang sangat beharga buat gue. Pastinya pikiran gue jadi lebih terbuka. Ya... walaupun gue enggak pernah berpikiran "Sumatera-Sentris", hal-hal tentang kesukuan ini jelas sangat membuka cakrawala berpikir gue. Dan pada akhirnya gue pun berusaha untuk belajar dan belajar. Belajar memahami, belajar menerima (menerapkan), dan belajar memaklumi. Tiga hal pembelajaran itu pada akhirnya pasti harus kita ambil jika kita memang sungguh-sungguh dengan apa yang ingin kita dapat. Dalam hal ini, Fike jauh lebih penting buat gue. Dan apa pun yang gue lakukan, itu buat dia. Dan gue pun mau belajar demi dia, demi keluarganya. Ya, cinta memang mengalahkan segalanya kan?

Terakhir, jika dalam tulisan Ki Hajar Dewantara beliau menulis: "Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya," maka jika aku seorang Jawa (als ik een Javaanse), aku akan mengatakan pada seluruh orang Indonesia bahwa tidak ada suku yang lebih baik daripada suku lainnya. Kita memang berbeda satu sama lain, dan itu benar. Namun, tidakkah perbedaan itu ada karena tidak ada seorang pun di antara kita yang sempurna? Tidakkah perbedaan itu ada karena kita diharapkan untuk saling melengkapi? Karena kita semua tidak sempurna. Kita tidak butuh banyak persamaan untuk menutupi kekurangan kita. Perbedaanlah yang kita butuhkan untuk menutupi kekurangan kita. Kita hidup dalam perbedaan maka jagalah perbedaan itu sebagaimana kita menjaga setiap persamaan yang kita miliki antarsesama kita.

04 Juni 2011

Etika Teleologi

Teleologi berasal dari bahas kata Yunani telos (τέλος), yang berarti akhir, tujuan, maksud, dan logos (λόγος), perkataan. Teleologi adalah ajaran yang menerangkan segala sesuatu dan segala kejadian menuju pada tujuan tertentu. Istilah teleologi dikemukakan oleh Christian Wolff, seorang filsuf Jerman abad XVIII. Teleologi merupakan sebuah studi tentang gejala-gejala yang memperlihatkan keteraturan, rancangan, tujuan, akhir, maksud, kecenderungan, sasaran, arah, dan bagaimana hal-hal ini dicapai dalam suatu proses perkembangan. Dalam arti umum, teleologi merupakan sebuah studi filosofis mengenai bukti perencanaan, fungsi, atau tujuan di alam maupun dalam sejarah. Dalam bidang lain, teleologi merupakan ajaran filosofis-religius tentang eksistensi tujuan dan “kebijaksanaan” objektif di luar manusia.

Etika teleologi mengukur baik dan buruknya suatu tindakan berdasarkan tujuan yang ingin dicapai dengan tindakan itu atau berdasarkan akibat yang ditimbulkan oleh tindakan itu. Artinya, teleologi bisa diartikan sebagai pertimbangan moral akan baik buruknya suatu tindakan yang dilakukan. Teleologi mengerti benar mana yang benar, dan mana yang salah, tetapi itu bukan ukuran yang terakhir. Yang lebih penting adalah tujuan dan akibat[1]. Walaupun sebuah tindakan dinilai salah menurut hukum, tetapi jika itu bertujuan dan berakibat baik, maka tindakan itu dinilai baik. Namun dengan demikian, tujuan yang baik tetap harus diikuti dengan tindakan yang benar menurut hukum.

            Menurut Kant, setiap norma dan dan kewajiban moral tidak bisa berlaku begitu saja dalam setiap situasi.[2] Jadi, sejalan dengan pendapat Kant, etika teleologi lebih bersifat situasional karena tujuan dan akibat suatu tindakan bisa sangat tergantung pada situasi khusus tertentu. Berdasarkan pembahasan etika teleologi ini muncul aliran-aliran teleologi, yaitu egoisme dan utilitarianisme.

            Egosime adalah pandangan bahwa tindakan setiap orang bertujuan untuk mengejar kepentingan atau memajukan dirinya sendiri. Egoisme bisa menjadi persoalan serius ketika secara signifikan berhubungan dengan hedonism, yaitu ketika kebahagiaan dan kepentingan pribadi semata-mata hanya kenikmatan fisik yang bersifat vulgar. Artinya, yang baik secara moral disamakan begitu saja dengan kesenangan dan kenikmatan.

            Utilitarianisme adalah penilaian suatu perbuatan berdasarkan baik dan buruknya tindakan atau kegiatan yang bertumpu pada tujuan atau akibat dari tindakan itu sendiri bagi kepentingan orang banyak[3]. Utilitarianisme bahkan bisa membenarkan suatu tindakan yang secara deontologis tidak etis sebagai tindakan yang baik dan etis, yaitu ketika ternyata tujuan atau akibat dari tindakan itu bermanfaat bagi bayak orang. Utilitarianisme sangat menghargai kebebasan setiap pelaku moral. Tidak ada paksaan bahwa seseorang harus beritndak dengan cara tertentu yang mungkin tidak diketahui alasannya mengapa demikian. Jadi, suatu tindakan baik diputuskan dan dipilih berdasarkan kriteria yang rasional dan bukan sekedar mengikuti tradisi atau perintah tertentu.


[1] Darmaputera, E. (1993). Etika Sederhana untuk Semua: Perkenalan Pertama. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
[2] http://pksm.mercubuana.ac.id/new/elearning/files_modul/42024-2-485026569846.doc
[3] Ibid.

Analisis Framing

Metode framing (pembingkaian) adalah suatu metode untuk melihat cara bercerita (story telling) media atas peristiwa. Cara bercerita itu tergambar pada “cara melihat” terhadap realitas yang dijadikan berita. “Cara melihat” ini berpengaruh pada hasil akhir dari konstruksi realitas. Analisis framing adalah analisis yang dipakai untuk melihat bagaimana media mengonstruksikan realitas. Analisis framing juga dipakai untuk melihat bagaimana peristiwa dipahami dan dibingkai oleh media.[1]

Sebagai sebuah metode analisis teks, analisis framing mempunyai karakteristik yang berbeda dibandingkan dengan analisis isi kuantitatif. Dalam analisis isi kuantitatif, yang ditekankan adalah isi (content) dari suatu pesan atau teks komunikasi. Sementara dalam analisis framing yang menjadi pusat perhatian adalah pembentukan pesan dari teks. Framing, terutama, melihat bagaimana pesan atau peristiwa dikonstruksikan oleh media. Bagaimana wartawan mengonstruksikan suatu peristiwa dan menyajikannya kepada khalayak pembaca.[2]

Analisis framing merupakan bagian dari analisis isi yang melakukan penilaian tentang wacana persaingan antarkelompok yang muncul atau tampak di media. Analisis framing atau dikenal juga sebagai konsep bingkai, yaitu gagasan sentral yang terorganisasi, dan dapat dianalisis melalui dua turunannya, yaitu simbol berupa framing device dan reasoning device. Framing device merujuk pada penyebutan istilah tertentu yang menunjukkan “julukan” pada satu wacana, sedangkan reasoning device menunjuk pada analisis sebab-akibat. Di dalamnya terdapat beberapa ‘turunan’, yaitu metafora, perumpamaan atau pengandaian. Catchphrases merupakan slogan-slogan yang harus dikerjakan. Exemplar mengaitkan bingkai dengan contoh, teori atau pengalaman masa silam. Depiction adalah “musuh yang harus dilawan bersama”, dan visual image adalah gambar-gambar yang mendukung bingkai secara keseluruhan. Pada instrumen penalaran, analisis sebab-akibat, appeals to principles merupakan premis atau klaim moral, dan consequences merupakan kesimpulan logika penalaran.

Menurut Panuju, analisis framing adalah analisis untuk membongkar ideologi di balik penulisan informasi.[3] Robert N. Entman, seorang ahli yang meletakkan dasar-dasar bagi analisis framing untuk studi isi media, mendefinisikan framing sebagai seleksi dari berbagai aspek realitas yang diterima dan membuat peristiwa itu lebih menonjol dalam suatu teks komunikasi.

Entman melihat framing dalam dua dimensi besar, yaitu seleksi isu dan penekanan atau penonjolan aspek-aspek tertentu dari realitas atau isu. Penonjolan adalah proses membuat informasi menjadi lebih bermakna, lebih menarik, berarti atau lebih diingat oleh khalayak. Realitas yang disajikan secara menonjol atau mencolok mempunyai kemungkinan lebih besar untuk diperhatikan dan mempengaruhi khalayak dalam memahami suatu realitas.

Dalam praktiknya, framing dijalankan oleh media dengan menyeleksi isu tertentu dan mengabaikan isu yang lain, dan menonjolkan aspek dari isu tersebut dengan menggunakan berbagai strategi wacana, penempatan yang mencolok (headline depan atau bagian belakang), pengulangan, pemakaian label tertentu ketika menggambarkan orang atau peristiwa yang diberitakan, asosiasi terhadap simbol budaya, generalisasi, dan simplifikasi. Semua aspek itu dipakai untuk membuat dimensi tertentu dari konstruksi berita menjadi bermakna dan diingat oleh khalayak. Dalam konsep Entman, framing pada dasarnya merujuk pada pemberian definisi, penjelasan, evaluasi, dan rekomendasi dalam suatu wacana untuk menekankan kerangka berpikir tertentu terhadap peristiwa yang diwacanakan.

Konsepsi Framing Analysis Entman[4]
Define problems
(Pendefinisian masalah)
Bagaimana suatu peristiwa atau isu dilihat? Sebagai apa? Atau sebagai masalah apa?
Diagnose cause
(Memperkirakan masalah atau sumber masalah)
Peristiwa itu dilihat disebabkan oleh apa? Apa yang dianggap sebagai penyebab dari suatu masalah? Siapa (aktor) yang dianggap sebagai penyebab masalah?
Make moral judgement
(Membuat keputusan moral)
Nilai moral apa yang disajikan untuk menjelaskan masalah? Nilai moral apa yang dipakai untuk melegitimasi atau mendelegitimasi suatu tindakan?
Treatment recommendation
 (Menekankan penyelesaian)
Penyelesaian apa yang ditawarkan untuk mengatasi masalah atau isu? Jalan apa yang ditawarkan dan harus ditempuh untuk mengatasi masalah?

Konsepsi mengenai framing dari Entman di atas menggambarkan secara luas bagaimana peristiwa dimaknai dan ditandakan oleh wartawan. Define problems (pendefinisian masalah) adalah elemen yang pertama kali dapat kita lihat mengenai framing. Elemen ini merupakan master frame atau bingkai yang paling utama. Ia menekankan bagaimana peristiwa dipahami oleh wartawan. Peristiwa yang sama dapat dipahami secara berbeda dan bingkai yang berbeda ini akan menyebabkan realitas bentukan yang berbeda.

Diagnose clause (memperkirakan penyebab masalah), merupakan elemen framing untuk membingkai siapa yang dianggap sebagai actor dari suatu peristiwa. Penyebab di sini bisa berarti apa (what), tetapi bisa juga berarti siapa (who). Bagaimana peristiwa dipahami, tentu saja menentukan apa dan siapa yang dianggap sebagai sumber masalah. Karena itu, masalah yang dipahami secara berbeda, penyebab masalah secara tidak langsung juga akan dipahami secara berbeda pula.

Make moral judgement (membuat pilihan moral) adalah elemen framing yang dipakai untuk membenarkan atau member argumentasi pada pendefinisian masalah yang sudah dibuat. Ketika masalah sudah didefinisikan, penyebab masalah sudah ditentukan, dibutuhkan sebuah argumentasi yang kuat untuk mendukung gagasan tersebut. Gagasan yang dikutip berhubungan dengan sesuatu yang familiar dan dikenal oleh khalayak.

Elemen framing lainnya adalah treatment recommendation (menekankan penyelesaian). Elemen ini dipakai untuk menilai apa yang dikehendaki oleh wartawan. Jalan apa yang dipilih untuk menyelesaikan masalah. Penyelesaian itu tentu saja sangat tergantung pada bagaimana peristiwa itu dilihat dan siapa yang dipandang sebagai penyebab masalah.


[1] Eriyanto. (2008).  Analisis Framing: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media. Yogyakarta: LKiS.
[2] Ibid.
[3] Panuju, Redi. (2003). Framing Analysis. Surabaya: Universitas dr. Sotomo.
[4] Eriyanto. (2008).  Analisis Framing: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media. Yogyakarta: LKiS.