19 Juni 2011

Etika, Etiket, dan Moral

  • Istilah “etika” berasal dari bahasa Yunani ethos, yang dalam bentuk jamak (ta etha) artinya adalah: adat kebiasaan. Inilah yang menjadi latar belakang bagi terbentuknya istilah “etika”.
  • Istilah “moral” berasal dari bahasa Latin mos (jamak: mores) yang berarti juga kebiasaan atau adat.
  • “Moralitas” (dari kata sifat Latin moralis) mempunyai arti yang pada dasarnya sama dengan “moral”, hanya ada nada lebih abstrak.
  • Baik hukum maupun moral mengatur tingkah laku manusia, tapi hukum membatasi diri pada tingkah laku lahiriah saja, sedangkan moral menyangkut juga sikap batin seseorang.
  • “Etika” berarti moral dan “etiket” berarti sopan santun. Keduanya sama-sama menyangkut perilaku manusia.
  • “Etiket” menyangkut cara suatu perbuatan harus dilakukan manusia. Di antara beberapa cara yang mungkin, etiket menunjukkan cara yang tepat, artinya cara yang diharapkan serta ditentukan dalam suatu kalangan tertentu.
  • “Etiket” hanya berlaku dalam pergaulan. Bila tidak ada orang lain hadir atau tidak ada saksi mata maka etiket tidak berlaku.
  • “Etiket bersifat relatif. Artinya, sesuatu yang dianggap tidak sopan dalam satu kebudayaan bisa saja dianggap sopan dalam kebudayaan lain.
  • Etika adalah ilmu yang membahas mengenai moralitas atau tentang manusia sejauh berkaitan dengan moralitas. Atau bisa juga dikatakan bahwa etika merupakan ilmu yang menyelidiki tingkah laku moral.
  • Etika termasuk filsafat dan bahkan dikenal sebagai salah satu cabang filsafat yang paling tua.
  • Etika adalah refleksi ilmiah tentang tingkah laku manusia dari sudut norma-norma atau dari sudut baik dan buruk.
  • Segi normatif merupakan sudut pandang yang khas bagi etika, dibandingkan dengan ilmu-ilmu lain yang juga membahas tingkah laku manusia.
  • Etika deskriptif melukiskan tingkah laku moral dalam arti luas, misalnya adat kebiasaan, anggapan-anggapan tentang baik dan buruk, tindakan-tindakan yang diperbolehkan atau tidak diperbolehkan.
  • Etika deskriptif mempelajari moralitas yang terdapat pada individu-individu tertentu, dalam kebudayaan-kebudayaan atau subkultur-subkultur yang tertentu, dalam suatu periode sejarah, dan sebagainya.
  • Salah satu perbedaan pokok antara filsafat dan ilmu-ilmu lain adalah bahwa ilmu-ilmu lain itu—termasuk juga limu-ilmu sosial—bersifat empiris, artinya, membatasi diri pada pengalaman indrawi, sedangkan filsafat melampaui tahap empiris.
  • Etika normatif merupakan bagian terpenting dari etika dan bidang di mana berlangsung diskusi-diskusi yang paling menarik tentang masalah-masalah moral. Di sini ahli bersangkutan tidak bertindak sebagai penonton netral, seperti halnya dalam etika deskriptif, tapi ia melibatkan diri dengan mengemukakan penilaian tentang perilaku manusia.
  • Etika normatif bertujuan merumuskan prinsip-prinsip etis yang dapat dipertanggung-jawabkan dengan cara rasional dan dapat digunakan dalam praktik.
  • Etika normatif dapat dibagi lebih lanjut dalam etika umum dan etika khusus.
  • Etika umum memandang tema-tema umum, seperti: Apa itu norma etis? Jika ada banyak norma etis, bagaimana hubungannya satu sama lain? Mengapa norma moral mengikat kita? Apa itu nilai dan apakah kekhususan nilai moral?  Bagaimana hubungan antara tanggung jawab manusia dan kebebasannya? Tema-teman seperti itulah yang menjadi obyek penelitian etika umum.
  • Etika khusus berusaha menerapkan prinsip-prinsip etis yang umum atas wilayah perilaku manusia yang khusus.
  • Metaetika merupakan cara lain untuk mempraktikkan etika srebagai ilmu. Awalan meta- (dari bahasa Yunani) mempunyai arti “melebihi”, “melampaui”. Istilah ini diciptakan untuk menunjukkan bahwa yang dibahas di sini bukanlah moralitas secara langsung, melainkan ucapan-ucapan kita di bidang moralitas.
  • Dalam studi tentang moralitas dapat dibedakan pendekatan non-filosofis dan pendekatan filosofis. Pendekatan non-filosofis adalah etika deskriptif, sedangkan pendekatan filosofis bisa juga sebagai etika normatif dan bisa juga sebagai metaetika atau etika analitis.
  • Filsafat tidak mempunyai obyek dengan batas-batas jelas; filsafat tidak mempunyai obyek yang mudah dapat dipatoki.
  • Filsafat dipandang secara berbeda-beda oleh para filsuf, khususnya mengenai: Apakah filsafat merupakan suatu ilmu?
  • Untuk menjawab pertanyaan: “Apakah filsafat merupakan suatu ilmu?” perlu dijawab dulu pertanyaan lain: “Apakah itu ilmu pengetahuan?”
  • Ilmu pengetahuan sekurang-kurangnya memiliki tiga ciri: (1) rasional, (2) metodis, (3) sistematis.
  • Filsafat bersifat meta-empiris, artinya: melebihi fakta.
  • Pada akhirnya filsafat dapat disimpulkan sebagai ilmu pengetahuan karena mempunya ciri-ciri ilmiah, tetapi filsafat bukan merupakan  ilmu pengetahuan empiris.
  • Sejarah filsafat meliputi empat periode, yaitu: (1) zaman Yunani dan Romawi Kuno, (2) abad pertengahan, (3) zaman modern, (4) filsuf abad ke-20.
  • Cabang-cabang filsafat antara lain: (1) logika, (2) metafisika, (3) epistemologi, (4) filsafat ketuhanan, (5) filsafat manusia, (6) filsafat alam, (7) etika.

0 komentar :

Poskan Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.