19 Juni 2011

Langkah Kecil Membentuk Masyarakat yang Jujur

Kata jujur merupakan sebuah kata yang telah dikenal oleh hampir semua orang. Bagi yang telah mengenal kata jujur mungkin sudah tahu apa itu arti atau makna dari kata jujur tersebut. Namun demikian, ternyata masih banyak orang-orang yang mengetahui dan paham dengan arti atau makna kejujuran, tapi tidak berbuat jujur. Kejujuran adalah suatu sikap yang berpikir jujur, berkata jujur dan bersikap dengan jujur. Jujur sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti lurus hati, tidak berbohong, tidak curang, tulus dan ikhlas. Sikap jujur merupakan sikap yang dapat dikatakan langka di Indonesia. Sebagai bukti, dibentuknya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)—institusi resmi yang bertugas menjaga tingkat kejujuran dalam hidup bernegara di Indonesia dalam hal korupsi—memperlihatkan bahwa kejujuran belum hidup di sebagian besar masyarakat Indonesia. Hal ini terlihat dari semakin banyaknya terungkap kasus-kasus ketidakjujuran dalam hal korupsi baik dalam skala besar maupun kecil. 
Kata jujur adalah kata yang digunakan untuk menyatakan sikap seseorang. Bila seseorang berhadapan dengan suatu atau fenomena maka orang itu akan memperoleh  gambaran tentang  sesuatu  atau fenomena tersebut, dan jika orang  itu  menceritakan informasi tentang  gambaran  tersebut kepada orang lain tanpa ada perubahan (sesuai dengan realitasnya) maka sikap yang seperti itulah yang disebut dengan jujur.
Sesuatu atau fenomena yang dihadapi tentu saja merupakan apa yang ada pada diri sendiri atau di luar diri sendri. Misalnya keadaan atau kondisi tubuh, pekerjaan yang telah, sedang, atau yang akan dilakukan. Sesuatu yang diamati juga dapat mengenai benda, sifat dari benda tersebut, atau bentuk dan modelnya. Fenomena yang teramati bisa berupa suatu peristiwa, tata hubungan sesuatu dengan lainnya. Secara sederhana dapat dikatakan apa saja yang ada dan apa saja yang terjadi.
Perlu juga diingat bahwa ada pula orang-orang yang memberi-kan berita atau informasi sebelum terjadinya suatu peristiwa atau fenomena. Misalnya seseorang mengatakan dia akan hadir dalam suatu pertemuan  di sebuah tempat bulan depan. Jika memang dia hadir pada waktu dan tempat yang telah di sampaikannya itu maka seseorang itu bersikap jujur. Dengan kata lain, jujur juga berkaitan dengan janji. Dalam hal ini   jujur berarti mencocokan atau menyesuaikan perkataan (informasi) yang disampaikan dengan realitanya (fenomena). Selain itu, Kejujuran juga berhubungan dengan  pengakuan. Jadi, dari uraian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa apa yang disebut dengan jujur adalah sebuah sikap yang selalu berupaya menyesuaikan atau mencocokan antara informasi dengan fenomena.
Hingga saat ini peran kejujuran masih sangat diperlukan. Pembangunan bangsa dapat berjalan dengan baik jika dilandasi dengan kejujuran. Sekarang ini sebenarnya begitu banyak orang yang mempertanyakan kejujuran dari para pemimpin bangsa, baik di tingkat eksekutif, legislatif, maupun yudikatif. Hal ini terjadi akibat begitu maraknya korupsi yang terjadi di berbagai lembaga negara, dan bahkan tidak menutup kemungkinan terjadi pada pribadi kita masing-masing.

Ketidakjujuran yang terjadi dengan adanya korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) itu pun harus dibayar mahal oleh masyarakat. Ada begitu banyak anggota masyarakat yang terjerat lilitan kemiskinan dalam hidup mereka. Gizi yang tidak baik telah menyebabkan anak-anak bangsa ini semakin tidak sehat. Jika hal seperti ini terus terjadi tentu akan berkibat sangat buruk bagi kelangsungan generasi masa depan bangsa ini.

Jika kejujuran semakin lemah dan ketidakjujuran atau kebohongan yang terus berkembang maka bangsa akan memiliki suatu generasi penerus bangsa yang lemah dalam berbagai segi kehidupan. Mengapa? Karena terjadi kebohongan demi kebohongan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pada akhirnya bangsa ini akan menciptakan kecurigaan demi kecurigaan terhadap bangsa ini sendiri.

Lantas, bagaimana caranya untuk meningkatkan sikap jujur dalam setiap pribadi masyarakat? Tentunya ini bukan suatu hal yang mudah. Namun, hal-hal kecil dapat dilakukan demi menciptakan efek yang besar. Sebagai contoh, mungkin kita masih ingat dengan salah satu program KPK yang bernama Kantin Kejujuran. Kantin kejujuran merupakan upaya untuk mendidik sikap siswa agar berperilaku jujur. Kantin kejujuran adalah kantin yang menjual makanan kecil dan minuman, tapi tidak memiliki penjual dan tidak dijaga. Makanan atau minuman dipajang dalam etalase dan di atas etalase tersedia kotak uang yang berfungsi sebagai penampung pembayaran dari siswa yang membeli makanan atau minuman. Bila ada kembalian, siswa mengambil dan menghitung sendiri uang kembalian dari dalam kotak tersebut. Di kantin ini, kesadaran siswa sangat dituntut untuk berbelanja dengan membayar dan mengambil uang kembalian jika memang berlebih, tanpa harus diawasi oleh guru atau pegawai kantin. Kantin Kejujuran merupakan salah satu bentuk kegiatan dalam pendidikan antikorupsi. Ini merupakan langkah sederhana untuk menumbuhkan rasa jujur di setiap anak-anak bangsa agar tidak terjerat “virus” korupsi. Sebagaimana yang telah kita ketahui, korupsi yang telah mewabah dan tumbuh telah mengakibatkan kesengsaraan rakyat yang berkepanjangan, bahkan rnenghambat kemajuan bangsa dan negara.

Tanpa kejujuran, praktik korupsi, kolusi, nepotisme, dan segala bentuk manipulasi lainnya akan tetap tumbuh di negeri ini. Untuk itu, Kantin Kejujuran yang merupakan pendidikan antikorupsi perlu diterapkan sebagai upaya prefentif bagi generasi muda. Namun, pelaksanaan Kantin Kejujuran ini pun akan sukses dengan dukungan bersama dari warga sekolah. Anak-anak inilah yang kemudian akan menjadi generasi penerus bangsa yang diharapkan terbiasa dengan kejujuran. Dengan demikian, masyarakat yang jujur pun akan tercapai. Menurut Tim Fasilitator Soft Skills Ditjen Dikti Dr. Ir. G. Suprayitno, M.M., masyarakat jujur adalah yang anggotanya berani menyampaikan sesuatu sesuai dengan kenyataan. Kejujuran memungkinkan seseorang untuk melakukan evaluasi diri dengan baik karena berani mengakui kekuarangannya dan siap untuk memperbaikinya.

Referensi
http://news.okezone.com/read/2009/12/10/340/283563/budayakan-antikorupsi-dengan-kantin-kejujuran
http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/12/23/133157/Pendidikan-yang-Benar-Bentuk-Masyarakat-Cerdas
http://www.diknas-padang.org/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=23&artid=240
http://www.mmugm.ac.id/index.php/sustainabiltyindex/929-kantin-kejujuran-untuk-pembangunan-moral-profesional-manajemen-dan-entrepreneurship-bangsa-indonesia-yang-berkelanjutan

0 komentar :

Posting Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.