09 Juni 2011

Waarom was ik niet geboren als een Javaanse?

Sebelum membaca tulisan ini, gue ada beberapa maklumat yang semoga dapat dimaklumi. Pertama, tulisan gue kali ini bener-bener curhat. Jadi, mohon maaf kalau mungkin agak-agak enggak "berbau" akademis atau mungkin terkesan subyektif. Kedua, maaf banget, tanpa bermaksud menyinggung suku manapun, ini hanya curhatan isi hati gue, kalau emang kurang berkenan membaca hal-hal yang berbau atau sedikit menyinggung kesukuan, enggak perlu dilanjutkan karena memang lebih baik begitu. Ketiga, tulisan ini, khususnya dari judulnya terinspirasi oleh tulisannya Ki Hajar Dewantara yang berjudul "Als ik eens Nederlander was" (Seandainya Aku Seorang Belanda) yang dimuat dalam surat kabar De Expres tahun 1913.

Oke, masuk ke topik. Waarom was ik niet geboren als een Javaanse? Atau dalam bahasa Indonesia adalah, mengapa saya tidak terlahir sebagai orang Jawa? Lantas, memang ada yang salah terlahir sebagai bukan orang Jawa? Seperti orang Sumatera, Kalimantan, Bali, Madura, Maluku, Manado, Makasar, atau bahkan Papua? Ada yang salah? No, absolutely no! Enggak ada yang salah, setidaknya sampai gue bertemu seseorang yang sangat gue sayang... Ya, dia menyadarkan gue satu hal bahwa dalam suatu hubungan kerap kali timbul masalah-masalah, dan masalah ini bukanlah masalah seberapa atau sebesar apa rasa sayang kita kepada pasangan kita, tapi identitas kesukuan apa yang melekat pada diri kita?

Awalnya, semua berjalan baik (dan alhamdulillah sampai sekarang pun tetap baik), tapi sering kali gue mengalami apa yang disebut sebagai culture shock atau geger budaya. Ini merupakan suatu istilah yang digunakan untuk menggambarkan kegelisahan dan perasaan (terkejut, kekeliruan, dan sebagainya) yang dirasakan apabila seseorang tinggal atau bertemu dengan kebudayaan yang berlainan sama sekali dengan budayanya, seperti ketika berada di negara asing misalnya, atau juga dalam menjalin suatu hubungan. Perasaan ini timbul akibat kesukaran atau let's say "ke-tidak-terbiasa-an" dalam asimilasi kebudayaan baru yang menyebabkan seseorang sulit mengenali apa yang wajar dan tidak wajar. Sering kali perasaan ini digabung dengan kebencian moral atau estatik yang kuat mengenai beberapa aspek dari budaya yang berlainan atau budaya baru tersebut.

That's what I'm feeling. Jadi, gue adalah seorang yang berdarah Sumatera. Papa (alm.) seorang Minang dan Mama seorang Tapanuli (Sumatera Utara) atau bisa dikatakan Batak, tapi bukan Batak Karo. Anyway, ada yang salahkah menjadi seorang Sumatera? Jujur, gue sendiri enggak pernah merasa seorang Sumatera, gue lebih senang disebut sebagai seorang Indonesia. Ya... sekalipun gue enggak yang ngerasa "oke" banget menjadi orang Indonesia, tapi setidaknya gue cukup bangga menyebut diri gue sebagai anak Indonesia, bukan anak Padang atau anak Medan, atau bahkan "Putra Sumatera". Not at all! Tapi masalahnya adalah... it's not that simple. Terlihat sederhana, tapi ternyata enggak.

Ternyata ada banyak orang yang merasa (dan masih menganggap) bahwa menjalin hubungan dengan orang yang sesuku jauh lebih baik. Bahkan beberapa temen gue yang (wanita) gue tanya mengenai menjalin hubungan dengan memperhatikan identitas kesukuan, mereka mengatakan "iya" bahwa mereka lebih memilih seseorang dari suku yang sama (dalam hal ini adalah suku Jawa) dan dianjurkan oleh keluarganya untuk mencari yang dari suku Jawa. Wait a minute, hello... gue tinggal di Pulau Jawa, gue lahir di Pulau Jawa, orangtua gue pun mencari nafkah di Pulau Jawa, gue dan keluarga berinteraksi dengan orang-orang Jawa, dan masih salahkah gue yang tidak berdarah Jawa? Salahkah gue yang tidak berdarah Jawa ini mencintai seorang gadis yang berdarah Jawa? Dan salahkah ia jika ia pun mencintai seorang pria yang bukan berdarah Jawa?

Semua hal ini sangat, sangat, dan sangat membingungkan buat gue. Ini hanya enggak masuk akal. Oke, gue tahu bahwa ini enggak terjadi di suku Jawa aja. Bahkan orang-orang dari suku lain pun masih banyak yang lebih setuju untuk mempertahankan identitas kesukuannya (tidak bercampur) dengan suku lain. But we are Indonesian aren't we? Berbangsa satu, bangsa Indonesia. Itu sumpahnya kan? Kenapa harus ada "anjuran-anjuran" seperti itu? Kenapa masih ada paradigma yang memandang suatu suku lebih baik dari suku lainnya, atau suatu suku jauh lebih beradab dari suku lainnya? Gue merasa sangat aneh, gue merasa sangat (sebut saja) "tidak beruntung" dilahirkan sebagai orang yang bukan orang Jawa. Karena ternyata, jika gue seorang Jawa maka segalanya akan lebih mudah... Jauh lebih mudah... Gue tidak akan merasakan "pengkotak-kotakan" antara Jawa dan non-Jawa, gue tidak akan merasakan bahwa sikap gue yang (jelas) ke-Sumatera-an ini kurang baik di mata sebagian orang dari suku tertentu. Ini sangat menyedihkan. Ya, sangat menyedihkan dan gue sedih.

Bhineka Tunggal Ika. Sekedar semboyan kan? Kita semua memang jelas berbeda, tapi kita lebih suka jika kita semua sama. Kita semua jauh lebih suka jika kita di dekat orang-orang yang memiliki identitas yang sama dengan kita. Lantas, mengapa Tuhan menciptakan kita berbeda-beda kalau ternyata kita semua lebih suka yang sama? Tentu jawabannya adalah agar kita saling mengenal. Ya, Tuhan ingin kita saling mengenal.Gue percaya, Tuhan membuat kita terdiri atas berbagai suku di muka bumi ini agar kita saling mengenal dan memahami. Dan tidak ada yang lebih baik dari yang lain. Semua sama... ya, semua sama di hadapan-Nya. Namun, ketika gue menghadapi ini, tetap gue mempertanyakan: lantas, kenapa gue enggak lahir jadi orang Jawa? Kenapa? Atau enggak, kenapa Indonesia ini enggak terdiri dari satu suku aja sekalian, biar enggak ada yang merasa "lebih" dibandingkan yang lain.

Jujur, gue enggak pernah memikirkan hal-hal kayak gini sebelumnya, tapi semakin gue dewasa, semakin gue mengenal orang... dan ketika gue menjatuhkan hati gue pada seseorang... hal ini kemudian muncul... masalah ini muncul. Ketika gue bukan seorang Jawa dan dia seorang Jawa. Ketika gue bukan seorang Jawa dan dia diharapkan bersama dengan orang Jawa. Ketika gue bukan seorang Jawa dan gue merasa sangat tidak "bermoral" dalam beberapa hal. Ketika gue bukan seorang Jawa dan gue merasa tidak sopan dan tidak santun karena tidak mengerti suatu budaya. Ketika gue bukan seorang Jawa dan selamanya gue enggak akan jadi orang Jawa. Gue tetaplah Fauzan Al-Rasyid, putra dari pasangan Dhanny R. Cyssco dan Latifah Hanum yang keduanya berasal dari Pulau Sumatera. Haruskah gue sesali? Tentu tidak. Gue bangga dengan orangtua gue, gue bangga dengan latar belakang mereka baik identitas kesukuan maupun keluarga dari orangtua gue. Dan gue rasa enggak ada yang salah. Bahkan ketika gue mencintai seorang yang bukan dari suku gue, dan dia pun mencintai gue... adakah yang salah dengan cinta? Cintakah yang lantas harus disalahkan? Bukankah cinta itu merupakan anugerah yang diberikan oleh Tuhan? Dan bukankah Tuhan tak pernah membeda-bedakan cinta-Nya pada seluruh makhluk ciptaan-Nya?

Dunia sudah semakin tua, ya... kita semua tahu itu. Gue pun merasa, ini bukan lagi masanya untuk membeda-bedakan manusia. Dia Jawa, Sumatera, Bugis, Bali, Madura, Kalimantan, Papua, dan sebagainya, enggak ada yang salah dengan itu. Entah si Bali mencintai si Papua atau si Bugis mencintai si Batak atau seperti gue, Fauzan, mencintai seorang Fike Kireina. Bukankah cinta memang menyatukan segalanya? Dan bukankah perbedaan itu ada bukan untuk menjadi jurang pemisah melainkan untuk menunjukkan bahwa betapa beragamnya kita sebagai umat manusia? Gue (jelas) memang harus banyak belajar mengenai budaya, terutama budaya yang dibawa oleh pacar (terutama keluarganya) gue. Gue akan berusaha menjadi seorang yang seperti diharapkan oleh keluarganya. Gue enggak akan bisa menjadi "Jawa tulen" karena dalam darah gue enggak mengalir gen itu, tapi setidaknya gue bisa belajar memahami. Ketika kita paham, dari mana pun asal kita atau latar belakang kita, gue yakin kita bisa "masuk" menjadi bagian suatu komunitas tertentu yang berisi norma dan adat tertentu. Dan demi dia. Iya, demi dia yang sangat gue sayang. Gue sayang banget sama dia... dan cuma sama dialah gue mau menjalani hidup gue ini kelak.

Namun, itu semua butuh proses. Ya, semua butuh proses karena tidak ada yang benar-benar instan. Gue hanya berharap selama gue menjalani proses ini, semua akan baik-baik aja; semua akan berjalan dengan sebagaimana mestinya; semua akan tetap berjalan baik walau gue bukanlah seorang Jawa. Ah ya, agak menyedihkan menjadi bukan orang Jawa di Pulau Jawa ini. Mungkin kalau gue tinggal di Pulau Sumatera akan lain soal. Tapi di sinilah rumah gue... di sini ada impian-impian gue... dan di sinilah gue bertemu dia... dia yang sangat gue sayang... Jadi, haruskah gue masih menyesal dengan mempertanyakan: waarom was ik niet geboren als een Javaanse?

Enggak, gue tetap bangga dengan identitas gue. Toh, gue sejujurnya lebih suka dipanggil sebagai anak Indonesia daripada anak orang Sumatera. Karena kita memang orang Indonesia kan? Kenapa kita harus menunjukkan dari mana asal kita daripada menunjukkan kebanggaan dengan entitas "Indonesia" itu sendiri? Ah, Indonesia... masyarakatmu ternyata memang lebih memuja identitas dirinya daripada identitas dirimu. Ya, masyarakat kita memang unik, sangat unik... Ya... tapi semua ini tentu memberi pelajaran yang sangat beharga buat gue. Pastinya pikiran gue jadi lebih terbuka. Ya... walaupun gue enggak pernah berpikiran "Sumatera-Sentris", hal-hal tentang kesukuan ini jelas sangat membuka cakrawala berpikir gue. Dan pada akhirnya gue pun berusaha untuk belajar dan belajar. Belajar memahami, belajar menerima (menerapkan), dan belajar memaklumi. Tiga hal pembelajaran itu pada akhirnya pasti harus kita ambil jika kita memang sungguh-sungguh dengan apa yang ingin kita dapat. Dalam hal ini, Fike jauh lebih penting buat gue. Dan apa pun yang gue lakukan, itu buat dia. Dan gue pun mau belajar demi dia, demi keluarganya. Ya, cinta memang mengalahkan segalanya kan?

Terakhir, jika dalam tulisan Ki Hajar Dewantara beliau menulis: "Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya," maka jika aku seorang Jawa (als ik een Javaanse), aku akan mengatakan pada seluruh orang Indonesia bahwa tidak ada suku yang lebih baik daripada suku lainnya. Kita memang berbeda satu sama lain, dan itu benar. Namun, tidakkah perbedaan itu ada karena tidak ada seorang pun di antara kita yang sempurna? Tidakkah perbedaan itu ada karena kita diharapkan untuk saling melengkapi? Karena kita semua tidak sempurna. Kita tidak butuh banyak persamaan untuk menutupi kekurangan kita. Perbedaanlah yang kita butuhkan untuk menutupi kekurangan kita. Kita hidup dalam perbedaan maka jagalah perbedaan itu sebagaimana kita menjaga setiap persamaan yang kita miliki antarsesama kita.

8 komentar :

hemmm.. mungkin masalah suku itu adalah masalah krusial jaman dulu. mungkin dulu tuh orang yang sumatra ya seumur hidupnya di sumatra aja, orang bugis hidup di sulawesi aja (bener kan ya?) dan orang kalimantan hidup di kalimantan aja. begitu pun orang jawa. sebagian besar sih gitu. mereka dari lahir sampe gede hidup di tanahnya masing masing dgn budaya mereka. lalu tiba saat bertemu suku berbeda untuk menikah, ya kelihatan banget pastinya perbedaan budaya itu. mungkin juga saat ada masalah, pasangan yang kurang dewasa cenderung akan mencari perbedaan dan membesar besarkannya, misal : "ah kamu sih Jawa, terlalu banyak basa basi.." atau "kamu sih Batak, kaku..nggak luwes" (i'm so sorry) jadinya masalah perbedaan suku ini akan menjadi momok buat turunan turunannya maka kita akan sering mendengar : "jangan sama Jawa, blablabla.." atau "jangan sama Padang. tralala.."
padahal masalahnya sama sekali bukan itu (suku). perbedaan dalam diri dua orang manusia itu wajar adanya. mungkin masalahnya ada pada diri sendiri yang tidak mau menerima perbedaan. perbedaan itu bukan untuk dihindari kan? tapi untuk diterima dan dimanfaatkan. lagipula dua keping puzzle dikatakan cocok bukan karena bentuknya sama persis, tapi karena bentuk mereka berdu berbeda tetapi saling melengkapi.

*luar biasaaaaaa...*
hahahhaa

Sesuai dengan apa yang tulis di blog ini jan, udah lama banget loh gw mikir di otak gw!! apasih yang ngebedain antara orang jawa dan Sumatra ini? Sejujurnya gw rada empet kalo udah bawa-bawa suku yang beda-beda gitu. Secara gw orang Sumatra kentel (Aceh-Padang) bo!! dimana gw sering banget denger komentar yang keluar dari mulut tetua2 di Jawa 'Gausah lah kawin sama Orang Jawa'. dan gitu juga yang gw tau bahwa anggepan orang Sumatra itu juga sama ke orang Jawa.
Sumpah ya ini tuh kayak kurang bermanfaat buat diperdebatkan karena ini cuma masalah kepercayaan orang lama, selama gw ato elo ato Fike bisa beradaptasi sama keluarga kalian masing-masing semua nya bisa lancar2 aja kok.

karena emang menurut gw 'Gw kawin sama seseorang, udah otmatis gw akan kawin sama keluarga nya. jadi ga ada cerita gw buat peraturan dan kelakuan yang bertolak belakang dengan ajaran keluarga suami ge itu" ehehe

Persis Widh! Persis! Hadah... but all these things make me so damn confused... It's totally complicated. Kenapa sih harus ada pengkotak-kotakan kayak gitu? Dan betapa hal-hal kayak gini sangat menyebalkan. Oh ya, by the way Widh, kata-kata lo yang soal kepingan puzzle itu mirip banget sama kata-kata temen gue deh! Hahaha! Oke, skip. Anyway, intinya, di zaman yang udah seperti sekarang ini gue rasa harusnya udah enggak ada lagi hal-hal kayak gitu sih... I mean, kita enggak bisa mengaku sebagai yang terbaik dari yang terbaik, karena kita semua toh tau bahwa emang enggak ada yang sempurna. Negara ini enggak dibangung oleh sekumpulan suku kan? Dan si Gajah Mada itu enggak akan mau repot-repot bikin Sumpah Palapa kalau bukan untuk menyatukan negeri yang berasal dari beragam suku ini kan. Atau Bung Karno misalnya, enggak merelakan Indonesia terbagi atas Indonesia Barat dan Indonesia Timur kan? Karena sejarah negeri ini panjang, dan negeri ini pun enggak dibangun oleh satu suku aja.

Akhirnya, kalo udah kayak gini, persepsi yang kayak gini... persepsi yang masih banyak "dianut" oleh banyak suku di Indonesia, yang kena pasti keturunan-keturunannya kan? Sementara itu anak-anaknya dari suku-suku ini udah bergaul secara global, dalam arti enggak lagi hanya dalam satu daerah di mana suku itu tinggal... Jadi yang namanya pertemuan antarsuku itu enggak mungkin terhindari, pasti kejadian (entah itu berujung pada suatu hubungan atau enggak). Ah ya... entah kenapa gue agak menyesal karena enggak ngambil kuliah Cultural Studies semester lalu, hahaha. Maybe it helps, at least in this case.

Tulisan lo bagus zan, bisa menyadarkan banyak orang yang selama ini udah dibutakan ama pandangan2 yang kayak gitu.

Menurut gue, wajar kalo lo bikin tulisan itu. Gue juga sering denger kok emang banyak orang yang memandang suku jawa itu ‘lebih’ dari suku2 lainnya, hal ini jelas karena gue (dan juga lo) tinggal di pulau jawa.. Ya lo ini tinggal di tanah orang jawa ya pasti si jawa bakal ngerasa ‘lebih’ dari suku2 lain, padahal entah lebihnya dalam hal apa. Tapi di mata gue, semua suku mah sama aja, masing2 pasti punya lebih dan kurangnya. Yang ngebedain seseorang dengan seseorang lainnya adalah kepribadiannya, gimana dia bisa bersikap dan berperilaku, bukan tentang suku atau darah.

Dan kalo masalah ‘Menjalin hubungan dengan memilih seseorang dari suku yang sama dan dianjurkan oleh keluarganya untuk mencari suku yang sama’, yaa itu tergantung lo nanyanya ke suku mana. Kalo lo nanya ke wanita jawa jelas dia bakal prioritasin milih jodoh laki2 jawa juga, dan kalo lo nanya ke wanita sumatera jelas juga dia bakal lebih milih jodoh laki2 sumatera, dan begitu juga ama suku2 lainnya. Lain halnya kalo lo tinggal di luar jawa, dan lain juga halnya kalo fike itu orang sumatera, gue jamin lo ga bakalan ngerasa kayak gini.

Dalam suatu hubungan, kalo emang lo ama fike saling sayang dan cinta, gue rasa lo ga perlu khawatir dan takut ama perbedaan lo berdua, apalagi cuma beda suku/darah doang, ya emang sih ini larinya ke budaya dan keluarga. Tapi perbedaan itu emang pasti ada. Kalo ga ada perbedaan ya semuanya bakalan berasa flat, ngebosenin, dan ga ada warnanya. Ibarat lukisan, makin berwarna, makin abstrak, ya makin mahal harga jualnya. Justru perbedaan itu kalo disatuin bakalan jadi indah, tapi sayangnya banyak orang yang ga mau nyoba buat nyatuin perbedaan, mereka cuma bisa membanding2kan antara yang satu dengan yang lainnya, bahkan cenderung menghindari perbedaan.

Dan ya bener, kalo lo pengen semua ini berjalan sesuai keinginan dan harapan lo, semua ini ga instan dan butuh proses yang ga sebentar. Lo harus sabar, terus berdoa, dan berusaha. Mulai deh lo adaptasi dan belajar budaya jawa kalo lo mau nyatu ama lingkungan jawa. Lo ga harus jadi seorang jawa, lo cuma perlu ngerti dan paham serta menghargai budaya itu, mulai aja dari hal2 yang kecil dulu. Tunjukin kalo pandangan kebanyakan orang2 jawa itu salah. Buktiin ama dunia, buktiin ama fike dan keluarganya, dan buktiin ke diri lo sendiri kalo lo -fauzan-si-darah-sumatera- juga pantes diharapkan oleh keluarga jawa untuk menjadi pasangan hidup bagi anaknya.

Intinya, lo ga salah apa2 zan, sama sekali ga salah, dan lo ga pantes buat sedih. Ini garis kehidupan lo yang udah diatur ama Allah. Lebih baik bersyukur, dan jalani hidup lo sebaik2nya mumpung lo masih dikasih kesempatan buat bernapas, dan masih bisa ngebahagiain orang2 yang lo sayang, termasuk fike. Tanamkan di hati lo, bahwa semua akan indah pada waktunya. Kalo jodoh ga akan lari kemana. :)

*Fyi, adik gue ama adiknya fike (ian) itu temenan, dulu temen main pas SD sih (skrg mereka udah pada SMA). Oh iya fike itu tetanggaan ama temen gue juga. Gue ama fike sih sama sekali ga saling kenal. Gue cuma sebatas tau dia doang, bahkan dia ga tau gue hehe. Semangat ya zan!

*Oh iya, gue bukan orang jawa tulen, bukan juga sumatera tulen, atau suku tulen lainnya. Darah gue campuran. Bokap campuran padang-jakarta-sunda. Nyokap campuran sunda-betawi. Bahkan gue kalo ditanya gue orang apa, gue selalu bingung buat ngejawabnya (alhasil gue bilangnya gue orang jakarta karena gue dari lahir tinggalnya di jakarta). Beruntunglah lo yang punya sebuah identitas yaitu berdarah sumatera.

Maaf ya kalo opininya kepanjangan, dan maaf kalo ada kata2 yang ga berkenan di hati :)

eniwei gw udah baca curhatan isi hati lo hihihi

my dearest cousin Fauzan Al-Rasyid, sepertinya dirimu terlihat agak shock karena 'perbedaan' itu :p

gw agak bingung mau berkomentar apa, karna gw rasa lo sebenernya udah tau apa yang bakal gw bilang ke lo soal ini.

gw setuju soal perbedaan itu diciptakan supaya kita bisa saling mengenal dan saling melengkapi. well tapi dear, di luar sana masih banyak orang yang tidak paham soal itu. dan bener kata lo, yang bisa lo lakukan adalah terus belajar. tidak usahlah lo menyalahkan mereka yang tidak paham atau masih menganut sukuisme yang cukup kental. itu cuma akan membuang waktu dan tenang lo. tapi lo memang harus menyadari itu, kalau diluar sana banyak orang yang merasa kalau golongannya paling benar.

itu karena mereka belum melihat contoh yang bisa membuktikan kalau anggapan mereka salah, dan itulah tugas lo (dan gw juga tentunya). buktikan kepada mereka kalau anggapan itu salah. jadilah yang terbaik.

lo tau? seiring lo terus tumbuh dan melihat lebih banyak lagi, akan lebih banyak peristiwa sejenis yang bisa saja mungkin akan terasa lebih berat. but dont worry, semua itu ga akan membuat lo 'mengecil' (im sure with it) sebaliknya itu bakal ngebuat lo terus tumbuh menjadi lebih baik.

nikmatilah perasaan 'merasa dibedakan' itu. itu pertanda supaya lo terus berupaya meningkatkan kualitas diri lo. ingat ya zan, cara terbaik untuk menunjukkan kalau lo adalah 'best of the best' adalah dengan memberikan bukti. So be the best for those who you wanna see grown up better and better.

hihihi maap ya kalau eke seperti berceramah buat lo, ini cuma apa yang gw pikirin and you are fully deserve to choose whether you want to see and read my comment or just ignore them hihihi :p

anyway so many things that actually i wanna talk to you, but seems like both you and i have a tight schedule right now hohoho
we even never messaging each other for quite long time ;p

i miss you a lot actually (hihihi padahal lo sodara gw ya. tapi rasanya sekarang seperti ada jarak, mungkin karna gw sama lo sibuk masing-masing kali ya). never mind about it

eniwei,
my best regards for you as always

semoga lo bisa menjadi yang terbaik buat orang-orang yang lo sayangi

keep on move chicos :)

hohohoh.. gua malah baru tau loh ada situasi seperti ini. selama ini gua ngga merasakan 'pengucilan' kaya gitu. apa mungkin karna gua orang sunda asli, bener-bener sunda! ahahaha

gua gabisa komentar banyak nih zan, soalnya gua blm nemu fakta langsung hihi. bisa jadi karena mungkin gua kurang banyak berteman atau gimana hahaha.

yang paling gua rasakan di pergaulan hidup tentunya jurang si Miskin dan si Kaya. bah!! BENER-BENER gua liat dengan jelas!!!

nice post dah. langsung gua shared di twitter hhih

identitas dan culture shock. masalah ini emang sering muncul di masayarakat multikultural kayak indonesia. dan berkat kita hidup di zaman dimana manusia mobilitasnya sangat tinggi. for some obvious reasons, orang-orang dari sabang sampai merauke ngumpul di pulau jawa.

kalo dari pengalaman gw sih, makin ke sini perbedaan antar suku itu makin hilang seiring dengan lunturnya identitas kesukuan itu sendiri. ini emang gejala(baca:efek samping) globalisasi. gw gak pantes nyebut diri gw 'orang jawa' karena gw udah kehilangan sebagian besar identitas kesukuan gw. gw pantesnya disebut orang indonesia karena gw 'lebih indonesia ketimbang jawa'. tapi apa pula itu 'indonesia'? kalo lo tanya gw, gw akan jawab(dengan agak sedih)bahwa indonesia itu gak lebih dari kesatuan politik. menurut gw, budaya 'indonesia' terdiri dari:
1. budaya populer/budaya massa;
2. budaya yang berkembang secara terpisah namun memiliki kemiripan di seantero negeri ini (contoh:batik, keris, dsb.); dan
3. budaya modern(baca:budaya barat yang ada di indonesia, mulai dari sastra, seni rupa, sampai teknologi);
4. yang dikembangkan dengan motif politik untuk menyatukan indonesia (contoh:bahasa indonesia, lagu kebangsaan, seragam sekolah, dsb.)
produk-produk budaya kayak tari kecak, reog ponorogo, dan gamelan itu budaya etnis yang diakui sebagai budaya Indonesia. sifatnya lebih politis ketimbang kultural.

culture shock antar suku memang udah sangat berkurang dibandingkan beberapa puluh tahun lalu. identitas kesukuan memang semakin luntur. tapi gw gak bisa memungkiri bahwa ada kenyamanan yang inheren dalam berhubungan dengan orang sesuku. bayangin aja lo lagi di perancis, terus ketemu orang indonesia. atau lagi di jepang, terus ketemu komunitas muslim. kira-kira kayak gitu rasanya, meskipun gak segitunya.

soal anjuran 'sebaiknya se-etnis' itu, gw memaklumi adanya anjuran kayak gitu. soalnya namanya orang yang lahir dan tumbuh besar di tempat yang beda pasti pola pikir, watak, cara problem solving, dll-nya juga beda. ini berisiko adanya konflik di masa depan. tapi kalo lo percaya love conquers all, ambil aja risiko itu.

lastly, gw agak kecewa karena orang sekaliber lo ternyata membahas masalah ini dengan cara dan sudut pandang yang agak klise. bukannya salah, tapi cobalah mengambil jalur yang lebih dekonstruktif. bhineka tunggal ika udah jadi mainstream sejak jaman soeharto (and in fact, the phrase itself is much older), adanya masalah kayak gini harusnya didekati dengan pendekatan yang lebih baru dan dipahami dengan lebih dalam, bukannya mengulang kembali slogan-slogan lama.

well.. complicated huh?
Actually, (kalo menurut pandangan gue): SIMPLE. Inti permasalahan sebenernya sama aja kaya permasalahan2 'hubungan pacaran muda-mudi' dengan 'pandangan orang tua terhadap hubungan tersebut' - di seantero jagad raya ini, insigth nya cuma 1 dan dimana-mana sama:
"Orang tua cuma mau yang terbaik buat anaknya." ini kalimat tolong di BOLD, UNDERLINE, kalo perlu dimiringin sekalian. :p

terlepas dari beliau-beliau mengedepankan masalah kesamaan suku lah, agama lah, pola pikir lah, atau bahkan sampe ke 'pacar kamu kesini NAEK APA?!'
Holly shit.
tapi ya dasar dari semua itu adalah 1 kalimat diatas yang gue bilang tadi mesti di BOLD dan di UNDERLINE.
mengesalkan memang, tapiiiiiii Unfortunatelly, mereka (orangtua) terlihat BEGITU BERHAK menuntut kalian (yang menjalani hubungan)untuk memenuhi apa yang mereka bilang /menurut mereka:BAIK.
kalo masalah kejawa2an nih gue blak2an aja nih jan; ELO KURANG 'JAWA' APA LAGI SIH??
buat jadi seorang padang: LO KURANG PELIT!
buat jadi seorang batak: LO KURANG GALAK!
hihi.
Dari segi kesopanan, ramah-tamah, intelektual, tata-bahasa... GOD! lo itu sangat2 merepresentative-kan orang jawa loh!! sialnya aja bukan. ibarat sepatu, desain lo desain NIKE bangettttttt tapi pas di cek ternyata lo produk ADIDAS. :(
intinya:kalo kita bukan tetangga dan gue ga kenal sama ibu lo MUNGKIN GUE GA PERNAH TAU LO berdarah sumatera tulen. hahah. TAPI,, TERUS KENAPA TENTANG ITU?? ITU KAN CUMA BRAND YANG NEMPEL! kalo itu 'NIKE' dan 'ADIDAS' sama-sama enak dipake di kaki ya sebenernya GA ADA MASALAH DONG??! Toh sama-sama brand kelas A+!! tapi ternyata dipermasalahkan loh! berarti kan ada insight(permasalahan kompleks) 'yang lain' yang jadi satu alesan krusial (cuma yaaa... siaaalnya)DIKEMAS pake satu kemasan simple yang konyol yaituuuu; BRAND nya beda!

balik ke soal suku:
Karena gue juga punya tipe2 stereotype dikepala gue sendiri(kita fer2an aja) kadang apa yang lo representativekan ke lawan bicara lo membentuk paradigma kecil (dan itu otomatis lohh).
kaya gini misalnya:
"wah, dia lelet banget, kaya putri 'solo'!"
atau
"Pelit banget lo kaya orang'padang'!"
atau
contoh2 kejam laen yang ga kuat gue tulis disini satu2. hahah.
ITU SANGAT2 STEREOPTYPE dan (maaf) terkesan begituuuu (sekali lagi MAAF) childish! :D

tapi sebenernya..ga penting juga zan.. diatas itu cuma aksioma2 aja biar ketikan gue panjang.
Inti masalahnya sih sebenernya cuma satu yang gue tangkep, dan sesimple ini:
kalo pun ada penolakkan sikap -baik itu didasari dengan 'alasan klise'; perbedaan suku,hahah. hmm... (sorry cekikikan) actually (menurut gue) -maap2 ni yaaaa: IT's JUST A BULLSHIT.
artinya: "SEBENARNYA mungkin ada salah satu kriteria dari pihak orang tua sang perempuan yang ga terpenuhi sama lo jan."

kalo gak srek ya ga srek aja tanteeeee ga usah bawa2 suku ah, nanti panjang urusannya. -_-
dah, itu aja. maaf ketikan gue terlalu jujur. tidak bermaksud agresigf atau tidak sopan. Cuma opini lohhhhhhhhhhh (^_^)v

Posting Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.