Welcome to My World!

Welcome visitors! Please enjoy my site and I hope you can get many useful information. If you wish, you may contact me through Facebook, Twitter, or any other social media that I linked on the menu bar above. Thank you.

Die Poskarten

This is my another blog: Die Poskarten. This blog will show you all my postcards collection. If you want to swap a postcard, please don't hesitate to contact me from the menu bar above.

Bonjour à Tous !

"Bonjour à Tous !"is my Tumblr site. Please take a look on it and maybe you can find some funny contents that you will love. You can also follow me on Tumblr to get my updates on the site.

Please Do Not Copy

You are welcome to link to my site and use my resources in your classroom, but please respect my hardwork and do not copy my page or files and add them to your website. Thank you.

Russia Beyond the Headlines in Bahasa Indonesia

Russia Beyond the Headlines, your guide to Russia, a diverse and complex country cannot be understood in the context of stereotypes. Now available in Bahasa Indonesia!

10 Agustus 2011

Harry Potter: It All (Finally) Ends

Hmm... oke, gue agak bingung harus menulis apa sebenarnya, tapi yang jelas gue perlu menulis sesuatu tentang Harry Potter. Ok, biarkan gue kali ini agak random. Harry Potter. Ya, Harry Potter, tokoh fiksi yang telah hidup dalam masa-masa remaja gue sejak gue SD hampir sepuluh tahun silam, hingga di tahun 2011 ini, film terakhir Harry Potter dirilis dan itu akhirnya tidak akan ada lagi Harry Potter. Agak sedih ya? Buat gue... iya, karena Harry Potter (dan tentu saja penulisnya, J.K. Rowling) sangat menginspirasi gue di banyak hal, khususnya dalam tulisan-tulisan novel gue yang walaupun enggak pernah selesai gue tulis. Harry Potter bahkan menjadi topik karya tulis gue saat gue berada di bangku kelas XI SMA. Gue mengkliping semua artikel tentang Harry Potter sampai akhirnya gue lumayan bosan juga, tapi pas gue buka-buka kliping-kliping koran dulu itu, it was so sweet.

Entah apa yang membuat gue segitu nge-fans-nya dengan Harry Potter. Pertama kali gue membaca Harry Potter adalah saat gue kelas VI SD. Saat itu gue meminjam novelnya, bukan yang pertama, melainkan novel yang ketiga, yaitu Harry Potter and the Prisoner of Azkaban. Dan... gue langsung jatuh cinta dengan novel ini. FYI, saat itu sebenarnya gue bukan tipe anak SD yang suka "melahap" novel, gue lebih suka komik atau semacamnya, tapi entah kenapa gue mau membaca novel itu. Saat itu, Harry Potter belum ditayangkan di layar lebar. Hingga pada akhirnya tidak lama setelah itu, Harry Potter tayang di bioskop. Setelah buku ketiga tamat, gue pun langsung meminjam buku keempat (Harry Potter and the Goblet of Fire) dari teman gue yang sama tentunya, Aruga. Gue merasa kisah Harry Potter sangat seru, sangat membuat imajinasi gue berkembang liar. Dan... it was a very great experience. Namun, sejujurnya, pada saat itu gue belum menjadi (bisa dikatakan) a true fans. Karena sampai dengan dua film pertama Harry Potter enggak gue tonton di bioskop, melainkan di Bioskop Trans TV (yeah). Film pertama Harry Potter yang gue tonton di bioskop adalah film yang ketiga, Harry Potter and the Prisoner of Azkaban.

Harry Potter tampaknya benar-benar "menyihir" gue. Gue pun segera mengoleksi seluruh novelnya, gue rela nabung demi membeli novel yang baru keluar. Gue sangat ingat, gimana gue menabung untuk beli novelnya yang kelima sampai yang ketujuh. Gue sangat ingat, gimana gue sangat bahagia tiap bisa mendapatkan novel barunya. Dan gue pun selalu menunggu-nunggu filmnya. And, thanks God karena film terakhir Harry Potter yang part 2 ditayangkan di Indonesia. Ketika gue mendengar kabar bahwa kemungkinan besar film Harry Potter yang terakhir enggak akan tayang di Indonesia, itu rasanya sedih banget loh... Serius. Tapi alhamdulillah tayang, and it was very great! Ya, terima kasih pada siapa pun yang membuat film terakhir Harry Potter dan ditayangkan di Indonesia.

Anyway, duh bingung gue mau tulis apa lagi, hahaha, emang random banget kan? Ah ya, gue akan merindukan Harry Potter ini. Gue akan merindukan si Professor Dumbledore dan Professor Snape. Gue akan merindukan cerita-cerita konyol Professor Dumbledore. Ah ya, gue bahkan meneteskan air mata saat membaca bagian di mana Snape melempar kutukan Avada Kedavra ke Dumbledore, itu sedih banget. Dan enggak pernah loh gue baca sampai segitu terharunya kecuali baca Harry Potter. But it all ends now. Iya, finally, it all ends. Semuanya selesai, and umm... I'd like to say a big thanks to Jo (J.K. Rowling) who had made this such a wonderful story. Harry Potter has inspired many people around the world. Harry Potter has made a lot of kids in the world learnt how to read because they want to read by themselves. Wasn't it great?

Harry Potter telah menjadi suatu fenomena yang tidak akan terlupakan yang pernah terjadi di abad ini. Gue rasa, Harry Potter memang benar-benar telah menyihir penduduk dunia ini. Banyak orang yang tersihir, dan itu juga termasuk gue. Dan bagi siapa pun yang belum pernah membaca Harry Potter, please read it. It will be a great experience, it will be a great adventure! Imajinasi kita akan sangat "bermain" ketika membaca novel itu. So, thanks to Harry Potter!

Oh ya, satu hal lagi, tentang Harry Poter and the Deathly Hallows Part 2, SANGAT KEREN! Bagi yang belum menontonnya, segeralah menonton, karena gue rasa itu adalah film Harry Potter terkeren yang pernah dibuat. Thanks to the trio; Dan, Rupert, and Emma. Thanks to the director, Mr. Yates. The movie was awesome! Oke, gue rasa itu semua yang mau gue bilang tentang Harry Potter. Ini benar-benar posting-an yang sangat tidak penting, tapi gue rasa gue perlu menulisnya, karena rasa-rasanya masa remaja gue enggak akan lengkap tanpa Harry Potter. Enggak maksud lebay, but it's true. Sekalipun cerita ini sangat fiksi dan penuh dengan hal-hal yang enggak mungkin dilakukan di dunia nyata, tapi cerita ini sarat dengan nilai-nilai persahabatan, kasih sayang, perjuangan, dan nilai-nilai moral lainnya. Wonderful! Yang jelas, my big appreciation to Harry Potter; the boy who lived.

Kisah Passport

Berikut ini adalah suatu tulisan yang sangat inspiratif dari Rhenald Kasali. Ya, tentunya nama beliau tidaklah asing di telinga kita. Beliau adalah adalah seorang akademisi dan sekaligus seorang praktisi bisnis Indonesia. Ia juga merupakan guru besar bidang Ilmu Manajemen di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Tulisan ini beliau tulis belum lama, dua hari yang lalu tepatnya. Semoga tulisan ini bisa menginspirasi anak-anak Indonesia untuk lebih terbuka lagi matanya dalam melihat dunia.

PASSPORT
Oleh Rhenald Kasali

Jawapos, 8 Agustus 2011

Setiap saat mulai perkuliahan, saya selalu bertanya kepada mahasiswa berapa orang yang sudah memiliki passport. Tidak mengherankan, ternyata hanya sekitar 5% yang mengangkat tangan. Ketika ditanya berapa yang sudah pernah naik pesawat, jawabannya melonjak tajam. Hampir 90% mahasiswa saya sudah pernah melihat awan dari atas. Ini berarti mayoritas anak-anak kita hanyalah pelancong lokal.

Maka, berbeda dengan kebanyakan dosen yang memberi tugas kertas berupa PR dan paper, di kelas-kelas yang saya asuh saya memulainya dengan memberi tugas mengurus passport. Setiap mahasiswa harus memiliki "surat izin memasuki dunia global". Tanpa passport manusia akan kesepian, cupet, terkurung dalam kesempitan, menjadi pemimpin yang steril. Dua minggu kemudian, mahasiswa sudah bisa berbangga karena punya passport.

Setelah itu mereka bertanya lagi, untuk apa passport ini? Saya katakan, pergilah keluar negeri yang tak berbahasa Melayu. Tidak boleh ke Malaysia, Singapura, Timor Leste atau Brunei Darussalam. Pergilah sejauh yang mampu dan bisa dijangkau.

"Uang untuk beli tiketnya bagaimana, Pak?" Saya katakan, saya tidak tahu.

Dalam hidup ini, setahu saya hanya orang bodohlah yang selalu memulai pertanyaan hidup, apalagi memulai misi kehidupan dan tujuannya dari uang. Dan begitu seorang pemula bertanya uangnya dari mana, maka ia akan terbelenggu oleh constraint. Dan hampir pasti jawabannya hanyalah tidak ada uang, tidak bisa, dan tidak mungkin.

Pertanyaan seperti itu tak hanya ada di kepala mahasiswa, melainkan juga para dosen steril yang kurang jalan-jalan. Bagi mereka yang tak pernah melihat dunia, luar negeri terasa jauh, mahal, mewah, menembus batas kewajaran dan buang-buang uang. Maka tak heran banyak dosen yang takut sekolah ke luar negeri sehingga memilih kuliah di almamaternya sendiri. Padahal, dunia yang terbuka bisa membukakan sejuta kesempatan untuk maju. Anda bisa mendapatkan sesuatu yang yang terbayangkan, pengetahuan, teknologi, kedewasaan, dan wisdom.

Namun, beruntunglah, pertanyaan seperti itu tak pernah ada di kepala para pelancong, dan diantaranya adalah mahasiswa yang dikenal sebagai kelompok backpackers. Mereka adalah pemburu tiket dan penginapan super murah, menggendong ransel butut dan bersandal jepit, yang kalau kehabisan uang bekerja di warung sebagai pencuci piring. Perilaku melancong mereka sebenarnya tak ada bedanya dengan remaja-remaja Minang, Banjar, atau Bugis, yang merantau ke Pulau Jawa berbekal seadanya. Ini berarti tak banyak orang yang paham bahwa bepergian keluar negeri sudah tak semenyeramkan, sejauh, bahkan semewah di masa lalu.

Seorang mahasiswa asal daerah yang saya dorong pergi jauh, sekarang malah rajin bepergian. Ia bergabung ke dalam kelompok PKI (Pedagang Kaki Lima Internasional) yang tugasnya memetakan pameran-pameran besar yang dikoordinasi pemerintah. Di sana, mereka membuka lapak, mengambil resiko, menjajakan aneka barang kerajinan, dan pulangnya mereka jalan-jalan, ikut kursus, dan membawa dollar. Saat diwisuda, ia menghampiri saya dengan menunjukkan passport-nya yang tertera stempel imigrasi dari 35 negara. Selain kaya teori, matanya tajam mengendus peluang dan rasa percaya tinggi. Saat teman-temannya yang lulus cum-laude masih mencari kerja, ia sudah menjadi eksekutif di sebuah perusahaan besar di luar negeri.

The Next Convergence

Dalam bukun yang berjudul The Next Convergence, penerima hadiah Nobel ekonomi Michael Spence mengatakan, dunia tengah memasuki abad ketiga dari Revolusi Industri. Dan sejak tahun 1950, rata-rata pendapatan penduduk dunia telah meningkat dua puluh kali lipat. Maka kendati penduduk miskin
masih banyak, adalah hal yang biasa kalau kita menemukan perempuan miskin-lulusan SD dari sebuah dusun di Madura bolak-balik Surabaya-Hongkong.

Tetapi kita juga biasa menemukan mahasiswa yang hanya sibuk demo dan tak pernah keluar negeri sekalipun. Jangankan ke luar negeri, tahu harga tiket pesawat saja tidak, apalagi memiliki passport. Maka bagi saya, penting bagi para pendidik untuk membawa anak-anak didiknya melihat dunia. Berbekal lima ratus ribu rupiah, anak-anak SD dari Pontianak dapat diajak menumpang bis melewati perbatasan Entekong memasuki Kuching. Dalam jarak tempuh sembilan jam mereka sudah mendapatkan pelajaran PPKN yang sangat penting, yaitu pupusnya kebangsaan karena kita kurang urus daerah perbatasan. Rumah-rumah kumuh, jalan berlubang, pedagang kecil yang tak diurus Pemda, dan infrastruktur yang buruk ada di bagian sini. Sedangkan hal sebaliknya ada di sisi seberang. Anak-anak yang melihat dunia akan terbuka matanya dan memakai nuraninya saat memimpin bangsa di masa depan. Di Universitas Indonesia, setiap mahasiswa saya, diwajibkan memiliki passport dan melihat minimal satu negara.

Dulu saya sendiri yang menjadi gembala sekaligus guide nya. Kami menembus Chiangmay dan menyaksikan penduduk miskin di Thailand dan Vietnam bertarung melawan arus globalisasi. Namun, belakangan saya berubah pikiran, kalau diantar oleh dosennya, kapan memiliki keberanian dan inisiatif? Maka perjalanan penuh pertanyaan pun mereka jalani. Saat anak-anak Indonesia ketakutan tak bisa berbahasa Inggris, anak-anak Korea dan Jepang yang huruf tulisannya jauh lebih rumit dan pronounciation-nya sulit dimengerti, menjelajahi dunia tanpa rasa takut. Uniknya, anak-anak didik saya yang sudah punya passport itu 99% akhirnya dapat pergi keluar negeri. Sekali lagi, jangan tanya dari mana uangnya. Mereka memutar otak untuk mendapatkan tiket, menabung, mencari losmen-losmen murah, menghubungi sponsor dan mengedarkan kotak sumbangan. Tentu saja, kalau kurang sedikit ya ditomboki dosennya sendiri.

Namun, harap dimaklumi, anak-anak didik saya yang wajahnya ndeso sekalipun kini dipaspornya tertera satu-dua cap imigrasi luar negeri. Apakah mereka anak-anak orang kaya yang orang tuanya mampu membelikan mereka tiket? Tentu tidak. Di UI, sebagian mahasiswa kami adalah anak PNS, bahkan tidak jarang mereka anak petani dan nelayan. Tetapi mereka tak mau kalah dengan TKW yang meski tak sepandai mereka, kini sudah pandai berbahasa asing. Anak-anak yang ditugaskan ke luar negeri secara mandiri ternyata memiliki daya inovasi dan inisiatif yang tumbuh. Rasa percaya diri mereka bangkit. Sekembalinya dari luar negeri mereka membawa segudang pengalaman, cerita, gambar dan foto yang ternyata sangat membentuk visi mereka.

Saya pikir ada baiknya para guru mulai membiasakan anak didiknya memiliki passport. Passport adalah tiket untuk melihat dunia, dan berawal dari passport pulalah seorang santri dari Jawa Timur menjadi pengusaha di luar negeri. Di Italia saya bertemu Dewi Francesca, perempuan asal Bali yang memiliki kafe yang indah di Rocca di Papa. Dan karena passport pulalah, Yohannes Surya mendapat beasiswa di Amerika Serikat. Ayo, jangan kalah dengan Gayus Tambunan atau Nazaruddin yang baru punya passport dari uang negara.


Rhenald Kasali
Guru Besar Universitas Indonesia

04 Agustus 2011

Selamat Datang Laskar Makara Jingga

Kepada rekan-rekan mahasiswa baru FISIP UI 2011,

Selamat datang kawan, selamat datang pahlawan muda! Selamat datang di kampus rakyat, kampus perjuangan, kampus kebanggan negeri ini, UNIVERSITAS INDONESIA. Kalian adalah putra-putri TERBAIK bangsa Indonesia yang berhasil menempuh seleksi yang begitu ketat. Tentunya untuk bisa menembus persaingan yang sedemikian ketatnya tersebut tidak diraih dengan hanya keberuntungan saja, melainkan kerja keras, semangat, serta perjuangan yang luar biasa untuk bisa menjadi salah satu bagian dari kampus kebanggaan ini! Kini, kalian adalah bagian dari keluarga besar civitas academica Universitas Indonesia.

Selamat datang kami ucapkan di kampus "makara oranye" Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia. Kalian semua luar biasa dan kalian harus bangga dan sekaligus bersyukur, karena kalian berhasil diterima di salah satu fakultas ilmu sosial terbaik di negeri ini, FISIP UI. Kami ucapkan selamat, dan welcome to the jungle! Pastikan kalian telah meneriakkan "GUE ANAK FISIP!"

SELAMAT untuk kalian semua karena kalian LUAR BIASA!

Salam hangat,

Fauzan Al-Rasyid

Head of Communication Office BEM FISIP UI 2011
Mobile +62 858 8551 2023 Twitter: @fauzanalrasyid
E-mail: fauzan.al@ui.ac.id, fauzan.alrasyid@gmail.com
Tumblr: http://fauzanalrasyid.tumblr.com

PPA IKM FISIP UI 2011

PPA IKM FISIP UI 2011
Penerimaan dan Pembinaan 
Anggota Ikatan Keluarga Mahasiswa FISIP UI 2011

Penerimaan dan Pembinaan Anggota Ikatan Keluarga Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia 2011, atau disingkat PPA IKM FISIP UI 2011 adalah sarana bagi mahasiswa FISIP untuk mengenal seputar kehidupan kemahasiswaan di FISIP. Kegiatan ini berbeda dengan Pengenalan Sistem Akademik Fakultas (PSAF) yang dilaksanakan oleh pihak fakultas, tapi tetap menjadi bagian dari sistem pengenalan bagi mahasiswa baru yang merupakan tugas dari BPM (Badan Perwakilan Mahasiswa) dan berada di bawah FORBAMA (Forum Lembaga Mahasiswa) sebagai forum yang memiliki otoritas tertinggi di IKM FISIP UI.


PPA IKM FISIP UI 2011 memiliki muatan berupa:
  1. Pengenalan fakultas;
  2. Akademis profesi;
  3. Kerohanian;
  4. Nilai kemahasiswaan;
  5. Pengenalan dan penanaman asas, sifat, tujuan dan usaha IKM FISIP UI

Agenda Kegiatan PPA IKM FISIP UI 2011, antara lain: 
  1. Mentoring Kelembagaan
  2. Mentoring Keagamaan
  3. Dinamika Angkatan
  4. Talkshow
  5. Games dan Outbound

Sementara itu, tujuan dari diadakannya kegiatan ini sangat sederhana, yaitu menjadikan mahasiswa FISIP UI sebagai anggota aktif IKM FISIP UI. Pertanyaan yang muncul mungkin seputar: mengapa harus "menjadi anggota aktif IKM FISIP UI"? Menjadi mahasiswa dengan status anggota aktif IKM FISIP UI atau biasa disebut "IKM aktif" memiliki privilage berupa dapat dipilih sebagai pengurus BEM dan BPM FISIP UI, serta berhak mencalonkan diri sebagai ketua/wakil ketua BEM atau BPM FISIP UI. Hanya itu? Ya, pada dasarnya hanya itu. Di FISIP UI memang mengenal dua jenis status IKM, yaitu status "IKM aktif" dan "IKM biasa". Untuk mendapatkan status IKM aktif tersebut, setiap mahasiswa baru wajib mengikuti seluruh rangkaian Kegiatan Awal Mahasiswa Baru atau KAMABA yang telah disusun oleh fakultas. Dengan mengikuti seluruh rangkaian kegiatan ini, mahasiswa baru tersebut pun akan menjadi IKM aktif FISIP UI, yang berarti dia dapat mendaftarkan dirinya sebagai pengurus BEM atau BPM FISIP UI pada saat masa perekrutan nanti. Bagi mereka yang tidak mengikuti KAMABA maka tidak akan mendapatkan status IKM aktif, mereka hanyalah IKM biasa FISIP UI, yang artinya mahasiswa tersebut tidak akan boleh bergabung dalam kepengurusan BEM atau BPM FISIP UI di periode kepengurusan mana pun.

Selanjutnya, setelah masa PPA IKM FISIP UI atau yang dapat dikatakan pula masa orientasi tingkat fakultas, para mahasiwa baru akan "dikembalikan" ke jurusannya masing-masing. Dalam hal ini, para mahasiswa baru tersebut akan dipegang oleh Himpunan Mahasiswa (HM) jurusannya masing-masing untuk mengikuti rangkaian kegiatan masa orientasi jurusan. Masa orientasi jurusan ini tidaklah sama lama waktunya antara satu jurusan dengan jurusan yang lain. Setiap HM memiliki program dan cara yang berbeda dalam membuat program masa orientasi jurusan bagai para mahasiswa baru jurusan tersebut. Hampir sama dengan PPA IKM FISIP UI, setiap masa orientasi jurusan juga bertujuan untuk menjadikan para mahasiswa baru jurusan tersebut menjadi mahasiswa dengan status anggota aktif HM yang bersangkutan. Mereka yang menjadi anggota aktif suatu HM maka berhak untuk menjadi pegurus HM tersebut serta berhak untuk mencalonkan diri dan dipilih sebagai ketua/wakil ketua HM tersebut. Sementara itu, mereka yang tidak mengikuti atau tidak menyelesaikan seluruh rangkaian masa orientasi jurusan akan mendapatkan status anggota biasa suatu HM dan tidak dapat masuk ke dalam kepengurusan HM jurusannya.

Lantas, apakah itu berarti para mahasiswa baru FISIP UI harus mengikuti seluruh rangkaian kegiatan tersebut dari awal hingga akhir? Sebenarnya tidak ada paksaan untuk benar-benar harus mengikuti keseluruhan rangkaian. Namun, dilihat dari manfaatnya, tentu sangatlah rugi jika seorang mahasiswa FISIP UI tidak menjadi anggota aktif IKM FISIP UI (sekalipun dia tidak berniat terjun ke organisasi kemahasiswaan, seperti BEM atau BPM FISIP UI) atau anggota aktif HM jurusan (juga sekalipun dia tidak berniat terjun ke organisasi kemahasiswaan tingkat jurusan). Tentunya, kehidupan kampus sangat jauh berbeda dari kehidupan sekolah (SMA). Di kampus inilah kita para mahasiswa tidak seharusnya belajar dari segi akademis saja, tetapi juga dari berbagai hal. Hal-hal lain selain akademis bisa kita dapatkan dengan mengikuti berbagai organisasi kemahasiswaan atau ikut mengurus suatu kepanitiaan acara tertentu. Namun, hal-hal ini dapat diikuti bila mahasiswa tersebut terdaftar sebagai anggota aktif IKM FISIP UI (jika organisasi atau kegiatan tersebut adalah program BEM atau BPM FISIP UI) atau anggota aktif HM jurusan (jika organisasi atau kegiatan tersebut adalah program satu HM jurusan tertentu). Oleh karena itu, saya pribadi menghimbau kepada para mahasiswa baru FISIP UI, khususnya mahasiswa baru FISIP UI 2011, untuk mengikuti segala kegiatan ini karena status "IKM aktif" (khususnya) sangatlah bermanfaat. Karena tentunya kita tidak ingin mengahbiskan masa-masa kuliah kita dengan "buku-buku" saja kan? Tentu perlu ada penyeimbangan dari sisi nonakademis, dan dengan bergabung di organisasi-organisasi kemahasiswaan benar-benar dapat mengasah soft skill kita di luar hal-hal yang berbau akademis. Untuk bergabung ke dalam organisasi itulah diperlukan status IKM aktif.

Memang, tidak semua orang memiliki orientasi atau tujuan yang serupa soal status IKM aktif ini. Untuk sekedar share, saya sendiri adalah seorang mahasiswa dengan status IKM aktif FISIP UI. Namun, saya bukanlah seorang anggota aktif di HM saya, yaitu HMIK (Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi). Tentunya ini dikarenakan saya tidak mengikuti (atau lebih tepatnya tidak menyelesaikan) seluruh kegiatan masa orientasi jurusan Ilmu Komunikasi atau yang lebih dikenal dengan kegiatan Sarasehan. Ada beberapa alasan tertentu, tapi tentunya tidak akan saya share di sini karena akan out of context. Namun, poinnya adalah, saya tetap anggota aktif IKM FISIP UI dan ini membuat saya dapat berkecimpung di dunia BEM FISIP UI hingga di tahun ketiga saya ini saya masih dipercaya untuk tetap berada di BEM FISIP UI. Suatu pengalaman yang sangat luar biasa bisa bergabung di BEM FISIP UI. Begitu banyak pengalaman beharga yang saya dapat, dan ini tentunya tidak bisa saya dapat jika saya bukanlah seorang mahasiswa FISIP UI berstatus IKM aktif. Lantas, bagaimana dengan di tingkat jurusan? Ya, jelas saya hanyalah seorang anggota biasa HMIK. Saya tetap memiliki hal suara untuk memilih calon ketua dan wakil ketua HMIK, tapi saya tidak dapat bergabung atau bahkan mencalonkan diri sebagai ketua/wakil ketua HMIK. Bagi saya itu bukanlah suatu masalah karena saya sudah tahu orientasi atau tujuan saya ketika masuk FISIP UI, yaitu menjadi pengurus BEM. Jadi, lagi-lagi ini soal pilihan, tapi memang alangkah baiknya bila terdaftar sebagai anggota aktif baik di tingkat fakultas maupun di tingkat jurusan.

Jadi, selamat datang di FISIP UI, dan selamat mengikuti segala rangkaian kegiatan mahasiswa baru. Tidak ada bullying di kampus ini, jadi percayalah bahwa segala yang dilakukan oleh panitia tidak ada yang membawa unsur kekerasan. Dan khususnya di kegiatan PPA IKM FISIP UI, kegiatan ini 100% legal dari dekanat, jadi para mahasiswa baru tidak perlu khawatir. Jika teman-teman punya pertanyaan seputar PPA IKM, jangan sungkan untuk bertanya. Pertanyaan bisa diajukan lewat Twitter atau Facebook PPA IKM 2011 atau via SMS ke Medika Obtetriana (0857 1001 6367).

Salam,

Fauzan Al-Rasyid

Head of Communication Office BEM FISIP UI 2011
Mobile +62 858 8551 2023 Twitter: @fauzanalrasyid
E-mail: fauzan.al@ui.ac.id, fauzan.alrasyid@gmail.com
Tumblr: http://fauzanalrasyid.tumblr.com

01 Agustus 2011

Tentang Program S1 Paralel UI

Halo rekan-rekan mahasiswa baru UI 2011. Ini mungkin pertanyaan yang sering ditanyakan di forum-forum mahasiswa baru, khususnya di grup "Mahasiswa UI 2011 Chit-Chat" dan grup "SIMAK UI 2011" mengenai program S1 Paralel apakah dapat mengajukan BOP-B dan beasiswa?

Jadi, memang untuk mahasiswa S1 Paralel harus membayar penuh sesuai dengan biaya pendidikan yang tercantum dalam SK Rektor tentang Biaya Pendidikan dan tidak memiliki hak mengajukan fasilitas beasiswa dan Sistem Biaya Pendidikan Berkeadilan. Dan di UI tidak seperti kampus kebanyakan lainnya yang per SKS harus bayar, jadi baik reguler maupun paralel, tiap bayar per semester (BOP) itu sudah termasuk semua biaya, jadi tidak ada biaya per SKS. Untuk SK-nya bisa kamu klik di sini ya.

Bantuan yang bisa diberikan hanyalah cicilan dan apabila mau mengajukannya, kamu harus segera memilih opsi "cicilan" atau mengubungi Manajer Kemahasiswaan dan Hubungan Alumni (Mahalum) fakultas kamu atau bisa juga langsung ke PPMT bagian kemahasiswaan. Jika masih tidak bisa, boleh juga coba ditanyakan ke bagian keuangan di PPMT. Dalam hal ini, tolong kamu baca segala sesuatunya dengan cermat agar tidak terjadi kesalahan.

Untuk beasiswa, S1 Paralel tidak bisa mengajukan. Karena program ini memang diharapkan untuk memberikan subsidi pada mahasiwa reguler. Oleh karena itu biayanya memang lebih besar dan tidak bisa mengajukan keringanan karena dianggap mereka yang memilih program ini memang sudah siap dengan konsekuensi (baca: biaya) yang akan dibebankan. Namun, jangan khawatir, untuk beasiswa yang kamu cari sendiri di luar, tetap bisa didapatkan, tapi untuk mengajukan beasiswa yang melalui fakultas itu tidak diperkenankan.

Dalam hal ini maksudnya bukan "beasiswa dari UI", tapi beasiswa-beasiswa (dari perusahaan atau lembaga manapun) yang diurus dari PPM (Pusat Pelayanan Mahasiswa) baik di tingkat fakultas maupun tingkat universitas. Mahasiswa dari program S1 Paralel tidak dapat mengajukan atau mendaftar segala lowongan beasiswa yang tersedia baik di fakultas terkait maupun di universitas. Yang bisa kamu lakukan adalah mencari beasiswa di luar UI. Ada banyak kok di luar sana, seperti misalnya dari PPI dan dari banyak institusi lainnya. Kuncinya, kamu yang harus giat cari informasi di luar kampus.

Nah, jika beasiswa itu membutuhkan persyaratan berupa surat dari fakultas, berarti (kemungkinan besar) tetap tidak bisa. Dan karena mencari dari luar pun itu berarti kamu tidak bisa meminta surat rekomendasi dari fakultas, karena jika demikian artinya kamu juga tetap tidak bisa mengajukan mengingat kamu berasal dari program paralel. Jadi, kamu harus mencari beasiswa yang persyaratannya tidak membutuhkan surat keterangan atau rekomendasi dari fakultas. Coba kamu ikut juga milis-milis beasiswa.

Namun, ada banyak juga program beasiswa yang ngga harus menyertakan surat rekomendasi dari fakultas atau universitas. Dan itu bukan satu-satunya tanda bahwa mahasiswa bersangkutan memenuhi kualifikasi dari fakultas. Tidak selalu seperti itu. Seperti beasiswa dari PPI yang saya sempat cantumkan di komentar sebelumnya, persyaratannya antara lain:
- Foto terlampir (scan)
- Kartu mahasiswa (scan)
- Curriculum Vitae
- Indeks Prestasi Kumulatif dari semester 1 (scan)
- Surat motivasi 1 lembar
- Surat pernyataan kurang mampu dari Pemerintah Setempat (scan)
- Kartu Tanda Penduduk yang masih berlaku (scan)
- Kartu Keluarga (scan)

Nah, untuk beasiswa yang ditawarkan dari UI misalnya seperti beasiswa dari Yayasan Turki UICCI. Nah, yang seperti itu tidak bisa diajukan, tapi kalau kamu cari sendiri, katakan misalnya dari kedutaan besar, itu bisa saja. Syaratnya pun tidak harus selalu karena kendala finansial, tapi jika kamu nanti berprestasi, itu pun bisa jadi nilai untuk mendapatkan beasiswa. Untuk informasi yang lebih jelas, kamu bisa tanya-tanya ke Departemen Advokasi Kesejahteraan Mahasiswa (Adkesma) BEM fakultas kamu.

Sementara itu, untuk masalah "status" atau "perlakuan" TIDAK ADA PERBEDAAN PERLAKUAN atau STATUS antara mahasiswa program S1 Reguler dan S1 Paralel. Ingat teman-teman, kita SATU anak UI, jadi mau dari jurusan apa pun, program apa pun, kita SATU UI, dan itu yang terpenting. Untuk informasi lebih lanjut mengenai program S1 Paralel, kamu juga bisa berkunjung ke website UI.

Salam,

Fauzan Al-Rasyid

Head of Communication Office BEM FISIP UI 2011
Mobile +62 858 8551 2023 Twitter: @fauzanalrasyid
E-mail: fauzan.al@ui.ac.id, fauzan.alrasyid@gmail.com
Tumblr: http://fauzanalrasyid.tumblr.com