Welcome to My World!

Welcome visitors! Please enjoy my site and I hope you can get many useful information. If you wish, you may contact me through Facebook, Twitter, or any other social media that I linked on the menu bar above. Thank you.

Die Poskarten

This is my another blog: Die Poskarten. This blog will show you all my postcards collection. If you want to swap a postcard, please don't hesitate to contact me from the menu bar above.

Bonjour à Tous !

"Bonjour à Tous !"is my Tumblr site. Please take a look on it and maybe you can find some funny contents that you will love. You can also follow me on Tumblr to get my updates on the site.

Please Do Not Copy

You are welcome to link to my site and use my resources in your classroom, but please respect my hardwork and do not copy my page or files and add them to your website. Thank you.

Russia Beyond the Headlines in Bahasa Indonesia

Russia Beyond the Headlines, your guide to Russia, a diverse and complex country cannot be understood in the context of stereotypes. Now available in Bahasa Indonesia!

29 September 2011

Sikap BEM FISIP UI Terhadap Aksi 28 September 2011


Sikap BEM FISIP UI Terhadap Aksi 28 September 2011

Permasalahan tata kekola UI yang belum menggunakan asas good governance menjadi permasalahan utama di kampus ini. Berawal dari pemberian gelar DHC kepada Raja Saudi yang belum terkonfirmasi kejelasannya, sentralisasi keuangan, transparansi pembangunan perpustakaan baru, masalah klasik BOP-B, dan sebagainya. Melihat permasalahan yang luas ini, pada awalnya mahasiswa ingin berfokus dan proaktif pada isu kemahasiswaan, yakni transparansi sistem pembayaran, transparansi jalur masuk, dan tingkatkan pelayanan kemahasiswaan. Beberapa cara sudah dilakukan dari kajian filosofis sampai dengan kuesioner evaluasi.

Salah satu masalah penting sekarang yang menjadi penentu masa depan pendidikan di UI ialah pembentukan statuta UI. Rektor sudah membentuk tim transisi, sedangkan rektor belum mempunyai legitimasi hukum yang pasti. Hal ini yang menyebabkan mahasiswa harus ikut mengawalnya karena tidak lagi menginginkan adanya privatisasi di UI. Distrust dari mahasiswa kepada Rektor pun semakin tinggi karena hal ini.

Pada perkembangan dari isu ini, informasi terbaru yang bermunculan mengenai rektor, menyebabkan BEM UI mengadakan CEM (Chief Executive Meeting) dalam rangka membahas hal-hal tersebut. Dalam pertemuan itu Andreas Senjaya (MWA Unsur Mahasiswa) dan Maman Abdurrakhman (Ketua BEM UI) menjadi pihak yang menyampaikan informasi. Pada pertemuan tersebut, BEM UI merasa harus menambah fokusnya dan pada sisi lain mengubah sikapnya.

Dinamika ini membuat BEM UI mengubah sikapnya dengan menginginkan percepatan pergantian Rektor UI. Tuntutan dari BEM UI ini rencananya akan disampaikan pada aksi hari Rabu, 28 September 2011 di Salemba, di mana pada saat itu diadakan Rapat Paripurna MWA UI untuk meminta pertanggung jawaban Rektor UI. Sikap BEM UI ini pun telah disosialisasikan di FORMA UI pada hari Minggu, 25 September 2011 di Pusgiwa UI. Setelah terjadi dinamika di FORMA, sikap dari BEM FISIP UI ialah menyatakan perlu ada beberapa langkah yang harus dilakukan sebelum menuju opsi percepatan pemilihan Rektor. Oleh karena itu, BEM FISIP UI menyatakan untuk tidak ikut aksi pada hari Rabu, 28 September 2011.

BEM FISIP UI melihat masa transisi sebelum RUU PT disahkan nanti sangat penting. Semua ini harus dilakukan dengan mengedepankan demokrasi substansial yang partisipatif dan transparan di UI dengan tidak menyerahkan tim transisi hanya dibentuk oleh sebagian golongan seperti Rektor atau MWA saja.  Hal ini disebabkan karena BEM FISIP UI menginginkan statuta UI nanti bebas dari segala bentuk komersialisasi pendidikan.

Oleh karena itu, BEM FISIP UI akan melakukan kajian mendalam terhadap situasi yang tengah terjadi, dan melakukan konsolidasi dengan organ intra dan ekstra untuk mendapatkan solusi terbaik.

Dipublikasikan oleh:








Contact Person:
Galih Ramadian: +62 818 910 752
Fauzan Al-Rasyid: +62 858 8551 2023

Facebook : facebook.com/bemfisipui. mahasiswa
Twitter : @BEMFISIPUI

26 September 2011

HMIK di Mata Saya

Everyone has the right to freedom of opinion and expression; this right includes freedom to hold opinions without interference and to seek, receive and impart information and ideas through any media and regardless of frontiers.
Article 19, The Universal Declaration of Human Rights.
Sebelum membaca tulisan ini, saya perlu menyampaikan beberapa maklumat. Pertama, kutipan di atas hanya untuk mengingatkan kita bahwa kebebasan berpendapat dijamin dalam The Universal Declaration of Human Rights. Kedua, saya tidak mencari keributan, seriously. Saya hanya mengungkapkan apa yang saya rasakan. Ketiga, tulisan kali ini adalah tulisan kedua saya tentang "sesuatu" di jurusan saya. Tulisan pertama yang di-post sekitar dua tahun lalu mengenai acara Malam Balas Jasa cukup mendapatkan "kesan" yang luar biasa dari teman-teman, bahkan para senior di jurusan saya. Ya, mudah-mudahan tulisan yang ini pun juga memberi kesan tersendiri, khususnya untuk teman-teman sejurusan saya di kampus. Keempat, tulisan saya kali ini mungkin akan sedikit (atau bisa juga cukup) "menyentil" sebagian orang atau kelompok tertentu. Jadi, sebagai orang Indonesia yang biasa bermaaf-maafan, saya minta maaf jika tulisan ini memang "menyentil". Namun, kadang kita memang perlu sedikit "disentil", selama memang ada suatu niat baik di baliknya. Dalam hal ini, Insya Allah, niat saya baik; (berusaha) menyadarkan dan memberikan pandangan lain terhadap kelompok ini.


Siapakah kelompok yang saya maksud? Kelompok ini sangat dekat dengan kehidupan saya di kampus walaupun saya sama sekali tidak pernah berusaha mendekatkan diri pada kelompok ini. Oke, jadi, sebut saja kelompok ini namanya HMIK, dan memang itulah nama sebenarnya. HMIK, Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi, adalah salah satu organisasi mahasiswa tingkat jurusan yang sah di kampus saya, FISIP UI. Para pengurusnya adalah para mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi tentunya, tapi... (ada tapi-nya) dengan status HMIK aktif. Maksudnya? Berarti ada yang status nonaktif? Tidak, hanya ada dua status, yaitu status aktif dan biasa. Mahasiswa Ilmu Komunikasi berstatus aktif adalah mahasiswa yang "berhasil" atau survive menjalani seluruh rangkaian penerimaan mahasiswa baru (maba) dari awal hingga akhir, sedangkan mahasiswa Ilmu Komunikasi berstatus biasa adalah mahasiswa yang tidak mengikuti atau berhenti di tengah jalan pada saat rangkaian penerimaan maba.

Di sini, saya berstatus sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi biasa. Artinya, saya (dulu) tidak menyelesaikan rangkaian penerimaan maba Ilmu Komunikasi hingga selesai, tidak sampai sebulan (dari lebih kurang enam bulan rangkaian kegiatan). Kegiatan tahunan jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UI ini terbagai atas acara Prasarasehan (Prasar) dan acara puncak, Sarasehan. Oke, singkat cerita, di jurusan saya ini ada semacam pengelompokan status, yaitu status "Sar" (mahasiswa aktif) dan "Non-Sar" (mahasiswa biasa). Lantas, apa bedanya antara mereka yang berstatus "Sar" dan "Non-Sar" ini? Pada dasarnya, mereka yang berstatus "Sar" berhak menjadi pengurus aktif HMIK, sedangkan mereka yang "Non-Sar", tidak berhak. Sejujurnya, hanya itu saja. Namun, ada semacam tradisi-tradisi lama atau hukum tidak tertulis yang menyatakan bahwa mereka yang "Non-Sar" bisa mendapatkanyang teman-teman "Sar" katakanbanyak kerugiannya.

Nah, dalam post saya ini, saya ingin bercerita soal salah satu kerugian menjadi mahasiswa Ilmu Komunikasi "Non-Sar" dan sedikit hal yang saya anggap sebagai ketidakkonsistensian HMIK dalam memperlakukan mahasiswa "Sar" dan "Non-Sar". Akibatnya, saya jadi merasa bahwa tradisi-tradisi yang dilakukan oleh rekan-rekan di HMIK sudah terlampau kuno dan... itu tadi, tidak konsisten.

Bermula dari Milis

Oke, jadi begini ceritanya. Jadi, salah satu keuntungan menjadi mahasiswa aktif Ilmu Komunikasi atau "anak Sar" adalah si mahasiswa tersebut dapat join di mailing list atau milis HMIK UI. Lantas, apa hebatnya? Jadi, anggota di milis tersebut adalah hampir berisi seluruh mahasiswa aktif Komunikasi UI (dan alumninya) dari berbagai generasi. Di milis itu, para mahasiswa dan alumni saling berbagi informasi mengenai beasiswa, lowongan kerja, lowongan magang, dan sebagainya. Tentunya ini hal yang baik, saya kira semua pun setuju. Sementara itu, bagi mereka yang "Non-Sar" tidak boleh bergabung ke dalam milis. Ini dianggap sebagai konsekuensi dari "perbuatan" mereka yang keluar, mengundurkan diri, atau quit dari Prasarnya. Saya, sebagai seorang yang "Non-Sar" tentu sadar betul dengan konsekuensi ini, dan saya pun tidak pernah berharap untuk masuk ke dalam milis tersebut.

Namun, saya perlu akui bahwa terkadang rasa "iseng" saya lebih besar daripada rasa atau kesadaran untuk menahan diri saya terhadap hal-hal yangtentunya saya ketahuiseharusnya tidak saya lakukan. Dalam hal ini, kadang saya hanya ingin mengetes seberapa besar "pertahanan" milis dan "pengetahuan" rekan-rekan HMIK terhadap para mahasiswa yang "Non-Sar", karena jangan-jangan mereka tidak tahu siapa saja teman-temannya yang "Sar" dan "Non-Sar". Jadi, sempat beberapa kali saya mengirimkan request atau permintaan untuk gabung di milis HMIK, tapi gagal. Hal ini sempat saya coba kira-kira tiga kali dalam rentang waktu hampir setahun di tiap request-nya. Nah, di tahun yang Insya Allah tahun terakhir saya ini di kampus ini, saya kembali "iseng" lagi dengan mengirimkan request untuk gabung di milis HMIK, dan alangkah terkejutnya saya, permintaan saya untuk bergabung pun diterima.

Saya pun berpikir, apakah ini berarti sang administrator sedang lengah atau HMIK mulai "berubah"? Saya sempat menjadi anggota milis selama hampir enam bulan, sebelum akhirnya saya harus keluar dari milis tersebut. Di milis itu pun saya jadi tahu banyak hal soal HMIK, soal Prasar dan Sar, lowongan magang dan kerjaan, dan banyak hal lainnya. Memang sangat menarik. Namun, tanpa berburuk sangka bahwa sang administrator sedang lengah hingga menerima permintaan saya atau memanfaatkan keadaan, saya memang tidak pernah "berbicara" di milis tersebut karena memang saya pikir tidak ada yang perlu saya sampaikan di milis tersebut.

Hingga akhirnya tiba saat di mana saya "berbicara" di milis HMIK. Apa yang saya sebarkan di milis tidak lain hanyalah tulisan mengenai sikap BEM FISIP UI terhadap gerakan #saveUI. Apa yang saya sebarkan ini tentunya tidak lepas dari pekerjaan saya (selain sebagai mahasiswa) sebagai pengurus BEM FISIP UI, dan saya di tahun ini dipercaya sebagai Kepala Kantor Komunikasi BEM FISIP UI. Mungkin jika teman-teman sempat mengetahui soal polemik yang sempat terjadi di UI, BEM FISIP UI menaruh perhatian yang cukup besar terkait penyikapan isu ini. Dan sangat penting bagi kami, BEM FISIP UI, untuk memberitahu publik terkait sikap atau standpoint kami terhadap isu ini. Tentunya, ini adalah bagian dari pekerjaan saya. Saya sadar betul bahwa HMIK sebagai salah satu himpunan mahasiswa jurusan di FISIP UI adalah salah satu pemangku kepentingan atau stakeholder yang perlu mengetahui akan hal ini. Oleh karena alasan itulah saya kemudian menulis (bisa saya katakan) press release BEM FISIP UI terkait isu #saveUI di milis HMIK. Sehari, dua hari tidak ada masalah. Namun, di hari ketiga, salah seorang teman saya, seorang "Sar", mengirimkan saya pesan singkat yang kira-kira mempertanyakan bagaimana bisa saya berada di milis HMIK?

Aha! Ternyata dugaan saya benar, sang administrator memang sedang "khilaf" saat itu, bukan HMIK yang mulai "berubah". Oke, jadi teman saya itu bertanya, dan tentu saya berusaha menjawab dan memuaskan rasa ingin tahunya. Dan tentu, sebelum percakapan kami di SMS itu berakhir, dia mengingatkan akan "status" saya. Ah ya, tentu saya ingat, dan tidak pernah lupa soal itu. Singkat cerita, hari itu berakhir dan saya merasa seperti akan ada sesuatu yang kurang menyenangkan terjadi di beberapa hari ke depan. Dan benar saja, teman saya, yang juga seorang "Sar" dan pengurus HMIK, menghubungi saya dan langsung memberikan dua opsi terkait tulisan yang "berani" saya kirim via milis HMIK. Bukan soal isi tulisan yang saya tulis, tapi tentang saya yang (ibaratnya) kok bisa ada di milis HMIK?

Oke, jadi teman saya itu pun memberikan opsi: (1) dikeluarkan dari milis HMIK; atau (2) mengeluarkan diri dari milis HMIK. Saya tentu sama sekali tidak keberatan untuk dikeluarkan dari HMIK, karena toh memang niat awal saya hanya sekedar "iseng" belaka. Jadi, salah siapa jika saya yang "Non-Sar" ini bisa berhasil masuk ke milis yang seharusnya "suci" dari orang-orang seperti saya ini. Akhirnya, saya pun mengatakan bahwa ya... silahkan keluarkan saya dari milis, karena memang kebetulan pada saat itu saya sedang berada di kereta. Teman saya itu pun kemudian menambahkan, bahwa tidak bisa diterima di milis HMIK merupakan konsekuensi atas pilihan yang telah saya putuskan di masa lalu. Ah ya... saya betul-betul paham dengan segala konsekuensi, dan percayalah, saya telah menerima dan menjalani segala bentuk konsekuensi lebih dari apa yang mungkin teman-teman sejurusan saya pernah bayangkan.

Sungguh Aneh

Akibat kejadian ini, saya jadi semakin berpikir, bahwa ada sesuatu yang tidak benar di himpunan jurusan ini. Saya melihatnya, rasa-rasanya sih, rekan-rekan di HMIK tidak konsisten dalam "memperlakukan" mereka yang "Non-Sar" Menurut saya, ini sangat aneh. Aneh bagaimana? Iya, jadi saya selalu ingat dengan kejadian satu ini, dan ini bukan kejadian sekali yang pertama kali yang saya alami (dan teman-teman "Non-Sar" juga). Rasanya tidak berlebihan jika saya mengatakan bahwa mahasiswa Komunikasi hampir sudah tidak peduli dengan regenerasi kepengurusan HMIK. Ah, masa iya? Iya, hal ini selalu terlihat dari teman-teman panitia pemilihan HMIK yang selalu "panik" mulai dari mencari calon ketua, calon lawan si pencalon, bahkan mencari (dan mempersuasif) anak-anak Komunikasi untuk memilih si calon yang sudah mau mencalonkan diri itu. Mengapa bisa demikian? Saya kira, ini harusnya dapat menjadi pelajaran bersama. Padahal, bukankah tujuan awal teman-teman yang lulus "Sar" itu agar bisa menjadi pengurus aktif HMIK, terlebih lagi, mereka dapat mencalonkan diri sebagai ketua HMIK. Itu suatu manfaat yang besar. Namun, setelah tiba saatnya suatu angkatan bertanggung jawab atas kelanjutan tongkat estafet kepengurusan, sedikit sekali yang siap untuk menjadi ketua HMIK, bahkan teman-teman yang lain saling memohon kepada teman-teman "Sar" seangkatan lainnya untuk mau mencalonkan diri jadi ketua HMIK. Loh, kok bisa? Berarti program Saresehan jurusan Komunikasi tidak mampu mencetak kader.

Lantas, buat apa ada sarasehan jika untuk melanjutkan estafet HMIK saja susah, bahkan terkesan "ditumbali". Kemanakah semangat sense of belonging dan solidaritas yang selama Prasarasehan dan Sarasehan dulu selalu dikobarkan? "Menumbalkan" seseorang untuk menjadi ketua tentu jauh dari solidaritas.

Hal lainnya adalah teman-teman yang telah lulus "Sar" pun ternyata tidak begitu memiliki kesadaran untuk "membantu" kawannya yang kerap kali dikatakan "kena tumbal" menjadi calon ketua HMIK (walaupun ada juga yang dengan kesadaran dan kemauan pribadi mencalonkan diri) dengan memilih atau mencontreng si calon di TPS. Akibatnya, tidak jarang pula panitia pemilihan pun "memohon-mohon" pada setiap anak-anak Komunikasi yang secara sadar kumpul-kumpul di kantin atau di tempat nongkrong lainnya tanpa memedulikan proses pemilihan yang sedang berlangsung. Banyak yang bilang, anak Komunikasi itu tidak peduli dan semakin apatis terhadap hal-hal yang, let's say, berbau politis. Padahal, bukankah mereka sudah "lulus Sar" dan itu berarti mereka punya tanggung jawab untuk melanjutkan kepengurusan HMIK, bukannya menjadi tidak peduli. Nyatanya, program Saresehan jurusan Komunikasi tidak membuat anak Komunikasi lebih peduli dengan HMIK-nya (apalagi FISIP-nya).

Lantas, mengapa masih ada Sarasehan jika tiap tahun kondisi yang terjadi adalah yang seperti ini? Masih relevankah program-program Prasar yang selama ini dipertahankan jika output-nya tidak lebih baik daripada tidak ada Sarasehan sama sekali?

Ini perlu dipertanyakan. Ya, sangat perlu dipertanyakan. Jika kegiatan Prasarasehan dan Sarasehan tidak dapat benar-benar meningkatkan kepedulian maba Komunikasi terhadap jurusannya sendiri (bahkan dengan masa depan HMIK itu sendiri), dan terlebih lagi tidak dapat memupuk jiwa kepemimpinan di pribadi mereka, apakah kegiatan ini masih tepat dilakukan? Jangan-jangan, kegiatan ini memang hanya menjadi ajang kesenangan para senior melampiaskan apa yang telah dialaminya di masa lalu.

Rayu-rayu Ikut Contreng

Hal berikutnya yang juga menurut saya agak lucu adalah, di setiap pemilihan ketua HMIK, saya dan teman-teman "Non-Sar" sering kali "dirayu" atau dipersuasif untuk ikut memilih di TPS. Ini dikarenakan (menurut mereka) saya termasuk HMIK juga, hanya saja statusnya anggota biasa. Jadi, selama dua tahun terakhir ini pun saya, ya... tentu dengan perasaan ingin membantu, saya ikut memilih. Apalagi di tahun ini, karena yang maju menjadi ketua dan wakil ketua hanya satu pasangan, dan si calon ketua pun tak lain adalah rekan kerja sebiro di BEM FISIP UI 2010, tentu saya sangat mendukungnya. Dalam hal ini, panitia pemilihan tentu sangat khawatir jika suara pemilih tidak mencapai batas minimum perolehan suara, sehingga saya merasa bahwa dalam keadaan yang krusial seperti ini, sangat penting meningkatkan awareness baik mereka yang "Sar" maupun yang "Non-Sar".

Entah, mungkin saya terlalu berprasangka, tapi itu yang ada di pikiran saya. Namun, pertanyaan pun terlintas di pikiran saya, jika saya dan teman-teman "Non-Sar" sebegitu diharapkannya untuk diharapkan turut serta dalam pemilihan ketua HMIK, apakah kemudian HMIK pernah mendengarkan suara yang "Non-Sar" setiap kali kepengurusan yang baru terbentuk?

Tidak. Ya, jawabannya tidak. Saya tidak iri hanya karena saya tidak masuk ke milis HMIK loh ya... hanya saja ini menunjukkan ketidakkonsistensian HMIK. HMIK, dengan milisnya, jelas membatasi dan menyaring arus informasi agar hanya dapat diterima oleh mereka yang berstatus sama, yaitu "Sar". Namun, ketika proses pemilihanyang pada saat itulah terlihat sisi lain mahasiswa Komunikasi yang kurang peduli dengan regenerasi HMIK-nyarekan-rekan HMIK justru berusaha "merangkul" mereka yang "Non-Sar" untuk turut serta memilih. Jadi, siapa yang tidak konsisten dalam hal ini? Apakah mereka yang "Non-Sar" hanya dibutuhkan pada saat pemilihan ketua HMIK saja? Selain di luar kegiatan pemilihan, suara mereka yang "Non-Sar" sangat tidak berarti. Demikiankah? Jika demikian, tentu bisa saja di pemilihan-pemilihan ketua HMIK berikutnya mereka yang "Non-Sar" sepakat untuk tidak memberikan suaranya karena suara mereka hanya "bernilai" saat pemilihan. Jadi, saya kira ini perlu dirumuskan kembali, apakah HMIK memang dibentuk untuk mewadahi kepentingan seluruh mahasiswa Ilmu Komunikasi atau jangan-jangan hanya "seluruh mahasiswa Ilmu Komunikasi aktif" saja?

Namun, terlepas dari semua tulisan saya di atas, saya sama sekali tidak menyudutkan satu orang tertentu, dan itu perlu diperhatikan. Ada beberapa hal pokok yang saya kira merangkum keseluruhan tulisan ini. Pertama, saya mengkritik sistem yang dibangun dan diterapkan selama ini di HMIK, khususnya dalam pelaksanaan Prasarasehan dan Sarasehan jurusan kepada para maba. Saya merasa sistem tersebut sudah tidak lagi relevan diterapkan di zaman kita saat ini. Kedua, saya mengkritik HMIK yang saya rasa sangat berpihak pada mereka yang berstatus "Sar". Jadi, HMIK ini mewadahi kepentingan anak "Sar" saja? Ketiga, saya mengkritik HMIK yang kurang mendengarkan suara-suara di luar mereka yang "Sar". Jadi, lagi-lagi, HMIK ini mewadahi kepentingan anak "Sar" saja? Keempat, saya kira, jika kita sama-sama dewasa, tentu tidak perlu merasa "gerah" dengan tulisan-tulisan semacam ini. Sebagaimana yang tertulis di Article 29, The Universal Declaration of Human Rights:
In the exercise of his rights and freedoms, everyone shall be subject only to such limitations as are determined by law solely for the purpose of securing due recognition and respect for the rights and freedoms of others and of meeting the just requirements of morality, public order and the general welfare in a democratic society.
Saya rasa, kebebasan berpendapat yang saya gunakan berdasarkan apa yang tertulis di Article 19 tidak melanggar batasan-batasan kebebasan sebagaimana yang tercantum di Article 29 di atas. Terakhir, percayalah, saya peduli dengan HMIK ini, karena kalau tidak, saya tentu tidak akan menaruh perhatian yang sedemikian besarnya hingga menulis seperti ini. Saya memang bukan seorang "Sar" seperti yang mungkin lebih teman-teman HMIK banggakan, tapi saya kira teman-teman salah jika soal status menghalangi kepedulian. Ya, semoga, jika ada teman-teman HMIK yang membaca tulisan saya ini bisa mengambil manfaatnya. Oh ya, demi Tuhan, tidak ada niat saya sedikit pun untuk menjatuhkan citra HMIK, tidak ada manfaatnya juga buat saya. Saya percaya, teman-teman HMIK adalah orang-orang cerdas, berlogika, dan masih memiliki hati nurani.

Terakhir, untuk teman-teman mahasiswa baru Ilmu Komunikasi, satu kutipan menarik dari seorang teman. Kutipan ini selalu menjadi dasar saya untuk bergerak, tidak diam, dan tidak takut mempertahankan apa yang saya sebut (dan saya yakin) sebagai suatu kebenaran.
"Jika kita melihat sebuah kekeliruan, jangan diam. Ubahlah dengan tanganmu. Jika kita mendengar sebuah kekeliruan, jangan diam. Serukan dengan suaramu. Jika kita merasakan sebuah kekeliruan, jangan diam. Ingkarilah dengan hatimu."
Muhammad Alvin Dwiana Qobulsyah (2009)
Sekian dan semoga bermanfaat serta menjadi bahan introspeksi bersama. Tentunya demi HMIK yang lebih baik dan memang benar-benar merangkul secara nyata.

Salam,

Fauzan Al-Rasyid
Broadcast Journalism, Batch 2008
Department of Communication
Faculty of Social and Political Science
Universitas Indonesia

   Add Friend

20 September 2011

Something About Relationship

Pagi tadi, sebelum berangkat kuliah, gue menemukan suatu posting-an di Tumblr yang gue pikir cukup menarik untuk ditelaah. Berikut ini isinya:
I don’t view relationships as finding someone to get married to. I view them as paths crossing, and sharing your life with someone you care about. But people change, their prospects change, and they have different goals in life. Sometimes those paths diverge and end up going in separate directions. If a relationship works out, then that’s great. But if it doesn’t, that’s okay too. All that matters is the special bond you shared with that other person for that temporary length of time—that secret part of you which you chose to reveal to them and can never take back. It changes you as a person. Forever.
Jadi, bagaimana menurutmu? Apakah benar begitu?

Just "If"

Ini adalah kata-kata tersedih yang pernah gue baca. Sangat mengingatkan gue dengan sesuatu.
If there shall come a day when we can’t be together, remember that in this day, on this date, this hour, this minute, this second... I love you. So, no matter what happen in the future; if you meet me in the future in a situation that we're no longer together, just remember, that once you had my heart and once you made this girl boy* fall in love with you. And don’t be sad because it’s over... Smile, because it happened. And be glad that we ever crossed our path.
*) Tentu kata-katanya gue ubah sesuai dengan "jenisnya" gue dong ya, hehehe.

15 September 2011

Sikap BEM FISIP UI Terhadap Gerakan #saveUI


Sikap BEM FISIP UI Terhadap Gerakan #saveUI

Belakangan ini kampus UI kita sedang mengalami situasi yang mengkhawatirkan. Kerangka besar tentang carut-marutnya tata kelola kelembagaan di UI menjadi wacana yang berkembang di kampus dan di media massa. Permasalahan tentang statuta UI yang tidak jelas, tidak adanya check and balances setelah MWA “didemisionerkan”, tuntutan akan manajemen operasional keuangan yang lebih profesional, serta meminta adanya transparansi dan akuntabilitas dari rektorat.

Namun, di luar itu semua kita melupakan satu hal yang paling dekat dengan kita sendiri sebagai mahasiswa. Isu ini ialah isu kemahasiswaan, seperti masih ada mahasiswa yang BOP-B-nya tidak adil, pelayanan SIAK NG yang kurang memuaskan, kualitas kegiatan belajar mengajar dan pelayanan fasilitas terhadap mahasiswa yang masih kurang, dan lainnya yang berkaitan dengan kerangka besar kemahasiswaan.

Oleh karena itu, BEM FISIP UI harus menegaskan sikap. Sikap BEM FISIP UI ialah proaktif terhadap isu kemahasiswaan dan mengawal secara keseluruhan dari gerakan #saveUI. Oleh karena itu tuntutan dari BEM FISIP UI ialah:

  1. antikomersialisasi pendidikan
  2. transparansi dan akuntabilitas keuangan di UI menuju kampus pro rakyat
  3. transparansi dan keadilan sistem pembayaran kuliah
  4. transparansi jalur masuk
  5. tingkatkan pelayanan kemahasiswaan dan fasilitas

Dipublikasikan oleh:



Contact Person:
Galih Ramadian: +62 818 910 752
Fauzan Al-Rasyid: +62 858 8551 2023

Facebook : facebook.com/bemfisipui. mahasiswa
Twitter : @BEMFISIPUI

Menata Kembali Gerakan #saveUI

Menata Kembali Gerakan #saveUI
Oleh:
Jiwo Damar Anarkie
Kepala Departemen Kajian dan Aksi Strategis BEM FISIP UI 2011


#saveUI
KAMU HARUS TAHU! Pemberian DHC kepada raja Arab Saudi merupakan
fenoma gunung es. Ada ketidakberesan yang lebih besar dalam tata kelola UI.

            Akhir-akhir ini mata saya sering disibukkan oleh kata-kata provokasi seperti itu. Ya, ada masalah di kampus ini. Berita yang beredar menyatakan bahwa UI sedang dalam permasalahan internalnya. Hampir seluruh stakeholder mulai dari rektorat, dekanat sampai mahasiswa merasakan dampak dari permasahan tersebut. Dari masalah status dosen, transparansi keuangan, tata kelola lembaga, pembangunan fasilitas di UI, dan sampai pada puncak gunung es yaitu pemberian “upeti” DHC kepada Raja Arab Saudi.
            Gerakan #saveUI sebenarnya disulut oleh tindakan kurang kooperatif rektorat kepada mahasiswa pada 17 Agustus lalu, menuntut transparansi biaya operasional pendidikan berkeadilan (BOP-B), kemudian disusul oleh gerakan gulingkan rektor UI. Kondisi ini membuat apa yang disebut Tierney sebagai deprivasi relatif melanda diseluruh stakeholder UI (mahasiswa, dosen, dan pegawai) untuk menyerang rektorat terutama sang rektor pemangku jabatan. Mereka kecewa karena adanya kesenjangan antara harapan dan kenyataan apa yang telah dijanjikan rektor dalam Trihama. Setiap civitas seperi tidak tahu hal lain kecuali pemiskinan informasi, sehingga tidak ada yang merasa diperlakukan adil.
            Secara singkat, langkah menyusun gerakan pun dimulai, gerakan gulingkan rektor sebagai pemicu gerakan lain saat ini surut, terutama pascaorasi ilmiah Prof. Emil Salim. Penyusunan gerakan sosial ini kembali menjadi multitafsir. Kemana meraka yang menggulingkan rektor? Tidak ada. Kekecewaan terhadap harapan dan kenyataan itu pun kembali disusun, mulailah pada era baru gerakan apa yang sedang trend saat ini, #saveUI. Tekanan yang ditujukan kepada rektorat UI tak pelak membuat media lokal bahkan nasional membawa isu ini naik kepermukaan. Beberapa tuntunan dari kubu lawan disampaikan pada ruang-ruang publik yang dibuat atas inisiatif mereka sendiri atau media massa. Berbeda dari kubu yang diserang, mereka seolah menutup akses untuk membuka ruang-ruang diskusi masalah. Sekali lagi, harapan tidak sesuai kenyataan di mana pihak UI melalui Kantor Komunikasi dalam beberapa wawancara media massa siap dan pasang badan membuka ruang-ruang diskusi secara TERBUKA terhadap peliknya masalah. Namun, sampai saat ini terkesan menutup diri. Belum lagi tekanan dekanat sebagai kaki tangan rektorat yang menekan halus gerakan BEM fakultas.
            Berbicara mengenai gerakan sosial, #saveUI hendaknya bukan menjadi perilaku kolektif semata. Semua gerakan yang ada seolah berjalan sendiri, memiliki tujuan yang sama, tetapi tidak memiliki ruh untuk membuat sistem apa yang mereka sebut sesuai prinsip good governance. Seolah-olah, ini hanya masuk dalam tataran tujuan formal sementara langkah solusi masih diambang impian. Gerakan ini harusnya dipandang sebagai gerakan yang terorganisasi. Bulan lalu, hampir seluruh mahasiswa Chile turun ke jalan memprotes kenaikan biaya kuliah sampai akhrinya pemerintah Chile dapat diajak berunding kembali. Poin penting dari gerakan ini adalah adanya sistem organisasi yang baik. Ditandai dengan masifnya gerakan yang dilaksanakan. Punya satu ruh dan tujuan. Momen yang dicapai pun tepat.
            Seluruh civitas akademika UI melek terhadap isu ini. Istilah tinggal menyulut semangat mereka agar ada dan ikut berkontribusi di dalamnya. Namun, yang harus dicatat, para pemimpin massa harus siap dengan sistem organisasi yang baik agar mereka yang mulai masuk merasa dihargai, bukan karena landasan moralitas semata, melainkan mereka merasa mengetahui keuntungan dan kerugian gerakan.
            Metode dan inovasi gerakan juga menjadi perhatian penting, jika kemasifan gerakan sudah cukup mumpuni maka gerakan pun hendaknya lebih elegan dan dipandang sebagai sesuatu yang besar dan kuat. Proyeksi gerakan ini haruslah jelas, tujuan, cara, sampai pasca tujuan itu dilaksanakan. Ini yang terlupa dalam #saveUI. Terlalu normatif, menyinggung banyak aspek sehingga terkesan tidak fokus. Melakukan mogok kuliah pun bukan suatu cara yang elegan, karena kita tahu seberapa besar kerugian per harinya jika kita menghitung besarnya biaya pendidikan dibagi setiap harinya.
           Inilah yang menjadi PR kita bersama. Tujuannya bukan untuk menafikan gerakan, melainkan sebagai pengingat agar gerakan ini tetap mengedepankan kaidah-kaidah kesukseskan gerakan sebelumnya. Para pemimpin gerakan harus berpikir ekstra keras, mengolah momen dengan bijak dan elegan. Masih bisa karena gerakan ini baru dimulai. Tapi ingat, jika salah mengambil langkah, jangan menyesal kalau nanti massa gerakan akan jengah lalu meninggalkan gerakan sesukanya.

13 September 2011

Polemik UI dan Pakan Hewan Rektor

Ade Armando menyampaikan pidatonya di depan sivitas akademika UI dan pers.
Ade Armando sedang menyampaikan pidatonya di depan sivitas akademika Universitas Indonesia dan pers, Senin (12/11) di aula Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat.

Di hari pertama masuk kuliah, ada satu peristiwa penting dan menarik (bagi saya). Peristiwa ini khususnya terkait dengan suatu polemik yang sedang berkembang di UI. Gerakan "menentang" rektor terus digerakkan. Tidak hanya mahasiswa, tetapi juga dosen, guru-guru besar, dan pegawai juga turut mendukung dan ikut "ambil" peran dalam menyuarakan aspirasinya (baca: keluhannya). Saya pun tentunya tidak mau kalah untuk ikut serta mengikuti perkembangan peristiwa ini. Kebetulan pada hari Senin itu, kuliah saya sudah selesai sehingga saya bisa ikut hadir ke acara (yang menurut saya luar biasa) tersebut. Berikut ini adalah isi pidato yang disampaikan oleh Ade Armando, dosen Ilmu Komunikasi FISIP UI, yang kebetulan juga dosen saya. Pidato ini beliau sampaikan di depan sivitas akademika Universitas Indonesia dan pers yang hadir di Aula Fakultas Ilmu Komputer UI, Senin 12 September 2011.

ANJING & IKAN REKTOR UI MAKAN UANG SPP MAHASISWA
(atau Uang SPP Mahasiswa Akhirnya Sampai Dimakan oleh Anjing & Ikan Rektor UI)

Oleh: Dr. Ade Armando

Kalau Anda seorang rektor bergaji sekitar 45 JUTA RUPIAH per bulan, apakah Anda masih tega mengambil Dana Masyarakat (antara lain dari SPP mahasiswa) untuk uang makan anjing dan ikan serta peliharaan di rumah Dinas Anda?

Mungkin jumlahnya tidak banyak. Hanya 1,5 sampai 1,8 juta rupiah per bulan. Tapi berapa angkanya setelah dikali 12 bulan, 24 bulan, atau 36 bulan? Bandingkan dengan gaji seorang office boy di kampus ini!

Yang lebih parah adalah ketidakjujuran berikut ini. Dalam dialog dengan Iluni sebuah fakultas (4/9), Rektor UI bercerita: "Ada yang bilang saya punya dua anjing! Salah, anjing saya sembilan! Lalu ada yang bilang uang makan anjing saya dari UI. Ya benar, dari uang UI, tapi itu uang gaji saya!" Terbukti, itu tidak benar! Anggaran untuk Gaji Rektor keluar dari pos SDM. Sedangkan anggaran untuk makan anjing dan ikan ini dari pos UMUM.

Yang pasti membuat Anda geleng-geleng kepala adalah soal bagaimana mengutak-atik pos-pos anggaran sesukanya. Pembelian pakan ikan dan pakan anjing peliharaan di rumah dinas Rektor UI di Rawamangun untuk periode Oktober 2010 s.d. Januari 2011 dimasukkan di dalam kolom uraian: "PENGADAAN KONSUMSI RAPAT di PAUI" (apakah mereka yang rapat di PAUI mengonsumsi pakan ikan dan anjing? Atau ada ikan dan anjing yang ikut rapat di PAUI?)

Ini semua sekedar sebuah bukti amat kecil tentang SALAH TATA KELOLA! Ini membuktikan fungsi audit internal tidak berjalan dengan baik. Dan secara umum mekanisme Checks & Balances seakan tidak eksis. Ini juga mengisyaratkan Personalisasi Kekuasaan.

Lihat juga bagaimana atas nama PENCITRAAN, sang rektor membayar biaya penulisan wawancara utama delapan halaman plus bonus cover di Majalah "E" edisi 370/September 2010, sebesar 44 JUTA RUPIAH. Tentu, bisa dicari-cari alasan demi kepentingan Humas UI. Tapi siapa yang mengawasi atau mengaudit bahwa hal tersebut memang perlu dan signifikan untuk UI; atau malah untuk pencitraan pribadi?

Urusan SALAH TATA KELOLA uang rakyat ini tidak boleh berlanjut! Ini juga bukti bahwa PEMBELAJARAN UNTUK PIHAK LUAR dari kisruh yang harus segera dihentikan ini. Gerakan UI Pembaharuan tidak ingin rektornya (dan semua rektor atau pejabat publik di Indonesia) mengumpulkan dana rakyat untuk membeli pakan hewan peliharaannya. Kami akan mengumpulkan sumbangan, agar mulai minggu depan, biarlah uang kami yang dipakai untuk membeli pakan hewan-hewan rektor. Sedangkan dana masyarakat dan SPP harus benar-benar dipakai untuk pendidikan (dan jangan lupa ayo teman-teman pers: kita selamatkan whistle blower dari kemungkinan tindakan sewenang-wenang Personalisasi Kekuasaan). 
Isi pidato beliau tersebut dicetak dengan disertai beberapa salinan bukti pembayaran atau kwitansi terkait pengeluaran uang UI untuk membayar pakan hewan peliharaan di rumah dinas rektor. Selain itu, disertakan pula salinan bukti transfer uang sejumlah Rp 44 juta kepada majalah "E" yang disebutkan di atas.

Kemudian, seperti yang beliau sampaikan juga dalam pidatonya agar uang UI yang dialokasikan untuk pakan hewan peliharaan rektor diganti dengan uang sumbangan dari seluruh sivitas akademika UI. Hal ini dilakukan agar dana masyarakat dan SPP benar-benar dipakai untuk pendidikan. Oleh karena itu, setelah pidatonya usai, dengan bantuan dari BEM UI, diedarkan kotak sumbangan untuk pakan hewan peliharaan rektor. Fotonya di bawah ini.

Seorang anggota pengurus BEM UI mengedarkan kota sumbangan untuk pakan hewan peliharaan rektor kepada seluruh hadirin yang hadir di aula Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat.

Dalam lampiran yang disertakan bersamaan dengan salinan bukti-bukti pembayaran dan transfer sejumlah uang, terdapat pula salinan daftar hewan-hewan peliharaan di rumah dinas rektor, antara lain:

  1. Anjing: 5 ekor
  2. Musang (luwak): 5 ekor
  3. Binturong (bearcat): 3 ekor
  4. Kasuari: 2 ekor
  5. Kucing: 3 ekor
  6. Mentog: 3 ekor
  7. Ayam Ketawa: 5 ekor
  8. Monyet: 1 ekor
  9. Ular Kuning: 1 ekor
  10. Aneka burung (al. perkutut): *tidak tertulis jumlahnya
  11. Aneka ikan: 2 kolam

Hal ini, seperti kata Bang Ade (kami biasa menyapanya demikian) adalah masih sedikit dari fakta-fakta yang ada. Artinya, bukan tidak mungkin akan ada fakta-fakta "mengejutkan" lainnya yang akan terungkap. Namun demikian, perlu digarisbawahi bahwa gerakan Save UI sepakat untuk menuntut suatu perbaikan dalam sistem tata kelola UI, bukan penggulingan rektor. Oleh karena itu, untuk memahami isu secara lebih menyeluruh, teman-teman bisa hadiri Diskusi Publik yang diadakan oleh Badan Kelengkapan MWA UI Unsur Mahasiswa, Kamis, 15 September 2011 di Auditorium Gedung Komunikasi, FISIP UI, pukul 16.00-18.00. Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia! #saveUI

Salam,

Fauzan Al-Rasyid
Broadcast Journalism, Batch 2008
Department of Communication
Faculty of Social and Political Science
Universitas Indonesia

Head of Communication Office BEM FISIP UI 2011
Mobile +62 858 8551 2023 Twitter: @fauzanalrasyid
E-mail: fauzan.al@ui.ac.id, fauzan.alrasyid@gmail.com
Blog: http://fauzanalrasyid.blogspot.com/

Mahasiswa UI Mogok Kuliah?

Senin kemarin, 12 September 2011, BEM FE UI menyerukan aksi mogok kuliah selama sepekan kepada seluruh mahasiswa UI. Seruan itu diserukan secara langsung oleh Ketua BEM FE UI Dzulfian di hadapan para mahasiswa, guru besar, dekan, dosen, dan segenap sivitas akademika UI, di Aula Fakultas Ilmu Komputer UI, Depok, Jawa Barat.

Menurut Dzulfian, atau yang biasa disapa Zul, BEM FE UI menyerukan mogok kuliah dengan melihat data dan fakta yang ada. Mereka menolak adanya intimidasi dan menyatakan mogok kuliah karena melihat situasi yang tidak ada penyelesaiannya terkait sistem tata kelola UI. Lebih lanjut, aksi mogok ini dimaksudkan untuk mendorong agar Rektor UI Gumilar Rusliwa Somantri mau duduk bersama dan bersikap cepat untuk menyelesaikan segala permasalahan yang sedang berkembang.

Mendengar hal ini, saya pribadi, sebagai seorang mahasiswa UI dan juga sekaligus sebagai seorang pengurus BEM FISIP UI, tidak setuju dengan seruan tersebut. Bagaimanapun juga, mogok kuliah bukanlah suatu ide atau opsi yang terbaik untuk dilakukan (bagi para mahasiswa). Mogok kuliah sepekan itu adalah ide yang buruk. Lantas, jika mahasiswa mogok kuliah, memangnya para pejabat-pejabat di rektorat sana peduli? Toh kalian sudah membayar ini, masalah kalian mau ikut atau tidak ikut kuliah, mereka tidak akan ambil pusing tentunya. Masalah presensi kalian tentu tetap dihitung. Kejadian-kejadian "khusus" seperti ini tentu tidak akan membuat pengecualian dalam daftar presensi mahasiswa. Lagipula, tidakkah sebagai mahasiswa seharusnya kita merasa rugi jika kita memilih opsi mogok kuliah? Ada banyak kerugian yang akan kita terima jika kita mengambil opsi tersebut.

Saya kira, sebagai sebuah lembaga eksekutif, BEM tidak seharusnya menyerukan aksi yang demikian. Bukankah masih ada cara lain untuk mengungkapkan dan mengomunikasikan rasa kekecewaan dan ketidaksetujan terhadap buruknya sistem yang berlaku saat ini di kampus? Mogok kuliah itu tidak akan memberikan solusi dan dampak apa pun. Saya berani jamin! Mengapa tidak memberikan solusi penyelesaian masalah saja daripada sekedar bermogok kuliah? Bukankah biar namanya mahasiswa, tapi statusnya adalah pelajar? Dan bukankah kewajiban utama pelajar adalah belajar?

Memang, sebagian orang tampaknya rela meninggalkan kewajiban pribadinya demi membela kepentingan banyak orang. Sikap ini tidak benar-benar salah, tapi juga jelas tidak dapat dibenarkan juga. Entah kenapa, mendengar berita ini (soal mogok kuliah) kok saya jadi agak gusar mendengarnya. Entah saya yang kuno atau terkesan terlalu "patuh" aturan, tapi saya rasa tidak seharusnya begitu. Apalagi karena yang menyerukan ini adalah BEM. Saya juga berkecimpung di dunia BEM, bahkan ini adalah tahun ketiga saya di BEM, tapi saya (dan saya kira rekan-rekan kerja di BEM FISIP UI juga sepakat) rasa ide ini bukanlah ide yang baik, dan sebaiknya tidak dilakukan. Bayangkan, mogok kuliah sepekan! Bukankah masih banyak orang di luar sana yang berharap bisa kuliah di UI? Lantas, mengapa kita yang berkesempatan berkuliah di sini malah menyia-nyiakan kesempatan yang kita punya ini dengan mogok kuliah? Karena masalah rektor dan tata kelolanya ini? Ah, (mogok kuliah) ini bukan solusi dan tidak menyelesaikan masalah. Sekali lagi, tidak menyelesaikan masalah.

Saya kira sebagai pengurus BEM yang seyogianya merupakan representasi para mahasiswa, BEM haruslah betul-betul menyerukan suatu hal yang memang merepresentasikan mahasiswa secara keseluruhan. Lantas, mogok kuliah, apakah seruan ini benar-benar seruan "hati" para mahasiswa? Ah, saya kira tidak demikian. Saya pribadi menghimbau kepada seluruh rekan-rekan mahasiswa UI untuk lebih berpikir secara dewasa mengenai kegiatan-kegiatan yang mungkin sebenarnya kita semua belum tentu atau tidak benar-benar paham ada masalah apa sebenarnya sehingga kita hanya ikut-ikutan orang. Jelas, seharusnya tidak boleh begitu. Kemudian, kegiatan-kegiatan yang kita ikuti pun tentu boleh merupakan cerminan dukungan kita terhadap gerakan yang sedang berkembang, tapi perlu menjadi catatan bahwa "kegiatan apa pun" ini selama memang tidak mengganggu kegiatan akademis kita, saya kira itu sah-sah saja. Toh, negara ini kan memang negara yang menjunjung nilai-nilai demokrasi kan? Artinya, setiap orang berhak mengekspresikan dirinya dalam berbagai cara, selama memang masih dalam batasan-batasan yang wajar.

Saya paham, mungkin beberapa mahasiswa yang terlampau ekstrem atau let's say sangat menjunjung tinggi nilai-nilai yang memang sepatutnya diperjuangkan, tulisan saya ini pasti dianggap sangat "sampah". Saya tahu, pasti beberapa orang di luar sana berpikir bahwa, "Ah, persetan dengan kuliah, yang penting adalah junjung tinggi keadilan!" dan dilanjutkan dengan: Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia!

Well, yang bisa saya katakan hanya, itu semua adalah hak kalian sebagai seorang yang merdeka. Ya, saya kira demikian. Namun, saya kira, tak kalah penting dari hak sebagai orang yang merdeka adalah bahwa kita semua memiliki otak yang bisa berpikir dan hati nurani yang bisa merasakan. Kedua keunggulan yang dimiliki manusia ini jika dipadupadankan tentu akan membuat kita tidak salah langkah dalam mengambil segala keputusan di setiap jalan yang akan kita tempuh. Ya, saya rasa begitu.

Ya, tentunya kita semua berharap, polemik ini tidak akan menjadi polemik yang berkepanjangan. Semoga UI segera kembali pada jalan yang lurus dan benar. Tentunya harapan semua pihak, terutama, sistem tata kelola di UI segera diperbaiki. Hal ini tentunya karena sangat menyangkut kepentingan orang banyak dan karena sistem yang buruk ini pula banyak pihak yang telah merasa dirugikan. Ya, semoga saja, dan kita doakan yang terbaik untuk UI. #saveUI

11 September 2011

Kok Kepo?

Entah sejak kapan istilah ini ada, tapi kepo jelas sudah dikenal oleh banyak orang. Kepo telah menjadi suatu kata baru yang multifungsi. Kata ini bisa menjadi kata kerja dan kata sifat. Oke, sebelum lebih lanjut, mari kita bahas, apakah kepo itu? Hmm... sejujurnya ini sempat menjadi suatu pertanyaan sulit. Saya ingat, istilah ini sempat berkembang di jurusan saya, Komunikasi FISIP UI, di angkatan 2008 khususnya. Saat itu teman-teman saya senang menggunakan kata kepo. Nah, entah siapa yang mulai, saya tidak tahu. Yang jelas, ketika saya menggunakan kata kepo ini di luar jurusan saya, banyak yang menanyakan: kepo itu apa?

Oke, mudahnya, kepo itu adalah... hmm, dulu saya memberi contoh begini: ketika seseorang bertanya, "Kepo apaan sih?" Nah! Dia sedang kepo namanya! Mudah bukan? Oh, ya ya ya, semacam ingin tahu gitu ya? Hampir benar, tapi kepo ini adalah semacam rasa keingintahuan yang disertai hasrat terlalu ingin tahu. Aha! Penasaran; ya, saya kira padanan kata kepo ini adalah penasaran. Semacam sikap ilmiah level bawah dari rasa ingin tahu (observasi).

Nah, kita masuk ke topik. Ya, jadi ternyata sifat kepo ini semakin merasuk ke sanubari remaja-remaja Indonesia. Mungkin bagi teman-teman yang aktif dan eksis di Twitter mengetahui bahwa baru-baru ini pemiliki akun Twitter yang fenomenal di Indonesia, @poconggg, terbongkar identitasnya oleh seorang yang jelas kepo. Si poconggg ini diketahui sebagai seorang remaja seusia saya, mahasiswa Fakultas Hukum suatu universitas ternama di ibukota. Lantas, apakah kekepoan (kata ini berubah menjadi kata benda) sang pembongkar identitas ini baik? Hmm... tentu tidak ada yang tahu pasti apa motif di balik orang kepo ini. Sang pembongkar identitas poconggg yang memiliki nama samaran Dracula Edogawa ini saya kira, jelas, memiliki kekepoan tingkat tinggi. Namun, perlu diketahui, ternyata kepo yang berlebihan sangat tidak baik. Mungkin si Edogawa itu menyangka para "pengikut" si poconggg ini akan meninggalkan si poconggg atu poci (panggilan akrabnya) begitu mengetahui identitas aslinya. Tapi ternyata, justru para pengikutnya ini mengirimkan begitu banyak dukungan moral pada si poci ini. Yang terjadi, si Edogawa ini justru menjadi dibenci oleh hampir seluruh pengikut setia si poci. Kalau saya tidak salah ingat, followers-nya @poconggg itu ada sekitar 800 ribuan. Bayangkan saja, akibat kepo yang berlebihan, kita bisa punya 800 ribuan orang yang membenci kita. Sungguh fatal kan Saudara-saudara.

Maka dari itu, saya kira, berkaca dari kejadian terkepo di atas, kurang-kurangilah sifat kepo bagi yang merasa suka kepo. Entah itu suka kepo dengan teman, pacar, temannya pacar, dosen, nilai yang akan diberikan dosen, dan sebagainya. Biarlah hal-hal yang memang seharusnya tidak perlu kita ketahui ya... tidak kita ketahui. Toh, saya yakin bila memang kita harus tahu, pasti akan ada waktunya kita akan tahu, tanpa kita harus kepo.

Ah ya, saya pun jadi ingat, kepo ini juga mengingatkan saya pada si Spongebob si Celana Kotak. Hahaha, ya, dia sangat suka sesuatu yang berhubungan dengan "kepo". Tidak percaya? Coba lihat di bawah ini.

Kelpo

Benar kan? Dia makan ke(l)po ternyata, hahaha! Oke, ini penutup yang paling antiklimaks yang pernah saya buat, hahaha! Sekian, dan terima kasih telah membaca, dan jangan kepo! Ah ya, satu lagi, semoga artikel ini tidak menurunkan minat kalian membaca posting-an lainnya di blog saya ini, hehehe. Anyway, FYI, kepo itu ternyata adalah singkatan dari knowing every particular object. Lebih kurang maksudnya ya... (mau) tahu semua hal, hehehe.

09 September 2011

UI dan Masalahnya, atau Masalah Kita?

Beberapa hari yang lalu, saya sempat membaca sebuah catatan kecil di Facebook dari seorang mahasiswi FISIP UI. Ya, di catatannya itu ia mempersoalkan mengenai polemik pemberitaan UI terkait Rektor Gumilar yang memberikan gelar Doktor Honoris Causa (DHC) kepada Raja Saudi. Dia menyesalkan salah satu pemberitaan di stasiun TV swasta yang ia sebut dengan stasiun "TV Satu" itu yang dianggap sangat menyudutkan UI, mengumbar kejelekan UI, dan sangat tidak etis. Ah ya, tapi sayang saya tidak menyaksikan tayangan yang dimaksud. Namun, saya rasa semua tahu stasiun televisi yang ia maksud. Di sini, seperti yang sudah saya tanggapi juga di catatannya, saya ingin berbagi tanggapan dengan rekan-rekan sekalian.

Pertama, saya akui, saya sangat suka dengan catatan tersebut. Sangat menyenangkan mengetahui masih ada mahasiswa yang berpikir seperti ini. Namun, memang ada baiknya kita semua harus mengetahui masalahnya secara mendalam. Pertama, soal si "TV Satu" itu, for God's sake, biarkanlah begitu, karena memang sudah sifat beritanya seperti itu, provokatif dan ya... "terdepan dalam mengab(u)rkan". Memang menyebalkan, so, please don't watch. Di program studi Jurnalisme Dept. Ilmu Komunikasi sendiri, kami semua sepakat bahwa pemberitaan stasiun televisi tersebut adalah salah satu yang terburuk, tidak beretika, dan sangat tidak menjunjung prinsip jurnalisme. Jadi, ya... biarkanlah. Hal serupa juga terjadi di US, kalau pernah dengar Fox News, nah itu juga semacam stasiun kita itu di sini, pada akhirnya--mengacu pada satu teori komunikasi--masyarakat yang memilih apa yang akan mereka tonton, dan percayalah, ini benar.

Kedua, dalam jurnalisme dikenal yang namanya: bad news is good news. Tidak 100% benar, tapi tidak bisa kita pungkiri bahwa orang-orang suka dengan berita-berita yang mengumbar kesalahan, keburukan, atau kejadian-kejadian buruk (bencana alam, dsb.) Dalam hal ini, berita buruk soal kemanusiaan, seorang pemimpin dalam suatu lembaga pendidikan, adalah suatu hal yang menarik dibahas. Berita ini akan menggiring opini publik ke arah yang memang diagendakan. Ada agenda media, ada maksud dari setiap pemberitaan media. Itu ada, dan memang terjadi. Kalau menurut seorang yang berkomentar di atas komentar saya (di catatan Facebook itu) bilang bahwa berita yang tidak gempar, tidak laku; itu adalah salah persepsi. Itulah jurnalisme yang sudah "keluar" jalurnya. Fungsi pers adalah untuk mengakomodasi segala kepentingan publik, pers yang sudah berorientasi pada kepentingan pihak tertentu dan kepentingan ekonomi maka jelas akan "membesar-besarkan" masalah. Dan masyarakat kita suka dengan hal yang "dibesar-besarkan". And it's true.

Ketiga, soal Bapak Rektor UI kita. Saya sepakat bahwa tentunya beliau memiliki maksud atau pertimbangan tertentu dalam memberikan gelar HC terhadap Raja Saudi. Namun, yang perlu dicermati adalah bahwa bagaimanapun juga, selalu ada prosedur dan beliau bukanlah "single decision maker", dalam arti dalam pemberian gelar tersebut tidak dapat diberikan atas keputusan semata Bapak Rektor. Untuk info jelasnya dapat diklik di sini. Oke, jadi intinya yang dipermasalahkan di sini adalah karena beliau memberikan gelar tersebut tanpa mengikutsertakan guru-guru besar terkait bidang kemanusiaan (HAM), dan itulah yang (menurut guru-guru besar itu) salah.

Keempat, sebagaimana yang kita ketahui juga, Arab Saudi bukanlah suatu negara yang benar-bener menghargai soal HAM. Jika kita lihat pada kasus-kasus TKI kita, tentunya jika sang Raja adalah seorang yang concern terhadap HAM maka tidak akan pernah ada kasus pelanggaran HAM kepada para TKI kita di sana. Atau minimal, jika pun ada maka kasus tersebut akan langsung ditindak tegas. Namun, yang terjadi adalah para TKI kita kerap kali diperlakukan secara tidak kemanusiaan di sana. Maka menjadi sangat ironis bila pemimpin negara tersebut mendapat gelar kehormatan di bidang kemanusiaan sementara ia tidak "manusiawi" (membiarkan) dalam memperlakukan TKI kita di sana. Dan menjadi membingungkan ketika Bapak Rektor kita justru memberikan penghargaan bidang kemanusiaan kepada sang Raja, padahal tentu Pak Rektor juga sangat mengetahui problematika ini. Jadi, rekan-rekan di UI jadi berpikir bahwa pasti ada "sesuatu" di balik ini semua.

Kelima, saya juga sepakat bahwa sebagai mahasiswa, mahasiswa UI khususnya, kita harus berpikir kritis, bukan asal "menggong-gong" tidak jelas, atau "membeo" saja. Kita tidak bisa bilang juga bahwa "ini negatif, itu negatif" atau "ambil positifnya saja". Semua harus dilihat dari sisi positif dan negatif, dan "kenapa" diambil kebijakan seperti itu. Segala permasalahan harus dilihat dari berbagai perspektif. Tidak hanya dari satu perspektif, yaitu perspektif "kita, kita, dan kita". Itu tidak benar. Apa pun masalahnya, sekalipun kita yakin seyakin-yakinnya bahwa orang itu salah, tapi kita juga salah karena kita egois dan tidak berusaha melihat dari perspektif "yang dituduh". Cover both side; intinya harus begitu.

Ide Menggulingkan Rektor

Tentu ini suatu ide yang ajaib. Ajaib karena saya kira ini baru pertama kalinya sejak UI didirikan rektornya digugat atau ada ide untuk menggulingkan kepemimpinannya dari seluruh unsur, dalam arti bukan hanya mahasiswa. Tentu kita tahu, biasanya yang suka bilang "turun" kan mahasiswa, tapi ini para profesor atau guru besar ikut baris di barisan terdepan untuk menggulingkan Pak Rektor. Menurut berbagai sumber, Pak Gumilar adalah sosok luar biasa pada masa terpilihnya beliau sebagai rektor. Kala itu berbagai media ramai memberitakan tentang terpilihnya seorang sosok reformis yang tidak hanya berhasil menjadi rektor termuda dalam sejarah UI, tetapi juga sekaligus menghentikan rezim para dokter yang sekian tahun mengisi posisi Rektor UI sejak terakhir Nugroho Notosusanto yang  merupakan "perpanjangan tangan" Orde Baru saat berkuasa.

Kalau dipikir-pikir, sepertinya mahasiswa UI sejak kepemimpinan Pak Gumilar sudah sering kali protes dengan berbagai kebijakan beliau. Kebijakan beliau yang paling ditentang adalah mengenai kebijakan Biaya Operasional Pendidikan Berkeadilan atau yang dikenal dengan BOP-B. Namun, saya lihat selama ini mahasiswa selalu berjuang sendiri. Maksudnya, tidak ada dosen atau guru-guru besar yang ikut mendukung bahkan sampai menggelar mimbar seperti yang diadakan di Fakultas Ekonomi UI beberapa hari lalu sebagai bentuk protes kepada Pak Rektor. Namun, sekarang, semua serempak dukung "Gulingkan Gumilar".

Loh, ada apa ini? Saya kira mahasiswa perlu cermat akan hal ini. Tidak perlu terlalu tergesa-gesa dalam mengambil sikap. Banyak yang bilang, semua ini akibat UI yang seakan-akan dikomersialisasi. Ah, macam mana? Saya rasa tidak semua orang (baca: mahasiswa) yang mengumbar-umbar soal komersialisasi itu paham betul makna komersialisasi sebenarnya. Tidak percaya? Tes saja!

Ada yang mengatakan bahwa komersialisasi UI sudah terjadi setidaknya sejak tahun 2000, yaitu sejak UI pindah status menjadi BHMN. Sejak itulah muncul Jalur Khusus, Admission Fee atau Uang Pangkal, BOP Berkeadilan (BOP-B), dan sebagainya. Nah, sejak masa itu pula, memangnya ada guru-guru besar yang ikut "berkoar"? Wah, ternyata hampir tidak ada. Hanya mahasiswa yang selalu "ribut". Nah, sekarang ini (sebetulnya) yang diteriaki oleh guru-guru besar adalah masalah tata kelola universitas yang tidak melinbatkan mereka, semacam dilangkahi gitu loh, bukan soal biaya kuliah di UI, dan hal-hal yang dikeluhkan mahasiswa UI selama ini. Jadi, buat teman-teman mahasiswa yang mungkin sedang asik beraliansi, monggo, dinikmati saja koalisi ini, tapi hati-hatilah, mana tahu pasca masanya Pak Gumilar, bisa jadi rekan-rekan sekalian akan berhadapan dengan mereka yang sebenarnya juga tidak pro mahasiswa. Mereka hanya memanfaatkan momen ini karena tahu betul bahwa mahasiswa tentu akan mendukung gerakan ini. Jadi, berhati-hatilah dalam menilai orang. Semoga dapat menambah kekayaan berpikir.

Salam,

Fauzan Al-Rasyid
Broadcast Journalism, Batch 2008
Department of Communication
Faculty of Social and Political Science
Universitas Indonesia

Head of Communication Office BEM FISIP UI 2011
Mobile +62 858 8551 2023 Twitter: @fauzanalrasyid
E-mail: fauzan.al@ui.ac.id, fauzan.alrasyid@gmail.com
Blog: http://fauzanalrasyid.blogspot.com/

GGN: Generasi Gemar Nyindir

Ah, pusing lama-lama tinggal di Indonesia. Ini serius loh! Emang pada enggak pusing ya? Orangnya udah serba kebanyakan; kebanyakan orang, kebanyakan protes, kebanyakan mengeluh, dan kebanyakan nyindir. Nah, ini dia nih, nyindir atau bahasa bakunya: menyindir. Suatu perbuatan yang biasa atau bahkan bisa saya katakan cukup digemari oleh masyarakat Indonesia. Ibaratnya, everyone loves "nyindir". Perbuatan ini bisa dikomunikasikan baik dalam bentuk verbal maupun nonverbal.

Nyindir ini semacam upaya menyampaikan pesan ke seseorang, tapi secara tidak langsung. Nah, biasanya pesan yang disampaikan itu tentunya berhubungan dengan sikap atau perilaku yang dirasa kurang berkenan bagi seorang atau banyak orang tertentu terhadap si pelaku. Bingung ya? Ah, gampangnya begini. Jika si X seorang mahasiswa yang biasa telat, tapi suatu hari dia datang tidak telat, atau bahkan datang jauh lebih awal dibandingkan teman-temannya; teman-temannya yang mengetahui hal ini kemudian kompak menyapanya, "Kok tumben enggak telat?" Nah, itu nyindir namanya.

Ini jelas bukan suatu hal yang mengejutkan karena ini adalah keadaan yang sangat lumrah terjadi di negeri kita ini. Orang sini, entah kenapa, lebih suka nyindir daripada mengapresiasi. Masalahnya dengan nyindir ini apa? Ya jelas, menurunkan motivasi seseorang. Bahkan hal nyindir ini juga sering terjadi pada orang-orang yang sedang patah hati. Ini menyedihkan bukan? Di kala mereka itu sedang butuh semangat, ternyata lingkungan tak berpihak pada keadaan mereka. Sebagai contoh, si X baru saja putus dari pacarnya. Teman-temannya yang mengetahui ini, keesokan harinya saat bertemu si X, tentu ada yang menyatakan keprihatinannya, tapi tidak sedikit pula yang mengatakan, "Cieee... yang baru putus," atau "cieee... jadi jomblo!" Ditambah dengan cekikikan tidak jelas. Oh, ya ampun, demi Tuhan, bagaimana si pemuda (atau pemudi) itu bisa bertahan hidup dari luka hatinya jika teman-temannya malah nyindir, bahkan di-cieee-in.

Negeri ini sudah terlalu banyak sindir-menyindir rupanya. Hal ini ternyata benar-benar menjadi hal yang sangat wajar. Bahkan acara sindir-menyindir disiarkan di televisi. Stasiun televisi X gemar menyiarkan acara sindiran bagi pemerintah, dan ya... sejujurnya memang lucu, dan masyarakat tertawa, dan suka akan sindiran-sindiran itu. Ya, terlepas dari ada benarnya atau niatnya untuk "menyentil" pemerintah, tapi lama-kelamaan kok saya merasa bangsa mana yang segitu tidak punya rasa etika dan nuraninya yang berani menyindir pemimpinnya sendiri. Oke, ini terlepas dari konteks demokrasi, kebebasan pers, kebebasan berpendapat, atau kebebasan apa pun lainnya. Ada hal penting di sini, orang Indonesia jadi suka nyindir. Pokoknya nyindir. Bahkan orangtua nyindir anak, eh si anak balas nyindir orangtuanya. Pacar nyindir pacar. Teman nyindir teman. Kakak nyindir adiknya. Adik nyindir kakaknya. Suami nyindir istri, dan istrinya pun melakukan hal serupa pada sang suami. Staf nyindir bosnya. Sesama guru atau dosen (pendidik) nyindir cara mengajar guru atau dosen lain (di ruang guru/dosen atau di kantin, atau bahkan di depan muridnya). Akhirnya, murid pun nyindir gurunya. Demi Tuhan, bangsa ini SUDAH gila!

Nah, lebih gilanya lagi, kadang yang nyindir itu sendiri tidak paham dengan apa yang dia sebenarnya sindirkan. Kan itu gila namanya? Lebih parahnya lagi, negeri ini katanya negeri yang berbudi pekerti orang-orangnya, lah masa iya? Wong ulama-ulama di MUI saja disindir, bahkan presiden sendiri disindir. Saya menulis begini bukannya menyatakan diri sebagai orang yang propemerintah loh. Hanya sebagai contoh, dan hal itu terjadi di sini. Oke, kembali ke topik. Nah, orang itu (seperti Pak Presiden) disindir terus akhirnya gimana mau maju untuk memajukan negaranya? Sedangkan masyarakatnya menuntut terus untuk ada kemajuan, tapi nyindir berbanding lurus dengan kemauan yang semakin tinggi. Ini kan gila namanya?

Duh, eling toh! Kenapa enggak pada sadar sih? Ya, mungkin pada berpikir nyindir hanya sekedar candaan semata. Ya candaan semata kalau sekali-sekali tentu enggak masalah, karena memang kadang-kadang seseorang perlu disindir supaya sadar. Namun, apa iya bisa sadar dan berubah kalau terus-terusan disindir? Yang ada justru mentalnya tidak akan terbangun dan akan jadi mental nyindir juga. Karena si X sering disindir, lama-lama dia pasti bosan kan? Nah, pasti deh, dia juga akan cari bahan sindirin, nah tambah lagi deh yang nyindir. Kapan sih di negeri kita ini ada lebih banyak apresiasi daripada sindiran? Terlalu banyak prasangka negatif di setiap orang-orang kita.

Memang betul, banyak yang bilang bahwa nyindir itu dapat digunakan sebagai media mengungkapkan kritik. Ah, tapi kenapa tidak sampaikan saja kritik itu secara langsung dengan lugas daripada harus nyindir dengan bahasa atau sikap yang ada kemungkinan belum tentu dimengerti oleh si orang yang disindir itu. Bukankah jika kita memang tidak suka dengan seseorang sebaiknya kita sampaikan langsung kepadanya, bukan di belakangnya atau nyindir. Atau jika memang tidak mau, ya... tidak usahlah berurusan dengannya. Kalau ternyata berurusan? Ya sampaikan saja. Atau memang segitu malasnya menyampaikan kritik itu secara langsung hingga harus nyindir?

Kalau sudah begini kan kita jadi GGN atau generasi gemar nyindir. Nah, jadi repot kan dunia? Ya, jadi tolonglah, buat siapa pun yang mungkin cukup menggemari kebiasaan yang satu ini, mulai dikurang-kurangi bahkan sebisa mungkin dihentikan. Ini demi terciptanya mental apresiasi generasi muda. Yang tua? Ya bisa juga, tapi kan katanya generasi muda tunas bangsa, jadi dahulukan yang muda dulu, yang tua Insya Allah kalau mau berubah pasti akan berubah, sedangkan yang muda kan memang harus dikasih tahu supaya enggak jadi generasi gemar nyindir. Efek jadi generasi gemar nyindir ini luar biasa berdampak secara signifikan bagi kondisi psikologis seorang anak atau remaja loh. Misalkan, seorang anak sudah berusaha banting tulang dan banting otot untuk menyelesaikan tugas dari gurunya, nah ketika keesokan paginya di lihat si guru hasil pekerjaannya (yang kebetulan memang standar saja, tapi ibaratnya itulah the best he could do last night), si guru mengatakan, "Yah, masa cuma segini yang kamu bisa buat?" atau "Masa kamu cuma bisa buat begini? Tugas yang kemarin jauh lebih bagus loh!" Believe it or not, hal ini TERJADI di Indonesia! Seorang guru, bayangkan kawan, seorang guru justru menjatuhkan mental si anak yang sudah banting-bantingan tadi dengan mengatakan: cuma segini. Itu sangat "membunuh" mental si anak. Itu jelas namanya nyindir.

Jadi, setelah ditimbang-timbang, saya kira nyindir itu lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya. Ya, semoga kita semua terlepas dari sifat nyindir dan tidak menjadi generasi gemar nyindir 2011, 2012, 2013, dan seterusnya. Karena hal ini sama sekali tidak bermanfaat. Kalau mau, coba nyindir diri sendiri dulu, siapa tahu banyak hal yang bisa kita sindir dari diri kita sendiri, itu kan lebih baik. Jadi, semacam melihat keburukan diri sendiri dulu baru melihat keburukan orang lain. Oh ya, introspeksi diri namanya, saya baru ingat, hahaha! Semoga kita semua terlindung dari bahaya GGN atau generasi gemar nyindir; amin. Oke, sekian dan terima kasih.