09 September 2011

GGN: Generasi Gemar Nyindir

Ah, pusing lama-lama tinggal di Indonesia. Ini serius loh! Emang pada enggak pusing ya? Orangnya udah serba kebanyakan; kebanyakan orang, kebanyakan protes, kebanyakan mengeluh, dan kebanyakan nyindir. Nah, ini dia nih, nyindir atau bahasa bakunya: menyindir. Suatu perbuatan yang biasa atau bahkan bisa saya katakan cukup digemari oleh masyarakat Indonesia. Ibaratnya, everyone loves "nyindir". Perbuatan ini bisa dikomunikasikan baik dalam bentuk verbal maupun nonverbal.

Nyindir ini semacam upaya menyampaikan pesan ke seseorang, tapi secara tidak langsung. Nah, biasanya pesan yang disampaikan itu tentunya berhubungan dengan sikap atau perilaku yang dirasa kurang berkenan bagi seorang atau banyak orang tertentu terhadap si pelaku. Bingung ya? Ah, gampangnya begini. Jika si X seorang mahasiswa yang biasa telat, tapi suatu hari dia datang tidak telat, atau bahkan datang jauh lebih awal dibandingkan teman-temannya; teman-temannya yang mengetahui hal ini kemudian kompak menyapanya, "Kok tumben enggak telat?" Nah, itu nyindir namanya.

Ini jelas bukan suatu hal yang mengejutkan karena ini adalah keadaan yang sangat lumrah terjadi di negeri kita ini. Orang sini, entah kenapa, lebih suka nyindir daripada mengapresiasi. Masalahnya dengan nyindir ini apa? Ya jelas, menurunkan motivasi seseorang. Bahkan hal nyindir ini juga sering terjadi pada orang-orang yang sedang patah hati. Ini menyedihkan bukan? Di kala mereka itu sedang butuh semangat, ternyata lingkungan tak berpihak pada keadaan mereka. Sebagai contoh, si X baru saja putus dari pacarnya. Teman-temannya yang mengetahui ini, keesokan harinya saat bertemu si X, tentu ada yang menyatakan keprihatinannya, tapi tidak sedikit pula yang mengatakan, "Cieee... yang baru putus," atau "cieee... jadi jomblo!" Ditambah dengan cekikikan tidak jelas. Oh, ya ampun, demi Tuhan, bagaimana si pemuda (atau pemudi) itu bisa bertahan hidup dari luka hatinya jika teman-temannya malah nyindir, bahkan di-cieee-in.

Negeri ini sudah terlalu banyak sindir-menyindir rupanya. Hal ini ternyata benar-benar menjadi hal yang sangat wajar. Bahkan acara sindir-menyindir disiarkan di televisi. Stasiun televisi X gemar menyiarkan acara sindiran bagi pemerintah, dan ya... sejujurnya memang lucu, dan masyarakat tertawa, dan suka akan sindiran-sindiran itu. Ya, terlepas dari ada benarnya atau niatnya untuk "menyentil" pemerintah, tapi lama-kelamaan kok saya merasa bangsa mana yang segitu tidak punya rasa etika dan nuraninya yang berani menyindir pemimpinnya sendiri. Oke, ini terlepas dari konteks demokrasi, kebebasan pers, kebebasan berpendapat, atau kebebasan apa pun lainnya. Ada hal penting di sini, orang Indonesia jadi suka nyindir. Pokoknya nyindir. Bahkan orangtua nyindir anak, eh si anak balas nyindir orangtuanya. Pacar nyindir pacar. Teman nyindir teman. Kakak nyindir adiknya. Adik nyindir kakaknya. Suami nyindir istri, dan istrinya pun melakukan hal serupa pada sang suami. Staf nyindir bosnya. Sesama guru atau dosen (pendidik) nyindir cara mengajar guru atau dosen lain (di ruang guru/dosen atau di kantin, atau bahkan di depan muridnya). Akhirnya, murid pun nyindir gurunya. Demi Tuhan, bangsa ini SUDAH gila!

Nah, lebih gilanya lagi, kadang yang nyindir itu sendiri tidak paham dengan apa yang dia sebenarnya sindirkan. Kan itu gila namanya? Lebih parahnya lagi, negeri ini katanya negeri yang berbudi pekerti orang-orangnya, lah masa iya? Wong ulama-ulama di MUI saja disindir, bahkan presiden sendiri disindir. Saya menulis begini bukannya menyatakan diri sebagai orang yang propemerintah loh. Hanya sebagai contoh, dan hal itu terjadi di sini. Oke, kembali ke topik. Nah, orang itu (seperti Pak Presiden) disindir terus akhirnya gimana mau maju untuk memajukan negaranya? Sedangkan masyarakatnya menuntut terus untuk ada kemajuan, tapi nyindir berbanding lurus dengan kemauan yang semakin tinggi. Ini kan gila namanya?

Duh, eling toh! Kenapa enggak pada sadar sih? Ya, mungkin pada berpikir nyindir hanya sekedar candaan semata. Ya candaan semata kalau sekali-sekali tentu enggak masalah, karena memang kadang-kadang seseorang perlu disindir supaya sadar. Namun, apa iya bisa sadar dan berubah kalau terus-terusan disindir? Yang ada justru mentalnya tidak akan terbangun dan akan jadi mental nyindir juga. Karena si X sering disindir, lama-lama dia pasti bosan kan? Nah, pasti deh, dia juga akan cari bahan sindirin, nah tambah lagi deh yang nyindir. Kapan sih di negeri kita ini ada lebih banyak apresiasi daripada sindiran? Terlalu banyak prasangka negatif di setiap orang-orang kita.

Memang betul, banyak yang bilang bahwa nyindir itu dapat digunakan sebagai media mengungkapkan kritik. Ah, tapi kenapa tidak sampaikan saja kritik itu secara langsung dengan lugas daripada harus nyindir dengan bahasa atau sikap yang ada kemungkinan belum tentu dimengerti oleh si orang yang disindir itu. Bukankah jika kita memang tidak suka dengan seseorang sebaiknya kita sampaikan langsung kepadanya, bukan di belakangnya atau nyindir. Atau jika memang tidak mau, ya... tidak usahlah berurusan dengannya. Kalau ternyata berurusan? Ya sampaikan saja. Atau memang segitu malasnya menyampaikan kritik itu secara langsung hingga harus nyindir?

Kalau sudah begini kan kita jadi GGN atau generasi gemar nyindir. Nah, jadi repot kan dunia? Ya, jadi tolonglah, buat siapa pun yang mungkin cukup menggemari kebiasaan yang satu ini, mulai dikurang-kurangi bahkan sebisa mungkin dihentikan. Ini demi terciptanya mental apresiasi generasi muda. Yang tua? Ya bisa juga, tapi kan katanya generasi muda tunas bangsa, jadi dahulukan yang muda dulu, yang tua Insya Allah kalau mau berubah pasti akan berubah, sedangkan yang muda kan memang harus dikasih tahu supaya enggak jadi generasi gemar nyindir. Efek jadi generasi gemar nyindir ini luar biasa berdampak secara signifikan bagi kondisi psikologis seorang anak atau remaja loh. Misalkan, seorang anak sudah berusaha banting tulang dan banting otot untuk menyelesaikan tugas dari gurunya, nah ketika keesokan paginya di lihat si guru hasil pekerjaannya (yang kebetulan memang standar saja, tapi ibaratnya itulah the best he could do last night), si guru mengatakan, "Yah, masa cuma segini yang kamu bisa buat?" atau "Masa kamu cuma bisa buat begini? Tugas yang kemarin jauh lebih bagus loh!" Believe it or not, hal ini TERJADI di Indonesia! Seorang guru, bayangkan kawan, seorang guru justru menjatuhkan mental si anak yang sudah banting-bantingan tadi dengan mengatakan: cuma segini. Itu sangat "membunuh" mental si anak. Itu jelas namanya nyindir.

Jadi, setelah ditimbang-timbang, saya kira nyindir itu lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya. Ya, semoga kita semua terlepas dari sifat nyindir dan tidak menjadi generasi gemar nyindir 2011, 2012, 2013, dan seterusnya. Karena hal ini sama sekali tidak bermanfaat. Kalau mau, coba nyindir diri sendiri dulu, siapa tahu banyak hal yang bisa kita sindir dari diri kita sendiri, itu kan lebih baik. Jadi, semacam melihat keburukan diri sendiri dulu baru melihat keburukan orang lain. Oh ya, introspeksi diri namanya, saya baru ingat, hahaha! Semoga kita semua terlindung dari bahaya GGN atau generasi gemar nyindir; amin. Oke, sekian dan terima kasih.

0 komentar :

Posting Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.