11 September 2011

Kok Kepo?

Entah sejak kapan istilah ini ada, tapi kepo jelas sudah dikenal oleh banyak orang. Kepo telah menjadi suatu kata baru yang multifungsi. Kata ini bisa menjadi kata kerja dan kata sifat. Oke, sebelum lebih lanjut, mari kita bahas, apakah kepo itu? Hmm... sejujurnya ini sempat menjadi suatu pertanyaan sulit. Saya ingat, istilah ini sempat berkembang di jurusan saya, Komunikasi FISIP UI, di angkatan 2008 khususnya. Saat itu teman-teman saya senang menggunakan kata kepo. Nah, entah siapa yang mulai, saya tidak tahu. Yang jelas, ketika saya menggunakan kata kepo ini di luar jurusan saya, banyak yang menanyakan: kepo itu apa?

Oke, mudahnya, kepo itu adalah... hmm, dulu saya memberi contoh begini: ketika seseorang bertanya, "Kepo apaan sih?" Nah! Dia sedang kepo namanya! Mudah bukan? Oh, ya ya ya, semacam ingin tahu gitu ya? Hampir benar, tapi kepo ini adalah semacam rasa keingintahuan yang disertai hasrat terlalu ingin tahu. Aha! Penasaran; ya, saya kira padanan kata kepo ini adalah penasaran. Semacam sikap ilmiah level bawah dari rasa ingin tahu (observasi).

Nah, kita masuk ke topik. Ya, jadi ternyata sifat kepo ini semakin merasuk ke sanubari remaja-remaja Indonesia. Mungkin bagi teman-teman yang aktif dan eksis di Twitter mengetahui bahwa baru-baru ini pemiliki akun Twitter yang fenomenal di Indonesia, @poconggg, terbongkar identitasnya oleh seorang yang jelas kepo. Si poconggg ini diketahui sebagai seorang remaja seusia saya, mahasiswa Fakultas Hukum suatu universitas ternama di ibukota. Lantas, apakah kekepoan (kata ini berubah menjadi kata benda) sang pembongkar identitas ini baik? Hmm... tentu tidak ada yang tahu pasti apa motif di balik orang kepo ini. Sang pembongkar identitas poconggg yang memiliki nama samaran Dracula Edogawa ini saya kira, jelas, memiliki kekepoan tingkat tinggi. Namun, perlu diketahui, ternyata kepo yang berlebihan sangat tidak baik. Mungkin si Edogawa itu menyangka para "pengikut" si poconggg ini akan meninggalkan si poconggg atu poci (panggilan akrabnya) begitu mengetahui identitas aslinya. Tapi ternyata, justru para pengikutnya ini mengirimkan begitu banyak dukungan moral pada si poci ini. Yang terjadi, si Edogawa ini justru menjadi dibenci oleh hampir seluruh pengikut setia si poci. Kalau saya tidak salah ingat, followers-nya @poconggg itu ada sekitar 800 ribuan. Bayangkan saja, akibat kepo yang berlebihan, kita bisa punya 800 ribuan orang yang membenci kita. Sungguh fatal kan Saudara-saudara.

Maka dari itu, saya kira, berkaca dari kejadian terkepo di atas, kurang-kurangilah sifat kepo bagi yang merasa suka kepo. Entah itu suka kepo dengan teman, pacar, temannya pacar, dosen, nilai yang akan diberikan dosen, dan sebagainya. Biarlah hal-hal yang memang seharusnya tidak perlu kita ketahui ya... tidak kita ketahui. Toh, saya yakin bila memang kita harus tahu, pasti akan ada waktunya kita akan tahu, tanpa kita harus kepo.

Ah ya, saya pun jadi ingat, kepo ini juga mengingatkan saya pada si Spongebob si Celana Kotak. Hahaha, ya, dia sangat suka sesuatu yang berhubungan dengan "kepo". Tidak percaya? Coba lihat di bawah ini.

Kelpo

Benar kan? Dia makan ke(l)po ternyata, hahaha! Oke, ini penutup yang paling antiklimaks yang pernah saya buat, hahaha! Sekian, dan terima kasih telah membaca, dan jangan kepo! Ah ya, satu lagi, semoga artikel ini tidak menurunkan minat kalian membaca posting-an lainnya di blog saya ini, hehehe. Anyway, FYI, kepo itu ternyata adalah singkatan dari knowing every particular object. Lebih kurang maksudnya ya... (mau) tahu semua hal, hehehe.

2 komentar :

Posting Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.