13 September 2011

Mahasiswa UI Mogok Kuliah?

Senin kemarin, 12 September 2011, BEM FE UI menyerukan aksi mogok kuliah selama sepekan kepada seluruh mahasiswa UI. Seruan itu diserukan secara langsung oleh Ketua BEM FE UI Dzulfian di hadapan para mahasiswa, guru besar, dekan, dosen, dan segenap sivitas akademika UI, di Aula Fakultas Ilmu Komputer UI, Depok, Jawa Barat.

Menurut Dzulfian, atau yang biasa disapa Zul, BEM FE UI menyerukan mogok kuliah dengan melihat data dan fakta yang ada. Mereka menolak adanya intimidasi dan menyatakan mogok kuliah karena melihat situasi yang tidak ada penyelesaiannya terkait sistem tata kelola UI. Lebih lanjut, aksi mogok ini dimaksudkan untuk mendorong agar Rektor UI Gumilar Rusliwa Somantri mau duduk bersama dan bersikap cepat untuk menyelesaikan segala permasalahan yang sedang berkembang.

Mendengar hal ini, saya pribadi, sebagai seorang mahasiswa UI dan juga sekaligus sebagai seorang pengurus BEM FISIP UI, tidak setuju dengan seruan tersebut. Bagaimanapun juga, mogok kuliah bukanlah suatu ide atau opsi yang terbaik untuk dilakukan (bagi para mahasiswa). Mogok kuliah sepekan itu adalah ide yang buruk. Lantas, jika mahasiswa mogok kuliah, memangnya para pejabat-pejabat di rektorat sana peduli? Toh kalian sudah membayar ini, masalah kalian mau ikut atau tidak ikut kuliah, mereka tidak akan ambil pusing tentunya. Masalah presensi kalian tentu tetap dihitung. Kejadian-kejadian "khusus" seperti ini tentu tidak akan membuat pengecualian dalam daftar presensi mahasiswa. Lagipula, tidakkah sebagai mahasiswa seharusnya kita merasa rugi jika kita memilih opsi mogok kuliah? Ada banyak kerugian yang akan kita terima jika kita mengambil opsi tersebut.

Saya kira, sebagai sebuah lembaga eksekutif, BEM tidak seharusnya menyerukan aksi yang demikian. Bukankah masih ada cara lain untuk mengungkapkan dan mengomunikasikan rasa kekecewaan dan ketidaksetujan terhadap buruknya sistem yang berlaku saat ini di kampus? Mogok kuliah itu tidak akan memberikan solusi dan dampak apa pun. Saya berani jamin! Mengapa tidak memberikan solusi penyelesaian masalah saja daripada sekedar bermogok kuliah? Bukankah biar namanya mahasiswa, tapi statusnya adalah pelajar? Dan bukankah kewajiban utama pelajar adalah belajar?

Memang, sebagian orang tampaknya rela meninggalkan kewajiban pribadinya demi membela kepentingan banyak orang. Sikap ini tidak benar-benar salah, tapi juga jelas tidak dapat dibenarkan juga. Entah kenapa, mendengar berita ini (soal mogok kuliah) kok saya jadi agak gusar mendengarnya. Entah saya yang kuno atau terkesan terlalu "patuh" aturan, tapi saya rasa tidak seharusnya begitu. Apalagi karena yang menyerukan ini adalah BEM. Saya juga berkecimpung di dunia BEM, bahkan ini adalah tahun ketiga saya di BEM, tapi saya (dan saya kira rekan-rekan kerja di BEM FISIP UI juga sepakat) rasa ide ini bukanlah ide yang baik, dan sebaiknya tidak dilakukan. Bayangkan, mogok kuliah sepekan! Bukankah masih banyak orang di luar sana yang berharap bisa kuliah di UI? Lantas, mengapa kita yang berkesempatan berkuliah di sini malah menyia-nyiakan kesempatan yang kita punya ini dengan mogok kuliah? Karena masalah rektor dan tata kelolanya ini? Ah, (mogok kuliah) ini bukan solusi dan tidak menyelesaikan masalah. Sekali lagi, tidak menyelesaikan masalah.

Saya kira sebagai pengurus BEM yang seyogianya merupakan representasi para mahasiswa, BEM haruslah betul-betul menyerukan suatu hal yang memang merepresentasikan mahasiswa secara keseluruhan. Lantas, mogok kuliah, apakah seruan ini benar-benar seruan "hati" para mahasiswa? Ah, saya kira tidak demikian. Saya pribadi menghimbau kepada seluruh rekan-rekan mahasiswa UI untuk lebih berpikir secara dewasa mengenai kegiatan-kegiatan yang mungkin sebenarnya kita semua belum tentu atau tidak benar-benar paham ada masalah apa sebenarnya sehingga kita hanya ikut-ikutan orang. Jelas, seharusnya tidak boleh begitu. Kemudian, kegiatan-kegiatan yang kita ikuti pun tentu boleh merupakan cerminan dukungan kita terhadap gerakan yang sedang berkembang, tapi perlu menjadi catatan bahwa "kegiatan apa pun" ini selama memang tidak mengganggu kegiatan akademis kita, saya kira itu sah-sah saja. Toh, negara ini kan memang negara yang menjunjung nilai-nilai demokrasi kan? Artinya, setiap orang berhak mengekspresikan dirinya dalam berbagai cara, selama memang masih dalam batasan-batasan yang wajar.

Saya paham, mungkin beberapa mahasiswa yang terlampau ekstrem atau let's say sangat menjunjung tinggi nilai-nilai yang memang sepatutnya diperjuangkan, tulisan saya ini pasti dianggap sangat "sampah". Saya tahu, pasti beberapa orang di luar sana berpikir bahwa, "Ah, persetan dengan kuliah, yang penting adalah junjung tinggi keadilan!" dan dilanjutkan dengan: Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia!

Well, yang bisa saya katakan hanya, itu semua adalah hak kalian sebagai seorang yang merdeka. Ya, saya kira demikian. Namun, saya kira, tak kalah penting dari hak sebagai orang yang merdeka adalah bahwa kita semua memiliki otak yang bisa berpikir dan hati nurani yang bisa merasakan. Kedua keunggulan yang dimiliki manusia ini jika dipadupadankan tentu akan membuat kita tidak salah langkah dalam mengambil segala keputusan di setiap jalan yang akan kita tempuh. Ya, saya rasa begitu.

Ya, tentunya kita semua berharap, polemik ini tidak akan menjadi polemik yang berkepanjangan. Semoga UI segera kembali pada jalan yang lurus dan benar. Tentunya harapan semua pihak, terutama, sistem tata kelola di UI segera diperbaiki. Hal ini tentunya karena sangat menyangkut kepentingan orang banyak dan karena sistem yang buruk ini pula banyak pihak yang telah merasa dirugikan. Ya, semoga saja, dan kita doakan yang terbaik untuk UI. #saveUI

0 komentar :

Posting Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.