15 September 2011

Menata Kembali Gerakan #saveUI

Menata Kembali Gerakan #saveUI
Oleh:
Jiwo Damar Anarkie
Kepala Departemen Kajian dan Aksi Strategis BEM FISIP UI 2011


#saveUI
KAMU HARUS TAHU! Pemberian DHC kepada raja Arab Saudi merupakan
fenoma gunung es. Ada ketidakberesan yang lebih besar dalam tata kelola UI.

            Akhir-akhir ini mata saya sering disibukkan oleh kata-kata provokasi seperti itu. Ya, ada masalah di kampus ini. Berita yang beredar menyatakan bahwa UI sedang dalam permasalahan internalnya. Hampir seluruh stakeholder mulai dari rektorat, dekanat sampai mahasiswa merasakan dampak dari permasahan tersebut. Dari masalah status dosen, transparansi keuangan, tata kelola lembaga, pembangunan fasilitas di UI, dan sampai pada puncak gunung es yaitu pemberian “upeti” DHC kepada Raja Arab Saudi.
            Gerakan #saveUI sebenarnya disulut oleh tindakan kurang kooperatif rektorat kepada mahasiswa pada 17 Agustus lalu, menuntut transparansi biaya operasional pendidikan berkeadilan (BOP-B), kemudian disusul oleh gerakan gulingkan rektor UI. Kondisi ini membuat apa yang disebut Tierney sebagai deprivasi relatif melanda diseluruh stakeholder UI (mahasiswa, dosen, dan pegawai) untuk menyerang rektorat terutama sang rektor pemangku jabatan. Mereka kecewa karena adanya kesenjangan antara harapan dan kenyataan apa yang telah dijanjikan rektor dalam Trihama. Setiap civitas seperi tidak tahu hal lain kecuali pemiskinan informasi, sehingga tidak ada yang merasa diperlakukan adil.
            Secara singkat, langkah menyusun gerakan pun dimulai, gerakan gulingkan rektor sebagai pemicu gerakan lain saat ini surut, terutama pascaorasi ilmiah Prof. Emil Salim. Penyusunan gerakan sosial ini kembali menjadi multitafsir. Kemana meraka yang menggulingkan rektor? Tidak ada. Kekecewaan terhadap harapan dan kenyataan itu pun kembali disusun, mulailah pada era baru gerakan apa yang sedang trend saat ini, #saveUI. Tekanan yang ditujukan kepada rektorat UI tak pelak membuat media lokal bahkan nasional membawa isu ini naik kepermukaan. Beberapa tuntunan dari kubu lawan disampaikan pada ruang-ruang publik yang dibuat atas inisiatif mereka sendiri atau media massa. Berbeda dari kubu yang diserang, mereka seolah menutup akses untuk membuka ruang-ruang diskusi masalah. Sekali lagi, harapan tidak sesuai kenyataan di mana pihak UI melalui Kantor Komunikasi dalam beberapa wawancara media massa siap dan pasang badan membuka ruang-ruang diskusi secara TERBUKA terhadap peliknya masalah. Namun, sampai saat ini terkesan menutup diri. Belum lagi tekanan dekanat sebagai kaki tangan rektorat yang menekan halus gerakan BEM fakultas.
            Berbicara mengenai gerakan sosial, #saveUI hendaknya bukan menjadi perilaku kolektif semata. Semua gerakan yang ada seolah berjalan sendiri, memiliki tujuan yang sama, tetapi tidak memiliki ruh untuk membuat sistem apa yang mereka sebut sesuai prinsip good governance. Seolah-olah, ini hanya masuk dalam tataran tujuan formal sementara langkah solusi masih diambang impian. Gerakan ini harusnya dipandang sebagai gerakan yang terorganisasi. Bulan lalu, hampir seluruh mahasiswa Chile turun ke jalan memprotes kenaikan biaya kuliah sampai akhrinya pemerintah Chile dapat diajak berunding kembali. Poin penting dari gerakan ini adalah adanya sistem organisasi yang baik. Ditandai dengan masifnya gerakan yang dilaksanakan. Punya satu ruh dan tujuan. Momen yang dicapai pun tepat.
            Seluruh civitas akademika UI melek terhadap isu ini. Istilah tinggal menyulut semangat mereka agar ada dan ikut berkontribusi di dalamnya. Namun, yang harus dicatat, para pemimpin massa harus siap dengan sistem organisasi yang baik agar mereka yang mulai masuk merasa dihargai, bukan karena landasan moralitas semata, melainkan mereka merasa mengetahui keuntungan dan kerugian gerakan.
            Metode dan inovasi gerakan juga menjadi perhatian penting, jika kemasifan gerakan sudah cukup mumpuni maka gerakan pun hendaknya lebih elegan dan dipandang sebagai sesuatu yang besar dan kuat. Proyeksi gerakan ini haruslah jelas, tujuan, cara, sampai pasca tujuan itu dilaksanakan. Ini yang terlupa dalam #saveUI. Terlalu normatif, menyinggung banyak aspek sehingga terkesan tidak fokus. Melakukan mogok kuliah pun bukan suatu cara yang elegan, karena kita tahu seberapa besar kerugian per harinya jika kita menghitung besarnya biaya pendidikan dibagi setiap harinya.
           Inilah yang menjadi PR kita bersama. Tujuannya bukan untuk menafikan gerakan, melainkan sebagai pengingat agar gerakan ini tetap mengedepankan kaidah-kaidah kesukseskan gerakan sebelumnya. Para pemimpin gerakan harus berpikir ekstra keras, mengolah momen dengan bijak dan elegan. Masih bisa karena gerakan ini baru dimulai. Tapi ingat, jika salah mengambil langkah, jangan menyesal kalau nanti massa gerakan akan jengah lalu meninggalkan gerakan sesukanya.

0 komentar :

Posting Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.