09 September 2011

UI dan Masalahnya, atau Masalah Kita?

Beberapa hari yang lalu, saya sempat membaca sebuah catatan kecil di Facebook dari seorang mahasiswi FISIP UI. Ya, di catatannya itu ia mempersoalkan mengenai polemik pemberitaan UI terkait Rektor Gumilar yang memberikan gelar Doktor Honoris Causa (DHC) kepada Raja Saudi. Dia menyesalkan salah satu pemberitaan di stasiun TV swasta yang ia sebut dengan stasiun "TV Satu" itu yang dianggap sangat menyudutkan UI, mengumbar kejelekan UI, dan sangat tidak etis. Ah ya, tapi sayang saya tidak menyaksikan tayangan yang dimaksud. Namun, saya rasa semua tahu stasiun televisi yang ia maksud. Di sini, seperti yang sudah saya tanggapi juga di catatannya, saya ingin berbagi tanggapan dengan rekan-rekan sekalian.

Pertama, saya akui, saya sangat suka dengan catatan tersebut. Sangat menyenangkan mengetahui masih ada mahasiswa yang berpikir seperti ini. Namun, memang ada baiknya kita semua harus mengetahui masalahnya secara mendalam. Pertama, soal si "TV Satu" itu, for God's sake, biarkanlah begitu, karena memang sudah sifat beritanya seperti itu, provokatif dan ya... "terdepan dalam mengab(u)rkan". Memang menyebalkan, so, please don't watch. Di program studi Jurnalisme Dept. Ilmu Komunikasi sendiri, kami semua sepakat bahwa pemberitaan stasiun televisi tersebut adalah salah satu yang terburuk, tidak beretika, dan sangat tidak menjunjung prinsip jurnalisme. Jadi, ya... biarkanlah. Hal serupa juga terjadi di US, kalau pernah dengar Fox News, nah itu juga semacam stasiun kita itu di sini, pada akhirnya--mengacu pada satu teori komunikasi--masyarakat yang memilih apa yang akan mereka tonton, dan percayalah, ini benar.

Kedua, dalam jurnalisme dikenal yang namanya: bad news is good news. Tidak 100% benar, tapi tidak bisa kita pungkiri bahwa orang-orang suka dengan berita-berita yang mengumbar kesalahan, keburukan, atau kejadian-kejadian buruk (bencana alam, dsb.) Dalam hal ini, berita buruk soal kemanusiaan, seorang pemimpin dalam suatu lembaga pendidikan, adalah suatu hal yang menarik dibahas. Berita ini akan menggiring opini publik ke arah yang memang diagendakan. Ada agenda media, ada maksud dari setiap pemberitaan media. Itu ada, dan memang terjadi. Kalau menurut seorang yang berkomentar di atas komentar saya (di catatan Facebook itu) bilang bahwa berita yang tidak gempar, tidak laku; itu adalah salah persepsi. Itulah jurnalisme yang sudah "keluar" jalurnya. Fungsi pers adalah untuk mengakomodasi segala kepentingan publik, pers yang sudah berorientasi pada kepentingan pihak tertentu dan kepentingan ekonomi maka jelas akan "membesar-besarkan" masalah. Dan masyarakat kita suka dengan hal yang "dibesar-besarkan". And it's true.

Ketiga, soal Bapak Rektor UI kita. Saya sepakat bahwa tentunya beliau memiliki maksud atau pertimbangan tertentu dalam memberikan gelar HC terhadap Raja Saudi. Namun, yang perlu dicermati adalah bahwa bagaimanapun juga, selalu ada prosedur dan beliau bukanlah "single decision maker", dalam arti dalam pemberian gelar tersebut tidak dapat diberikan atas keputusan semata Bapak Rektor. Untuk info jelasnya dapat diklik di sini. Oke, jadi intinya yang dipermasalahkan di sini adalah karena beliau memberikan gelar tersebut tanpa mengikutsertakan guru-guru besar terkait bidang kemanusiaan (HAM), dan itulah yang (menurut guru-guru besar itu) salah.

Keempat, sebagaimana yang kita ketahui juga, Arab Saudi bukanlah suatu negara yang benar-bener menghargai soal HAM. Jika kita lihat pada kasus-kasus TKI kita, tentunya jika sang Raja adalah seorang yang concern terhadap HAM maka tidak akan pernah ada kasus pelanggaran HAM kepada para TKI kita di sana. Atau minimal, jika pun ada maka kasus tersebut akan langsung ditindak tegas. Namun, yang terjadi adalah para TKI kita kerap kali diperlakukan secara tidak kemanusiaan di sana. Maka menjadi sangat ironis bila pemimpin negara tersebut mendapat gelar kehormatan di bidang kemanusiaan sementara ia tidak "manusiawi" (membiarkan) dalam memperlakukan TKI kita di sana. Dan menjadi membingungkan ketika Bapak Rektor kita justru memberikan penghargaan bidang kemanusiaan kepada sang Raja, padahal tentu Pak Rektor juga sangat mengetahui problematika ini. Jadi, rekan-rekan di UI jadi berpikir bahwa pasti ada "sesuatu" di balik ini semua.

Kelima, saya juga sepakat bahwa sebagai mahasiswa, mahasiswa UI khususnya, kita harus berpikir kritis, bukan asal "menggong-gong" tidak jelas, atau "membeo" saja. Kita tidak bisa bilang juga bahwa "ini negatif, itu negatif" atau "ambil positifnya saja". Semua harus dilihat dari sisi positif dan negatif, dan "kenapa" diambil kebijakan seperti itu. Segala permasalahan harus dilihat dari berbagai perspektif. Tidak hanya dari satu perspektif, yaitu perspektif "kita, kita, dan kita". Itu tidak benar. Apa pun masalahnya, sekalipun kita yakin seyakin-yakinnya bahwa orang itu salah, tapi kita juga salah karena kita egois dan tidak berusaha melihat dari perspektif "yang dituduh". Cover both side; intinya harus begitu.

Ide Menggulingkan Rektor

Tentu ini suatu ide yang ajaib. Ajaib karena saya kira ini baru pertama kalinya sejak UI didirikan rektornya digugat atau ada ide untuk menggulingkan kepemimpinannya dari seluruh unsur, dalam arti bukan hanya mahasiswa. Tentu kita tahu, biasanya yang suka bilang "turun" kan mahasiswa, tapi ini para profesor atau guru besar ikut baris di barisan terdepan untuk menggulingkan Pak Rektor. Menurut berbagai sumber, Pak Gumilar adalah sosok luar biasa pada masa terpilihnya beliau sebagai rektor. Kala itu berbagai media ramai memberitakan tentang terpilihnya seorang sosok reformis yang tidak hanya berhasil menjadi rektor termuda dalam sejarah UI, tetapi juga sekaligus menghentikan rezim para dokter yang sekian tahun mengisi posisi Rektor UI sejak terakhir Nugroho Notosusanto yang  merupakan "perpanjangan tangan" Orde Baru saat berkuasa.

Kalau dipikir-pikir, sepertinya mahasiswa UI sejak kepemimpinan Pak Gumilar sudah sering kali protes dengan berbagai kebijakan beliau. Kebijakan beliau yang paling ditentang adalah mengenai kebijakan Biaya Operasional Pendidikan Berkeadilan atau yang dikenal dengan BOP-B. Namun, saya lihat selama ini mahasiswa selalu berjuang sendiri. Maksudnya, tidak ada dosen atau guru-guru besar yang ikut mendukung bahkan sampai menggelar mimbar seperti yang diadakan di Fakultas Ekonomi UI beberapa hari lalu sebagai bentuk protes kepada Pak Rektor. Namun, sekarang, semua serempak dukung "Gulingkan Gumilar".

Loh, ada apa ini? Saya kira mahasiswa perlu cermat akan hal ini. Tidak perlu terlalu tergesa-gesa dalam mengambil sikap. Banyak yang bilang, semua ini akibat UI yang seakan-akan dikomersialisasi. Ah, macam mana? Saya rasa tidak semua orang (baca: mahasiswa) yang mengumbar-umbar soal komersialisasi itu paham betul makna komersialisasi sebenarnya. Tidak percaya? Tes saja!

Ada yang mengatakan bahwa komersialisasi UI sudah terjadi setidaknya sejak tahun 2000, yaitu sejak UI pindah status menjadi BHMN. Sejak itulah muncul Jalur Khusus, Admission Fee atau Uang Pangkal, BOP Berkeadilan (BOP-B), dan sebagainya. Nah, sejak masa itu pula, memangnya ada guru-guru besar yang ikut "berkoar"? Wah, ternyata hampir tidak ada. Hanya mahasiswa yang selalu "ribut". Nah, sekarang ini (sebetulnya) yang diteriaki oleh guru-guru besar adalah masalah tata kelola universitas yang tidak melinbatkan mereka, semacam dilangkahi gitu loh, bukan soal biaya kuliah di UI, dan hal-hal yang dikeluhkan mahasiswa UI selama ini. Jadi, buat teman-teman mahasiswa yang mungkin sedang asik beraliansi, monggo, dinikmati saja koalisi ini, tapi hati-hatilah, mana tahu pasca masanya Pak Gumilar, bisa jadi rekan-rekan sekalian akan berhadapan dengan mereka yang sebenarnya juga tidak pro mahasiswa. Mereka hanya memanfaatkan momen ini karena tahu betul bahwa mahasiswa tentu akan mendukung gerakan ini. Jadi, berhati-hatilah dalam menilai orang. Semoga dapat menambah kekayaan berpikir.

Salam,

Fauzan Al-Rasyid
Broadcast Journalism, Batch 2008
Department of Communication
Faculty of Social and Political Science
Universitas Indonesia

Head of Communication Office BEM FISIP UI 2011
Mobile +62 858 8551 2023 Twitter: @fauzanalrasyid
E-mail: fauzan.al@ui.ac.id, fauzan.alrasyid@gmail.com
Blog: http://fauzanalrasyid.blogspot.com/

0 komentar :

Posting Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.