Welcome to My World!

Welcome visitors! Please enjoy my site and I hope you can get many useful information. If you wish, you may contact me through Facebook, Twitter, or any other social media that I linked on the menu bar above. Thank you.

Die Poskarten

This is my another blog: Die Poskarten. This blog will show you all my postcards collection. If you want to swap a postcard, please don't hesitate to contact me from the menu bar above.

Bonjour à Tous !

"Bonjour à Tous !"is my Tumblr site. Please take a look on it and maybe you can find some funny contents that you will love. You can also follow me on Tumblr to get my updates on the site.

Please Do Not Copy

You are welcome to link to my site and use my resources in your classroom, but please respect my hardwork and do not copy my page or files and add them to your website. Thank you.

Russia Beyond the Headlines in Bahasa Indonesia

Russia Beyond the Headlines, your guide to Russia, a diverse and complex country cannot be understood in the context of stereotypes. Now available in Bahasa Indonesia!

01 Oktober 2011

Saya Tidak Diam


Musuh kebebasan pers ada di luar dan di dalam diri wartawan serta medianya. Membiarkan diri tak sanggup membicarakan kebenaran karena pertimbangan kedekatan dan hubungan baik, sama berbahayanya dengan membiarkan adanya regulasi yang membatasi kemerdekaan.
Masmimar Mangiang, dalam “Kehormatan Jurnalisme

Saya memberi perhatian lebih pada kalimat: membiarkan diri tak sanggup membicarakan kebenaran karena pertimbangan kedekatan dan hubungan baik, sama berbahayanya dengan membiarkan adanya regulasi yang membatasi kemerdekaan. Ini menyangkut pandangan yang sayayang mungkin bagi sebagian orang katakan"tuduhkan" kepada teman-teman sejurusan saya sendiri. Namun, jika tidak ada yang pernah memulai bicara, saya pikir semua ini akhirnya hanya terpendam di benak mereka yang sebetulnya mungkin juga merasa hal yang sama seperti yang sama seperti yang saya rasakan. Jika hanya atas dasar "kedekatan" atau ada hubungan baik yang terbina lantas kita tidak mau bersuara, sekalipun kita tahu bahwa ada kekeliruan yang terjadi, itu berartiseperti yang saya kutip dari dosen saya, Bang Mimarsama berbahayanya dengan membiarkan regulasi yang membatasi kemerdekaan. Dalam hal ini, saya tidak diam.

Terima kasih Bang Mimar. Tulisan Bang Mimar sangat menginspirasi saya dan secara kebetulan "kata-kata pamungkas" di paragraf terakhir tulisan Abang sangat cocok menggambarkan apa yang saat ini saya sebut sebagai perjuangan mengukapkan kebenaran. Mungkin bagi sebagian orang kata-kata "perjuangan mengukapkan kebenaran" terkesan terlalu lebay, tapi bukankah seharusnya kita berjuang demi kebenaran?

   Add Friend

Komentar-komentar Lucu

Saya rasa nama saya akhir-akhir ini sedang jadi pembicaraan super hangat di jurusan saya. Ini serius, bukan ke-Ge-Er-an. Bagaimana tidak, seorang Fauzan Al-Rasyid lagi-lagi "bikin onar". Ah, ya ampun, Fauzan, kok enggak kapok-kapok ya? Ah, biarlah, toh sebenarnya niat saya baik, tapi mungkin beberapa orang tidak mampu melihat sisi niat baik tersebut. Mereka justru (seperti isi salah satu komentar yang masuk) "memasang tameng" untuk kelompoknya. Tentu ini perlu dicermati bahwa apakah artinya mereka menunjukkan mereka solid atau justru solid dalam membela diri, bukan kebenaran?

Ah, ya... teman-teman bisa membaca sendiri. Intinya, banyak sekali yang memberi komentar di sana (di blog) berkomentar hal-hal yang err... tidak berhubungan dengan substansi yang saya kritik. Ada yang membahas soal "keluarga", ada juga yang bahkan mebawa-bawa Tumblr saya dan pacar saya (kan udah ngaco itu?). Bahkan ada yang bilang bahwa dia lebih suka isi Tumblr saya dan pacar saya daripada isi Blogspot saya karena membahas hal-hal seperti ini. Oke, saya hargai itu, tapi itu sangat out of context. Ada juga yang menulis soal saya yang dulu ke kampus pernah menyematkan pin Garuda di baju saya, dan macam-macam lah... Jadi, apa ya...? Lebih mengomentari diri saya, tapi bukan isinya. Saya enggak marah loh ya... Ya... enggak masalah sih kalau mau komentar tentang diri saya, tapi itu jadi kelihatan anak-anak Komunikasi (yang berkomentar aneh-aneh ini) enggak berpikir atau menyorot pada substansi masalah.

Yang lucunya juga, ada yang menuntut soal "cover both side". Saya enggak tahu ya, ini saya yang bodoh atau bagaimana, tapi ini kan kritik, ya namanya kritik, bukan news. Ya mbok dibedakan toh. Selain itu, ada pula yang membawa-bawa soal jabatan saya di BEM FISIP UI saat ini. Ah, saya kira ini semua semakin mengada-ada. Entah ya, saya kira teman-teman di sana tidak mampu melihat niat saya. Saya sama sekali tidak ingin merusak citra HMIK. Toh, HMIK yang berisi anak-anak Komunikasi lebih tahu soal bagaimana membuat pencitraan yang lebih baik. Dan saya (sebagai anak Komunikasi yang masih waras) sama sekali tidak berniat "menjatuhkan" HMIK, atau apa pun yang mungkin mereka pikirkan tentang saya.

Ah, ya... saya pikir, apakah teman-teman yang berkomentar itu tidak berpikir, bahwa merekalah yang menjatuhkan citra HMIK? Kok bisa? Ya dengan komentar yang aneh-aneh dan cara mereka menjawab dengan hal-hal tidak masuk akal dan tidak sedikit ditambah dengan emosi, saya kira itu membuat publik melihat bahwa anak-anak Komunikasi tidak mampu menerima kritikan. Ya... saya kira begitu. Mungkin saya salah, tapi mungkin teman-teman bisa membaca dan menilainya sendiri.