18 November 2011

GRAFITY: Sesuatu Tentang Mimpi

Maskot GRAFITY 2010
Sebelum memulai isi tulisan, ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan. Pertama, tulisan ini saya dedikasikan untuk seluruh panitia GRAFITY (Get Ready for FISIP UI Try Out) 2011 dan juga panitia-panitia GRAFITY pada masa-masa mendatang yang sedang bekerja keras menyiapkan acara besar ini. Kedua, tulisan ini saya buat dengan harapan dapat memotivasi teman-teman panitia GRAFITY. Ketiga, kepada Andhika Mauludi atau yang akrab disapa Andhibul selaku Project Officer (PO) GRAFITY 2011, semoga tetap kuat dan lekas sembuh dari sakitnya. Percayalah, anak-anak GRAFITY di kampus sangat membutuhkan Pak PO, tapi lebih dari itu, tentu mereka (dan saya juga) berdoa agar Pak PO kembali sehat. :-)

Oke, GRAFITY.  Saya ingin sedikit bercerita tentang si GRAFITY ini. Rasanya saya memang punya ikatan emosional dengan acara yang satu ini. GRAFITY ini, seperti kepanjangannya, adalah sebuah acara try out atau simulasi tes masuk perguruan tinggi negeri, seperti SNMPTN dan/atau SIMAK UI. Saya mengenal acara ini sejak saya masih menyandang status sebagai mahasiswa baru FISIP UI tahun 2008. Sekarang tahun 2011, itu artinya tiga tahun silam. Sebetulnya, setelah saya ingat-ingat, pada saat saya masih duduk di kelas XII SMA, saya ingat bahwa pernah ada beberapa mahasiswa UI yang datang ke kelas saya dan berbicara soal try out. Baru ketika saya lihat pendaftaran atau open recruitment panitia GRAFITY di kampus, saya sadar bahwa GRAFITY dulu pernah roadshow  ke sekolah saya. Hanya saja, saya bukan tipe anak SMA yang suka ikut try out dari luar, sekalipun yang menyelenggrakan dari UI.

Oke, kembali ke cerita. Saat itu, saya (pada awalnya) hanya ya… bisa dikatakan sekedar iseng-iseng ikut open recruitment panitia GRAFITY 2008. Dan, ya… siapa sangka, saya pun diterima. Saya diterima di Divisi Humas, Publikasi, dan Dokumentasi (HPD). Memang, pada saat itu hanya itulah pilihan saya. Entah kenapa, sejak masih di bangku SMA, saya tertarik dengan hal-hal yang berhubungan dengan humas dan publikasi—walaupun toh di bangku kuliah ini pun saya tidak mengambil program studi Humas. Ya, saya hanya suka dengan masalah per-HPD-an, dan mulai saat itu “karir” saya di dunia GRAFITY pun dimulai.

Keluarga GRAFITY pertama saya, GRAFITY 2008
Setelah saya resmi menjadi seorang staf HPD GRAFITY 2008, saya tentu berusaha bekerja maksimal di kepanitiaan ini. Ah ya, lagipula kebetulan saya sedang berada dalam suasana yang kurang menyenangkan dengan ospek jurusan saya, jadi ya… saya pikir lebih baik saya mengembangkan diri di sini (GRAFITY) sajalah. Apalagi, saya lihat (pada saat itu) acara ini adalah program kerja BEM FISIP UI. Saya jadi berpikir, mana tahu dengan ikut kepanitiaan ini bisa membuka jalan saya untuk dapat bergabung di BEM FISIP UI tahun depan. Selain itu, saya bisa kenal banyak teman dan senior, tidak terbatas pada jurusan saya saja. Menurut saya itu adalah suatu hal yang sangat baik yang bisa saya dapatkan dengan ikut kepanitiaan ini. Hasilnya? Ya, sangat sesuai dengan ekspektasi saya. Saya belajar banyak di GRAFITY. Saya belajar mengatur waktu antara waktu kuliah, roadshow, rapat, dan sebagainya. Saya belajar bernegosiasi dengan pihak sekolah. Ya… saya juga jadi tahu sisi baik dan “busuknya” suatu sekolah. Ada yang murni tulus, tapi ada juga yang seperti musang. Ah, agak kasar ya? Tapi memang begitu adanya. Tidak hanya itu, saya belajar mengenal jalan di Jakarta! Hahaha, ya, karena saya termasuk orang yang  buta jalan, tapi dengan ikut GRAFITY, saya sekarang jadi banyak tahu jalan, termasuk jalan-jalan tikus. Selain itu, saya kenal dengan banyak pengurus BEM FISIP UI. Bagi saya, pada waktu itu ketika masih sebagai mahasiswa baru, kenal dengan pengurus BEM merupakan suatu hal yang membanggakan. Bagaimana tidak? Di saat teman-teman (sejurusan) saya sibuk ospek, saya sudah rapat di ruang BEM FISIP UI dengan panitia inti GRAFITY, saya sudah keliling SMA dengan jaket kebanggaan UI yang “menyilaukan” mata anak-anak SMA, saya mengendarai mobilnya ketua BEM masa itu untuk roadshow, saya kenal dengan banyak mahasiswa angkatan 2007 di luar jurusan saya, dan ya… banyak hal lainnya.

GRAFITY meninggalkan kesan mendalam bagi saya. Hal ini membuat saya yakin untuk kemudian bergabung di kepengurusan BEM FISIP UI 2009, di Biro Dana Usaha. Ya, di biro inilah GRAFITY “dilahirkan”. Dan di biro inilah saya kemudian dipercaya menjadi Project Officer GRAFITY 2009. Sejujurnya, setelah GRAFITY 2008 selesai, saya memang punya angan-angan untuk menjadi PO GRAFITY selanjutnya, dan ternyata, hal itu terwujud.

Panitia GRAFITY 2009 di SMAN 70 Jakarta
Selama menjadi PO, saya kembali mendapat banyak pembelajaran. Sejujurnya, saya merasa sebagai orang yang paling kompeten untuk menjadi seorang PO GRAFITY. Mengapa saya berpikir demikian? Karena di tahun 2008, saya tahu semua seluk-beluk masalah GRAFITY, dan saya tahu langkah apa saja yang harus dilakukan agar di tahun berikutnya GRAFITY lebih tertata dengan baik. Saya tahu apa yang terjadi dengan HPD, sistem tiket, masalah acara, masalah keuangan, dan banyak hal lainnya, dan bisa saya pastikan bahwa sayalah yang paling tahu masalah-masalah itu. Mungkin ada benarnya, tapi ternyata, sekedar paham masalah dan punya solusi tidak membuat seorang PO berhasil memimpin. Inilah yang saya pelajari. Menjadi PO bukanlah sekedar soal kematangan konsep yang sistematis, tapi lebih dari itu, menjadi PO adalah soal keberanian, kepedulian, dan tanggap. Berani soal apa? Berani dalam mengambil keputusan. Banyak masalah terjadi dan seorang PO harus bisa “ketok palu” sebelum masalah semakin besar. Oleh karena itu dibutuhkan sebuah keberanian dalam mengambil keputusan serta mempertanggungjawabkannya. Soal kepedulian; kepedulian yang bagaimana? PO tidak berjalan sendiri. PO memiliki tim yang harus dia ayomi. Oleh karena itu, PO tidak hanya memberikan perintah dan memantau timnya bekerja, tapi lebih dari itu, PO harus menunjukkan bahwa ia memang benar-benar peduli pada acara tersebut, dan khususnya kepada timnya itu sendiri. Dan soal tanggap, ya, seorang PO harus tanggap. Tanggap dalam melihat kemungkinan-kemungkinan atau peluang-peluang yang akan menghambat atau bahkan yang akan mendukung acara. Ketiga hal ini saya dapatkan selama menjadi PO GRAFITY 2009. Bukan hal mudah. Bahkan, sangat tidak mudah. Terkadang ada konflik, tapi lagi-lagi dari konflik itu saya belajar. Saya rasa, memang tahun 2009 itu adalah tahun yang penuh perjuangan, dan khususnya pada tahun itu, GRAFITY memang benar-benar "mengalihkan duniaku".

Kemudian di tahun 2010, saya memutuskan untuk melanjutkan karir saya di BEM FISIP UI. GRAFITY 2009 tidak saya katakan sukses. Memang tidak ada kerugian, tapi saya merasa gagal. Dan saya merasa tidak bisa diam. Saya merasa harus “menebus” kegagalan itu di tahun berikutnya. Tentunya, saya tidak akan jadi PO lagi. Saya akan mentransfer pengetahuan saya selama dua tahun di GRAFITY kepada mereka yang akan melanjutkan GRAFITY di 2010. Hal itu hanya mungkin saya lakukan jika saya menjadi orang yang “punya” GRAFITY. Dalam hal ini, artinya saya harus menjadi Kepala Biro Dana Usaha (Danus) BEM FISIP UI. Ya, dan… voilà! Saya pun menjadi Kepala Biro Danus BEM FISIP UI 2010. Ditemani oleh rekan seperjuangan saya di Biro Danus BEM FISIP UI 2009, Frisca Amelia, yang kemudian menjadi mitra kerja (wakil) saya di tahun 2010, serta didukung oleh rekan-rekan staf Biro Danus BEM FISIP UI 2010 yang luar biasa, saya kembali berangan-angan bahwa tahun 2010 harus menjadi GRAFITY tersukses selama sejarahnya. Sebetulnya, tidak begitu ada untungnya buat saya, karena toh bukan saya PO-nya. Kalau sukses pun, yang bangga dan yang merasakan indahnya “kemenangan” itu adalah si PO, bukan saya. Saya sebagai steering committee hanya bisa berbagai ilmu dan sedikit membantu baik dalam segi konsep maupun teknis, tetapi tetap saja yang mengerjakan adalah staf-staf Danus saya.  Namun, ini bukan soal siapa PO-nya, siapa yang akan sukses nanti, atau GRAFITY-nya siapa yang lebih baik. Lebih dari itu, ini adalah masalah impian (dreams) GRAFITY. Bagi saya, GRAFITY bukan sekedar program kerja atau sekedar acara try out. GRAFITY adalah dreams. Banyak hal luar biasa sulit datang selama perjalanan GRAFITY, tapi selalu ada harapan untuk GRAFITY yang lebih baik. Dan GRAFITY selalu percaya itu. Panitia GRAFITY percaya bahwa… bahkan di titik yang paling putus asa sekalipun, akan selalu ada keajaiban. Mungkin tulisan ini terkesan semakin mengkhayal, tapi memang begitu culture yang ada di GRAFITY.

Paint your dream as you want with GRAFITY 2009
Kultur dreams ini terlukis dalam berbagai tagline GRAFITY di setiap tahunnya. Di tahun 2008 dengan “Let’s chase your way to catch your dream!”, di 2009 dengan “Paint your dreams as you want!”, di 2010 dengan “Saatnya beraksi, bukan hanya bermimpi!”, dan di 2011 ini “Are you ready to shine?” Ya, ini semacam “the power of dreams”. Bukan soal tagline Honda, bukan. Inilah GRAFITY, we believe in dreams. Dan kenapa ada bintang di setiap logo GRAFITY? Karena itulah mimpi kita. Mimpi setinggi bintang. Anak-anak yang bermimpi ingin masuk PTN, atau khususnya UI, dan sama halnya dengan para panitia yang ingin GRAFITY ini sukses dan berkesan bagi para pesertanya. Jadi, ini semua soal dreams. Masuk PTN atau UI adalah dreams-nya anak-anak SMA. Bahkan, termasuk target roadshow yang dibuat oleh divisi HPD; itu juga dreams. Dan setiap tahunnya, GRAFITY bermimpi untuk menjadi GRAFITY yang lebih besar dari tahun sebelumnya. Itulah dreams.

Selama ini di GRAFITY saya telah belajar banyak. Perjalan yang dimulai dari staf divisi HPD GRAFITY 2008, menjadi PO GRAFITY 2009, dan akhirnya dipercaya menjadi Kepala Biro Danus BEM FISIP UI 2010 adalah soal dreams saya kepada GRAFITY.  GRAFITY berbeda dengan acara-acara try out lain pada umumnya. Oke, secara konsep memang tidak jauh beda. Namun, saya selalu mengatakan pada teman-teman panitia GRAFITY selama tiga tahun terakhir ini bahwa ada niat baik dari GRAFITY untuk membantu teman-teman SMA. Kita memang membuat acara yang profitable; itu jelas. Namun, kita tidak hanya memikirkan profit melainkan juga kualitas GRAFITY dalam menjaga kredibilitasnya sebagai penyelenggrara try out. Dan selalu ada konsep dreams, baik secara sadar maupun  tidak, yang kita tularkan di dalam kepanitiaan ini dan juga kepada anak-anak SMA di setiap roadshow GRAFITY. Dan itu membuat kita berbeda. Ya, saya katakan bahwa GRAFITY berbeda dari yang lain.

Panitia GRAFITY 2010 setelah roadshow di SMAN 60 Jakarta
Selain itu, GRAFITY, bagi saya adalah keluarga. Kepanitiaan ini bahkan sama besarnya dengan jumlah anggota pengurus BEM FISIP UI, mungkin akan semakin lebih banyak. Menjadi panitia GRAFITY berarti telah menjadi bagian dari keluarga Biro Dana Usaha BEM FISIP UI, dan itu artinya telah menjadi bagian dari keluarga besar BEM FISIP UI. Ya, kepanitiaan ini adalah sebuah keluarga besar. Adalah sebuah pengalaman yang tidak akan terlupakan bekerja bersama orang-orang hebat di kepanitiaan GRAFITY. Dan percayalah bahwa kalian akan menjadi orang-orang hebat setelah dari kepanitiaan ini. Kalian akan belajar banyak dari kepanitiaan ini. Kalian akan punya banyak kenangan yang tidak akan bisa kalian lupakan dari kepanitiaan super ini. Inilah GRAFITY, dan kalian tahu bahwa kalian berada di sebuah kepanitiaan yang tepat untuk mengembangkan diri kalian.

Tahun ini, GRAFITY akan “melebarkan sayapnya” ke tanah Pariangan (Bandung). GRAFITY tahun ini akan menjadi GRAFITY yang terbesar sejak GRAFITY pertama. Diadakan pada tanggal 27 November serentak di lima sekolah di Jabobek, dan tanggal 4 Desember di Bandung. Kepada seluruh panitia, jaga semangat kalian. Ingat, kalian membawa “mimpi” GRAFITY dan “mimpi” anak-anak SMA. Jadi, tetap SEMANGAT! Dan pastikan bahwa tahun ini adalah GRAFITY terhebat sepanjang sejarahnya, dan adalah kalian yang berada di balik kesuksesan GRAFITY tahun ini.

Oh ya, walau saya sudah bukan lagi mahasiswa dan tidak akan ikut roadshow mana pun, tapi saya punya mimpi, suatu hari nanti GRAFITY ini akan jadi acara yang sangat besar. Tidak hanya diadakan di tujuh sekolah, bahkan bisa lebih dari itu. GRAFITY ini bisa lebih besar daripada Bedah Kampus UI, bisa jadi acara yang selalu ditunggu-tunggu oleh anak-anak SMA. Ya, itu mimpi saya, dan saya percaya suatu hari nanti mimpi itu pasti terwujud. Who knows, siapa tahu nanti anak-anak saya yang akan mengikuti GRAFITY ini? Hahaha, bisa saja kan?

Well, saya rasa cukup sekian, dan ingatlah ketika harapan itu semakin tipis, percayalah bahwa keajaiban itu ada. Jangan pernah berhenti berharap dan bermimpi. Karena GRAFITY selalu percaya pada kekuatan mimpi, kita mengajak ribuan orang bermimpi, maka kita pun tidak boleh berhenti bermimpi dan percaya bahwa kita bisa. Selamat berjuang!


Panitia GRAFITY 2010 di SMAN 1 Bogor, 28 November 2010

   Add Friend

1 komentar :

Posting Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.