Welcome to My World!

Welcome visitors! Please enjoy my site and I hope you can get many useful information. If you wish, you may contact me through Facebook, Twitter, or any other social media that I linked on the menu bar above. Thank you.

Die Poskarten

This is my another blog: Die Poskarten. This blog will show you all my postcards collection. If you want to swap a postcard, please don't hesitate to contact me from the menu bar above.

Bonjour à Tous !

"Bonjour à Tous !"is my Tumblr site. Please take a look on it and maybe you can find some funny contents that you will love. You can also follow me on Tumblr to get my updates on the site.

Please Do Not Copy

You are welcome to link to my site and use my resources in your classroom, but please respect my hardwork and do not copy my page or files and add them to your website. Thank you.

Russia Beyond the Headlines in Bahasa Indonesia

Russia Beyond the Headlines, your guide to Russia, a diverse and complex country cannot be understood in the context of stereotypes. Now available in Bahasa Indonesia!

28 Desember 2011

Menulislah untuk Mengubah Dunia

"We are told to remember the idea, not the man, because a man can fail. He can be caught, he can be killed and forgotten, but 400 years later, an idea can still change the world. I've witnessed first hand the power of ideas, I've seen people kill in the name of them, and die defending them... but you cannot kiss an idea, cannot touch it, or hold it... ideas do not bleed, they do not feel pain, they do not love..."—Evey Hammond, from "V for Vendetta" (2005)
Pernahkah kita berpikir bahwa terkadang ide-ide kecil atau pemikiran-pemikiran yang mungkin sering kali kita anggap sepele atau sederhana bisa membuat sebuah perubahan besar? Mungkin sering terlintas dalam pikiran kita mengenai hal-hal yang luar biasa, tapi kadang kita anggap tidak penting, atau bahkan konyol? Saya pernah berpikir begitu, tapi percayalah pemikiran seperti itu tidak benar. Ide atau pemikiran adalah sebuah anugerah luar biasa yang Tuhan berikan kepada manusia. Setiap manusia memiliki ide atau pemikiran yang berbeda-beda atas sesuatu hal, dan percayalah apa pun ide yang terpikirkan, sebuah pemikiran merupakan buah intelejensia manusia, dan itu sangat beharga—tidak ternilai.

Beberapa hari lalu, saya baru saja menonton film "V for Vendetta". Well, saya tidak akan berbicara mengenai isi film ini, tapi ada sedikit kutipan yang sangat menarik dari film ini. Kutipan tersebut telah saya tulis di awal tulisan ini. Satu hal yang penting (menurut saya) adalah bahwa dalam kutipan tersebut dikatakan: "We are told to remember the idea, not the man, because a man can fail. He can be caught, he can be killed and forgotten, but 400 years later, an idea can still change the world." Ini merupakan suatu indikasi bahwa kita haruslah menghargai sebuah pemikiran, bukan orang yang mengeluarkan pemikiran tersebut. Seseorang bisa saja berasal dari berbagai macam latar belakang yang berbeda, tapi sebuah pemikiran tidak mengenal latar belakang seseorang. Sebuah pemikiran memperlihatkan suatu ide atau gagasan atas sesuatu yang ditujukan demi sebuah perubahan atau perbaikan. Dan yang terpenting, ide atau pemikiran tidak bisa mati, sedangkan si pencetus ide akan mati. Namun, sebuah ide masih bisa mengubah dunia, bahkan di ratusan tahun mendatang.

Apakah benar demikian? Apakah benar sebuah ide masih bisa mengubah dunia bahkan hingga ratusan tahun mendatang? Ya, sangat bisa. Oleh karena itu, diperlukan satu hal sederhana untuk membuat ide tersebut abadi: menulis. Ya, sederhana, kita hanya perlu menulis ide tersebut. Hal ini menjadi masuk akal ketika saya pun teringat mengenai bagaimana perjuangan kemerdekaan bangsa ini di masa-masa penjajahan kolonial Belanda. Segala macam ide untuk mempersatukan bangsa dimulai dari sebuah ide yang dituliskan dan dipublikasikan. Para pemuda pribumi baik yang di dalam negeri maupun yang saat itu sedang belajar di Belanda saling menulis gagasan-gagasan mereka mengenai konsep persatuan bangsa untuk mendapatkan kemerdekaan. Mungkin Ada ingat bahwa para founding fathers negeri ini pun kerap kali dijebloskan ke penjara bahkan hingga diasingkan hanya karena menerbitkan tulisannya yang berisi gagasan-gagasan yang dianggap mengancam oleh Belanda pada saat itu. Inilah kekuatan ide yang dituliskan. Siapa yang sangka bahwa dari ide-ide kecil segelintir orang mengenai persatuan demi kemerdekaan bangsa pada akhirnya dapat berdampak pada terwujudnya persatuan itu sendiri?

Contoh lainnya, mungkin Anda juga pernah mendengar berbagai teori-teori sosial, ekonomi, politik, dan berbagai ideologi-ideologi yang hingga kini berkembang di dunia. Dari manakah asalnya teori-teori sosial itu? Dari manakah asalnya ideologi liberalisme, kapitalisme, marxisme, komunisme, dan sebagainya itu? Semua pemikiran itu berasal dari pemikiran seorang manusia yang kemudian dituangkan ke dalam tulisan dan dipublikasikan. Dan pemikiran-pemikiran populer masa kini yang banyak sekali diadopsi di berbagai negara-negara (bahkan di tingkatan individu) tidaklah diterima secara mentah pada masanya. Tidak sedikit orang-orang yang mencemooh konsep-konsep yang dicetuskan oleh para pencetus teori dan ideologi ini. Namun, apa yang membuat ide ini bertahan bahkan akhirnya dipakai oleh banyak umat manusia di dunia ini? Tidak lain dan tidak bukan karena ide ini ditulis dan dipublikasikan. Orang-orang pun membaca, dan percayalah, jika Anda berpikir bahwa pemikiran Anda itu "gila" atau "bodoh" maka Anda bukanlah satu-satunya di dunia ini yang berpikir "gila" atau "bodoh" layaknya apa yang Anda pikirkan tersebut. Akan ada orang-orang yang memiliki pemikiran yang sama dengan Anda, dan orang-orang yang sepemikiran dengan Anda ini tidak akan membiarkan kesamaan pemikiran ini lenyap begitu saja. Dengan demikian, merekalah yang akhirnya menyebarkan "pengaruh" atas ide atau pemikiran Anda tersebut. Pada akhirnya sebuah ide ini tersosialisasi dengan baik di masyarakat dengan bukan tidak mungkin bahwa pemikiran ini benar-benar diadopsi, dan ini berarti Anda mengubah dunia.

Jadi, saya kira, mengubah dunia tidak harus dengan hal-hal ekstrem yang mungkin sering kali dianggap sebagai jalan pintas dan super cepat untuk membuat sebuah perubahan. Perubahan itu memang terjadi ketika ada aksi ekstrem yang dilakukan, tapi perubahan tersebut tidak berpondasi. Dalam arti, tidak ada dasar yang benar-benar kuat dalam membuat perubahan tersebut—hanya ada semangat yang berlandaskan emosi, tapi tidak diiringi dengan pemikiran yang kuat. Lain halnya jika kita menuliskan ide kita dan membaginya pada orang-orang. Perubahan itu pun akan terjadi, tapi memang bisa cepat atau lambat. Hanya saja yang membedakan adalah dasar atau alasan yang menjadi pegangan mereka yang mendukung perubahan lebih baik atau lebih memiliki pondasi. Dan hal yang lebih mengejutkan lagi adalah dalam situasi orang-orang yang ingin menuntut perubahan akibat "tertular" dari apa yang Anda tulis, mereka bisa jauh lebih bersemangat dan melakukan jauh lebih besar dari apa yang mungkin pernah Anda pikirkan. Jadi, perubahan butuh proses. Perubahan bukan sekedar soal hasil atau output.

Menulis mengubah dunia. Dunia di sini tidak harus berarti dunia secara harfiah. Dunia bisa berarti hidup Anda, dunia Anda, lingkungan tempat Anda bekerja atau berinteraksi setiap harinya, dan banyak hal lainnya. Apakah Anda percaya? Sejujurnya, saya pernah tidak percaya, tapi suatu hal mengubah itu semua dan saya menjadi percaya bahwa dengan menuliskan ide atau gagasan Anda mengenai sesuatu maka pemikiran tersebut akan mendapat respon. Ada yang suka, tapi bisa juga lebih banyak yang tidak suka. Namun, perlu diingat, bahwa Anda bukanlah satu-satunya orang di dunia ini yang berpikir bahwa suatu hal salah atau hal itu tidak seharusnya dijalankan demikian. Artinya, perlu ada perubahan atau perbaikan. Dan Anda tidak perlu melakukan hal-hal ekstrem hanya untuk menunjukkan bahwa Anda tidak setuju. Tulislah dan beri tahu dunia bahwa Anda tidak setuju. Sebarkan pemikiran Anda kepada orang-orang. Beri tahu mereka bahwa Anda punya gagasan yang lebih baik. Tentunya Anda pun harus siap bahwa tidak semua orang pula akan setuju. Beberapa mungkin menjadi tidak suka atau bahkan benci dengan Anda, tapi apa masalahnya? Seisi dunia tidak akan membenci Anda hanya karena Anda menulis dan berbagi sesuatu mengenai pemikiran Anda. Hanya segelintir orang tertentu saja dan anggaplah itu sebagai tantangan bagi Anda untuk meyakinkan mereka bahwa pemikiran Anda memang tepat untuk diaplikasikan.

Apakah ini hal yang rumit? Tidak, ini jelas sangat sederhana. Anda hanya perlu menulis. Iya, menulis. Tidak harus dengan secarik kertas dan sebatang pena. Anda bisa menuliskan ide Anda di blog misalnya atau bisa di berbagai media lain. Dan pastikan orang lain membaca tulisan Anda itu. Siapa tahu mereka pun setuju dengan apa yang Anda usulkan. Dan siapa tahu, mereka yang menjadi penggerak atau motor perubahan; bukan Anda, Anda adalah otaknya.

Jadi, apakah Anda punya ide jenius tentang sesuatu? Jangan pernah anggap sepele ide Anda. Tulis dan cobalah! Karena saya sudah membuktikannya sendiri. Namun, sekali lagi, mungkin Anda akan "dikutuk" oleh beberapa orang yang tidak menyukai gagasan Anda, tapi siapa peduli? Jika gagasan itu jenius dan gagasan itu mampu mengubah hal yang Anda anggap salah maka Anda telah melakukan hal yang benar. Mereka yang tidak suka hanyalah "korban" dari perubahan atau perbaikan sistem yang mereka anggap sudah nyaman berada di dalamnya. Jadi, cukup masuk akal jika mereka yang berada di dalam sistem menjadi tidak menyukai Anda, terkadang mereka akan terbawa situasi dan suasana. Namun, yakinlah bahwa Anda tidak pernah sendiri. Anda bukanlah satu-satunya orang yang memikirkan apa yang Anda pikirkan, hanya saja Anda berani untuk menulis dan membagi ide Anda kepada publik, dan itulah yang membuat Anda beda dari pemikir-pemikir lain (yang mungkin hanya sekedar berpikir). Menulislah karena menulis adalah langkah awal membuat perubahan. Jangan menyepelekan kekuatan sebuah tulisan. Selamat mencoba!

27 Desember 2011

Media dan Kelompok Waria

Dalam kehidupan masyarakat Indonesia, pada umumnya kaum waria belum diterima sebagaimana orang-orang berorientasi seksual normal (heteroseksual). Pada umumnya masyarakat menganut paham bahwa hanya ada dua jenis kelamin saja yang diakui, yaitu pria dan wanita. Seorang pria harus bersikap sebagaimana halnya sikap seorang lelaki (maskulin), sedangkan wanita harus bersikap sebagaimana halnya sikap seorang wanita (feminin). Hal ini berarti tidak ada pengakuan masyarakat terhadap pria yang bersikap dan bertingkah-laku seperti wanita  yang biasa disebut waria atau banci.

Walaupun secara psikologis kaum waria tidak digolongkan sebagai orang-orang ’berpenyakit’, masyarakat Indonesia masih menganggapnya sebagai momok dan patut dijauhi. Baik masyarakat yang tinggal di kota besar maupun masyarakat di daerah terpencil kerap mengucilkan kaum ini. Anggapan bahwa waria adalah kaum yang kerap kali melakukan tindak kriminalitas menjadi salah satu alasan mengapa masyarakat merasa perlu menjauhi kaum tersebut. Persepsi semacam ini bisa terjadi karena ada peran media massa dalam pencitraan kaum waria.

Dalam sebuah penelitian yang menganalisis muatan berita yang mengangkat kasus dari kaum waria di harian Kompas dan Jawa Pos terbitan 2001 – 2004, ditemukan bahwa dalam konsep kriminalitas, waria digambarkan sebagai kelompok yang sering melakukan tindak kejahatan, seperti mencuri uang saat melayani, merampas ponsel, membunuh kekasihnya karena cemburu dan kriminalitas lainnya. Makna dan pencitraan yang muncul dalam teks cenderung negatif. Dikatakan cenderung negatif karena sekalipun dalam pemilihan kata atau frase tidak terdapat kata berkonotasi negatif, tapi secara tidak langsung pemberitaan kriminalitas yang dilakukan media memberi citra negatif pada gender waria. 

Dalam tema kriminalitas, Jawa Pos dan Kompas memang lebih berperan sebagai pihak yang menceritakan fakta. Meskipun demikian, fakta yang ditampilkan dalam pemberitaan telah mengonstruksi identitas waria sebagai individu atau kelompok yang sering melakukan tindak kriminalitas—sekalipun dalam hal ini media bersikap netral.

Ada beberapa kasus yang menggambarkan stereotiping terhadap kaum waria di Indonesia. Salah satunya adalah adanya tokoh waria yang diperankan oleh Tessy Srimulat. Srimulat yang pernah bertahan hampir selama delapan tahun di  Indosiar, hampir tidak pernah absen menampilkan Tessy yang identik dengan tokoh waria berdandanan tebal dan berperilaku ceroboh sehingga mengundang tawa dari penonton. Tokoh banci Tessy ini disukai penonton sehingga akhirnya muncullah berbagai tokoh banci lain, seperti  Aming, Tora Sudiro, dan Sogi Indradhuaja dalam acara Extravaganza di TransTV. Ketiganya berpenampilan serupa dengan Tessy: berdandanan tebal ala perempuan, bersuara tinggi, dan kerap melakukan kecerobohan yang disengaja untuk mengundang tawa.

Penampilan tokoh banci kemudian mendapat larangan dari KPI. Alasan pelarangan oleh KPI ini berdasarkan Pedoman Perilaku Penyiaran - Standar Program Siaran (P3-SPS) yang menyatakan bahwa lembaga penyiaran dilarang memuat program yang melecehkan kelompok masyarakat yang selama ini diperlakukan negatif dan kelompok masyarakat yang kerap dianggap memiliki penyimpangan orientasi sesksual, seperti waria/banci, laki-laki yang keperempuanan, perempuan yang kelaki-lakian, dan sebagainya.

Pencitraan negatif terhadap kaum waria semakin diperkuat dengan munculnya reality show Be A Man. Di dalam acara tersebut digambarkan ada beberapa waria yang dilatih sampai benar-benar menjadi laki-laki sejati; berpenampilan dan berperilaku maskulin. Hal ini menunjukkan bahwa dalam masyarakat Indonesia sosok laki-laki semacam inilah yang bisa diterima, sedangkan yang lain tidak.

Selain itu, pencitraan negatif terhadap waria juga berasal dari industri musik dalam negeri. Pada tahun 2005, grup musik Project Pop merilis lagu berjudul ”Jangan Ganggu Banci”. Dari judul lagu ini, jelas memberi citra bahwa waria adalah kaum yang berbahaya sehingga masyarakat diharapkan jangan mengganggu (berurusan) dengan kaum waria. Media lainnya yang juga turut berkontribusi dalam memberikan citra negatif pada kaum waria adalah komik. Komik Benny & Mice yang muncul seminggu sekali di harian Kompas diterbitkan dalam sebuah buku ”100 Tokoh yang Mewarnai Jakarta”. Buku yang menggambarkan berbagai tipe orang Jakarta itu pun menghadirkan karikatur kaum waria di Jakarta. Di buku tersebut digambarkan ada dua tipe waria, yaitu waria/banci lampu merah dan banci Taman Lawang. Pengkotak-kotakan dalam kaum waria ini pun jelas semakin menyudutkan dan memberikan image buruk pada kaum waria. Tidak ketinggalan, di dunia maya pun citra waria tidak lebih baik di dunia yang sebenarnya. Apa yang terjadi di dunia maya memang merupakan cerminan dari realitas yang terjadi di dunia ini. Di situs microblog, seperti Twitter, hadir akun @KamusBANCI2012 yang berisi segala hal mengenai bahasa-bahasa banci. Hal yang lebih mengejutkan adalah bahwa akun tersebut memiliki 24.426 followers. Ini membuktikan bahwa masyarakat Indonesia melihat kaum waria sebagai bahan lelucon yang wajar.

Dampak dari segala pencitraan negatif terhadap waria oleh berbagai media tentunya semakin merendahkan kaum waria di mata masyarakat. Masyarakat pun menganggap waria sebagai bahan lelucon atau sesuatu yang menghibur. Selain itu, muncul pula fobia atau rasa takut yang disebut homophobia dan transphobia di tengah masyarakat. Sementara itu, dari kalangan waria sendiri pun muncul protes terhadap apa yang telah dicitrakan media kepada mereka selama ini, tapi suara-suara kaum waria itu pun tidak begitu menjadi perhatian publik karena publik telah terstigma dengan apa yang digambarkan media mengenai kaum waria selama ini.

Bahasa (per)Gaul(an)

Bahasa Indonesia yang digunakan di kalangan anak remaja (yang lebih dikenal dengan istilah ABG atau Anak Baru Gede) Indonesia saat ini sangat berbeda dengan bahasa Indonesia yang dengan prinsip bahasa Indonesia yang baik dan benar. Salah satu syarat bahasa yang baik dan benar adalah pemakaian bahasa yang yang mengikuti kaidah yang dibakukan.[1] Selain itu bahasa yang baik dan benar dianggap baku atau pemanfaatan ragam yang tepat dan serasi menurut golongan penutur dan jenis pemakaian bahasa.[2] Bahasa ABG cenderung memilih ragam santai sehingga tidak terlalu baku (kaku). Ketidakbakuan tersebut tercermin dalam kosakata, struktur kalimat dan intonasi.
Ragam bahasa remaja memiliki ciri khusus, singkat, lincah dan kreatif. Kata-kata yang digunakan cenderung pendek, sementara kata yang agak panjang akan diperpendek melalui proses morfologi atau menggantinya dengan kata yang lebih pendek. Selain itu, kalimat-kalimat yang digunakan kebanyakan berstruktur kalimat tunggal.
Seiring dengan perkembangan zaman, bahasa Indonesia pun banyak mengalami penambahan begitu banyak kosakata. “Bahasa” baru ini datang dari percampuran antara bahasa daerah dan bahasa sehari-hari.  Banyak orang yang merasa prihatin dan menganggap kosakata baru tesebut merusak bahasa bakunya. Namun, hal tersebut semakin sulit dielakkan mengingat teknologi informasi yang sudah sangat terbuka sekarang ini dan tentu saja arus informasi tersebut akan saling mempengaruhi.
Namun, terlepas merusak bahasa baku atau tidak, istilah dan kosakata baru (yang sering dikatakan sebagai bahasa gaul) semakin memperkaya khazanah bahasa Indonesia. Para pengguna bahasa Indonesia harus mampu membedakan antara yang baku dan yang bukan. Seluruh masyarakat, termasuk remaja, tahu bahwa bahasa Indonesia telah memiliki format yang baik dan benar. Namun, tak bisa dipungkiri akibat perubahan zaman, muncullah istilah-istilah baru. Sering kali istilah-istilah baru ini tiba-tiba tercipta tanpa tahu siapa yang mencetuskan dan mempopulerkannya pertama kali.
Bahasa gaul sudah muncul sejak awal 70-an. Awalnya bahasa ini digunakan agar orang di luar komunitas tertentu tidak mengerti, jadi mereka tidak perlu sembunyi-sembunyi jika membicarakan hal yang negatif. Lama kelamaan kebiasaan itu mulai ditiru oleh anak-anak remaja usia belasan tahun, bahkan menjadi semakin bervariasi kosakatanya, misalnya kata “saya” yang dalam dialek Jakarta atau Betawi menjadi “gue” berubah menjadi “ogut” atau “gout”. Atau perubahan yang cukup ekstrem, misalnya, sebutan untuk orangtua, seperti ibu atau bapak berubah menjadi “nyokap” dan “bokap”. 
Berikut ini beberapa istilah gaul anak remaja masa kini yang populer di akhir dekade 1990-an hingga di awal abad ke-21, antara lain:
1.        Bonyok
Kata ini merupakan singkatan dari Bokap-Nyokap (orang tua). Memang tidak diketahui secara pasti siapa yang mempopulerkan kata ini, tapi kata ini mulai sering digunakan diperiode awal 2000-an, ketika bahasa SMS mulai populer di kalangan remaja. Bokap (Ayah) dan Nyokap (Ibu) sendiri merupakan istilah yang telah populer sejak tahun 80-an dan masih digunakan hingga hari ini.
2.        Culun
Culun dapat berarti “lugu-lugu bodoh”.
3.        Cupu
Sebutan ini lazim ditujukan untuk seseorang yang berpenampilan kuno. Dengan kata lain, dianggap tidak  mencerminkan kekinian, misalnya berkacamata tebal dan modelnya tidak trendi, kutu buku, kurang bergaul di kalangan anak muda. Cupu sendiri merupakan kependekan dari kalimat “culun punya”.
4.        Alay
Singkatan dari Anak Layangan, yaitu diidentifikasi sebagai orang-orang kampung yang bergaya norak. Alay sering diidentikkan dengan hal-hal yang bersifat norak dan narsis.
5.        Jayus
Diartikan sebagai suatu usaha untuk melucu, tetapi dianggap tidak lucu, sering juga disebut “garing“. Menurut sumber dari dunia maya, kata “jayus” ini berasal dari sekelompok remaja SMA yang bergaul di daerah Kemang. Konon, ada seseorang bernama Herman Setiabudhi, dia dipanggil teman-temannya Jayus karena bapaknya bernama Jayus Kelana, seorang pelukis di kawasan Blok M. Si Herman ini tiap melawak tidak pernah lucu. Teman-temannya sering mengomentari tiap lawakan yang tidak lucu dengan celetukan Jayus. Ucapan inilah yang kemudian diikuti teman-teman setongkrongannya di Kemang, dan tempat-tempat nongkrong anak remaja di sana.
6.        Lebay
Merupakan hiperbola dan penyingkatan kata “berlebihan”. Kata ini populer di tahun 2006-an. Tokoh yang mempopulerkan adalah Ruben Onsu dan Olga di berbagai kesempatan di acara-acara di televisi yang mereka bawakan. Biasanya digunakan untuk “mencela” orang yang berpenampilan norak.
7.        Garing
Kata ini merupakan kata dari bahasa Sunda yang berarti “tidak lucu”. Awalnya kata-kata ini hanya digunakan di Jawa Barat saja. Namun, karena banyaknya mahasiswa luar pulau yang kuliah di Jawa Barat (Bandung) lalu kembali ke kota kelahiran mereka, kata ini kemudian dipakai mereka dalam beberapa kesempatan. Karena seringnya digunakan dalam pembicaraan, akhirnya kata ini pun menjadi populer di beberapa kota besar di luar Jawa Barat.
8.        Meneketehe
Kata ini berasal dari kata “Mana Kutahu” dan diplesetkan oleh Tora Sudiro sekitar awal tahun 2000-an di acara Extravaganza, TransTV. Istilah itu cukup populer dan saat ini masih cukup sering digunakan orang.
9.        Ember
Kata ini merupakan plesetan dari kata “Memang Benar”. Pertama kali dipopulerkan oleh Titi DJ yang secara tidak sengaja menyebut kata ini saat menjawab pertanyaan orang. Sejak itu, kata ini sering digunakan di berbagai kesempatan.
10.    Ajib
Artinya enak, asik, atau clubbing. Kata ini mulai populer di tahun 90-an ketika musik trance dan narkoba jenis shabu-shabu baru mulai populer. Kata ini biasanya digunakan oleh para penikmat kedua hal itu. Istilah ini diambil dari suara hentakan tempo musik trance yang kalo didengar dengar teliti memang terdengar seperti itu.
11.    Jablay
Kata ini dipopulerkan oleh Titi Kamal saat menyanyikan lagu berjudul sama dalam film Mendadak Dangdut (2006). Merupakan singkatan “Jarang Dibelai” yang mengandung arti lebih jauh sebagai ungkapan hati seorang wanita yang jarang mendapatkan belaian pasangannya. Namun, kini makna kata ini menjadi semakin negatif.
12.    Secara
Kata ini menjadi populer di tahun 2006-an di kalangan siswa-siswi SMU yang menggunakan kata ini sebagai kata ganti “Karena/Soalnya”. Sesekali pula digunakan sebagai sisipan tanpa makna (hanya sebagai penekanan pada kalimat yang mereka katakan). Contoh pemakaiannya:
a.         Gue enggak bisa ke ikut nonton nih hari ini, secara nyokap gue lagi sakit.
b.         Ya… gimana dong? Secara kan kita udah janji…
13.    Jutek
Berasal dari kata yang sering digunakan oleh para PSK di awal tahun 2000-an untuk menggambarkan pria yang sombong dan jarang tersenyum. Kata ini akhirnya menjadi kata umum yang digunakan untuk melukiskan orang yang menyebalkan, judes, galak, emosian, dan sombong.
14.    Cumi
Merupakan singkatan yang mengandung banyak arti (tergantung CUMI yang dipakai adalah singkatan dari apa). Awalnya, kata ini dipopulerkan oleh sebuah produk kartu telpon seluler di tahun 2008-an, yang akhirnya berkembang menjadi bahasa gaul anak-anak remaja untuk menjelaskan kondisinya saat ini, seperti CUma MIkir, CUma MIscal, CUma MIrip, CUma MInjam, CUkup MIris, dan sebagainya.
15.    Jaim
Konon kata jaim ini di populerkan oleh seorang bapak yang menasehati anak perempuannya jika bergaul dengan teman laki-lagi jangan mengumbar kata maupun tingkah laku alias harus bisa “Jaim”. Sang anak bertanya apa itu Jaim, dan dijawab Jaim alias jaga image. Sang anak pun meniru dan mempopulerkan kata jaim itu di sekolahnya.

Terkait dengan asal-muasal bahasa gaul, ada sebuah penafsiran bahwa dalam dunia muda berlaku simbol-simbol yang sederhana (simple), mudah diucapkan, akrab ditelinga, dan spontan. Jika ada sebuah kata yang dianggap baru dan tepat untuk menggambarkan suatu keadaan maka dengan cepat akan segera diadopsi. Bisa jadi ucapan-ucapan tersebut puda mulanya hanya berawal dari celetukan spontan saja, tetapi karena dianggap memenuhi unsur-unsur tersebut di atas maka kata tersebut segera menyebar akan menjadi populer, apalagi jika media meng-expose dan semakin mempopulerkan kata baru tersebut. Namun, bahasa gaul ini tidak selamanya dipakai dan dikenal sebagaimana bahasa Indonesia baku yang memang menjadi standar resmi dalam berbahasa Indonesia. Bahasa gaul ini akan mengalami masa pasang-surut, tiap generasi memiliki selera sendiri.


[1] Badudu, J. (1989). Inilah Bahasa Indonesia yang Benar. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
[2] Moeliono, A. M. (1991). Santun Bahasa. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

26 Desember 2011

Mengapa Kantor Komunikasi?

"Jika kita melihat sebuah kekeliruan, jangan diam. Ubahlah dengan tanganmu. Jika kita mendengar sebuah kekeliruan, jangan diam. Serukan dengan suaramu. Jika kita merasakan sebuah kekeliruan, jangan diam. Ingkarilah dengan hatimu."—Muhammad Alvin Dwiana Qobulsyah, Departemen Kajian dan Aksi Strategis BEM FISIP UI 2009
Berangkat dari kutipan di atas—yang masih terngiang-ngiang di kepala saya hingga saat ini—itulah yang kemudian menjadi dasar alasan mengapa saya masih melanjutkan dan berada di lembaga eksekutif mahasiswa tingkat fakultas ini bahkan di tahun ketiga saya di kampus. Jelas, ada sebuah kekeliruan. Teman-teman saya dua tahun silam dari Departemen Kajian dan Aksi Strategis BEM FISIP UI 2009, khususnya Alvin, mengatakan, “Jika kita melihat sebuah kekeliruan, jangan diam.” Ya, saya melihat sebuah kekeliruan di lembaga ini, khususnya dalam hal sistem komunikasinya. Mungkin bukan suatu hal yang besar dan memang tidak perlu dibesar-besarkan, tapi rasanya saya menjadi salah ketika saya mengetahui sebuah kekeliruan dan saya diam.

Dalam suatu organisasi, masalah komunikasi kerap kali muncul menjadi suatu masalah yang rumit dan terkadang “berbahaya” baik bagi suatu organisasi maupun suatu kepanitiaan program kerja. Hal ini bisa terjadi ketika masalah-masalah komunikasi tidak ditangani dengan baik atau bahkan hanya dianggap ringan. Memang, pada dasarnya masalah-masalah komunikasi bukanlah masalah-masalah yang memerlukan perhatian besar. Masalah-masalah komunikasi tidaklah seriskan masalah-masalah keuangan yang jika dalam pelaksanaannya terdapat kesalahan dapat berakibat fatal bagi suatu organisasi atau kepanitiaan. Namun, pada kenyataanya masalah-masalah komunikasi yang ringan ini sering kali memiliki dampak yang besar atau bahkan berdampak fatal jika tidak diatasi dengan serius.

BEM FISIP UI sebagai sebuah lembaga mahasiswa tingkat fakultas yang salah satu tugasnya adalah mewadahi berbagai aspirasi mahasiswa FISIP UI terkait berbagai aspek, tentu memerlukan suatu media atau wadah komunikasi untuk memberikan feedback atas berbagai tanggapan atas aspirasi mahasiswa, opini, memberikan kejelasan atas kesimpangsiuran informasi, ataupun memberikan penyikapannya sebagai suatu lembaga atas suatu isu. Selama ini, BEM FISIP UI memiliki suatu biro yang berhubungan dan berkoordinasi langsung dengan ketua BEM FISIP UI. Biro tersebut adalah Biro Hubungan Masyarakat (Humas). Biro Humas pada dasarnya bertugas menjalankan berbagai fungsi dan peran kehumasan suatu lembaga, dalam hal ini BEM FISIP UI, serta tugas-tugas yang mencakup segala fungsi komunikasi antara lembaga dengan lembaga, lembaga dengan dekanat atau para pemangku kepentingan, lembaga dengan masyarakat, dan lembaga dengan mahasiswa. Lantas, bagaimana dengan fungsi “humas” itu sendiri? Apakah benar-benar berjalan? Pada kenyataannya, selama ini Biro Humas lebih terkesan sebagai suatu bagian dalam BEM FISIP UI yang bertugas hanya untuk menjalankan fungsi publikasi, seperti menempel poster-poster di papan-papan komunikasi dan meng-update informasi BEM FISIP UI di akun-akun situs jejaring sosial, seperti Facebook dan Twitter. Ini berarti hanya terjadi komunikasi satu arah. Memang, di situs-situs jejaring sosial, sang administrator atau pemegang akun situs jejaring sosial dapat berinteraksi dengan publik atau dalam hal ini para mahasiswa FISIP UI pada khususnya. Namun, apakah kinerja publikasi dan interaksi dengan publik secara maya itu sendiri sudah maksimal?

Lantas, dengan demikian, timbul suatu pertanyaan dalam diri saya, apakah kemudian dengan peran Biro Humas yang seperti itu telah membuat penyampaian pesan atau proses komunikasi suatu organisasi menjadi baik? Bagaimana dengan citra BEM FISIP UI di mata mahasiswa FISIP UI, apakah sudah baik? Bagaimana dengan citra BEM FISIP UI di mata dekanat atau para pemangku kepentingan, apakah sudah baik? BEM FISIP UI memang bekerja, mengabdi, dan melayani mahasiswa FISIP UI, tapi itu tentu tidak berarti bahwa BEM FISIP UI harus mengenyampingkan kepentingan-kepentingan lain di luar kepentingan mahasiswa. Pihak-pihak luar yang ikut berhubungan dengan BEM FISIP UI pun harus tetap diperhatikan walaupun memang dalam batas dan porsi tertentu. Semua ini terangkum dalam suatu masalah yang dapat saya katakan sebagai masalah komunikasi. Semua hal ini butuh diselesaikan dari suatu perspektif atau pendekatan komunikasi serta strategi komunikasi tertentu dalam menyelesaikannya.

Sebagai seseorang yang telah terjun di BEM FISIP UI selama dua periode kepengurusan dan sekaligus sebagai seorang mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi di FISIP UI, tentu hal ini pun tidak luput dari pengamatan saya. Saya kemudian menyadari bahwa meletakkan Biro Humas sebagai dasar atau pondasi atas berbagai strategi komunikasi lembaga adalah hal yang keliru, atau dapat saya katakan tidak bijaksana. Hal ini dikarenakan segala fungsi humas adalah bagian dari komunikasi. Sementara itu, masalah komunikasi tidak hanya terbatas pada masalah-masalah humas saja. Jadi, menjadi suatu hal yang keliru jika Biro Humas dijadikan satu-satunya corong komunikasi lembaga baik ke dalam maupun ke luar lembaga. Oleh karena itulah saya mengajukan bentuk baru dalam sistem kehumasan BEM FISIP UI, yang saya sebut sebagai Kantor Komunikasi.

Kantor Komunikasi (bukan Kantor Komunikasi dan Informasi—KKI) BEM FISIP UI kemudian lahir sebagai suatu bidang baru yang ada di kepengurusan BEM FISIP UI tahun 2011. Bidang ini merupakan bidang yang secara garis besar bertugas untuk menjalin hubungan kepada berbagai pihak, baik di dalam maupun luar fakultas, serta membuat pencitraan dan kerangka opini publik yang positif. Dengan menjalin hubungan baik dengan semua elemen yang berkaitan dengan BEM FISIP UI, Kantor Komunikasi diharapkan akan menciptakan BEM FISIP UI yang membumi dan inklusif. Seluruh program kerja Kantor Komunikasi harus sejalan dengan penjagaan citra BEM FISIP UI yang positif dan profesional agar terwujud visi yang diusung, yaitu partisipatif dan kontributif.

Citra yang baik dimulai dari komunikasi yang baik pula. Oleh karena itu, Kantor Komunikasi merupakan garda terdepan BEM FISIP UI dalam menjalin komunikasi yang baik dengan seluruh stakeholders atau para pemangku kepentingan melalui tindakan dan ucapan yang sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku, serta kekonsistensian dalam melakukan hal-hal tersebut. Selain itu, memberikan informasi secara lengkap dan berkesinambungan mengenai BEM FISIP UI dan memberikan feedback atau timbal balik kepada sasaran agar kedua belah pihak saling mendapatkan kebermanfaatan atau keberlanjutan hubungan, merupakan misi yang dibawa oleh Kantor Komunikasi dalam menjalankan fungsinya sebgai bidang yang berperan dalam pembuatan media dan mengarahkan opini publik yang positif terhadap BEM FISIP UI.

Di bawah Kantor Komunikasi BEM FISIP UI terdapat sebuah biro, yaitu Biro Hubungan Masyarakat (Humas). Kantor Komunikasi dan Biro Humas senantiasa menjalankan tugasnya dalam berfungsi sebagai komunikator, badan konsultasi, dan pendukung berbagai bidang, departemen, biro dan elemen lainnya di tubuh BEM FISIP UI. Adapun tugas tersebut tertuang dalam bentuk program kerja yang terencana dan juga respon proaktif atas kebutuhan yang  diperlukan dan belum tercakup oleh program kerja. Tentu saja pada akhirnya seluruh usaha dilakukan demi mencapai visi dan misi BEM FISIP UI dan lebih lagi sebagai bentuk pengabdian pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia.

22 Desember 2011

Tiga Tahun di BEM FISIP UI, Rasanya?

Bertepatan dengan berakhirnya acara FISIP Awards pada tanggal 21 Desember kemarin maka berakhir sudahlah seluruh program-program kerja BEM FISIP UI pada kepengurusan tahun 2011 ini. Rasanya? Sangat senang dan juga terharu. Namun, di sini saya tidak akan bicara banyak soal "perasaan" senang dan terharu ini. Saya akan sedikit bercerita mengenai perasaan saya selama tiga tahun ini berkecimpung di dunia per-BEM-an di FISIP UI.

Pertama, saya akan bilang: thank God, finally it's over! Saya tidak pernah menyesal menjadi bagian dari keluarga BEM FISIP UI, tapi sungguh sangat melegakan karena pada akhirnya ini semua telah usai. Saya masih ingat, di akhir tahun 2008, tepatnya setelah salah satu program kerja BEM FISIP UI pada masa itu—GRAFITY 2008—berakhir, saya sangat yakin bahwa saya harus menjadi bagian dari organisasi (yang kini lebih sering saya sebut sebagai "second family") ini. Tidak hanya itu, saya ingat bahwa saya punya misi tertentu dengan bergabung di BEM FISIP UI, yaitu saya ingin menjadi Project Officer acara GRAFITY di tahun berikutnya; dan saya berhasil. Di akhir 2009, saya sedikit memperhitungkan apakah saya akan melanjutkan di BEM FISIP UI 2010 atau let's say mencoba hal baru di luar BEM. Ternyata tidak, saya pun ikut open tender untuk Biro Dana Usaha dan saya diangkat menjadi Kepala Biro Dana Usaha di BEM FISIP UI 2010. Artinya, itulah tahun kedua saya di BEM FISIP UI.

Kemudian, di akhir 2010, saya kira saya sudah mendapatkan banyak hal—pengalaman, kesuksesan (profit besar) dan tim terbaik yang saya punya di biro yang saya pimpin—dan itu membuat saya berpikir untuk "pensiun" dari duni BEM dan mulai lebih fokus dengan masalah akademis saya. Ambisi untuk lulus 3,5 tahun mulai terlintas dalam pikiran saya. Namun, ajakan Galih Ramadian (Ketua BEM FISIP UI terpilih periode 2011) pada malam Gelas Teko 3 (Gelar Apresiasi Teater Kolam) untuk bergabung di timnya pada kepengurusan 2011di bagian Humas membuat saya cukup berpikir keras. Ada semacam dorongan dari dalam diri saya untuk mengambil peluang ini, tapi di satu sisi ada pula perasaan-perasaan yang membuat saya ragu. Singkat cerita, saya pun akhirnya menerima ajakan beliau, dan... welcome in the third year!

Seorang sahabat, Yusuf Hakim Gumilang, yang juga merupakan Ketua BEM FISIP UI 2010 berkata pada saya bahwa di tahun ketiga di BEM, yaitu tahun di mana seorang pengurus berada dalam tataran Pengurus Inti, akan menjadi "tahun neraka" jika orang tersebut tidak benar-benar merasa nyaman atau bahkan terpaksa berada di dalamnya. Dan, saya bisa katakan bahwa di tahun ketiga saya ini, saya merasa berada di "depan pintu neraka", untungnya belum sampai di "nerakanya". Ada berbagai pergolakan dan ya... kegalauan yang saya alami di tahun ini. Mulai dari masalah akademis, masalah organisasi, hingga masalah pribadi yang akhirnya berimbas pada masalah-masalah lain. Ini parah; jelas sangat parah (bagi saya). Saya merasa kehilangan arah, saya merasa kehilangan kepercayaan diri, saya merasa gagal, saya merasa mengecewakan banyak orang, terutama mereka yang telah percaya pada saya. Berbagai tugas kuliah saya mulai tidak ter-manage dan rapat-rapat pengurus sering kali tidak saya hadari. Saya merasa begitu tertekan. Tekanan kuliah dan BEM sungguh membuat saya benar-benar tidak tahu harus apa. Saya selalu merasa tidak punya cukup waktu. Saya selalu merasa waktu 24 jam sangat kurang untuk menyelesaikan segalanya. Saya pun mulai bertanya-tanya dalam hati apakah keputusan saya pada saat itu tepat. Saya mulai meragukan diri saya sendiri. Sebelumnya, saya tidak pernah menyesali segala hal atau segala keputusan yang saya buat. Namun, pada saat itu, saya benar-benar merasa bingung.

Time heals. Dan itu terjadi. Sekitar empat bulan awal, saya merasa segalanya buruk. Saya merasa tidak bisa menentukan prioritas. Saya merasa semuanya penting untuk dikerjakan dan semuanya berantakan. Namun, perlahan semuanya kembali normal. Bukan karena saya, tapi berkat dukungan orang-orang di sekitar saya. Perlahan saya mulai menikmati kegiatan yang telah saya pilih ini. Memang tidak mudah, tapi saya mencoba selalu berpikir bahwa: tidak mudah bukan berarti tidak bisa. Akhirnya, hingga kini semuanya membaik (bagi saya). Saya sangat sadar, beberapa orang mungkin berpikir bahwa saya bukanlah seperti saya yang dulu pada masa 2009 dan 2010. Saya tidak akan menyangkal karena itu benar. Saya memang tidak merasa maksimal di tahun ini dan saya sangat menyesalkan hal itu. Namun, entahlah, ini pemikiran saya saja, tapi sepertinya kita memang tidak bisa benar-benar mengedepankan dua hal yang benar-benar menjadi passion kita tanpa harus mengorbankan salah satunya. Dalam hal ini, antara kuliah dan BEM. Mungkin kedua hal ini masih bisa berjalan berdampingan di dua tahun sebelumnya, tapi di tahun ini saya memang harus mengorbankan salah satunya. Bukan berarti tidak bertanggung jawab dengan pilihan yang telah saya pilih, tapi dua hal yang menjadi ambisi saya ini justru seperti berbalik "menyerang" saya. Ini membuat saya harus berfokus pada satu pilihan. Saya pun memilih lebih fokus pada kuliah karena memang jauh di lubuk hati saya, saya ingin lulus kulah dalam tempo 3,5 tahun.

Anggaplah ini sebagai "pengakuan dosa" saya kepada seluruh pengurus BEM FISIP UI 2011. Maaf, jika harapan kalian pada saya mungkin tidak begitu banyak yang bisa saya penuhi. Bukan karena saya tidak komitmen—saya selalu berusaha komitmen, hanya saja... tahun ini sangat sulit bagi saya. Ini membuat saya harus memilih. Namun, saya selalu berusaha untuk selalu mengerjakan secara inisiatif hal-hal yang menjadi tugas pokok saya pada kepengurusan tahun ini. Saya sadar, saya sangat tidak maksimal pada tahun ini, saya sadar bahwa banyak hal-hal yang mungkin tidak berjalan dengan baik sebagaimana mestinya. Saya sadar semua itu dan saya minta maaf kepada teman-teman pengurus semuanya.

Namun, saya sayang kalian. Saya sangat mencintai BEM ini. Inilah keluarga terhangat di luar rumah saya yang saya temui di kampus. Inilah keluarga yang saya punya pada saat saya merasa tidak memiliki siapa-siapa di jurusan saya dulu. Inilah keluarga yang mengajarkan pada saya bahwa apa pun mimpi yang kita punya, selama kita yakin bahwa kita bisa maka itu akan terwujud, tidak peduli apa pun hambatan dan rintangannya maka mimpi itu pasti terwujud. Inilah keluarga yang mengajarkan pada saya betapa arti "proses" jauh lebih penting daripada sekedar output. Inilah keluarga tempat saya menemukan orang-orang hebat, orang-orang yang membuat saya berpikir bahwa Indonesia masih punya harapan cerah jika orang-orang seperti kalianlah yang nantinya memimpin negeri ini. Inilah keluarga yang tidak akan pernah saya lupakan.

Terima kasih atas tiga tahun pengalaman yang luar biasa. Oke, sekarang saya mulai mengeluarkan air mata. Sedih. Sedih karena semua ini sudah berakhir, sedih karena sayangnya saya tidak berkontribusi maksimal di tahun ini, sedih karena... kenangan-kenangan itu begitu indah. Terima kasih Tata (Shinta Aprilia), orang yang sudah mengenalkan saya pada dunia ini. Terima kasih Thomas (Stevie Thomas Ramos), orang yang sudah memberi saya kesempatan menjadi bagian resmi dari keluarga ini untuk pertama kalinya. Terima kasih Ucup (Yusuf Hakim Gumilang), orang yang sudah saya anggap sebagai saudara saya sendiri, terima kasih atas kesempatannya di tahun ke-2. Dan... terima kasih Galih (Galih Ramadian), atas kepercayaannya dan kesabarannya menghadapi saya di tahun ini. Saya tahu, saya bukan yang terbaik dan saya tidak pernah berharap dianggap menjadi yang terbaik, tapi satu hal: terima kasih telah mengajak saya bergabung. Saya tidak pernah menyesal. Segalanya memang tidak mudah, tapi bukan berarti tidak bisa.

Akhirnya, saya sudah berada dalam detik-detik yang sangat emosional. Ada banyak perasaan yang bergejolak selama menuliskan posting-an ini. Apa lagi yang bisa saya bilang? Saya selalu bangga menjadi bagian dari keluarga ini, BEM FISIP UI, dan... semoga BEM FISIP UI cukup bisa mengenang bahwa, seorang anak "pemberontak" bernama Fauzan Al-Rasyid pernah menjadi bagian dari keluarga ini selama tiga tahun lamanya, dan dia sangat mencintai keluarganya ini, BEM FISIP UI, apa pun alasannya.
"Maaf, terima kasih, dan tetap berkontribusi."—Yusuf Hakim Gumilang, 2010

08 Desember 2011

It's in Indonesia

Hongkong? No, it is Indonesia (Jakarta, Thamrin).

Spain? No, it is Indonesia (Jakarta, Lapangan Banteng).

Shanghai, China? No, it is Indonesia (Jakarta, Mangga Dua).


Sydney, Australia? No, it is Indonesia (Makassar, Bandara Sultan Hasanuddin).

New Zealand? No, it is Indonesia (Komodo Island).

Monaco? No, it is Indonesia (Bunaken).

Somewhere in Africa? No, it is Indonesia (Kidul Mountain).

Gaza? No, it is Indonesia (Medan).

Singapore? No, it is Indonesia (Surabaya).

US highway? No, it is Indonesia (Suramadu Bridge).

Halong Bay, Vietnam? No, it is Indonesia (Raja Ampat).

Mali, Africa? No, it is Indonesia (Papua).


South America? No, it is Indonesia (Bromo Mountain).

Caribbean? No, it is Indonesia (Lombok).


Arab? No, it is Indonesia (Aceh).

Maldives? No, it is Indonesia (Bunaken).

Thailand? No, it is Indonesia (Prambanan Temple).

Japan? No, it is Indonesia (Medan Cosplayer).

Repost from Arra'di Nur Rizal's Facebook note. Yes, this is my country, Indonesia. Indonesia is more then just "a Bali", but it is larger and even much more beautiful then a single Bali. Bali is a part of Indonesia, and indeed, it's beautiful. But, the truth is: Indonesia is beautiful!

   Add Friend