27 Desember 2011

Bahasa (per)Gaul(an)

Bahasa Indonesia yang digunakan di kalangan anak remaja (yang lebih dikenal dengan istilah ABG atau Anak Baru Gede) Indonesia saat ini sangat berbeda dengan bahasa Indonesia yang dengan prinsip bahasa Indonesia yang baik dan benar. Salah satu syarat bahasa yang baik dan benar adalah pemakaian bahasa yang yang mengikuti kaidah yang dibakukan.[1] Selain itu bahasa yang baik dan benar dianggap baku atau pemanfaatan ragam yang tepat dan serasi menurut golongan penutur dan jenis pemakaian bahasa.[2] Bahasa ABG cenderung memilih ragam santai sehingga tidak terlalu baku (kaku). Ketidakbakuan tersebut tercermin dalam kosakata, struktur kalimat dan intonasi.
Ragam bahasa remaja memiliki ciri khusus, singkat, lincah dan kreatif. Kata-kata yang digunakan cenderung pendek, sementara kata yang agak panjang akan diperpendek melalui proses morfologi atau menggantinya dengan kata yang lebih pendek. Selain itu, kalimat-kalimat yang digunakan kebanyakan berstruktur kalimat tunggal.
Seiring dengan perkembangan zaman, bahasa Indonesia pun banyak mengalami penambahan begitu banyak kosakata. “Bahasa” baru ini datang dari percampuran antara bahasa daerah dan bahasa sehari-hari.  Banyak orang yang merasa prihatin dan menganggap kosakata baru tesebut merusak bahasa bakunya. Namun, hal tersebut semakin sulit dielakkan mengingat teknologi informasi yang sudah sangat terbuka sekarang ini dan tentu saja arus informasi tersebut akan saling mempengaruhi.
Namun, terlepas merusak bahasa baku atau tidak, istilah dan kosakata baru (yang sering dikatakan sebagai bahasa gaul) semakin memperkaya khazanah bahasa Indonesia. Para pengguna bahasa Indonesia harus mampu membedakan antara yang baku dan yang bukan. Seluruh masyarakat, termasuk remaja, tahu bahwa bahasa Indonesia telah memiliki format yang baik dan benar. Namun, tak bisa dipungkiri akibat perubahan zaman, muncullah istilah-istilah baru. Sering kali istilah-istilah baru ini tiba-tiba tercipta tanpa tahu siapa yang mencetuskan dan mempopulerkannya pertama kali.
Bahasa gaul sudah muncul sejak awal 70-an. Awalnya bahasa ini digunakan agar orang di luar komunitas tertentu tidak mengerti, jadi mereka tidak perlu sembunyi-sembunyi jika membicarakan hal yang negatif. Lama kelamaan kebiasaan itu mulai ditiru oleh anak-anak remaja usia belasan tahun, bahkan menjadi semakin bervariasi kosakatanya, misalnya kata “saya” yang dalam dialek Jakarta atau Betawi menjadi “gue” berubah menjadi “ogut” atau “gout”. Atau perubahan yang cukup ekstrem, misalnya, sebutan untuk orangtua, seperti ibu atau bapak berubah menjadi “nyokap” dan “bokap”. 
Berikut ini beberapa istilah gaul anak remaja masa kini yang populer di akhir dekade 1990-an hingga di awal abad ke-21, antara lain:
1.        Bonyok
Kata ini merupakan singkatan dari Bokap-Nyokap (orang tua). Memang tidak diketahui secara pasti siapa yang mempopulerkan kata ini, tapi kata ini mulai sering digunakan diperiode awal 2000-an, ketika bahasa SMS mulai populer di kalangan remaja. Bokap (Ayah) dan Nyokap (Ibu) sendiri merupakan istilah yang telah populer sejak tahun 80-an dan masih digunakan hingga hari ini.
2.        Culun
Culun dapat berarti “lugu-lugu bodoh”.
3.        Cupu
Sebutan ini lazim ditujukan untuk seseorang yang berpenampilan kuno. Dengan kata lain, dianggap tidak  mencerminkan kekinian, misalnya berkacamata tebal dan modelnya tidak trendi, kutu buku, kurang bergaul di kalangan anak muda. Cupu sendiri merupakan kependekan dari kalimat “culun punya”.
4.        Alay
Singkatan dari Anak Layangan, yaitu diidentifikasi sebagai orang-orang kampung yang bergaya norak. Alay sering diidentikkan dengan hal-hal yang bersifat norak dan narsis.
5.        Jayus
Diartikan sebagai suatu usaha untuk melucu, tetapi dianggap tidak lucu, sering juga disebut “garing“. Menurut sumber dari dunia maya, kata “jayus” ini berasal dari sekelompok remaja SMA yang bergaul di daerah Kemang. Konon, ada seseorang bernama Herman Setiabudhi, dia dipanggil teman-temannya Jayus karena bapaknya bernama Jayus Kelana, seorang pelukis di kawasan Blok M. Si Herman ini tiap melawak tidak pernah lucu. Teman-temannya sering mengomentari tiap lawakan yang tidak lucu dengan celetukan Jayus. Ucapan inilah yang kemudian diikuti teman-teman setongkrongannya di Kemang, dan tempat-tempat nongkrong anak remaja di sana.
6.        Lebay
Merupakan hiperbola dan penyingkatan kata “berlebihan”. Kata ini populer di tahun 2006-an. Tokoh yang mempopulerkan adalah Ruben Onsu dan Olga di berbagai kesempatan di acara-acara di televisi yang mereka bawakan. Biasanya digunakan untuk “mencela” orang yang berpenampilan norak.
7.        Garing
Kata ini merupakan kata dari bahasa Sunda yang berarti “tidak lucu”. Awalnya kata-kata ini hanya digunakan di Jawa Barat saja. Namun, karena banyaknya mahasiswa luar pulau yang kuliah di Jawa Barat (Bandung) lalu kembali ke kota kelahiran mereka, kata ini kemudian dipakai mereka dalam beberapa kesempatan. Karena seringnya digunakan dalam pembicaraan, akhirnya kata ini pun menjadi populer di beberapa kota besar di luar Jawa Barat.
8.        Meneketehe
Kata ini berasal dari kata “Mana Kutahu” dan diplesetkan oleh Tora Sudiro sekitar awal tahun 2000-an di acara Extravaganza, TransTV. Istilah itu cukup populer dan saat ini masih cukup sering digunakan orang.
9.        Ember
Kata ini merupakan plesetan dari kata “Memang Benar”. Pertama kali dipopulerkan oleh Titi DJ yang secara tidak sengaja menyebut kata ini saat menjawab pertanyaan orang. Sejak itu, kata ini sering digunakan di berbagai kesempatan.
10.    Ajib
Artinya enak, asik, atau clubbing. Kata ini mulai populer di tahun 90-an ketika musik trance dan narkoba jenis shabu-shabu baru mulai populer. Kata ini biasanya digunakan oleh para penikmat kedua hal itu. Istilah ini diambil dari suara hentakan tempo musik trance yang kalo didengar dengar teliti memang terdengar seperti itu.
11.    Jablay
Kata ini dipopulerkan oleh Titi Kamal saat menyanyikan lagu berjudul sama dalam film Mendadak Dangdut (2006). Merupakan singkatan “Jarang Dibelai” yang mengandung arti lebih jauh sebagai ungkapan hati seorang wanita yang jarang mendapatkan belaian pasangannya. Namun, kini makna kata ini menjadi semakin negatif.
12.    Secara
Kata ini menjadi populer di tahun 2006-an di kalangan siswa-siswi SMU yang menggunakan kata ini sebagai kata ganti “Karena/Soalnya”. Sesekali pula digunakan sebagai sisipan tanpa makna (hanya sebagai penekanan pada kalimat yang mereka katakan). Contoh pemakaiannya:
a.         Gue enggak bisa ke ikut nonton nih hari ini, secara nyokap gue lagi sakit.
b.         Ya… gimana dong? Secara kan kita udah janji…
13.    Jutek
Berasal dari kata yang sering digunakan oleh para PSK di awal tahun 2000-an untuk menggambarkan pria yang sombong dan jarang tersenyum. Kata ini akhirnya menjadi kata umum yang digunakan untuk melukiskan orang yang menyebalkan, judes, galak, emosian, dan sombong.
14.    Cumi
Merupakan singkatan yang mengandung banyak arti (tergantung CUMI yang dipakai adalah singkatan dari apa). Awalnya, kata ini dipopulerkan oleh sebuah produk kartu telpon seluler di tahun 2008-an, yang akhirnya berkembang menjadi bahasa gaul anak-anak remaja untuk menjelaskan kondisinya saat ini, seperti CUma MIkir, CUma MIscal, CUma MIrip, CUma MInjam, CUkup MIris, dan sebagainya.
15.    Jaim
Konon kata jaim ini di populerkan oleh seorang bapak yang menasehati anak perempuannya jika bergaul dengan teman laki-lagi jangan mengumbar kata maupun tingkah laku alias harus bisa “Jaim”. Sang anak bertanya apa itu Jaim, dan dijawab Jaim alias jaga image. Sang anak pun meniru dan mempopulerkan kata jaim itu di sekolahnya.

Terkait dengan asal-muasal bahasa gaul, ada sebuah penafsiran bahwa dalam dunia muda berlaku simbol-simbol yang sederhana (simple), mudah diucapkan, akrab ditelinga, dan spontan. Jika ada sebuah kata yang dianggap baru dan tepat untuk menggambarkan suatu keadaan maka dengan cepat akan segera diadopsi. Bisa jadi ucapan-ucapan tersebut puda mulanya hanya berawal dari celetukan spontan saja, tetapi karena dianggap memenuhi unsur-unsur tersebut di atas maka kata tersebut segera menyebar akan menjadi populer, apalagi jika media meng-expose dan semakin mempopulerkan kata baru tersebut. Namun, bahasa gaul ini tidak selamanya dipakai dan dikenal sebagaimana bahasa Indonesia baku yang memang menjadi standar resmi dalam berbahasa Indonesia. Bahasa gaul ini akan mengalami masa pasang-surut, tiap generasi memiliki selera sendiri.


[1] Badudu, J. (1989). Inilah Bahasa Indonesia yang Benar. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
[2] Moeliono, A. M. (1991). Santun Bahasa. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

0 komentar :

Posting Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.