27 Desember 2011

Media dan Kelompok Waria

Dalam kehidupan masyarakat Indonesia, pada umumnya kaum waria belum diterima sebagaimana orang-orang berorientasi seksual normal (heteroseksual). Pada umumnya masyarakat menganut paham bahwa hanya ada dua jenis kelamin saja yang diakui, yaitu pria dan wanita. Seorang pria harus bersikap sebagaimana halnya sikap seorang lelaki (maskulin), sedangkan wanita harus bersikap sebagaimana halnya sikap seorang wanita (feminin). Hal ini berarti tidak ada pengakuan masyarakat terhadap pria yang bersikap dan bertingkah-laku seperti wanita  yang biasa disebut waria atau banci.

Walaupun secara psikologis kaum waria tidak digolongkan sebagai orang-orang ’berpenyakit’, masyarakat Indonesia masih menganggapnya sebagai momok dan patut dijauhi. Baik masyarakat yang tinggal di kota besar maupun masyarakat di daerah terpencil kerap mengucilkan kaum ini. Anggapan bahwa waria adalah kaum yang kerap kali melakukan tindak kriminalitas menjadi salah satu alasan mengapa masyarakat merasa perlu menjauhi kaum tersebut. Persepsi semacam ini bisa terjadi karena ada peran media massa dalam pencitraan kaum waria.

Dalam sebuah penelitian yang menganalisis muatan berita yang mengangkat kasus dari kaum waria di harian Kompas dan Jawa Pos terbitan 2001 – 2004, ditemukan bahwa dalam konsep kriminalitas, waria digambarkan sebagai kelompok yang sering melakukan tindak kejahatan, seperti mencuri uang saat melayani, merampas ponsel, membunuh kekasihnya karena cemburu dan kriminalitas lainnya. Makna dan pencitraan yang muncul dalam teks cenderung negatif. Dikatakan cenderung negatif karena sekalipun dalam pemilihan kata atau frase tidak terdapat kata berkonotasi negatif, tapi secara tidak langsung pemberitaan kriminalitas yang dilakukan media memberi citra negatif pada gender waria. 

Dalam tema kriminalitas, Jawa Pos dan Kompas memang lebih berperan sebagai pihak yang menceritakan fakta. Meskipun demikian, fakta yang ditampilkan dalam pemberitaan telah mengonstruksi identitas waria sebagai individu atau kelompok yang sering melakukan tindak kriminalitas—sekalipun dalam hal ini media bersikap netral.

Ada beberapa kasus yang menggambarkan stereotiping terhadap kaum waria di Indonesia. Salah satunya adalah adanya tokoh waria yang diperankan oleh Tessy Srimulat. Srimulat yang pernah bertahan hampir selama delapan tahun di  Indosiar, hampir tidak pernah absen menampilkan Tessy yang identik dengan tokoh waria berdandanan tebal dan berperilaku ceroboh sehingga mengundang tawa dari penonton. Tokoh banci Tessy ini disukai penonton sehingga akhirnya muncullah berbagai tokoh banci lain, seperti  Aming, Tora Sudiro, dan Sogi Indradhuaja dalam acara Extravaganza di TransTV. Ketiganya berpenampilan serupa dengan Tessy: berdandanan tebal ala perempuan, bersuara tinggi, dan kerap melakukan kecerobohan yang disengaja untuk mengundang tawa.

Penampilan tokoh banci kemudian mendapat larangan dari KPI. Alasan pelarangan oleh KPI ini berdasarkan Pedoman Perilaku Penyiaran - Standar Program Siaran (P3-SPS) yang menyatakan bahwa lembaga penyiaran dilarang memuat program yang melecehkan kelompok masyarakat yang selama ini diperlakukan negatif dan kelompok masyarakat yang kerap dianggap memiliki penyimpangan orientasi sesksual, seperti waria/banci, laki-laki yang keperempuanan, perempuan yang kelaki-lakian, dan sebagainya.

Pencitraan negatif terhadap kaum waria semakin diperkuat dengan munculnya reality show Be A Man. Di dalam acara tersebut digambarkan ada beberapa waria yang dilatih sampai benar-benar menjadi laki-laki sejati; berpenampilan dan berperilaku maskulin. Hal ini menunjukkan bahwa dalam masyarakat Indonesia sosok laki-laki semacam inilah yang bisa diterima, sedangkan yang lain tidak.

Selain itu, pencitraan negatif terhadap waria juga berasal dari industri musik dalam negeri. Pada tahun 2005, grup musik Project Pop merilis lagu berjudul ”Jangan Ganggu Banci”. Dari judul lagu ini, jelas memberi citra bahwa waria adalah kaum yang berbahaya sehingga masyarakat diharapkan jangan mengganggu (berurusan) dengan kaum waria. Media lainnya yang juga turut berkontribusi dalam memberikan citra negatif pada kaum waria adalah komik. Komik Benny & Mice yang muncul seminggu sekali di harian Kompas diterbitkan dalam sebuah buku ”100 Tokoh yang Mewarnai Jakarta”. Buku yang menggambarkan berbagai tipe orang Jakarta itu pun menghadirkan karikatur kaum waria di Jakarta. Di buku tersebut digambarkan ada dua tipe waria, yaitu waria/banci lampu merah dan banci Taman Lawang. Pengkotak-kotakan dalam kaum waria ini pun jelas semakin menyudutkan dan memberikan image buruk pada kaum waria. Tidak ketinggalan, di dunia maya pun citra waria tidak lebih baik di dunia yang sebenarnya. Apa yang terjadi di dunia maya memang merupakan cerminan dari realitas yang terjadi di dunia ini. Di situs microblog, seperti Twitter, hadir akun @KamusBANCI2012 yang berisi segala hal mengenai bahasa-bahasa banci. Hal yang lebih mengejutkan adalah bahwa akun tersebut memiliki 24.426 followers. Ini membuktikan bahwa masyarakat Indonesia melihat kaum waria sebagai bahan lelucon yang wajar.

Dampak dari segala pencitraan negatif terhadap waria oleh berbagai media tentunya semakin merendahkan kaum waria di mata masyarakat. Masyarakat pun menganggap waria sebagai bahan lelucon atau sesuatu yang menghibur. Selain itu, muncul pula fobia atau rasa takut yang disebut homophobia dan transphobia di tengah masyarakat. Sementara itu, dari kalangan waria sendiri pun muncul protes terhadap apa yang telah dicitrakan media kepada mereka selama ini, tapi suara-suara kaum waria itu pun tidak begitu menjadi perhatian publik karena publik telah terstigma dengan apa yang digambarkan media mengenai kaum waria selama ini.

0 komentar :

Posting Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.