22 Desember 2011

Tiga Tahun di BEM FISIP UI, Rasanya?

Bertepatan dengan berakhirnya acara FISIP Awards pada tanggal 21 Desember kemarin maka berakhir sudahlah seluruh program-program kerja BEM FISIP UI pada kepengurusan tahun 2011 ini. Rasanya? Sangat senang dan juga terharu. Namun, di sini saya tidak akan bicara banyak soal "perasaan" senang dan terharu ini. Saya akan sedikit bercerita mengenai perasaan saya selama tiga tahun ini berkecimpung di dunia per-BEM-an di FISIP UI.

Pertama, saya akan bilang: thank God, finally it's over! Saya tidak pernah menyesal menjadi bagian dari keluarga BEM FISIP UI, tapi sungguh sangat melegakan karena pada akhirnya ini semua telah usai. Saya masih ingat, di akhir tahun 2008, tepatnya setelah salah satu program kerja BEM FISIP UI pada masa itu—GRAFITY 2008—berakhir, saya sangat yakin bahwa saya harus menjadi bagian dari organisasi (yang kini lebih sering saya sebut sebagai "second family") ini. Tidak hanya itu, saya ingat bahwa saya punya misi tertentu dengan bergabung di BEM FISIP UI, yaitu saya ingin menjadi Project Officer acara GRAFITY di tahun berikutnya; dan saya berhasil. Di akhir 2009, saya sedikit memperhitungkan apakah saya akan melanjutkan di BEM FISIP UI 2010 atau let's say mencoba hal baru di luar BEM. Ternyata tidak, saya pun ikut open tender untuk Biro Dana Usaha dan saya diangkat menjadi Kepala Biro Dana Usaha di BEM FISIP UI 2010. Artinya, itulah tahun kedua saya di BEM FISIP UI.

Kemudian, di akhir 2010, saya kira saya sudah mendapatkan banyak hal—pengalaman, kesuksesan (profit besar) dan tim terbaik yang saya punya di biro yang saya pimpin—dan itu membuat saya berpikir untuk "pensiun" dari duni BEM dan mulai lebih fokus dengan masalah akademis saya. Ambisi untuk lulus 3,5 tahun mulai terlintas dalam pikiran saya. Namun, ajakan Galih Ramadian (Ketua BEM FISIP UI terpilih periode 2011) pada malam Gelas Teko 3 (Gelar Apresiasi Teater Kolam) untuk bergabung di timnya pada kepengurusan 2011di bagian Humas membuat saya cukup berpikir keras. Ada semacam dorongan dari dalam diri saya untuk mengambil peluang ini, tapi di satu sisi ada pula perasaan-perasaan yang membuat saya ragu. Singkat cerita, saya pun akhirnya menerima ajakan beliau, dan... welcome in the third year!

Seorang sahabat, Yusuf Hakim Gumilang, yang juga merupakan Ketua BEM FISIP UI 2010 berkata pada saya bahwa di tahun ketiga di BEM, yaitu tahun di mana seorang pengurus berada dalam tataran Pengurus Inti, akan menjadi "tahun neraka" jika orang tersebut tidak benar-benar merasa nyaman atau bahkan terpaksa berada di dalamnya. Dan, saya bisa katakan bahwa di tahun ketiga saya ini, saya merasa berada di "depan pintu neraka", untungnya belum sampai di "nerakanya". Ada berbagai pergolakan dan ya... kegalauan yang saya alami di tahun ini. Mulai dari masalah akademis, masalah organisasi, hingga masalah pribadi yang akhirnya berimbas pada masalah-masalah lain. Ini parah; jelas sangat parah (bagi saya). Saya merasa kehilangan arah, saya merasa kehilangan kepercayaan diri, saya merasa gagal, saya merasa mengecewakan banyak orang, terutama mereka yang telah percaya pada saya. Berbagai tugas kuliah saya mulai tidak ter-manage dan rapat-rapat pengurus sering kali tidak saya hadari. Saya merasa begitu tertekan. Tekanan kuliah dan BEM sungguh membuat saya benar-benar tidak tahu harus apa. Saya selalu merasa tidak punya cukup waktu. Saya selalu merasa waktu 24 jam sangat kurang untuk menyelesaikan segalanya. Saya pun mulai bertanya-tanya dalam hati apakah keputusan saya pada saat itu tepat. Saya mulai meragukan diri saya sendiri. Sebelumnya, saya tidak pernah menyesali segala hal atau segala keputusan yang saya buat. Namun, pada saat itu, saya benar-benar merasa bingung.

Time heals. Dan itu terjadi. Sekitar empat bulan awal, saya merasa segalanya buruk. Saya merasa tidak bisa menentukan prioritas. Saya merasa semuanya penting untuk dikerjakan dan semuanya berantakan. Namun, perlahan semuanya kembali normal. Bukan karena saya, tapi berkat dukungan orang-orang di sekitar saya. Perlahan saya mulai menikmati kegiatan yang telah saya pilih ini. Memang tidak mudah, tapi saya mencoba selalu berpikir bahwa: tidak mudah bukan berarti tidak bisa. Akhirnya, hingga kini semuanya membaik (bagi saya). Saya sangat sadar, beberapa orang mungkin berpikir bahwa saya bukanlah seperti saya yang dulu pada masa 2009 dan 2010. Saya tidak akan menyangkal karena itu benar. Saya memang tidak merasa maksimal di tahun ini dan saya sangat menyesalkan hal itu. Namun, entahlah, ini pemikiran saya saja, tapi sepertinya kita memang tidak bisa benar-benar mengedepankan dua hal yang benar-benar menjadi passion kita tanpa harus mengorbankan salah satunya. Dalam hal ini, antara kuliah dan BEM. Mungkin kedua hal ini masih bisa berjalan berdampingan di dua tahun sebelumnya, tapi di tahun ini saya memang harus mengorbankan salah satunya. Bukan berarti tidak bertanggung jawab dengan pilihan yang telah saya pilih, tapi dua hal yang menjadi ambisi saya ini justru seperti berbalik "menyerang" saya. Ini membuat saya harus berfokus pada satu pilihan. Saya pun memilih lebih fokus pada kuliah karena memang jauh di lubuk hati saya, saya ingin lulus kulah dalam tempo 3,5 tahun.

Anggaplah ini sebagai "pengakuan dosa" saya kepada seluruh pengurus BEM FISIP UI 2011. Maaf, jika harapan kalian pada saya mungkin tidak begitu banyak yang bisa saya penuhi. Bukan karena saya tidak komitmen—saya selalu berusaha komitmen, hanya saja... tahun ini sangat sulit bagi saya. Ini membuat saya harus memilih. Namun, saya selalu berusaha untuk selalu mengerjakan secara inisiatif hal-hal yang menjadi tugas pokok saya pada kepengurusan tahun ini. Saya sadar, saya sangat tidak maksimal pada tahun ini, saya sadar bahwa banyak hal-hal yang mungkin tidak berjalan dengan baik sebagaimana mestinya. Saya sadar semua itu dan saya minta maaf kepada teman-teman pengurus semuanya.

Namun, saya sayang kalian. Saya sangat mencintai BEM ini. Inilah keluarga terhangat di luar rumah saya yang saya temui di kampus. Inilah keluarga yang saya punya pada saat saya merasa tidak memiliki siapa-siapa di jurusan saya dulu. Inilah keluarga yang mengajarkan pada saya bahwa apa pun mimpi yang kita punya, selama kita yakin bahwa kita bisa maka itu akan terwujud, tidak peduli apa pun hambatan dan rintangannya maka mimpi itu pasti terwujud. Inilah keluarga yang mengajarkan pada saya betapa arti "proses" jauh lebih penting daripada sekedar output. Inilah keluarga tempat saya menemukan orang-orang hebat, orang-orang yang membuat saya berpikir bahwa Indonesia masih punya harapan cerah jika orang-orang seperti kalianlah yang nantinya memimpin negeri ini. Inilah keluarga yang tidak akan pernah saya lupakan.

Terima kasih atas tiga tahun pengalaman yang luar biasa. Oke, sekarang saya mulai mengeluarkan air mata. Sedih. Sedih karena semua ini sudah berakhir, sedih karena sayangnya saya tidak berkontribusi maksimal di tahun ini, sedih karena... kenangan-kenangan itu begitu indah. Terima kasih Tata (Shinta Aprilia), orang yang sudah mengenalkan saya pada dunia ini. Terima kasih Thomas (Stevie Thomas Ramos), orang yang sudah memberi saya kesempatan menjadi bagian resmi dari keluarga ini untuk pertama kalinya. Terima kasih Ucup (Yusuf Hakim Gumilang), orang yang sudah saya anggap sebagai saudara saya sendiri, terima kasih atas kesempatannya di tahun ke-2. Dan... terima kasih Galih (Galih Ramadian), atas kepercayaannya dan kesabarannya menghadapi saya di tahun ini. Saya tahu, saya bukan yang terbaik dan saya tidak pernah berharap dianggap menjadi yang terbaik, tapi satu hal: terima kasih telah mengajak saya bergabung. Saya tidak pernah menyesal. Segalanya memang tidak mudah, tapi bukan berarti tidak bisa.

Akhirnya, saya sudah berada dalam detik-detik yang sangat emosional. Ada banyak perasaan yang bergejolak selama menuliskan posting-an ini. Apa lagi yang bisa saya bilang? Saya selalu bangga menjadi bagian dari keluarga ini, BEM FISIP UI, dan... semoga BEM FISIP UI cukup bisa mengenang bahwa, seorang anak "pemberontak" bernama Fauzan Al-Rasyid pernah menjadi bagian dari keluarga ini selama tiga tahun lamanya, dan dia sangat mencintai keluarganya ini, BEM FISIP UI, apa pun alasannya.

"Maaf, terima kasih, dan tetap berkontribusi."—Yusuf Hakim Gumilang, 2010

0 komentar :

Posting Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.