Welcome to My World!

Welcome visitors! Please enjoy my site and I hope you can get many useful information. If you wish, you may contact me through Facebook, Twitter, or any other social media that I linked on the menu bar above. Thank you.

Die Poskarten

This is my another blog: Die Poskarten. This blog will show you all my postcards collection. If you want to swap a postcard, please don't hesitate to contact me from the menu bar above.

Bonjour à Tous !

"Bonjour à Tous !"is my Tumblr site. Please take a look on it and maybe you can find some funny contents that you will love. You can also follow me on Tumblr to get my updates on the site.

Please Do Not Copy

You are welcome to link to my site and use my resources in your classroom, but please respect my hardwork and do not copy my page or files and add them to your website. Thank you.

Russia Beyond the Headlines in Bahasa Indonesia

Russia Beyond the Headlines, your guide to Russia, a diverse and complex country cannot be understood in the context of stereotypes. Now available in Bahasa Indonesia!

16 November 2012

Kemana Mahasiswa UI Harus Berharap?

Kemana mahasiswa UI harus berharap? Kepada dosen? Kepada dekan atau rektornya? Kepada teman CeEs-annya? Pacarnya? Parter-in-crime? Well, tergantung konteksnya. Namun, dalam konteks kemahasiswaan, setidakpedulinya (atau banyak yang bilang: se-apatis-nya) seorang mahasiswa UI soal pergerakan kemahasiswaan atau politik kampus, mahasiswa UI masih tetap menaruh harapan besar kepada orang-orang yang kerap diberi gelar "lebih cinta pekerjaannya" daripada teman atau keluarganya, orang-orang yang rela pergi tak melihat matahari terbit dan pulang tak melihat matahari terbenamsaking sibuknya, para pemimpin mahasiswa di kampus, para pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Terlepas dari banyaknya mahasiswa yang merasa biasa-biasa saja dengan BEM, tapi saya termasuk orang yang percaya bahwa kehadiran BEM tetap diperlukan dan dirasa penting untuk tetap eksis di dunia mahasiswadan saya yakin saya bukan satu-satunya orang yang berpikir begitu.

Tulisan saya kali ini muncul akibat munculnya isu-isu seputar kemahasiswaan di kampus saya. Duh, padahal saya sudah lulus loh, teman-teman dekat saya di kampus pasti akan bilang, "Masih aje lo mikirin yang begituan," hahaha. Ya, mau bagaimana lagi? Isu-isu seperti ini, yang rada-rada nyerempet politik kampus memang selalu menyenangkan bagi saya. Anyway, selama saya berprofesi sebagai mahasiswa, saya memang dekat dengan dunia BEM. Namun, saya hanya aktif di BEM fakultas, yaitu BEM FISIP UI. Saya sendiri tidak begitu mengikuti perpolitikan BEM UI walaupun sempat beberapa kali pemilihan raya (Pemira) BEM UI menjadi sangat seru di kampus.

Oke, sebelum melangakah lebih jauh, tulisan ini adalah murni pandangan saya sebagai "orang luar" atau sebut saja outsider yang hanya "melihat" BEM UI dari kejauhansaya sudah bukan lagi mahasiswa. Orang-orang bisa setuju, bisa tidak, dan itu sah-sah saja. Yang mau mengkritik pun diperbolehkan, saya pun sudah terbiasa dengan itu dan akan menerima dengan tangan terbuka.

Kita kembali ke topik. Jadi, niatan saya menulis ini dimulai dari isu yang... katanya, denger-denger nih, calon ketua dan wakil ketua BEM UI tahun ini hanya ada satu pasang. Ah masa iya? Kok bisa? Awalnya saya juga tidak percaya karena paling tidak minimal pasti ada dua pasang calon yang mengajukan diri untuk menjadi the next presiden mahasiswa UI. Bahkan pernah pada suatu masa, belum lama ini, sempat ada lebih dari tiga pasangan calon yang mendaftarkan diri sebagai peserta Pemira UI walau yang lulus verifikasi hanya tiga pasang saja, tapi saya kira hal itu tetap membuktikan bahwa "pertarungan" politik di dunia mahasiswa masih menjadi hal penting. Namun, ternyata isu calon pasangan tunggal tersebut memang bukan "katanya", isu tersebut ternyata benar adanya. Padahal, saya sangat yakin jabatan Ketua BEM UI adalah sebuah kebanggaan tersendiri dan dari ribuan kepala mahasiswa UI pasti tidak sedikit yang bermimpi mau menjadi seorang Ketua BEM UI. Oke, itu adalah amanah, saya tahu betul soal itu, tapi saya bukan membahas soal amanah di sini. Saya sangat terkejut bahwa ternyatadan kayaknyamenjadi Ketua BEM UI tidak lagi menjadi mimpi yang cukup populer di kalangan mahasiswa. Ah, itu kan memang anggapan saya, tapi jika kita mau melihat sedikit lebih dalam, kita tentu bisa mempertanyakan: lantas ini salah siapa?

Loh, memang salah kalau seseorang tidak mau menjadi Ketua BEM UI? Memang salah kalau seseorang (atau banyak orang) lebih memilih jadi mahasiswa biasa saja, mahasiswa yang punya kehidupan teratur, bisa hang out dengan teman-temannya kapan pun, tidak perlu pusing memikirkan tingkah para pejabat di DPR sana, tidak perlu terlalu menjaga sikap, dsb.? Oh, tentu tidak. Semua orang punya preferensi masing-masing mengenai "mau jadi apa" dia selama di dunia kampus. Namun, kembali pada soal "nasib bangsa" ini yang tampaknya memang dibebankan kepada para pemuda, maka menjadi hal yang sangat penting ketika universitas (yang diklaim) sebagai universitas terbaik di Indonesia, dan bla bla bla ini semakin kehilangan sosok pemuda yang peduli dengan regenerasi kepemimpinan dan kepemudaan itu sendiri. Dan BEM UI, sebagai suatu wadah yang berisi kumpulan pemuda-pemuda terbaik dari seantero fakultas di UI tentu berkewajiban dan bertanggung jawab untuk meneruskan semangat kepemimpinan pemuda di UI.

Nah, kembali ke soal si calon tunggal. Tentunya, ini adalah fenomena yang sangat mengejutkan. Ya... bagi saya, dan bagi banyak teman-teman mahasiswa UI yang masih peduli dengan dunia perjuangan mahasiswa. Ada apa ini? Kenapa bisa hanya satu pasang calon yang "maju"? Memang sih, akan ada sistem yang mengatur soal pemilihan ini, dalam arti, si calon ini tidak lantas bisa menang mutlak hanya karena tidak ada pesaingnya. Namun, saya kira dari kejadian ini, ada dua hal yang (mungkin) bisa kita tarik sebagai kesimpulan, yaitu (1) tidak ada regenerasi di BEM UIdan itu parah, dan (2) tidak ada usaha meregenerasi kepemimpinan dari BEM UIkalau pun ada, sebut saja usaha itu (selama ini) ternyata: gagal.

Sejujurnya, saya tidak mau terlalu menuduh BEM UI tidak mampu mencetak kader-kader pemimpin baru di kalangan mahasiswawalau rasanya saya tidak bisa menutup mata bahwa bagaimanapun kualitas BEM semakin menurunapalagi karena saya tidak lagi berkecimpung di dunia kampus. Namun, izinkan saya untuk sedikit menyampaikan pendapat.

Sebelum lebih jauh, saya mau sedikit berbagi cerita tentang bagaimana saya melihat BEM UI 2012. BEM UI tahun ini mengusung suatu tema besar mengenai kekuatan bekarya; the power of innovation. BEM UI percaya bahwa untuk berkontribusi kepada negeri yang kita cintai ini diperlukan lebih dari sekedar kata-kata atau orasi di tengah massa, tapi lebih dari: tindakan nyata. Tindakan seperti apa? Apa pun, dan oleh karena itulah kita harus bekarya. Bekarya dan terus bekarya hingga menginspirasi orang lain. Ketika kita menginspirasi orang lain maka diharapkan orang lain pun akan melakukan sesuatu yang menginspirasi orang lain, dan terus begitu. Saya sendiri melihat bahwa BEM UI tahun ini memang membuat suatu gebrakan yang sangat besar. Organisasi ini berisi orang-orang yang sangat kreatif dalam membuat program dan terutama saya sangat menyukai bagaimana mereka mengemas program-program BEM dengan sangat menarik untuk para mahasiswa. Bahkan, saya rasa BEM tahun ini sangat ahli dalam hal penguasaan media dan teknologi, terutama ketika saya melihat beberapa post di halaman Tumblr saya yang berisi screen capture aplikasi Android dalam rangka menyambut salah satu acara mahasiswa UI yang paling ditunggu-tunggu setiap tahunnya: Olimpiade UI. Ini sangat luar biasa dan sebagai si outsider tadi, saya acungkan dua jempol untuk kreativitas BEM UI tahun ini.

Namun, terlepas dari inovasi-inovasi baru itu, tampaknya ada satu lubang besar yang terlihat menjelang Pemira tahun ini, yaitu regenerasi (dan kaderisasi). Saya pun baru tahu bahwa ternyata pasangan calon yang akan berjuang mendapatkan kursi kepemimpinan mahasiswa di UI bukanlah berasal dari BEM UI. Sang calon ketua berasal dari FH, sedangkan sang calon wakil ketua berasal dari FKM. Loh, memang ada yang salah dengan itu? Tentunya tidak ada. Tidak ada yang salah, minimal jika ada lebih dari sepasang calon yang maju dalam perebutan "hati" mahasiswa UI ini. Nah, hanya saja, saya kira pasti akan muncul tanda tanya besar di banyak pikiran mahasiswa UI, kok bisa? Kok bisa cuma satu pasang yang maju? Dan bahkan, tidak ada kandidat dari internal BEM UI sendiri yang mencalonkan diri untuk menjadi ketua dan wakil ketua BEM UI 2013. Biasanya, pihak BEMbaik di tingkat UI maupun fakultasselalu mempunyai semacam ego, bahwa siapa pun penerus kepengurusan BEM selanjutnya, paling tidak orang tersebut harus berasal dari internal BEM, bukan dari luar. Atau paling minimal, ada orang-orang dari internal BEM UI yang ikut "bertarung" dalam Pemira UI. Ini tampaknya sudah menjadi rahasia umum bahwa tiap golongan yang berkuasa menginginkan keeksistensian golongannya terjaga, ah rasa-rasanya di mana-mana juga begitu. Namun, dengan hanya adanya satu pasang calon yang maju di Pemira UI tahun ini tentu menjadi pertanyaan besar: emang (ketua) BEM-nya ngapain sih? Masa dari BEM sendiri sampai enggak ada yang maju?

Bagi saya pribadi, tidak adanya kandidat yang maju dari internal BEM UI sendiri menandakan bahwa tidak adanya proses regenerasi dan kaderisasi di tubuh organisasi ini. Padahal, tiap tahunnya BEM UI selalu mengadakan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan pengembangan kepemimpinan bagi mahasiswa UI (khususnya mahasiswa baru). Lantas, akan menjadi sangat lucu jika organisasi yang berusaha bekarya demi menginspirasi banyak orang, tapi ternyata tidak mampu menginspirasi pengurus di internal organisasi untuk meneruskan tongkat estafet kepemimpinan di BEM. Terlepas dari si calon ketua yang maju kali ini pernah mengenyam "pendidikan" di BEM UI pada kepengurusan sebelumnya, tapi hal ini seharusnya menjadi momok bagi pengurus BEM UI 2012. Dan ditambah lagi, pasangan calon tunggal ini diketahui berasal dari satu golongan (sebut saja: tarbiyah) yang tampaknya punya banyak kesan tersendiri di mata mahasiswa UI (dan mahasiswa Indonesia pada umumnya), ah itu kan satu lagi rahasia umum di kalangan mahasiswa.

Jadi, kemana mahasiswa UI harus berharap jika tidak ada lagi yang mahasiswa yang mau maju mencalonkan diri sebagai calon ketua dan wakil ketua BEM UI? Sederhananya, yah, enggak ada pilihan lain dong ya? Tentunya partisipasi politik mahasiswa UI akan semakin rendah. Kok saya bisa bilang begitu? Itu prediksi saya saja. Kemungkinan mayoritas pemilih pasti hanya akan berasal dari golongan tertentu dan jika sampai akhirnya si pasangan tunggal itu memang terpilih, ya... mari kita berbaik sangka, berpikir positif tentang nasib BEM UI ke depannyaanyway, toh ini bukan pertama kali suatu golongan tertentu memimpin kursi BEM UI. Namun, tentu yang sangat disayangkan adalah mengapa tidak ada calon lain? Saya kira, para mahasiswa tetap membutuhkan alternatif, tentu tidak seperti calon pilpres alternatif a.k.a. Rhoma Irama. Periode satu tahun kepengurusan sebenarnya cukup untuk menyiapkan kader-kader yang siap memimpin UI. Sayangnya, kader-kader ini pun bahkan tidak muncul dari internal BEM UI. Mungkin ini seharusnya bisa menjadi pelajaran bagi internal BEM UI untuk memperbaiki sistem kaderisasi internalnya sehingga sebelum menginspirasi banyak orang berbuat lebih, mungkin ada baiknya untuk menginspirasi di internal pengurus bahwa "our job has not finished yet; it is your time to continue what we have built so far." Ah, ya sudahlah, ini sedikit pendapat sok tahu saya saja di tengah waktu kerja yang kebetulan sedang lengang. Semoga apa pun hasilnya, terkait Pemira UI ini, tetap membawa kebaikan bagi mahasiswa UI, UI, dan Indonesia; tentunya itu adalah harapan hampir semua orang. Satu hal lagi, semoga beberapa pendapat saya soal BEM UI itu salah.

   Add Friend

09 November 2012

President Obama's Reelection Speech

This is the full text of President Barack Obama’s speech in Chicago after his reelection on Tuesday night:

President Barack Obama told cheering supporters at his campaign headquarters in Chicago today that "the best is yet to come" for the United States as he stormed to a second term by defeating the Republican Mitt Romney.
“Thank you so much.

Tonight, more than 200 years after a former colony won the right to determine its own destiny, the task of perfecting our union moves forward.

It moves forward because of you. It moves forward because you reaffirmed the spirit that has triumphed over war and depression, the spirit that has lifted this country from the depths of despair to the great heights of hope, the belief that while each of us will pursue our own individual dreams, we are an American family and we rise or fall together as one nation and as one people.

Tonight, in this election, you, the American people, reminded us that while our road has been hard, while our journey has been long, we have picked ourselves up, we have fought our way back, and we know in our hearts that for the United States of America the best is yet to come.

I want to thank every American who participated in this election, whether you voted for the very first time or waited in line for a very long time. By the way, we have to fix that. Whether you pounded the pavement or picked up the phone, whether you held an Obama sign or a Romney sign, you made your voice heard and you made a difference.

I just spoke with Gov. Romney and I congratulated him and Paul Ryan on a hard-fought campaign. We may have battled fiercely, but it’s only because we love this country deeply and we care so strongly about its future. From George to Lenore to their son Mitt, the Romney family has chosen to give back to America through public service and that is the legacy that we honor and applaud tonight. In the weeks ahead, I also look forward to sitting down with Gov. Romney to talk about where we can work together to move this country forward.

I want to thank my friend and partner of the last four years, America’s happy warrior, the best vice president anybody could ever hope for, Joe Biden.

And I wouldn’t be the man I am today without the woman who agreed to marry me 20 years ago. Let me say this publicly: Michelle, I have never loved you more. I have never been prouder to watch the rest of America fall in love with you, too, as our nation’s first lady. Sasha and Malia, before our very eyes you’re growing up to become two strong, smart beautiful young women, just like your mom. And I’m so proud of you guys. But I will say that for now one dog’s probably enough.

To the best campaign team and volunteers in the history of politics. The best. The best ever. Some of you were new this time around, and some of you have been at my side since the very beginning. But all of you are family. No matter what you do or where you go from here, you will carry the memory of the history we made together and you will have the lifelong appreciation of a grateful president. Thank you for believing all the way, through every hill, through every valley. You lifted me up the whole way and I will always be grateful for everything that you’ve done and all the incredible work that you put in.

I know that political campaigns can sometimes seem small, even silly. And that provides plenty of fodder for the cynics that tell us that politics is nothing more than a contest of egos or the domain of special interests. But if you ever get the chance to talk to folks who turned out at our rallies and crowded along a rope line in a high school gym, or saw folks working late in a campaign office in some tiny county far away from home, you’ll discover something else.

You’ll hear the determination in the voice of a young field organizer who’s working his way through college and wants to make sure every child has that same opportunity. You’ll hear the pride in the voice of a volunteer who’s going door to door because her brother was finally hired when the local auto plant added another shift. You’ll hear the deep patriotism in the voice of a military spouse who’s working the phones late at night to make sure that no one who fights for this country ever has to fight for a job or a roof over their head when they come home.

That’s why we do this. That’s what politics can be. That’s why elections matter. It’s not small, it’s big. It’s important. Democracy in a nation of 300 million can be noisy and messy and complicated. We have our own opinions. Each of us has deeply held beliefs. And when we go through tough times, when we make big decisions as a country, it necessarily stirs passions, stirs up controversy.

That won’t change after tonight, and it shouldn’t. These arguments we have are a mark of our liberty. We can never forget that as we speak people in distant nations are risking their lives right now just for a chance to argue about the issues that matter, the chance to cast their ballots like we did today.

But despite all our differences, most of us share certain hopes for America’s future. We want our kids to grow up in a country where they have access to the best schools and the best teachers. A country that lives up to its legacy as the global leader in technology and discovery and innovation, with all the good jobs and new businesses that follow.

We want our children to live in an America that isn’t burdened by debt, that isn’t weakened by inequality, that isn’t threatened by the destructive power of a warming planet. We want to pass on a country that’s safe and respected and admired around the world, a nation that is defended by the strongest military on earth and the best troops this — this world has ever known. But also a country that moves with confidence beyond this time of war, to shape a peace that is built on the promise of freedom and dignity for every human being.

We believe in a generous America, in a compassionate America, in a tolerant America, open to the dreams of an immigrant’s daughter who studies in our schools and pledges to our flag. To the young boy on the south side of Chicago who sees a life beyond the nearest street corner. To the furniture worker’s child in North Carolina who wants to become a doctor or a scientist, an engineer or an entrepreneur, a diplomat or even a president — that’s the future we hope for. That’s the vision we share. That’s where we need to go — forward. That’s where we need to go.

Now, we will disagree, sometimes fiercely, about how to get there. As it has for more than two centuries, progress will come in fits and starts. It’s not always a straight line. It’s not always a smooth path. By itself, the recognition that we have common hopes and dreams won’t end all the gridlock or solve all our problems or substitute for the painstaking work of building consensus and making the difficult compromises needed to move this country forward. But that common bond is where we must begin.

Our economy is recovering. A decade of war is ending. A long campaign is now over. And whether I earned your vote or not, I have listened to you, I have learned from you, and you’ve made me a better president. And with your stories and your struggles, I return to the White House more determined and more inspired than ever about the work there is to do and the future that lies ahead.

Tonight you voted for action, not politics as usual. You elected us to focus on your jobs, not ours. And in the coming weeks and months, I am looking forward to reaching out and working with leaders of both parties to meet the challenges we can only solve together. Reducing our deficit. Reforming our tax code. Fixing our immigration system. Freeing ourselves from foreign oil. We’ve got more work to do.

But that doesn’t mean your work is done. The role of citizen in our democracy does not end with your vote. America’s never been about what can be done for us. It’s about what can be done by us together through the hard and frustrating, but necessary work of self-government. That’s the principle we were founded on.

This country has more wealth than any nation, but that’s not what makes us rich.We have the most powerful military in history, but that’s not what makes us strong. Our university, our culture are all the envy of the world, but that’s not what keeps the world coming to our shores.

What makes America exceptional are the bonds that hold together the most diverse nation on earth. The belief that our destiny is shared; that this country only works when we accept certain obligations to one another and to future generations. The freedom which so many Americans have fought for and died for come with responsibilities as well as rights. And among those are love and charity and duty and patriotism. That’s what makes America great.

I am hopeful tonight because I’ve seen the spirit at work in America. I’ve seen it in the family business whose owners would rather cut their own pay than lay off their neighbors, and in the workers who would rather cut back their hours than see a friend lose a job. I’ve seen it in the soldiers who reenlist after losing a limb and in those SEALs who charged up the stairs into darkness and danger because they knew there was a buddy behind them watching their back.

I’ve seen it on the shores of New Jersey and New York, where leaders from every party and level of government have swept aside their differences to help a community rebuild from the wreckage of a terrible storm. And I saw just the other day, in Mentor, Ohio, where a father told the story of his 8-year-old daughter, whose long battle with leukemia nearly cost their family everything had it not been for health care reform passing just a few months before the insurance company was about to stop paying for her care.

I had an opportunity to not just talk to the father, but meet this incredible daughter of his. And when he spoke to the crowd listening to that father’s story, every parent in that room had tears in their eyes, because we knew that little girl could be our own. And I know that every American wants her future to be just as bright. That’s who we are. That’s the country I’m so proud to lead as your president.

And tonight, despite all the hardship we’ve been through, despite all the frustrations of Washington, I’ve never been more hopeful about our future. I have never been more hopeful about America. And I ask you to sustain that hope. I’m not talking about blind optimism, the kind of hope that just ignores the enormity of the tasks ahead or the roadblocks that stand in our path. I’m not talking about the wishful idealism that allows us to just sit on the sidelines or shirk from a fight.

I have always believed that hope is that stubborn thing inside us that insists, despite all the evidence to the contrary, that something better awaits us so long as we have the courage to keep reaching, to keep working, to keep fighting.

America, I believe we can build on the progress we’ve made and continue to fight for new jobs and new opportunity and new security for the middle class. I believe we can keep the promise of our founders, the idea that if you’re willing to work hard, it doesn’t matter who you are or where you come from or what you look like or where you love. It doesn’t matter whether you’re black or white or Hispanic or Asian or Native American or young or old or rich or poor, able, disabled, gay or straight, you can make it here in America if you’re willing to try.

I believe we can seize this future together because we are not as divided as our politics suggests. We’re not as cynical as the pundits believe. We are greater than the sum of our individual ambitions, and we remain more than a collection of red states and blue states. We are and forever will be the United States of America.

And together with your help and God’s grace we will continue our journey forward and remind the world just why it is that we live in the greatest nation on Earth.

Thank you, America. God bless you. God bless these United States.”

   Add Friend

08 November 2012

Obama: Four More Years

Presiden Barack Obama untuk kedua kalinya terpilih menjabat sebagai presiden Amerika Serikat setelah berhasil mengantongi 303 electoral votes. Obama sebenarnya hanya perlu mendapatkan 270 electoral votes untuk mengamankan kursi kepresidenannya dari sang penantang, Mitt Romney. Walaupun tampaknya pemilihan presiden AS kali ini kurang greget atau banyak yang mengatakan tidak sepanas dan menarik seperti pada tahun 2008 yang mempertemukan antara Obama dan McCain, tapi tidak disangka justru persaingan ketat dalam perebutan suara sangat terasa ketika perhitungan hasil pemilihan. Bahkan Obama dan Romney sempat mengumpulkan suara berimbang, yaitu masing-masing 162 suara pada electoral votes. Dunia pun tampaknya cukup antusias menyambut hasil pemilihan tersebut. Dikabarkan pula ada banyak spekulasi mengenai keadaan pasar AS yang akan membaik pascapemilihan ini. Tampaknya memang segala hal yang terjadi di AS akan selalu menjadi pusat perhatian dunia. Hal ini membuat saya berpikir bahwa AS kelihatannya memang telah dianggap menjadi "ibukota" dunia, sementara negara-negara besar lain adalah layaknya provinsi-provinsi besar lain, dan sementara Indonesia mungkin hanya seperti layaknya desa pinggiran di salah satu pelosok dunia.

Ah, biarlah. Lagipula saya sedang tidak begitu ingin membahas soal eksistensi Indonesia di mata AS. Saya kali ini sangat tertarik dengan strategi kampanye yang Obama lakukan untuk kembali memenangkan hati rakyat AS atau bahkan soal Obama yang sangat popular di Indonesia karena sempat menjadi "anak Menteng". Mungkin sudah banyak yang tahu bahwa starategi kampanye Obama yang menggunakan metode baru, khususnya dengan bantuan social media, berhasil menarik tidak hanya perhatian masyarakat AS, tetapi juga masyarakat dunia. Popularitas Obama pun meroket ketika pada tahun 2008 ia mengintegrasikan kampanyenya dengan media-media sosial yang dekat dengan anak anak muda, seperti Facebook, Twitter, dan YouTube. Dia berhasil "menanamkan" visi perubahan (change) dan motto Yes We Can-nya dengan baik ke masyarakat AS. Lagi-lagi ada peran pemuda di sini. Ah, saya jadi ingat dengan bagaimana dukungan anak-anak muda pada pasangan Jokowi-Ahok sangat berpengaruh besar di Pilkada DKI kemarin. Anyway, kita kembali ke topik. Saya melihat, Obama ditambah media anak muda, yaitu social media, ditambah visi perubahan (baik dari sisi personal si Obama dan sisi lainnya) ditambah motto atau tagline yang ciamik, akhirnya mampu membawa Obama pada kursi kepresidenan. Saya rasa komposisi formula ini pula yang tetap membuat Obama terpilih untuk kedua kalinya pada pemilihan presiden November 2012 ini.

Nah, ada satu foto menarik yang saya dapat dari akun resmi Twitter Obama sesaat setelah ia telah dipastikan memenangkan pemilihan. Memang, tidak semua tweet yang keluar dari akun tersebut adalah berasal dari Obama langsung. Di deskripsi/bio akun tersebut tertulis bahwa akun tersebut (@BarackObama) dijalankan oleh staf kampanye #Obama2012, sedangkan tweet yang ditulis langsung oleh Obama akan diberi tanda "-bo" di setiap akhir tweet-nya. Sebagai contoh, setelah dipastikan memenangkan suara kemarin, Obama menge-tweet, "We're all in this together. That's how we campaigned, and that's who we are. Thank you. -bo." Itu berarti tweet tersebut ditulis oleh Obama langsung, sedangkan tweet setelahnya yang hanya berisi: "Thank you" ditulis oleh staf kampanyenya.

Oke, kembali ke masalah foto menarik yang saya singgung sebelumnya. Berselang beberapa tweets setelah yang di-tweet oleh Obama sendiri, akun @BarackObama mengeluarkan tweet: "Four more years." dengan lampiran foto Obama yang sedang memeluk istrinya, Michelle. Spontan, saya langsung berpikir bahwa: THIS! Ini foto yang luar biasa. Foto tersebut benar-benar berbicara dan menyampaikan suatu pesan yang luar biasa. Saya rasa, foto semacam itu bukanlah foto yang lazim dikeluarkan untuk menyatakan kegembiraan atau rasa bersyukur ketika seorang presiden memenangkan kembali kursi kepresidenannya untuk yang kedua kali. Mungkin biasanya foto yang dirilis adalah foto sang presiden yang memakai setelan jas hitam dan sedang berpidato, atau foto-foto semacam itu. Namun, foto ini terlihat jauh lebih personal, penuh kasih sayang dan jelas ada kebahagiaan keluarga di situ. Saya kira ini menjadi sebuah foto yang sangat kuat dan staf kampanye pemegang akun @BarackObama ini jelas berhasil melakukan dua hal: (1) memilih kata yang tepat, dan (2) memilih foto yang tepat. Inilah kekuatan yang mungkin tidak dimiliki kandidat penantang. Obama tidak hanya memiliki karisma di dunia nyata, tapi juga karismanya di dunia maya pun tak kalah hebat. Mungkin ada beberapa orang yang tampak berkarisma di dunia maya, tapi ternyata tidak di dunia nyata, dan sebaliknya. Namun, tidak demikian dengan Obama. Ditambah, Obama memiliki tim kampanye yang juga luar biasa hebat. Tentunya sangat diperlukan orang-orang hebat yang berpikiran out of the box untuk bisa meng-handle akun Twitter seseorang yang sedang bertarung memperebutkan kursi presiden.

Di era media sosial yang kerap kali dianggap menjadi media sumber berbagai berita, citra seseorang bisa meroket dan sekaligus jatuh hanya karena kata-kata yang tidak lebih dari 140 karakter. Banyak praktisi-praktis humas yang sedang meng-handle klien-klien yang berasal dari kalangan politisi menerapkan strategi social media campaign demi menarik perhatian serta menambah popularitas kliennya. Namun, tentunya ada strategi tertentu yang harus diterapkan untuk membentuk citra positif bagi si klien. Orang ini tidak bisa menge-tweet sembarang tweet di Twitter atau men-share berbagai konten yang mungkin bisa menjatuhkan citra dan popularitasnya. Terkait tweet dari akun @BarackObama dengan foto yang di atas, tweet itu ternyata mendapat tanggapan yang luar biasa dari para pengguna Twitter di seluruh dunia. Terakhir kali saya melihat, tweet tersebut telah di-retweet sebanyak lebih dari 700.000 kali. Inilah bagaimana seorang tim kampanye bekerja. Mungkin terlihat sederhana, tapi sesungguhnya pekerjaan ini jauh dari mudah. Satu hal yang harus selalu dicamkan adalah bahwa publik sangat dinamis, dan ibarat peribahasa yang mengatakan mulutmu adalah harimaumu, hal serupa pun berlaku untuk Twitter. Twitter dan segala media sosial lainnya menjadi perpanjangan mulut seseorang. Segala hal yang di-tweet oleh seseorang akan menjadi cerminan pribadi orang tersebut. Layaknya pisau, bisa bermanfaat dan sangat powerful bila digunakan dengan bijak, tapi bisa juga membahayakan bila tidak hati-hati digunakan.

Four More Years

Empat tahun lagi untuk menjabat. Kira-kira begitulah maksudnya. Tweet yang dilengkapi dengan foto Obama yang memeluk Michelle tersebut terkesan mengungkapkan kegembiraan dan rasa bersyukur. Seperti yang telah saya tulis di atas, foto tersebut sangat kuat dan penuh makna. Nah, sekarang saya akan membahas mengenai makna foto itu. Biar bagaimanapun, foto itu berbicara, foto itu berkomunikasi. Saya sempat memikirkan beberapa kemungkinan skenario komunikasi dari foto tersebut. Apakah maksud akun @BarackObama memublikasikan tweet "Four more years." dengan foto tersebut? Mungkinkah kita bisa berspekulasi bahwa foto Obama yang berpelukan denga Michelle tersebut merupakan bentuk kesenangan untuk memimpin dunia selama empat tahun lagi? Mungkinkah ada agenda-agenda yang memang telah dirancang oleh AS untuk periode empat tahun mendatang dan akan dieksekusi oleh Obama? Saya rasa, makna "empat tahun lagi" itu bisa bermakna banyak hal. Jika kita mau berpikir cukup posistif, sebut saja kita berpikir bahwa lanjutan dari kata-kata itu adalah: "four more years that we can fix the country," atau "four more years that we can fix the world," atau "four more years that we can change the world," atau mungkin "four more years that we can make this world a better place for the people," dan sebagainya. Akan ada banyak versi tentunya. Oleh karena itu, akan menjadi sangat relevan jika yang dimaksud kata-kata itu adalah (lebih kurang) demikian digabungkan dengan foto yang juga menggambarkan suka cita, kegembiraan bagi sang presiden untuk terus bekerja dan melayani negaranya demi membuat perubahan yang lebih baik.

Namun, tentu kita pun boleh sedikit berspekulasi dan pemikiran-pemikiran yang kurang menyenangkan. Saya rasa ini diperbolehkan mengingat apa yang selama ini pemerintah AS telah perbuat kepada dunia ini. Apakah pemerintah AS telah benar-benar menjadi "pemerintah dunia" sekaligus penjaga keamanan dunia selama ini? Saya rasa tidak begitu. Bukankah banyak perang terjadi di dunia juga tak lepas dari "kontribusi" AS yang selalu ingin ikut campur? Mungkin kalau bahasa anak muda Indonesia masa kini, AS itu suka kepo dengan urusan negara lain. Sebut saja soal nuklir Iran. Bukankah AS sendiri mengembangkan teknologi senjata nuklir? Mengapa mereka merasa paling berhak menentukan siapa yang boleh dan siapa yang tidak boleh menguasai teknologi tersebut?

Kembali ke soal foto. Mari kita sedikti berprasangka tentang makna foto Obama tersebut. Four more years. Apa maksudnya? Bagaimana jika foto itu menandakan suasana suka cita karena "there are still four more years for us (Obama and the US government) to rule the world and take control of every aspects of the human life in the world." Nah, bagaimana jika ternyata ada pesan seperti itu di balik foto dan tweet itu? Pemikiran seperti itu sah-sah saja. Lagipula, itu bukanlah hal yang tidak mungkin dan tentunya hal itu akan sangat menyeramkan. Itu bisa terjadi dan itulah komunikasi. Media memang selalu bisa menipu kita semua. Segala niat tidak baik terkadang bisa dipoles dan disajikan menjadi sangat menarik oleh media, dan tidak bisa dipungkiri bahwa kerap kali otak kita sudah dikontrol oleh media. Kita sering kali menganggap apa yang media katakan sebagai suatu kebenaran. Apa yang kita lihat di media sebagai kebenaran. Ini tentu sangat berbahaya, dan percayalah kita semua sudah menjadi bagian dari "santapan" media. Kita tidak lagi "menyantap" media. Media bukanlah lagi saran hiburan bagi manusia. Sebaliknya, manusialah yang telah menjadi santapan media (perusahaan), dan kita cenderung tidak sadar dan tidak mau tahu.

Namun, terlepas dari berbagai prasangka, baik yang positif maupun yang negatif, saya rasa kita tidak seharusnya menaruh harapan yang begitu besar pada AS. Mengapa? Loh, memangnya AS itu pemerintah dunia? Sudah cukup jutaan orang di dunia ini menganggap AS sebagai pemimpin dunia hingga segala hal yang terjadi di AS dianggap sebagai event dunia dan penting. Padahal tidak demikian. AS adalah AS itu sendiri dan negara-negara lain memiliki urusannya masing-masing. Entah si Presiden AS itu pernah tinggal di Indonesia atau tidak (misalnya), tidak perlulah kita terlalu mengelu-elukan dirinya, toh kita bukan pula warga AS, jadi buat apa? Saya pribadi cukup mengidolakan Obama, bukan karena dia pernah jadi anak Menteng tentunya, atau karena Obama pernah berkunjung dan berpidato di kampus sayayang bahkan saya tidak bisa menyaksikannya secara langsung, tapi lebih karena apa dan bagaimana ia berhasil merebut perhatian masyarakat dunia dengan sangat brilliant. Sementara itu, tentang berbagai kebijakannya? Ada pula kebijakannya yang tidak saya sukai, sebut saja soal kebijakan-kebijakan luar negeri AS kepada negara-negara Timur Tengah dan kebijakan Obama yang melegalkan pernikahan sesama jenis di AS. Memang, hukum tersebut tidak berlaku di sini, tapi tetap saja bagi saya kebijakannya itu "menodai" kepemimpinannya. Jadi, ya... saya rasa, kita tidak perlu terlalu menganggap tinggi AS. AS memang negara yang sangat maju hampir di berbagai aspek, tapi bukan berarti kita harus selalu "melihat ke atas" kepada negara ini. Cukuplah kita mengikuti perkembangan apa yang terjadi di dunia ini tanpa perlu terlalu menggantungkan nasib (dan harga diri) bangsa kepada negara lain. Anyway, congratulations Mr. President!


22 Oktober 2012

Untukmu Anak Indonesia

Iya, artinya KAMU, diri kamu, yang sedang membaca tulisan ini. Memangnya siapa lagi? Negara ini membutuhkan kamu, bukan orang lain, tapi K-A-M-U. Tolong! Tolong! Tolong! Negeri ini sedang sakit parah! Korupsi merajalela, ah itu basi! Kemiskinan di mana-mana, ah itu berita lama! Ketidakadilan menjadi "hukum" di negeri, ah itu juga berita kuno! Apa lagi? Kemacetan? Demonstrasi yang berujung anarkis? Banjir? Pencitraan para politisi? Debat kusir pejabat di televisi? Perkelahian antarperlajar? Ah, semua itu cerita lama. Kamu mau protes? Siapa yang mau dengar? Orang-orang yang sependapat dengan kamu? Lantas, apa yang mereka lakukan? Mengapa harus menunggu orang lain mendengarkan keluh kesahmu dan melakukan sesuatu hal yang kamu anggap penting dilakukan? Mengapa tidak kamu lakukan apa yang kamu rasa tepat dan harus dilakukan?

Kenapa? Oh, kamu masih seorang pelajar? Anak SMP? SMA atau mahasiswa? Oh, kamu orang biasa saja? Terus kenapa? Memangnya ada yang peduli dengan status kamu? Oh, orang-orang di luar sana mungkin iya. Mungkin banyak yang akan memandang sebelah mata "siapa" kamu, latar belakang kamu, status sosial kamu, tapi, memang sang Ibu Pertiwi peduli? Ya, kamu harus jadi orang pintar, itu adalah kunci kesuksesan dan itu tidak bisa ditawar, tapi kalau kamu mau berkontribusi untuk negeri ini sampai kamu pintar dulu, kapan selamatnya negeri ini? Kapan kamu bisa dengan lantang dan mantap mengatakan bahwa kamu sudah siap dan sangat pintar untuk "menyelamatkan" negeri ini? Jangan-jangan, saat kamu merasa sudah siap, negeri ini sudah "mati". Kenapa? Karena kamu tidak akan pernah puas dengan apa yang kamu capai. Ketika kamu mencapai sesuatu, adalah sifat manusia untuk tidak pernah puas dan berhenti pada satu titik itu. Jika kamu menunggu dan terus menunggu "waktu yang tepat", kamu tidak akan pernah mendapatkan waktu yang tepat itu. Jadi, sekaranglah saatnya! Tidak peduli apa latar belakang kamu, memangnya Ibu Pertiwi peduli dengan latar belakang kamu? Tidak! Selama kamu punya niat tulus dan semangat untuk membangun negeri ini, jangan pernah menunggu hingga kamu siap. Karena mungkin saat kamu merasa siap, hal yang ingin kamu ubah tak lagi siap diubah. Ketika kamu sadar bahwa saatnya telah tiba bagimu untuk menjadi agen perubahan, mungkin kamu tinggal seorang diri.

Tidak percaya? Salah satu media memberitakan bahwa ada begitu banyak orang pintar di Indonesia. Dan salah satu fenomena yang menonjol itu adalah semakin kuatnya kecenderungan orang pintar Indonesia yang mendapat gelar doktor dari luar negeri. Namun, ironisnya, orang-orang ini memilih tinggal dan bekerja di luar negeri. Mereka adalah doktor-doktor terbaik lulusan Yale, Cranfield, Stanford, MIT, dan lain-lain. Umumnya mereka bergelut di bidang ilmu eksakta dan engineering seperti teknik, fisika, matematika komputer, dan sejenisnya.

Dikatakan pula bahwa pada tahun 2007 saja ada sekitar 20-an doktor Indonesia lulusan luar negeri yang memilih bekerja di Malaysia, tiga orang bekerja di Brunei, dan sekitar lima orang di Singapura. Setiap tahun Depdinkas dibanjiri permintaan para doktor yang sudah selesai ikatan dinas untuk diizinkan bekerja di luar negeri. Padahal untuk “mencetak” seorang doktor di perguruan tinggi bergengsi di luar negeri, biaya yang dibutuhkan lebih dari $30 ribu per tahun!

Nah, lihat kan? Indonesia terancam kehilangan generasi cerdas dan brilian! Sebagian besar anak-anak cerdas peraih penghargaan olimpiade sains internasional bahkan memilih menerima tawaran belajar dari berbagai universitas di luar negeri, terutama Singapura. Ya, jujur saja, siapa yang tidak mau? Kamu juga pasti mau kan?

Pemerintah Indonesia kerap hanya memberikan fasilitas masuk perguruan tinggi negeri tanpa tes bagi siswa-siswi peraih penghargaan. Siswa-siswi yang bersangkutan pun dijanjikan akan diberikan beasiswa. Sementara itu, Singapura lebih agresif dengan memburu siswa-siswa brilian ke sejumlah sekolah di Indonesia lewat agen yang tersebar di sejumlah kota, seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan.

Siswa-siswa brilian itu dijanjikan fasilitas yang menggiurkan. Selain beasiswa, siswa cerdas juga ditawari subsidi biaya kuliah (tuition grant) dari Pemerintah Singapura sebesar 15.000 dollar Singapura (sekitar Rp 112,5 juta per tahun), atau pinjaman bank tanpa agunan untuk biaya kuliah. Jika siswa mengambil pinjaman bank, cicilan pinjamannya dibayar setelah mereka bekerja.

Sekitar 250-300 siswa cerdas Indonesia setiap tahun pergi ke Singapura untuk kuliah di perguruan tinggi seperti Nanyang Technological University (NTU), National University of Singapore (NUS), dan Singapore Management University. Dari total pelajar dan mahasiswa Indonesia di Singapura sebanyak 18.341 orang, sekitar 5.448 orang di antaranya sedang mengambil S1, S2, dan S3 di berbagai program studi. Singapura menargetkan merekrut 150.000 mahasiswa asing hingga tahun 2015.

Iya, pemerintah negeri ini memang terlalu bodoh, tidak ada pintar-pintarnya sama sekali dan kita semua tahu itu. Harus ada kebijakan terobosan untuk mempertahankan siswa-siswa cerdas dan brilian tetap menjadi aset Indonesia. Mereka memang perlu mengembangkan ilmu ke berbagai universitas terkemuka di dunia, tapi harus diciptakan kondisi yang mendukung agar mereka bergairah kembali ke Tanah Air untuk mengabdikan ilmunya untuk kemajuan bangsa Indonesia. Lalu kita harus apa? Kita mau bilang pemerintah idiot sekalipun tidak akan mengubah keadaan. Adalah tugas KAMU memperbaiki ini semua! Mungkin kamu berpikir, loh, kenapa bukan saya? Sama saja, saya adalah kamu yang sedang membaca ini. Apa bedanya? Hanya perbedaan sudut pandang. Sekarang, saya sedang berbicara kepada kamu.

Sekarang, bayangkan jika semua orang pintar "kabur" dari Indonesia, apa yang tersisa dari negeri ini? Hanya orang-orang bodoh yang memimpin orang-orang yang lebih bodoh. Tidakkah kamu ingat bahwa negeri ini diperjuangkan dengan tetes darah dan keringat orang-orang cerdas? Orang-orang cerdas, para pendiri negara ini, juga mengenyam pendidikan di luar negeri. Kita tentu tidak menutup mata bahwa pendidikan di luar negeri memang jauh lebih baik dan tidak ada yang salah dengan menuntut ilmu ke sana. Bukankah dalam menuntut ilmu tidak boleh terbatas ruang dan waktu? Dan tidak ada yang salah juga jika kita memikirkan soal "kesejahteraan" yang merupakan buah dari kerja keras kita menuntut ilmu selama ini; sah-sah saja. Namun, kita tidak boleh lupa asal-usul kita. Sedikit ilmu kita akan membawa perubahan pada negeri ini. Dan itulah tugas kamu, membagikan ilmu yang kamu punya. Itu saja? Tidak, itu saja tidak cukup. Kamu harus membangun sistem. Sistem yang kamu buat harus dijalankan dengan konsisten dan terus dikembangkan. Kumpulkan pula orang-orang yang kamu anggap potensial untuk ikut menjalankan sistem ini. Orang-orang itu biasa siapa saja, yang penting kamu dan orang-orang ini sepakat bahwa tidak ada kata nanti untuk membuat perubahan; harus sekarang juga!

Sekarang, ingatlah terus kata-kata ini: Negaramu Membutuhkan Kamu. Iya, kamu! Ingatlah terus kata-kata itu. Mungkin suatu saat nanti kamu merasa jengah dengan segala kebusukan dan kemunafikan negara ini. Mungkin kamu mau tinggal di negara lain, kamu mau jadi warga negara lain. Itu sepenuhnya hak kamu dan tidak ada yang melarangnya. Namun, semoga... Ya, semoga masih ada sedikit, bahkan jika itu hanya secuil perasaan dan kesadaran bahwa biar bagaimanapun juga, negara yang kamu lihat sudah bobrok ini butuh kamu. Jika masih ada sedikit cinta di hati kamu untuk negara ini, bangkitlah. Sesungguhnya negara ini merindukan genarasi-genarasi yang benar-benar peduli dengan negaranya. Negara ini merindukan orang-orang jujur dan tulus. Jika semua orang berpikir bahwa "itu bukan saya", lalu siapa? Jika kamu juga berpikir bahwa kamu tidak mampu, lalu siapa yang mampu? Kamu, cuma kamu yang bisa.

Tanamkan dalam diri kamu bahwa cuma kamu yang bisa. Kamulah yang akan mengubah negeri ini. Lakukan apa yang bisa kamu perbuat untuk negeri ini, jangan tunggu orang lain melakukannya. Jangan pernah menunggu hingga kamu merasa siap karena ketika nanti kamu merasa sudah siap, negara ini mungkin sudah tidak bisa lagi menerima perubahan. Jangan pernah lupa siapa kamu, kamu adalah anak bangsa. Kamu anak Indonesia. Negaramu membutuhkan kamu.

18 Oktober 2012

Balada BlackBerry di Indonesia

Saya bingung deh sama orang-orang Indonesia yang terkesan suka "mendewakan" BlackBerry (BB). Apa-apa BB, dan kalau tidak ada BB kesannya akan kiamat. Oke, dulu (sebelum era BB), orang-orang banyak yang berpikir bahwa hidup sehari tanpa handphone akan sangat membosankan—semacam kiamat kecil. Namun, sekarang trennya bergeser pada brand tertentu, yaitu BB. Bahkan saking banyaknya pengguna BB di negeri ini, BB jadi terkesan bukan lagi sebagai barang mewah. Ibaratnya, semua orang bisa punya BB, dari tukang ojek sampai pejabat. Ketika terjadi gangguan jaringan BB di Asia Pasifik beberapa minggu lalu, saya membaca—di salah satu media massa online—bahwa orang-orang Indonesialah yang paling "resah" dengan gangguan ini karena tidak bisa BBM-an. Parahnya lagi, kinerja di kantor pun bisa terganggu akibat sinyal BB yang bermasalah—meeting dan komunikasi lainnya ikut bermasalah. Di Twitter pun beredar beragam tweet dan hashtag soal kacaunya jaringan sinyal BB pada saat itu. Tidak sedikit pula yang menobatkan hari itu sebagai "Hari Pending Sedunia". Yes, it happened in Indonesia.

Sejujurnya, saya sendiri suka emosi dengan pengguna BB karena banyak yang justru membatasi kemudahan berkomunikasi itu sendiri. Padahal BB ini termasuk dalam kategori smartphone atau ponsel cerdas yang fiturnya tidak sebatas BBM (dan social media lainnya). Lantas, mengapa penggunanya tidak bisa "secerdas" ponselnya untuk menggunakannya dengan bijak? Gadget yang mereka miliki bukannya mempermudah proses komukasi, justru semakin mempersulit karena mayoritas pengguna BB sudah terlanjur nyaman dengan fasilitas BBM sampai melupakan faslitas SMS yang ibaratnya "lebih membumi" dan jelas-jelas ada di semua telepon genggam.

Padahal, tidak semua pemilik telepon genggam di negeri ini menggunakan BB kan? Bahkan di negara tempat BB ini sempat booming karena presidennya menggunakan BB, kini muncul anggapan bahwa memiliki BB adalah sesuatu yang kuno atau ketinggalan zaman. Sementara itu, hal serupa tampaknya tidak berlaku di Indonesia.  Di sinilah pasar BB masih cukup bertahan walaupun saya cukup yakin BB di Indonesia pasti sudah merasa "tidak tenang" dengan ketatnya persaingan smartphones di negara penggila gadget ini.
Research in Motion (RIM) may still be successful selling BlackBerrys in countries like India and Indonesia, but in the United States the company is clinging to less than 5 percent of the smartphone market—down from a dominating 50 percent just three years ago.—The New York Post
Soal fenomena di Indonesia ini, saya melihatnya sebagai "penyakit latah" orang Indonesia yang memang sering terjadi. Akibat dari kegemaran BBM-an yang berujung pada pembatasan komunikasi hanya pada sesama pengguna BB, tidak jarang proses komunikasi pun terhambat. Tidak sedikit pengguna BB yang hanya membeli paket BBM sehingga tidak bisa membalas SMS (apalagi menelepon). Bahkan, tidak sedikit pula pengguna BB yang tidak memiliki nomor telepon orang-orang yang ada di kontaknya. Rata-rata mereka hanya memiliki pin BB-nya saja. Saya sering mengalami hal ketika saya menanyakan nomor telepon seseorang kepada orang-orang yang kebetulan menggunakan BB, sering kali jawaban yang saya dapat adalah orang-orang yang saya tanyakan ini hanya memiliki pin BB orang yang bersangkutan tanpa memiliki nomor telepon selularnya.

Di sini saya jadi bingung, sebenarnya manakah data yang sifatnya lebih privat? Apakah pin BB atau nomor telepon? Dulu, pada awal mulanya BB masih dianggap sebagai barang mewah sehingga pin BB pun kerap dianggap sebagai suatu hal yang privat atau personal. Artinya, tidak semua orang bisa dan boleh tahu pin BB seseorang. Namun, kini, trennya adalah banyak orang yang justru memublikasikan pin BB-nya di status Facebook atau tweet di Twitter dengan harapan pengguna BB lain bisa meng-add dirinya. Sementara itu, nomor telepon kini tampaknya menjadi lebih privat atau personal. Lucunya, pengguna BB yang justru harus mengeluarkan kocek lebih besar untuk bisa memanfaatkan fasilitas-fasilitasnya malah kerap tidak punya pulsa reguler untuk fasilitas telepon standar: telepon dan kirim SMS. Kadang, saya suka gregetan juga dengan tingkah orang yang sedang dalam keadaan sangat mendesak untuk menghubungi sesorang yang keduanya adalah pengguna BB, tapi salah satu pihak sulit dihubungi. Nah, biasanya komunikasi yang terjadi seperti ini:

A: Duh mana sih si B? Ngga bisa dihubungin dari tadi, di-BBM cuma di-read doang!
C: Ya udah ditelepon aja gimana?
A: Gue ngga punya nomornya nih! Duh! (dan stress sendiri)

Atau kemungkinan percakapan lain yang terjadi:

A: Duh mana sih si B? Ngga bisa dihubungin dari tadi, pending terus!
C: Ya udah di-SMS atau ditelepon aja gimana?
A: Gue ngga punya pulsa nih, cuma langganan paket buat BBM aja! (dan stress sendiri)

See, jadi pusing sendiri kan? Kenapa orang-orang bisa jadi segitu bergantungnya dengan BB sampai banyak yang tidak lagi butuh nomor telepon? Padahal, biar bagaimanapun BB itu adalah telepon yang fungsi utamanya ya... untuk menelepon. Fitur lain, seperti BBM adalah bagian dari inovasi teknologi yang tidak seharusnya membatasi kemonukasi itu sendiri. But, it happend in Indonesia. Selain itu, fenomena BB membuat banyak pengguna BB kerap berganti nomor (biasanya ke kartu Merah) sehingga—kalau dari sisi penyedia jasa layanan komunikasi—masyarakat tidak lagi loyal pada satu brand tertentu. Sementara dari sisi pengguna, masyarakat jadi sering bergonta-ganti nomor dan hal ini tentu menyulitkan proses komunikasi itu sendiri. Sering kali saya harus meng-update nomor teman-teman saya di kontak handphone saya. Kita tentunya tidak menghubungi seluruh nama di kontak ponsel kita secara rutin kan? Mungkin ada yang seminggu sekali, sebulan sekali, atau mungkin ada juga yang setahun sekali (saat mengucapkan selamat Lebaran misalnya). Untuk nomor-nomor yang hampir hanya setahun sekali kita hubungi, tingkat kepercayaan saya pada orang-orang ini cukup rendah karena ada kemungkinan nomor mereka sudah berganti—kecuali orang-orang yang lebih tua atau nomor-nomornya adalah "nomor tua" (10—11 digit).

Oke, sekarang saya mau bahas sedikit dari sisi akademisnya. Arnold Pacey dalam tulisannya di The Culture of Technology mengatakan bahwa teknologi itu netral; teknologi itu independen. Artinya, teknologi mampu berdiri sendiri dan dapat menyesuaikan dengan budaya yang berkembang baik dalam diri individu maupun suatu masyarakat. Namun, itu semua tetap tidak berarti bahwa kehadiran suatu teknologi tertentu dapat langsung diterima begitu saja dalam kehidupan masyarakat.

Berbicara mengenai teknologi, tentu tidak terlepas dari makna atau definisi teknologi itu sendiri. Pacey menjelaskan teknologi dalam suatu diagram definisi dan praktik teknologi, yaitu terdapat tiga aspek utama yang membentuknya: aspek budaya, aspek organisasional, dan aspek teknis. Yang menarik dari ketiga aspek tersebut adalah bahwa aspek-aspek tersebut memiliki pendukungnya masing-masing. Orang-orang yang berpikir organis atau politis akan berpendapat bahwa aspek organisasional yang paling penting karena hal itu menyangkut kepentingan umum, kepentingan publik, dan hal-hal yang admistratif. Sementara itu ada juga yang mengidentifikasikan dan mengaitkan teknologi dengan aspek teknis. Mereka berpendapat bahwa teknologi muncul karena adanya pemikiran manusia mengenai mesin, teknik, dan ketrampilan lainnya. Ketika teknologi dipandang hanya dari sisi teknis saja maka nilai-nilai budaya dan faktor organisasi dianggap sebagai bagian eksternal saja. Aspek lainnya, yaitu aspek budaya yang fokus pada keyakinan bahwa teknologi ada dan diciptakan bukan untuk menghilangkan suatu budaya melainkan untuk mengembangkan budaya tersebut.

Teknologi hadir sebagai perpanjangan tangan manusia. Ini yang perlu digarisbawahi. Seorang tokoh, Thomas Lewis, mengemukakan suatu konsep yang disebut halfway technology, yaitu teknologi yang hadir sebagai suatu pemecahan atau solusi terhadap permasalahan, tapi belum sepenuhnya dikuasai oleh manusia sehingga sangat dibutuhkan riset lebih lanjut. Thomas pernah memimpin suatu riset medis mengenai penggunaan antibiotik dan imunisasi dalam melawan virus. Teknik yang digunakan sangat efektif dan biayanya relatif terjangkau oleh berbagai lapisan masyarakat. Teknologi antibiotik dan imunisasi inilah yang dapat dikatakan sebagai teknologi tinggi. Di sisi lain, proses transpalantasi dan pengobatan kanker sangat mahal dan masih menggunakan teknologi sederhana. Inilah yang disebut sebagai halfway technology. Transplantasi adalah suatu solusi yang dapat ditawarkan dalam dunia medis, tapi pada praktiknya masih diperlukan banyak riset agar terhindar dari kemungkinan efek negatif dari dilakukannya suatu proses transplantasi.

Teknologi dari masa lalu hingga kini terus berkembang seiring dengan perkembangan peradaban manusia yang semakin menuju era peradaban digital. Kita hidup berdampingan dengan teknologi. Kita berkomunikasi dengan teknologi. Teknologi secara nyata telah mengekstensikan kemampuan manusia sedemikian rupa sekaligus mengubah gaya serta pola sikap dan perilaku manusia hingga seperti saat ini, dan sama halnya seperti manusia, teknologi terus hidup dan berkembang, tentunya hingga akhir dari peradaban manusia itu sendiri. Namun, satu hal yang penting adalah bahwa manusia tidak boleh dikendalikan oleh teknologi itu sendiri. Manusialah yang harusnya mengendalikan teknologi. Apa yang terjadi di Indonesia ini tampaknya telah membuktikan bahwa manusia telah menjadi "budak" teknologi itu sendiri. Parahnya, tidak sedikit yang bangga dengan tren "perbudakan" ini. Ah, tapi ya sudahlah, setidaknya saya tetap berkomitmen untuk tidak  pakai BB sampai saat ini. Anyway, tentunya soal BB ini pilihan tiap orang sih. Cuma saya jadi heran kalau BB ini yang harusnya bisa mempermudah proses komunikasi malah jusru mempersulit dan orang menjadi terlalu bergantung dengan alat ini. Well, tampaknya kata-kata: mendekatkan yang jauh; menjauhkan yang dekat itu ada benarnya untuk BB.

13 September 2012

Semua Soal Waktu

Apa sih sebenarnya yang paling kita butuhkan di dunia ini? Mungkin setiap orang punya jawabannya masing-masing. Ada yang menjawab butuh cinta, uang, kesehatan, kesejahteraan, pengakuan, jabatan, iman, kepercayaan, Tuhan, akses tanpa batas, persahabatan, keabadian, kesetiaan, dan masih banyak lagi. Namun, mungkin lebih dari itu, atau kalau saya bisa ambil garis tengahnya, kita semua butuh waktu. Kita selalu membutuhkan lebih banyak waktu. Kita berandai-andai supaya punya lebih banyak waktu. Ya... lebih banyak waktu untuk mencintai, menghasilkan/menyimpan uang, waktu untuk masa-masa ketika kita sehat, ketika kita muda dan kuat, masa-masa saat kita sejahtera dan punya jabatan yang bagus. Kita butuh lebih banyak waktu untuk berdoa dan lebih dekat dengan Tuhan, lebih banyak waktu untuk keluarga, teman, kekasih. Kita berandai untuk mendapat pengakuan yang tidak lekang oleh masa. Kita berandai untuk bisa kembali ke masa lalu dan memperbaiki kesalahan-kesalahan konyol yang kita lakukan. Kita berandai untuk mengetahui masa depan dan melihat seperti apa rupa kita puluhan tahun mendatang.

Semua soal waktu. Ya, manusia sangat membutuhkan waktu. Namun demikian, manusia tampaknya adalah makhluk yang paling menyia-nyiakan waktu. Berjam-jam waktu kadang kita sia-siakan begitu saja tanpa manfaat. Lucunya, setelah itu kita sadar, menyesal, dan berharap bahwa seandainya saja kita menyadari akan kebodohan yang kita lakukan karena menyia-nyiakan waktu.
"Demi masa, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman & mengerjakan kebaikan serta saling berpesan (menasihati) untuk kebenaran & saling menasihati dengan kesabaran." [Q.S. Al-Asr (103): 1-3]
Waktu itu bukan sekedar seperti apa yang kita ingat dalam sebuah peribahasa―waktu adalah uang, sesungguhnya waktu lebih dari sekedar itu. Oke, saya paham maksud peribahasa itu tidak bisa kita artikan sebagaimana "mentah" apa adanya atau secara bahasa―karena itulah disebut peribahasa. Namun, poinnya adalah bahwa waktu itu adalah (menurut saya) kebutuhan manusia yang paling utama. Oke, kita bisa bilang bahwa tanpa makanan, kita akan mati; tanpa rumah/tempat tinggal dan pakaian, kita tidak akan beradab, tapi lebih dari itu semua, kita perlu waktu―lebih banyak waktu, untuk membuat kita benar-benar hidup; hidup sebagai manusia yang seutuhnya. Kita perlu lebih banyak waktu untuk bisa benar-benar menjadi manusia yang manusiawi; beradab. Sayangnya, sering kali kita tidak sadar bahwa kita, manusia, membuang banyak waktu dan kesempatan yang bertebaran begitu banyaknya di depan kita dengan percuma. Ya, kita sering menyia-nyiakan banyak waktu dalam hidup kita. Padahal, waktu yang telah lalu tidak bisa diulang kembali. Bagaimana kita bisa yakin bahwa kita telah memanfaatkan waktu dengan baik padahal kita telah membuang banyak waktu beharga?

Mengapa kita kerap berpikir bahwa hari esok selalu masih ada? Memang betul, hari esok pasti masih ada, tapi belum tentu menjadi milik kita. Sikap menunda-nunda pekerjaan adalah salah satu sikap yang menunjukkan bahwa kita sangat yakin bahwa masih ada hari esok untuk kita dan hari esok itu masih milik kita. How come? Padahal tidak ada seorang pun dari kita yang bisa menjamin bahwa masing-masing dari kita masih punya waktu. Waktu terus berjalan dan tidak pernah menoleh ke belakang. Waktu tidak pernah berhenti; kitalah yang pada akhirnya, pada masanya, "kontrak" kita habis dengan waktu. Ketika "kontrak" kita habis dengan waktu maka berakhir sudah. Apa yang bisa dilakukan ketika "kontrak" itu habis? Tidak ada perpanjangan kontrak tentunya. Semua akan menyesal.

Yang memanfaatkan waktu dengan baik menyesal, apalagi yang tidak memanfaatkan waktu dengan baik akan jauh lebih menyesal. Yang memanfaatkan waktu menyesal karena masih belum memanfaatkan waktu yang pernah disediakan dengan baik. Mereka berhasil mengatur waktu dengan baik, tapi tetap saja merasa kurang, dan pasti akan terasa begitu. Mereka yang tidak memanfaatkan waktu dengan baik akan sangat depresi; penyesalan sepanjang masa. See, waktu adalah kebutuhan. Semua butuh waktu. Semua butuh lebih banyak waktu. Namun, setidaknya, menjadi orang yang memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya adalah sebaik-baiknya manusia. "Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian," yes indeed. Semua manusia. Oleh karena itu, mulailah menjadi pribadi yang memanfaatkan waktu dengan baik atau kita akan benar-benar merugi; sangat merugi.

11 September 2012

Presiden yang Terlupakan

Jika masyarakat negara ini ditanya mengenai berapakah jumlah presiden yang telah memerintah republik ini sejak diproklamasikannya kemerdekaan hingga presiden yang sedang menjabat saat ini maka hampir semua akan menjawab: enam orang. Siapa saja? Tentu saja: Soekarno, Soeharto, B.J. Habibie, K.H. Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, dan kini Susilo Bambang Yudhoyono. See, ada enam orang. Namun, ternyata hal ini keliru. Jumlah presiden Indonesia hingga hari ini (2012) berjumlah enam orang; itulah yang diketahui mayoritas masyarakat republik ini. Padahal, sesungguhnya sepanjang sejarah republik ini berdiri, RI telah dipimpin oleh tujuh orang presiden dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat ini adalah presiden RI yang ke-8, bukan yang ke-6 seperti yang banyak orang ketahui hingga kini.

Ternyata, ada dua orang tokoh penting dalam sejarah republik ini yang terlupakan. Entahlah, mungkin benar-benar terlupakan atau memang sengaja dilupakan atau tidak dianggap, tentunya untuk alasan yang bersifat politis. Dua tokoh yang terlewat itu adalah Mr. Sjafruddin Prawiranegara dan Mr. Assaat.[1] Mr. Sjafruddin Prawiranegara adalah Pemimpin Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) ketika Presiden Soekarno dan Moh. Hatta ditangkap Belanda pada awal agresi militer kedua, sedangkan Mr. Assaat adalah Presiden RI saat republik ini menjadi bagian dari Republik Indonesia Serikat (1949).

Pemerintahan Darurat Republik Indonesia

Mr. Sjafruddin Prawiranegara
Pada 19 Desember 1948, saat Belanda melakukan agresi militer II dengan menyerang dan menguasai ibu kota RI saat itu di Yogyakarta, mereka berhasil menangkap dan menahan Presiden Soekarno, Perdana Menteri Hatta, Sjahrir, KSAU Surjadarma, dan beberapa menteri lainnya untuk kemudian diasingkan ke Pulau Bangka.

Kabar penangkapan terhadap Soekarno dan para pemimpin Indonesia itu terdengar oleh Sjafrudin Prawiranegara yang saat itu menjabat sebagai Menteri Kemakmuran dan sedang berada di Bukittinggi, Sumatra Barat. Untuk mengisi kekosongan kekuasaan (vacum of power), Sjafrudin mengusulkan agar dibentuk pemerintahan darurat untuk meneruskan pemerintah RI, atau lebih dikenal dengan PDRI (Pemerintahan Darurat Republik Indonesia).

Padahal, sebelum penangkapan tersebut, kabinet sempat mengadakan rapat dan mengirimkan telegram yang berbunyi:
Kami, Presiden Republik Indonesia memberitakan bahwa pada hari Minggu tanggal 19 Desember 1948 djam 6 pagi Belanda telah mulai serangannja atas Ibu Kota Jogjakarta. Djika dalam keadaan pemerintah tidak dapat mendjalankan kewajibannja lagi, kami menguasakan kepada Mr. Sjafruddin Prawiranegara, Menteri Kemakmuran RI untuk membentuk Pemerintahan Darurat di Sumatra.
Sayangnya, diketahui kemudian bahwa telegram itu tidak pernah diterima.  Namun, ternyata pada saat bersamaan Sjafruddin Prawiranegara telah mengambil inisiatif untuk membentuk PDRI. Dalam rapat di sebuah rumah dekat Ngarai Sianok Bukittinggi, 19 Desember 1948, Sjafruddin mengusulkan pembentukan suatu pemerintah darurat (emergency government). Gubernur Sumatra Mr. T.M. Hasan menyetujui usulan tersebut karena demi menyelamatkan Indonesia agar tidak terjadi kekosongan pemerintahan dan diakui oleh dunia internasoinal sebagai negara.

Pada tanggal 22 Desember 1948, di Halaban, sekitar 15 km dari Payakumbuh, PDRI "diproklamasikan". Sjafruddin menjabat sebagai ketua/presiden merangkap Menteri Pertahanan, Penerangan, dan Luar Negeri, ad. interim. Kabinet ini pun dibantu oleh Mr. T.M. Hasan, Mr. S.M. Rasjid, Mr. Lukman Hakim, Ir. Mananti Sitompul, Ir. Indracahya, dan Marjono Danubroto. Adapun Jenderal Sudirman tetap sebagai Panglima Besar Angkatan Perang. 

Sementara itu, peran untuk mengendalikan stabilitas ibukota Yogyakarta dipegang oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan perang gerilya rakyat semesta secara fisik dipimpin oleh Panglima Besar Soedirman. Namun, disinilah kemudian yang menjadi arti penting PDRI yakni, sebagai eksistensi RI untuk mendapatkan pengakuan dunia internasional karena syarat mutlak sebuah negara adalah:
  1. adanya pemerintahan yang berdaulat; 
  2. adanya wilayah; 
  3. adanya rakyat; 
  4. adanya pengakuan (kedaulatan) dari negara lain (internasional). 
Posisi Mr. Sjafruddin sebagai kepala pemerintahan merupakan fakta sejarah yang tidak bisa dihilangkan, dan bangsa ini seharusnya memberikan pengakuan bahwa Mr. Sjafruddin Prawiranegara adalah presiden ke-2 RI, meski beliau hanya menjabat beberapa bulan saja. Memang, selain belum diakui sebagai presiden ke-2 RI, nama Mr. Sjafruddin Prawiranegara juga agak sulit ditemukan di dalam buku sejarah, padahal peranananya cukup penting dalam masa perjuangan. Sederet jabatan penting pernah diembannya selain Ketua Pemerintahan Darurat Republik Indonesia, beliau juga pernah menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia, Menteri Keuangan, Menteri Kemakmuran dan Wakil Perdana Menteri.

Setelah menjabat sebagai presiden selama delapan buulan, Sjafruddin menyerahkan kembali mandatnya kepada Presiden Soekarno pada tanggal 13 Juli 1949 di Yogyakarta. Dengan demikian, berakhirlah masa PDRI yang berjalan selama lebih kurang delapan bulan.

Republik Indonesia dalam Republik Indonesia Serikat

Mr. Assaat
Dalam perjanjian Konferensi Meja Bundar (KMB) yang ditandatangani di Den Haag, Belanda, 27 Desember 1949 diputuskan bahwa Belanda menyerahkan kedaulatan kepada Republik Indonesia Serikat (RIS). Perlu diingat bahwa RIS bukanlah RI. RIS adalah negara yang berbentuk federal yang terdiri atas 16 negara bagian, seperti Negara Republik Indonesia, Negara Indonesia Timur, Negara Pasundan, termasuk Distrik Federal Jakarta, Negara Jawa Timur, dll., belum lagi ada juga wilayah yang berdiri sendiri (otonom) dan tidak tergabung dalam federasi, seperti Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Dayak Besar, Daerah Banjar dll.

Dari hasil KMB tersebut, Soekarno dan Moh. Hatta akhirnya ditetapkan menjadi Presiden dan Perdana Menteri RIS. Dengan demikian berarti terjadi kekosongan pimpinan pada Republik Indonesia.

Pada saat itu Mr. Assaat dijadikan Pemangku Sementara Jabatan Presiden RI. Perannya ini sangat penting karena kalau tidak ada RI saat itu, berarti ada kekosongan dalam sejarah Indonesia bahwa RI pernah menghilang dan kemudian muncul lagi. Namun, dengan mengakui keberadaan RI dalam RIS yang hanya beberapa bulan, tampak bahwa sejarah Republik Indonesia sejak tahun 1945 tidak pernah terputus sampai kini.

Pada perkembangan selanjutnya banyak dari negara-negara bagian dalam RIS yang menginginkan kembali ke Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang kemudian menggabungkan diri ke dalam RI yang dipimpin oleh Mr. Assaat sehingga kemudian terjadilah kerja sama antara RI dan RIS yang menghasilkan kesepakatan kembali kepada NKRI dengan jalan membentuk panitia bersama yang diketuai Dr. Soepomo untuk menyusun UUD yang kemudian dikenal dengan nama UUDS 1950. Dengan begitu, RIS pun melebur menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia pada tanggal 15 Agustus 1950. Mr. Assaat kemudian menyerahkan jabatan Presiden RI untuk kembali dipegang oleh Ir. Soekarno. Itu berarti, Mr. Assaat pernah memangku jabatan Presiden RI selama sekitar sembilan bulan.

Satu hal yang menarik mengenai Mr. Assaat adalah bahwa pada masa jabatannya, Mr. Assaat lah yang menandatangani status pendirian Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai universitas pertama yang didirikan oleh RI. "Menghilangkan Assaat dalam sejarah kepresidenan Republik Indonesia sama saja dengan tidak mengakui UGM sebagai universitas pertama yang di dirikan RI," ujar Bambang Purwanto dalam pengukuhannya sebagai Guru Besar UGM pada bulan September 2004.

Jadi, dari fakta tersebut bisa disimpulkan bahwa Indonesia memiliki delapan presiden, bukannya enam seperti yang kita tahu selama ini. Urutan Presiden RI yang benar adalah sebagai berikut: Soekarno (diselingi oleh Sjafruddin Prawiranegara dan Assaat), Soeharto, B.J. Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, dan Susilo Bambang Yudhoyono.

[1] Gelar “Mr.” merupakan singkatan dari “Meester in de Rechten”. Dalam bahasa Belanda, gelar ini berarti magister dalam ilmu hukum atau setara dengan gelar S2 Ilmu Hukum.

10 September 2012

Privasi, Kebebasan, dan Waktu

Ketika kamu berpacaran atau dalam sebuah hubungan―apa pun itu namanya, setidaknya ada tiga hal yang tidak boleh kamu serahkan sepenuhnya kepada pasangan kamu. Pertama, kamu tidak boleh menyerahkan privasi kamu. Kedua, kebebasanmu, dan ketiga adalah waktumu sepenuhnya. Ini adalah hal-hal yang sangat penting untuk tetap kamu pertahankan. Jika kamu menyerahkan ketiga hal ini pada pasanganmu maka kamu akan merasa... I don't know, saya tidak bisa menjamin suatu kondisi yang pasti akan terjadi, hanya saja, saya bisa katakan bahwa ketika tiga hal itu terenggut oleh suatu 'komitmen' dalam berpacaran maka kamu akan merasa sangat tidak nyaman. Ya, setidaknya begitu. Well, saya akan mencoba menjelaskan alasannya.

Pertama, saya akan menjelaskan mengapa kamu tidak boleh menyerahkan privasi kamu bahkan kepada pacar kamu. Simple, bukan privasi namanya kalau kita men-share segala hal (yang dianggap privasi itu) kepada orang lain―sekalipun itu pacar. Ketika kamu berbagi segala hal, termasuk privasi, dengan pacar kamu maka kamu akan merasa sangat... I don't know, semacam "polos"; kertas polos. Menjadi kertas putih polos ini bukan berarti selalu baik. Semua orang pasti butuh "coretan" di hidupnya. Semua orang pasti punya rahasia dan butuh merahasiakan sesuatu. Kamu bisa menganggap saya aneh, tapi saya percaya bahwa manusia punya kebutuhan akan menyimpan rahasia atau privasi pribadi. Lagipula, sharing privasi juga akan menumbuhkan sifat curigaan atau prasangka. Trust me, you won't like it. Selain itu, bayangkan apa yang akan terjadi ketika pasangan kamu mengetahui setiap detil dari diri kamu? Tentu kamu menjadi orang yang tidak menarik lagi, dalam arti, si pasangan kamu ini tidak akan terkejut lagi dengan segala hal tentang kamu. Percayalah, hidup ini perlu kejutan. Privasi kita, di waktu yang tepat, bisa menjadi kejutan yang menyenangkan buat pasangan kita.

Contoh umum dari sharing privasi yang lazim terjadi pada sepasang pria dan wanita (yang berpacaran) adalah saling mengecek inbox handphone pasangannya. Si wanita mengecek inbox si pria (atau mungkin BBM) untuk memastikan bahwa si pria tidak berhubungan dengan wanita lain (atau mantannya). Si pria pun melakukan hal yang serupa. Ada yang melakukan secara terang-terangan, tapi ada pula yang sembunyi-sembunyi. See, semua ini dimulai dari rasa curiga atau prasangka, atau sebut saja, rasa ketidakpercayaan dalam suatu hubungan. Yang harus dibenahi sebenarnya adalah rasa ketidakpercayaan ini. Bukankah rasa kepercayaan adalah kunci utama dalam membina suatu hubungan? Saya percaya bahwa hal kecil, seperti mengecek inbox pasangan, adalah hal yang melanggar privasi individu. Seseorang, apa pun itu statusnya, seharusnya tidak berhak mengecek inbox orang lain. Bahkan ibu saya tidak pernah mengecek inbox handphone saya. Bukan karena ibu saya tidak peduli dengan saya, tapi lebih karena ibu saya percaya kepada saya.

Perlu diingat bahwa bagaimana pun, baik SMS, email atau pun surat biasa adalah pesan yang ditujukan secara personal dari satu individu/badan ke individu/badan lain. Oleh karena itu, orang lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan isi pesan itu, tentu tidak berhak mengetahui isi pesan itu, apalagi melihat/membacanya tanpa seizin si pemilik. Bahkan meminta dengan paksa untuk melihat pun, itu sudah merupakan pelanggaran atas hak privasi seseorang. Sayangnya, banyak orang yang sering menganggap membaca inbox ini sebagai suatu hal yang lazim (dan sepele) dilakukan dalam suatu hubungan. Percaya deh, baca-membaca inbox (dan pelanggaran privasi lainnya) memperpendek usia suatu hubungan.

Kedua, perkara kebebasan. Kebebasan ini adalah termasuk kebebasan berpendapat, kebebasan memilih hobi, kebebasan berkreatifitas, kebebasan menjadi diri sendiri, dan segala kebebasan yang terkadang membuat banyak orang yang (terlanjur) "terkekang" dalam status pacaran berpikir bahwa "single is a way better". This! Kebebasan itu penting. Entahlah, semoga tidak terasa terlalu liberal, tapi saya percaya bahwa setiap orang berhak menjalani hidupnya sesuai dengan apa yang dia inginkan. Tentunya dengan catatan: penuh tanggung jawab. Sering kali hubungan-hubungan yang gagal dikarenakan karena salah satu individu merasa terkekang. Atau bisa jadi keduanya merasa terkekang, tapi tidak mau jujur satu sama lain. Seseorang tidak boleh mengekang kebebasan orang lain. Memangnya kenapa kalau pacar kamu adalah orang yang suka berpikir radikal? You chose him/her, by the way. Sudah seharusnya kamu tahu sifatnya. Kenapa pemikirannya harus dikekang? Memangnya kenapa kalau pacar kamu adalah "anak band"? Atau "anak basket"? Atau "anak futsal"? Atau seorang cheerleaders? Atau seorang dancer? Kamu takut banyak yang suka dia? Kamu takut dia punya banyak fans? You chose him/her, by the way. Sudah seharusnya kamu tahu itu. Memangnya kenapa kalau pacar kamu punya banyak teman pria atau wanita? Itu kan temannya? Kenapa kamu tidak percaya dengan dia? You chose him/her, by the way. Sudah seharusnya kamu tahu itu.

Biarkan dia menjadi dirinya sendiri tanpa harus menyembunyikan identitas sebenarnya di depan kamu hanya karena ia takut kamu marah atau cemburu. Percaya deh, kamu tidak mau dia begitu. Kamu pasti mau pacar kamu menjadi orang yang apa adanya di depan kamu kan? Jika kamu sudah tahu bahwa pacar kamu itu punya kelemahan atau hal-hal yang tidak kamu suka, yang pastinya―atau setidaknya―kamu sudah tahu sejak sebelum berpacaran dengannya, lantas kenapa memilih dirinya? Cinta terlalu kompleks untuk sekedar "memaklumi". Saya percaya bahwa cinta tidak selalu soal "memaklumi". Lebih dari itu, cinta itu menerima. Cinta itu menerima kebebasan. Cinta itu tidak suka dikekang. Biarkan ia bebas. Biarkan ia berpikir.

Ketiga, jangan serahkan waktumu sepenuhnya kepada pasanganmu. For God's sake, you have your own life and you deserve it! Saya percaya bahwa selama kamu belum menikah, kamu berhak menentukan dan  membagi-bagi waktu dalam kehidupanmu. Tentunya, memilih untuk berpasangan adalah pilihan kamu dan bertanggung jawablah atas pilihanmu itu. Namun, itu tidak berarti bahwa kamu harus menyerahkan segala waktu (dan pikiran) untuk pasanganmu ini. Hidup ini terlalu indah jika hanya disia-siakan untuk memikirkan kebahagiaan pacar kita. Bagaimana dengan kebahagiaanmu? Kamu sendiri berhak mengurus dirimu sendiri.

Kamu tentu sudah dewasa. Kamu tahu mana yang menjadi kebutuhan kamu dan mana yang tidak perlu kamu penuhi. Kamu butuh waktu untuk dirimu sendiri. Dan ketika pacarmu butuh waktu untuk dirinya sendiri, jangan pernah kamu menahannya. Berikan ia kebebasan sama seperti kamu menginginkan kebebasan itu sendiri. Dan ketika pacarmu mengambil waktu kamu, jangan pernah biarkan ia mengambil sepenuhnya. Katakan dengan tegas bahwa bagaimana pun juga hubungan kalian bukanlah (atau belum) terikat dalam hubungan pernikahan. Dia berhak memiliki waktu untuk dirinya, dan kamu pun berhak memiliki waktu atas dirimu sendiri. Tidak ada seorang pun―selama mereka berpacaran―yang berhak mengklaim bahwa seseorang harus menyerahkan seluruh waktunya (yang berarti segala aspek kehidupannya) kepada dirinya ketika orang itu menyatakan bahwa ia mencintainya. Tentu tidak seperti itu. Percayalah bahwa sekali kamu menyerahkan waktumu kepada orang lain, kamu akan sulit untuk mendapatkannya kembali.

Jadi, selalu ingat, apa pun yang terjadi, ketika kamu berpacaran atau dalam sebuah hubungan―apa pun itu namanya, ingatlah tiga hal dasar yang tidak boleh kamu serahkan sepenuhnya kepada pasangan kamu: privasi kamu, kebebasanmu, dan waktumu sepenuhnya. See, ini adalah hal-hal yang sangat penting untuk tetap kamu pertahankan. Hilangnya tiga hal ini akan menyebabkan hilangnya berbagai hal lain, termasuk hubungan yang sedang kamu jalankan. Kita semua memang pada dasarnya adalah makhluk sosial. Namun, itu tidak membuat hidup kita harus "go social" untuk pasangan kita hingga mengorbankan privasi, kebebasan, dan waktu yang kita miliki. Berpikirlah rasional ketika kamu berpacaran. Pastikan kamu tetap pada jalur yang benar, jalur yang tidak menyembunyikan kepribadian kamu yang sesungguhnya. Jadi, jika kamu tidak mau pacar kamu menjadi seperti apa yang kamu rasa bahwa tidak seharusnya ia seperti itu, maka tanyakan lagi pada dirimu, mengapa kamu memilihnya dulu? Atau mengapa kamu menerima permintaannya dulu untuk menjadi kekasihmu?