20 Februari 2012

Dari Lonte ke Pekerja Seks Komersial

Di tahun lima puluhan, di Jakarta banyak lonte berkeliaran. Namun, sejak tahun enam puluhan mereka tidak ada lagi. Bukan karena mereka atau penerusnya tidak lagi berkeliaran dan tidak melakukan kegiatan, melainkan karena kata lonte dianggap tidak manusiawi, sangat kasar.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, lonte adalah 'perempuan jalang; wanita tunasusila; pelacur; sundal'. Sejak saat itu, yang banyak berkeliaran dengan jumlah jauh lebih banyak adalah wanita tunasusila atau WTS. Bersamaan dengan lonte, di Jakarta juga berkeliaran bunga malam, bunga jalan, dan pelacur, yang menurut KBBI berarti 'perempuan yang melacur'.

Bunga malam dan bunga jalan merupakan upaya penghalusan agar kesan yang diperoleh menjadi lebih sopan. Lebih sopan dalam hal kata, bukan dalam hal pandangan masyarakat terhadap mereka. Dalam urusannya dengan pelacur yang sama halnya menusuk perasaan, juga terkesan berat sebelah. Mungkinkah ada pelacur jika tidak ada yang melacuri mereka?

Istilah WTS ternyata kemudian menimbulkan protes, terutama dari pihak perempuan. Misalnya, apakah tunasusila merupakan watak yang hanya dimiliki perempuan? Apakah tidak ada laki-laki yang juga berwatak tunasusila? Jika WTS khas perempuan, apakah pekerjaan itu akan berjalan jika tidak ada laki-laki yang "membeli" mereka? Artinya, WTS baru akan berkembang jika ada laki-laki yang tunasusila. Sama halnya dengan pelacur, istilah itu dari segi makna jelas salah larap. Pelacur seharusnya digunakan untuk laki-laki yang melacur, sedangkan perempuan yang dilacur itu sebenarnya adalah terlacur atau boleh juga linacur!

Berdasarkan protes itu, sejalan dengan semangat reformasi, dimunculkan istilah baru: pekerja seks komersial. Istilah ini nampaknya sangat menjunjung harkat dan martabat perempuan. Namun, kemudian muncul masalah. Dengan istilah itu, yang mereka lakukan selama ini diakui sebagai kasab 'mata pencaharian'. Sebagai pekerja, mereka tentu harus tunduk pada peraturan dan kebijaksanaan yang berkenaan dengan ketenagakerjaan. Mereka juga seharusnya punya hak mendirikan serikat pekerja atau apa pun namanya.

Apa bedanya mereka dari pekerja harian, pekerja kasar, atau pekerja sosial? Lagi pula, istilah itu dapat diartikan bahwa mereka dianggap memiliki hak dan kewajiban yang setara dengan hak dan kewajiban para pekerja lain. Artinya, pekerjaan mereka itu juga sah, resmi, dan dengan sendirinya dilindungi undang-undang. Konsekuensi logis berikutnya adalah mereka wajib membayar pajak penghasilan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Jika hal ini sampai terjadi, berarti pemerintah secara resmi mengakui kasab itu.

Namun ternyata, hingga sekarang nasib mereka tetap tidak berubah. Dalam waktu dan kesempatan tertentu, selalu saja ada penggerebekan atau tindakan kekerasan sejenisnya. Mereka digerebek kemudian diangkut dengan truk terbuka dari tempat mereka bekerja. Artinya, perlindungan hukum yang merupakan hak mereka setelah menyandang predikat sebagai pekerja tidak juga mereka peroleh. Padahal, pekerjaan lain betapa pun kecil dan tidak adilnya tetap menikmati perlindungan hukum itu. Misalnya, mereka baru ditindak jika mogok atau bertindak yang dianggap merugikan perusahaan tempat mereka bekerja. Hanya para pekerja seks komersial itulah yang justru ditindak ketika mereka tengah melakukan pekerjaan mereka!

Dalam pada itu, para pekerja seks komersial sangat dibatasi hak-haknya. Menjelang bulan suci Ramadan hampir selalu dikeluarkan imbauan agar mereka tidak praktik. Artinya, mereka dilarang melakukan pekerjaan yang sudah dianggap sebagai usaha dagang (komersial) itu. Nampak sekali ketidakadilan sengaja ditimpakan pada mereka. Para pekerja lain diimbau agar tetap bekerja, dilarang mogok atau melakukan tindak tidak terpuji lainnya. Sebaliknya, para pekerja seks komersial justru diimbau agar tidak melakukan pekerjaan yang menyebabkan mereka tetap hidup.

Jika demikian, mengapa harus diciptakan istilah yang sangat santun namun sangat tidak jelas makna itu? Akan lebih baik kembali kepada istilah yang paling jelas seperti semula: lonte atau sundal 'perempuang jalang; pelacur'. Jika pun mereka diburu atau digerebek, alasannya jelas: yang mereka kerjakan dianggap sangat buruk oleh masyarakat. Sebagai perbandingan, khazanah bahasa Sunda dengan berbagai dialeknya mengenal istilah beel, telembuk, ublag, dan ungkluk yang semuanya hanya berlaku untuk perempuan.
--
Disalin dari tulisan Ayatrohaédi dalam artikel "Dari Lonte ke Pekerja Seks Komersial", Kolom Bahasa, Kompas, 23 September 2003.

1 komentar :

Posting Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.