20 Februari 2012

Radio Komunitas & Pariwisata Indonesia

Remaja, Radio Komunitas, dan Perkembangan Pariwisata Indonesia
Oleh: Fauzan Al-Rasyid

Sebagai negara yang memiliki kekayaan alam dan budaya, Indonesia telah memenuhi satu komponen penting dalam pariwisata, yaitu keragaman. Kekayaan alam Indonesia, seperti pantai-pantai di Bali, tempat menyelam di Bunaken, Gunung Rinjani di Lombok, dan berbagai taman nasional di Sumatera telah menjadi tujuan wisata alam di Indonesia yang sangat diminati baik dari wisatawan lokal maupun mancanegara. Tidak hanya wisata alam, Indonesia pun kaya dengan warisan budaya yang mencerminkan sejarah dan keberagaman etnis Indonesia yang dinamis, seperti candi Prambanan dan Borobudur, Toraja, Yogyakarta, dan Minangkabau.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, sebelas provinsi yang paling sering dikunjungi oleh para turis adalah Bali, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DKI Jakarta, Sumatera Utara, Lampung, Sulawesi Selatan, Sumatera Selatan, Banten dan Sumatera Barat.[1] Melihat hal ini, tentu tidak heran jika pariwisata menjadi sektor ekonomi penting di Indonesia. Pada tahun 2009, pariwisata menempati urutan ketiga dalam hal penerimaan devisa setelah komoditi minyak dan gas bumi serta minyak kelapa sawit.[2] Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, jumlah wisatawan nasional tahun 2010 adalah sebanyak 122,312 juta orang, dengan jumlah perjalanan mencapai 234,377 juta perjalanan dengan pengeluaran sebesar Rp150,49 triliun.[3]
            Industri pariwisata di Indonesia dapat digolongkan ke dalam empat kategori wisata, yaitu wisata alam, wisata budaya, wisata belanja, dan wisata keagamaan. Sebagai contoh, dalam hal obyek wisata alam, Indonesia yang memiliki kawasan terumbu karang terkaya di dunia dengan lebih dari 18% terumbu karang dunia, serta lebih dari 3.000 spesies ikan, 590 jenis karang batu, 2.500 jenis moluska, dan 1.500 jenis udang-udangan menciptakan sekitar 600 titik selam yang tersebar dari Sabang, Aceh hingga Raja Ampat, Papua.[4] Raja Ampat di Provinsi Papua Barat adalah taman laut terbesar di Indonesia yang memiliki beraneka ragam biota laut dan dikenal sebagai lokasi scuba diving yang baik karena memiliki daya pandang yang mencapai hingga 30 meter pada siang hari.[5]
            Sementara itu, dalam hal obyek wisata budaya, sejarah kebudayaan Indonesia dari zaman prasejarah hingga periode kemerdekaan dapat ditemukan di seluruh museum yang ada di Indonesia. Tercatat jumlah museum di Indonesia berjumlah 80 museum yang tersebar dari Aceh hingga Maluku.[6] Di Jakarta, misalnya, sejumlah museum terletak dalam satu kawasan seperti Kota Tua Jakarta yang merupakan daerah yang dikenal sebagai pusat perdagangan pada zaman penjajahan Belanda memiliki enam museum.
            Bentuk wisata lainnya, yaitu wisata belanja juga diminati banyak wisatawan. Di Indonesia, bentuk wisata ini dibagi menjadi dua jenis, yaitu pusat perbelanjaan tradisional dan pusat perbelanjaan modern. Pasar tradisional pada umumnya menjual berbagai barang kebutuhan sehari-hari yang berlokasi dalam satu gedung atau jalan tertentu, atau bahkan bisa juga di sungai-sungai, sedangkan pusat perbelanjaan modern dapat ditemukan di kota-kota metropolitan terutama yang terletak di Pulau Jawa seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Semarang. Mayoritas pusat perbelanjaan modern dapat ditemukan di kota Jakarta yang memiliki lebih dari 170 pusat perbelanjaan.[7]
Peran Kaum Muda dalam Membangun Pariwisata Indonesia
Kaum muda atau kaum remaja sebagai generasi pewaris kekayaan negeri ini haruslah menjadi tulang punggung pariwisata. Remaja dengan intelektualitas yang tinggi dapat meningkatkan kesadaran akan budaya dan mengurangi perilaku negatif. Untuk itu, remaja perlu diberikan pengetahuan dan informasi lebih tentang kepariwisataan Indonesia.
            Saat ini sebagian besar dari 220 juta penduduk Indonesia merupakan kelompok remaja. Oleh karena itulah remaja merupakan potensi yang harus dikembangkan untuk mendorong perjalanan Wisatawan Nusantara (Wisnus).[8] Menurut Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat Herdiwan, remaja sebagai bagian dari sumber daya manusia memiliki potensi intelektualitas sehingga mampu berpikir komprehensif, memiliki minat positif untuk mengenal lingkungan alam dan budaya serta mempunyai minat pada kegiatan wisata, serta diharapkan menjadi pendorong terhadap pengembangan pariwisata.
            Selain itu, sifat remaja yang lebih dinamis, mudah beradaptasi, dan memiliki pergaulan yang cenderung lebih luas, menjadi suatu nilai tambah bagi remaja untuk menjadi agen-agen yang turut serta memperkenalkan dan melestarikan kebudayaan dan pariwisata Indonesia. Dengan demikian, kaum muda menjadi suatu unsur yang sangat penting dan tidak tergantikan dalam melestarikan kebudayaan yang ada di Indonesia dan sekaligus berkontribusi sangat besar dalam pembangunan bangsa dan negara Indonesia.
Namun, sayangnya sering kali untuk memperoleh informasi tersebut para wisatawan kerap mengalami kesulitan karena informasi yang kurang memadai. Sebagai contoh, tidak banyak wisatawan yang mengenal obyek wisata Curug Dago. Obyek wisata ini berlokasi Jalan Dago, Bandung. Namun, karena kurangnya informasi wisata, tidak banyak yang mengetahui akan keberadaan curug (air terjun) Dago.[9] Padahal, obyek wisata ini cukup potensial untuk dikembangkan. Oleh karena itu, kebutuhan informasi di bidang pariwisata perlu ditingkatkan dan perlu disiapkan dengan baik agar dapat diakses dengan mudah, khususnya untuk para remaja yang kini menjadi agen-agen sosialisasi pariwisata Indonesia.

Menurut Dirjen Pemasaran Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Thamrin B. Bachri, wisatawan remaja memiliki peranan yang sangat strategis dalam memupuk rasa persatuan dan kesatuan bangsa  khususnya di kalangan generasi muda.[10] Thamrin juga mengatakan bahwa melalui kegiatan wisata, para remaja dapat lebih mengenal keanekaragaman budaya bangsa Indonesia serta keindahan alam negerinya sendiri, yang pada akhirnya nanti akan memperkokoh rasa cinta tanah air.

Kurangnya Program Informasi Wisata untuk Kaum Muda
Di tengah kesadaran akan potensi kaum muda yang begitu besar dalam upaya membangun dan mengenalkan kebudayaan dan pariwisata Indonesia, akses informasi, khususnya di radio, mengenai pengenalan pariwisata tersebut sangatlah minim. Dewasa ini, kebutuhan masyarakat akan informasi yang bersifat umum biasanya terpenuhi dengan akses ke media, baik itu media cetak maupun media elektronik. Namun, untuk informasi-informasi yang tematik atau bertema tertentu tidak seluruhnya dapat diakses dengan mudah. Memang, kini internet dapat dikatakan mampu menjadi jawaban berbagai kebutuhan akan informasi, tapi perlu dipertimbangkan pula keterjangkauannya atau aksesnya yang sampai saat ini belum mampu menjangkau seluruh pelosok tanah air. Berdasarkan data dari AGB Nielsen, setelah televisi, konsumsi media terbesar kedua di Indonesia adalah radio, sebesar 37%.
Radio dapat menjawab permasalahan kurangnya informasi mengenai wisata-wisata di Indonesia. Radio kini pun dapat dengan mudah diakses, tidak harus dengan radio konvensional, tetapi kini radio dapat diakses melalui telepon seluler. Namun, sayangnya hingga saat ini di radio pun kurang banyak menyajikan program-program yang menginformasikan mengenai tempat-tempat wisata di tanah air. Beberapa stasiun radio di tanah air ada yang mengkhususkan dirinya sebagai stasiun radio wisata, seperti Wisata FM 99.3 dan Storm FM 105.2 di Denpasar, Bali. Lantas, bagaimana dengan para remaja di luar Bali? Bahkan di DKI Jakarta pun tidak banyak program radio yang berisi atau mengulas mengenai obyek-obyek wisata di tanah air. Program-program yang ada hanya menyajikan informasi secara umum dan program musik, seperti yang disiarkan di radio Sonora, Smart FM, Trijaya FM, Elshinta, Gen FM, Prambors, Trax FM, Mustang FM, dan sebagainya. Hampir tidak ada program yang mengkhususkan diri untuk menyampaikan informasi wisata kepada remaja atau kaum dewasa awal. Padahal, melihat potensi remaja, remaja bisa menjadi agen-agen sosialisasi kebudayaan dan pariwisata Indonesia.
            Sebagai tambahan, menurut Imron dari Rinjani Tour and Travel Club di Lombok, Nusa Tenggara Barat, sekitar 60% wisatawan yang datang ke obyek wisata  gunung Rinjadi di Lombok adalah remaja.[11] Mereka pada umumnya menyukai wisata petualangan dengan mendaki gunung atau menyelaman dan snorkeling. Tentunya jumlah ini dapat meningkat jika akes informasi terhadap obyek-obyek wisata di Indonesia lebih banyak dan dikemas dengan suatu sajian yang mencerminkan generasi muda. Radio, dalam hal ini, mampu menjawab keterbatasan informasi pariwisata Indonesia.
Radio Komunitas Sebagai Sumber Informasi Wisata
            Berdasarkan data yang telah dipaparkan di atas, dapat dikatakan bahwa remaja memegang peranan penting dalam menyosialisasikan keanekaragaman obyek wisata Indonesia. Remaja atau kaum muda yang berperan sebagai agen-agen sosialisasi budaya di sini khususnya adalah mahasiswa. Mengapa mahasiswa, bukannya siswa SMA? Mahasiswa, dalam hal ini, dianggap telah menjadi sosok remaja atau kaum dewasa awal yang sudah lebih mandiri dan lebih bebas dalam menentukan pilihan hidupnya daripada remaja siswa SMA yang cenderung masih diayomi oleh orangtuanya. Karakteristik yang ada pada mahasiswa ini menjadi sangat penting karena untuk menyukseskan sosialisasi pariwisata Indonesia yang begitu beraneka ragam dibutuhkan suatu kemandirian dan rasa ingin tahu yang besar untuk mengeksplorasi berbagai lokasi wisata. Sifat seperti ini dianggap lebih dominan dimiliki oleh mahasiswa yang berstatus sebagai remaja yang memasuk fase dewasa awal.
Melihat kondisi ini, salah satu media yang dapat digunakan sebagai media sosialisasi pariwisata Indonesia adalah radio. Bagi sebagian masyarakat (termasuk remaja), radio dari waktu ke waktu masih diyakini sebagai sumber informasi. Radio dapat didengarkan kapan saja dan di mana saja sehingga mampu memberikan informasi dalam tempo yang relatif cepat. Hampir tiap saat masyarakat, khususnya di Jakarta, mendengarkan radio.[12]
Salah satu jenis stasiun penyiaran radio adalah stasiun radio komunitas. Stasiun radio komunitas adalah stasiun siaran radio yang dimiliki, dikelola, diperuntukkan, diinisiatifkan, dan didirikan oleh sebuah komunitas. Pelaksana penyiaran komunitas disebut sebagai lembaga penyiaran komunitas. Stasiun penyiaran komunitas harus berbentuk badan hukum Indonesia, didirikan oleh komunitas tertentu, bersifat independen dan tidak komersial dengan daya pancar rendah, luas jangakauan wilayahnya terbatas, serta ditujukan untuk melayani kepentingan komunitasnya.[13] Radio komunitas juga sering disebut sebagai radio sosial, radio pendidikan, atau radio alternatif.
Dalam radio—termasuk pada radio komunitas—ada beberapa tipe program yang disajikan, seperti news bulletin, chatshow, feature, dan air magazine. News bulletin sepeti bentuk kebanyakan dalam menyampaikan sebuah berita merupakan bentuk yang lebih dekat dengan format yang formal. Chatshow adalah format umum program di radio yang menyajikan penyiar memperkenalkan tamu atau narasumber dan kemudian berbincang-bincang. Bincang-bincang itu berjalan sebagaimana wawancara pada umumnya yaitu untuk menggali pandangan, opini narasumber, dan bukan untuk mempertentangkannya.[14] Chatshow adalah ciri khas tiap radio, biasanya acara dipandu oleh penyiar yang jumlahnya lebih dari satu. Feature menurut Masduki dapat diartikan sebagai gabungan dari komponen dokumen dari sebuah peristiwa, dengan opini pihak yang terkait, dan penyajiannya yang penuh dengan ekspresi dan imajinasi.[15]
Sementara itu, air magazine mengambil konsep layaknya sebuah majalah yang diudarakan. Air magazine atau majalah udara adalah sebuah bentuk acara yang merupakan gabungan dari berbagai macam bentuk informasi, yang disatukan dalam suatu acara, dengan topik yang khusus dan memiliki struktur yang ketat. (McLeish, 2005). Air magazine umumnya bersifat tak terikat oleh waktu, atau cenderung bersifat soft news, yang memiliki cakupan topik yang luas, tapi memiliki satu tema yang ditetapkan lebih dahulu sesuai dengan tujuan pembuatannya. Isinya dapat berkisar seperti feature, tips, laporan acara, dan informasi-informasi lainnya, tergantung dari tema air magazine tersebut.
Berdasarkan penjabaran di atas, program radio yang berbentuk air magazine dengan tema wisata atau jalan-jalan yang disiarkan dalam suatu radio komunitas (dengan target khalayak para remaja dalam jangkauan siaran komunitas atau wilayah tersebut) diharapkan dapat menjawab kebutuhan akan informasi wisata di Indonesia sekaligus dapat mengajak dan menggerakkan para remaja untuk menjadi agen-agen yang memperkenalkan obyek-obyek wisata di tanah air baik melalui word of mouth atau pun melalui berbagi media yang ada.

[1] Antaranews.com, “Time for N. Maluku to become tourist destination” (http://www.antaranews.com/en/news/71168/time-for-n-maluku-to-become-tourist-destination diakses pada 10 Desember 2011).
[2] Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI, “Ranking Devisa Pariwisata Terhadap Komoditas Ekspor Lainnya tahun 20042009” (http://www.budpar.go.id/filedata/5436_1695-Rankingdevisa.pdf diakses pada 10 Desember 2011).  
[3] Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI, “Perkembangan Wisatawan Nusantara (WISNUS) Tahun 2004 – 2010” (http://www.budpar.go.id/page.php?ic=521&id=5428 diakses pada 10 Desember 2011).
[4] Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI, “Jumpa Pers Akhir Tahun 2009” (http://www.budpar.go.id/page.php?ic=512&id=5221 diakses pada 10 Desember 2011).
[5] Tempo.co, “5 Lokasi Menyelam Menarik di Indonesia” (http://www.tempo.co/read/news/2011/03/11/106319397/5-Lokasi-Menyelam-Menarik-di-Indonesia diakses pada 10 Desember 2011).
[6] Bappenas , “Jumlah Pengunjung Museum di Indonesia” (http://kppo.bappenas.go.id/files/-3-Jumlah%20Pengunjung%20Museum%20di%20Indonesia.pdf diakses pada 10 Desember 2011).
[7] VIVAnews.com, “Jakarta, Kota dengan Mal Terbanyak di Dunia” (http://metro.vivanews.com/news/read/165684-jumlah-mal-di-jakarta-sudah-tak-ideal diakses pada 10 Desember 2011).
[8] Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI, 90 Pelajar dari 8 Provinsi di Indonesia ikuti kegiatan Wisata Remaja 2007 (http://www.budpar.go.id/page.php?ic=511&id=3066 diakses pada 10 Desember 2011).
[9] Detikcom, “Curug Dago, Keheningan di Balik Keramaian Jalan Dago” (http://detik.travel/readfoto/2011/11/15/165043/1767934/1026/1/curug-dago-keheningan-dibalik-keramaian-jalan-dago diakses pada 10 Desember 2011)
[10] Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI, “ Program 'Kenali negerimu, Cintai negerimu', Dorong Wisata Remaja Lebih Cinta Tanah Air” (http://www.budpar.go.id/page.php?ic=511&id=3066 diakses pada 10 Desember 2011).
[11] Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI, “ Program 'Kenali negerimu, Cintai negerimu', Dorong Wisata Remaja Lebih Cinta Tanah Air” (http://www.budpar.go.id/page.php?ic=511&id=3066 diakses pada 10 Desember 2011).
[12] Masduki. (2004). Menjadi Broadcaster Profesional. Yogyakarta: Pustaka Populer LKiS, hal. 11.
[13] Morissan. (2009). Manajemen Media Penyiaran: Strategi Mengelola Radio & Televisi. Jakarta: Kencana, hal. 96.
[14] McLeish, Robert. (1999). Radio Production: Manual for Broadcasters (5 Rev ed.). Oxford: Focal Press, hal. 137.
[15] Masduki. (2001). Jurnalistik Radio. Yogyakarta: Pustaka Populer LKiS.

0 komentar :

Posting Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.