Welcome to My World!

Welcome visitors! Please enjoy my site and I hope you can get many useful information. If you wish, you may contact me through Facebook, Twitter, or any other social media that I linked on the menu bar above. Thank you.

Die Poskarten

This is my another blog: Die Poskarten. This blog will show you all my postcards collection. If you want to swap a postcard, please don't hesitate to contact me from the menu bar above.

Bonjour à Tous !

"Bonjour à Tous !"is my Tumblr site. Please take a look on it and maybe you can find some funny contents that you will love. You can also follow me on Tumblr to get my updates on the site.

Please Do Not Copy

You are welcome to link to my site and use my resources in your classroom, but please respect my hardwork and do not copy my page or files and add them to your website. Thank you.

Russia Beyond the Headlines in Bahasa Indonesia

Russia Beyond the Headlines, your guide to Russia, a diverse and complex country cannot be understood in the context of stereotypes. Now available in Bahasa Indonesia!

05 Maret 2012

Kisah Si "Selebritis"

Kata 'selebritis', kedengarannya kata itulah yang lazim kita dengar sehari-hari, khususnya dalam berbagai percakapan baik di media televisi, radio, maupun dalam keseharian kita dalam berbicara dengan lawan bicara jika memang yang kita maksud adalah seseorang yang terkenal atau termahsyur. Namun, lain halnya di media cetak, kerap kali kita membaca berbagai variasi kata ini, seperti 'selebriti' dan 'selebritas'. Lantas, apakah baik 'selebritis', 'selebriti', maupun 'selebritas' adalah sinonim? Jadi, penggunaannya sama saja? Ternyata tidak demikian. Penggunaan kata 'selebritis' dan 'selebriti' adalah salah. Kata yang tepat adalah 'selebritas'. Ah, masa iya? Mari kita lihat dulu kata-kata bahasa Inggris di bawah ini:
  1. accessibility
  2. accountability
  3. activity
  4. ambiguity
  5. authority
  6. capacity
  7. commodity
  8. duality
  9. equity
  10. individuality
  11. legality
  12. quality
  13. quantity
  14. university
  15. utility
Jika kita diminta untuk menerjemahkan kata-kata asing tersebut, saya kira secara spontan kita akan menjawab seperti ini:
  1. aksesibilitas
  2. akuntabilitas
  3. aktifitas
  4. ambiguitas
  5. otoritas
  6. kapasitas
  7. komoditas
  8. dualitas
  9. ekuitas
  10. individualitas
  11. legalitas
  12. kualitas
  13. kuantitas
  14. universitas
  15. utilitas
Benar begitu kan? Kata-kata seperti 'kualitas', 'kuantitas', 'universitas', atau 'kapasitas' adalah kata-kata serapan dari bahasa Inggris. Kata-kata berbahasa Inggris yang berakhiran -ity atau -ty diserap ke dalam bahasa Indonesia dengan mengganti imbuhan tersebut menjadi imbuhan -tas.

Kini, pertanyaannya adalah, apakah sebutan dalam bahasa Inggris bagi orang terkenal atau termahsyur? Kita pasti akan menjawab: celebrity. Tepat sekali! Kemudian, pertanyaan berikutnya adalah, apakah bahasa Indonesia yang TEPAT untuk kata 'celebrity' tersebut? Jawabannya sudah pasti adalah selebritas.

Jadi, kalau kita lagi-lagi mengucapkan kata 'selebritis' atau 'selebriti', sementara kita sehari-hari juga mengucapkan kata 'aktifitas', 'universitas', 'kualitas', dan sebagainya, maka artinya kita telah terjebak dalam kesesatan berbahasa Indonesia. Semoga, sedikit tulisan ini bisa membawa kita keluar dari berbagai kesesatan berbahasa di negeri ini.

Be(r)cermin?

Masih soal bahasa Indonesia, kali ini saya akan membahas sedikit soal imbuhan be- dan ber-. Lagi-lagi, ini sederhana, sering kali kita gunakan, tapi mungkin tidak sering kita sadari mana yang benar. Oke, saya punya beberapa kata berimbuhan ber- di bawah ini, dan mana sajakah yang benar?
  1. Berkorban
  2. Bercorak
  3. Bercermin
  4. Bermartabat
  5. Berkerja
  6. Berjarak
  7. Berduri
  8. Beraroma
  9. Bertaraf
  10. Beriringan
  11. Berwarna
  12. Berpartisipasi
Apakah ada yang merasa bahwa kedua belas kata di atas baik-baik saja? Ya, sekilas tampaknya tidak ada yang salah, dan saya kira, rata-rata hampir semua orang Indonesia mengucapkan kedua belas kata tersebut demikian jika kata dasarnya ditambahkan dengan imbuhan ber-. Namun, sebenarnya enam di antaranya adalah salah. Kata-kata yang salah adalah: berkorban, bercermin, bermartabat, berkerja, berwarna, dan berpartisipasi.

Loh, apa salahnya? Iya, yang salah adalah bahwa setiap kata yang suku kata pertama pada kata dasarnya terkandung huruf "r" tidak boleh diberikan imbuhan ber-, melainkan harus diberikan imbuhan be-. Jadi, seperti kata cermin misalnya, jika kita penggal maka akan menjadi: CER-MIN. Huruf "r" terdapat pada suku kata pertama kata cermin, yaitu "cer". Oleh karena itu, imbuhan yang tepat adalah be- sehingga menjadi: becermin. Merasa janggal? Itulah yang benar. 

Begitu pula dengan: PAR-TI-SI-PA-SI, KER-JA, KOR-BAN, MAR-TA-BAT, dan WAR-NA. Jadi, yang benar adalah: bepartisipasi, bekerja, bekorban, bemartabat, dan bewarna. Sementara itu, imbuhan ber- boleh dijadikan imbuhan untuk kata-kata yang tidak terkandung huruf "r" pada suku kata pertama dalam kata dasarnya. Oleh karena itu, kata bercorak, berjarak, beraroma, bertaraf, berduri, dan beriringan adalah benar. Sebagai contoh, kata aroma jika dipenggal menjadi: A-RO-MA. Huruf "r" terdapat pada suku kata kedua dan maka dari itu menempatkan imbuhan ber- menjadi tepat.

Nah, jadi sekarang setelah membaca tulisan ini, tidak ada lagi yang akan mengatakan: "Ayahnya berkerja di perusahaan tambang," atau "Sebagai mahasiswa, sudah seharusnya kita harus berpartisipasi dalam mengisi kemerdekaan." Karena itu salah.

What Is "Data-data"?

Ini juga salah satu kesalahan fatal dalam berbahasa. Oke, intinya, jangan pernah mengatakan "data-data", misalnya: "Data-data ini kami dapat berdasarkan *bla bla bla*", itu 100% salah! Kenapa? Ya iya, karena "data" itu sendiri sudah merupakan bentuk jamak. Ah masa iya? Iya, bentuk tunggalnya adalah "datum". Nah, jadi, kalau mau bilang "banyak datum", ya cukup dengan menyebutkan "data" saja tanpa perlu diulang.

Lagipula, kita kan selalu menyajikan data yang berasal dari berbagai hasil temuan. Satu temuan itu adalah datum. Kita tidak mungkin menarik kesimpulan dan menyajikan suatu datum, karena tidak dapat diartikan. Ketika berbagai datum dikumpulkan maka terbentuklah data. Data inilah yang kemudian bisa kita sajikan dan diolah untuk kemudian bisa diteliti lebih lanjut.

Nah, jadi, kalimat "Data ini kami dapat berdasarkan *bla bla bla*", itulah yang tepat. Semoga kita tidak ber-data-data lagi.

Politisi atau Politikus?

Berawal dari ketak-ketik di post saya di Tumblr, saya menulis kata "alumnus" yang berarti adalah lulusan dari sebuah sekolah, akademi, atau perguruan tinggi. Tentunya dalam konteks saya ini adalah lulusan perguruan tinggi. Oke, tapi bukan itu masalahnya. Pernahkan rekan-rekan sekalian mendengar kata "alumni", "alumnus", "politisi, "politikus", atau bahkan "teknisi" dan "teknikus"?

Jika iya, lantas apakah penggunaan akhiran -i dan -us ini bermakna sama? Mana yang benar di antara keempat kalimat ini:
  1. Ayahnya adalah seorang politisi.
  2. Para politikus tanah air banyak yang korupsi.
  3. Saya adalah alumnus salah satu universitas negeri di Indonesia.
  4. Mereka berdua adalah alumni fakultas teknik.
Ada yang tahu mana saja yang benar? Ya, nomor satu dan dua salah; sisanya benar. Di mana letak kesalahannya? Kata "politisi" adalah bentuk jamak dari kata "politikus". Artinya, dalam kalimat nomor satu, yang benar adalah: Ayahnya seorang politikus. Sementara itu, pada kalimat yang kedua, yang benar adalah: Para politisi tanah air banyak yang korupsi. Jadi, jika ada yang menyebutkan: "para politikus", maka bisa kita katakan orang tersebut "asal bicara" atau sebut saja dia tidak paham bahasa Indonesia. Karena kata "para" merujuk pada benda yang jamak, oleh karena itu, "para politisi" adalah kata yang tepat.

Seperti halnya kalimat nomor tiga dan empat. Kalimat: "Saya adalah alumnus salah satu universitas negeri di Indonesia," adalah tepat. Begitu juga dengan kalimat: "Mereka berdua adalah alumni fakultas teknik." Jadi, jangan pernah lagi mengatakan: "SAYA ALUMNI universitas/SMA/SMP/SD/madrasah atau bahkan Akademi Fantasi Indosiar (AFI)" sekalipun. Karena kata saya, kamu, anda, dia adalah kata tunggal yang jika dimaksudkan untuk menjelaskan bahwa orang tersebut adalah lulusan suatu instansi pendidikan maka harus dipasangkan dengan kata alumnus, bukan alumni.

Hal serupa juga terjadi pada kata "teknikus" dan "teknisi". Jadi, sekarang tentu kita tahu kapan harus menggunakan kata "teknikus" dan "teknisi" bukan? Apakah kalimat "Dia adalah teknisi di perusahaan minyak ternama," benar atau salah, tentu kita sudah tahu sekarang. Begitu juga dengan kata "musikus" dan "musisi". Jadi, Stevie Wonder seorang musisi atau musikus? Kita tahu jawabannya.