Welcome to My World!

Welcome visitors! Please enjoy my site and I hope you can get many useful information. If you wish, you may contact me through Facebook, Twitter, or any other social media that I linked on the menu bar above. Thank you.

Die Poskarten

This is my another blog: Die Poskarten. This blog will show you all my postcards collection. If you want to swap a postcard, please don't hesitate to contact me from the menu bar above.

Bonjour à Tous !

"Bonjour à Tous !"is my Tumblr site. Please take a look on it and maybe you can find some funny contents that you will love. You can also follow me on Tumblr to get my updates on the site.

Please Do Not Copy

You are welcome to link to my site and use my resources in your classroom, but please respect my hardwork and do not copy my page or files and add them to your website. Thank you.

Russia Beyond the Headlines in Bahasa Indonesia

Russia Beyond the Headlines, your guide to Russia, a diverse and complex country cannot be understood in the context of stereotypes. Now available in Bahasa Indonesia!

31 Mei 2012

Para Pejuang Muda Kampus Perjuangan

"Jika kamu diterima di kampus ini melalui program undangan, selamat; kamu adalah sedikit dari anak-anak yang sangat beruntung di negeri ini, dan karena itu kamu patut bersyukur. Jika kamu diterima di kampus ini melalui ujian tertulis, selamat; kamu adalah pejuang sejati, dan karena itu kamu patut bangga. Itulah yang membuat kampus ini begitu spesial; dihuni oleh orang-orang cerdas beruntung yang pandai bersyukur dan pejuang-pejuang sejati nan cerdas yang membanggakan. Kampus ini—sampai kapan pun—akan tetap menjadi 'kampus perjuangan'. Itulah kampus kami, Universitas Indonesia." —Fauzan Al-Rasyid (2012)

   Add Friend

24 Mei 2012

Ulasan Buku Kontroversial Irshad Manji

Irshad Manji. Nama ini cukup banyak dibahas di berbagai media dalam negeri terkait kasus pembatalan diskusi bukunya yang menuai kontroversi di sejumlah tempat di Indonesia, beberapa waktu lalu. Wanita asal Kanada ini mendapat desakan dari organisasi masyarakat sehingga peluncuran bukunya, Allah, Liberty, and Love, yang digelar di Salihara, Jakarta Selatan, Jumat 4 Mei 2012, dibubarkan massa ormas yang mengatasnamakan Islam (tentu kamu tahu siapa) dengan salah satu tudingan di dalam bukunya ia menyebarkan gaya hidup gay dan lesbian.

Iya, buku Allah, Liberty, and Love ini dianggap bercerita tentang kaum gay dan lesbian. Saya tidak tahu pasti apakah mereka sudah membaca buku ini atau belum, tapi rasa-rasanya, tudingan ini tidak 100% tepat. Irshad memang seorang lesbian (dia mengakui itu), tapi bukan itulah poin dari bukunya. Banyaknya pro dan kontra terhadap penulis ini tentu membuat saya menjadi sangat penasaran dengan isi buku tersebut, terlebih lagi karena buku itu membahas mengenai umat Muslim, penulisnya berasal dari negara liberal, dan buku tersebut benar-benar banyak mendapat kecaman, tidak hanya di Indonesia, tapi oleh banyak Muslim di seluruh dunia.

Pertama, saya akan mencoba menceritakan sedikit profil Irshad dari sudut pandang saya. Setelah saya membaca Allah, Liberty, and Love in, saya bisa katakan bahwa Irshad adalah seorang perempuan Muslim reformis yang percaya pada nilai-nilai kebebasan. Dia adalah seorang yang (sekali lagi menurut padangan saya) yakin dan berusaha meyakinkan dunia bahwa Islam adalah agama yang sangat mulia, tapi sayangnya kemuliaan agama ini dianggap belum utuh karena adanya kebudayaan yang bercampur ke dalam agama. Oleh karena itulah, ia berusaha "menyadarkan" seluruh umat Muslim di seluruh dunia bahwa ada sesuatu yang perlu "dibenahi". Pemikiran Irshad adalah pemikiran yang liberal; itu jelas, tapi (lagi-lagi menurut padangan saya) tidak ada yang salah dengan itu. Beberapa gaya tulisan Irshad dan cara ia menulis, khususnya pada bagian-bagian yang tekait dengan wanita Muslim, cukup membuat saya yakin bahwa dia juga seorang seminis. Bukan feminis ekstrem, tapi cukup terlihat bahwa ia seorang feminis. Terakhir, dia (memang) seorang lesbian, tapi percayalah, ini bukan poin penting untuk kita melihat atau menilai pemikiran seseorang.

Oke, itu tadi tentang Irshad dalam pandangan saya. Kedua, saya akan mencoba membahas mengenai buku fenomenalnya. Setelah saya membaca bukunya, saya bisa mengatakan bahwa buku itu sama sekali tidak bercerita tentang gay dan lesbian (atau bahkan mengajarkan gaya hidup gay dan lesbian seperti yang dituduhkan ormas-Anda-tahu-siapa). Lagipula kalaupun ada, kita bisa mengatakan bahwa hal itu sama sekali tidak relevan dengan pesan yang ingin dia angkat. Buku Allah, Liberty, and Love sebetulnya mengajarkan mengenai bagaimana umat Muslim bisa mempraktikkan kebebasan dalam kehidupannya. Dalam arti bebas untuk bertanya, bebas untuk mempelajari makna yang tertulis dalam Al-Quran.

Nah, ini dia poinnya: kebebasan berpikir. Jadi, buku ini adalah mengenai "ajakan" bagi umat Muslim untuk berpikir. See, tidak ada yang salah bukan dengan berpikir? Saya tidak mengatakan bahwa saya pro dengan Irshad, karena sejujurnya tidak sedikit pula bagian-bagian yang cukup membuat saya mengangkat alis saya, tapi kenyataannya, tidak sedikit pula bagian yang membuat saya kembali berpikir. Saya akan berusaha (dengan hati-hati) menuliskan beberapa poin atau pesan yang ingin disampaikan oleh Irshad dalam bukunya. Beberapa pesan penting yang kerap ia ulang dalam bukunya, antara lain:
  • seruan ber-ijtihad;
  • keberanian moral;
  • integritas;
  • jalan yang lurus dan “jalan lapang”;
  • individualitas bukan individualisme;
  • muslim kontra-budaya;
  • Islamo-tribalisme;
  • bertanya dan jangan takut bertanya;
  • pentingnya fleksibilitas; dan
  • kehormatan
Saya akan mencoba membahas satu per satu. Pertama, soal ijtihad yang ia angkat. Ijtihad (Arab: اجتهاد) adalah sebuah usaha yang sungguh-sungguh, yang sebenarnya bisa dilaksanakan oleh siapa saja yang sudah berusaha mencari ilmu untuk memutuskan suatu perkara yang tidak dibahas dalam Al-Quran maupun hadis dengan syarat menggunakan akal sehat dan pertimbangan matang. Namun, pada perkembangan selanjutnya, diputuskan bahwa ijtihad sebaiknya hanya dilakukan para ahli agama Islam. Tentunya hal ini ada bagusnya karena jika semua orang ber-ijtihad, bisa saja orang-orang ini tidak benar-benar menggunakan akal sehat dan pertimbangan matang untuk mengambil keputusan, tapi bukan berarti "seorang biasa", katakanlah seperti saya misalnya, benar-benar dilarang ber-ijtihad. Dalam hal ini, Irshad berusaha "menyadarkan" umat Muslim bahwa kita tidak boleh menerima segala suatu keputusan atau perlakuan secara mentah, khususnya hal-hal yang berhubungan dengan perintah agama dan perintah adat/budaya yang mungkin banyak dari kita yang tidak benar-benar paham atau yakin apakah (misalnya) agama benar-benar melarang sesuatu yang secara adat/budaya dilarang?
Ijtihad terkait dengan perjuangan untuk memahami dunia kita dengan menggunakan pikiran. Tentu, ini berimplikasi pada penggunaan kebebasan untuk mengajukan pertanyaan—yang terkadang terasa begitu tidak nyaman. Aku bicara mengenai mengapa kita semua memerlukan ijtihad, baik bagi kaum Muslim maupun non-Muslim. (hlm. xiixiii)
Begitulah menurut Irshad yang meyakini bahwa gagasan ijtihad ini memiliki kapasitas untuk mengubah dunia untuk selamanya. Menurut Irshad, ijtihad adalah tradisi dalam Islam yang mencakup perbedaan pendapat, penalaran, dan penafsiran kembali. Untuk para peserta non-Muslim, ia pun melafalkannya secara hati-hati: ij-tee-had, bukan "jihad".

Hal berikutnya adalah soal keberanian moral. Dalam bukunya, Irshad menulis bahwa Robert F. Kennedy menggambarkan keberanian moral (moral courage) sebagai kesediaan untuk berbicara kebenaran pada pihak kuasa dalam komunitas Anda demi kebaikan yang lebih besar. Keberanian moral memungkinkan masing-masing dari kita untuk menggunakan nurani, menggantikan konsensus dengan individualitas, dan lebih mendekatkan kepada Sang Pencipta melalui pengenalan terhadap diri sendiri.
Bila kau menghargai keberanian moral—berbicara kebenaran pada pihak yang berkuasa dalam komunitasmu demi kebaikan yang lebih besar—maka kau adalah seseorang yang wajib memprioritaskan individualitas di atas pemikiran kelompok. (hlm. 141)
Menurut Irshad, ini artinya, kamu harus mempertimbangkan dampak tindakan, atau tidak-bertindakmu, pada individu-individu yang berjuang membawa perspektif baru pada komunitasnya. Ketika hal ini melibatkan persoalan hidup-mati, tanggung jawabmu pun semakin besar. Sejauh ini, menurut saya, tidak ada yang benar-benar buruk dengan masalah "keberanian moral" ini.

Ketiga, soal integritas. Tadinya saya agak bingung dengan apa yang ia maksud mengenai istilah "integritas" di sini. Namun, setelah saya mencoba memahami, maksudnya adalah saat ketika kamu merasa Tuhan bisa menjadi nuranimu, Penciptamu, atau gabungan keduanya yang sungguh memesona; itulah integritas.
Semakin jelas bagiku, betapa pentingnya keberanian moral bagi siapa saja yang ingin hidup sempurna—integritasnya—baik di dalam tradisi keagamaan maupun di luar agama. (hlm. xx)
Irshad menekankan bahwa Muslim dan non-Muslim, yang hidup di alam demokrasi, harus mengembangkan keberanian untuk memperluas kemerdekaan individu, bukan malah menghambatnya. Karena, tanpa kebebasan untuk berpikir dan berekspresi, tidak mungkin ada integritas—baik dalam diri maupun masyarakat. Kunci ajaran Manji adalah "keberanian moral" ini, kemauan untuk berbicara ketika orang lain ingin membungkam mulutmu.

Berikutnya adalah soal jalan yang lurus dan “jalan lapang”. Irshad menulis bahwa setiap Muslim yang berpikiran reformis harus mengambil risiko untuk menerima reaksi yang tidak menyenangkan demi melapangkan jalan Islam.
Umat Muslim memandang Islam adalah “jalan yang lurus”—aturan hidup yang sederhana dan jelas. Tetapi jalan yang lurus pun bisa berupa “jalan lapang”, yang menghubungkan kita kepada Tuhan yang lebih tinggi daripada keluarga biologis, melampaui komunitas lokal, dan lebih transenden daripada kelompok Muslim internasional. (hlm. 10)
Kemudian Irshad menyebutkan bahwa untuk menuju integritas maka diperlukan jalan yang lurus dan lapang. Seperti yang saya kutip dari halaman 64, caranya adalah:
  1. Mencintai keunikanmu adalah mencintai yang telah menciptakannya, Sang Penciptamu.
  2. Mencintai Penciptamu adalah mencintai ciptaan-Nya yang beragam, yang keutuhannya belum sepenuhnya terwujud.
  3. Mencintai ciptaan-Nya adalah mencintai mereka yang teraniaya dengan membela mereka tanpa menganiaya yang lain sebagai balasan.
Itu dia. Satu Tuhan. Tiga pernyataan. Pilihan hidup yang berkelimpahan. Islam, jalan yang lurus, dengan demikian menjadi suatu jalan lapang untuk menyelaraskan banyak sisi dalam diri kita, begitulah menurut Irshad. Jadi, perlu lebih dari sekedar jalan yang lurus, tapi perlu jalan yang lurus dan sekaligus lapang.

Dalam kutipan di atas, Irshad menyebutkan sesuatu tentang hubungan kepada Tuhan yang lebih tinggi daripada keluarga biologis atau melampaui komunitas lokal. Maksudnya adalah, dalam buku ini Irshad mengungkapkan perasaannya yang terganggu oleh bagaimana Islam dipraktikkan saat ini oleh pengaruh Arab di Islam yang mengambil individualitas perempuan dan memperkenalkan konsep kehormatan perempuan. Di sinilah saya merasa bahwa tulisan Irshad cukup feminis.

Di bawah kode kehormatan Arab, Muslim diajarkan untuk melepaskan individualitas dan menerima takdirnya sebagai harta milik keluarga. Kehidupan kita bukanlah milik kita; kehidupan kita menjadi milik keluarga besar kita—biasanya yang berhubungan darah. Jika kau melanggar batas-batas moral, kau “memalukan” lebih banyak orang selain dirimu sendiri. Begitulah menurut Irshad.
Brian Whitaker, mantan editor Timur Tengah di koran The Guardian, melakukan suatu eksperimen ketika tengah melakukan penelitian untuk bukunya, What’s Really Wrong with the Middle East (Apa yang Sesungguhnya Salah dengan Timur Tengah). Ia memberikan sepuluh pernyataan kritis tentang Timur Tengah kepada orang-orang Arab yang diwawancarai dan meminta mereka untuk memilih mana yang ingin didiskusikan. Menyisihkan yang lainnya, hanya satu pernyataan yang dianggap sebagai persoalan yang paling mendesak—sampai-sampai, Whitaker mengungkapkan, “ketika hendak selesai, saya berkata ke orang-orang itu: ‘Tolong, jangan bicarakan tentang itu lagi. Saya sudah cukup mendengarnya.’” Apakah pernyataan itu? “Keluarga adalah kendala utama dalam mereformasi dunia Arab.” Wawancara Whitaker menegaskan sesuatu yaitu, di dalam masyarakat Arab, keluarga merupakan “mekanisme utama bagi kontrol sosial”—pencengkeram pertama pada individualitas dan pencetak bagi lebih banyak lagi kekangan. Pemimpin politik, Whitaker mengutip seorang sosiolog Suriah, “mencerminkan citra ayah, sementara warga mencerminkan citra anak. (hlm. 99100)
Irshad juga membahas bahwa dalam masyarakat tradisional Arab, dikenal istilah sharaf dan ‘ird. Sharaf merujuk kepada kehormatan keluarga atau masyarakat, sedangkan ‘ird mengacu khusus kepada kehormatan wanita. Dalam kenyataannya, ‘ird menentukan sharaf. Ketika seorang wanita “mencemarkan,” maka ia membawa aib bagi keluarga. Semua anggota keluarga besar akan tercoreng sampai mereka mengambil tindakan drastis pada wanita tersebut. Trad Fayez, seorang pemimpin suku di Yordania, mendukung analogi berikut, “Seorang wanita ibarat pohon Zaitun. Ketika batangnya terkena ulat kayu, maka harus dipotong supaya masyarakat tetap bersih dan murni.”

Menurut para Islamo-tribalis, sebagaimana yang saya kutip pada halaman 161, malu terletak di wanita. Irshad menulis bahwa dibandingkan saudara laki-laki, anak laki-laki, atau pamannya, seorang wanita menanggung beban seluruh reputasi keluarga. Sebagai akibatnya, pria pun terlepas dari kewajiban. Kaum pria dianggap lemah moral sehingga mereka bisa dibebaskan untuk memilih. Karena pengendalian diri pria yang seperti anak-anak, maka tergantung wanita untuk membatasi pilihan pria. Inilah alasan mengapa wanita harus menutupi rambutnya dan terkadang seluruh tubuh mereka. Mereka mengimbangi kekurangan pria yang mengabaikan tuntunan Al-Quran untuk menurunkan pandangan mata mereka di depan wanita. Nah, pemikiran ini jelas saya anggap "cukup berbahaya" dan sangat liberal, juga radikal. Di sini Irshad juga membahas masalah hijab.

Dalam bukunya, Irshad menulis bahwa hijab berasal dari budaya sebelum Islam. Di sini ia menyatakan bahw Al-Quran, di sisi lain, meminta wanita dan pria untuk berpakaian sopan. Mengapa ini tidak bisa diartikan sebagai lengan panjang? Dan jika seorang wanita harus menutup rambutnya, mengapa bukan topi baseball yang dipilihnya? Pertanyaan ini pasti akan membuat "berang" umat Muslim, khususnya mereka yang ber-hijab. Orang-orang sudah pasti akan menuduhnya gila dan tidak membaca Al-Quran dengan seksama.
Kemudian lagi, mengapa ia “harus” menutup rambutnya? Apabila kau sebagai pria khawatir terangsang, mengapa tidak melakukan sebagaimana yang disarankan Al-Quran dan menunduk selama yang dibutuhkan hormonmu? Mengapa kompensasinya harus membebani hanya pada wanita? (hlm. 138)
Oke, kita kembali pada pembahasan Irshad mengenai Islam (yang menurutnya) dipraktikkan saat ini oleh pengaruh Arab di Islam yang mengambil individualitas perempuan. Beberapa contoh pemikirannya telah saya jabarkan di atas. Contoh lainnya, Irshad menulis bahwa seorang calon suami—menurut jurnalis Rana Husseini—menganggap keperawanan sebagai “bukti kepemilikan eksklusif.”
Darah pada selaput dara istrinya yang pecah membuktikan bahwa “‘barang’ benar-benar baru dan istrinya tidak akan mampu membandingkan performanya dengan pria lain.“ Ketika rumor beredar kalau barangnya terlihat bersama pria yang bukan muhrimnya, pemilik wanita itu dapat bertindak kejam bak pembeli yang menyesal. Dia pun bisa membunuhnya. (hlm. 165)
Mungkin, kita yang di Indonesia akan berpikir, "Hah?" atau "Serius?" atau "Ah, mana mungkin sampai membunuh?" Namun, sayangnya, hal ini terjadi, di dunia, di komunitas Islam. Saya pribadi tidak menyangkal bahwa keperawanan menjadi sesuatu yang sangat penting. Namun, di sisi lain, pemikiran Irshad ini, menurut saya, ada benarnya, tapi ada juga tidak benarnya. Saya cukup netral untuk masalah ini. Well, saya sangat menyesali pria-pria di luar sana yang tega membunuh karena istrinya (ternyata) sudah tidak perawan, tapi saya kira keperawanan (di satu sisi) merupakan bukti bahwa wanita tersebut menjaga kehormatan dan harga dirinya dengan baik. Mungkin akan timbul argumen, seperti: bagaimana bila ternyata wanita itu diperkosa, padahal ia seorang wanita baik-baik, hanya saja dia bernasib tidak baik. Maka menjadi sangat tidak adil bukan jika kita "menjatuhkan hukuman" pada si wanita. Ini hal yang rumit, semua orang mungkin punya pendapatnya masing-masing. Hanya saja, saya beranggapan bahwa para pria tidak seharusnya bertindak "main hakim" atau bahkan kasar. Let's say, saya tidak tahu betapa sakit hatinya seorang pria yang tahu bahwa istrinya ternyata tidak lagi perawan, tapi segala halnya seharunya bisa dibicarakan dengan baik. Itu menurut saya.

Namun, sejauh ini bisa kita tangkap bahwa pesan yang Irshad bawa dalam bukunya ini adalah bahwa budaya bukanlah sesuatu yang sakral. Fenomena yang ia tangkap dalam kehidupan umat Muslim saat ini adalah bahwa umat Muslim hidup dalam tradisi dan budaya, yang dibentuk oleh manusia, bukan oleh Tuhan.

Oke, kita tutup sejenak soal wanita. Kita akan beralih pada konsep individualitas, Islamo-tribalisme, dan Muslim kontra-budaya. Tiga hal ini juga sangat sering disebut dalam buku Allah, Liberty, and Love ini. Pertama soal individualitas. Irshad menyebutkan bahwa ada perbedaan antara individualitas dengan individualisme.
Aku berdebat untuk individualitas—bukan individualisme. Individualisme merusak komunitas dengan pernyataan, “Akulah yang penting dan aku tak peduli apakah masyarakat akan mendapat manfaatnya.” Sebaliknya, individualitas menyatakan, “Aku adalah diriku, dan masyarakat tumbuh ketika aku mengekspresikan keunikanku.” Ada perbedaannya. Ada juga paradoksnya: kita memperluas komunitas melalui keberanian untuk mengembangkan individualitas. Jalan Islam yang lapang menciptakan ruang untuk paradoks ini. (hlm. 70)
Menurut Irshad, individualitas merupakan esensi dari kehormatan yang didefinisikan kembali, sesuatu yang mendorong kita semua melakukan apa yang benar meskipun dihakimi oleh mereka yang keliru mengartikan perasaan dengan pemikiran.

Hal berikutnya adalah masalah Islamo-tribalisme. Ini adalah istilah yang baru saya dengar. Berawal dari permasalah pencampuran budaya Arab ke dalam agama Islam, Irshad menganggap bahwa menghilangkan kepicikan budaya bukanlah tantangan bangsa Arab semata, ini adalah tantangan bagi sebagian besar umat Muslim karena budaya kesukuan telah melebur dalam praktik keislaman.
Mustafa Akyol, seorang komentator Muslim Turki, memberi nama peleburan ini “Islamo-tribalisme.” Frasenya sesuai dengan gagasan yang diusulkan kepadaku oleh Eyad Serraj, seorang psikolog terkenal berkebangsaan Palestina, yang karena keterusterangannya mendorong Yasser Arafat memenjarakannya lebih dari sekali. “Islam diturunkan untuk membawa bangsa Arab keluar dari budaya kesukuan,” ujar Dr. Serraj. “Tapi Islam tidak berhasil menaklukkan budaya Arab. Sebaliknya, budaya Arab yang berhasil menaklukkan Islam.” (hlm. 107)
Manji menulis bahwa ada pemutarbalikan dalam istilah Islamo-tribalisme ini: Menurutnya sekarang ini, hanya ada dua tipe Islamofobia. Mereka yang takut Islam karena mereka yakin tafsiran apa pun mengandung kekerasan. Islamofobia ini mengidentikkan Islam sebagai jalan yang sempit. Selain itu, ada juga mereka yang takut dengan jalan Islam yang lapang—jalan yang mengarah pada kebebasan nurani, pikiran, dan ekspresi. Islamofobia ini adalah para Muslim yang tunduk di hadapan budaya kesukuan, takut terhadap Islam sebagai agama yang mentransformasi pribadi.

Para penjaga sensitivitas budaya menggambarkan siapa pun yang mengkritik Muslim sebagai Islamofobia. Tak lama lagi, kita, yang memiliki pertanyaan-pertanyaan tidak nyaman, akan mulai percaya bahwa itulah kita adanya. Sehingga kita pun membungkam diri daripada bertanya lebih banyak lagi.
Bagaimana bisa harapan untuk berdialog menjadikanku seorang Islamofobia? Bukankah aku akan menjaga jarak—karena ketakutan—jika aku mengalami fobia? Tetapi dalam bertanya, janganlah melibatkan emosi. Emosi ini akan membahayakan pendirianmu ketika berada di antara mereka yang merasa gelisah dan merasa kau pun harus gelisah. Maka, jauh lebih mudah adalah melepaskannya mengalir begitu saja. (hlm. 155)
Dalam catatan Irshad, sepanjang masa, mereka yang memiliki sesuatu untuk diraih dalam hidupnya pernah merasa dihantui oleh bagaimana mereka dipersepsikan selama proses pencapaian itu. Tetapi untuk meraih apa pun, kita harus menundukkan suara-suara pengkritik kita dengan uji nalar. Sebagai satu contoh,Marcus Aurelius, sang kaisar Romawi. Aurelius bertanya kepada pengikutnya, “Apakah sesuatu yang jika dipuji akan berubah menjadi lebih baik? Sebaliknya, apakah sebuah zamrud berubah menjadi lebih buruk jika tidak dipuji? Dan bagaimana dengan emas, gading, sekuntum bunga, atau satu tumbuhan kecil?” Irshad menekankan pentingnya bersikap kritis terhadap budaya dan terus bertanya. Menurutnya, Islam tidak akan menjadi lebih buruk hanya karena kita sebagai manusia bersikap kritis mempertanyakan hal-hal yang adalah wajar bagi manusia yang diberikan nikmat akal pikiran.

Nah, menurut Irshad, kita (umat Muslim) tidak boleh menjadi orang-orang Islamo-tribalis, umat Muslim harus menjadi Muslim kontra-budaya. Apa maksudnya? Maksudnya adalah bahwa Muslim harus berhenti mengambil sikap seolah-olah budaya adalah hal yang sakral.
Begitu kita mengakhiri sandiwara itu, kita akan menjadi Muslim “kontra-budaya”—sebuah identitas baru yang mengabadi pada integritas dengan menghadapi budaya yang mencuri Islam dari cinta Tuhan. Aku juga akan menjelaskan bahwa kaum non-Muslim harus menjadi “kontra-budaya” sesuai dengan caranya masing-masing, dengan menolak multikulturalisme ortodoks. Entah memiliki landasan religius atau humanis, tidak ada yang sakral mengenai budaya. (hlm. 93)
Dalam wawancara dengan Kompas.com, Irshad mengatakan bahwa kaum muda diberikan doktrin tanpa diberi kesempatan untuk berdiskusi, untuk bertanya. "Di Indonesia, misalnya, ketika kita masuk ke madrasah-madrasah, yang diajarkan oleh ulama adalah: jangan bertanya, dengarkan perkataan saya dan turuti!" Oleh karena itu, ia menuliskan sebuah buku yang menjelaskan kembali tentang ijtihad, tentang mencari sebuah kebenaran yang tertulis di dalam Al-Quran.

Terkait dengan orang-orang yang kontra dengannya, Irshad mengatakan bahwa orang-orang memiliki hak untuk tidak berpihak kepada dirinya, orang-orang memiliki hak untuk tidak setuju dengan pendapatnya, orang-orang punya hak untuk mempertahankan pendapat mereka sendiri, tetapi orang-orang tidak punya hak untuk melakukan kekerasan terhadap orang lain. Orang-orang tidak punya hak untuk memaksakan kehendak mereka agar diterima semua orang. Islam mengajarkan tentang perdamaian dan bukan kekerasan. Jangan membenci orang lain seolah-olah Anda adalah Tuhan.
Kau akan tahu bahwa aku menekankan apa yang dulunya menjadi nilai positif, pluralistik, dan progresif tentang Islam: ijtihad, sebuah tradisi mengenai berpikir mandiri. Kita, kaum Muslim, dapat menghidupkan itu kembali jika kita peduli—dan berani. Di satu sisi, kau mengatakan bahwa masyarakat “haus akan pengetahuan tentang Muslim.” Di sisi lain, kau berspekulasi bahwa orang-orang akan berhenti membaca begitu mereka selesai membaca bukuku. Jika orang-orang kehausan, maka mengapa mereka memperlakukan bukuku sebagai kesimpulan akhir dalam mempelajari Islam? Kau terlalu berlebihan dalam menilai kekuatanku dan sekaligus terlalu kecil menilai publik. (hlm. 30)
Well, tulisan ini kelihatannya sudah terlalu panjang. Mungkin Anda juga tidak setuju dengan Irshad, atau bisa jadi tidak setuju dengan sikap saya terhadap Irshad? Mungkin ada yang berpikir dengan saya menulis ulasan ini membuat saya terlihat sama liberalnya dengan Irshad? Well, who knows? Apa yang bisa saya katakan? Saya pun bukan seorang ahli agama, tapi saya setuju dengan Irshad pada beberapa hal, seperti untuk mendayagunakan kemampuan akal pikiran kita. Tidak ada yang salah dengan berpikir kritis, termasuk mengenai Islam. Mungkin banyak dari kita mengambil Islam sebagai sesuatu yang taken for granted, atau menerima begitu saja. Bukankah lebih baik jika kita benar-benar mengenal agama kita dengan baik? Dan untuk itu, bertanya (kritis) dan berpikir (kritis) bukanlah sesuatu yang terlarang. Dan buku Irshad ini (seperti kata Irshad), saya yakin, tidak akan menjadi kesimpulan akhir kita dalam mempelajari Islam. Jadi, saya rasa, kita tidak perlu terlalu bersikap "merasa paling benar", apalagi jika belum membaca bukunya sama sekali. Tidak ada orang yang berhak mencap seseorang tidak lebih beragama atau tidak lebih Islami dari orang lain.

Hal penting lainnya yang juga saya perhatikan adalah bahwa dalam buku Allah, Liberty, and Love ini kita akan melihat bahwa ada sisi lain kehidupan umat Muslim di luar sana. Mungkin kita di Indonesia cukup beruntung. Saya pribadi merasa sangat bersyukur terlahir sebagai Muslim di Indonesia. Walaupun tentu ada beberapa hal yang saya kira tidak masuk akal terkait dengan pencampuran adat dan agama (Islam), tapi saya tetap merasa sangat bersyukur. Jika Anda membaca buku ini, mungkin Anda bisa melihat bahwa di luar sana tidak sedikit pula umat Muslim yang setuju dengan pemikiran Irshad. Dan memang banyak juga yang "mengutuknya". Beberapa orang yang setuju menceritakan pengalamannya yang saya rasa sangat miris mengetahui bahwa itu terjadi di umat Islam, dan hal ini mungkin (seharusnya) bisa membuat kita lebih berpikir bahwa ada hal-hal yang tidak sama dengan apa yang kita rasakan di tempat kita, dan hal itu membuat orang lain tidak berpikir seperti kita, dan itu tidak masalah.

Ah, tapi lagi-lagi, saya juga bukan ahli agama, saya pun tidak berhak mengatakan bahwa apa yang dikatakan Irshad banyak benarnya di satu sisi, sementara beberapa penjelasan lainnya juga sangat mengkhawatirkan. Penjelasan Irshad soal "ayat-ayat setan" (halaman 89) yang tampaknya ia "mengiyakan" tulisan kontroversial Salman Rushdie, The Satanic Verses (Ayat-ayat Setan), jelas saya tidak setuju. Dan tampaknya yang membuat Irshad ditolak di Indonesia, khususnya, karena ia sepertinya setuju dengan isi tulisan itu. Selain itu, penjelasannya di Bab V mengenai bagaimana seharusnya umat Muslim bersikap saat munculnya kartun/karikatur penghinaan Nabi Muhammad di Denmark beberapa tahun silam—itu juga saya sangat tidak sepakat dengan pendeskripsian Irshad atas apa yang seharusnya umat Muslim lakukan untuk menyikapinya.

Namun, jika Anda tidak mau ambil pusing, ini adalah buku yang berisi pemikiran seseorang. Jika Anda tidak suka, tidak perlu dilanjutkan membaca. Namun, jika Anda belum membaca maka Anda tidak berhak menghakimi seseorang dan bahkan membawa-bawa orientasi seksualnya. Saya bukan seorang yang pro-LGBT, tapi saya rasa tetap tidak etis rasanya menuduh seseorang dengan membawa-bawa orientasi seksualnya. Ya, akhir kata: wallahu a'lam bish shawab.

Oh ya, jika ada yang mau membaca buku Allah, Liberty, and Love in, saya punya eBook-nya. Saya dapat dari seorang teman. Jika berminat, silakan hubungi saya.

   Add Friend

21 Mei 2012

Mengenang Hari Kebangkitan Nasional

Negara kita baru-baru ini memperingati suatu hari yang (sebenarnya) istimewa. Entah berapa banyak yang sadar atau mungkin lebih tepatnya, entah berapa banyak kepala di negeri iniyang mengaku sebagai WNIyang paham betul dengan makna hari istimewa itu. Saya pun jadi bertanya-tanya, apakah saya termasuk yang tidak memahami makna hari yang selalu diperingati setiap tanggal 20 Mei itu? Hari itu, seperti layaknya tanggal 20 Mei di tiap tahun di negeri ini, kita merayakan hari yang kita kenal dengan Hari Kebangkitan Nasional. Pertanyaannya: seberapa pentingkah kita (hingga saat ini) masih memperingati hari bersejarah tersebut? Dalam arti, masih adakah relevansinya antara memperingati (bahkan dengan sepenuh hati) dengan masa depan bangsa ini? Ini sih cuma pertanyaan bodoh saja, atau ya... sebut saja sok kritis. Well, suka-tidak suka, kadang penemuan-penemuan besar di dunia ini diawali dengan pertanyaan yang (terkesan) "bodoh".

Sejujurnya, dari lubuk hati saya yang paling dalam, saya sudah muak dengan negeri ini. Iya, muak. Masa sih Anda tidak merasa muak dengan negeri yang terkadang harapan itu lebih tipis daripada keadaan dompet Anda di tanggal-tanggal tua? Otak saya sering kali berusaha menyangkal dan meyakinkan hati ini bahwa "Enggak loh, masih ada harapan". Namun, kemudian hati ini membuat keraguan dengan mengatakan, "Oh, come on? Are you serious? Harapan yang mana? Harapan hanya untuk mereka (para penguasa); harapan pribadi mereka. Rakyat tidak punya harapan." Kita punya mimpi, tapi tidak punya harapan. Lantas, untuk apa?

Mimpi bangsa inisaya rasasudah semakin lenyap. Mimpi anak bangsa sudah "dirampas" oleh kezaliman para penguasa. See, bukan uang kita saja yang "dirampas", tapi mimpi akan kehidupan yang lebih baik; Indonesia yang lebih baik, juga "dirampas". Saya rasa kita semua diajarkan untuk bermimpi setinggi mungkin sewaktu kita masih anak-anak. Nah, sekarang bayangkan jika mimpi-mimpi itu terbentur dan terhalang oleh (misalnya) awan gelap nan tebal yang berisi keegoisan dan ketamakan para pemimpin negeri ini. Apa masih ada lagi mimpi yang terbang setinggi bintang? Apa masih bisa ada harapan?

Nah, sekarang, masih pentingkah kita memperingati Hari Kebangkitan Nasional? Sementara bangsa ini tidak lagi bangkit. Bangsa ini terpuruk Saudara-saudara! Itu kenyataan; terima itu. Siapa yang bangkit? Pemilik modal? "Wakil rakyat" di gedung DPR? Politisi yang "mengaku" penyambung lidah rakyat? Pemerintah dengan segala fasilitas dinas yang berasal dari uang rakyat? Investor asing? Ya, kesejahteraan mereka tentu semakin bangkit. Bagaimana dengan anak bangsa? Bagaimana dengan anak-anak yang (katanya) masa depan bangsa, sementara pendidikan dijadikan komoditas atau "barang dagangan" segelintir orang. Cita-citanya mau mencerdaskan kehidupan bangsa atau kehidupan kelompok tertentu? Mencerdaskan kehidupan bangsa kan? Lantas, mengapa masih ada anak-anak negeri ini yang tidak bisa sekolah? Mengapa masih ada anak-anak yang harus "menantang maut" menelusuri jalan ke sekolahnya? Mengapa masih ada anak-anak yang harus sekolah beratapkan genteng-genteng berlubang? Mengapa masih ada anak-anak yang bahkan harus ragu untuk bersekolah jika bersekolah itu sejatinya menjadi kebutuhan?

Mungkin kita perlu diingatkan bahwa alasan tanggal 20 Mei disebut sebagai Hari Kebangkitan Nasional adalah karena 104 tahun silam, bertempat di salah satu ruang belajar di STOVIAberasal dari gagasan dr. Wahidin Sudirohusudodr. Sutomo dan kawan-kawannya: M. Soeradji, M. Soewarno, M. Goenawan, Soewarno, R.M. Goembrek, dan R. Angka mendirikan organisasi kepemudaan yang mereka beri nama Boedi Oetomo. Boedi Oetomo dianggap sebagai organisasi massa pertama di Indonesia―meskipun ada perdebatan untuk itu. Namun, dapat disepakati bahwa tonggak Kebangkitan Nasional adalah pada masa  bangkitnya rasa dan semangat persatuan, kesatuan, nasionalisme, serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan republik ini.

Poinnya adalah, bangsa ini "dibangkitkan" oleh orang-orang terpelajar. Mereka yang berhasil mengenyam pendidikanlah yang bisa berpikir bahwa ada yang salah dengan perjuangan kemerdekaan negeri ini hampir selama 300 tahun sebelumnyajalan peperangan. Tidakkah ini membuktikan bahwa pendidikan menjadi aspek yang sangat penting dalam "membangkitkan" bangsa ini? Namun, rasa-rasanya situasi kini di Indonesia menjadi tidak jauh berbeda dari masa penjajahan Belanda. Belanda memang sengaja "membodohi" rakyat Indonesia. Pengajaran sangat kurang, bahkan setelah menjajah selama 250 tahun tepatnya, pada 1850, Belanda baru mulai memberikan anggaran untuk anak-anak Indonesia, itu pun sangat kecil. Selain itu, pendidikan yang disediakan pun tidak banyak, bahkan pengajaran tersebut hanya ditujukan untuk menciptakan tenaga yang bisa baca-tulis dan untuk keperluan perusahaan saja. See, lantas apa bedanya dengan sekarang? Ya, kita saat ini kita tidak hidup di tengah "tekanan nyata" penjajah saja. Faktanya, kita terjajah oleh negeri kita sendiri. How come? Sebut saja, pemimpin-pemimpin bangsa ini sudah terlalu pandir, bahkan untuk sekedar belajar dari sejarah bangsanya.

Sekarang, apa yang perlu diperingati tiap tanggal 20 Mei? Bagaimana kalau kita mengganti istilah "memperingati" menjadi "mengenang" Hari Kebangkitan Nasional? Kita hanya bisa mengenang momen 104 tahun lalu itu. Kita tidak bisa "memperingati" karena kita tidak benar-benar merasa manfaat nyata momen bersejarah itu seutuhnya hingga hari ini. Apakah ini ungkapan seorang pesimis? Saya rasa, saya bukan seorang pesimis, hanya saja keadaan kita, negeri kita ini, sangat berat saat ini. Kita tidak bisa mengatakan bahwa: tantangan Indonesia sangat berat saat ini. Salah! Akuilah, kita (memang) tidak pernah benar-benar berhasil menyelesaikan tantangan-demi-tantangan, dan justru membuat berbagai masalah baru dan itu tidak menyelesaikan tantangan yang lama.

Well, inilah negeri kacau-balau. Saking kacau-balaunya, saya tidak sanggup mendeskripsikan kekacauan-demi-kekacauan di negeri. Ah, tapi sudahlah, tidak ada gunanya jutaan tulisan seperti ini jika tidak ada langkah nyata untuk memperbaiki. Well, ini hanya ungkapan hati saya saja. Saya mencintai negeri ini, tapi memang saya sudah semakin muak. Kadang saya ingin (sangat ingin) menjadi warga negara lain. Kadang saya bertanya, kenapa saya terlahir sebagai orang Indonesia? Ya... mungkin... mungkin Tuhan mau saya memperbaiki negeri ini. Jadi, jika Anda (iseng-iseng) bertanya kepada diri Anda, kenapa Anda terlahir sebagai orang Indonesia? Atau parahnya, jika Anda (sampai) bertanya, dosa apa yang telah orang-orang sebelum Anda perbuat hingga Anda harus menanggung dan terlahir sebagai orang Indonesia, mungkin karena Tuhan mau Anda memperbaiki negeri ini. Mungkin bukan jawaban terbaik, tapi coba kita pikirkan lagi, tidakkah sangat luar biasa jika Tuhan Yang Maha Kuasa mengamanatkan sebuah tugas muliamemperbaiki negeri inikepada kita? Ini bukan tugas-sembarang-tugas, ini tugas mulia, dan tidak ada yang bilang bahwa tugas mulia selalu menyenangkan dan tidak ada yang bilang bahwa tugas mulia selalu mudah.

Republik inisebenci dan semuak apa pun kitamembutuhkan bantuan kita semua. Negara ini sakit parah, mungkin stadium V atau bahkan mungkin hampir "mati"; nyaris tidak ada harapan. Negara ini penuh dengan orang "sakit". Nah, jika kita merasa negeri ini perlu perubahan dan itu lebih dari sekedar kata-kata, berarti kita termasuk yang "sehat". Bersyukurlah jika kita "sehat", tapi itu berarti kita wajib menyembuhkan yang sakit. Untuk menyembuhkan penyakit yang mengakar ini jelas tidak mudah, bahkan kita bisa saja tertular dan ikut sakit sampai akhirnya mungkin benar-benar tidak ada harapan. We will live in a hopeless place, dan itu situasi yang sangat buruk. Tidak ingin keadaan seperti itu terjadi? Ayo bergerak! Tunjukkan kalau kita mencintai Indonesia lebih dari sekedar berteriak nama Indonesia saat membela Timnas atau Garuda Muda, atau bahkan Taufik Hidayat. Indonesia perlu lebih dari itu. Ayo bergerak! Bagi kita yang (merasa) terpelajar, bagi kita yang (merasa) berhasil sekolah tinggi, menyandang gelar, lihatlah banyak anak negeri ini yang seharusnya mendapat pendidikan, tapi mereka tidak bisa. Bantulah mereka... sedikit hal (yang kita anggap) kecil bisa berpengaruh besar. Sedikit hal (yang kita anggap) kecil bisa menginspirasi ribuan orang lain. Ini tidak mudah, tapi saya yakin dr. Sutomo dan kawan-kawannya dulu pun tidak pernah menganggap membuat Boedi Oetomo dan membuat perubahan bagi pergerakan perlawanan terhadap penjajah adalah hal mudah, tapi mereka berhasil.

Jadi, mari lakukan yang terbaik untuk negeri ini. Jika Anda merasa jengah sebagai orang Indonesia, ingatlah bahwa Anda terlahir sebagai orang Indonesia karena Tuhan percaya Anda bisa berbuat sesuatu untuk negeri ini, dan bukan orang lain. Namun, sementara negeri ini berada dalam "masa perbaikan", saya lebih senang untuk "mengenang" tanggal 20 Mei, bukannya "memperingati". Ketika kita mengenang maka akan timbul perasaan yang berbeda dari sekedar memperingati. Jika kita pernah berjaya pada suatu masa dan kini tidak lagi, maka kenanglah masa kejayaan itu dan tanyakan pada diri kita, tidakkah kita ingin kembali merasakan manisnya masa-masa kejayaan itu? Jika iya, mari kita berubah dan ya... "Mari Bung rebut kembali!"

   Add Friend

03 Mei 2012

50 Pelafalan Kata Bahasa Inggris yang Harus Dihindari

Kadang, oke, sering kali tepatnya, saya merasa "geregetan" atau gemes dengan orang-orang yang dengan PD-nya menyisipkan kata-kata bahasa Inggris dalam pembicaraannya, tapi salah. Entah salah ucap atau salah konteks; entah mereka yang memang tidak paham betul atau entah bagaimana, saya tidak yakin. Hanya saja, sepertinya orang kita agak malas untuk mengoreksi diri sendiri, dalam kaitannya dengan salah pengucapan kata-kata berbahasa Inggris ini maksudnya. Padahal, salah ucap kata-kata asing jelas tidak membuat si pembicara terlihat "modern" (jika ia berpikir demikian), justru kebalikannya. Well, dia mungkin beruntung jika audience-nya tidak begitu paham dengan bahasa Inggris, tapi akan tampak konyol jika dia berbicara (dan salah) di depan orang-orang yang memang paham dan fasih berbahasa Inggris.

Berikut ini adalah 50 kata yang sering kali salah ucap atau mispronounced. Daftar ini bukan yang oaling lengkap, tetapi setidaknya bisa menjadi awalan yang baik. Kata-kata ini saya dapat dari Daily Writing Tips dan merupakan perspektif cara berbicara bahasa Inggris ala orang Amerika. Berikut ini adalah kata-kata tersebut:
  1. aegis – Huruf ae pada kata ini dibaca /ee/. Jadi, harus dieja /EE-JIS/, bukan /ay-jis/. Dalam mitologi Yunani, “aegis” diasosiasikan khususnya dengan Dewi Athena. Aegis (pelindung/perisai) adalah perisai Athena dengan kepala Gorgon di depannya.

  2. anyway – Masalah dengan kata ini biasanya karena orang-orang sering kali menambahkan akhiran yang tidak perlu. Jangan menambahkan bunyi huruf "s" sehingga membuat kata ini menjadi “anyways.” Yang benar adalah ANYWAY.

  3. archipelago – Karena kata ini berasal dari bahasa Yunani, ch harus dieja dengan huruf /k/. Jadi, ucapkan /AR-KI-PEL-A-GO/, bukan /arch-i-pel-a-go/.

  4. arctic – Perhatikan huruf C setelah huruf R. Katakan /ARK-TIK/, bukan /ar-tik/.

  5. accessory – Huruf C yang pertama dibunyikan dengan bunyi /k/ yang kuat . Ucapkan /AK-SESS-OR-Y/, bukan /ass-ess-or-y/.

  6. ask – Huruf S muncul sebelum huruf K. Ucapkan /ASK/ bukan /aks/.

  7. asterisk – Perhatikan huruf S yang kedua. Ucapkan /AS-TER-ISK/, bukan /as-ter-ik/.

  8. athlete – Kata ini terdiri atas dua suku kata, bukan tiga. Katakan /ATH-LETE/, bukan /ath-uh-lete/.

  9. barbed wire – Perhatikan AR pada suku kata pertama. Katakan /BARBD/, bukan /bob/.

  10. cache – Kata ini berasal dari bahasa Perancis, tapi tidak diakhiri dengan huruf E beraksen. Cache adalah tempat persembunyian atau sesuatu yang disembunyikan: a cache of supplies; a cache of money; a cache of drugs. Katakan /KASH/, bukan /ka-shay/.

  11. candidate – Perhatikan huruf D yang pertama. Katakan /KAN-DI-DATE/, bukan /kan-i-date/.

  12. cavalry – Kata ini mengacu pada tentara atau prajurit berkuda. Katakan /KAV-UL-RY/, bukan /kal-vuh-ry/. Catatan: Calvary (bukan cavalry) mengacu pada tempat di mana Yesus disalib dan kata itu diucapkan /kal-vuh-ry/.

  13. chaos – Pengucapan CH bisa diucapkan dengan tiga cara berbeda dalam bahasa Inggris: /tch/ seperti di kata church, /k/ seperti di kata Christmas, dan /sh/ seperti di kata chef. Bunyi kata yang pertama adalah bunyi asli dalam bahasa Inggris dan yang paling lazim. Bunyi kedua CH, /k/, berasald dari bahasa Yunani, sedangkan bunyi yang ketiga dan yang tidak begitu lazim dari ketiga bunyi CH diadopsi dari bahasa Perancis modern. Chaos adalah kata dari bahasa Yunani. Katakan /KAY-OS/, bukan /tchay-os/.

  14. clothes – Perhatikan bunyi dan pengucapan TH. Katakan /KLOTHZ/, bukan /kloz/.

  15. daïsDaïs adalah mimbar. Pengucapan yang salah biasanya terjadi dengan membalikkan suara vokal. Kata ini sering kali salah eja dan salah ucap. Katakan /DAY-IS/ bukan /dī-is/.

  16. dilate – Kata ini memiliki dau suku kata, bukan tiga. Katakan /DI-LATE/, bukan /di-a-late/.

  17. drowned – Kata ini merupakan bentuk past participle dari kata kerja drown. Perhatikan bahwa tidak ada huruf D pada kata drown. Jangan tambahkan satu pun bunyi D ketika menggunakan kata ini dalam bentuk lampau. Katakan /DROWND/, bukan /drown-ded/.

  18. et cetera – Istilah Latin ini seringkali salah eja dan singkatannya pun sering kali salah ucap dan salah tulis. Katakan /ET CET-ER-A/, bukan /ex cet-er-a/. Untuk singkatannya tulislah ETC., bukan ect.

  19. February – Banyak orang yang membuang huruf R pertama dalam kata February. Pengucapan yang benar adalah /FEB-ROO-AR-Y/, bukan /feb-u-ar-y/.

  20. foliage – Kata ini terdiri atas tiga suku kata. Katakan /FO-LI-UJ/, bukan /fol-uj/.

  21. forte – Bahasa Inggris memiliki dua kata yang dieja dengan cara ini. Yang satu berasal dari bahasa Italia dan yang lainnya berasal dari bahasa Perancis. Kata forte yang berasal dari bahasa Italia dan merupakan istilah musik yang berarti lantang (loud) dieja dengan dua suku kata: /FOR-TAY/. Sementara forte yang berasal dari bahasa Perancis adalah sebuah kata sifat yang berarti kuat atau titik kekuatan dan diucapkan dengan satu suku kata: /FORT/.

  22. Halloween – Kata yang digunakan untuk menggambarkan perayaan orang Amerika setiap tanggal 31 Oktober ini berasal dari frase “Hallowed Evening,” yang berarti “malam yang telah disucikan.” Kata “hallow” berasal dari Inggris Kuno halig, yang berarti holy, suci. Perhatikan huruf A pada suku kata pertama katakan /HAL-O-WEEN/, bukan /hol-lo-ween/.

  23. height – Kata ini diakhiri dengan bunyi huruf /T/, bukan /TH/. Jadi, katakan /HITE/, bukan /hith/.

  24. heinous – Orang-orang yang tidak akrab dengan acara TV Law and Order: S.V.U. mungkin tidak tahu bahwa kata heinous terdiri atas dua suku kata. Acara ini dimulai dengan kalimat: “In the criminal justice system, sexually based offenses are considered especially heinous.” Katakan /HAY-NUS/, bukan /heen-i-us/.

  25. hierarchy – Kata ini terdiri atas empat suku kata. Katakan /HI-ER-AR-KY,/ bukan /hi-ar-ky/.

  26. Illinois – Sama halnya dengan Arkansas, huruf “s” terakhir di kata Illinois tidak diucapkan. Katakan /IL-I-NOY/ bukan /il-li-noiz/ (dan ejaan yang benar untuk Arkansas adalah /Ar-kan-saw/, bukan /ar-kan-sas/). Catatan: Beberapa orang ada yang mengucapkan Arkansas dengan /ar-kan-zuz/ seolah-olah Arkansas berhubungan dengan Kansas, padahal tidak sama sekali. 

  27. interpret – Kata ini memiliki tiga suku kata, dan jangan tambahkan satu suku kata lainnya. Katakan /IN-TER-PRET/, bukan /in-ter-pre-tate/.

  28. incident – Suatu kejadian yang terjadi dan direncanakan adalah “incident” (kejadian yang tidak direncanakan/tidak disengaja adalah “accident”). Jangan katakan “incidence” ketika Anda mengacu pada suatu kejadian tertentu. Memang benar ada kata “incidence,” tapi artinya berbeda.

  29. “irregardless” – Lihat kata, regardless.

  30. jewelry – Kata ini memiliki tiga suku kata. Katakan /JEW-EL-RY/, bukan /jew-el-er-y/. Pengucapan /jewl-ry/ memang lazim, tapi tidak tepat karena ejaan tersebut menghilangkan satu suku katanya. 

  31. library – Perhatikan di mana letak huruf R pada kata ini. Katakan /LI-BRAR-Y/, bukan /li-ber-ry/.

  32. medieval – Kata ini memiliki empat suku kata. Huruf E yang pertama bisa diucapkan baik secara singkat [med] maupun panjang [meed]. Katakan /MED-EE-EEVAL/ atau /MEE-DEE-EEVAL/, bukan /meed-eval/.

  33. miniature – Kata ini memiliki empat suku kata. Katakan /MIN-I-A-TURE/, not /min-a-ture/.

  34. Mischievous – Kata ini merupakan bentuk kata sifat dari kata mischief yang berarti bencana atau bahaya. Mischievous kini dikaitkan dengan kesenangan yang tidak berbahaya (harmless fun) sehingga ungkapan “malicious mischief” atau kenakalan yang berbahaya diciptakan untuk istilah lain dari vandalisme. Mischievous memiliki tiga suku kata dengan aksen atau penekanan pada suku kata pertamanya: /MIS-CHI-VUS/. Jangan katakan /mis-chee-vee-us/.

  35. niche – Kata ini berasal dari bahasa Perancis dan – walaupun banyak kata asli bahasa Perancis telah diserap ke dalam bahasa Inggris untuk penggunaan standar – kata yang satu ini membawa bunyi E yang panjang dan bunyi /SH/ untuk CHE. Katakan /NEESH/, bukan /nitch/.

  36. orient – Kata ini memiliki tiga suku kata. Sebagai kata kerja, kata ini berarti menempatkan sesuatu pada posisi yang tepat dalam kaitannya dengan sesuatu yang lain. Kata ini berasal dari kata yang berarti "timur" dan aslinya berarti menempatkan sesuatu yang mengarah ke timur. Sekarang kata ini digunakan dengan makna yang lebih umum. Katakan /OR-I-ENT/, bukan /or-i-en-tate/.

  37. old-fashioned – Kata sifat ini dibentuk dari past participle: “fashioned.” Jangan buang huruf ED, dan katakan /OLD-FASHIOND/, bukan /old-fashion/.

  38. picture – Ada bunyi huruf K pada kata "picture". Jangan mencampur kata "picture" dengan kata "pitcher". Katakan /PIK-TURE/, bukan /pitch-er/. Pitcher adalah kata yang berbeda.

  39. precipitation – Ini adalah kata benda yang mengacu pada hujan atau salju, atau apa pun yang secara normal jatuh dari angkasa. Sama halnya dengan "prescription" (di bawah), awalan PRE-. Katakan /PRE-CIP-I-TA-TION/, bukan /per-cip–i-ta-tion/.

  40. prescription – Perhatikan awalan PRE- pada kata ini. Katakan /PRE-SCRIP-TION/, bukan /per- scrip-tion/ or /pro-scrip-tion/.

  41. preventive – Kata ini memiliki tiga suku kata. Kesalahan yang biasa terjadi ketika menambahkan satu suku kata lainnya. Katakan PRE-VEN-TIVE/, bukan /pre-ven-ta-tive.

  42. pronunciation – Kata ini adalah kata benda. Kata ini berasal dari kata kerja pronounce, tapi kata ini tidak dilafalkan sebagaimana kata kerjanya. Katakan /PRO-NUN-CI-A-TION/, bukan /pro-nounce-i-a-tion/.

  43. prostate – Kata yang mendeskripsikan kelenjar laki-laki ini sering kali salah dilafalkan. Memang ada kata sifat "prostrate" yang berarti berbaring telungkup. Namun, ketika mengacu pada kelenjar, katakan /PROS-TATE/, bukan /pros-trate/.

  44. Realtor – Kata ini memiliki tiga suku kata. Katakan /RE-AL-TOR/, bukan /re-a-la-tor/.

  45. regardless – Kata ini memiliki tiga suku kata. Tolong jangan tambahkan IR dan membuat kata ini terasa sangat tidak enak didengar “irregardless”.

  46. sherbet – Kata ini hanya memiliki satu huruf R. Katakan /SHER-BET/ bukan /sher-bert/.

  47. spayed – Kata yang hanya memiliki satu suku kata ini merupakan bentuk past participle dari kata kerja to spay, yang berarti memandulkan (hewan). Seperti kata kerja drown (di atas) kata kerja spay tidak memiliki huruf D di bentuk infinitive-nya. Jadi, jangan tambahkan huruf D pada bentuk past participle-nya. Katakan /SPADE/, bukan /spay-ded/.

  48. ticklish – Kata ini terdiri atas dua suku kata. Katakan /TIK-LISH/, bukan /tik-i-lish/.

  49. tract – Para rohaniawan (penginjil) sering kali mencatat firman Tuhan dalam sebuah risalah yang disebut “tracts.” Itu merupakan salah satu jenis “tract.” Rumah juga dibangun di atas sebuah “tracts” (bidang/daerah). Kemudian, ada pula kata “track.” Para atlet berlari di sebuah “tracks” (jalur/lintasan). Hewan-hewan juga meninggalkan “tracks” (jejak). Jadi, jangan katakan /TRAKT/ ketika Anda mengacu pada /TRAK/, dan sebaliknya.

  50. vehicle – Meskipun ada huruf H dalam kata ini, mengucapkannya agak menipu. Katakan /VEE-IKL/, bukan /vee-Hikl/.

  51. wintry – Ini juga kata lainnya yang sering salah ucap, bahkan oleh orang-orang pembaca ramalan cuaca. Kata ini memiliki dua suku kata. Katakan /WIN-TRY/, bukan /win-ter-y/.
Sekarang, mari kita coba apakah Anda berhasil membaca kalimat-kalimat di bawah ini dengan tepat? Perhatikan kata-kata bewarna merah yang dicetak tebal. Oke, selamat mencoba dan berlatih!
Anyway, do you ask about the candidate? She served in the cavalry in the Arctic one February. This is the way I interpret her old-fashioned niche in America. Being an athlete, clothes were not her forte. Irregardless, Halloween was an especially heinous time for her. She thrived on the chaos of the day and eschewed the beautiful foliage of the season. She was very mischievous and could orient herself in a manner that played to the height of medieval acts. In Illinois, where she was born, barbed wire is not uncommon. Often, Realtors use it as a preventative to protect tracts of land. They were somewhat ticklish that a vehicle might have an incident and a person could end up drowned in a miniature lake, more commonly know as a pond, fishing hole, watering hole, et cetera. Regardless, the candidate did not have the aegis to prevent a prescription for disaster. She needed a man. Someone who would serve as an asterisk to her legend. An accessory. The man she had her eye on had prostate problems, so sex wasn’t an issue. It was like he had been spayed. She had spotted him from the daïs during the presentation of the Sherbet Cache Award, a lovely jewelry piece. (The Sherbet Cache Award was her’s alone. Long days at the library, studying the hierarchy of precipitation melt, her eyes would dilate as she tried to picture where the best snow drift would accumulate and secure the sherbet until spring).

02 Mei 2012

"Cannot" atau "Can Not"?

Adakah perbedaan antara cannot dan can not? Dalam ilmu komunikasi dikenal sebuah kutipan yang sangat lazim dari Paul Watzlawick, yaitu "We cannot not communicate". Artinya. kita tidak bisa (tidak mungkin) tidak berkomunikasi. Suatu hari saya pernah bertanya-tanya (pada diri saya), apakah mungkin kutipan tersebut ditulis: we can not not communicate? Karena do dan not ditulis terpisah menjadi do not, begitu juga will dan not menjadi will not, bukannya "willnot".

Ternyata, setelah saya coba cari dari berbagai referensi, baik kata can not maupun cannot dapat diterima. Merriam-Webster menuliskan kata cannot dalam satu kata. Namun, jika Anda mencoba mencari kata "can not" dalam kamus online, Anda akan langsung diarahkan ke kata cannot.

Menurut OED, cannot adalah:
the ordinary modern way of writing can not
Ilustrasi sejarah yang dijelaskan dalam OED juga menunjukkan bahwa cannot, can not, atau bahkan canot adalah kepanjangan dari can't.
?a1400 Cursor M. (add. to Cott.) p. 959. 105 And ou at he deed fore cannot sorus be. 1451 Paston Lett. 140 I. 186 Other tydyngs as yett can I non tell you. Ibid. 172 I. 229 Whethir it be thus or non I can not say. 15.. Plumpton Corr. 72, I canot get my money. 1706 Col. Records Penn. II. 256 The House cant agree to this. 1741 RICHARDSON Pamela I. 56 If he..as you say can’t help it. 1742 YOUNG Nt. Th. I. 89 An angel’s arm can’t snatch me from the grave; Legions of angels can’t confine me there. 1827 KEBLE Chr. Y. 4 Without Thee I cannot live. Mod. Can’t you go?
Namun, seorang ahli dari AskOxford tampaknya lebih memilih cannot. Sebenarnya baik cannot maupun can not, secara ejaan, keduanya dapat diterima, tapi cannot jauh lebih lazim digunakan. Kita bisa menggunakan can not ketika kata "not" merupakan bagian dari konstruksi lain, seperti "not only".

Di situs The Washington State University Language dikatakan:
These two spellings [cannot/can not] are largely interchangeable, but by far the most common is “cannot” and you should probably use it except when you want to be emphatic: “No, you can not wash the dog in the Maytag.”
Ada beberapa pendapat yang mengatakan bahwa penggunaan can not bisa digunakan untuk membuat sebuah penekanan, seperti misalnya pada saat berargumen: “You can not be serious!” dan “You cannot be serious!”. Penggunaan can not dianggap lebih menekankan maksud si pembicara; terkesan lebih kuat.

Ada pula yang menganggap bahwa baik cannot maupun can not bukanlah sekedar masalah penekanan. Beberapa orang, khususnya dalam bidang-bidang tertentu seperti filsafat, menggunakan kedua kata tersebut untuk menggabarkan keadaan yang berbeda, seperti:
  •  I cannot eat means I am not able to eat
  •  I can not eat means I am able not to eat 
Namun, pada dasarnya keduanya sama dan tidak salah. Saya pribadi menganggapnya apakah kita menggunakan baik cannot maupun can not secara tepat sehingga tidak membuat makna yang ambigu.

Menulis Kode HTML dalam Artikel

Sebelum post ini saya untuk pertama kalinya membuat artikel yang di dalamnya terdapat HTML script. Dan sangat mengejutkan karena ternyata HTML script itu tidak bisa dimasukkan atau lebih tepatnya tidak mau muncul ketika artikel dipublikasikan. Jadi, kode-kode yang ditulis tersebut muncul sebagai sebuah kode yang sudah diterjemahkan dalam bentuk HTML sehingga kodenya tidak terlihat dalam artikel tersebut. Well, saya yakin hal ini banyak dialami oleh para blogger yang baru mencoba membuat artikel-artikel yang memuat kode HTML di dalamnya.

Jadi, seperti pada artikel sebelum ini saya ingin menuliskan kode: <body oncontextmenu='return false;' onkeydown='return false;' onmousedown='return false;'> maka saya tidak bisa menulisnya begitu saja. Pada editor teks blog Anda, Anda harus menuliskannya dengan: &lt;body oncontextmenu='return false;' onkeydown='return false;' onmousedown='return false;'&gt;. Jadi, kode-kode HTML, seperti tanda (< ... >), (" ... "), dan (&) langsung di-encode atau diterjemahkan ke kode lainnya yang dimengerti teks editor. Kode-kode HTML yang harus diganti adalah:
Karakter
Notasi
Keterangan
&lt;
kurung runcing terbuka
&gt;
kurung runcing tertutup
&
&amp;
tanda dan
"
&quot;
tanda kutip ganda
±
&plusmn;
tanda plus minus
spasi
&nbsp;
tanda spasi
©
&copy;
tanda hak cipta (Copyright)
®
&reg;
Tanda terdaftar (Registered)

Nah, masalahnya, dan saya sangat yakin, tidak akan ada yang mau repot-repot mengubah satu per satu kode-kode HTML yang ingin dimasukkan ke teks editor dengan notasi-notasi yang bisa dibaca teks editor. Bahkan menggunakan "Replace" dari menu "Edit" pada aplikasi-aplikasi pengolah kata bukanlah jalan yang sederhana. Dan risiko kesalahan atau let's say kelalaian itu pasti ada.

Beruntunglah bahwa kemajuan teknologi saat ini sangat memudahkan berbagai pekerjaan kita. Anda tidak perlu meng-encode kode-kode tersebut secara manual. Anda bisa memanfaatkan situs-situs yang menyediakan tools untuk meng-encode kode HTML. Ada beberapa situs yang menyediakan jasa ini, hanya saja yang kebetulan saya kunjungi pada saat meng-encode kode-kode HTML itu berasal dari: http://centricle.com/tools/html-entities/. Anda tinggal menuliskan atau meng-copy-paste (istilah zaman sekarang) kode-kode yang ingin anda masukan dalam artikel, kemudian masukan ke dalam box yang disediakan dan klik tombol "Encode". Selanjutnya Anda tinggal meng-copy kode dalam box tadi dan paste ke dalam tulisaan Anda; voilà, jadilah sudah!

Situs Centricle.com juga tidak hanya bisa meng-encode sampai situ saja, Anda bisa meng-encode hingga berkali-kali. Sebagai contoh, ketika saya ingin menuliskan <body> maka saya harus mengetikkan &lt;body&gt;. Kemudian, ketika saya ingin menuliskan &amp;lt;body&amp;gt; saya harus meng-encode-nya lagi, dan begitu seterusnya. Semua ini bisa dilakukan hanya dengan mengklik tombol "Encode". Sementara itu, jika kita ingin men-decode, kita bisa langsung klik tombol "Decode", dan voilà, jadilah sudah!

Sangat mudah bukan? Oke, sekian, dan terima kasih untuk Andisusilo's blog untuk ilmu yang sangat bermanfaat ini.

Disable Copy-Paste di Blog? Bisa!

Copy dan paste. Tampaknya dua kata ini sudah menjadi dua kata pamungkas bagi banyak pelajar di negeri ini. Mulai dari pelajar formal (SD, SMP, SMA, S1, S2, bahkan S3 juga ada) sampai pelajar nonformal, let's say, blogger baru atau sekedar "iseng-iseng" membuat tulisan yang kira-kira banyak dibutuhkan oleh orang-orang. Mungkin agak menjengkelkan ketika Anda melihat tulisan Anda tiba-tiba ada di blog orang lain, sama persis, dan yang agak menyakitkan sebenarnya adalah karena si blogger itu sama sekali tidak mencantumkan referensi atau link tempat ia menemukan artikel tersebut. Atau ya... who knows, mungkin seseorang bisa saja sudah memasukkan isi blog Anda pada tugas-tugas sekolah/kuliahnya. Well, saya pun pernah mengalami hal ini. Suatu hari saya iseng-iseng memasukkan tujuh kata berturut-turut dari sebuah artikel (yang kebetulan cukup banyak dikunjungi) di Google. Hasilnya? Cukup mengejutkan karena saya menemukan artikel saya di beberapa blog lain. Saya coba buka dan hasilnya sama persis. Dan, ya... mereka tidak mencantumkan referensinya.

Jadi, sejak saat itu, saya berusaha untuk memproteksi blog saya. Tidak bermaksud jahat tentunya, karena toh pembaca masih tetap bisa membaca. Hanya saja, saya "melindungi" tulisan-tulisan blog saya dengan mengubah beberapa kode HTML-nya. Apalagi kebanyakan tulisan saya, khususnya dengan tag "assignment" adalah kumpulan tugas-tugas saya selama saya berkuliah. Tentunya, sangat tidak mudah membuat tugas-tugas itu, jadi saya harap orang-orang bisa sedikit menghargai dengan tidak meng-copy-paste isinya dan mengklaimnya sebagai karyanya.

Oke, kembali ke topik. Jadi ada satu lagkah ampuh untuk melindungi isi blog Anda dari tindakan copy-paste. Saya dapat langkah ini dari sebuah blog (bisa di lihat di sini) dan saya pun mempraktikkannya pada blog saya ini. Sebenarnya ada beberapa cara, tapi cara yang akan saya berikan di sini adalah cara yang sangat simple dan sekaligus ampuh karena hanya dengan satu kode ini bisa langsung menonaktifkan beberapa perintah, yaitu:
  1. disable klik kanan (onmousedown);
  2. disable seleksi teks (oncontextmenu);
  3. disable Ctrl+C atau Ctrl+V (onkeydown).
Oh ya, saya tidak bilang bahwa cara ini 100% aman dari peng-copy-paste-an. Saya bisa bilang bahwa cara ini cukup ampuh. Beberapa orang masih bisa meng-copy konten tulisan ini. Tapi coba, berapa banyak orang yang suka copy-paste mengerti betul beberapa trik HTML atau CSS? Saya bicara dalam konteks orang Indonesia. Tingkat "melek internet" orang Indonesia belum begitu besar. Jadi, kalau pun ada yang bisa meng-copy konten tulisan ini saya yakin jumlahnya hanya nol koma sekian persen dari total populasi masyarakat yang melek internet.

Caranya sangat mudah, dan Anda bisa langsung menerapkannya pada blog Anda. Di bawah ini saya akan menjelaskan langkah-langkahnya yang saya terapkan pada Blogspot. Namun, bukan berarti trik ini tidak berlaku pada platform blog lain, seperti WordPress.com misalnya, karena yang harus dilakukan adalah mengubah sedikit kode HTML pada blog Anda. Berikut ini langkah-langkahnya:
  • login ke akun Blogspot Anda;
  • masuk ke rancangan/design (pada tampilan Blogspot lama) atau langsung masuk ke Template (pada tampilan Blogspot baru);
  • pilih Tata Letak dan kemudian pilih Edit HTML (pada tampilan Blogspot lama) atau langsung pilih Edit HTML (pada tampilan Blogspot baru);
  • cari kode berikut: <body> (gunakan Ctrl+F di keyboard untuk memudahkan pencarian);
  • gantilah kode dengan kode dibawah ini:
    <body oncontextmenu='return false;' onkeydown='return false;' onmousedown='return false;'>


  • setelah itu, simpan kode HTML yang telah Anda ubah.
Nah, sekarang coba Anda buka blog Anda maka niscaya segala tulisan di blog Anda tidak bisa diseleksi. Dengan demikian blog Anda pun akan aman dari per-copy-paste-an. Jika Anda ingin mengembalikan pengaturan blog Anda ke seperti semula, Anda tinggal mengganti saja kode "false" menjadi "true" pada script "return false. Ingat, ada tiga macam script, yaitu "onmousedown", "oncontextmenu", dan "onkeydown".

Atau, jika tidak mau repot, bisa saja tinggal mengembalikan kode <body oncontextmenu='return false;' onkeydown='return false;' onmousedown='return false;'> menjadi <body> kembali. Oke, sekian; semoga bermanfaat dan selamat mencoba! Oh ya, terima kasih pada Kode Blogger atas pengetahuan yang sangat beharga ini.

   Add Friend