21 Mei 2012

Mengenang Hari Kebangkitan Nasional

Negara kita baru-baru ini memperingati suatu hari yang (sebenarnya) istimewa. Entah berapa banyak yang sadar atau mungkin lebih tepatnya, entah berapa banyak kepala di negeri iniyang mengaku sebagai WNIyang paham betul dengan makna hari istimewa itu. Saya pun jadi bertanya-tanya, apakah saya termasuk yang tidak memahami makna hari yang selalu diperingati setiap tanggal 20 Mei itu? Hari itu, seperti layaknya tanggal 20 Mei di tiap tahun di negeri ini, kita merayakan hari yang kita kenal dengan Hari Kebangkitan Nasional. Pertanyaannya: seberapa pentingkah kita (hingga saat ini) masih memperingati hari bersejarah tersebut? Dalam arti, masih adakah relevansinya antara memperingati (bahkan dengan sepenuh hati) dengan masa depan bangsa ini? Ini sih cuma pertanyaan bodoh saja, atau ya... sebut saja sok kritis. Well, suka-tidak suka, kadang penemuan-penemuan besar di dunia ini diawali dengan pertanyaan yang (terkesan) "bodoh".

Sejujurnya, dari lubuk hati saya yang paling dalam, saya sudah muak dengan negeri ini. Iya, muak. Masa sih Anda tidak merasa muak dengan negeri yang terkadang harapan itu lebih tipis daripada keadaan dompet Anda di tanggal-tanggal tua? Otak saya sering kali berusaha menyangkal dan meyakinkan hati ini bahwa "Enggak loh, masih ada harapan". Namun, kemudian hati ini membuat keraguan dengan mengatakan, "Oh, come on? Are you serious? Harapan yang mana? Harapan hanya untuk mereka (para penguasa); harapan pribadi mereka. Rakyat tidak punya harapan." Kita punya mimpi, tapi tidak punya harapan. Lantas, untuk apa?

Mimpi bangsa inisaya rasasudah semakin lenyap. Mimpi anak bangsa sudah "dirampas" oleh kezaliman para penguasa. See, bukan uang kita saja yang "dirampas", tapi mimpi akan kehidupan yang lebih baik; Indonesia yang lebih baik, juga "dirampas". Saya rasa kita semua diajarkan untuk bermimpi setinggi mungkin sewaktu kita masih anak-anak. Nah, sekarang bayangkan jika mimpi-mimpi itu terbentur dan terhalang oleh (misalnya) awan gelap nan tebal yang berisi keegoisan dan ketamakan para pemimpin negeri ini. Apa masih ada lagi mimpi yang terbang setinggi bintang? Apa masih bisa ada harapan?

Nah, sekarang, masih pentingkah kita memperingati Hari Kebangkitan Nasional? Sementara bangsa ini tidak lagi bangkit. Bangsa ini terpuruk Saudara-saudara! Itu kenyataan; terima itu. Siapa yang bangkit? Pemilik modal? "Wakil rakyat" di gedung DPR? Politisi yang "mengaku" penyambung lidah rakyat? Pemerintah dengan segala fasilitas dinas yang berasal dari uang rakyat? Investor asing? Ya, kesejahteraan mereka tentu semakin bangkit. Bagaimana dengan anak bangsa? Bagaimana dengan anak-anak yang (katanya) masa depan bangsa, sementara pendidikan dijadikan komoditas atau "barang dagangan" segelintir orang. Cita-citanya mau mencerdaskan kehidupan bangsa atau kehidupan kelompok tertentu? Mencerdaskan kehidupan bangsa kan? Lantas, mengapa masih ada anak-anak negeri ini yang tidak bisa sekolah? Mengapa masih ada anak-anak yang harus "menantang maut" menelusuri jalan ke sekolahnya? Mengapa masih ada anak-anak yang harus sekolah beratapkan genteng-genteng berlubang? Mengapa masih ada anak-anak yang bahkan harus ragu untuk bersekolah jika bersekolah itu sejatinya menjadi kebutuhan?

Mungkin kita perlu diingatkan bahwa alasan tanggal 20 Mei disebut sebagai Hari Kebangkitan Nasional adalah karena 104 tahun silam, bertempat di salah satu ruang belajar di STOVIAberasal dari gagasan dr. Wahidin Sudirohusudodr. Sutomo dan kawan-kawannya: M. Soeradji, M. Soewarno, M. Goenawan, Soewarno, R.M. Goembrek, dan R. Angka mendirikan organisasi kepemudaan yang mereka beri nama Boedi Oetomo. Boedi Oetomo dianggap sebagai organisasi massa pertama di Indonesia―meskipun ada perdebatan untuk itu. Namun, dapat disepakati bahwa tonggak Kebangkitan Nasional adalah pada masa  bangkitnya rasa dan semangat persatuan, kesatuan, nasionalisme, serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan republik ini.

Poinnya adalah, bangsa ini "dibangkitkan" oleh orang-orang terpelajar. Mereka yang berhasil mengenyam pendidikanlah yang bisa berpikir bahwa ada yang salah dengan perjuangan kemerdekaan negeri ini hampir selama 300 tahun sebelumnyajalan peperangan. Tidakkah ini membuktikan bahwa pendidikan menjadi aspek yang sangat penting dalam "membangkitkan" bangsa ini? Namun, rasa-rasanya situasi kini di Indonesia menjadi tidak jauh berbeda dari masa penjajahan Belanda. Belanda memang sengaja "membodohi" rakyat Indonesia. Pengajaran sangat kurang, bahkan setelah menjajah selama 250 tahun tepatnya, pada 1850, Belanda baru mulai memberikan anggaran untuk anak-anak Indonesia, itu pun sangat kecil. Selain itu, pendidikan yang disediakan pun tidak banyak, bahkan pengajaran tersebut hanya ditujukan untuk menciptakan tenaga yang bisa baca-tulis dan untuk keperluan perusahaan saja. See, lantas apa bedanya dengan sekarang? Ya, kita saat ini kita tidak hidup di tengah "tekanan nyata" penjajah saja. Faktanya, kita terjajah oleh negeri kita sendiri. How come? Sebut saja, pemimpin-pemimpin bangsa ini sudah terlalu pandir, bahkan untuk sekedar belajar dari sejarah bangsanya.

Sekarang, apa yang perlu diperingati tiap tanggal 20 Mei? Bagaimana kalau kita mengganti istilah "memperingati" menjadi "mengenang" Hari Kebangkitan Nasional? Kita hanya bisa mengenang momen 104 tahun lalu itu. Kita tidak bisa "memperingati" karena kita tidak benar-benar merasa manfaat nyata momen bersejarah itu seutuhnya hingga hari ini. Apakah ini ungkapan seorang pesimis? Saya rasa, saya bukan seorang pesimis, hanya saja keadaan kita, negeri kita ini, sangat berat saat ini. Kita tidak bisa mengatakan bahwa: tantangan Indonesia sangat berat saat ini. Salah! Akuilah, kita (memang) tidak pernah benar-benar berhasil menyelesaikan tantangan-demi-tantangan, dan justru membuat berbagai masalah baru dan itu tidak menyelesaikan tantangan yang lama.

Well, inilah negeri kacau-balau. Saking kacau-balaunya, saya tidak sanggup mendeskripsikan kekacauan-demi-kekacauan di negeri. Ah, tapi sudahlah, tidak ada gunanya jutaan tulisan seperti ini jika tidak ada langkah nyata untuk memperbaiki. Well, ini hanya ungkapan hati saya saja. Saya mencintai negeri ini, tapi memang saya sudah semakin muak. Kadang saya ingin (sangat ingin) menjadi warga negara lain. Kadang saya bertanya, kenapa saya terlahir sebagai orang Indonesia? Ya... mungkin... mungkin Tuhan mau saya memperbaiki negeri ini. Jadi, jika Anda (iseng-iseng) bertanya kepada diri Anda, kenapa Anda terlahir sebagai orang Indonesia? Atau parahnya, jika Anda (sampai) bertanya, dosa apa yang telah orang-orang sebelum Anda perbuat hingga Anda harus menanggung dan terlahir sebagai orang Indonesia, mungkin karena Tuhan mau Anda memperbaiki negeri ini. Mungkin bukan jawaban terbaik, tapi coba kita pikirkan lagi, tidakkah sangat luar biasa jika Tuhan Yang Maha Kuasa mengamanatkan sebuah tugas muliamemperbaiki negeri inikepada kita? Ini bukan tugas-sembarang-tugas, ini tugas mulia, dan tidak ada yang bilang bahwa tugas mulia selalu menyenangkan dan tidak ada yang bilang bahwa tugas mulia selalu mudah.

Republik inisebenci dan semuak apa pun kitamembutuhkan bantuan kita semua. Negara ini sakit parah, mungkin stadium V atau bahkan mungkin hampir "mati"; nyaris tidak ada harapan. Negara ini penuh dengan orang "sakit". Nah, jika kita merasa negeri ini perlu perubahan dan itu lebih dari sekedar kata-kata, berarti kita termasuk yang "sehat". Bersyukurlah jika kita "sehat", tapi itu berarti kita wajib menyembuhkan yang sakit. Untuk menyembuhkan penyakit yang mengakar ini jelas tidak mudah, bahkan kita bisa saja tertular dan ikut sakit sampai akhirnya mungkin benar-benar tidak ada harapan. We will live in a hopeless place, dan itu situasi yang sangat buruk. Tidak ingin keadaan seperti itu terjadi? Ayo bergerak! Tunjukkan kalau kita mencintai Indonesia lebih dari sekedar berteriak nama Indonesia saat membela Timnas atau Garuda Muda, atau bahkan Taufik Hidayat. Indonesia perlu lebih dari itu. Ayo bergerak! Bagi kita yang (merasa) terpelajar, bagi kita yang (merasa) berhasil sekolah tinggi, menyandang gelar, lihatlah banyak anak negeri ini yang seharusnya mendapat pendidikan, tapi mereka tidak bisa. Bantulah mereka... sedikit hal (yang kita anggap) kecil bisa berpengaruh besar. Sedikit hal (yang kita anggap) kecil bisa menginspirasi ribuan orang lain. Ini tidak mudah, tapi saya yakin dr. Sutomo dan kawan-kawannya dulu pun tidak pernah menganggap membuat Boedi Oetomo dan membuat perubahan bagi pergerakan perlawanan terhadap penjajah adalah hal mudah, tapi mereka berhasil.

Jadi, mari lakukan yang terbaik untuk negeri ini. Jika Anda merasa jengah sebagai orang Indonesia, ingatlah bahwa Anda terlahir sebagai orang Indonesia karena Tuhan percaya Anda bisa berbuat sesuatu untuk negeri ini, dan bukan orang lain. Namun, sementara negeri ini berada dalam "masa perbaikan", saya lebih senang untuk "mengenang" tanggal 20 Mei, bukannya "memperingati". Ketika kita mengenang maka akan timbul perasaan yang berbeda dari sekedar memperingati. Jika kita pernah berjaya pada suatu masa dan kini tidak lagi, maka kenanglah masa kejayaan itu dan tanyakan pada diri kita, tidakkah kita ingin kembali merasakan manisnya masa-masa kejayaan itu? Jika iya, mari kita berubah dan ya... "Mari Bung rebut kembali!"

   Add Friend

0 komentar :

Posting Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.