24 Mei 2012

Ulasan Buku Kontroversial Irshad Manji

Irshad Manji. Nama ini cukup banyak dibahas di berbagai media dalam negeri terkait kasus pembatalan diskusi bukunya yang menuai kontroversi di sejumlah tempat di Indonesia, beberapa waktu lalu. Wanita asal Kanada ini mendapat desakan dari organisasi masyarakat sehingga peluncuran bukunya, Allah, Liberty, and Love, yang digelar di Salihara, Jakarta Selatan, Jumat 4 Mei 2012, dibubarkan massa ormas yang mengatasnamakan Islam (tentu kamu tahu siapa) dengan salah satu tudingan di dalam bukunya ia menyebarkan gaya hidup gay dan lesbian.

Iya, buku Allah, Liberty, and Love ini dianggap bercerita tentang kaum gay dan lesbian. Saya tidak tahu pasti apakah mereka sudah membaca buku ini atau belum, tapi rasa-rasanya, tudingan ini tidak 100% tepat. Irshad memang seorang lesbian (dia mengakui itu), tapi bukan itulah poin dari bukunya. Banyaknya pro dan kontra terhadap penulis ini tentu membuat saya menjadi sangat penasaran dengan isi buku tersebut, terlebih lagi karena buku itu membahas mengenai umat Muslim, penulisnya berasal dari negara liberal, dan buku tersebut benar-benar banyak mendapat kecaman, tidak hanya di Indonesia, tapi oleh banyak Muslim di seluruh dunia.

Pertama, saya akan mencoba menceritakan sedikit profil Irshad dari sudut pandang saya. Setelah saya membaca Allah, Liberty, and Love in, saya bisa katakan bahwa Irshad adalah seorang perempuan Muslim reformis yang percaya pada nilai-nilai kebebasan. Dia adalah seorang yang (sekali lagi menurut padangan saya) yakin dan berusaha meyakinkan dunia bahwa Islam adalah agama yang sangat mulia, tapi sayangnya kemuliaan agama ini dianggap belum utuh karena adanya kebudayaan yang bercampur ke dalam agama. Oleh karena itulah, ia berusaha "menyadarkan" seluruh umat Muslim di seluruh dunia bahwa ada sesuatu yang perlu "dibenahi". Pemikiran Irshad adalah pemikiran yang liberal; itu jelas, tapi (lagi-lagi menurut padangan saya) tidak ada yang salah dengan itu. Beberapa gaya tulisan Irshad dan cara ia menulis, khususnya pada bagian-bagian yang tekait dengan wanita Muslim, cukup membuat saya yakin bahwa dia juga seorang seminis. Bukan feminis ekstrem, tapi cukup terlihat bahwa ia seorang feminis. Terakhir, dia (memang) seorang lesbian, tapi percayalah, ini bukan poin penting untuk kita melihat atau menilai pemikiran seseorang.

Oke, itu tadi tentang Irshad dalam pandangan saya. Kedua, saya akan mencoba membahas mengenai buku fenomenalnya. Setelah saya membaca bukunya, saya bisa mengatakan bahwa buku itu sama sekali tidak bercerita tentang gay dan lesbian (atau bahkan mengajarkan gaya hidup gay dan lesbian seperti yang dituduhkan ormas-Anda-tahu-siapa). Lagipula kalaupun ada, kita bisa mengatakan bahwa hal itu sama sekali tidak relevan dengan pesan yang ingin dia angkat. Buku Allah, Liberty, and Love sebetulnya mengajarkan mengenai bagaimana umat Muslim bisa mempraktikkan kebebasan dalam kehidupannya. Dalam arti bebas untuk bertanya, bebas untuk mempelajari makna yang tertulis dalam Al-Quran.

Nah, ini dia poinnya: kebebasan berpikir. Jadi, buku ini adalah mengenai "ajakan" bagi umat Muslim untuk berpikir. See, tidak ada yang salah bukan dengan berpikir? Saya tidak mengatakan bahwa saya pro dengan Irshad, karena sejujurnya tidak sedikit pula bagian-bagian yang cukup membuat saya mengangkat alis saya, tapi kenyataannya, tidak sedikit pula bagian yang membuat saya kembali berpikir. Saya akan berusaha (dengan hati-hati) menuliskan beberapa poin atau pesan yang ingin disampaikan oleh Irshad dalam bukunya. Beberapa pesan penting yang kerap ia ulang dalam bukunya, antara lain:
  • seruan ber-ijtihad;
  • keberanian moral;
  • integritas;
  • jalan yang lurus dan “jalan lapang”;
  • individualitas bukan individualisme;
  • muslim kontra-budaya;
  • Islamo-tribalisme;
  • bertanya dan jangan takut bertanya;
  • pentingnya fleksibilitas; dan
  • kehormatan
Saya akan mencoba membahas satu per satu. Pertama, soal ijtihad yang ia angkat. Ijtihad (Arab: اجتهاد) adalah sebuah usaha yang sungguh-sungguh, yang sebenarnya bisa dilaksanakan oleh siapa saja yang sudah berusaha mencari ilmu untuk memutuskan suatu perkara yang tidak dibahas dalam Al-Quran maupun hadis dengan syarat menggunakan akal sehat dan pertimbangan matang. Namun, pada perkembangan selanjutnya, diputuskan bahwa ijtihad sebaiknya hanya dilakukan para ahli agama Islam. Tentunya hal ini ada bagusnya karena jika semua orang ber-ijtihad, bisa saja orang-orang ini tidak benar-benar menggunakan akal sehat dan pertimbangan matang untuk mengambil keputusan, tapi bukan berarti "seorang biasa", katakanlah seperti saya misalnya, benar-benar dilarang ber-ijtihad. Dalam hal ini, Irshad berusaha "menyadarkan" umat Muslim bahwa kita tidak boleh menerima segala suatu keputusan atau perlakuan secara mentah, khususnya hal-hal yang berhubungan dengan perintah agama dan perintah adat/budaya yang mungkin banyak dari kita yang tidak benar-benar paham atau yakin apakah (misalnya) agama benar-benar melarang sesuatu yang secara adat/budaya dilarang?
Ijtihad terkait dengan perjuangan untuk memahami dunia kita dengan menggunakan pikiran. Tentu, ini berimplikasi pada penggunaan kebebasan untuk mengajukan pertanyaan—yang terkadang terasa begitu tidak nyaman. Aku bicara mengenai mengapa kita semua memerlukan ijtihad, baik bagi kaum Muslim maupun non-Muslim. (hlm. xiixiii)
Begitulah menurut Irshad yang meyakini bahwa gagasan ijtihad ini memiliki kapasitas untuk mengubah dunia untuk selamanya. Menurut Irshad, ijtihad adalah tradisi dalam Islam yang mencakup perbedaan pendapat, penalaran, dan penafsiran kembali. Untuk para peserta non-Muslim, ia pun melafalkannya secara hati-hati: ij-tee-had, bukan "jihad".

Hal berikutnya adalah soal keberanian moral. Dalam bukunya, Irshad menulis bahwa Robert F. Kennedy menggambarkan keberanian moral (moral courage) sebagai kesediaan untuk berbicara kebenaran pada pihak kuasa dalam komunitas Anda demi kebaikan yang lebih besar. Keberanian moral memungkinkan masing-masing dari kita untuk menggunakan nurani, menggantikan konsensus dengan individualitas, dan lebih mendekatkan kepada Sang Pencipta melalui pengenalan terhadap diri sendiri.
Bila kau menghargai keberanian moral—berbicara kebenaran pada pihak yang berkuasa dalam komunitasmu demi kebaikan yang lebih besar—maka kau adalah seseorang yang wajib memprioritaskan individualitas di atas pemikiran kelompok. (hlm. 141)
Menurut Irshad, ini artinya, kamu harus mempertimbangkan dampak tindakan, atau tidak-bertindakmu, pada individu-individu yang berjuang membawa perspektif baru pada komunitasnya. Ketika hal ini melibatkan persoalan hidup-mati, tanggung jawabmu pun semakin besar. Sejauh ini, menurut saya, tidak ada yang benar-benar buruk dengan masalah "keberanian moral" ini.

Ketiga, soal integritas. Tadinya saya agak bingung dengan apa yang ia maksud mengenai istilah "integritas" di sini. Namun, setelah saya mencoba memahami, maksudnya adalah saat ketika kamu merasa Tuhan bisa menjadi nuranimu, Penciptamu, atau gabungan keduanya yang sungguh memesona; itulah integritas.
Semakin jelas bagiku, betapa pentingnya keberanian moral bagi siapa saja yang ingin hidup sempurna—integritasnya—baik di dalam tradisi keagamaan maupun di luar agama. (hlm. xx)
Irshad menekankan bahwa Muslim dan non-Muslim, yang hidup di alam demokrasi, harus mengembangkan keberanian untuk memperluas kemerdekaan individu, bukan malah menghambatnya. Karena, tanpa kebebasan untuk berpikir dan berekspresi, tidak mungkin ada integritas—baik dalam diri maupun masyarakat. Kunci ajaran Manji adalah "keberanian moral" ini, kemauan untuk berbicara ketika orang lain ingin membungkam mulutmu.

Berikutnya adalah soal jalan yang lurus dan “jalan lapang”. Irshad menulis bahwa setiap Muslim yang berpikiran reformis harus mengambil risiko untuk menerima reaksi yang tidak menyenangkan demi melapangkan jalan Islam.
Umat Muslim memandang Islam adalah “jalan yang lurus”—aturan hidup yang sederhana dan jelas. Tetapi jalan yang lurus pun bisa berupa “jalan lapang”, yang menghubungkan kita kepada Tuhan yang lebih tinggi daripada keluarga biologis, melampaui komunitas lokal, dan lebih transenden daripada kelompok Muslim internasional. (hlm. 10)
Kemudian Irshad menyebutkan bahwa untuk menuju integritas maka diperlukan jalan yang lurus dan lapang. Seperti yang saya kutip dari halaman 64, caranya adalah:
  1. Mencintai keunikanmu adalah mencintai yang telah menciptakannya, Sang Penciptamu.
  2. Mencintai Penciptamu adalah mencintai ciptaan-Nya yang beragam, yang keutuhannya belum sepenuhnya terwujud.
  3. Mencintai ciptaan-Nya adalah mencintai mereka yang teraniaya dengan membela mereka tanpa menganiaya yang lain sebagai balasan.
Itu dia. Satu Tuhan. Tiga pernyataan. Pilihan hidup yang berkelimpahan. Islam, jalan yang lurus, dengan demikian menjadi suatu jalan lapang untuk menyelaraskan banyak sisi dalam diri kita, begitulah menurut Irshad. Jadi, perlu lebih dari sekedar jalan yang lurus, tapi perlu jalan yang lurus dan sekaligus lapang.

Dalam kutipan di atas, Irshad menyebutkan sesuatu tentang hubungan kepada Tuhan yang lebih tinggi daripada keluarga biologis atau melampaui komunitas lokal. Maksudnya adalah, dalam buku ini Irshad mengungkapkan perasaannya yang terganggu oleh bagaimana Islam dipraktikkan saat ini oleh pengaruh Arab di Islam yang mengambil individualitas perempuan dan memperkenalkan konsep kehormatan perempuan. Di sinilah saya merasa bahwa tulisan Irshad cukup feminis.

Di bawah kode kehormatan Arab, Muslim diajarkan untuk melepaskan individualitas dan menerima takdirnya sebagai harta milik keluarga. Kehidupan kita bukanlah milik kita; kehidupan kita menjadi milik keluarga besar kita—biasanya yang berhubungan darah. Jika kau melanggar batas-batas moral, kau “memalukan” lebih banyak orang selain dirimu sendiri. Begitulah menurut Irshad.
Brian Whitaker, mantan editor Timur Tengah di koran The Guardian, melakukan suatu eksperimen ketika tengah melakukan penelitian untuk bukunya, What’s Really Wrong with the Middle East (Apa yang Sesungguhnya Salah dengan Timur Tengah). Ia memberikan sepuluh pernyataan kritis tentang Timur Tengah kepada orang-orang Arab yang diwawancarai dan meminta mereka untuk memilih mana yang ingin didiskusikan. Menyisihkan yang lainnya, hanya satu pernyataan yang dianggap sebagai persoalan yang paling mendesak—sampai-sampai, Whitaker mengungkapkan, “ketika hendak selesai, saya berkata ke orang-orang itu: ‘Tolong, jangan bicarakan tentang itu lagi. Saya sudah cukup mendengarnya.’” Apakah pernyataan itu? “Keluarga adalah kendala utama dalam mereformasi dunia Arab.” Wawancara Whitaker menegaskan sesuatu yaitu, di dalam masyarakat Arab, keluarga merupakan “mekanisme utama bagi kontrol sosial”—pencengkeram pertama pada individualitas dan pencetak bagi lebih banyak lagi kekangan. Pemimpin politik, Whitaker mengutip seorang sosiolog Suriah, “mencerminkan citra ayah, sementara warga mencerminkan citra anak. (hlm. 99100)
Irshad juga membahas bahwa dalam masyarakat tradisional Arab, dikenal istilah sharaf dan ‘ird. Sharaf merujuk kepada kehormatan keluarga atau masyarakat, sedangkan ‘ird mengacu khusus kepada kehormatan wanita. Dalam kenyataannya, ‘ird menentukan sharaf. Ketika seorang wanita “mencemarkan,” maka ia membawa aib bagi keluarga. Semua anggota keluarga besar akan tercoreng sampai mereka mengambil tindakan drastis pada wanita tersebut. Trad Fayez, seorang pemimpin suku di Yordania, mendukung analogi berikut, “Seorang wanita ibarat pohon Zaitun. Ketika batangnya terkena ulat kayu, maka harus dipotong supaya masyarakat tetap bersih dan murni.”

Menurut para Islamo-tribalis, sebagaimana yang saya kutip pada halaman 161, malu terletak di wanita. Irshad menulis bahwa dibandingkan saudara laki-laki, anak laki-laki, atau pamannya, seorang wanita menanggung beban seluruh reputasi keluarga. Sebagai akibatnya, pria pun terlepas dari kewajiban. Kaum pria dianggap lemah moral sehingga mereka bisa dibebaskan untuk memilih. Karena pengendalian diri pria yang seperti anak-anak, maka tergantung wanita untuk membatasi pilihan pria. Inilah alasan mengapa wanita harus menutupi rambutnya dan terkadang seluruh tubuh mereka. Mereka mengimbangi kekurangan pria yang mengabaikan tuntunan Al-Quran untuk menurunkan pandangan mata mereka di depan wanita. Nah, pemikiran ini jelas saya anggap "cukup berbahaya" dan sangat liberal, juga radikal. Di sini Irshad juga membahas masalah hijab.

Dalam bukunya, Irshad menulis bahwa hijab berasal dari budaya sebelum Islam. Di sini ia menyatakan bahw Al-Quran, di sisi lain, meminta wanita dan pria untuk berpakaian sopan. Mengapa ini tidak bisa diartikan sebagai lengan panjang? Dan jika seorang wanita harus menutup rambutnya, mengapa bukan topi baseball yang dipilihnya? Pertanyaan ini pasti akan membuat "berang" umat Muslim, khususnya mereka yang ber-hijab. Orang-orang sudah pasti akan menuduhnya gila dan tidak membaca Al-Quran dengan seksama.
Kemudian lagi, mengapa ia “harus” menutup rambutnya? Apabila kau sebagai pria khawatir terangsang, mengapa tidak melakukan sebagaimana yang disarankan Al-Quran dan menunduk selama yang dibutuhkan hormonmu? Mengapa kompensasinya harus membebani hanya pada wanita? (hlm. 138)
Oke, kita kembali pada pembahasan Irshad mengenai Islam (yang menurutnya) dipraktikkan saat ini oleh pengaruh Arab di Islam yang mengambil individualitas perempuan. Beberapa contoh pemikirannya telah saya jabarkan di atas. Contoh lainnya, Irshad menulis bahwa seorang calon suami—menurut jurnalis Rana Husseini—menganggap keperawanan sebagai “bukti kepemilikan eksklusif.”
Darah pada selaput dara istrinya yang pecah membuktikan bahwa “‘barang’ benar-benar baru dan istrinya tidak akan mampu membandingkan performanya dengan pria lain.“ Ketika rumor beredar kalau barangnya terlihat bersama pria yang bukan muhrimnya, pemilik wanita itu dapat bertindak kejam bak pembeli yang menyesal. Dia pun bisa membunuhnya. (hlm. 165)
Mungkin, kita yang di Indonesia akan berpikir, "Hah?" atau "Serius?" atau "Ah, mana mungkin sampai membunuh?" Namun, sayangnya, hal ini terjadi, di dunia, di komunitas Islam. Saya pribadi tidak menyangkal bahwa keperawanan menjadi sesuatu yang sangat penting. Namun, di sisi lain, pemikiran Irshad ini, menurut saya, ada benarnya, tapi ada juga tidak benarnya. Saya cukup netral untuk masalah ini. Well, saya sangat menyesali pria-pria di luar sana yang tega membunuh karena istrinya (ternyata) sudah tidak perawan, tapi saya kira keperawanan (di satu sisi) merupakan bukti bahwa wanita tersebut menjaga kehormatan dan harga dirinya dengan baik. Mungkin akan timbul argumen, seperti: bagaimana bila ternyata wanita itu diperkosa, padahal ia seorang wanita baik-baik, hanya saja dia bernasib tidak baik. Maka menjadi sangat tidak adil bukan jika kita "menjatuhkan hukuman" pada si wanita. Ini hal yang rumit, semua orang mungkin punya pendapatnya masing-masing. Hanya saja, saya beranggapan bahwa para pria tidak seharusnya bertindak "main hakim" atau bahkan kasar. Let's say, saya tidak tahu betapa sakit hatinya seorang pria yang tahu bahwa istrinya ternyata tidak lagi perawan, tapi segala halnya seharunya bisa dibicarakan dengan baik. Itu menurut saya.

Namun, sejauh ini bisa kita tangkap bahwa pesan yang Irshad bawa dalam bukunya ini adalah bahwa budaya bukanlah sesuatu yang sakral. Fenomena yang ia tangkap dalam kehidupan umat Muslim saat ini adalah bahwa umat Muslim hidup dalam tradisi dan budaya, yang dibentuk oleh manusia, bukan oleh Tuhan.

Oke, kita tutup sejenak soal wanita. Kita akan beralih pada konsep individualitas, Islamo-tribalisme, dan Muslim kontra-budaya. Tiga hal ini juga sangat sering disebut dalam buku Allah, Liberty, and Love ini. Pertama soal individualitas. Irshad menyebutkan bahwa ada perbedaan antara individualitas dengan individualisme.
Aku berdebat untuk individualitas—bukan individualisme. Individualisme merusak komunitas dengan pernyataan, “Akulah yang penting dan aku tak peduli apakah masyarakat akan mendapat manfaatnya.” Sebaliknya, individualitas menyatakan, “Aku adalah diriku, dan masyarakat tumbuh ketika aku mengekspresikan keunikanku.” Ada perbedaannya. Ada juga paradoksnya: kita memperluas komunitas melalui keberanian untuk mengembangkan individualitas. Jalan Islam yang lapang menciptakan ruang untuk paradoks ini. (hlm. 70)
Menurut Irshad, individualitas merupakan esensi dari kehormatan yang didefinisikan kembali, sesuatu yang mendorong kita semua melakukan apa yang benar meskipun dihakimi oleh mereka yang keliru mengartikan perasaan dengan pemikiran.

Hal berikutnya adalah masalah Islamo-tribalisme. Ini adalah istilah yang baru saya dengar. Berawal dari permasalah pencampuran budaya Arab ke dalam agama Islam, Irshad menganggap bahwa menghilangkan kepicikan budaya bukanlah tantangan bangsa Arab semata, ini adalah tantangan bagi sebagian besar umat Muslim karena budaya kesukuan telah melebur dalam praktik keislaman.
Mustafa Akyol, seorang komentator Muslim Turki, memberi nama peleburan ini “Islamo-tribalisme.” Frasenya sesuai dengan gagasan yang diusulkan kepadaku oleh Eyad Serraj, seorang psikolog terkenal berkebangsaan Palestina, yang karena keterusterangannya mendorong Yasser Arafat memenjarakannya lebih dari sekali. “Islam diturunkan untuk membawa bangsa Arab keluar dari budaya kesukuan,” ujar Dr. Serraj. “Tapi Islam tidak berhasil menaklukkan budaya Arab. Sebaliknya, budaya Arab yang berhasil menaklukkan Islam.” (hlm. 107)
Manji menulis bahwa ada pemutarbalikan dalam istilah Islamo-tribalisme ini: Menurutnya sekarang ini, hanya ada dua tipe Islamofobia. Mereka yang takut Islam karena mereka yakin tafsiran apa pun mengandung kekerasan. Islamofobia ini mengidentikkan Islam sebagai jalan yang sempit. Selain itu, ada juga mereka yang takut dengan jalan Islam yang lapang—jalan yang mengarah pada kebebasan nurani, pikiran, dan ekspresi. Islamofobia ini adalah para Muslim yang tunduk di hadapan budaya kesukuan, takut terhadap Islam sebagai agama yang mentransformasi pribadi.

Para penjaga sensitivitas budaya menggambarkan siapa pun yang mengkritik Muslim sebagai Islamofobia. Tak lama lagi, kita, yang memiliki pertanyaan-pertanyaan tidak nyaman, akan mulai percaya bahwa itulah kita adanya. Sehingga kita pun membungkam diri daripada bertanya lebih banyak lagi.
Bagaimana bisa harapan untuk berdialog menjadikanku seorang Islamofobia? Bukankah aku akan menjaga jarak—karena ketakutan—jika aku mengalami fobia? Tetapi dalam bertanya, janganlah melibatkan emosi. Emosi ini akan membahayakan pendirianmu ketika berada di antara mereka yang merasa gelisah dan merasa kau pun harus gelisah. Maka, jauh lebih mudah adalah melepaskannya mengalir begitu saja. (hlm. 155)
Dalam catatan Irshad, sepanjang masa, mereka yang memiliki sesuatu untuk diraih dalam hidupnya pernah merasa dihantui oleh bagaimana mereka dipersepsikan selama proses pencapaian itu. Tetapi untuk meraih apa pun, kita harus menundukkan suara-suara pengkritik kita dengan uji nalar. Sebagai satu contoh,Marcus Aurelius, sang kaisar Romawi. Aurelius bertanya kepada pengikutnya, “Apakah sesuatu yang jika dipuji akan berubah menjadi lebih baik? Sebaliknya, apakah sebuah zamrud berubah menjadi lebih buruk jika tidak dipuji? Dan bagaimana dengan emas, gading, sekuntum bunga, atau satu tumbuhan kecil?” Irshad menekankan pentingnya bersikap kritis terhadap budaya dan terus bertanya. Menurutnya, Islam tidak akan menjadi lebih buruk hanya karena kita sebagai manusia bersikap kritis mempertanyakan hal-hal yang adalah wajar bagi manusia yang diberikan nikmat akal pikiran.

Nah, menurut Irshad, kita (umat Muslim) tidak boleh menjadi orang-orang Islamo-tribalis, umat Muslim harus menjadi Muslim kontra-budaya. Apa maksudnya? Maksudnya adalah bahwa Muslim harus berhenti mengambil sikap seolah-olah budaya adalah hal yang sakral.
Begitu kita mengakhiri sandiwara itu, kita akan menjadi Muslim “kontra-budaya”—sebuah identitas baru yang mengabadi pada integritas dengan menghadapi budaya yang mencuri Islam dari cinta Tuhan. Aku juga akan menjelaskan bahwa kaum non-Muslim harus menjadi “kontra-budaya” sesuai dengan caranya masing-masing, dengan menolak multikulturalisme ortodoks. Entah memiliki landasan religius atau humanis, tidak ada yang sakral mengenai budaya. (hlm. 93)
Dalam wawancara dengan Kompas.com, Irshad mengatakan bahwa kaum muda diberikan doktrin tanpa diberi kesempatan untuk berdiskusi, untuk bertanya. "Di Indonesia, misalnya, ketika kita masuk ke madrasah-madrasah, yang diajarkan oleh ulama adalah: jangan bertanya, dengarkan perkataan saya dan turuti!" Oleh karena itu, ia menuliskan sebuah buku yang menjelaskan kembali tentang ijtihad, tentang mencari sebuah kebenaran yang tertulis di dalam Al-Quran.

Terkait dengan orang-orang yang kontra dengannya, Irshad mengatakan bahwa orang-orang memiliki hak untuk tidak berpihak kepada dirinya, orang-orang memiliki hak untuk tidak setuju dengan pendapatnya, orang-orang punya hak untuk mempertahankan pendapat mereka sendiri, tetapi orang-orang tidak punya hak untuk melakukan kekerasan terhadap orang lain. Orang-orang tidak punya hak untuk memaksakan kehendak mereka agar diterima semua orang. Islam mengajarkan tentang perdamaian dan bukan kekerasan. Jangan membenci orang lain seolah-olah Anda adalah Tuhan.
Kau akan tahu bahwa aku menekankan apa yang dulunya menjadi nilai positif, pluralistik, dan progresif tentang Islam: ijtihad, sebuah tradisi mengenai berpikir mandiri. Kita, kaum Muslim, dapat menghidupkan itu kembali jika kita peduli—dan berani. Di satu sisi, kau mengatakan bahwa masyarakat “haus akan pengetahuan tentang Muslim.” Di sisi lain, kau berspekulasi bahwa orang-orang akan berhenti membaca begitu mereka selesai membaca bukuku. Jika orang-orang kehausan, maka mengapa mereka memperlakukan bukuku sebagai kesimpulan akhir dalam mempelajari Islam? Kau terlalu berlebihan dalam menilai kekuatanku dan sekaligus terlalu kecil menilai publik. (hlm. 30)
Well, tulisan ini kelihatannya sudah terlalu panjang. Mungkin Anda juga tidak setuju dengan Irshad, atau bisa jadi tidak setuju dengan sikap saya terhadap Irshad? Mungkin ada yang berpikir dengan saya menulis ulasan ini membuat saya terlihat sama liberalnya dengan Irshad? Well, who knows? Apa yang bisa saya katakan? Saya pun bukan seorang ahli agama, tapi saya setuju dengan Irshad pada beberapa hal, seperti untuk mendayagunakan kemampuan akal pikiran kita. Tidak ada yang salah dengan berpikir kritis, termasuk mengenai Islam. Mungkin banyak dari kita mengambil Islam sebagai sesuatu yang taken for granted, atau menerima begitu saja. Bukankah lebih baik jika kita benar-benar mengenal agama kita dengan baik? Dan untuk itu, bertanya (kritis) dan berpikir (kritis) bukanlah sesuatu yang terlarang. Dan buku Irshad ini (seperti kata Irshad), saya yakin, tidak akan menjadi kesimpulan akhir kita dalam mempelajari Islam. Jadi, saya rasa, kita tidak perlu terlalu bersikap "merasa paling benar", apalagi jika belum membaca bukunya sama sekali. Tidak ada orang yang berhak mencap seseorang tidak lebih beragama atau tidak lebih Islami dari orang lain.

Hal penting lainnya yang juga saya perhatikan adalah bahwa dalam buku Allah, Liberty, and Love ini kita akan melihat bahwa ada sisi lain kehidupan umat Muslim di luar sana. Mungkin kita di Indonesia cukup beruntung. Saya pribadi merasa sangat bersyukur terlahir sebagai Muslim di Indonesia. Walaupun tentu ada beberapa hal yang saya kira tidak masuk akal terkait dengan pencampuran adat dan agama (Islam), tapi saya tetap merasa sangat bersyukur. Jika Anda membaca buku ini, mungkin Anda bisa melihat bahwa di luar sana tidak sedikit pula umat Muslim yang setuju dengan pemikiran Irshad. Dan memang banyak juga yang "mengutuknya". Beberapa orang yang setuju menceritakan pengalamannya yang saya rasa sangat miris mengetahui bahwa itu terjadi di umat Islam, dan hal ini mungkin (seharusnya) bisa membuat kita lebih berpikir bahwa ada hal-hal yang tidak sama dengan apa yang kita rasakan di tempat kita, dan hal itu membuat orang lain tidak berpikir seperti kita, dan itu tidak masalah.

Ah, tapi lagi-lagi, saya juga bukan ahli agama, saya pun tidak berhak mengatakan bahwa apa yang dikatakan Irshad banyak benarnya di satu sisi, sementara beberapa penjelasan lainnya juga sangat mengkhawatirkan. Penjelasan Irshad soal "ayat-ayat setan" (halaman 89) yang tampaknya ia "mengiyakan" tulisan kontroversial Salman Rushdie, The Satanic Verses (Ayat-ayat Setan), jelas saya tidak setuju. Dan tampaknya yang membuat Irshad ditolak di Indonesia, khususnya, karena ia sepertinya setuju dengan isi tulisan itu. Selain itu, penjelasannya di Bab V mengenai bagaimana seharusnya umat Muslim bersikap saat munculnya kartun/karikatur penghinaan Nabi Muhammad di Denmark beberapa tahun silam—itu juga saya sangat tidak sepakat dengan pendeskripsian Irshad atas apa yang seharusnya umat Muslim lakukan untuk menyikapinya.

Namun, jika Anda tidak mau ambil pusing, ini adalah buku yang berisi pemikiran seseorang. Jika Anda tidak suka, tidak perlu dilanjutkan membaca. Namun, jika Anda belum membaca maka Anda tidak berhak menghakimi seseorang dan bahkan membawa-bawa orientasi seksualnya. Saya bukan seorang yang pro-LGBT, tapi saya rasa tetap tidak etis rasanya menuduh seseorang dengan membawa-bawa orientasi seksualnya. Ya, akhir kata: wallahu a'lam bish shawab.

Oh ya, jika ada yang mau membaca buku Allah, Liberty, and Love in, saya punya eBook-nya. Saya dapat dari seorang teman. Jika berminat, silakan hubungi saya.

   Add Friend

4 komentar :

Boleh Mas, mau dikirim ke alamat email mana?

sy mau dong, kirimin ke papanbisnis@yahoo.com ya, makasih ya

Assalamualaikum Mas Fauzan, saya baru tertarik dengan sosok Irshad lagi (sempet lupa soal pro kontra bedah bukunya tahun lalu) karena baru heboh lagi beberapa hari terakhir karena pernikahannya dengan pasangannya yang seorang perempuan. Kalau boleh saya mau minta e-book nya. Alamat email saya trisa_maulidya@yahoo.com Terima kasih
Terima kasih juga atas ulasannya, kebanyakan artikel tentang Irshad penuh dengan emosi. Tapi mas Fauzan logis menanggapinya dengan kepala dingin.

Posting Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.