Welcome to My World!

Welcome visitors! Please enjoy my site and I hope you can get many useful information. If you wish, you may contact me through Facebook, Twitter, or any other social media that I linked on the menu bar above. Thank you.

Die Poskarten

This is my another blog: Die Poskarten. This blog will show you all my postcards collection. If you want to swap a postcard, please don't hesitate to contact me from the menu bar above.

Bonjour à Tous !

"Bonjour à Tous !"is my Tumblr site. Please take a look on it and maybe you can find some funny contents that you will love. You can also follow me on Tumblr to get my updates on the site.

Please Do Not Copy

You are welcome to link to my site and use my resources in your classroom, but please respect my hardwork and do not copy my page or files and add them to your website. Thank you.

Russia Beyond the Headlines in Bahasa Indonesia

Russia Beyond the Headlines, your guide to Russia, a diverse and complex country cannot be understood in the context of stereotypes. Now available in Bahasa Indonesia!

28 Agustus 2012

Manusia Kacau Balau

Sewaktu saya SMA, saya ingat sering kali saya berbincang-bincang dengan teman sebangku saya tentang masa depan Indonesia. Tampaknya memang bukan tipikal perbincangan yang lazim dibicarakan dengan teman sebangku, apalagi di tingkatan anak SMA. Entahlah, tanpa bermaksud mendiskreditkan anak-anak SMA masa kini (dan pada masa saya), tapi saya rasa tidak banyak anak SMA yang berbincang-bincang soal masa depan negaranya dengan teman sebangkunya secara rutin. Namun, jika ternyata kamu dulu (atau saat ini) adalah anak SMA yang juga sering membicarakan soal Indonesia dengan teman sebangkumu, sebut saja saya salah berasumsi.

Anyway, salah satu topik yang berkaitan dengan masa depan Indonesia ini adalah soal "masih adakah harapan?" Ah, rasa-rasanya belum lama ini pun saya menulis soal harapan untuk Indonesia. Namun, memang hal ini sangat menarik. Pertanyaan ini saya rasa muncul di setiap benak masyarakat Indonesia. Kelihatannya negeri ini sebegitu terpuruknya hingga pertanyaan demi pertanyaan terkait harapan ini selalu muncul. Ah, memangnya tidak sebegitu terpuruknya? Siapa bilang? Saya salah satu orang yang percaya bahwa negeri ini super amburadul. Ya... negerinya, pemimpinnya, semuanya, termasuk kita, rakyatnya.

Kita semua hidup menghirup udara kekacauan maka kita pun menjadi orang-orang yang kacau. Mungkin kita tidak merasa begitu, tapi akuilah bahwa kita semua sudah menjadi bagian dari kekacauan ini hingga kita tidak lagi merasakannya. Kita tidak lagi peka. Kita tidak lagi merasa kacau. Kita sudah bisa menerima kekacauan sebagai sesuatu yang lazim. Kita berpikir bahwa ces't la vie (itulah hidup). Jangan kita berpikir bahwa kacau adalah keadaan saat ada demonstrasi besar-besaran menentang kenaikan BBM, kerusuhan yang anarkis antarpelajar, atau para pengemudi kendaraan yang tidak tertib hingga membuat kemacetan di perempatan jalan raya. No, it's more than that! Kita semua kacau karena sebagian besar dari kita tidak lagi seperti layaknya manusia. Ada bagian dari sisi kemanusiaan kita yang hilang, bukan lagi terkikis. Iya, hilang!

Kita, orang Indonesia, tidak lagi benar-benar berpikir dan merasa. Ada yang hanya mengandalkan otaknya, terlalu merasa paling pintar, banyak cuap-cuap sana-sini, tapi tak punya nurani. Hatinya beku. Hanya berpikir untuk hal-hal yang dianggap menguntungkan dirinya. Ada juga yang terlalu mengandalkan hatinya hingga lupa bahwa orang ini punya akal untuk berpikir. Mereka yang mengandalkan hati kadang terlalu "lembut", percaya bahwa orang-orang di negeri ini masih punya niat baik, kita semua masih punya harapan, mudah memaafkan mereka yang merugikan bangsa, dan sebagainya. Ini jelas tidak baik. Dan yang paling parah, mereka yang kehilangan hati dan pikirannya. Inilah yang berbahaya. Parahnya, kebanyakan dari kita tidak sadar apakah kita termasuk orang-orang yang kacau; hilang otak, hati, atau keduanya. Kita tidak pernah sadar. Kita selalu menganggap bahwa kita baik-baik saja, dan bahkan merasa jauh lebih baik daripada orang lain. Inilah kekacauan sesungguhnya.

Kenapa orang tega korupsi milyaran bahkan triliunan rupiah? Orang-orang sudah merasa biasa dengan itu. Itu keadaan kacau. Namun, sebenarnya yang kacau itu adalah si koruptor itu sendiri. Akal dan hatinya sudah hilang. Lantas, apakah kita semua lebih baik dari koruptor? Coba telaah lagi. Jika kita merasa lebih baik daripada koruptor, berarti kita juga kacau. Memangnya korupsi hanya soal uang? Berapa banyak dari kita yang korupsi waktu? Atau korupsi tenaga? Bahkan korupsi hati dan pikiran? Berapa banyak dari kita yang tidak pernah mengambil hak orang lain? Ah, kita semua manusia! Pasti pernah. Hanya saja kita mungkin tidak sadar. Kita tidak bicara soal dosa siapa yang paling besar. Lagipula, siapa yang tahu? Namun, poinnya janganlah kita mengacaukan diri sendiri dengan merasa menjadi orang yang lebih baik dari orang lain. Mungkin benar bahwa kita tidak pernah melakukan hal-hal "kotor", tapi dengan kita mengklaim bahwa kita lebih baik maka kita tidak jauh kacau dari orang yang berbuat "kotor" itu. Kita tidak perlu menyatakan bahwa kita tidak seperti A atau kita lebih baik dari si B. Hanya karena orang-orang tidak melihat kita melakukan suatu perbuatan baik, tidak perlu kita membuat peryataan bahwa kita orang yang baik kan? Pada akhirnya orang-orang juga akan tahun bahwa kita adalah seorang yang baik jika kita melakukan hal-hal baik secara konsisten. Dan hanya karena kita tahu si X berbuat hal "kotor", kita tidak perlu mencemooh perbuatannya di depan orang banyak. Katakan saja dia salah, tapi jangan pernah merasa menjadi orang yang paling suci, seolah-olah paling benar dan tidak pernah salah.

Itu juga yang terjadi di masyarakat kita. Masyarakat kita semakin terinfeksi virus "saya-lebih-suci-daripada-kamu". Dan itu terjadi di mana-mana. Di lingkungan kita, di jalanan, di pemerintahan, di mana-mana. Virus ini sangat berbahaya karena menginfeksi hati dan pikiran manusia. Virus ini membuat manusia kacau balau. Akhirnya, negeri ini pun kacau balau karena manusia-manusianya pun kacau balau. Virus ini membuat manusia kehilangan rasa toleransi dan keramah-tamahan. Virus ini juga memperbesar kadar nafsu dalam diri hingga amarah pun mudah tersulut. Manusia menjadi semakin berorientasi pada dirinya masing-masing. Manusia tidak lagi peduli dengan manusia lain kecuali ia merasa perlu membina hubungan baik dengan si manusia lainnya. Hampir tidak ada yang benar-benar tulus dalam hubungan manusia kini. Yang ada hanya kecurigaan dan keuntungan. Seseorang bisa dekat dengan orang lain yang bukan keluarga terdekatnya bisa jadi karena ada faktor kecurigaan atau memang ada keuntungan tersendiri jika membina hubungan baik dengan orang itu. Bukan lagi karena faktor ingin membini persahabatan murni. Saya tidak bilang bahwa hal ini mutlak, hanya saja inilah keadaan yang sering kali kita hadapi saat ini.

Negeri ini hancur, akhirnya, bukan karena pemerintahnya. Negeri ini hancur karena kita semua yang menghancurkannya. Kita yang "katanya" mencintai negeri ini secara tidak sadar menghancurkan negeri ini dengan menularkan virus-virus "saya-lebih-suci-daripada-kamu" ke segenap individu-individu di masyarakat. Kita tidak sadar bahwa sedikit demi sedikit hati dan pikiran kita mulai menghilang. Kita tidak sadar bahwa kitalah yang kacau. Kitalah yang menyebabkan semua kekacauan ini, bukan cuma salah pemerintah. Tidakkah lebih bijak jika kita semua sadar bahwa kita juga  punya andil dalm rusaknya negeri ini. Janganlah kita menghardik para pemerintah karena tidak becus memimpin negeri ini jika kita sendiri tidak becus menjadi warga negara. Saya bukan orang partai atau pro pemerintah, tapi pernahkah kita bertanya pada diri kita sendiri, "Sudahkah saya menjadi warga negara yang baik?" daripada terus menerus menyalahkan dan mempertanyakan kredibilitas pemerintah? Kita semua bisa menjawabnya, dan termasuk pertanyaan: masih adakah harapan untuk negeri ini?

Suara hati saya bukanlah suara hati yang pesimis. Namun, ada baiknya kita kembali kepada kenyataan. Mungkin kita melihat kenyataan di negeri ini dari berbagai sudut pandang. Namun, pada akhirnya, dari mana pun sudut pandang itu, kita akan melihat satu titik kebenaran yang jelas tentang negeri ini. Jadi, hal terbaik yang bisa kita lakukan saat ini adalah: bangunkan diri, sadarlah bahwa bukan negeri ini saja yang kacau, tapi kita juga kacau. Mulai perbaiki diri dan imunisasi diri kita dari virus "saya-lebih-suci-daripada-kamu" yang mematikan dengan berfokus pada pada hati dan pikiran kita setiap kali kita beraktifitas, mengambil keputusan, dan berbicara. Dengan begitu, kita tidak akan menjadi pribadi yang merasa lebih baik dari orang lain sekecil apa pun itu. Bisa kita bayangkan apa yang terjadi jika semua orang di negeri ini selalu merasa lebih baik dari orang lain. Negeri ini tentu akan menjadi negeri orang-orang tidak mau kalah. Semua akan mengedepankan egonya masing-masing. Tentu tidak akan ada masa depan cerah untuk negeri seperti itu. Oleh karena itu, pastikan hati dan pikiran kita selalu jalan berdampingan dalam segala hal. Jangan biarkan otak menguasai hati atau hati menguasai otak. Atau parahnya, jangan sampai keduanya hilang hingga kita menjadi manusia yang hanya dipenuhi ego. Itulah sumber kekacauan sebenarnya, manusia kacau balau.

21 Agustus 2012

Asal Usul "Minal Aidin wal Faizin"

Pertama, saya ucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1433 H! Semoga segala amal dan ibadah kita di bulan Ramadan diterima oleh Allah SWT. Nah, kali ini saya kan membahas soal satu frase yang sangat lazim kita ucapkan di hari Lebaran, yaitu "minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan bati". Sebenarnya saya sering bertanya-tanya apakah frase "minal aidin wal faizin" berarti "mohon maaf lahir dan batin"? Bagaimana menurut teman-teman?

Ternyata jawabannya bukan. Frase "minal aidin wal faizin" bukan berarti "mohon maaf lahir dan batin". Ini sangat penting kita ketahui untuk menghindari sifat orang Indonesia yang suka latah memakai kata-kata asing tanpa benar-benar paham maksud dan artinya.

Dalam buku berjudul “Bahasa!” terbitan TEMPO, di halaman 177 buku ini, Qaris Tajudin mengungkapkan bahwa memang frase "minal aidin wal faizin" berasal dari bahasa Arab, bahasa yang banyak menyumbang istilah keagamaan di Indonesia, baik agama Islam maupun Kristen. Qaris mengatakan bahwa selain tidak dikenal dalam budaya Arab, frase "minal aidin wal faizin" juga hanya dapat dimengerti oleh orang Indonesia. Frase ini bisa ditemui dalam kamus bahasa Indonesia, tapi tidak ditemukan dalam kamus bahasa Arab, kecuali dalam lema kata per kata.

Oke, jadi mari kita telaah apa maksud dari frase tersebut. Oh ya, pertama, saya bukan seorang yang ahli dalam berbahasa Arab. Saya mendapatkan pengetahuan ini dari seorang yang mengerti bahasa Arab dan juga dari beberapa situs di internet. Jika kita telusuri secara harfiah, makna kalimat ini adalah:
مِنَ العَائِدِينَ وَ الفَائِزِينَ
Minal aidin wal faizin
“Dari orang-orang yang kembali dan orang-orang yang beruntung.”
Nah, ditinjau dari susunan katanya, frase ini agak ganjil. Bisa dikatakan, frase ini bukanlah suatu frase sempurna atau yang biasa disebut al jumlah al mufidah. FYI, bentuk kalimat sempurna dalam bahasa Arab ada dua, adakalanya disusun dari isim (kata benda) yang disebut jumlah ismiyyah dan dari fi’il (kata kerja) yang disebut jumlah fi’liyyah.

Jika kita melihat terjemahan dari frase "minal aidin wal faizin", kita bisa lihat bahwa tidak ada unsur kata kerja sama sekali. Oleh karena itu yang paling mungkin kalimat di atas bisa dikategorikan ke dalam jumlah ismiyyah. Namun, dari susunannya, frase di atas pun tidak memenuhi kriteria minimal jumlah ismiyyah. Oke, mungkin bingung ya? Intinya, secara bahasa, frase di atas sangat ganjil, sebagaimana maknanya juga ganjil. Sekarang, apa maksud perkataan:
“Dari orang-orang yang kembali dan orang-orang yang beruntung.”
Saya sendiri pasti tidak akan paham maksud dari kata-kata jika ada orang yang tiba-tiba SMS, misalnya, dan mengucapkan kata-kata ini. Ya... pasti akan balas balik: lah, maksudnya apa toh?

Kalau coba kita telusuri lebih lanjut, menurut sumber yang menjadi referensi saya dalam menulis artikel ini, kalimat utuh ucapan populer ini adalah:
جَعَلَنَا اللهُ مِنَ العَائِدِينَ وَ الفَائِزِينَ
Ja’alanallahu minal ‘aidin wal faizin
“Semoga Allah menjadikan kita bagian dari orang-orang yang kembali (fitri) dan beruntung”
Nah, bukankah sangat aneh jika bagian inti kalimat, termasuk fi’il (kata kerja), fa’il (pelaku), dan maf’ul (obyek) dibuang secara serempak? Yang lebih aneh lagi, coba deh kita perhatikan beberapa versi penulisan dan pengucapan yang keluar dari mulut orang Indonesia. ada yang make huruf (ز) semua, seperti "minal ‘aizin wal faizin", ada yang (ذ) semua, "minal ‘aidzin wal faidzin", ada pula yang dengan kombinasi keduanya, "minal aidzin wal faizin". Anehnya lagi, kesalahan ini juga kerap terjadi di televisi. Well, semua "virus" ini tidak bisa dipungkiri menyebar akibat media, khususnya televisi.

Sekarang pertanyaannya adalah, dari manakah frase "minal aidin wal faizin" ini berasal? Adakah sahabat nabi yang pernah mengucapkannya? Adakah ulama yang pernah mengucapkannya? Well, ternyata cuma di sini loh, di Indonesia, kalimat ini begitu populer! Entah siapa yang pertama kali mengucapkannya, atau siapa yang pertama kali menuliskannya. Inilah indonesia! Negeri tempat berbagai ketidakjelasan menjadi masyhur. Sama seperti halnya sebagaimana banyak kaum muslimin Indonesia yang begitu hafal wirid-wirid versi Habib A, B, sampe Z, tetapi mereka tidak mengenal sedikit pun zikir pagi dan petang yang biasa Rasulullah ucapkan. Bahkan mereka tidak mengerti bagaimanakah zikir setelah shalat versi Rasulullah.

Lazimnya bagi kita, jika ingin mengucapkan tahniah (ucapan selamat) lebih baik menggunakan kalimat:
تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَ مِنْكُمْ
Taqobbalallahu minnaa wa minkum
“Semoga Allah menerima ibadah kami dan kalian.”
 Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan:
“Telah sampai kepada kami riwayat dengan sanad yang hasan dari Jubai bin Nufair, ia berkata: “Jika para sahabat Rasulullah saling bertemu di Hari Raya, sebagiannya mengucapkan kepada sebagian lainnya: “Taqabbalallahu minnaa wa minkum”. (Fathul Bari [II] 446)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah ditanya tentang ucapan selamat di Hari Raya, beliau menjawab:
“Ucapan selamat hari raya sebagian mereka kepada sebagian lainnya jika bertemu setelah shalat ‘Id dengan ungkapan: Taqabbalallahu minna wa minkum dan Ahaalallahu ‘alaika serta ucapan sejenisnya, maka hal ini telah diriwayatkan dari sejumlah sahabat bahwa mereka melakukannya, dan telah diperbolehkan oleh para imam seperti Imam Ahmad dan selainnya. Maka siapa yang melakukannya, ia memiliki panutan, dan yang meninggalkannya pun memiliki panutan.” (Majmu’ Fatawa (XXIV/253)
Akan tetapi, Imam Ahmad berkata :
“Aku tidak pernah memulai mengucapkan selamat kepada seorang pun, namun bila ada orang yang mendahuluiku mengucapkannya maka aku menjawabnya. Yang demikian itu karena menjawab ucapan selamat bukanlah sunnah yang diperintahkan dan tidak pula dilarang. Barangsiapa mengerjakannya maka baginya ada contoh dan siapa yang meninggalkannya baginya juga ada contoh, wallahu a’lam.” [Lihat Al Jauharun Naqi 3/320. Berkata Suyuthi dalam 'Al-Hawi: (1/81) : Isnadnya hasan]
Berkata Al Hafidh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari [2/446] :
“Dalam “Al Mahamiliyat” dengan isnad yang hasan dari Jubair bin Nufair, ia berkata: para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bila bertemu pada hari raya, maka berkata sebagian mereka kepada yang lainnya: Taqabbalallahu minnaa wa minka (semoga Allah menerima dari kami dan darimu)”
Ibnu Qudamah dalam “Al-Mughni” (2/259) menyebutkan bahwa Muhammad bin Ziyad berkata, “Aku pernah bersama Abu Umamah Al Bahili dan selainnya dari kalangan sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka bila kembali dari shalat 'Id berkata sebagiannya kepada sebagian yang lain: Taqabbalallahu minnaa wa minka”.

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa arti "minal aidin wal faizin" bukanlah "mohon maaf lahir dan batin" dan sama sekali tidak ada kaitannya satu sama lain. Meskipun dari segi penyebutannya terkesan padu dan serasi, sama-sama diakhiri “-in”, tetapi keduanya tidak berhubungan. Lagipula frase "minal aidin wal faizin" adalah frase yang ganjil. Jadi, ada baiknya, kita mengucapkan yang biasa-biasa saja, dalam arti, ucapan yang memang jelas dan ada riwayatnya. Atau dengan mengucapkan "mohon maaf lahir dan batin" saya kira sudah cukup. Tidak perlu dicampur-campur padahal kita sendiri belum tentu benar-benar paham artinya.

* * *

N.B.: Fatwa Ibnu Hajar dan Syaikh Ibnu Taimiyyah diambil dari buku Lebaran Menurut Sunnah yang Shahih oleh Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ahmad Ath Thayyar hlm. 126, terbitan Pustaka Ibnu Katsir.