21 Agustus 2012

Asal Usul "Minal Aidin wal Faizin"

Pertama, saya ucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1433 H! Semoga segala amal dan ibadah kita di bulan Ramadan diterima oleh Allah SWT. Nah, kali ini saya kan membahas soal satu frase yang sangat lazim kita ucapkan di hari Lebaran, yaitu "minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan bati". Sebenarnya saya sering bertanya-tanya apakah frase "minal aidin wal faizin" berarti "mohon maaf lahir dan batin"? Bagaimana menurut teman-teman?

Ternyata jawabannya bukan. Frase "minal aidin wal faizin" bukan berarti "mohon maaf lahir dan batin". Ini sangat penting kita ketahui untuk menghindari sifat orang Indonesia yang suka latah memakai kata-kata asing tanpa benar-benar paham maksud dan artinya.

Dalam buku berjudul “Bahasa!” terbitan TEMPO, di halaman 177 buku ini, Qaris Tajudin mengungkapkan bahwa memang frase "minal aidin wal faizin" berasal dari bahasa Arab, bahasa yang banyak menyumbang istilah keagamaan di Indonesia, baik agama Islam maupun Kristen. Qaris mengatakan bahwa selain tidak dikenal dalam budaya Arab, frase "minal aidin wal faizin" juga hanya dapat dimengerti oleh orang Indonesia. Frase ini bisa ditemui dalam kamus bahasa Indonesia, tapi tidak ditemukan dalam kamus bahasa Arab, kecuali dalam lema kata per kata.

Oke, jadi mari kita telaah apa maksud dari frase tersebut. Oh ya, pertama, saya bukan seorang yang ahli dalam berbahasa Arab. Saya mendapatkan pengetahuan ini dari seorang yang mengerti bahasa Arab dan juga dari beberapa situs di internet. Jika kita telusuri secara harfiah, makna kalimat ini adalah:
مِنَ العَائِدِينَ وَ الفَائِزِينَ
Minal aidin wal faizin
“Dari orang-orang yang kembali dan orang-orang yang beruntung.”
Nah, ditinjau dari susunan katanya, frase ini agak ganjil. Bisa dikatakan, frase ini bukanlah suatu frase sempurna atau yang biasa disebut al jumlah al mufidah. FYI, bentuk kalimat sempurna dalam bahasa Arab ada dua, adakalanya disusun dari isim (kata benda) yang disebut jumlah ismiyyah dan dari fi’il (kata kerja) yang disebut jumlah fi’liyyah.

Jika kita melihat terjemahan dari frase "minal aidin wal faizin", kita bisa lihat bahwa tidak ada unsur kata kerja sama sekali. Oleh karena itu yang paling mungkin kalimat di atas bisa dikategorikan ke dalam jumlah ismiyyah. Namun, dari susunannya, frase di atas pun tidak memenuhi kriteria minimal jumlah ismiyyah. Oke, mungkin bingung ya? Intinya, secara bahasa, frase di atas sangat ganjil, sebagaimana maknanya juga ganjil. Sekarang, apa maksud perkataan:
“Dari orang-orang yang kembali dan orang-orang yang beruntung.”
Saya sendiri pasti tidak akan paham maksud dari kata-kata jika ada orang yang tiba-tiba SMS, misalnya, dan mengucapkan kata-kata ini. Ya... pasti akan balas balik: lah, maksudnya apa toh?

Kalau coba kita telusuri lebih lanjut, menurut sumber yang menjadi referensi saya dalam menulis artikel ini, kalimat utuh ucapan populer ini adalah:
جَعَلَنَا اللهُ مِنَ العَائِدِينَ وَ الفَائِزِينَ
Ja’alanallahu minal ‘aidin wal faizin
“Semoga Allah menjadikan kita bagian dari orang-orang yang kembali (fitri) dan beruntung”
Nah, bukankah sangat aneh jika bagian inti kalimat, termasuk fi’il (kata kerja), fa’il (pelaku), dan maf’ul (obyek) dibuang secara serempak? Yang lebih aneh lagi, coba deh kita perhatikan beberapa versi penulisan dan pengucapan yang keluar dari mulut orang Indonesia. ada yang make huruf (ز) semua, seperti "minal ‘aizin wal faizin", ada yang (ذ) semua, "minal ‘aidzin wal faidzin", ada pula yang dengan kombinasi keduanya, "minal aidzin wal faizin". Anehnya lagi, kesalahan ini juga kerap terjadi di televisi. Well, semua "virus" ini tidak bisa dipungkiri menyebar akibat media, khususnya televisi.

Sekarang pertanyaannya adalah, dari manakah frase "minal aidin wal faizin" ini berasal? Adakah sahabat nabi yang pernah mengucapkannya? Adakah ulama yang pernah mengucapkannya? Well, ternyata cuma di sini loh, di Indonesia, kalimat ini begitu populer! Entah siapa yang pertama kali mengucapkannya, atau siapa yang pertama kali menuliskannya. Inilah indonesia! Negeri tempat berbagai ketidakjelasan menjadi masyhur. Sama seperti halnya sebagaimana banyak kaum muslimin Indonesia yang begitu hafal wirid-wirid versi Habib A, B, sampe Z, tetapi mereka tidak mengenal sedikit pun zikir pagi dan petang yang biasa Rasulullah ucapkan. Bahkan mereka tidak mengerti bagaimanakah zikir setelah shalat versi Rasulullah.

Lazimnya bagi kita, jika ingin mengucapkan tahniah (ucapan selamat) lebih baik menggunakan kalimat:
تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَ مِنْكُمْ
Taqobbalallahu minnaa wa minkum
“Semoga Allah menerima ibadah kami dan kalian.”
 Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan:
“Telah sampai kepada kami riwayat dengan sanad yang hasan dari Jubai bin Nufair, ia berkata: “Jika para sahabat Rasulullah saling bertemu di Hari Raya, sebagiannya mengucapkan kepada sebagian lainnya: “Taqabbalallahu minnaa wa minkum”. (Fathul Bari [II] 446)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah ditanya tentang ucapan selamat di Hari Raya, beliau menjawab:
“Ucapan selamat hari raya sebagian mereka kepada sebagian lainnya jika bertemu setelah shalat ‘Id dengan ungkapan: Taqabbalallahu minna wa minkum dan Ahaalallahu ‘alaika serta ucapan sejenisnya, maka hal ini telah diriwayatkan dari sejumlah sahabat bahwa mereka melakukannya, dan telah diperbolehkan oleh para imam seperti Imam Ahmad dan selainnya. Maka siapa yang melakukannya, ia memiliki panutan, dan yang meninggalkannya pun memiliki panutan.” (Majmu’ Fatawa (XXIV/253)
Akan tetapi, Imam Ahmad berkata :
“Aku tidak pernah memulai mengucapkan selamat kepada seorang pun, namun bila ada orang yang mendahuluiku mengucapkannya maka aku menjawabnya. Yang demikian itu karena menjawab ucapan selamat bukanlah sunnah yang diperintahkan dan tidak pula dilarang. Barangsiapa mengerjakannya maka baginya ada contoh dan siapa yang meninggalkannya baginya juga ada contoh, wallahu a’lam.” [Lihat Al Jauharun Naqi 3/320. Berkata Suyuthi dalam 'Al-Hawi: (1/81) : Isnadnya hasan]
Berkata Al Hafidh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari [2/446] :
“Dalam “Al Mahamiliyat” dengan isnad yang hasan dari Jubair bin Nufair, ia berkata: para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bila bertemu pada hari raya, maka berkata sebagian mereka kepada yang lainnya: Taqabbalallahu minnaa wa minka (semoga Allah menerima dari kami dan darimu)”
Ibnu Qudamah dalam “Al-Mughni” (2/259) menyebutkan bahwa Muhammad bin Ziyad berkata, “Aku pernah bersama Abu Umamah Al Bahili dan selainnya dari kalangan sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka bila kembali dari shalat 'Id berkata sebagiannya kepada sebagian yang lain: Taqabbalallahu minnaa wa minka”.

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa arti "minal aidin wal faizin" bukanlah "mohon maaf lahir dan batin" dan sama sekali tidak ada kaitannya satu sama lain. Meskipun dari segi penyebutannya terkesan padu dan serasi, sama-sama diakhiri “-in”, tetapi keduanya tidak berhubungan. Lagipula frase "minal aidin wal faizin" adalah frase yang ganjil. Jadi, ada baiknya, kita mengucapkan yang biasa-biasa saja, dalam arti, ucapan yang memang jelas dan ada riwayatnya. Atau dengan mengucapkan "mohon maaf lahir dan batin" saya kira sudah cukup. Tidak perlu dicampur-campur padahal kita sendiri belum tentu benar-benar paham artinya.

* * *

N.B.: Fatwa Ibnu Hajar dan Syaikh Ibnu Taimiyyah diambil dari buku Lebaran Menurut Sunnah yang Shahih oleh Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ahmad Ath Thayyar hlm. 126, terbitan Pustaka Ibnu Katsir.

5 komentar :

memang huruf jer min di situ namanya min ba'dliyyah bukan min makaniyyah atupun wqtiyyah.tentang fiil,fail maupun mafulbih yang dimahdzuf itu tidak masalah faedah lilma'lum(sesuatu yang telah diketahui maksudnya),atau lilijaz,iktifak waliqtisor,seperti di dalam bahasa indonesiapun sering kita jumpai hal seperti itu,misalnya kita ditanya orang :kamu baru pulang dari mana dik?kan bisa kita jawab dengan singkat:pasar.tidak usah dengan ucapan:saya baru pulang dari pasar pak.

memang huruf jer min di situ namanya min ba'dliyyah bukan min makaniyyah ataupun waqtiyyah.tentang fiil,fail maupun mafulbih yang dimahdzuf itu tidak masalah faedah lilma'lum(sesuatu yang telah diketahui maksudnya),atau lilijaz,iktifak waliqtisor,seperti di dalam bahasa indonesiapun sering kita jumpai hal seperti itu,misalnya kita ditanya orang :kamu baru pulang dari mana dik?kan bisa kita jawab dengan singkat:pasar.tidak usah dengan ucapan:saya baru pulang dari pasar pak.adapun tentang ucapan mohon maaf meskipun tidak ada hubungan arti dengan ucapan sebelumnya,itu ya nggak apa apa wong hanya lanjutannya saja,jadi setelah medoakan semoga orang itu terglong orang yang kembali suci dan bruntung terus kita mohon maaf kepada orang itu jadi jangan dianggap ganjil anggap genap ajalah hehehe!

sama sprt lafadz bismillah...yg terjemany "degn menyebut nama Alloh yg Maha Pengasih lagi Maha Penyayngg" krn memang hrf jar dlm kalimat itu ada kalanya termasuk ; jr asli, zaidah, atw syibhl zaid. masing2 dari k-3ny punya konsekwensi dalam ta'alluq kalimatny, begitulah b, arab..jd gausah bingung terhadap ungkapan tahniah minal aidin wal faizin.kl nt bilang ada orng arab yg ga ngerti dgn ucapan itu berarti dia arab yg ga ngerti bahasany sendiri, ,saya aja yg bukan arab ngerti ko, ,,,he, he, he

dan kalimat mohon maaf lahir batin walau secara harfiyah tdk nyambung artinya dgn minal aidn wal faizin namun secara manawi bs ada kaitnya ko, ,katakan saja sprt ini untk menjadi org yg kembali kpd fitrah dan beruntung meraih suraga (terjemahn minal aidn wal faizn) maka dia harus menyelesaikn kewajiban2ny baik itu kpd Alloh maupun kpd manusia, ,kl kpd Alooh ya taubat dan kpd manusia ya minta maaf baik lahir maupun batin, ,,

ya kalo ada hafist nya silahkan, kalo gak ada ya lebih baik Rasulullah menjadi suri tauladan, jk ada yg baik kenapa harus milih yg jelek ( iklan hit )

Posting Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.