28 Agustus 2012

Manusia Kacau Balau

Sewaktu saya SMA, saya ingat sering kali saya berbincang-bincang dengan teman sebangku saya tentang masa depan Indonesia. Tampaknya memang bukan tipikal perbincangan yang lazim dibicarakan dengan teman sebangku, apalagi di tingkatan anak SMA. Entahlah, tanpa bermaksud mendiskreditkan anak-anak SMA masa kini (dan pada masa saya), tapi saya rasa tidak banyak anak SMA yang berbincang-bincang soal masa depan negaranya dengan teman sebangkunya secara rutin. Namun, jika ternyata kamu dulu (atau saat ini) adalah anak SMA yang juga sering membicarakan soal Indonesia dengan teman sebangkumu, sebut saja saya salah berasumsi.

Anyway, salah satu topik yang berkaitan dengan masa depan Indonesia ini adalah soal "masih adakah harapan?" Ah, rasa-rasanya belum lama ini pun saya menulis soal harapan untuk Indonesia. Namun, memang hal ini sangat menarik. Pertanyaan ini saya rasa muncul di setiap benak masyarakat Indonesia. Kelihatannya negeri ini sebegitu terpuruknya hingga pertanyaan demi pertanyaan terkait harapan ini selalu muncul. Ah, memangnya tidak sebegitu terpuruknya? Siapa bilang? Saya salah satu orang yang percaya bahwa negeri ini super amburadul. Ya... negerinya, pemimpinnya, semuanya, termasuk kita, rakyatnya.

Kita semua hidup menghirup udara kekacauan maka kita pun menjadi orang-orang yang kacau. Mungkin kita tidak merasa begitu, tapi akuilah bahwa kita semua sudah menjadi bagian dari kekacauan ini hingga kita tidak lagi merasakannya. Kita tidak lagi peka. Kita tidak lagi merasa kacau. Kita sudah bisa menerima kekacauan sebagai sesuatu yang lazim. Kita berpikir bahwa ces't la vie (itulah hidup). Jangan kita berpikir bahwa kacau adalah keadaan saat ada demonstrasi besar-besaran menentang kenaikan BBM, kerusuhan yang anarkis antarpelajar, atau para pengemudi kendaraan yang tidak tertib hingga membuat kemacetan di perempatan jalan raya. No, it's more than that! Kita semua kacau karena sebagian besar dari kita tidak lagi seperti layaknya manusia. Ada bagian dari sisi kemanusiaan kita yang hilang, bukan lagi terkikis. Iya, hilang!

Kita, orang Indonesia, tidak lagi benar-benar berpikir dan merasa. Ada yang hanya mengandalkan otaknya, terlalu merasa paling pintar, banyak cuap-cuap sana-sini, tapi tak punya nurani. Hatinya beku. Hanya berpikir untuk hal-hal yang dianggap menguntungkan dirinya. Ada juga yang terlalu mengandalkan hatinya hingga lupa bahwa orang ini punya akal untuk berpikir. Mereka yang mengandalkan hati kadang terlalu "lembut", percaya bahwa orang-orang di negeri ini masih punya niat baik, kita semua masih punya harapan, mudah memaafkan mereka yang merugikan bangsa, dan sebagainya. Ini jelas tidak baik. Dan yang paling parah, mereka yang kehilangan hati dan pikirannya. Inilah yang berbahaya. Parahnya, kebanyakan dari kita tidak sadar apakah kita termasuk orang-orang yang kacau; hilang otak, hati, atau keduanya. Kita tidak pernah sadar. Kita selalu menganggap bahwa kita baik-baik saja, dan bahkan merasa jauh lebih baik daripada orang lain. Inilah kekacauan sesungguhnya.

Kenapa orang tega korupsi milyaran bahkan triliunan rupiah? Orang-orang sudah merasa biasa dengan itu. Itu keadaan kacau. Namun, sebenarnya yang kacau itu adalah si koruptor itu sendiri. Akal dan hatinya sudah hilang. Lantas, apakah kita semua lebih baik dari koruptor? Coba telaah lagi. Jika kita merasa lebih baik daripada koruptor, berarti kita juga kacau. Memangnya korupsi hanya soal uang? Berapa banyak dari kita yang korupsi waktu? Atau korupsi tenaga? Bahkan korupsi hati dan pikiran? Berapa banyak dari kita yang tidak pernah mengambil hak orang lain? Ah, kita semua manusia! Pasti pernah. Hanya saja kita mungkin tidak sadar. Kita tidak bicara soal dosa siapa yang paling besar. Lagipula, siapa yang tahu? Namun, poinnya janganlah kita mengacaukan diri sendiri dengan merasa menjadi orang yang lebih baik dari orang lain. Mungkin benar bahwa kita tidak pernah melakukan hal-hal "kotor", tapi dengan kita mengklaim bahwa kita lebih baik maka kita tidak jauh kacau dari orang yang berbuat "kotor" itu. Kita tidak perlu menyatakan bahwa kita tidak seperti A atau kita lebih baik dari si B. Hanya karena orang-orang tidak melihat kita melakukan suatu perbuatan baik, tidak perlu kita membuat peryataan bahwa kita orang yang baik kan? Pada akhirnya orang-orang juga akan tahun bahwa kita adalah seorang yang baik jika kita melakukan hal-hal baik secara konsisten. Dan hanya karena kita tahu si X berbuat hal "kotor", kita tidak perlu mencemooh perbuatannya di depan orang banyak. Katakan saja dia salah, tapi jangan pernah merasa menjadi orang yang paling suci, seolah-olah paling benar dan tidak pernah salah.

Itu juga yang terjadi di masyarakat kita. Masyarakat kita semakin terinfeksi virus "saya-lebih-suci-daripada-kamu". Dan itu terjadi di mana-mana. Di lingkungan kita, di jalanan, di pemerintahan, di mana-mana. Virus ini sangat berbahaya karena menginfeksi hati dan pikiran manusia. Virus ini membuat manusia kacau balau. Akhirnya, negeri ini pun kacau balau karena manusia-manusianya pun kacau balau. Virus ini membuat manusia kehilangan rasa toleransi dan keramah-tamahan. Virus ini juga memperbesar kadar nafsu dalam diri hingga amarah pun mudah tersulut. Manusia menjadi semakin berorientasi pada dirinya masing-masing. Manusia tidak lagi peduli dengan manusia lain kecuali ia merasa perlu membina hubungan baik dengan si manusia lainnya. Hampir tidak ada yang benar-benar tulus dalam hubungan manusia kini. Yang ada hanya kecurigaan dan keuntungan. Seseorang bisa dekat dengan orang lain yang bukan keluarga terdekatnya bisa jadi karena ada faktor kecurigaan atau memang ada keuntungan tersendiri jika membina hubungan baik dengan orang itu. Bukan lagi karena faktor ingin membini persahabatan murni. Saya tidak bilang bahwa hal ini mutlak, hanya saja inilah keadaan yang sering kali kita hadapi saat ini.

Negeri ini hancur, akhirnya, bukan karena pemerintahnya. Negeri ini hancur karena kita semua yang menghancurkannya. Kita yang "katanya" mencintai negeri ini secara tidak sadar menghancurkan negeri ini dengan menularkan virus-virus "saya-lebih-suci-daripada-kamu" ke segenap individu-individu di masyarakat. Kita tidak sadar bahwa sedikit demi sedikit hati dan pikiran kita mulai menghilang. Kita tidak sadar bahwa kitalah yang kacau. Kitalah yang menyebabkan semua kekacauan ini, bukan cuma salah pemerintah. Tidakkah lebih bijak jika kita semua sadar bahwa kita juga  punya andil dalm rusaknya negeri ini. Janganlah kita menghardik para pemerintah karena tidak becus memimpin negeri ini jika kita sendiri tidak becus menjadi warga negara. Saya bukan orang partai atau pro pemerintah, tapi pernahkah kita bertanya pada diri kita sendiri, "Sudahkah saya menjadi warga negara yang baik?" daripada terus menerus menyalahkan dan mempertanyakan kredibilitas pemerintah? Kita semua bisa menjawabnya, dan termasuk pertanyaan: masih adakah harapan untuk negeri ini?

Suara hati saya bukanlah suara hati yang pesimis. Namun, ada baiknya kita kembali kepada kenyataan. Mungkin kita melihat kenyataan di negeri ini dari berbagai sudut pandang. Namun, pada akhirnya, dari mana pun sudut pandang itu, kita akan melihat satu titik kebenaran yang jelas tentang negeri ini. Jadi, hal terbaik yang bisa kita lakukan saat ini adalah: bangunkan diri, sadarlah bahwa bukan negeri ini saja yang kacau, tapi kita juga kacau. Mulai perbaiki diri dan imunisasi diri kita dari virus "saya-lebih-suci-daripada-kamu" yang mematikan dengan berfokus pada pada hati dan pikiran kita setiap kali kita beraktifitas, mengambil keputusan, dan berbicara. Dengan begitu, kita tidak akan menjadi pribadi yang merasa lebih baik dari orang lain sekecil apa pun itu. Bisa kita bayangkan apa yang terjadi jika semua orang di negeri ini selalu merasa lebih baik dari orang lain. Negeri ini tentu akan menjadi negeri orang-orang tidak mau kalah. Semua akan mengedepankan egonya masing-masing. Tentu tidak akan ada masa depan cerah untuk negeri seperti itu. Oleh karena itu, pastikan hati dan pikiran kita selalu jalan berdampingan dalam segala hal. Jangan biarkan otak menguasai hati atau hati menguasai otak. Atau parahnya, jangan sampai keduanya hilang hingga kita menjadi manusia yang hanya dipenuhi ego. Itulah sumber kekacauan sebenarnya, manusia kacau balau.

0 komentar :

Posting Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.